Sabtu, 19 Agustus 2017

SNSD, Yay or Nay? Begini Sebaiknya Sikap Muslim dan Muslimah

View Article

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyatakan tujuan diundangnya personel girlband asal Korea Selatan, SNSD, untuk mempromosikan atau endorse Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.

Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik mengklarifikasi diundangnya girlband tersebut bukan untuk memeriahkan HUT Ke-72 Indonesia, melainkan sebagai bagian acara hitung mundur "Countdown to Asian Games 2018".

"Kalau perlu kita undang seluruh bintang Indonesia bertemu bintang Korea, Singapura, Filipina, India. Itu kan menunjukkan reputasi juga, kalau tidak cemen banget sebagai 'host' Asian Games tapi tidak bisa menarik bintang-bintang Asia untuk meng-endorse Asian Games di Indonesia," kata Ricky usai menghadiri acara peluncuran buku Bekraf di Jakarta, Senin. (Republika)

Sobat Muslimah ... tau kaaan BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) ngundang onnie-onnie SNSD buat ngeramein acara count down asean games 2018?

Emang siih, mereka terkenal tingkat internasional dan katanya banyak prestasi. But ... kita semua tau dong kayak gimana gaya hidup mereka??

Agak miris aja sih, saat kondisi kita sebagai remaja kekurangan role model yang baik, pemerintah malah ngundang sosok-sosok yang justru, kalau dilihat dari sudut pandang Islam pastinya, sama sekali gak bisa kita jadikan role model.
.
Dan ... ini pendapat kami..

Setelah 10 Tahun Menjadi Atheis, Profesor Matematika Ini Masuk Islam

View Article

Sungguh sebuah mimpi yang aneh. Sebagai seorang berbakat, Jeffrey Lang tidak habis pikir dengan mimpi itu. Namun hati kecilnya mengakui, mimpi itu membawa kedamaian di tengah kehidupan “ilmiah”-nya yang gersang.

Dalam mimpi itu, Jeffrey bersimpuh menghadap Tuhan. Caranya, ia berdiri, kemudian membungkuk, berdiri lagi, kepala menyentuh lantai, hingga duduk di atas tumit. Ia melakukannya di sebuah ruang yang hening, tanpa meja tanpa kursi. Hanya ada karpet dan dinding yang berwarna putih keabuan. Selain Jeffrey, di ruangan itu juga banyak laki-laki membentuk beberapa barisan. Jeffrey berada di barisan ketiga.

Sedangkan di depan mereka, ada seorang laki-laki yang duduk sendiri, tak ada orang lain di sampingnya. Ia tampak memimpin ‘ritual’ itu. Jeffrey tak bisa melihat wajahnya, tapi Jeffrey ingat betul di atas kepala pria itu ada kain putih dengan motif berwarna merah.

Tidak sekali itu saja Jeffrey bermimpi begitu. Berkali-kali, selama 10 tahun menjadi atheis, Jeffrey bermimpi yang sama. Namun, ia mengabaikannya begitu saja dan memenangkan nalar ‘ilmiah’-nya.

Jeffrey Lang lahir dan besar dalam keluarga Katolik. Namun sejak kecil, ia telah menjadi anak yang kritis. “Ayah, apakah surga itu benar-benar ada?” tanyanya saat masih menjadi bocah.

Saat ia memasuki usia remaja, pertanyaannya semakin banyak dan kritis. Namun pendeta dan orang-orang seagama yang ditemuinya tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Ketia ia berusia 18 tahun, Jeffrey merasa logika mengenai Tuhan menemui jalan buntu. Karenanya ia kemudian memilih menjadi atheis menjelang kelulusannya dari sekolah Notre Dam Boys High.

Dua puluh tahun berlalu sejak mimpi pertamanya bersimpun menghadap Tuhan. Jeffrey menjadi dosen di University of San Fransisco. Di Universitas itu, Jeffery bertemu dengan Ghassan, pemuda muslim yang menjadi mahasiswanya. Keduanya menjadi sering berdiskusi. Semula tentang pelajaran, kemudian Jeffrey juga mengenal keluarga mahasiswanya tersebut.

Suatu hari, Jeffrey diberi hadiah sebuah mushaf Al Qur’an terjemah. Di situlah titik hidayah itu dimulai. Jeffrey akhirnya membaca Al Qur’an itu. Halaman demi halaman. Ia merasa tertantang.

“Sejak awal, buku ini menantang diriku,” kata Jeffrey mengenang saat-saat itu. Agaknya ia membaca ayat kedua surat Al Baqarah: “Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Jeffrey terus membaca Al Qur’an. Ia merasa setiap kali ia membantah ayat-ayat yang dibacanya, ayat berikutnya menjadi jawaban atas bantahannya tersebut. “Seolah Penulis kitab itu membaca pikiranku,” kenangnya.

Jeffrey mulai sadar bahwa kitab di depannya itu melampaui pikirannya. Ia sadar kitab di depannya itu telah mengisi kekosongan jiwa yang selama ini ia rasakan. Kitab itu bukan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang Tuhan dan alam semesta, tetapi juga membawa kedamaian bagi jiwanya. Hidayah mulai masuk ke dalam hatinya.

Dan hidayah itu semakin terang, tatkala ia melihat sebuah pemandangan di basement gereja Universitas. Sejumlah kecil mahasiswa muslim sedang beribadah. Karena kesulitan tempat, mereka menggunakan basement itu.

Jeffrey melihat mereka berbaris rapi. Berdiri bersama, menunduk bersama, lalu berdiri lagi, kemudian bersujud, dan duduk bersimpuh di atas tumit. Jeffrey ingat sesuatu. Terlebih setelah ia melihat di depan mereka ada seseorang yang memimpin mereka beribadah, memakai penutup kepala putih dengan motif berwarna merah. Rupanya itu Ghassan. “Ini mimpiku!” teriak Jeffrey dalam hati. Ya, pemandangan itu persis seperti mimpinya yang berulang beberapa kali beberapa tahun silam.

Jeffrey tak kuasa menahan tangis haru. Hatinya penuh damai. Ia tersungkur bersujud.

Singkat cerita, profesor Matematika ini kemudian masuk Islam. Ia lalu berdakwah melalui mimbar ilmiah dan menulis sejumlah buku. Diantaranya Struggling to Surrender (1994), Even Angels Ask (1997) dan Losing My Religion: A Call for Help (2004). [Kisahikmah.com]


Pranala luar:
1. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/03/07/167865--kalah-melawan-alquran-dr-jeffrey-lang-menerima-islam
2. http://www.islam.ru/en/content/story/dr-jeffrey-lang-abdul-ahad-omar
3. http://www.discoveringislam.org/dr_jeffrey_lang.htm
4. https://www.youtube.com/watch?v=3H_C0BMyGCA

Belum Bisa "Move on", Penghina "Islam Agama Setan" Ini Terancam Dipenjara

View Article

Netizen sempat dihebohkan dengan komentar salah seorang penganut agama Kristiani yang menghina Islam dan menyebutnya dengan "agama setan". Sontak ribuan netizen mengkritisi komentar wanita yang menulis komentar provokatif tersebut di dalam sebuah unggahan video di laman facebook Masyarakat Aceh Lon Sayang beberapa hari yang lalu.

Tidak diketahui alasan wanita bernama Susi Trumer tersebut sampai menulis komentar yang sangat menyinggung umat Islam. Dalam komentar tersebut, wanita yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Australia tersebut menyebut bahwa agama Islam adalah agama setan dan telah dijadikan alat untuk menipu.

Ujaran kebencian non muslim ekstrimis dan radikal


Setelah menulis komentar tersebut, iapun langsung ditentang keras oleh sejumlah netizen yang tersinggung dengan komentar tersebut.

Setelah dikritik oleh sejumlah netizen, ternyata Susi tetap tidak merasa bersalah dan tidak mau minta maaf. Ia kemudian kembali mengunggah video di laman facebooknya dengan menyertakan kalimat yang lebih provokatif.

"Inilah video yang membuat aku dicaci maki oleh ratusan orang. Karena aku bilang Islam itu agama setan. Aku sangat bangga dicaci maki oleh orang-orang yang tidak ku kenal," tulis Susi di akun facebooknya.

Seperti dilansir Swamedium, pihak Cyber Crime Mabes Polri sedang menyelidikan kasus yang sedang viral tersebut. Saat ini, akun facebook Susi masih bisa dibuka dan sempat mengunggah video doa Jokowi dianggap menyindir Tifatul Sembiring dan SBY.

Postingan terbaru


Pihak berwajib menyatakan bahwa pemilik akun sudah terdeteksi lokasinya dan akan segera diproses oleh bagian Cyber Crime.

"Kasus ini sedang diproses. Nanti kita update hasilnya," ujar pihak Cyber Crime pada Jumat (18/8).

Atas kelakuan tersebut, Susi bisa dikenakan Pasal Pasal 28 ayat (2) dan Jo Pasal 45 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Ujaran Kebencian berbasis SARA dan terancam dipenjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah). [bersamaislam/berdakwah]

MOHON BANTU DOA DAN #SEBARKAN , SEMOGA BISA SEGERA DI PROSES HUKUM DAN DI PENJARA, AAMIIN.. JANGAN SAMPAI UMAT LANGSUNG TURUN TANGAN, KITA SERAHKAN DAN PERCAYAKAN KEPADA APARAT.

Filipina Negeri Muslim yang Dimurtadkan: Dahulu 98% Muslim, Kini Muslim Tersisa 5%

View Article

Filipina merupakan negara di kawasan Asia tenggara yang pada zaman dahulu kala memiliki populasi Muslim sangat besar, yakni mencapai angka 98%. Sebelum kedatangan bangsa Spanyol tahun 1565, Filipina adalah negeri muslim dengan populasi muslim mencapai 98 % masuk wilayah Kesultanan Brunei, hingga semuanya berubah setelah kedatangan penjajah Kristen Spanyol.

Ibukota Filipina, Amanilah adalah sebuah kota yang diberi nama dari bahasa Arab yaitu Fi Amannillah (dibawah perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala), setelah dikuasai Spanyol Amanilah diganti nama menjadi Manila.

Saat itu kaum muslim Filipina bertekad menjadikan kota Amanillah (Manila) menjadi kota Islam terbesar se Asia Tenggara. Mereka pun sudah menerapkan Syariat Islam selama berabad-abad di bawah pengaruh Negara Khilafah Islam di Timur Tengah.Pekerjaan kaum muslim Filipina saat itu kebanyakan adalah pedagang, petani, dan nelayan.

Tahun 1565 Bangsa Spanyol datang dengan misi Gold, Glory dan Gospel, yang artinya adalah Penjajahan, dan memberi nama Philipina sesuai nama raja mereka Raja Philipe. Tahun 1569 kota Amanillah direbut oleh Spanyol dan membantai penduduknya, kemudian dengan berbagai macam ancaman kekerasan dan pemaksaan Spanyol berhasil melakukan Kristenisasi wilayah Filipina Utara dan Tengah.

Sebagian Kaum Muslim yang tidak sudi dan merasa najis dengan kristenisasi itu, melarikan diri ke wilayah selatan Filipina untuk menyelamatkan akidahnya. Mereka berhasil membuat pertahanan yang kuat dan terus melawan Spanyol lewat perang Gerilya. Kemudian Spanyol memberi nama kaum muslim Filipina dengan nama orang Moro. Nama ini diambil dari sebutan kepada keturunan Arab Spanyol yang beragama Islam yang dahulu menguasai Andalusia ( Spanyol ) yaitu orang Moor.

Spanyol tidak tinggal diam, mereka merekrut orang-orang Indo Kristen* ( orang Filipina yang sudah dikristenkan ) untuk berperang melawan kaum muslim yang sebenarnya masih saudara sebangsa mereka.
Perjuangan kaum muslim Filipina baik melawan penjajah Spanyol maupun saudara sebangsa mereka yaitu orang Indo Kristen, terus berlangsung sampai tahun 1898.

Kondisi Filipina saat ini sungguh sangat memprihatinkan, negeri yang dahulu 98% warganya muslim telah berubah negara kristen. Populasi pemeluk Islam hanya bersisa 5%, populasi kristen 90%, sisanya memeluk Budha dan atheis. [islamedia/berdakwah]

Pranala luar:
- http://mirajnews.com/2014/12/ternyata-filipina-adalah-negeri-muslim.html/59787

10 Tempat Tinggal Jin, 3 Terakhir Sangat Dekat dengan Kita

View Article
Foto Jin (ilustrasi)

Jin juga membutuhkan tempat tinggal. Di manakah tempat tinggal jin? Berikut ini 10 tempat tinggal jin paling favorit. Tiga terakhir ternyata sangat dekat dengan kita di zaman modern ini.

Gua
Jin suka tinggal di gua. Sebagaimana riwayat Alqamah dan Ibnu Mas’ud bahwa perwakilan jin pernah datang kepada Rasulullah dan minta diajari Al Qur’an. Rasulullah pun mendatangi mereka yang ternyata tinggal di gua.

Laut
Jin kafir suka tinggal di laut. Bahkan singgasana iblis juga berada di lautan sebagaimana hadits dalam shahih Muslim.

Gunung
Bilal bin Harits menceritakan bahwa dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa jin muslim dan jin musyrik bertengkar. Lalu mereka minta ditempatkan di suatu tempat. Maka Rasulullah menempatkan jin muslim di Al Jalas (perkampungan dan gunung-gunung), sedangkan jin musyrik ditempatkan di Al Ghaur (antara gunung dan laut).

Lembah
Sebagaimana riwayat Bilal bin Harits di atas.

Lubang
Rasulullah melarang umatnya kencing di lubang, baik lubang yang tampak seperti sarang binatang atau yang mirip dengan itu. Di antara sebabnya, bisa menyakiti binatang. Sebab lain, bisa jadi lubang itu adalah tempat tinggal jin.

Tempat pemakaman
Tempat pemakaman disukai jin sebagai tempat tinggal karena sepi, jauh dari keramaian manusia.

Kandang unta
Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Imam Ahmad, Rasulullah membolehkan umatnya shalat di kandang kambing namun melarang shalat di kandang unta.

“Silakan kamu shalat di kandang kambing tapi jangan shalat di kandang unta sebab ia diciptakan dari syetan” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad; shahih)

WC dan Tempat Najis
Tempat-tempat najis dan kotor sangat disukai oleh jin-jin kafir. Sehingga Rasulullah mengajarkan doa masuk wc dengan doa meminta perlindungan kepada Allah dari setan jantan dan setan betina.

Rumah Manusia
Jin yang tinggal bersama di rumah manusia memiliki tiga kemungkinan. Pertama, manusia tersebut memang memelihara jin atau memiliki hubungan dengannya.

Kedua, tidak sengaja mengundang jin. Jin datang karena perilaku anggota keluarga mengundang datangnya jin, misalnya karena ritual kesyirikan dan kemaksiatan.

Ketiga, jin tinggal secara alami tanpa diundang. Ada jin yang tinggal seperti ini mengganggu atau menimbulkan ketidaknyamanan pada manusia penghuni rumah tersebut, namun ada pula yang tidak ikut campur dalam dunia manusia.

Pasar
Jin juga suka tinggal di pasar sebagaimana hadits shahih Muslim, terutama pasar yang banyak praktik penipuan dan kecurangan.

Demikian 10 tempat tinggal jin sebagaimana disarikan dari Buku Ensiklopedia Jin, Sihir & Perdukunan karya Musdar Bustamam Tambusai. [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]

Jumat, 18 Agustus 2017

Barisan Hizbullah: Peran Jihad dalam Perjuangan Kemerdekaan

View Article

Barisan Hizbullah dan Barisan Sabilillah mungkin adalah nama yang bisa jadi asing bagi generasi muda Indonesia hari ini. Tidak heran, nama kedua laskar rakyat ini memang jarang diperkenalkan dalam buku-buku sejarah di bangku sekolah. Padahal peran Hizbullah dan Sabilillah cukup strategis dan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejumlah peristiwa penting dan menentukan di tanah air seperti pertempuran Palagan Ambarawa, Pertempuran 10 November di Surabaya (sekarang diperingati sebagai Hari Pahlawan), Pertempuran 5 hari di Semarang, dan lain sebagainya tidak lepas dari peran pasukan Hizbullah maupun Sabilillah. Penumpasan pemberontakan PKI Muso tahun 1948 juga berkat peran kedua laskar yang lahir dari rahim kesadaran jihad umat Islam di Indonesia tersebut.

Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan diplomasi semata. Anugerah ini bahkan harus digenggam dengan menguras darah dan air mata. Tulisan ini secara khusus didedikasikan untuk mengenang peran perjuangan dan jasa-jasa para mujahid yang tergabung dalam barisan Hizbullah dalam mengantar menuju gerbang terbentuknya Republik Indonesia dan pertahanan kemerdekaan. Mudah-mudahan buah baik berupa kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan tidak akan membuat generasi hari ini menjadi durhaka dengan tidak memahami langkah dan pilihan para pejuang di masa lalu.

KELAHIRAN HIZBULLAH

Barisan Hizbullah lahir dari rahim umat Islam untuk mengentaskan masyarakat dari kesengsaraan akibat penjajahan. Landasan utama perjuangan laskar rakyat ini adalah menggunakan Al Quran dan Shunnah sebagai pedoman hidup. Dalam konsep Islam, kebatilan dan kedzaliman harus dienyahkan. Dengan diiringi semangat cinta tanah air dan keinginan untuk merdeka menentukan nasib sendiri, maka terbentuklah barisan Hizbullah.

Pada masa pendudukan Jepang di tanah air, Dai Nippon mulai memperkenalkan programnya untuk membebaskan Asia dari penindasan dan hegemoni Barat. Program yang dikenal dengan sebutan “3A” ini disambut baik oleh rakyat Indonesia. Masa itu belum nampak sama sekali motif Pemerintahan Jepang yang hakikatnya setali tiga uang dengan kedatangan bangsa Kristen Eropa yang telah menjajah terlebih dahulu. Tidak heran, dukungan mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari golongan nasionalis hingga agamis, termasuk umat Islam.[1]

Apalagi pada masa-masa sebelum kedatangannya, nama Jepang sudah dikenal oleh bangsa Indonesia sebagai lawan Barat. Berbagai media di Tanah Air pada masa itu sering memberitakan bahwa Jepang telah menjadi kekuatan baru yang tidak terbendung di Asia pasca berhasil menguasai China. Bahkan muncul opini bahwa tidak ada lagi yang mampu mematahkan perkembangan Jepang, termasuk Barat. Harapan bermunculan dari berbagai pelosok Asia, ketika Jepang menyerukan hendak mengusir bangsa-bangsa Barat dari Asia. Majalah “Berita Nahdlatoel Oelama’” terbitan 1938 misalnya, berupaya meyakinkan bahwa dengan kemunculan Jepang di pentas Internasional, – Perancis akan diusir dari Indo-China, Australia dan India akan dibebaskan dari cengkraman Inggris, Siberia akan dimerdekakan dari penjajahan Rusia, dan juga Indonesia dari kungkungan Belanda. Semboyan Jepang, “Asia boeat bangsa Asia” rasanya seperti menjanjikan angin surga untuk bangsa-bangsa yang merindukan bebas dari penindasan bangsa Kristen Barat.[2]

Selain membentuk tentara PETA (Pembela Tanah Air), Jepang mengijinkan para pemimpin ormas Islam yang terdiri dari Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), PSII, dan lain-lain yang tergabung dalam Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) untuk membentuk barisan relawan yang berisi para pemuda Islam yang tidak bisa bergabung di PETA.

Pada 14 Oktober 1944, lahirlah barisan Hizbullah di Jakarta. Pelatihan pertama kali diselenggarakan di Cibarusa, Bogor, Jawa Barat dengan diikuti sekitar 500 orang pemuda muslim yang berasal dari 25 karesidenan di Jawa dan Madura. Pelatihan ini dilakukan di bawah pengawasan seorang Perwira Jepang bernama Yamagawa dengan dibantu sejumlah instruktur dari perwira PETA selama 3,5 bulan. Versi lain, buku “Sejarah Nasional Indonesia VI” menyebutkan bahwa pembentukan Hizbullah dilakukan pada 15 Desember 1944. Sementara pelatihan yang dilakukan di Cibarusa hanya berlangsung selama 2 bulan. Keanggotaan Hizbullah pada masa berikutnya sempat mencapai 50.000 personil, sama dengan jumlah pasukan Jibakutai (barisan berani mati). Di bidang kerohanian, mereka berada di bawah bimbingan sejumlah ulama antara lain K.H. Musthafa Kamil dari Jawa Barat untuk pembinaan jasmani; K.H. Mawardi dari Surakarta untuk bidang tauhid; K.H. Imam Zarkasyi dari Pesantren Gontor, Ponorogo; Kyai Mursyid dari Pacitan; Kyai Syahid dari Kediri, K.H. Abdul Halim dari Majalengka untuk bidang politik; K.H. Thohir Dasuki dari Surakarta untuk bidang Sejarah; Kyai Roji’un dari Jakarta; dan KH. Abdullah.[3]

Pelatihan dimulai pada jam 4 pagi dengan bersama-sama melaksanakan shalat Subuh. Setelah itu mereka diharuskan melaksanakan senam pagi (taiso) hingga pukul 6.00. Dilanjutkan dengan apel pagi yang dibuka dengan takbir 3 kali dan berdoa dengan menghadap kiblat. Barisan Hizbullah sejak awal telah menolak untuk melakukan seikerei kepada matahari atau menghadap ke Istana Tokyo sebagaimana anjuran Jepang. Berikutnya mereka melakukan kegiatan kebersihan, mandi, dan makan. Pukul 8.00 hingga 10.00 mereka terlibat dalam kegiatan pengajian dan ceramah keislaman. Pukul 10.00 hingga 12.00 dilanjutkan dengan kegiatan kemiliteran. Setelah shalat Dhuhur pelatihan militer dilanjutkan hingga sore hari. Tengah malam tidak jarang mereka dibangunkan mendadak untuk latihan mengantisipasi keadaan darurat.

Sebagai tanda lulus dari pelatihan, mereka akan mendapatkan surat pengakuan (semacam syahadah) yang diketahui oleh Ketua Majelis Sjoero Moeslimin Indonesia (Masjoemi), yaitu K.H.M. Hasyim Asy’ari. Secara umum, Hizbullah memang merupakan barisan yang dibentuk dengan kewajiban: “Tiap-tiap anggota yang sudah dilatih hendaklah berdjandji bahwa diri dan tenaganja diserahkan boelat-boelat pada ‘Masjoemi’”.[4]

Secara umum sambutan masyarakat terhadap barisan Hizbullah cukup positif. Karesidenan Surakarta, misalnya, mengirimkan 25 pemuda yang sebelumnya merupakan hasil seleksi secara ketat untuk mengikuti pelatihan tersebut. Setelah usai dan kembali ke Surakarta, mereka disambut dengan meriah oleh umat Islam di Surakarta bertempat di Masjid Agung. Pada 8 Juni 1945 diadakan penyambutan lagi di Gedung Habiprogo Surakarta (sekarang Matahari Singosaren).[5]

Sambutan yang sangat meriah terhadap Hizbullah di Surakarta ini tidak mengherankan, sebab dari 25 pemuda yang dikirim ke Cibarusa, 15 orang diantaranya berasal dari Madrasah Mambaul Ulum Surakarta. Sisanya, 5 orang dari Mualimin Muhammadiyah Surakarta, 3 orang dari Perguruan Al-Islam, dan masing-masing satu orang dari MULO-Mualimin Yogyakarta dan HIS Surakarta.[6] Madrasah Mambaul Ulum Surakarta pada masa itu merupakan lembaga pendidikan keagamaan berbasis pesantren yang cukup terpandang. Institusi pendidikan ini resmi milik Kraton Surakarta yang didirikan pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwana X (memerintah 1893 – 1939) dan bertempat di Masjid Agung Surakarta. Pendirian madrasah ini, diantaranya dilatarbelakangi oleh ketidaksukaan sang raja terhadap menjamurnya sekolah zending dan praktik kristenisasi yang dilakukan oleh Belanda di wilayah kerajaannya. Sebagai seorang panatagama, sang raja merasa berkewajiban untuk mendirikan sebuah institusi yang menaungi kepentingan pendidikan umat Islam.[7] Santrinya diseleksi secara ketat dan lulusannya sebagian ditempatkan untuk mengisi jabatan di lingkungan kapengulon (bidang urusan keagamaan dalam pemerintahan di istana). Para lulusan itu akan mendapatkan syahadah (ijazah) yang ditandatangani langsung oleh sang raja.

Menurut catatan Kyai Ali Darokah, seorang ulama karismatik pengasuh Pesantren Jamsaren Surakarta[8], antara tahun 1943 hingga tahun 1945 memang tidak banyak berlangsung kegiatan belajar mengajar di lingkungan Madrasah Mambaul. Para santri Mambaul Ulum banyak yang diterjunkan ke medan juang bergerilya melawan penjajah Eropa. Para ulama dan santrinya juga terlibat aktif dalam penataan barisan Sabilillah dan Hizbullah. Perjuangan mereka bahkan berlangsung hingga tahun 1950 saat mengusir Belanda dari Surakarta.[9] Kyai Ali Darokah sendiri sekitar tahun 1945 diketahui ikut mengelola Madrasah Mambaul Ulum.

Sambutan yang menggembirakan terhadap pembentukan Hizbullah, juga datang dari para mantan pemimpin Laskar Partai Arab Indonesia (P.A.I.). Setelah Laskar P.A.I. dibubarkan, para pemuda peranakan Arab ini merasa gelisah, sebab tidak lagi memiliki wadah untuk bersama-sama umat Islam lainnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Harapan mereka untuk menyumbangkan tenaga dalam membela nusa dan bangsa bersemai kembali dengan kehadiran Laskar Hizbullah. Dalam salah satu tulisan, seorang mantan pemuka Laskar P.A.I. menulis sambutan terhadap pendirian Barisan Hizbullah sebagai berikut:

“Alhamdoeli’llah, kini telah terboeka djalan bagi kami dengan berdirinja Tentera ALLAH, dimana kami Peranakan Arab, diboekakan pintoe sebagai lain-lain kaoem moeslimin, berdjoeang dalam Barisan ALLAH itoe. Maka kami sebagai bekas Lasjkar P.A.I. dalam anggapan kaoem Peranakan Arab semoea sebagai Moeslim telah memandang, bahwa satoe-satoenja pintoe bagi kami sekalian telah terboeka oentoek mengoedji Iman sebagai Moeslim terhadap Agamanja dan oedjian benar dan tidaknja pengakoean Indonesia sebagai Tanah Air kami sendiri”.[10]

Mengungsi diantara peperangan 10 November


PERAN HIZBULLAH

Pertempuran 10 November 1945
Perlu dipahami peristiwa 10 November 1945 di Surabaya atau dikenal dengan sebutan Soerabaia ’45 bukan merupakan peristiwa yang berdiri secara tunggal. Butuh perencanaan dalam jangka panjang untuk mengusir sekutu yang bercokol di Surabaya. Peristiwa 10 November tidak akan terjadi dengan sendirinya jika tidak didahului dengan Resolusi Jihad. Resolusi Jihad itu sendiri merupakan hasil kesepakatan. Peristiwa ini didahului oleh perebutan kekuasaan dan senjata antara bangsa Indonesia dengan Sekutu pasca kekalahan tentara Jepang mulai dari 2 September 1945.

Melihat situasi yang berkembang semacam itu K.H. Hasyim Asy’ariy mengundang para ulama’ uyang tergabung dalam Nahdlatul Ulama dari seluruh Pulau Jawa dan Madura untuk berkumpul di Surabaya pada 21-22 Oktober 1945. Ketokohannya sebagai ketua Masyumi dan sekaligus menjadi sosok sentral Nahdlatul Ulama memungkinkan beliau untuk memperoleh dukungan kekuatan dari berbagai elemen umat Islam pada masa itu. Hasilnya, para tokoh yang berkumpul akan menggerakkan umat untuk siap sedia berjihad mempertahankan kemerdekaan. Kesepahaman itu kemudian melahirkan sebuah fatwa yang dikenal dengan sebutan Resolusi Jihad. Pada bagian inilah akhirnya Barisan Sabilillah (Ulama’) dan Barisan Hizbullah memiliki peran besar untuk mengkoordinasikan kekuatan rakyat dalam perjuangan.

Resolusi Jihad


Inggis saat itu bertugas untuk melucuti senjata tentara Jepang. Mereka menjanjikan hanya akan melucuti senjata Jepang, menduduki obyek-obyek yang sesuai dengan tugasnya yaitu kamp tawanan, tidak akan mengikutkan Angkatan Perang Belanda dalam pasukannya. Janji-janji ini ternyata diingkari. Mereka bukan hanya bermaksud membebaskan Kolonel Huiyer, dari Angkatan Laut Belanda dan kawan-kawannya, bahkan pada 27 Oktober pukul 11. 00 pesawat Inggris menyebarkan pamflet berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan senjata-senjata yang dirampas dari Jepang. Pada pukul 14.00 mulai terjadi kontak senjata yang pertama antara pemuda dengan pihak Inggris.[11]

Salah satu episode heroik dalam peristiwa Surabaya ini adalah pidato Soetomo (lebih dikenal dengan sebutan: “Bung Tomo”) dicorong radio yang mampu membakar semangat juang rakyat dengan gelegak takbir. Siaran yang dipancarkan dari radio pemberontakan di Jl. Mawar No. 4 itu kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa antara lain Inggris, Cina, dan Arab dengan tujuan agar dunia mendengar tentang kekejaman Sekutu dan juga menunjukkan bahwa republik masih didukung oleh rakyat dan para pejuang. Khusus penerjemahan ke dalam Bahasa Arab dilakukan oleh K.H. Thohir Dasuki, ulama Surakarta tamatan dari Universitas Al-Azhar, Mesir, yang juga pernah menjadi perintis dan pelatih Barisan Hizbullah di Cibarusa, Bogor, Jawa Barat.[12]

Palagan Ambarawa
Peristiwa Palagan Ambarawa merupakan salah satu momen penting bagi bangsa Indonesia dalam mengusir Inggris. Ambarawa, sebuah kota yang kini berada di wilayah Jawa Tengah, dulunya merupakan salah satu pusat pertahanan penting bagi Belanda dan juga sekutu. Pertempuran ini berlangsung antara 20 November hingga 25 Desember 1945. Kedatangan Inggris di Ambarawa yang mestinya bertugas untuk mengurus tawanan perang, ternyata justru diboncengi NICA dan mempersenjatai tawanannya.[13]

Dalam pertempuran ini Kolonel Sudirman, seorang anggota Muhammadiyah yang taat beragama, menerapkan strategi perang yang dikenal dengan nama “supit urang”. Dengan menggunakan model supit urang, pasukan musuh bisa dikepung dari berbagai arah dan dihancurkan di berbagai lini dengan mempertimbangkan kondisi geografis kota Ambarawa yang di kelilingi sejumlah bukit dan gunung. Strategi penataan pasukan ini sebenarnya merupakan strategi kuno yang sudah sangat lama digunakan oleh raja-raja Jawa. Dalam kitab Kamandaka, sebuah kesusastraan Jawa kuno, strategi ini dinamakan “makara wyuha”. “Makara” di sini berarti “udang” atau sejenis kepiting dan “wyuha” artinya ”gelar pasukan” atau “susunan pasukan”.[14]

Dalam penggunaan strategi ini pasukan setidaknya dibagi ke dalam beberapa kelompok diantaranya: Kelompok pertama, menempati bagian “kepala” atau “tubuh”. Pasukan yang ditempatkan pada bagian ini merupakan pasukan induk yang memiliki kekuatan paling besar. Tugasnya menghabisi musuh yang sudah dibuat lemah oleh pasukan di bagian supit maupun kaki. Bisa diumpamakan, setelah mangsa bisa terpegang oleh sapit (supit/ capit) udang, maka akan segera dimakan oleh bagian kepala atau tubuhnya. Pasukan yang menempati bagian tubuh terdiri dari empat batalyon yang dipimpin oleh Mayor Soeharto, Mayor Sardjono yang bergerak di bagian kanan, serta mayor Adrongi dan Sugeng Tirtosewoyo di sebelah kiri. Sementara bagian ekor dari tubuh ini diisi oleh para relawan yang menyediakan perbekalan pasukan dan merawat korban perang yang terluka. Bagian ekor ini juga diisi oleh barisan rakyat dan sejumlah laskar yang dipersiapkan untuk memberikan bantuan apabila pasukan-pasukan di bagian tubuh dan supit terdesak. Pasukan di bagian tubuh yang dipimpin oleh Imam Androngi, Sardjono, Soeharto, dan Soegeng Tirtosiswoyo berhasil menggempur kedudukan tentara sekutu yang bermarkas di Gereja dan Pekuburan Belanda di sekitar Jalan Margoagung.[15] Sekutu merasa terdesak dengan serangan ini dan dengan segera mengerahkan serangan udara.

Kelompok kedua, merupakan bagian kaki udang. Pasukan di kaki kiri melakukan pergerakan dari Jambu ke Bandungan dan Baran, sebagian lagi lewat brongkol dengan terus menyerang Sekutu di sektor tenggara. Mereka dipimpin Letkol Bambang Sugeng dari resimen 14 Temanggung dan Letkol Kun Kamdani dari resimen 14/ devisi V Purworejo. Pasukan ini secara umum berfungsi untuk menyapu dan mempersiapkan medan perang termasuk mengantisipasi jebakan yang mungkin ditinggalkan musuh. Terakhir, kelompok ketiga adalah bagian sapit (supit). Pasukan ini biasanya difungsikan untuk menimbulkan ketidakstabilan di kalangan musuh. Serangan-serangan biasanya dilakukan secara mendadak dengan bergerilya.
Dengan menggunakan hikmat Supit Urang, situasi dan kondisi musuh akan senantiasa bisa dipantau. Sementara itu pasukan yang ditempatkan pada bagian sapit (supit) kanan maupun sapit kiri akan terus membuat ketidakstabilan dipihak musuh. Tidak jarang bagian kepala udang menjadi momok menakutkan bagi pasukan musuh yang sudah kacau balau.[16] Barisan Hizbullah dalam pertempuran tersebut mendapatkan tugas tempur di sejumlah titik sapit. Bersama barisan gabungan lainnya dari Surakarta, Hizbullah berhasil menembak jatuh pesawat terbang sekutu di Rawa Pening, di pinggir Desa Sumurup. Pilot pesawatnya tewas dikeroyok oleh rakyat setempat.[17]

Dalam masa perang ini sempat terbentuk satuan pasukan yang disebut Pasukan Gatjo (baca: Gaco), sebuah satuan dalam Barisan Hizbullah yang terdiri dari 46 anggota. Kata “Gatjo” ini bukan berarti “ngawur” sebagaimana maknanya dalam Bahasa Jawa, tetapi merupakan kependekan dari “Gabungan Tjalon Oelama”. Anggotanya terdiri dari para santri yang ke depan di proyeksikan akan menjadi Ulama’. Pada 25 dan 26 Desember 1945, dua orang dari Pasukan Gatjo yaitu Banani dan Salekan mendapatkan syahid dalam sebuah pertempuran di depan Benteng Yansen, Ungaran, sebuah benteng yang dulunya pernah digunakan untuk menawan Pangeran Diponegoro. Jenazah keduanya, kemudian diantarkan ke Surakarta dan dimakamkan di Makam Pahlawan Jurug.[18]

Untuk mendukung perjuangan, Hizbullah seringkali mengkoordinasikan kekuatan rakyat. Setelah Belanda yang membonceng Sekutu mundur dari Ambarawa ke Semarang, komandan Hizbullah yang bernama Munawir Syadzali (pada masa selanjutnya pernah diangkat menjadi Menteri Agama pada masa pemerintahan Presiden Soeharto), mengumpulkan masyarakat Ungaran untuk dilatih kemiliteran. Mereka terdiri dari guru madrasah, kyai, lurah, camat, pegawai kabupaten, dan masyarakat umum. Para peserta ini berasal dari seluruh kecamatan di Ungaran ini rata-rata dibawa oleh para Kyai dan pimpinan pondok Pesantren masing-masing. Antara lain dari Gunung Pati dibawa oleh Naib Mustajab. Dari Pringapus, Klepu dipimpin oleh Naib M. Turmudi, dan dari daerah lain oleh Carik Suprapto, Kyai Syakur, dan lain-lain.[19] Pelatihan di laksanakan di lapangan Bandarejo di kaki Gunung Sewakul. Di dekat lapangan itu terdapat bekas pabrik tenun milik orang Arab yang kemudian diserahkan untuk difungsikan sebagai markaz Hizbullah. Mereka dipersiapkan agar bisa mempertahankan wilayah jika sewaktu-waktu serangan musuh datang kembali.

Penumpasan PKI Madiun

Tahun 1948 menjadi ujian yang berat bagi bangsa Indonesia. Sejak dicetuskannya Negara Komunis (Negara Republik Indonesia Sovyet) di Madiun pada 18 September tahun itu, umat Islam sering mendapatkan berbagai gangguan dari kalangan komunis. Sejumlah pesantren di serang berikut ulama’ dan santri menjadi korban kebiadaban mereka. Setiap saat dalam gerakan-gerakan yang dilakukan kalangan komunis ini sering meneriakkan yel-yel “Pesantren Ambruk”, “Masjid Bangkrut”, dan “Santri dikubur”.[20] Di sini jelas bahwa permusuhan tersebut diantaranya ditujukan kepada umat Islam.
Aksi-aksi pembunuhan mewarnai hari-hari PKI. K.H. Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari dibantai dengan cara yang sangat kejam beserta dua orang putranya, Kiai Zubair dan Kiai Bawani, ketika sedang mengumandangkan adzan. Ketiganya di kubur di sebuah sumur tua di Desa Kepuh Rejo. Camat Takeran Prijo Utomo dijagal di sumur Cigrok bersama komandan polisi Takeran Martowidjojo beserta anak buahnya. Semua ini hanya sebagian kecil dari korban kebiadaban PKI, termasuk pembunuhan terhadap Gubernur Jawa Timur, RM. Suryo dan pembakaran Kampung Kauman di Magetan pada 24 September 1948.[21] Lubang-lubang pembantaian bisa ditemukan di Parang, Soco, Cigrok, Batokan., Nglopang, dan lain sebagainya.

Bersama TNI Divisi Siliwangi, Barisan Hizbullah mengadakan serangan serentak ke Madiun melalui Gunung Lawu. Di Magetan, pasukan yang dipimpin Mayor Umar Wirahadikusumah melakukan pembersihan terhadap elemen-elemen yang terlibat gerakan makar. Aksi ini berlanjut pada penumpasan pemberontak yang berada di Madiun.[22] Pada 30 September 1948, TNI berhasil memasuki Madiun dan tokoh-tokoh PKI meninggalkan kota tersebut. Hari itu juga Presiden Soekarno memerintahkan agar daerah Madiun, Pati, Semarang, dan Solo berada di bawah kekuasaan Gubernur Militer yaitu Kolonel Gatot Subroto. Dengan demikian pemberontakan PKI Madiun hanya berumur 11 hari.[23] Peristiwa ini diakhiri dengan kematian Muso dan penangkapan Amir Syarifuddin dalam keadaan memeluk kitab bible.[24]

Dalam penumpasan pemberontakan di Madiun ini, banyak anggota Barisan Hizbullah yang gugur dan menjadi tawanan PKI. Nasib akhir menjadi tawanan pihak komunis tetap sama, yaitu mati. Sebelum dibunuh mereka dianiaya sedemikian rupa melebihi batas kemanusiaan. Demikian juga banyak anggota Masyumi yang dibantai setelah sebelumnya mereka dimasukkan dalam black-list. Barisan Hizbullah,, baik yang sudah bergabung menjadi anggota TNI maupun yang masih berada di luar, memiliki peran cukup penting dalam penumpasan pemberontakan yang dikenail dengan sebutan Madiun Affairs tersebut.

PENUTUP

Demikian, sebuah kenangan dari masa lalu. Kilas balik sejarah yang mestinya membuat masyarakat Indonesia lebih arif. Tidak semuanya dapat dikisahkan, namun sebagian kecil bisa dicatat tentang eksistensi Barisan Hizbullah, laskar Masyumi yang ditakuti oleh Belanda maupun sekutu. Namanya memang jarang bisa ditemui dalam buku-buku pelajaran sejarah bangsa kita. Meskipun, mereka terlibat dalam berbagai front demi membela agama, bangsa dan tanah air. Tugas generasi hari ini untuk mengingat jasa-jasa mereka, ketika sebagian orang justru ingin mengubur dan melupakan “kebaikan” masa lalu bersama jasad-jasad para pejuang. []


Ditulis oleh : Susiyanto, M.Ag
– Dosen FAI Universitas Islam Sultan Agung (Unissula),
dipublikasikan pertama di jejakislam.net


Catatan kaki:
[1] Lihat: A. Eryono, et all (ed.), Memoar Perjuangan Menegakkan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945,Yogyakarta: Yayasan Wiratama 45, 1985, p. 50-51
[2] Lihat: Japan Mengantjam Akan Oesir Bangsa Olanda dari Indonesia, dalam “Berita Nahdlatoel Oelama’” No. 9 dan 10 Tahun 7/ 1-15 Maret 1938, p. 34; A. Eryono, et all (ed.), Memoar Perjuangan …, p. 50
[3] Soepanto (ed.), Hizbullah Surakarta 1945-1950, Karanganyar: UMS, tth, p. 7; Lihat juga: Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugraha Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid IV, Edisi IV, Jakarta: Balai Pustaka, 1984, p. 31-32
[4] Lihat artikel: Barisan Hizboe’llah, dalam Majalah Soeara Moeslimin Indonesia No.23-24 Tahun II – 15 Desember 2604 (1944), p. 25
[5] Soepanto (ed.), Hizbullah Surakarta …, p. 8
[6] Lihat daftar nama perintis Hizbullah Surakarta: Soepanto (ed.), Hizbullah Surakarta …, p. 20
[7] Kuntowidjoyo, Raja Priyayi Dan Kawula Surakarta 1900-1915, Yogyakarta: Ombak, 2004, p. 38-39.
[8] Beliau menjadi pengasuh Pondok Pesantren Jamsaren, Surakarta mulai sekitar tahun 1963.
[9] Ali Darokah, Pondok Pesantren Jamsaren Solo dalam Historis dan Esensinya, Surakarta: Ramadhani, 1983, p. 5
[10] Lihat: Samboetan terhadap Barisan “Hizboellah dari Bekas Pemoeka-pemoeka Lasjkar P.A.I., dalam Majalah Soeara Moeslimin Indonesia No. 2 Th. 3/ 15 Januari 2605 (1945M), p. 11
[11] Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugraha Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid IV, … p. 112
[12] Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugraha Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid IV, … p. 115; Soepanto (ed.), Hizbullah Surakarta …, p. 46; A. Eryono, et all (ed.), Memoar Perjuangan …, p. 112
[13] Marwati Djoenoed Poesponegoro dan Nugraha Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid IV, … p. 116
[14] Lihat: Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto, Kakawin Bharata-Yuddha, Jakarta: Bhratara. 1968, p. 27
[15] A. Eryono, et all (ed.), Memoar Perjuangan …, p. 150
[16] Lihat: Hikmat Perang Supit Urang, dalam R. Harjowirogo, Sedjarah Wajang Purwa, Jakarta: Balai Pustaka, 1952, p. 150
[17] Soepanto (ed.), Hizbullah Surakarta …, p. 45
[18] Soepanto (ed.), Hizbullah Surakarta …, p. 73, 78-79
[19] Soepanto (ed.), Hizbullah Surakarta …, p. 80
[20] Soepanto (ed.), Hizbullah Surakarta …, p. 166
[21] Untuk membaca kisah-kisah pembantaian yang dilakukan oleh PKI bisa membaca: Maksum, et all (Tim Jawa Pos), Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun, Jakarta: Grafiti, 1990.
[22] Maksum, et all (Tim Jawa Pos), Lubang-lubang Pembantaian …, p. 137-142
[23] Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai: G 30 S/ PKI dan Peran Bung Karno, Jakarta: CV. Sri Murni, 1988, p. 41-42
[24] Lihat: Maksum, et all (Tim Jawa Pos), Lubang-lubang Pembantaian …, p. 170

“Londo Ireng”: Dalam Setiap Perjuangan Selalu Ada Pengkhianat

View Article

Dalam setiap penjajahan selalu ada dari orang-orang bumi putera yang membantu dan melayani sang penjajah, termasuk di Indonesia. Tidak mungkin Belanda negara yang begitu kecil dan sedikit penduduknya bisa menjajah Indonesia ratusan tahun, tanpa bantuan pribumi. Termasuk pasukan Militernya seperti KNIL, banyak menggunakan orang-orang Indonesia sendiri yang menjadi anggotanya dan siap bertempur melawan saudaranya sendiri. Pertanyaannya adalah mengapa bisa sampai sedemikian hebatnya sang penjajah menggunakan tenaga manusia yang berasal dari negara jajahannya sendiri.?
                                                                               
KNIL  Singkatan dari Koninklijk Nederlands Indische Leger adalah tentara kerajaan Hindia Belanda yang melayani dan membantu Pemerintahan Hindia Belanda. Walaupun demikian banyak anggota-anggota nya bumi putra bukan orang-orang belanda. Tahun 1936 jumlah pribumi yang menjadi tentara KNIL mencapai 33 ribu orang atau sekitar 77%. Tentu tidak mudah begitu saja diterima sebagai tentara KNIL karena akan ditugaskan berperang melawan saudara sebangsanya sendiri. Karena itulah harus melalui proses cuci otak dan seleksi yang ketat, agar tidak terjadi senjata makan tuan.

Rupanya perkembangan zaman tidak membuat paradigma KNIL ini menjadi lapuk. Bahkan sekarang ini kita dapatkan orang berlomba-lomba untuk menjadi “Neo KNIL” dengan iming-iming materi, gengsi dan kehormatan, mereka yang hari ini mentalitasnya Budak Penjajah justru merasa bangga menjadi “Londo Ireng” (Belanda Hitam). Di Negeri yang budaya feodalis belum hilang seperti ini, atribut materi, pangkat, jabatan dan kedudukan menjadi supermasi. Jangan heran kalau para budak penjajah menempati kedudukan yang terhormat ditengah-tengah masyarakat feodal seperti ini.

Untuk itu marilah kita lihat seperti apa mentalitas Neo KNIL itu sekarang.. :

1.Inferior

Diantara mental seorang budak yang paling menonjol adalah mental Rendah Diri. Merasa tidak punya apa-apa, tidak bisa apa, tidak bisa berdiri dikaki sendiri, merasa belum siap untuk merdeka, hanya dengan bantuan majikan merasa bisa hidup. Maka penghormatan kepada majikan kaum imperialis sangat berlebihan semantara melihat bangsanya sendiri penuh dengan kehinaan.

Indikator yang paling mencolok adalah ketidak mampuan mereka melihat kejahatan majikan yang sedemikian jelasnya,  sehingga tidak bisa mengkritisi majikan, mungkin karena sudah banyak diberikan roti dan keju. Sementara terhadap saudara sebangsanya sendiri sangat sinis, terutama kepada para pejuang yang ingin memerdekakan bangsa ini dari berbagai bentuk penjajahan.

Indikator lainnya adalah pembelaan kepada sang Majikan kaum Imprialis sangat berlebihan dan over acting seperti orang yang sedang mencari muka. Padahal roti dan keju yang diberikan oleh majikan adalaha hasil rampasan dari berbagai kekayaan Negara si Jongos tersebut. Tapi yang namanya sudah mental Budak tidak mau tahu, yang penting perut kenyang bantuan dari majikan.

Kita juga menyaksikan apabila si jongos ketemu dengan si Majikan bahasa tubuhnya tidak bisa disembunyikan, terlihat dengan jelas mental jongosnya, dengan membungkukkan badannya, sambil tangannya memegang bagian bawah dekat kemaluanya. Saat terjadi dialog maka satu kata yang haram keluar dari mulut si Jongos tadi adalah kata “Tidak”. Apa saja yang diinginkan oleh simajikan harus dijawab dengan “Inggiih”

2. Shock Culture

Sifat Inferior membawa dampak seseorang menjadi sering norak atau katro. Melihat kemajuan material, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di kecuali harus ikut apa majikan kalau mau maju. Saat itulah otak menjadi beku, kreatifitas mandeg, yang ada Cuma copy paste, ikut, nurut, nunut, manut, ngekor, ngintil, jiplak, ngepek seperti kerbau yang Negara-negara imperialis semakin merasa tidak berdaya lagi. Seolah tidak ada pilihan lain sudah cicocor hidungnya, ditarik kemana saja mau ikut.

Menjadi tolak ukur kemajuan kalau dalam kesehariannya jika sudah bisa mengikuti pola dan gaya hidup barat. Juga menjadi naik status sosialnya jika bisa menyelenggarakan berbagai event, termasuk pesta perkawinan dan seremonial laiinya dengan “Gaya Londo”. Kalau perlu anak dijadikan obyek untuk meningkatkan status social orang tuanya melalui pesta pernikahan tersebut. Belum lagi hari-hari yang dianggap besar, seperti tahun baru, valentine day, april mop dan pesta-pesta lainnya, maka berlomba-lombalah si Belanda  Hitam untuk memamerkan atraksi ke”Norak”annya dengan sangat PD nya.

Semakin norak lagi dengan bangganya memamerkan hasil fikirannya yang tidak lain Cuma hasil jiplakan punya majikannya, tetapi merasa hasil karyanya sendiri. Memang diantara ciri khas budak ialah tidak merasa bahwa dirinya sedang diperbudak. Dengan bangganya mengabdi pada majikan yang dianggap punya jasa besar terhadap dirinya.

3. Komprador Volunteer

Ketika noraknya sudah sedemikian rupa, sampai ia siap menjadi tenaga sukarelawan untuk mempromosikan barang dagangan majikannya. Mulai dari gaya hidup, budaya, seni, makanan, minuman, pakaian, assesoris, symbol, lambing atribut dan sebagainya. Dengan media informasi yang dimiliki majikannya, menjadi laris manis dagangan yang dijualnya. Jadilah bangsa ini menjadi sangat konsumeris dan pengimpor besar barang-barang asing.

Rupiah terus anjlog terutama terhadap mata uang Negara-negara Imperialis. Ekonomi tidak stabil, inflasi semakin tinggi. Pengangguran semakin banyak. Produk asing semakin tidak terbendung, mulai dari teknologi tinggi sampai tusuk gigi. Negara ini   isinya 2/3 lautan tapi garam bisa import dan tidak merasa malu. Tempe tahu kecap makanan rakyat, tapi 80% kedelenya Impor.

Mereka-mereka yang berhasil mengimpor produk-produk asing terutama seni dan budaya, bisa bertengger di papan atas, seperti pahlawan lagaknya, karena berhasil mempekenalkan budaya asing ke tengah-tengah anak bangsa ini. Sementara milyaran uang terus terkuras keluar, karena kesukaannya terhadap produk-produk asing. Sementara kerusakan moral akibat dari budaya Import tersebut sudah sedemikian besar, tidak bisa dihitung lagi dampak kerugiannya.

Diantara ciri seni dan budaya Negara-negara Imprialis adalah Kebebasan berekspresi kebinatangan atau mengumbar syahwat. Atas nama Hak Asasi dan Kebebasan, ekspresi mereka tidak bisa dilarang. Karena nanti akan dituduh Anti HAM dan akan diadukan kemajikannya. Sekarang ini organisasi atau club-club yang menjadi kaki tangan Imprialis berada di papan atas. Dengan pongah, sombong serta bangganya mereka terus menjajakan barang dagangan milik majikannya ke tengah-tengah masyarakat pribumil.

Sementara mereka yang mempertahankan kedaulatan Negara, menjaga rupiah jangan sampai anjlog, menjaga budaya bangsa agar jangan sampai dirusak, mengingatkan anak bangsa agar mencintai produk dalam negeri, akan dicap sebagai orang yang menghalangi kebebasan berekpresi, tidak mengerti HAM dan sebagainya. Ribuan orang pribumi tewas mereka akan seperti orang buta, gagu dan budge, tidak bisa bicara. Tetapi andai satu orang bule saja mati, maka geger dunia seperti kebakaran jenggot, media gempar, rame-rame si jongos Impralis itu juga ikut teriak-teriak, sambil menyalahkan saudaranya sendiri sesama pribumi.

4. Raja Tega

Seorang tentara KNIL dilatih, dididik, serta dicuci otaknya agar siap berperang melawan pribumi atau saudaranya sendiri. Maka dimasukan resep PIL yang bernama “Si Raja Tega”. Dengan demikian dia tidak akan ragu-ragu lagi siap bertempur untuk mengganyang saudaranya sendiri. Orang belanda menyebut panggilan pribumi yang berani melawan dengan Istilah Extrimist. Orang yang sudah otaknya tercuci maka dia tidak punya beban apapun ketika harus membantu majikan si Imperialis dalam memberangus para pejuang kemerdekaan. Roti dan keju yang telah membutakan hati si jongos tadi, sehingga tidak lagi terfikir bagaimana Negara yang semakin hancur lebur ini.

Sementara sekarang Neo KNIL sudah berada di zaman modern yang serba tehnologi. Bukan hanya cuci baju saja yang bisa pakai mesin otomatis, tetapi cuci otak juga sudah bisa secara otomatis. Dengan sarana dan fasilitas pengumbar nafsu syahawat yang semakin mudah, murah dan dekat terjangkau, terjadilah proses cuci otak melalui “CANDUisasi” dengan “PIL Syahwat” yang semakin lama semakin tinggi dosisnya sampai dalam keadaan SAKAU yang terus menerus, tidak bisa dihentikan.

Dalam keadaan SAKAU yang terus menerus, maka setiap orang yang memberikan Pil Candu tersebut akan diangkat sebagai majikan, sebaliknya siapa saja yang mencoba menghentikan akan dianggap sebagai lawan. Disitulah proses cuci otak terjadi. Hak Asasi diartikan kebebasan mengumbar Nafsu Syahwat, sementara melarangnya berarti menentang HAM, akan siap berhadapan dengan majikannya.

Secara otomatis otak sudah tercuci, “kawan dan lawan” diukur siapa yang memberikan candu dan siapa yang melarang. Bagi yang memberi itu kawan dan yang melarang itu lawan. Dalam keadaan SAKAU pula orang bisa nekat yang penting bisa mendapatkan candu. Saat itulah seseorang bisa jadi raja tega karena sudah hilang akal sehatnya dan sudah putus urat malunya.

Seorang yang ingin mempertahankan kedaulatan negaranya, menjaga kehormatan dan harga diri bangsanya, mengajak untuk bisa berdiri sendiri, akan sangat bertentangan dengan keinginan Negara-negara Imperialis yang menjadi majikan Neo KNIL tersebut. Mereka menginginkan Negara jajahan terus berada dalam keadaan ketergantungan yang terus-menerus, sehingga mudah dikendalikan.

Saat itulah dua kepentingan bertemu. Si Majikan bagaimana bisa terus menjajah, si Neo KNIL  yang sudah SAKAU berkeinginan bagaimana roti dan keju plus candu syahawat tadi tidak boleh putus. Ketika Negara berdaulat, kehormatan dan harga diri terjaga disitulah nafsu liar yang akan merusak negara sangat dibatasi, sehingga si Jongos tadi merasa terancam kepentingannya. [islamedia/berdakwah]


Penulis:
Abdullah Muadz ( Bang Uwo )
1.Ketua Umum Assyifa Al-Khoeriyyah Subang
2.Pembina Pesantren  Ma’rifatussalaam  Kalijati subang
3.Pendiri, Trainer & Presenter di “Nasteco”
4.Pendiri dan Trapis Islamic Healing Cantre
5.Pendiri LPPD Khairu Ummah Jakarta 

#TolakKumparanPKI Jadi Trending Topic di Twitter, Ini Sebabnya

View Article

Jagat Twitter diramaikan dengan tagar baru malam ini yang segera menjadi trending topic. #tolakkumparanPKI, demikian ia berada di peringkat kedua teratas.

Mengapa media itu dikaitkan dengan PKI? Ternyata Kumparan.com baru saja menempatkan foto DN Aidit sebagai tokoh muda menjelang proklamasi, bersama Chaerul Saleh, Sukarni dan Wikana.

Yang lebih keras diprotes netizen, di akun Twitternya, Kumparan.com menuliskan kata-kata yang dinilai menggiring opini menjadikan DN Aidit sebagai pahlawan idola.

“Apa yang ingin kamu sampaikan ke pahlawan idolamu? Yuk, bagikan ceritamu di ReadersTask @kumparan! #Momentum72,” tulis akun @kumparan sembari membagikan link dan foto DN Aidit tersebut.

Protes keras dari warganet pun mengalir di Twitter.

“Sikap @kumparan dengan sengaja menempatkan foto DN Aidit adalah upaya penggiringan opini yang biasa dilakukan kaum kiri #TolakKumparanPKI,” tulis akun @Ronin1948.

“DN Aidit itu pahlawan macam apa coba? upaya kumparan menggiring opini yang biasa dilakukan kaum komunis,” kata @arum7news.

“Ini sudah rancangan PKI melalui media @kumparan #tolakkumparanPKI,” kata @arifrahmansati.

“Bangsa ini tengah rayakan hari Ke- #merdeka -an RI Ke-72, kumparan asik bangun opini DN Aidit sebagai pahlawan negeri ini. #TolakKumparanPKI,” kata @jelata_news.

Saat ini, twit Kumparan tersebut sudah dihapus. Namun, banyak pengguna Twitter yang telah men-screenshoot twit kontroversial itu.

“Silahkan @kumparan hapus jejak digital penggiringan opini menempatkan DN Aidit sebagai pahlawan. Kami tetap #TolakKumparanPKI,” kata @Ronin1948. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Begini Cara Presiden Soekarno Berterima Kasih kepada Hasan Al Banna

View Article

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran Ikhwanul Muslimin. Gerakan Islam yang didirikan dan dipimpin oleh Hasan Al Banna itulah yang mendorong Mesir serta menggalang dukungan negara Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.

Seperti diketahui, pengakuan dari negara lain merupakan syarat penting berdirinya sebuah negara. Dengan izin Allah, upaya Ikhwanul Muslimin berhasil. Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Palestina dan negara-negara Arab kemudian juga mengakui kemerdekaan Indonesia.

Atas peran Ikhwanul Muslimin itu, Presiden Soekarno punya cara khusus untuk berterima kasih kepada Hasan Al Banna. Ustadz Abdul Somad menjelaskannya dalam sebuah ceramah sebagai berikut:

Secara resmi, Presiden Soekarno mengutus Sutan Sjahrir ke negeri 1000 menara, Mesir. Didampingi oleh Mr Nasir Pamuncak. Menjumpai seorang ulama yang berakhir dengan mati syahid bernama Imam Syahid Hasan Al Banna.

Dalam rangka apa? Mengucapkan terima kasih kepada Hasan Al Banna atas motivasi, kontribusi, dorongan karena merekalah yang mendorong kita untuk mengatakan “kami merdeka atas penjajahan Belanda” 

Hari ini apa yang terjadi? Hasan Al Banna dicap sebagai teroris. Hasan Al Banna pendiri Ikhwanul Muslimin dikatakan sebagai ekstremis. 

Anak-anak kita yang tidak mengerti sejarah, ternyata Hasan Al Banna teroris, ternyata Ikhwanul Muslim masuk ekstremis.

Maka bacakan sejarah itu ke anak-anak kita. Bacakan sejarah itu ke cucu kita. Bahwa Presiden Soekarno mengutus Sutan Sjahrir mengucapkan terima kasih langsung ke kantor Hasan Al Banna di Kairo. Gambar masih tertulis dengan tinta emas di museum kebangsaan kita bahwa kita pernah berterima kasih kepada lembaga yang kini dikatakan sebagai lembaga teroris hanya karena ingin menegakkan Laa ilaaha illallah, Muhamadan rasulullah. 

Sejarah, siapa yang menulis sejarah, maka perampok akan dikatakan sebagai pahlawan dan pahlawan akan dikatakan sebagai penjahat. Tergantung siapa yang menulis sejarah. Sampaikan sejarah kebenaran ini.

Al Imam Muhammad Husain, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang mengucapkan selamat kepada Presiden Soekarno. “Saya sebagai seorang mufti, ulama besar Palestina, mengucapkan selamat atas kemerdekaan bangsa Indonesia.”

Secara institusi, negara yang pertama mengakui kemerdekaan kita adalah Mesir yang disampaikan oleh Gamal Abdul Naser tapi secara personal, bukan institusi negara, dia adalah Mufti Palestina. Negara yang saat ini dijajah oleh Israel laknatullah ‘alaihim. [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]

Denny Siregar Bingung Bagaimana Agar Terkenal, Akhirnya Komentari Rasis Paskibra Bercadar

View Article

Denny Siregar yang terkenal dengan pembelaannya kepada Ahok kembali memancing kecaman netizen muslim. Pasalnya, penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi itu mengunggah foto paskibra bercadar disertai tulisan yang dinilai rasis.

“Upacara kemerdekaan di Istana ditaburi pakaian adat dari segala macam suku dan daerah... Nah, coba tebak.. kalau ini pakaian adat daerah manaaa?,” tulisnya melalui akun fan page Denny Siregar, Kami (17/8/2017).

Tulisan tersebut dinilai rasis oleh banyak netizen muslim. Pasalnya, tidak ada larangan muslimah bercadar ikut upacara dan menjadi Paskibra.

“Ini orang Rasis. Ngakunya (termasuk pendukungnya), paling toleran. Ternyata hal seperti ini saja, sudah menunjukan ia Rasis! Atau jangan2 tak pernah ikut upacara 17 Agustus. Sehingga tak tahu beda anggota Paskibra dengan peserta upacara?” kata Muhammad Fadri AR melalui akun Facebook pribadinya.



“Sebagai Purna Paskibra (sekalipun tingkat kota), setahu saya tidak pernah ada sejarah 17 Agustus menggunakan pakaian daerah bagi Anggota Paski (Coba tanya : Ukhti Bita Greina Melani (Nasional), dinda Irvan Herman Abdullah(nasional), Harry Setiadi (Provinsi), Alfa Nonie (Prov)).

Paling dari dulu, adalah keinginan yg berhijab utk ikut menjadi anggota Paski dg tetap berhijab syar'i. Mau ikut upacara saja sudah hal luar biasa, apalagi menjadi anggota Paski. Denny ini rasis dan malah tidak menunjukan nasionalis. Ini orang harus minta ma'af sudah menebarkan SARA dan kalau perlu diproses hukum. Ramaikan!!!,” lanjut Fadri.

“Dulu nyibir pakaian bukan asli Indonesia, setelah nunjukin nasionalisme pun tetep dicibir pula, dasar lambe turah,” kata Muhammad Ariefudin mengomentari status Denny Siregar tersebut.

“Setidak nya mereka upacara.. ya kalian belum tentu upacara,” kata J Africo.

“Baguslah.... pake niqab tapi masih cinta NKRI, yang menghina tuh ya..... belajar toleransi beragama dulu apalagi yang posting nih..... provokatif banget ga sesuai sama khotbahnya tentang cinta Indonesia, tentang SARA, gitu koq mau RI maju, ckckck...... jadikan perbedaan sebagai pemersatu,” kata Astri Handayani.

“Katanya bhineka tunggal ika,, tapi giliran ada yg beda langsung dihina... masih mending tu pada upacara, jadi paskibra, hormatin sang saka, nah lu pada ngapain..?? Dasar ahli nyinyir... fake lu pade...” kata Fareed Umarov.

Hasil penelusuran Tarbiyah.net, paskibra bercadar bukanlah hal yang baru. Di tahun-tahun sebelumnya juga sudah ada. Misalnya saat upacara penurunan bendera dalam rangka memperingati HUT RI ke 71 tahun 2016 lalu. Dua di antara Paskibra di Lapangan Sekertariat Daerah (SETDA) Singaparna Kab. Tasikmalaya bercadar.

Pada tahun 2014, juga ada Paskibra bercadar di Tasikmalaya dari lembaga pendidikan yang sama yakni Al Idrisyiah Tasikmalaya. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Rabu, 16 Agustus 2017

Mengapa Jenderal Sudirman Ditembak Tidak Mati? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

View Article

Mengapa Panglima Besar Jenderal Sudirman tidak mati meskipun disiksa dan ditembak Belanda? Ustadz Abdul Somad menjelaskan rahasianya.

“Jenderal Sudirman ditembak Belanda, diserang macam-macam. Ditangkap, disiksa, tidak juga mati. Sehat. Ditandu di dalam hutan. Tengok foto-foto Jenderal Sudirman. Menggigil dalam hutan karena serangan demam malaria, tetap juga tidak mati,” kata Ustadz Abdul Somad.

Orang bertanya, “Jenderal punya jimat, enggak?”

Kata Jenderal Sudirman, “saya punya jimat.”

“Mana jimatnya?”

“Tiga.”

Apa itu jimatnya? Ustadz Abdul Somad menerangkan, pertama, wudhunya tidak putus. Panglima Besar Jenderal Sudirman selalu menjaga wudhu.

Kedua, sholatnya tak pernah ditinggal.

Ketiga, lidahnya senantiasa basah berdzikir.

“Panglima Besar Jenderal Sudirman, orangnya sangat relijius. Itu yang membuat negeri ini merdeka!” tegas Ustadz Abdul Somad.

“Jenderal bintang lima, panglima besar, sholat tak pernah ditinggal, dzikir tidak putus, wudhunya senantiasa suci di hadapan Allah.” [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Nak, Mereka Ingin Umat Islam Terpecah Belah

View Article

Beberapa pemuda datang tergopoh-gopoh menghadap seorang ulama.

“Kyai, ini yang dulu nyinyir saat kita aksi, sekarang mau demo besar-besaran,” kata salah seorang pemuda sembari menunjukkan gambar di tabletnya.

“Tidak. Tidak ada umat Islam yang nyinyir dengan aksi sesama umat Islam. Bahkan saya melihat cabang ormas ini buka posko dan ribuan anggotanya ikut aksi. Kita sama-sama memahami bahwa jika ada kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya, dengan otoritasnya. Jika kita tidak memiliki otoritas, ubah dengan lisan. Nah, aksi itu bagian dari taghyir bil lisan,” jawab Kyai dengan tenang.

“Tapi ini juga ada demonya pakai kata “bunuh” padahal dulu menuduh kita radikal dan lain-lain,” kata pemuda yang lain.

“Mengendalikan massa itu bukan pekerjaan mudah. Apalagi sering kali ada provokator yang mencoba menyusup.”

“Nah, itu Kyai. Berarti aksi kita dulu benar-benar luar biasa. Kita bisa angkat lagi ini agar masyarakat tahu kalau aksi kita itu paling damai dan tertib,” sergah pemuda itu.

“Allah tidak menyukai orang yang ujub. Lebih-lebih takabur. Apalagi kalau dicampur dengan tendensi menjatuhkan sesama muslim. Kita telah beramal dan Allah telah melihat amal kita. Lagi pula, dulu kan sudah sangat banyak berita yang mengapresiasi. Tidak perlu diungkit-ungkit lagi yang akan membuat musuh Islam senang.”

“Lho, musuh Islam senang, bagaimana Kyai?”

“Ketahuilah, mereka ingin melihat umat Islam terpecah belah. Bahkan mengupayakan itu. Mereka sangat takut jika umat Islam bersatu. Sebab kalau umat Islam sudah bersatu, Allah akan memberikan kekuatan yang tak terbendung pada umat ini. Karena itu, mereka selalu mencari celah agar umat Islam terus bermusuhan. Di antaranya dengan memprovokasi, ngipas-ngipasi, agar sesama umat Islam terus bertengkar.

Sering kali mereka juga memakai politik belah bambu. Sebagian kelompok umat Islam diangkat, sebagian kelompok umat Islam diinjak. Lalu sesama umat Islam saling iri, saling bermusuhan. Kadang mereka juga mencari-cari lalu menunjukkan kekurangan sebagian kelompok umat Islam agar sebagian kelompok umat Islam yang lain mencibir dan menyalahkannya. Lain waktu di balik, kelompok yang tadinya mencibir, gantian dicari-cari kelemahannya. Akhirnya umat Islam disibukkan dengan saling menjatuhkan.”

Pemuda-pemuda itu mulai manggut-manggut.

“Momen yang paling kritis biasanya saat seperti ini. Saat kita merasa mendapat kesempatan untuk menjatuhkan saudara kita. Kita menganggap saudara kita kompetitor. Kita merasa kalau saudara kita jatuh, kita akan menang. Padahal sesungguhnya kita kalah! Kalau kita bisa bersatu, kekuatan umat Islam 100%. Kalau kita menjatuhkan saudara kita di saat seperti ini, kekuatan umat Islam tinggal 50%, lebih mudah dihancurkan oleh mereka. Maka kita harus bersatu. Sesama umat Islam itu, harus bersinergi dalam hal-hal yang disepakati dan kita saling bertoleransi dalam hal-hal yang diperselisihkan terutama masalah khilafiyah. Di saat seperti ini, minimal kita diam. Jangan ikut ngipas-ngipasi karena itu yang diharapkan oleh musuh Islam. Kita ngipasi, saudara kita emosi, kita sendiri juga emosi, saling bermusuhan. Umat Islam hilang kekuatan. Jaga persatuan. Jaga persatuan. Insya Allah rahmat Allah akan datang.” [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]


Dialog imajiner untuk memahami konspirasi musuh Islam mencerai beraikan barisan umat Islam

Soal Demo Teriak “Bunuh Menteri”, Ini Sikap Istana

View Article

Meskipun banyak pihak mengatakan hoax, Istana menegaskan teriakan “bunuh menteri” saat demo di Jawa Timur terkait penolakan kebijakan program sekolah lima hari benar-benar terjadi. Istana pun akan mengambil sikap dengan menyerahkan kasus tersebut ke aparat.

“Sekarang ini kan semua orang mengatakan bahwa itu palsu, itu hoax, padahal kenyataannya kan ada. Dengan demikian, nanti aparat yang akan menelusuri itu,” Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (15/8/2017), seperti dikutip Republika.

Pramono menduga ada provokator sehingga para demonstran yang tak lain adalah pelajar meneriakkan ujaran kebencian tersebut.

Pramono mengimbau, masyarakat harus turut memberikan pendidikan kepada generasi muda untuk tidak menyebarkan ujaran kebencian dan tindakan yang berlebihan.

Sebelumnya, beredar video unjuk rasa menolak kebijakan program sekolah lima hari. Yang membuat miris, dalam unjuk rasa yang disebut-sebut terjadi di Lumajang Jawa Timur itu, sejumlah santri meneriakkan yel-yel “bun*h, bun*h, bun*h menterinya, bun*h menterinya sekarang juga.” Tak hanya sekali, yel-yel itu diteriakkan beberapa kali.

Meluruskan Sejarah: Pattimura Seorang Muslim, Bukan Pemeluk Kristen

View Article

Sejarah perlu kita luruskan kembali, agar anak cucu tidak semakin dibodohi oleh penulis-penulis yang punya maksud tersembunyi. Siapa yang tak kenal Kapitan Pattimura? Pahlawan Nasional yang gambarnya tertera di uang kertas Rp. 1000 keluaran tahun 2000. Perjuangannya dalan mengusir penjajah belanda di maluku sudah tidak diragukan lagi. namun yang menjadi masalah adalah agama yang dianutnya. Apakah ia beragama kristen atau Islam?

Foto ini diperoleh dari Museum Angkatan Laut di Prince Hendrik Kade, Rotterdam, Belanda, hasil lukisan komandan marinir Belanda, Q.M.R.Verhuell, yang menumpas pemberontakan Ahmad Lussy pada 1871. Verhuell melukis beliau saat membuat berita acara pemeriksaannya.

Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi dia lebih dikenal dengan Thomas Mattulessy yang identik Kristen. Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minor atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan/atau Indonesia umumnya.

Nunu oli Nunu seli Nunu karipatu Patue karinunu

Terjemahannya : “Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya. (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya”.

Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Kapitan Ahmad Lussy atau dikenal dengan sebutan Pattimura, pahlawan dari Maluku. Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya. Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Ahmad Lussy seorang Mujahidin yang berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut. Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Ahmad Lussy juga tampak optimis.

(Buku Sejarah Kapitan Paitimura : M Sapija)


Ada Beberapa Catatan sejarah tentang Dari Pattimura selain M. Nour Tawainella dalam bukunya “Menggali sejarah dan kearifan lokal Maluku“ :

  1. “Verhuel Herinneringen van een reis naar Oost Indien” (1835-1836),
  2. J.B. Van Doren (1857), “Thomas Matulesia, Het Hoofd Der Opstandelingen Van Het Eiland Honimoa”,
  3. P.H. van der Kemp (1911), “Het herstel van het Nederlandsche gezag in de Molukken in 1817″,
  4. M. Sapija (1954), Sejarah Perjuangan Pattimura”,  Penerbit Djambatan,
  5. Ben van Kaam (1977), “Ambon door de eeuwen”,

Namun keberanian dan patriotisme Pattimura itu terdistorsi oleh penulisan sejarah. Baik dari pemerintah belanda maupun versi M Sapija, sejarawan Indonesia yang pertama kali menulis buku tentang Pattimura (Baca pendapat M Sapija sumber wikipedia : Pattimura), mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan :

“Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”.

Namun menurut M. Nour Tawainella, juga seorang sejarawan (Baca : Kredibilitas beliau), penafsiran Sapija itu tidak pas karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya zaman itu.

Di bagian lain, Sapija menafsirkan, “Selamat tinggal saudara-saudara”, atau “Selamat tinggal tuang-tuang”. Inipun disanggah Tawainella. Sebab, ucapan seperti itu bukanlah tipikal Pattimura yang patriotik dan optimis. Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.

Kapitan Patimura adalah Muslim Taat

Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.

Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy. Dan Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku. []

Selasa, 15 Agustus 2017

Bagaimana Hukumnya Pria dan Wanita yang Bertato?

View Article

Bagaimanakah hukum pria dan wanita yang bertato atau memiliki tato? Yang jelas, tato biasanya kita temui pada laki-laki. Namun itu pun suatu yang terlarang. Dalam hadits sendiri yang terlaknat adalah para perempuan yang bertato. Adapun makna laknat adalah jauh dari rahmat Allah.

Dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ ، وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ

“Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut, perempuan yang meminta disambungkan rambutnya, begitu pula perempuan yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato.” (HR. Bukhari no. 5933, 5937 dan Muslim no. 2124).

Perbuatan mentato adalah perbuatan yang haram, sebagaimana dalam sebuah hadits:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَثَمَنِ الدَّمِ وَنَهَى عَنْ الْوَاشِمَةِ وَالْمَوْشُومَةِ وَآكِلِ الرِّبَا وَمُوكِلِهِ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرَ

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli anjing dan jual beli darah , dan melarang orang yang mentato dan yang ditato dan pemakan riba, serta melaknat orang yang menggambar.” (HR. Al-Bukhary)

Oleh karenanya, barangsiapa yang melakukannya karena tidak tahu keharamannya atau ditato oleh orang lain ketika kecilnya, maka setelah dia tahu keharamannya hendaklah dia berusaha untuk menghilangkannya kalau itu mudah dan tidak ada mudharat. Akan tetapi kalau susah sekali menghilangkannya atau ada mudharatnya maka cukup baginya untuk bertaubat dan beristighfar. (difatwakan oleh Syeikh Bin Baz dalam Majmu’ Fatawa jilid 10 hal. 43)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ. قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ امْرَأَةً مِنْ بَنِى أَسَدٍ يُقَالُ لَهَا أُمُّ يَعْقُوبَ وَكَانَتْ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَأَتَتْهُ فَقَالَتْ مَا حَدِيثٌ بَلَغَنِى عَنْكَ أَنَّكَ لَعَنْتَ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَمَا لِىَ لاَ أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ لَوْحَىِ الْمُصْحَفِ فَمَا وَجَدْتُهُ. فَقَالَ لَئِنْ كُنْتِ قَرَأْتِيهِ لَقَدْ وَجَدْتِيهِ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا)

“Allah melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang menghilangkan bulu di wajahnya dan yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah.”

Hal ini pun sampai pada telinga seorang wanita dari Bani Asad yang dipanggil Ummu Ya’qub, ia biasa membaca Al Qur’an. Ia pun mendatangi Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Ada hadits yang telah sampai padaku darimu bahwasanya engkau melaknat perempuan yang menato dan yang meminta ditato, yang meminta dihilangkan bulu di wajahnya, yang merenggangkan giginya supaya terlihat cantik, juga perempuan yang mengubah ciptaan Allah, benarkah?”

Ibnu Mas’ud menjawab, “Kenapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu sudah ada dalam Al Qur’an.”

Wanita tersebut kembali berkata, “Aku telah membaca Al Quran namun aku tidak mendapati tentang hal itu.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Coba engkau baca kembali pasti engkau menemukannya. Allah Ta’ala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Haysr: 7). (HR. Bukhari no. 5943 dan Muslim no. 2125)

Ancaman yang bertato dalam hadits ditujukan pada wanita. Wanita bertato sama saja merendahkan dirinya di mata Allah. Padahal wanita telah diberikan kedudukan yang mulia sebagaimana pria jika mereka beriman. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. ” (QS. An Nahl: 97).

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. []

BacaSebarkan! Gerakan Hapus Tato Gratis, Syaratnya Hafal Surat Ar-Rahman
BacaMenghapus tato dengan 'imbalan' hafalan Al-Qur'an


Referensi:
Kunuz Riyadhis Sholihin, Rois Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdirrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Diselesaikan selepas Zhuhur di Darush Sholihin, 3 Muharram 1436 H
Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc

Artikel: https://rumaysho.com/9272-hukum-tato-pada-wanita.html
Rujukan: https://almanhaj.or.id/1892-hukum-merias-tangan-dan-kaki-hukum-tatto-di-tubuh-dan-hukum-membuat-tatto-sementara.html

Maksud Bid'ah Hasanah, Perkataan Umar bin Khattab dan Imam Syafi'i

View Article

Kata-kata yang sudah sangat masyhur dan telah dianggap berasal dari Umar bin Khottob dan Imam Asy Syafi’i. Sebagaian orang lantas menyangka selama bid’ah itu baik, maka tidaklah masalah diamalkan. Karena bid’ah menurutnya ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada bid’ah yan jelek (bid’ah sayyi’ah). Lantas segala amalan pun yang tanpa tuntunan cuma sekedar dibangun atas landasan niat baik menjadi legal.

Khalifah ‘Umar dan Imam Syafi’i Berbicara Mengenai Bid’ah Hasanah

‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu ketika menghidupkan shalat tarawih secara berjama’ah, beliau berkata,

الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.[1]

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

البدعة بدعتان: بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة، فهو محمود، وما خالف السنة، فهو مذموم

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela”[2]

Memahami Perkataan ‘Umar bin Khottob tentang Shalat Tarawih

Mengenai kisah keluarnya ucapan ‘Umar “sebaik-baik bid’ah adalah ini” dapat kita saksikan pada hadits berikut ini.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ, وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ, فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. قَالَ: ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ, فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ, وَالَّتِي تَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي تَقُومُونَ, يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin Khatthab di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, akan tetapi saat dimana mereka tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat”, maksudnya akhir malam lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam.[3]

Perkataan ‘Umar di atas disikapi oleh Ibnu Rajab dengan pernyataan berikut,

“Adapun perkataan ulama salaf yang menganggap adanya bid’ah yang baik, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah lughowi (bid’ah secara bahasa) dan bukan menurut istilah syar’i. Contoh perkataan yang dimaksud adalah perkataan ‘Umar bin Khottob ketika beliau mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) bersama dengan satu imam di masjid. Lantas ‘Umar keluar dan melihat mereka shalat (dengan satu imam), lalu ia pun berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Diriwayatkan bahwa Ka’ab bin Malik berkata pada ‘Umar, “Ini sebelumnya tidak ada”. “Aku tahu. Akan tetapi perbuatan ini baik (hasan)”, jawab ‘Umar. Yang dimaksudkan oleh ‘Umar bahwa shalat tarawih sebelumnya tidak dilakukan seperti itu sebelumnya. Akan tetapi, ada landasan dalam syari’at mengenai hal ini di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong dan memotivasi untuk melaksanakan qiyam Ramadhan. Dahulu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang melaksanakan shalat tarawih secara jama’ah namun terpisah-pisah atau berkelompok-kelompok. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat di bulan Ramadhan lebih dari semalam. Kemudian beliau enggan melaksanakannya lagi karena khawatir shalat tarawih itu wajib. Beliau pun tidak merutinkannya setelah itu. Namun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kekhawatiran tersebut sudah tidak ada. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan shalat tarawih bersama para sahabatnya di malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari Ramadhan”.[4]

Ibnu Rajab setelah itu mengatakan bahwa shalat tarawih yang dihidupkan kembali oleh ‘Umar tetap sah dan bukan bid’ah karena itu adalah bagian dari sunnah[5] (ajaran) khulafaur rosyidin al mahdiyyin[6] yang kita juga diperintahkan untuk mengikutinya. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Alasan lain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti sunnah (ajaran) khulafaur rosyidin. Bahkan shalat tarawih telah menjadi sunnah (ajaran) khulafaur rosyidin. Manausia di masa ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali juga menghidupkannya secara berjama’ah.”[7]

Dalil bahwasanya kita diperintahkan mengikuti ajaran khulafaur rosyidin,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah dengan ajaranku dan ajaran kholifah yang diberi petunjuk dalam ilmu dan amal, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah (kuat-kuat) dengan gigi geraham kalian”.[8]

Ibnu Taimiyah berkata, “Perlu dipahami bahwa istilah bid’ah hasanah yang disebutkan ‘Umar hanyalah penyebutan bid’ah secara bahasa dan bukan istilah syari’at. Karena bid’ah  secara bahasa berarti setiap perbuatan yang diawali tanpa ada contoh sebelumnya.”[9]

Perkataan bid’ah dengan artian bahasa -yaitu sesuatu yang baru- dikatakan pula oleh anak ‘Umar bin Khottob, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Yang namanya adzan pertama pada shalat Jum’at baru dilakukan di masa ‘Utsman karena kebutuhan manusia akan hal itu. Dan amalan ini diteruskan pula oleh ‘Ali bin Abi Tholib. Namun Ibnu ‘Umar lantas berkata, “Huwa bid’ah (ini adalah bid’ah)”. Ibnu Rajab menerangkan maksud Ibnu ‘Umar, “Sepertinya Ibnu ‘Umar ingin berkata seperti maksud ayahnya dalam masalah qiyam Ramadhan (shalat tarawih).”[10]

Bagaimana bisa hadits dipertentangkan dengan perkataan sahabat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sebagaimana sabdanya,

وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Setiap bid’ah adalah sesat?”[11] Asy Syathibi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah hasanah.”[12] Artinya setiap bid’ah itu tercela, tidak ada yang hasanah.

Lalu bagaimana kita menyikapi perkataan ‘Umar?

Taruhlah kita setuju dengan perkataan ‘Umar bahwa ada bid’ah hasanah karena beliau telah berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Maka cukup disanggah seperti kata Ibnu Taimiyah, “Perkataan sahabat bukanlah argumen. Bagaimana perkataan sahabat bisa sebagai alasan di saat bertentangan dengan sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”[13]

Jika dengan perkataan sahabat saja tidak bisa dipertentangkan dengan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lantas bagaimana lagi dengan perkataan ulama yang berada di bawah sahabat?

Memahami Perkataan Imam Syafi’i

Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam fatawanya menjelaskan maksud perkataan Imam Asy Syafi’i di atas seraya berkata, “Apa saja yang menyelisihi dalil, maka itu adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin. Dan apa yang tidak diketahui menyelisihi dalil, maka tidak disebut bid’ah. Imam Syafi’i rahimahullah menuturkan, “Bid’ah itu ada dua macam, yaitu bid’ah yang menyelisihi Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ dan atsar dari sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bid’ah seperti ini termasuk bid’ah dholalah (sesat). Sedangkan jika tidak menyelisihi dalil-dalil tadi, maka ia termasuk bid’ah hasanah.” Karena  ‘Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Perkataan semacam ini dan semisalnya dikeluarkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih”.[14]

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan maksud perkataan Imam Asy Syafi’i mengenai bid’ah hasanah (mahmudah) dan bid’ah madzmumah, “Yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa bid’ah madzmumah (yang tercela) adalah segala amalan yang tidak ada asalnya dalam syari’at yang mendukungnya. Inilah bid’ah yang dimutlakkan dalam syari’at. Sedangkan bid’ah yang terpuji (bid’ah hasanah, pen) adalah bid’ah yang bersesuaian dengan sunnah (ajaran Rasul), yaitu yang memiliki asal dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pendukung. Namun yang dimaksudkan dengan bid’ah hasanah di sini adalah bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah menurut istilah syar’i karena bid’ah kedua ini bersesuaian dengan ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”[15]

Ibnu Rajab rahimahullah juga menambahkan, “Telah diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i perkataan beliau yang menafsirkan perkataan beliau di atas. Imam Syafi’i berkata,

والمحدثات ضربان : ما أُحدِثَ مما يُخالف كتاباً ، أو سنةً ، أو أثراً ، أو إجماعاً ، فهذه البدعة الضلال ، وما أُحدِث مِنَ الخير ، لا خِلافَ فيه لواحدٍ مِنْ هذا ، وهذه محدثة غيرُ مذمومة

“Perkara yang muhdats (yang baru) itu ada dua macam, yaitu pertaka yang dibuat-buat dan menyelisihi Al Qur’an, As Sunnah, atsar (sahabat) dan ijma’, maka ini termasuk bid’ah dholalah (yang sesat). Sedangkan perkara yang masih dalam kebaikan yang tidak menyelisihi dalil-dalil tadi, maka itu bukanlah perkara baru (bid’ah) yang tercela”.[16]

Intinya di sini, sahabat mulia seperti ‘Umar bin Khottob dan Imam Syafi’i bukanlah orang yang begitu mudahnya melegalkan bid’ah. Dengan perkataan mereka berdua, orang-orang beralasan adanya bid’ah yang hasanah sehingga acara bid’ah maulid, selamatan kematian, yasinan, dan tahlilan sah-sah saja untuk dilegalkan. Karena perbuatan-perbuatan tadi jelas baik menurut mereka. Sebagai penutup, kami ulas sanggahan terakhir berikut ini bagi siapa saja yang beralasan dengan dua orang terkemuka di atas.

Pertama: Secara jelas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat tanpa ada pengecualian. Maka tidak bisa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dipertentangkan dengan perkataan sahabat atau perkataan imam madzhab. Sebagaimana kata Ibnu ‘Abbas dan Mujahid, lalu perkataan ini masyhur diucapkan oleh Imam Malik, juga diucapkan oleh Imam Ahmad,

ليس أحد إلا ويؤخذ من رأيه ويترك ؛ ما خلا النبي

“Pendapat seseorang bisa diambil atau ditinggalkan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Kedua: Jika seseorang merenungkan kembali perkataan Imam Syafi’i, “Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Jika suatu amalan bersesuaian dengan tuntunan Rasul, itu termasuk amalan terpuji. Namun jika menyelisihi tuntunan, itu termasuk amalan tercela”. Maksud beliau di sini adalah jika suatu amalan tidak menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, maka itulah bid’ah hasanah (mahmudah) karena dalam perkataan beliau dikaitkan dengan demikian. Jika tidak demikian maksudnya, apalah gunanya beliau membuatkan kaitan setelah perkataannya. Setiap bid’ah yang menyelisihi syari’at bertentangan dengan ayat yang menyatakan bahwa Islam telah sempurna,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu” (QS. Al Ma’idah: 3). Begitu pula bid’ah yang tercela bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718).

Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap bid’ah bukan wajib dan bukan sunnah, maka ia termasuk bid’ah sayyi’ah dan termasuk bid’ah dholalah (yang menyesatkan) menurut sepakat para ulama. Siapa yang menyatakan bahwa sebagian bid’ah dengan bid’ah hasanah, maka itu jika telah ada dalil syar’i yang mendukungnya yang menyatakan bahwa amalan tersebut sunnah (dianjurkan). Jika bukan wajib dan bukan pula sunnah (anjuran), maka tidak ada seorang ulama pun mengatakan amalan tersebut sebagai hasanah (kebaikan) yang mendekatkan diri kepada Allah.”[17]

Ketiga: Sudah sangat ma’ruf bahwa Imam Syafi’i  adalah orang yang paling semangat dalam ittiba’ atau mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau juga adalah orang yang sangat keras pada orang yang membantah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat saja perkataan beliau pada orang yang menentang ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,

أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ  وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ

“Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?”[18]

Jika Imam Syafi’i bersikap keras dalam hal semacam ini, bagaimana mungkin kita pahami bahwa perkataan beliau berseberangan dengan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Kullu bid’atin dholalah” (setiap bid’ah adalah sesat). Seharusnya kita memposisikan dengan benar perkataan Imam Syafi’I, yaitu kita pahami dengan pemahaman yang tidak bertentangan dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadinya kita pahami bahwa maksud Imam Syafi’i adalah bid’ah secara bahasa. Hal yang membuat kita seharusnya semakin husnuzhon kepada Imam Syafi’i karena beliau pernah mengeluarkan perkataan-perkataan seperti berikut ini,

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ

“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”[19]

كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ

“Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.”[20]

كُلُّ مَا قُلْتُ فَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ   خِلاَفُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيثُ النَّبِيِّ أَوْلىَ فَلاَ تُقَلِّدُونِي

“Semua yang pernah kukatakan jika ternyata berseberangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits Nabi lebih utama untuk diikuti dan janganlah kalian taqlid kepadaku.”[21]

كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي

“Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.”[22]

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ

“Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.”[23]

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.”[24]

Setelah kita mengetahui pernyataan Imam Syafi’i bahwa perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib didahulukan dari ucapan beliau, maka semestinya kita berbaik sangka kepada beliau dengan mendudukkan ucapan beliau mengenai bid’ah tadi sebagai bid’ah secara bahasa, –yaitu setiap hal baru– yang tidak ada kaitannya dengan agama. Dengan demikian, antara ucapan Imam Syafi’i; “Bid’ah mahmudah dan madzmumah” dan sabda Rasulullah; “setiap bid’ah sesat” tidak akan bertabrakan.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.


Catatan kaki:
[1] HR. Bukhari no. 2010.
[2] Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 9: 113.
[3] HR. Malik dalam Al Muwaththa’ bab: Ma jaa-a fi qiyami Ramadhan.
[4] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128.
[5] Sunnah adalah jalan yang ditempuh. Sunnah di sini bukan hanya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, termasuk pula ajaran para kholifah rosyidin berupa i’tiqod, keyakinan, amalan dan perkataan. Inilah pengertian sunnah yang sempurna dan yang dipegang oleh para ulama salaf, mereka tidaklah memaksudkan kecuali demikian. Inilah yang diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri, Al Auza’i dan Al Fudhail bin ‘Iyadh.
Namun kebanyakan ulama belakangan memahami sunnah dengan maksud i’tiqod (keyakinan) karena i’tiqod itulah yang disebut ushulud diin (pokok ajaran Islam). Sehingga yang menyelisihi sunnah ini, ia berarti telah berada dalam bahaya yang besar (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120).
[6] Rusydu adalah mengenal kebenaran dan mengikutinya (mengamalkannya). Ghowi adalah mengenal kebenaran tetapi tidak mengikutinya. Sedangkan dholal adalah tidaklah mengenal dan mengamalkan kebenaran. Setiap orang yang rosyid, maka dia disebut muhtad (mendapat petunjuk). Setiap yang mendapati petunjuk secara sempurna dialah rosyid. Yang namanya hidayah adalah dengan mengenal dan mengamalkan kebenaran sekaligus (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 126).
[7] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 129.
[8] HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shahih. Begitu pula hal yang sama dinyatakan oleh Syaikh Al Albani.
[9] Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 1: 95.
[10] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 129.
[11] HR. Muslim no. 867, Abu Daud no. 4607, An Nasai no. 1578.
[12] Disebutkan oleh Asy Syatibi dalam fatawanya hal. 180-181. Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91.
[13] Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 1: 95.
[14] Majmu’ Al Fatawa, 20: 163.
[15] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 131.
[16] Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’I (1: 468-469). Riwayat ini shahih sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq beliau terhadap Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 131.
[17] Majmu’ Al Fatawa, 1: 162.
[18] Hilyatul Auliya’, 9: 107.
[19] Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab, 1: 63.
[20] Tarikh Dimasyq, 51: 389.
[21] Tarikh Dimasyq, Ibnu ‘Asakir, 2: 9: 15.
[22] Hilyatul Auliya’, 9: 107.
[23] Siyar A’laamin Nubala’, 3: 3284-3285.
[24] I’lamul Muwaqi’in, 2: 282.

Pranala luar:
  • https://muslim.or.id/7269-ini-dalilnya-4-adakah-bidah-hasanah.html#_ftn2
  • http://asysyariah.com/adakah-bidah-hasanah/
  • https://muslimafiyah.com/dua-jawaban-untuk-menolak-bidah-hasanah.html
  • https://firanda.com/index.php/artikel/manhaj/93-syubhat-syubhat-para-pendukung-bidah-hasanah

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 14 Jumadats Tsaniyah 1433 H
Artikel: https://rumaysho.com/2428-umar-dan-imam-syafii-berbicara-tentang-bidah-hasanah.html