Kamis, 18 Januari 2018

Generasi Muda dan Sejarah Kelam Hari Kasih Sayang

View Article

Bagi sebagian orang, bulan Februari dikenal sebagai bulan kasih sayang. Puncaknya adalah pada tanggal 14 atau yang sering dikenal dengan hari valentine (hari kasih sayang). Hari dimana seseorang menampakkan kasih sayang dan cintanya kepada orang-orang disekitarnya.

Perayaan ini dilakukan dengan banyak cara, mulai dari saling bertukar coklat, bunga, saling berkirim puisi dan lain sebaginya. Terlebih bagi pasangan muda-mudi yang sedang menjalin kasih. Tak jarang mereka berbuat hal-hal yang tak pantas pada hari tersebut, dengan dalih menyatakan cinta dan merayakan hari kasih sayang.

Padahal, kalaulah ditelisik lebih dalam, itu semua tak lain merupakan sebuah propaganda jahat yang dihembuskan oleh orang-orang di luar Islam. Tujuannya tentu saja untuk menjauhkan seorang muslim dari agamanya. Dan sayangnya banyak diantara umat Islam yang ikut-ikutan latah merayakan hari tersebut.

Sebelum terlambat, ada baiknya kita telusuri jejak hitam dari hari yang mereka sebut “hari kasih sayang”

Asal Muasal Hari Valentine

Banyak versi yang bertebaran tentang asal-usul hari valentine. Hanya saja, orang umumnya tahu bahwa peringatan ini bermula dari tradisi bangsa Romawi kuno yang memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari).

Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari tersebut, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan dijadikan obyek hiburan.

Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (sumber : wikipedia)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
  • Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  • Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
  • Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
  • Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.

Stop Valentine’s Day

Dari fakta sejarah diatas, kita menjadi tahu apa dan bagaimana sejarah kelam hari kasaih sayang tersebut. Namun ironisnya semakin hari, banyak pula yang terjerumus dan ikut-ikutan merayakan dengan perayaan yang memuat berbagai kerusakan.

Diantara kerusakan-kerusakan yang didapat dari ikut-ikutan merayakan hari valentine :

Meniru perbuatan orang kafir

Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir. Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Oleh karena itu disadari atau tidak, perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dan masih banyak kerusakan-kerusakan lainnya yang terlahir dari perayaan hari valentine ini.

Penutup

Sudah menjadi tugas kita bersama untuk menyelamatkan generasi muda dari perayaan-perayaan tak berdasar, yang bisa menghantarkan kepada kemaksiatan-kemaksiatan lainnya. Semoga Allah menjaga diri-diri kita beserta keluarga agar tidak terjerumus dalam perayaan sesat dan batil ini. [gemaislam.com/berdakwah.net]


Pranala luar:
1. https://gemaislam.com/1134-generasi-muda-dan-sejarah-kelam-hari-kasih-sayang.html
2. https://remajaislam.com/401-sejarah-kelam-hari-valentine.html
3. http://global.liputan6.com/read/2175676/14-februari-sejarah-kelam-hari-valentine

10 Bahaya Syirik, Muslim Wajib Baca!

View Article

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Ibadah disini meliputi do’a, sholat, nadzar, kurban, rasa takut, istighatsah (minta pertolongan) dan lain sebagainya. Ibadah ini harus ditujukan hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah -ta’ala-:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepadaMu lah kami minta pertolongan.” (QS.al-Fatihah: 5).

Barangsiapa yang menunjukan dan mempersembahkan salah satu ibadah tersebut kepada selain Allah maka inilah kesyirikan yang merupakan dosa paling berbahaya dan paling besar yang dilakukan oleh manusia.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bahaya syirik ini, berikut kami sampaikan ulasan ringkasnya:

1. Menimbulkan rasa khawatir dan hilangnya rasa aman di dunia dan akhirat

Sebagaimana firman Allah -ta’ala-:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82).

2. Tersesat di dunia dan akhirat.

Allah -ta’ala- berfirman:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (QS. An Nisa’: 116).

3. Dosa syirik akbar (besar) tidak akan diampuni oleh Allah jika mati dan belum bertaubat.

Allah -ta’ala-berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dosa syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’: 48).

4. Jika seseorang berbuat syirik akbar (besar), seluruh amalannya bisa terhapus.

Allah -ta’ala- berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 88).

5. Pelaku syirik akbar pantas masuk neraka dan diharamkan surga untuknya.

Dari Jabir, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَن مَاتَ لَا يُشرِكَ بِاللهِ شَيئَا دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَن مَاتَ يُشرِكُ بِاللهِ شَيئَا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan berbuat syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka” (HR. Muslim no. 93).

6.Syirik akbar membuat pelakunya kekal dalam neraka.

Allah -ta’ala- berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (QS. Al Bayyinah: 6).

7. Syirik adalah sejelek-jelek perbuatan zhalim dan sejelek-jelek dosa.

Allah -ta’ala- berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Lukman: 13).

Allah -ta’ala- juga berfirman:

ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya: “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An Nisa’: 48).

8. Syirik menghapuskan cahaya fithrah seorang hamba.

Karena seorang hamba pertama kali dijadikan dalam keadaan fithrah yaitu di atas tauhid dan ketaatan. Allah -ta’ala-berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar Rum: 30).

Begitu pula sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ البَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ» ، ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا}

“Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan di atas fithroh. Ayahnya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi. Sebagaimana binatang ternak melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, apakah kamu melihat ada yang cacat padanya?” Lantas Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- membacakan ayat (yang artinya), “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu” (HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658).

9. Syirik khafi (yang samar) seperti riya’ akan menghapuskan amalan yang terkait dengannya.

Syirik khafi ini lebih dikhawatirkan dari al-Masih Dajjal dan lebih dikhawatirkan akan menimpa umat Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Artinya: “Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) al-Masih ad-Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya “. (HR. Ahmad dalam musnadnya. Dihasankan oleh Syaikh Albani Shahiihul Jami’ no.2604)

10. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang yang berbuat syirik.

Allah -ta’ala-berfirman:

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُ ۚ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Artinya: “Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”. (QS. At Taubah: 3).

Demikianlah 10 di antara bahaya-bahaya syirik yang harus diwaspadai, dan tentu saja masih banyak bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh kesyirikan, tidak terbatas pada 10 point di atas.  Semoga Allah memudahkan kita untuk menghindari segala macam kesyirikan, dan menjauhkan kita dari siksa neraka.

Wallahu A’lam. []

Penyusun: Ustadz Saparudin, Lc
Staf Pengajar Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram
Dipublikasikan pertama kali oleh Alhujjah.com

Rabu, 17 Januari 2018

Membaca Zaman: Menaksir Bilangan Umur Umat Islam hingga Hari Kiamat

View Article

Menjadi sebuah topik yang cukup menarik apabila kita mencermati perkembangan zaman dimana saat ini kita berpijak. Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa zaman ini segala sesuatunya sudah rusak, manusia-manusia menjadi kurang adab, pergaulan bebas merajalela, pemimpin-pemimpin negeri seakan hanya bekerja untuk egoisme diri dan menelantarkan hak rakyat. Meskipun tak sedikit yang berdalih bahwa zaman ini adalah lebih modern dari zaman dulu. Mereka berkata ini zaman teknologi digital yang serba canggih, dan bersikukuh menganggap ini adalah zaman yang lebih baik dari sebelumnya meski cacat moral telah melanda hampir sebagian besar generasi penerusnya.

Menariknya, periode zaman ini ternyata telah dikabarkan oleh Rasullullah Muhammad ﷺ melalui sebuah hadist yang mahsyur,

Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) diam,” (HR. Ahmad)

Dalam hadist tersebut Rasullullah Muhammad ﷺ telah dengan jelas menyampaikan bahwa memang periode kehidupan manusia setelah datangnya islam terbagi menjadi lima zaman. Periode pertama adalah zaman kenabian (an nubuwwah), dimana pada zaman itu islam yang turun di jazirah Arab datang sebagai agama yang membawa hidayah bagi manusia. Pada masa itu bertepatan pula dengan kemajuan dan perkembangan kerajaan Persia di Timur dan Romawi di Barat yang kekuasaannya membentang hamper meliputi sebagian besar wilayah dunia. Kemudian zaman kenabian ini selesai ditandai dengan wafatnya Rasullullah Muhammad ﷺ pada tahun 11 Hijriyah.

Kemudian fase kedua setelah nubuwwah adalah fase khilafah ‘alaa minhaji nubuwwah. Kata khilafah artinya adalah pengganti. Maka makna fase khilafah ‘alaa minhaji nubuwwah adalah periode dimana umat islam dipimpin oleh pengganti Rasul (Kholifatur Rasul) yang masih berada pada jalan (minhaj) kenabian. Dan khilafah ‘alaa minhaji nubuwwah ini berlangsung selama 30 tahun sebagaimana yang beliau ﷺ sabdakan,

”Kekhilafahan umatku selama 30 tahun, kemudian setelah itu adalah masa kerajaan”  (HR. Abu Dawud no. 4646,4647; At-Tirmidzi no. 2226; dan yang lainnya; shahih).

Maka dari hadist tersebut khilafah ‘alaa minhaji nubuwwah berakhir pada tahun 41 Hijriyah saat khalifah Hasan bin Ali r.a (yang saat itu hanya memegang kekuasaan selama 6 bulan) menyerahkan kepemimpinan kepada sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan r.a.

Fase berikutnya setelah periode kedua berakhir adalah fase kerajaan yang menggigit (mulkan ‘adhon). Dalam fase ini umat islam dipimpin oleh dinasti kerajaan yang sudah bukan lagi khilafah, meskipun dalam buku-buku sejarah masih cukup banyak yang menyebutnya sebagai masa khilafah. Raja atau pemimpin umat islam pada masa ini masih memegang teguh Al Quran dan Sunnah sebagai undang-undang dan panduan hidup. Banyak raja dzolim yang terlahir pada masa ini, namun juga tak sedikit raja yang arif yang mampu membawa agama islam jaya hingga seantero muka bumi. Kita bisa melihat kejayaan islam melalui lahirnya raja Umar bin Abdul Aziz pada masa dinasti Ummayyah, raja Harun Ar Rasyid pada dinasti Abasiyah, Sultan Muhammad Al Fatih pada kesultanan Turki Ustmaniyyah, dll.

Fase mulkan ‘adhon ini berakhir pada tahun 1924 Masehi atau sekitar 1342 Hijriyah yang ditutup dan dihapus oleh seorang Yahudi bernama Mustafa Kemal Attarturk sekaligus menandai dimulainya kekuasaan dan kejayaan Yahudi di muka bumi. Maka setiap peradaban dan kebijakan dunia yang terjadi setelah masa ini adalah kebijakan dan sistem dari Yahudi dan orang-orang kafir.

Fase keempat setelah berakhirnya kerajaan yang menggigit (mulkan ‘adhon) adalah kerajaan yang kejam dan diktator (mulkan jabar). Semua ulama’ ijma’ bahwa zaman sekarang ini adalah zaman mulkan jabar. Zaman dimana para pemegang kekuasaan (orang kafir dan Yahudi) memimpin peradaban dengan sekehendak mereka sendiri. Salah satu contoh bahwa zaman ini adalah zaman diktator ialah dibatalkannya hasil pemilu demokrasi di Mesir yang memenangkan dr. Mursi dari partai ikhwanul muslimin, dan tetap digempurnya Palestina meskipun kelompok Hamas memenangkan pemungutan suara. Sistem demokrasi adalah sistem politik buatan orang kafir dan Yahudi, akan tetapi jika hasil demokrasi tak menguntungkan mereka, maka mereka akan dengan mudah membatalkannya. Inilah sebenar-benarnya diktator.

Di zaman ini pula rasa-rasanya apa yang disebutkan Rasulullah Muhammad ﷺ menjadi sebuah kenyataan dimana umat islam berada dalam kondisi jumlah yang banyak namun mereka tak begitu berharga layaknya buih di lautan. Keberadaan mereka dikebiri musuh-musuh islam seperti hidangan makanan yang diperebutkan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi ﷺ bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Dan sesungguhnya inilah yang saat ini kita rasakan. Tak bisa kita pungkiri bahwa kita sedang berada di zaman yang rusak, dimana segala sistem dan kebijakan politik internasional dikuasai oleh Yahudi dan orang-orang kafir. Maka tak aneh jika kerusakan dan perbuatan tak beradab terjadi di mana-mana.

Jika kita bisa memilih, tentu kita tak ingin hidup di akhir zaman, di mana huru-hara fitnah akhir zaman amat begitu mengerikan bagi orang-orang yang mengetahuinya. Jika kita boleh memilih, tentu kita akan memilih hidup di zaman Rasullullah ﷺ dan menjadi bagian dari pasukan Nabi untuk menegakkan tauhid di atas muka bumi dan berjuang bersama para sahabat lainnya. Namun, hidup di masa kini bukanlah keinginan kita, melainkan adalah bagian dari takdir-Nya yang sengaja Allah pilihkan untuk menguji, apakah diri kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang yakin terhadap agama-Nya ataukah tidak.

Fase ini kita yakini dengan sebenar-benar keyakinan pasti dan akan segera berakhir. Kurang lebih 4/5 periode zaman telah terjadi dan terbukti kebenarannya. Tinggallah 1/5 periode zaman yang belum terjadi, yakni periode khilafah ‘alaa minhaji nubuwwah yang sekaligus menandakan dekatnya kiamat akhir zaman.

Kelima zaman yang telah Rasullullah ﷺ sampaikan tersebut sebenarnya merupakan ilustrasi dari umur umat islam di dunia ini. Sebagaimana ummat Nabi-Nabi sebelum agama islam yang memiliki batasan periode, maka ummat islam juga memiliki batasan waktu hidup di muka bumi ini. Lantas, di tahun berapakah umur ummat islam ini akan berakhir?

Yang jelas dan merupakan hal yang wajib kita yakini adalah bahwa waktu berakhirnya ummat islam adalah tatkala zaman periode kelima, yakni zaman khilafah ‘alaa minhaji nubuwwah selesai. Pendapat yang mahsyur terkait umur ummat islam ini dapat kita ketahui dari tiga Imam yang sudah tidak lagi diragukan keilmuannya, mereka adalah Imam Ibnu Rajab al Hanmbali, Imam As Suyuthi, dan Imam Ibnu Hajar As Asqolani.

Imam Ibnu Rajab Al Hanbali mengatakan bahwa umur umat islam adalah lebih dari 1400 tahun dan kurang dari 1500 tahun. Sedangkan Imam Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitabnya Al Ijarah dan Kitabul Fitan bahkan mengatakan hal yang lebih spesifik yakni umur ummat islam adalah 1476 tahun.

Jika saat ini kita berada di tahun 1436 Hijriyah, maka 1476 dikurangi dengan 1436 adalah 40 tahun. Apakah benar ini adalah umur umat islam yang tersisa? Jawabannya bukan. Penanggalan hijriyah dimulai dari peristiwa hijrahnya Rasul ﷺ ke Madinah, maka angka 40 tahun tersebut masih harus dikurangi lagi dengan 13 yang mana adalah bilangan tahun sejak Nabi menerima wahyu sebagai tanda lahirnya islam sampai beliau ﷺ hijrah ke Madinah. Maka umur umat islam tinggal 27 tahun.

Dari penjelasan tersebut, jika pendapat yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar dan Imam Ibnu Rajab tersebut adalah benar, maka dalam 27 tahun ke depan umat islam akan mengakhiri zama diktator sekaligus menyongsong datangnya zaman khilafah ‘alaa minhaji nubuwwah. Dan setelah khilafah akhir zaman itu selesai, umat islam akan diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemudian keluarlah Ya’juj dan Ma’juj sebagai tanda besar kiamat Kubro dimulai.

Bagi sebagian orang ini akan menjadi hal yang mengerikan dan menakutkan. Sebab memanglah hal yang wajar jika manusia merasa takut akan datangnya hari kiamat. Meski demikian, kita umat islam yang hidup di zaman akhir ini sebenarnya bukanlah untuk terus menerus menyanyikan lagu kesedihan dan berkeluh kesah atas ratapan rusaknya moral yang tak beradab. Mindset dan persepsi umat islam haruslah segera diganti, bahwa sesungguhnya Allah telah memilih kita sebagai ummat yang akan mengembalikan dan menghadirkan fase periode zaman kelima, yakni khilafah ‘alaa minhaji nubuwwah. Kitalah ummat yang terpilih itu!

Maka pilihan itu adalah di tangan kita sendiri. Apakah kita akan menjadi sekelompok orang yang turut menjadi pemain dan pejuang kemenangan agama islam, atau menjadi kelompok yang phobia terhadap hadirnya zaman kelima itu, zaman khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian, ataukah jangan-jangan kita akan menjadi penonton yang hanya bisa menyaksikan pergulatan akhir zaman?

Selamat berjuang. Anggaplah segala bentuk kedzoliman yang terjadi di muka bumi sekarang ini sebagai badai yang harus dihadapi. Karena terkadang Allah sembunyikan matahari. Kemudian Dia datangkan kilat bahkan petir. Kita pun menangis dan bertanya-tanya, kemanakah hilangnya cahaya? Rupa-rupanya Allah hadiahkan kita pelangi.

Wallahu ta’ala a’lam. [BersamaDakwah/Berdakwah]

Tajassus, Mencari-Cari Kesalahan Orang Beriman

View Article

Tajassus di antara tafsirannya adalah mencari-cari kesalahan orang lain, terutama yang terus ingin dicari aibnya adalah orang-orang beriman.

Jangan Selalu Menaruh Curiga (Prasangka Buruk)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Waspadalah dengan buruk sangka karena buruk sangka adalah sejelek-jeleknya perkataan dusta.” (HR. Bukhari no. 5143 dan Muslim no. 2563)

Prasangka yang terlarang adalah prasangka yang tidak disandarkan pada bukti. Oleh karena itu, jika prasangka itu dinyatakan pasti (bukan lintasan dalam hati), maka dinamakan kadzib atau dusta. Inilah yang disebutkan dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar.

Menaruh Curiga pada Orang Beriman

Larangan berburuk sangka dan tajassus disebutkan dalam ayat Al Qur’an,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.” (QS. Al Hujurat: 12).

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Jalalain, menaruh curiga atau prasangka buruk yang terlarang adalah prasangka jelek pada orang beriman dan pelaku kebaikan, dan itulah yang dominan dibandingkan prasangka pada ahli maksiat. Kalau menaruh curiga pada orang yang gemar maksiat tentu tidak wajar. Adapun makna, janganlah ‘tajassus’ adalah jangan mencari-cari dan mengikuti kesalahan dan ‘aib kaum muslimin.

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, tajassus -seperti kata Imam Al Auza’i- adalah mencari-cari sesuatu. Ada juga istilah tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Akibat Buruk Tajassus

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 7042). Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-aanuk adalah tembaga cair.

Yang namanya tembaga cair tentu saja dalam keadaan yang begitu panas. Na’udzu billah.

Ibnu Batthol mengatakan bahwa ada ulama yang berpendapat, hadits yang ada menunjukkan bahwa yang mendapatkan ancaman hanyalah untuk orang yang “nguping” dan yang membicarakan tersebut tidak suka yang lain mendengarnya.

Namun yang tepat jika tidak diketahui mereka suka ataukah tidak, maka baiknya tidak menguping berita tersebut kecuali dengan izin mereka. Karena ada hadits di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa terlarang masuk mendengar orang yang sedang berbisik-bisik (berbicara empat mata). Seperti ini dilarang kecuali dengan izin yang berbicara. Demikian diterangkan oleh Ibnu Batthol dalam Syarh Shahih Al Bukhari.

Dari Mu’awiyah, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ كِدْتَ أَنْ تُفْسِدَهُمْ

“Jika engkau mengikuti cela (kesalahan) kaum muslimin, engkau pasti merusak mereka atau engkau hampir merusak mereka.” (HR. Abu Daud no. 4888. Al Hafizh Abu Thohir menyatakan bahwa hadits ini shahih). Ini juga akibat buruk dari mencari-cari terus kesalahan orang lain.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa tak perlulah menaruh curiga pada orang muslim yang berjenggot dan ingin kembali pada ajaran Islam yang hakiki. Tak pantas mereka terus dicurigai sebagai teroris atau bahkan dengan aliran sesat.

Kalau Curiga Ada Bukti, Itu Boleh

Dari Zaid bin Wahab, ia berkata,

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ أُتِىَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقِيلَ هَذَا فُلاَنٌ تَقْطُرُ لِحْيَتُهُ خَمْرًا فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّا قَدْ نُهِينَا عَنِ التَّجَسُّسِ وَلَكِنْ إِنْ يَظْهَرْ لَنَا شَىْءٌ نَأْخُذْ بِهِ

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu telah didatangi oleh seseorang, lalu dikatakan kepadanya, “Orang ini jenggotnya bertetesan khamr.” Ibnu Mas’du pun berkata, “Kami memang telah dilarang untuk tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Tapi jika tampak sesuatu bagi kami, kami akan menindaknya.” (HR. Abu Daud no. 4890. Sanad hadits ini dhaif menurut Al Hafizh Abu Thohir, sedangkan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanadnya shahih).

Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin bahwa terlarang berburuk sangka pada kaum muslimin tanpa ada alasan yang mendesak.

Mulai Belajar untuk Husnuzhon

Contohnya belajar untuk husnuzhon, terhadapa makanan kaum muslimin saja kita diperintahkan untuk husnuzhon. Jangan terlalu banyak taruh curiga tanpa bukti.

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari no. 2057).

Lebih Baik Memikirkan Aib Sendiri

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذَلَ- أَوِ الجَذَعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih).

Perkataan Abu Hurairah di atas sama seperti tuturan peribahasa kita, “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.”

Itulah kita, seringnya memikirkan aib orang lain. Padahal hanya sedikit aib mereka yang kita tahu. Sedangkan aib kita, kita sendiri yang lebih mengetahuinya dan itu begitu banyaknya.

Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. []



Selesai disusun menjelang Jumatan, 22 Jumadal Ula 1436 H di Darush Sholihin
Naskah Khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas Tanjung Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel: https://rumaysho.com/10529-tajassus-mencari-kesalahan-orang-beriman.html

Marak Sepatu dan Tas dari Kulit Babi, Ini Cara Mengenalinya

View Article

Sepatu dan tas dari kulit babi menjadi bahan perbincangan di media sosial. Bahkan, baru-baru ini, juga dibahas di media nasional.

Pasalnya, persoalan ini cukup krusial bagi umat Islam. Ada muslimah yang memakainya dikarenakan tidak menyadari bahwa sepatu dan tas yang dibelinya ternyata dibuat dari kulit babi.

Banyak tas dan sepatu yang dibuat dari kulit babi tidak disebutkan bahannya. Meskipun, banyak juga tas dan sepatu yang mencantumkan bahan produknya dari kulit apa.

Selain itu, sering kali tas dan sepatu dari kulit babi dipajang di tempat yang sama dengan tas dan sepatu dari kulit sapi. Alhasil, menjadi semakin samar bagi orang-orang yang tidak bisa membedakannya.

Lalu bagaimana cara mengenali sepatu dan tas dari kulit babi? Dari segi warna, kulit babi yang telah disamak warnanya menjadi kekuningan. Terkadang, bahan dari kulit babi ini bisa ditemukan pada tempelan bagian dalam sepatu atau tas.

Cara mengenali sepatu dan tas yang berasal dari kulit babi juga bisa dibedakan dari pola dan tekstur kulitnya. Sepatu dan tas dari kulit babi, polanya sangat khas. Yakni terlihat tiga titik membentuk segitiga. Sedangkan kulit sapi polanya bergelombang.

Sedangkan untuk tekstur, kulit babi lebih lembut dan sangat halus. Sedangkan kulit sapi kasar. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Selasa, 16 Januari 2018

Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa

View Article

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan,

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Perkataan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Para ulama salaf pun mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas.

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Ibnu Rajab Al Hambali –rahimahullah- mengatakan, “Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75)

Saatnya Merubah Diri

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa. Juga kaum muslimin tidak bisa lepas dari tradisi yang membudaya yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masih banyak yang enggan meninggalkan tradisi perayaan kematian pada hari ke-7, 40, dst. Juga masih gemar dengan shalawatan yang berbau syirik semacam shalawat nariyah. Juga begitu banyak kaum muslimin gemar melakukan dosa besar. Kita dapat melihat bahwa masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolog-bolong. Padahal para ulama telah sepakat –sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim- bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar yang lainnya yaitu lebih besar dari dosa berzina, berjudi dan minum minuman keras. Na’udzu billah min dzalik. Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir-akhir zaman ini. Itulah berbagai dosa dan maksiat yang seringkali diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.

Agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap hamba memperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karena  dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat pun akan datang menghampiri.

Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 53)

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ro’du: 11). []


Referensi:
Al Jawabul Kaafi Liman Sa-ala ‘anid Dawaa’ Asy Syafii
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah,cetakan kedua: 1427 H
Kaifa Nakuunu Minasy Syakirin, ‘Abdullah bin Sholeh Al Fauzan, Asy Syamilah

Disusun di saat Allah memberi nikmat dan kemudahan untuk menulis selepas shalat shubuh, 14 Jumadil Ula 1430 H
Di rumah mertua tercinta, Panggang, Gunung Kidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel: https://rumaysho.com/302-musibah-datang-karena-maksiat-dan-dosa.html

Senin, 15 Januari 2018

Dosa-Dosa Besar Akibat Membaca Ramalan Bintang

View Article

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 3-5)

Allah menjelaskan kebagusan langit ciptaan-Nya. Langit tersebut menjadi indah dan menawan karena dihiasi dengan bintang-bintang. Bintang dalam ayat di atas disebutkan berfungsi untuk melempar setan dan sebagai penghias langit. Namun sebenarnya fungsi bintang masih ada satu lagi. Bintang secara keseluruhan memiliki tiga fungsi.

Tiga Fungsi Bintang di Langit

Fungsi pertama: Untuk melempar setan-setan yang akan mencuri berita langit. Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat Al Mulk,

وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

“Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 5)

Setan mencuri berita langit dari para malaikat langit. Lalu ia akan meneruskannya pada tukang ramal. Akan tetapi, Allah senantiasa menjaga langit dengan percikan api yang lepas dari bintang, maka binasalah para pencuri berita langit tersebut. Apalagi ketika diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, langit terus dilindungi dengan percikan api.  Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا, وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

“Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (QS. Al Jin: 9-10). Berita langit yang setan tersebut curi sangat sedikit sekali.[1]

Fungsi kedua: Sebagai penunjuk arah seperti rasi bintang yang menjadi penunjuk bagi nelayan di laut.

وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl: 16). Allah menjadikan bagi para musafir tanda-tanda yang mereka dapat gunakan sebagai petunjuk di bumi dan sebagai tanda-tanda di langit.[2]

Fungsi ketiga: Sebagai penerang dan penghias langit dunia. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang.” (QS. Al Mulk: 5)

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang.” (QS. Ash Shofaat: 6)

Mengenai surat Al Mulk ayat 5, ulama pakar tafsir –Qotadah As Sadusiy- mengatakan,

إن الله جلّ ثناؤه إنما خلق هذه النجوم لثلاث خصال: خلقها زينة للسماء الدنيا، ورجومًا للشياطين، وعلامات يهتدي بها ؛ فمن يتأوّل منها غير ذلك، فقد قال برأيه، وأخطأ حظه، وأضاع نصيبه، وتكلَّف ما لا علم له به.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala hanyalah menciptakan bintang untuk tiga tujuan:  [1] sebagai hiasan langit dunia, [2] sebagai pelempar setan, dan [3] sebagai penunjuk arah. Barangsiapa yang meyakini fungsi bintang selain itu, maka ia berarti telah berkata-kata dengan pikirannya semata,  ia telah mendapatkan nasib buruk, menyia-nyiakan agamanya (berkonsekuensi dikafirkan) dan telah menyusah-nyusahkan berbicara yang ia tidak memiliki ilmu sama sekali.”[3] Dari sini Qotadah melarang mempelajari kedudukan bintang, begitu pula Sufyan bin ‘Uyainah tidak memberi keringanan dalam masalah ini.[4]

Ilmu yang Mempelajari Posisi Benda Langit

Ada dua ilmu yang mempelajari posisi benda langit yaitu ilmu astronomi (ilmu tas-yir) dan ilmu astrologi (ilmu ta’tsir).

Pertama: Ilmu astronomi (ilmu tas-yir)

Astronomi, yang secara etimologi berarti “ilmu bintang” adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka.

Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana amatir masih memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan pengamatan fenomena sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi, yaitu ilmu semu yang mengasumsikan bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak benda-benda astronomis di langit. Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua bidang ini sangat berbeda. Astronom menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrolog tidak.[5]

Kedua: Ilmu astrologi (ilmu ta’tsir)

Astrologi adalah ilmu yang menghubungkan antara gerakan benda-benda tata surya (planet, bulan dan matahari) dengan nasib manusia. Karena semua planet, matahari dan bulan beredar di sepanjang lingkaran ekliptik, otomatis mereka semua juga beredar di antara zodiak. Ramalan astrologi didasarkan pada kedudukan benda-benda tata surya di dalam zodiak.

Seseorang akan menyandang tanda zodiaknya berdasarkan kedudukan matahari di dalam zodiak pada tanggal kelahirannya. Misalnya, orang yang lahir awal desember akan berzodiak Sagitarius, karena pada tanggal tersebut Matahari berada di wilayah rasi bintang Sagitarius. Kedudukan Matahari sendiri dibedakan antara waktu tropikal dan waktu sideral yang menyebabkan terdapat dua macam zodiak, yaitu zodiak tropikal dan zodiak sideral. Sebagian besar astrologer Barat menggunakan zodiak tropikal.

Di bola langit terdapat garis khayal yang disebut dengan lingkaran ekliptika. Jika diamati dari bumi, semua benda tatasurya (planet, Bulan dan Matahari) beredar di langit mengelilingi lingkaran ekliptika. Keistimewaan dari keduabelas zodiak dibanding rasi bintang lainnya adalah semuanya berada di wilayah langit yang memotong lingkaran ekliptika. Jadi dapat disimpulkan zodiak adalah semua rasi bintang yang berada disepanjang lingkaran ekliptika. Rasi-rasi bintang tersebut adalah:

  1. Capricornus: Kambing laut
  2. Aquarius: Pembawa Air
  3. Pisces: Ikan
  4. Aries: Domba
  5. Taurus: Kerbau
  6. Gemini: Si Kembar
  7. Cancer: Kepiting
  8. Leo: Singa
  9. Virgo: Gadis Perawan
  10. Libra: Timbangan
  11. Scorpius: Kalajengking
  12. Sagitarius : Si Pemanah[6]


Hukum Mempelajari Ilmu Astronomi dan Ilmu Astrologi

Para ulama dalam menilai ilmu yang mempelajari kedudukan benda langit ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Terlarang mempelajari posisi benda langit. Inilah pendapat Qotadah dan Sufyan bin ‘Uyainah. Alasan mereka melarang hal ini dalam rangka saddu adz dzari’ah yaitu menutup jalan dari hal yang dilarang. Mereka khawatir jika kedudukan bintang tersebut dipelajari, akan diyakini bahwa posisi benda langit tersebut bisa berpengaruh pada takdir seseorang. Namun pendapat ini adalah pendapat ulama yang ada di masa silam saja.

Pendapat kedua: Tidak mengapa mempelajari posisi benda langit. Yang dibolehkan di sini adalah ilmu tas-yir (ilmu astronomi). Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq bin Rohuyah dan kebanyakan ulama.

Pendapat kedua inilah yang lebih tepat karena berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari ilmu astronomi dan tidak termasuk sebab yang dilarang. Ilmu tas-yir (ilmu astronomi) memiliki beberapa manfaat. Di antaranya bisa dipakai untuk kepentingan agama seperti mengetahui arah kiblat dan waktu shalat. Atau untuk urusan dunia seperti mengetahui pergantian musim. Ini semua termasuk ilmu hisab dan dibolehkan.[7]

Sedangkan yang terlarang untuk dipelajari adalah ilmu yang pertama yang disebut dengan ilmu ta’tsir (ilmu astrologi). Dalam ilmu astrologi, ada keyakinan bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib seseorang.[8] Padahal tidak ada kaitan ilmiah antara posisi benda langit dan nasib seseorang. Inilah yang keliru.

Jadi, yang terlarang dipelajari adalah ilmu ta’tsir (astrologi). Sedangkan ilmu tas-yir (astronomi) adalah ilmu yang sangat membantu kehidupan sehingga tidaklah mengapa untuk dipelajari.

Keyakinan Terhadap Zodiak dan Ramalan Bintang

Ada tiga macam keyakinan yang dimaksud dan ketiga-tiganya haram.

Pertama: Keyakinan bahwa posisi benda langit yang menciptakan segala kejadian yang ada di alam semesta dan segala kejadian berasal dari pergerakan benda langit.

Keyakinan semacam ini adalah keyakinan yang dimiliki oleh Ash Shobi-ah. Mereka mengingkari Allah sebagai pencipta. Segala kejadian yang ada diciptakan oleh benda langit. Pergerakan benda langit yang ada dapat diklaim menimbulkan kejadian baik dan buruk di alam semesta. Keyakinan semacam ini adalah keyakinan yang kufur berdasarkan kesepakatan para ulama.

Kedua: Keyakinan bahwa posisi benda langit yang ada hanyalah sebagai sebab (ta’tsir) dan benda tersebut tidak menciptakan segala kejadian yang ada. Yang menciptakan setiap kejadian hanyalah Allah, sedangkan posisi benda langit tersebut hanyalah sebab semata. Keyakinan semacam ini juga tetap keliru dan termasuk syirik ashgor. Karena Allah sendiri tidak pernah menjadikan benda langit tersebut sebagai sebab. Allah pun tidak pernah menganggapnya punya kaitan dengan kejadian yang ada di muka bumi, seperti turunnya hujan dan bertiupnya angin. Semua ini kembali pada pengaturan Allah dan atas izin-Nya, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kedudukan benda langit yang ada. Allah hanya menciptakan bintang untuk tiga tujuan sebagaimana telah dikemukakan di atas.

Ketiga: Posisi benda langit sebagai petunjuk untuk peristiwa masa akan datang. Keyakinan semacam ini berarti mengaku-ngaku ilmu ghoib. Ini termasuk perdukunan dan sihir. Perbuatan semacam ini termasuk kekufuran berdasarkan kesepakatan para ulama.[9]

Intinya, ketiga keyakinan di atas adalah keyakinan yang keliru, walaupun hanya menganggap sebagai sebab atau hanya sebagai ramalan. Namun sayangnya, keyakinan semacam inilah yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat muslim. Mereka begitu semangat menikmati ramalan tersebut di majalah, koran, dan di dunia maya (seperti di situs jejaring sosial yaitu Facebook dan Friendster). Sebagian mereka pun mempercayai ramalan-ramalan bintang tadi. Apalagi jika memang ramalan itu pas dengan kondisi keuangan dan asmaranya saat itu. Sungguh, ini merupakan musibah besar di tubuh umat ini. Membaca sampai membenarkan ramalan tadi pun dianggap hal  lumrah dan tidak bernilai dosa. –Wal ‘iyadzu billah-

Hukum Membaca Zodiak dan Ramalan Bintang

Zodiak atau ramalan bintang berisi tentang ramalann keadaan asmara, keuangan, kesuksesan seseorang di masa akan datang. Biasa digambarkan ramalan keadaan dirinya pada 1 minggu atau sebulan mendatang.

Cara memperoleh ramalan bintang ini tidak perlu susah payah sampai ke rumah tukang ramal. Saat ini, setiap orang sudah disuguhkan cara mudah untuk membaca ramalan bintang melalui majalah, koran atau TV. Bahkan sekarang bisa tinggal ketik lewat sms dengan format reg spasi, dsb.

Dari sini perlu diketahui bahwa para ulama seringkali menyamakan hukum membaca ramalan bintang dengan hukum mendatangi tukang ramal yang mengklaim mengetahui perkara yang ghoib. Keduanya dinilai sama hukumnya karena sama-sama mempertanyakan hal ghoib di masa akan datang.

Syaikh Sholih Alu Syaikh –hafizhohullah– mengatakan, “Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[10]

Intinya, ada dua rincian hukum dalam masalah ini.

Pertama: Apabila cuma sekedar membaca zodiak atau ramalan bintang, walaupun tidak mempercayai ramalan tersebut atau tidak membenarkannya, maka itu tetap haram. Akibat perbuatan ini, shalatnya tidak diterima selama 40 hari.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.”[11] Ini akibat dari cuma sekedar membaca.

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An Nawawi: “Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya.”[12]

Kedua: Apabila sampai membenarkan atau meyakini ramalan tersebut, maka dianggap telah mengkufuri Al Qur’an yang menyatakan hanya di sisi Allah pengetahuan ilmu ghoib.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.”[13]

Namun jika seseorang membaca ramalan tadi untuk membantah dan membongkar kedustaannya, semacam ini termasuk yang diperintahkan bahkan dapat dinilai wajib.[14] Hukum-hukum ini juga berlaku untuk ramalan lain selain dengan ramalan bintang.

Syaikh Sholih Alu Syaikh memberi nasehat, “Kita wajib mengingkari setiap orang yang membaca ramalan bintang semacam itu dan kita nasehati agar jangan ia sampai terjerumus dalam dosa. Hendaklah kita melarangnya untuk memasukkan majalah-majalah yang berisi ramalan bintang ke dalam rumah karena ini sama saja memasukkan tukang ramal ke dalam rumah. Perbuatan semacam ini termasuk dosa besar (al kabair) –wal ‘iyadzu billah-. …

Oleh karena itu, wajib bagi setiap penuntut ilmu agar mengingatkan manusia mengenai akibat negatif membaca ramalan bintang. Hendaklah ia menyampaikannya dalam setiap perkataannya, ketika selesai shalat lima waktu, dan dalam khutbah jum’at. Karena ini adalah bencana bagi umat. Namun masih sangat sedikit yang mengingkari dan memberi peringatan terhadap kekeliruan semacam ini.”[15]

Dari sini, sudah sepatutnya seorang muslim tidak menyibukkan dirinya dengan membaca ramalan-ramalan bintang melalui majalah, koran, televisi atau lewat pesan singkat via sms. Begitu pula tidak perlu seseorang menyibukkan dirinya ketika berada di dunia maya untuk mengikuti berbagai ramalan-ramalan bintang yang ada. Karena walaupun tidak sampai percaya pada ramalan tersebut, tetap seseorang bisa terkena dosa jika ia bukan bermaksud untuk membantah ramalan tadi. Semoga Allah melindungi kita dan anak-anak kita dari kerusakan semacam ini.

Kejadian Masa Akan Datang Menjadi Kekhususan Allah

Ketahuilah, saudaraku. Perkara masa akan datang adalah perkara yang menjadi kekhususan Allah dan menjadi ranah ghoib. Sehingga tidak pantas seorang makhluk pun menerka-nerka apa yang akan terjadi pada masa akan datang melalui ramalan bintang, zodiak dan semacamnya[16]. Begitu pula tidak boleh mempercayai ramalan-ramalan semacam itu sebagaimana larangan yang telah kami kemukakan di atas.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Disebutkan pula dalam kitab Shahih Al Bukhari dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَفَاتِحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ

“Kunci ilmu ghoib itu ada lima.”[17] Kemudian beliau pun membaca firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, … dst”.

Kuncinya: Menyandarkan Diri pada Allah

Cukuplah seseorang meyakini bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Yang Di Atas. Kita hanya berusaha dan berusaha disertai tawakkal. Dengan cara seperti ini, apa yang kita inginkan dengan izin Allah dapat tercapai.

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[18]

Jika Allah yang jadi sandaran dalam setiap usaha, maka Dia akan mencukupi setiap hajat. Bukankah Allah Ta’ala Yang Maha Mencukupi berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3)? Al Qurtubi mengatakan, ”Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”[19]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat di atas kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,

لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوْا بِهَا لَكَفَتْهُمْ

”Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, itu sudah akan mencukupi mereka.”[20] Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka.[21]

Lalu masihkah terbetik dalam hati kita untuk menggantungkan diri dan percaya pada ramalan-ramalan, padahal ada Rabb Yang Maha Mencukupi dan Sebaik-baik Tempat Bergantung?!

Semoga Allah memberi hidayah demi hidayah. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita kaum muslimin dan dapat memperbaiki keadaan kita sekalian.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel https://rumaysho.com
Diselesaikan di Pangukan, Sleman, 15 Dzulhijah 1430 H
Artikel: https://rumaysho.com/688-dosa-besar-akibat-membaca-ramalan-bintang.html


[1] Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, 2/14-15, Terbitan Ulin Nuha, tahun 2003.
[2] Idem
[3] Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobariy dalam Jami’il Bayan fii Ta’wilil Qur’an, 23/508, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H. Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy mengatakan bahwa sanadnya hasan. Lihat Tafsir Juz Tabaarok, Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy, hal. 20, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 1423 H.
[4] Disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab dalam Kitabut Tauhid.
[5] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Astronomi
[6] Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Zodiak
[7] Lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam, hal. 167-168, Pustaka Muslim, cetakan pertama, 1428 H dan I’anatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, 2/18.
[8] Sumber Wikipedia [english], kata “Astrology”.
[9] Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, 2/17.
[10] Lihat At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh pada Bab “Maa Jaa-a fii Tanjim”, hal. 349, Dar At Tauhid, cetakan pertama, tahun 1423 H.
[11] HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[12] Syarh Muslim, An Nawawi, 14/227, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, Beirut, cetakan kedua, tahun 1392 H.
[13] HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[14] Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 1/330, Maktabah Al ‘Ilmi, cetakan kedua, tahun 1424 H.
[15] Lihat At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid, hal. 349.
[16] Bukan termasuk perdukunan adalah perkara yang diketahui melalui penelitian ilmiah, seperti kapan terjadinya gerhana bulan dan matahari dan bisa ditentukan kapan tanggal pastinya. Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Al Qoulul Mufid Syarh Kitab Tauhid.
[17] HR. Bukhari no. 4778
[18] HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310.
[19] Al Jami’ Liahkamil Qur’an, Al Qurtubhi, 18/161, Mawqi’ Ya’sub.
[20] HR. Ahmad, Ibnu Majah, An Nasa-i dalam Al Kubro. Dalam sanad hadits ini terdapat inqitho’ (terputus) sehingga hadits ini adalah hadits yang lemah (dho’if). Namun makna hadits ini shahih (benar).
[21] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, penjelasan hadits no. 49.

Begini Situasi Saat Penggerebekan Pesta Sesama Jenis di Cianjur

View Article

Reserse Polres Cianjur menggerebek pesta seksual yang melibatkan sesama jenis di kawasan Villa Green Apple Garden Blok F-66 Jalan Mariwati Sindanglaya, Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur, Sabtu malam (13/1/2018).

Polisi bergerak setelah mendapat informasi akurat yang diberikan patroli siber polres Cianjur. Setelah melakukan pemantauan lebih dari dua jam, akhirnya polisi masuk dan langsung mengamankan lima orang laki-laki yang saat itu dalam kondisi tanpa pakaian.

"Posisinya telanjang, saling megangin. Begitu tahu anggota saya masuk mereka langsung jerit-jerit kaget. Petugas langsung melempari mereka pakai handuk dan pakaian yang berserakan untuk nutupin ," kata Kapolres Cianjur AKBP Soliyah melalui sambungan telepon dengan detikcom, Minggu (14/1).

Baca juga: Gerebek Pesta Gay di Cianjur, Polisi Sita Celana Dalam dan Kondom

Menurutnya untuk menghindari kecurigaan lingkungan sekitar, pelaku masuk satu per satu ke vila itu. Setelah dipastikan tidak ada lagi yang masuk ke dalam villa, polisi lalu bergerak.

"Kita peroleh dulu data masing-masing mereka, berdasar laporan dari patroli siber. Setelah dipastikan mereka masuk semua, saya merintahkan untuk langsung melakukan penjagaan di semua titik pintu keluar dari dalam villa. Sebagian anggota bersama saya langsung masuk dari pintu depan," lanjut Soliyah.

Dari lima pelaku, satu di antaranya berusia masih remaja dan berstatus sebagai pelajar. "Tentu ini memantik keprihatinan kita semua, ada satu pelaku berusia masih remaja. Kepolisian hadir dalam masalah ini mencegah masalah ini berkembang menjadi penyakit di masyarakat," pungkasnya.
(ern/ern)

Simak artikel penting:
- Dosa-Dosa Besar Kaum Pecinta Sesama Jenis
Sodomi Pertama Ajaran Iblis dan Pemusnahan Kaum Nabi Luth
Kota Sodom Ditemukan, Maukah Kaum Pecinta Sesama Jenis Mengambil Pelajaran? 
Foto dan Video Hancurnya Kota Pecinta Sesama Jenis Pompeii
- LGBT Dibiarkan Bumi Pun Berguncang
- Kaum Sodom Dahulunya Juga Anggap Seruan Nabi Luth Sebagai "Cocoklogi"
- Ternyata Hadist Ini Paling Ditakuti Oleh Kaum LGBT
- Pakar: Muncul Penyakit Kanker Anal Karena Marak LGBT




Pranala luar:
1.https://news.detik.com/jawabarat/3813967/polisi-gerebek-pesta-seks-sesama-jenis-di-sebuah-villa-cianjur
2. https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3814087/begini-situasi-saat-penggerebekan-pesta-gay-di-cianjur
3.http://regional.kompas.com/read/2018/01/14/20072711/gerebek-pesta-seks-kaum-gay-polisi-amankan-5-pria-di-cianjur

Polisi Gerebek Pesta Seks Sesama Jenis di Sebuah Villa Cianjur

View Article

Tim Patroli Siber dan Reserse Polres Cianjur, Jawa Barat berhasil menggagalkan pesta seks sesama jenis di sebuah Villa, Sabtu (13/1/2018). Lima orang pelaku diamankan salah satunya masih berusia di bawah umur.

Informasi dihimpun, peristiwa itu bermula saat patroli siber mendapat informasi mengenai adanya aktivitas komunitas Gay - LGBT melalui aplikasi perpesanan.

Tim siber kemudian berkoordinasi dengan Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) bersama Kapolres Cianjur AKBP Soliyah lalu bergerak menuju lokasi yang dijadikan tempat lokasi mesum para pelaku di Villa Green Apple Garden Blok F-66 Jl Mariwati Sindanglaya Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur.

"Begitu informasi kita dapat, Reskrim langsung bergerak menuju lokasi berdasar petunjuk aplikasi itu. Benar saja di tempat itu kita dapati sejumlah pria yang diduga akab melakukan pesta seks sesama jenis," kata Soliyah melalui telepon selulernya kepada detikcom, Minggu (14/1/2018).

Para pelaku masing-masing berinisial AAW (50), AR (21), DS (39), Us (34) dan seorang remaja yang masih berusia 17 tahun.

Dari lokasi villa yang dijadikan tempat mesum itu, polisi menemukan sejumlah barang bukti di antaranya minuman keras, dan beberapa alat kontrasepsi di lokasi penggerebegan.

"Saat ini mereka masih menjalani pemeriksaan di Satreskrim Polres Cianjur, kita juga melakukan pengembangan karena memang aktivitas seksual seperti ini cukup meresahkan," pungkas Soliyah.
(ern/ern)

Simak artikel penting:
- Dosa-Dosa Besar Kaum Pecinta Sesama Jenis
Sodomi Pertama Ajaran Iblis dan Pemusnahan Kaum Nabi Luth
Kota Sodom Ditemukan, Maukah Kaum Pecinta Sesama Jenis Mengambil Pelajaran? 
Foto dan Video Hancurnya Kota Pecinta Sesama Jenis Pompeii
- LGBT Dibiarkan Bumi Pun Berguncang
- Kaum Sodom Dahulunya Juga Anggap Seruan Nabi Luth Sebagai "Cocoklogi"
- Ternyata Hadist Ini Paling Ditakuti Oleh Kaum LGBT
- Pakar: Muncul Penyakit Kanker Anal Karena Marak LGBT




Pranala luar:
1.https://news.detik.com/jawabarat/3813967/polisi-gerebek-pesta-seks-sesama-jenis-di-sebuah-villa-cianjur
2. https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3814087/begini-situasi-saat-penggerebekan-pesta-gay-di-cianjur
3.http://regional.kompas.com/read/2018/01/14/20072711/gerebek-pesta-seks-kaum-gay-polisi-amankan-5-pria-di-cianjur

Minggu, 14 Januari 2018

Bila Seorang Muslim Malu Akan Kemuslimannya

View Article

Padahal untuk menunjukkan kepada kejayaan sebuah syariat maka dibutuhkan sosok-sosok muslim yang bangga akan keberadaan syariatnya, dan mendakwahkannya sebagai buah kenikmatan dari keimanan serta mempertahankannya bagaikan kekhawatirannya kehilangan harta yang paling berharga di dunia.

Sebagaimana gambaran seseorang tersebut ketika mendapatkan nikmat keimanan dan menjadikannya cinta terhadap keimanan seperti dalam Qur’an Surah 47 ayat 7 yang artinya “…tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”.

Sifat malu memang merupakan sebagain dari keimanan seseorang (al haya’ minal iman – al hadits), tetapi ketika malu terhadap keimanan dan menunjukkan keimanannya maka tidak termasuk bagian dari iman itu sendiri, justru ia termasuk orang mudzabdzabin (alias orang yang takut dan tidak memiliki pendirian) dan dianggap peragu dalam menjalankan dan membela ajaran Allah, sebagai mana disindir Allah dalam Al Qur’an An Nisa’ ayat 143 yang artinya “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya”.

Memang ketika seorang Muslim yang menjalankan ajaran syariat sesuai tuntunan agama Allah, dinul Islam tidak lepas dari gangguan, minimal lecehan perkataan maupun perlakuan, dan maksimal mereka menghadapi perbuatan yang mengakibatkan sebuah kecederaan fisik hingga kematian.

Pilihlah pilihan Anda, malu akan keislaman Anda atau bangga akan keislaman Anda.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Oleh Abi Hisyam
Dipublikasikan abinehisyam.wordpress.com

~~~

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kepada kita agar memiliki kebanggaan sebagai seorang muslim didalam firman-Nya :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Artinya : “Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Al Imran : 64)

Perintah terhadap setiap muslim agar berbangga itu dikarenakan islamlah agam yang telah dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, islam adalah agama yang memiliki kesempurnaan tanpa perlu ditambah dan dikurangi lagi dan yang telah mendapatkan redho dari-Nya serta adanya jaminan dari-Nya bahwa setiap orang yang memilih selain agama ini dipastikan mengalami kerugian di akherat.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

Artinya : “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran:19)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

Artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah : 3)

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya : “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al Imran : 85)

Kebanggaan yang harus ditampakkan dihadapan manusia disekelilingnya termasuk terhadap orang-orang non muslim agar mereka mengetahui akan keagungan dan ketinggian ajaran agama Allah ini. Kebanggan yang dimunculkan didalam aqidah, ibadah dan akhlaknya baik akhlak terhadap Allah, Rasul-Nya, al Qur’an, dirinya sendiri maupun keluarganya.

Kebanggaan seorang muslim kepada aqidahnya adalah yang pertama sebelum kebanggannya terhadap yang lainnya karena aqidah inilah yang menjadi dasar diterimanya ibadah seseorang serta yang bisa membentuk kemuliaan akhlaknya.

Karena itu tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk malu-malu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang muslim dan dilarang baginya ketika ditanya apa agamamu lalu dia mengatakan,”Aku adalah seorang Nasrani” karena kalimat ini mengandung kekufuran.

Kalimat tersebut bisa mengeluarkannya dari islam apabila dirinya termasuk orang yang baligh, berakal, memiliki pilihan, tidak dalam paksaan, gila maupun sejenisnya walaupun dihatinya tidaklah menginginkan kekufuran itu akan tetapi hanya sebatas tuntutan pergaulan, bisnis, harta atau yang lainnya.

Ibnu Nujaim mengatakan, ”Barangsiapa yang mengatakan kata-kata (yang mengandung) kekufuran baik dikarenakan senda gurau atau bercanda maka dia telah kafir menurut seluruh ulama dan apa yang ada didalam keyakinannya (di hati) tidaklah dianggap.

Dan tidaklah dibolehkan mengatakan kata-kata itu kecuali apabila dirinya beada didalam keterpaksaan. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ”Barangsiapa yang kafir tanpa adanya keterpaksaan maka sesungguhnya dia telah secara tegas menyatakan kekafirannya… apabila dia mengatakan kata-kata kekufuran secara sukarela maka sungguh orang itu telah secara tegas menyatakan kekufurannya… firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٠٦﴾

Artinya : “Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran.” (QS. An Nahl : 106)

Dengan demikian tidak seharusnya orang itu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Kristen dikarenakan malu tidak bisa mengaji dan hendaklah dia menyebutkan dengan perasaan bangga bahwa dia adalah seorang muslim. Adapun perihal dirinya yang tidak bisa mengaji tidaklah bisa menjadi alasan untuk mengatakan kalimat kufur akan tetapi hendaklah kesadarannya itu dijadikan pendorong bagi dirinya untuk mempelajari Kitab Allah sejak sekarang.

Wallahu A’lam.



Oleh Ustadz Sigit Pranowo
Dipublikasikan oleh Eramuslim

Jika Ada Tokoh yang Tiba-Tiba Religius Jelang Pilkada dan Pileg, Habib Nabiel Al Musawwa: Hati-Hati

View Article

Tahun 2018 merupakan tahun politik. Banyak Pilkada berlangsung di tahun ini. Lalu setahun lagi akan berlangsung Pileg dan Pilpres.

Pemimpin Majelis Rasulullah Habib Nabil Al Musawwa mengingatkan umat Islam jika ada orang yang tiba-tiba religius menjelang Pilkada dan Pileg seperti ini.

“Pilkada & Pileg: Hati-hati dengan orang-orang yang saat Pilkada & Pileg nanti tiba-tiba religius.. Agama itu gak bisa dijual, ia harus dihayati dan diperjuangkan.. Bukan topeng & make up yang bisa disesuaikan dengan jenis pesta.. Ummat harus cerdas, jangan tertipu dengan para munafik bertopeng agamis.. Cerdaslah!” tandasnya melalui akun Twitter @nabiel_almusawa, Kamis (11/1/2018).
Seperti diketahui, umat Islam merupakan pemilih terbesar dalam pemilu di Indonesia.

Di banyak daerah, umat Islam juga merupakan pemilih terbanyak dalam Pilkada.

Agaknya hal ini disadari betul oleh banyak tokoh baik Calon Kepala Daerah maupun Calon Legislatif -dan tidak menutup kemungkinan- Calon Presiden untuk merebut simpati umat Islam dengan tampil religius menjelang pemilu.

Umat Islam perlu belajar dari pemilu-pemilu sebelumnya, yang terkadang calon hanya berpura-pura religius namun saat terpilih tidak mengayomi umat Islam. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Topeng Tebal Islam Nusantara

View Article

Sebuah topeng baru berwajah rahmatan lil ‘alamin, muncul di negeri ini. Wajah keriput yang tebal dengan “kosmetika” moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman. Konon, Islam mereka adalah yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memaki-maki, Islam yang mengajak tobat bukan menghujat, dan seterusnya.

Terbukti, kelompok bernama Islam Nusantara ini memang benar-benar merangkul mesra Syiah, Ahmadiyah, Nasrani, Hindu, Budha, dan kalangan non-Islam. Adapun terhadap saudara-saudara seislam yang mengamalkan ajaran Islam yang berbeda dengan versinya, mereka posisikan sebagai musuh sejadi-jadinya.

Lebih-lebih terhadap muslimin yang mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka ajak “tobat” dengan hujatan dan fitnah juga. Tampak jelas, Islam Nusantara hanya menjual istilah. Maka dari itu, demi mengakomodasi istilah-istilah “gaib” yang ditelorkan oleh kelompok ini, tampaknya perlu dibuat kamus JIN alias Jaringan Islam Nusantara.

Sikap “membina tidak menghina” ditunjukkan oleh salah satu tokoh JIN. Dengan (katanya) “memakai hati dan tidak memaki-maki”, ia tampakkan sikap sewot terhadap jenggot. Memelihara jenggot yang merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam —bahkan, banyak ulama yang mewajibkan—dikerdilkan sebagai adat Arab. Orang-orang berjenggot dibodoh-bodohkan. Lupakah dia, pendiri ormas yang dia pimpin sekarang berikut para kiainya juga berjenggot?

Kalau mengaku toleran, mengapa terhadap jenggot begitu antipati?! Kalau mengaku toleran, mengapa ketika ada orang memakai busana yang menutup aurat meradang? Kalau mengaku toleran, mengapa antipati dengan orang yang tidak mau tahlilan? Dengan logika bodoh saja, orang Nasrani, Budha, Hindu, Kong Hu Cu juga tidak tahlilan.

Bukankah tidak tahlilan juga bagian dari keberagaman yang selama ini digembar-gemborkan? Lantas mengapa harus membawa-bawa nama Pancasila untuk urusan tahlilan? Siapa yang bodoh dan siapa yang diragukan Pancasila-nya?

Begitu paradoksnya Islam Nusantara. Sibuk menghina atribut Islam yang sejatinya bukan adat Arab, tetapi bungkam dengan banyaknya busana yang mengumbar aurat. Mari buka mata, hijab sebagai busana muslimah muncul setelah datangnya Islam, kala busana orang Arab jahiliah waktu itu mengumbar aurat.

Anggaplah busana itu meniru sesuatu yang telah menjadi kebiasaan di Timur Tengah, haruskah kita sesewot itu? Mengapa dia tidak sewot dengan banyaknya orang yang membebek dengan Barat, tak hanya dalam hal busana, namun juga gaya hidupnya? Mengapa tidak jujur bahwa inti ajaran Islam Nusantara hanya anti-Arab? Kalau memang mengedepankan yang berbau Nusantara, mengapa Ahmadiyah dan Syiah yang notabene bukan Nusantara dirangkul demikian mesra?

JIN juga begitu semangat mengatakan bahwa yang di luar mereka sebagai Islam yang hanya menonjolkan simbol. Padahal mereka jauh lebih parah, lebih mengedepankan seremoni namun jauh dari substansi. Seremoni yang tidak ada bimbingannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibela mati-matian. Semakin kehilangan substansi manakala mengaku cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kala ada muslimin yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti memelihara jenggot, dicerca habis-habisan.

Sadar atau tidak, Islam Nusantara menahbiskan diri sebagai “karyawan” Salibis. JIN tak lebih dari aliran yang intoleran terhadap sesama Islam, tetapi begitu toleran terhadap non-Islam. Cuma mengelus dada saja dengan aliran yang paradoks ini. Aliran yang seharusnya masuk kelompok “aneh tapi nyata”. []


Disadur dari buku "Majalah Asy-Syariah edisi 112: Topeng Tebal Islam Nusantara"
Dipublikasikan pertama kali oleh asysyariah.com

Sabtu, 13 Januari 2018

LBH Ansor: Permintaan Maaf yang Mana? Salah yang Mana?

View Article

Direktur Advokasi dan Litigasi LBH GP Ansor, Achmad Budi Prayoga yang menangani kasus Joshua dan Ge Pamungkas menilai tak ada yang melakukan penghinaan agama.

"Saya sebagai kuasa hukum Joshua, Ge Pamungkas dan kawan-kawan saja. Menurut kami tidak ada masalah soal agama," ucap Achmad Budi Prayoga pada Selasa (9/1/2018).

Jika Joshua dan Ge Pamungkas, menurutnya, tak perlu meminta maaf. Ia justru mempertanyakan apa kesalahannya sehingga keduanya harus melakukan permintaan maaf kepada masyarakat.

"Permintaan maaf apa gitu loh, yang mana yang perlu apa ya? Saya ini bicara atas salah satu kuasa hukum ya. Permintaan maaf yang mana? Salahnya yang mana? Ini kan yang harus diklarifikasi dulu," lanjutnya.

"Kalau ada orang yang dianggap salah, terus tahu-tahu dilaporin-dilaporin aja dan ini materi yang mana yang ini, belum tahu belum diklarifikasi belum apa kok. Menurut kami yang mana yang salah?" imbuh kuasa hukum Joshua Suherman tersebut.

Diketahui, materi lawakan Joshua yang membandingkan kesuksesan Anisa Rahma yang beragama Islam dengan Cherly yang bukan Islam. Annisa Rahma disebut menang karena adanya mayoritas dalam hal ini umat Islam.

"Iya itu kan dianggap menyinggung agama Islam kan, ya itu kan yang disebutkan nama orang per orang, bukan soal Islamnya, bukan soal ajaran Islam, mana yang menyinggung Islam yang mana? Ini kan ada yang perlu diluruskan gitu lho pemahaman orang," ujarnya seperti dilansir Bintang.



Jumat, 12 Januari 2018

Fenomena Akhir Zaman, Dajjal dan Pendukungnya

View Article

Illuminati adalah Gerakan yang di Buat untuk menyambut kedatangan dajjal, mereka terorganisir dalam perkumpulan Rahasia Paling Misterius, Secret Society yang ditemukan pada 1 Mei 1776, menurut info yang didapat Illuminati mengikuti ajaran yang disebut dengan nama Kabbalah dan juga mengikuti para penyembah setan.

Para anggota Illuminati mempercayai bahwa anti-kristus ( Dajjal ) akan datang ke bumi dan akan memerintah selamanya. Dan musuh terbesar Illuminati adalah Islam, karena dalam Islam sendiri menyatakan bahwa Anti-Kristus ( Dajjal ) akan dikalahkan oleh Nabi Isa 'alaihissalam Kemudian dunia dipimpin oleh Imam Mahdi keturunan dari Rasulullah Shalallahu 'alaihiwassalam.

Apa tujuan ILLUMINATI ?

1. Menghapus semua agama dan Kepercayaan.
2. Menghapus sistem keluarga.
3. Mengubah sistem politik dunia.
4. Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim (sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi)
5.menguasai dunia yg dipimpin oleh si mata satu (The New World Order)

ILLUMINATI masuk kedalam segala urusan kehidupan manusia untuk menyampaikan pesan-pesan mereka. Wallahu a'lam

Sumber artikel: kaskus/dimanakah-letak-dajjal-dan-konspirasi-illuminati

“Tidak ada seorang Nabi pun kecuali telah memperingatkan ummatnya tentang Dajjal yang buta sebelah lagi pendusta. Ketahuilah bahwa Dajjal buta sebelah matanya sedangkan Allah tidaklah buta sebelah. Tertulis diantara kedua matanya; Ka Fa Ra [Kafir] (yang mampu dibaca oleh setiap muslim) .” [HR. Al-Bukhari 7131,7408, Muslim 2933]

Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang Nabi, melainkan Nabi tersebut telah memperingatkan kaumnya dari fitnah Dajjal. Nabi Nuh telah memperingatkan umatnya akan fitnah Dajjal, demikian pula para Nabi sesudahnya.

Ketahuilah, sesungguhnya Dajjal akan muncul di antara kalian (maksudnya pada masa umat ini yang merupakan umat terakhir) dan perkara Dajjal itu tidak samar lagi bagi kalian. Demikian pula perkara Rabb kalian tidak samar lagi bagi kalian (beliau bersabda demikian sebanyak tiga kali).

Dalam riwayat Muslim: “…Akan tetapi aku akan mengatakan kepada kalian sebuah perkataan (tentang sifat Dajjal) yang belum pernah diucapkan oleh seorang Nabi pun sebelumku. Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya Rabb kalian tidaklah buta sebelah mata-Nya. Sebaliknya, Dajjal itu buta sebelah matanya.”

Dajjal, raja pendusta yang memalingkan Bani Israel dari ajaran Tauhid menuju Paganisme.

Inilah zaman yang oleh Nabi disebut sebagai zaman fitnah, zaman yang semua sistem kenabian telah dijungkirbalikkan, serta norma dan nilai kebenaran dirusak tanpa ada yang tersisa.Sangat berat hidup di era ini; era Dajjal, era seluruh masyarakat dunia telah buta, yang karenanya si mata satu merasa pantas menjadi raja. []