Minggu, 22 April 2018

Belajar Dari Tibet, Invasi Militer Komunis-Cina Menyamar Jadi Pekerja

View Article

Indonesia harus bercermin dari Tibet. Sejak 700 tahun lalu, China sangat berbaik hati dengan Tibet. Dengan gaya yang terkesan santun, China membantu Tibet dalam membangun infrastruktur. Proyek dikerjakan militer China, yang dikirim ke Tibet sebagai pekerja pada proyek-proyek investasi pembangunan kereta api, jalan dan lain-lain.

“Namun, pada saat yang sudah ditentukan para pekerja itu mengeluarkan senjata mereka menodong polisi dan tentara, sampai akhirnya peradaban di Tibet hancur. Negaranya hancur sampai sekarang, dan mereka dalam kekuasaan China,” kata pengamat kebijakan publik Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah, kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Senin, 18/7).

Dengan pola yang sama, Amir Hamzah melihat hal ini juga sedang dijalankan China di Indonesia kini. Selain berinvestasi di Indonesia, investor China juga telah menyelundupkan para militer China ke Indonesia dengan dalih tenaga kerja proyek. Dan kini, daerah pesisir Indonesia, dari Pelabuhan Belawan Bagian Timur Sumatera kemudian masuk ke Banten, sampai akhirnya sampai ke Surabaya, sekitar 97 persen telah dikuasai oleh China.

“Dan tidak mustahil apartemen-apartemen tempat-tempat tertentu di pesisir pantai itu mereka gunakan sebagai tempat persembunyian mereka untuk mengintai perairan Indonesia,” ungkapnya.

Kemudian, katanya, di Sulawesi Tengah ada Pabrik Nikel yang cukup besar, yang bahkan dari 6.700 pegawai 5.000 di antanranya merupakan pegawai dari China. Belum lagi di Banten dan di Katapang.

“Nah, coba bayangkan itu, jika sebagian besar di antara mereka adalah Militer China yang sekarang banyak menyamar menjadi tenaga kerja di Indonesia dan tiba saatnya nanti mereka akan mengeluarkan senjata dan menodong tentara Indonesia. Yang akhirnya militer kita akan hancur, polisi juga hancur, dan negara kita juga akan hancur,” tegas Amir mengingatkan. []


Pranala luar:
1. https://www.eramuslim.com/berita/nasional/pelajaran-tibet-militer-komunis-cina-nyamar-jadi-pekerja-lalu-nanti-keluarkan-senjata.htm
2. http://www.rmol.co/read/2016/07/18/253492/Amir-Hamzah:-Waspada,-China-Bisa-Bikin-Indonesia-Seperti-Tibet-
3. http://republika.co.id/berita/internasional/selarung-waktu/16/10/21/ofdhoa377-sejarah-hari-ini-cina-invasi-tibet
4. http://dunia.rmol.co/read/2011/02/25/19356/Komunis-China-Lanjutkan-Perang-Pengaruh-Melawan-Dalai-Lama-

Waspadai Ghibah Terselubung Zaman Now

View Article

Siang dan malam setan tak pernah bosan untuk menggoda manusia. Tak bisa menggunakan cara ini, dia mencari cara lain untuk bisa melumpuhkan benteng ketakwaan seorang hamba. Imajinasi untuk mencari ide-ide baru, guna menjerumuskan manusia ke dalam nista dan dosa, selalu bergerak dan berkembang.

Bahaya ghibah

Sebagai contoh adalah, salah satu jerat setan yang dinamakan ghibah. Ternyata banyak model ghibah yang sering terjadi dan tidak disadari. Padahal sejatinya itu adalah dosa ghibah. Hanya saja dipoles lebih halus dan kreatif, sehingga tidak disadari sebagai ghibah.

Padahal kita tahu, betapa besar bahaya daripada dosa ghibah ini. Disamping menginjak-injak harga diri saudaranya sesama muslim tanpa hak, juga akan menjadi beban berat di hari kiamat kelak (bila orang yang dighibahi tidak memaafkan). Di saat sedikit pahala amat dibutuhkan untuk menambah beratnya timbangan amal kebaikan, tiba-tiba datang orang yang pernah Anda ghibahi, kemudian dia menuntut untuk mengambil pahala kebaikan Anda, sebagai tebusan atas kezaliman yang pernah Anda lakukan kepadanya. Bila amalan kebaikan tidak mencukupi sebagai tebusan, maka amalan buruknya akan dibebankan kepada Anda. –Na’udzu billah min dzaalik-.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan (seperti ghibah. pent) atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukiran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudia dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 2449, hadis Abu Hurairah.

Anda bisa bayangkan, betapa ruginya. Anda yang susah payah beramal, namun orang lain yang memetik buahnya. Orang lain yang berbuat dosa, sedang Anda yang merasakan pahitnya. Dan Allah tidak pernah berbuat zalim sedikitpun terhadap hambaNya. Namun ini adalah disebabkan kesalahan manusia itu sendiri. Ini dalil betapa tingginya harkat martabat seorang muslim, dan betapa besar bahaya daripada dosa ghibah.

Apakah hadis ini mengisyaratkan adanya pertentangan dengan ayat,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Fathir: 18)?

Jawabannya adalah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari, tidak ada sedikitpun pertentangan antara hadis tersebut dengan ayat. Karena sejatinya, dia medapatkan hukuman seperti itu karena disebabkan oleh perbuatan dosanya sendiri, bukan karena dosa orang lain yang dibebankan kepadanya begitu saja. Jadi, pahala kebaikan yang dikurangi, dan keburukan orang lain yang dibebankan kepadanya, sejatinya adalah bentuk dari akibat dosa dia sendiri. Dan ini adalah bukti akan keadilan peradilan Allah ta’ala. (Lihat: Fathul Bari jilid 5, hal. 127)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan,

لَمَّا عُرِجَ بِيْ, مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَ صُدُوْرَهُمْ فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلآء يَا جِبْرِيْلُِ؟ قَالَ : هَؤُلآء الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسَ وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ

“Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. Mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Aku bertanya :”Siapakah mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia ( mengumpat ) dan mereka menginjak-injak kehormatan manusia.” (Hadis Sohih Riwayat Ahmad (3/223), Abu Dawud (4879).

Beberapa model ghibah terselubung

Model-model ghibah tersebut adalah:

Pertama, seorang menggunjing saudaranya untuk memeriahkan obrolan. Dia menyadari kalau ghibah ini tidak diteruskan, orang yang dia ajak bicara akan bosan, obrolan menjadi hambar. Untuk itu, dia jadikan ghibah sebagai pemeriah obrolan. Agar lebih manis dan tahan lama obrolannya. Barangkali dia berkilah untuk memupuk keakraban dan membahagiakan saudaranya (yang sedang dia ajak ngobrol).

Kedua, mengumpat saudaranya di hadapan orang lain, untuk mengesankan bahwa dirinya adalah orang yang tidak suka ghibah, padahal sejatinya dia sedang menghibahi saudaranya.

Sebagai contoh perkataan ini,” Bukan tipe saya suka ngomongin aib orang. Saya nda’ biasa ngomongin orang kecuali yang baiknya saja. Cuma, saya ingin berbicara tentang dia apa adanya… Sebenarnya dia itu orangnya baik. Cuma yaa itu.. dia itu begini dan begini (dia sebutkan kekurangannya).”

Padahal sejatinya bermaksud untuk menjatuhkan harga diri saudaranya yang ia umpat. Sungguh ironi, apakah dia kira Allah akan tertipu dengan tipu muslihat yang seperti ini, sebagaimana ia telah berhasil menipu manusia?!

Maha suci Allah dari sangkaan ini.

Ketiga, menyebutkan kekurangan saudaranya, dengan niatan untuk mengangkat martabatnya dan merendahkan kedudukan orang yang dia ghibahi.

Seperti perkataan seorang, “Dari kelas satu SMA sampai kelas tiga, rapornya selalu merah. Kalau saya alhamdulillah, walaupun ngga pernah rangking satu, tapi masuk tiga besar terus.”

Padahal ada maksud terselubung dari ucapan itu. Yaitu untuk mengangkat martabatnya dan menghinakan kedudukan orang lain. Orang yang seperti ini sudah jatuh tertimpa tangga pula; dia sudah melakukan ghibah, disamping itu, dia juga berbuat riya’.

Keempat, ada lagi yang mengumpat saudaranya karena dorongan hasad. Setiap kali ada orang yang menyebutkan kebaikan saudaranya, diapun berusaha untuk menjatuhkannya dengan menyebutkan kekurangan-kekurannya. Orang seperti ini telah terjurumus ke dalam dua dosa besar sekaligus; dosa ghibah dan dosa hasad.

Kelima, menyebutkan kekurangan orang lain, untuk dijadikan bahan candaan. Dia sebutkan aib-aib saudaranya, supaya orang-orang tertawa.

Dan lebih parah lagi, bila yang dijadikan bahan candaan adalah kekurangan guru atau ustadznya. -Nas alullah as-salaamah wal ‘aafiyah-.

Keenam, terkadang ghibah juga muncul dalam bentuk ucapan keheranan, yang terselebung motif menjatuhkan kedudukan orang lain. Semisal ucapan,”saya heran sama dia.. dari tadi dijelaskan oleh ustadznya tapi tidak faham-faham.” atau ucapan lainnya yang semisal.

Ketujuh, mengumpat dengan ungkapan yang seakan-akan mengesankan rasa kasihan. Orang yang mendengarnya menyangka bahwa dia sedang merasa kasihan dengan orang yang ia maksudkan. Padahal sejatinya dia sedang mengumpat saudaranya. Seperti ucapan,” Saya kasihan sama dia. Sudah miskin, tapi tidak mau ikut gotong royong. Kalau ada pengajian juga nda’ pernah datang.. dst”

Kedelapan, mengumpat saat sedang mengingkari suatu maksiat.

Seperti perkataan seorang ketika melihat anak-anak muda yang sedang main gitar di poskamling, “Kalian ini masih muda. Gunakanlah waktu kalian untuk hal-hal yang bermanfaat dan produktif. Supaya masa depan kalian lebih cerah, dan kalian bisa memetik buah manisnya nanti di masa tua. Jangan seperti anaknya pak lurah itu, kerjaannya hanya main kartu, gitaran, minum-minuman….” atau ucapan yang semisal.

Sejatinya pemaparan poin-poin di atas, merujuk kepada pengertian asal daripada ghibah, yang telah digariskan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam sabda beliau,

Saudaraku yang kami muliakan, demikianlah beberapa praktek ghibah yang sering terjadi dan tidak disadari. Padahal sejatinya ia adalah ghibah yang telah disinggung oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sabda beliau,

مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kaliana apa itu ghibah?”tanya Rasulullah kepada para sahabatnya. Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Yaitu engkau menyebutkan (mengumpat) sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Kemudian ada yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Bagaimanakah pendapat engkau bila yang disebutkan itu memang benar ada padanya ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Kalau memang ia benar begitu berarti engkau telah mengumpatnya. Tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya” ( HR Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999.

Semoga Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita dari dosa ini. Dan senantiasa menambahkan taufik dan hidayahNya untuk kita semua.

Wasallallahu ‘ ala nabiyyina Muhammad wa ‘ ala alihi wa shahbihi wasallam. []



Catatan:
Tulisan ini kami sadur dari penjabaran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengenai model-model ghibah, yang termaktub dalam Majmu’ Fatawa jilid 28, hal. 236-237. Dikutip oleh Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan dalam buku beliau: al-Fawaidul Majmu’ah fi Syarhi Fushulil Adab wa Makaarimil Akhlaq Al-Masyruu’ah.

Madinah An-Nabawiyyah, 22 Rabi’us Tsani 1436H/ 12 Februari 2015

Ditulis oleh : Ahmad Anshori
Artikel: https://muslim.or.id/24578-waspadai-ghibah-terselubung.html

Jumat, 20 April 2018

Ternyata Inilah Para Pengikut Dajjal

View Article

Dajjal, digambarkan dalam hadis-hadis Nabi sebagai seorang pendusta yang sebelah matanya buta, tertulis di keningnya huruf kaf fa’ dan ra’ ((ك ف ر. Kemunculannya pertanda kiamat sudah sangat dekat. Dia menjadi fitnah terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Sampai-sampai, setiap Nabi yang diutus, mengingatkan umatnya tentang fitnah Dajjal.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بُعِثَ نَبِيٌّ إِلَّا أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الأَعْوَرَ الكَذَّابَ، أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ

“Tidaklah diutus seorang nabi, melainkan dia mengingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, sang pendusta. Ketahuilah Dajjal itu buta sebelah dan Tuhan kalian tidak buta sebelah. Diantara dua matanya tertulis: Kafir” (HR. Bukhari 7131).

Suatu yang menarik, ternyata Dajjal adalah sosok raja yang ditunggu-tunggu oleh sekelompok aliran agama. Siapakan mereka? Yahudi!

Iya, orang-orang Yahudi meyakini Dajjal sebagai raja yang akan menguasai lautan dan daratan. Mereka juga meyakininya sebagai salah satu tanda daripada tanda-tanda kebesaran Allah.

Orang-orang Yahudi menamainya dengan nama Al-Masih bin Dawud.

Perbedaan yang sangat mencolok antara mukmin dan yahudi. Orang-orang beriman, menunggu kedatangan Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam. Sementara mereka menunggu sang pendusta yang buta sebelah, penebar fitnah, yang bernama Dajjal.

Bukti wahyu yang menunjukkan informasi ini, adalah hadis dari sahabat ‘Utsman bin Abil ’ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam bersabda,

 أكثر أتباع الدجال اليهود و النساء

“Kebanyakan pengikut Dajjal, adalah orang yahudi dan kaum wanita” (HR. Ahmad, dalam musnad beliau 4/216-217).

Dalam hadis yang lain, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan,

يتبع الدجال من يهود أصبهان سبعون ألفا عليهم الطيالسة

“Dajjal akan diikuti oleh 70,000 Yahudi dari Asfahan, mereka memakai thayalisah” (HR. Muslim 2944).

Thayalisah adalah selendang yang dipakai di pundak, menyerupai baju/jubah, tidak memiliki jahitan.

(Lihat keterangan ini di catatan kaki hal. 253, dari kitab Al-Qiyamah As-Sughra)

Dan menariknya, salah satu wilayah di kota Asfahan, dahulu ada yang disebut-sebut desa Al-Yahudiyah. Karena dahulu wilayah tersebut hanya dihuni oleh orang-orang Yahudi. Hal ini terus berlanjut sampai di zaman Ayub bin Ziyad, gubernur Mesir di zaman Khalifah Al-Mahdi bin Mansur dari dinasti Abbasiyah (Lihat: Lamaawi’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, 2/107).

Kelak, Dajjal akan terbunuh di tangan Nabi Isa ‘alaihissalam di daerah Palestina. Demikian pula beliau akan memimpin peperangan memberangus para pengikutnya.

Semoga Allah melindungi kita dari fitnah Dajjal.

Demikian..

Wallahua’lam bis showab. []





Referensi :
1. Lamaawi’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, karya Muhammad bin Ahmad As-Safaroyini, terbitan : Muassasah Al-Khofiqin, Damaskus (th 1402 H)
2. Al-Qiyamah As-Sughra, karya Prof. Dr. Umar Sulaiman Al-Asqor, terbitan : Dar An-Nafais, Yordania (Cetakan ke 14, th 1427 H).

Penulis : Ahmad Anshori, Lc
Artikel : https://muslim.or.id/36168-ternyata-inilah-para-pengikut-dajjal.html

Kamis, 19 April 2018

Bukti Loyalitas Abu Bakar Pada Peristiwa Isra Mi’raj

View Article

Waktu yang pasti mengenai, ‘kapan tepatnya Isra Mi’raj berlangsung’ hingga saat ini memang masih menjadi perdebatan. Namun perjalanan Rasulullah tersebut tidak ada keraguan padanya. Isra Mi’raj adalah peristiwa besar dalam kisah kenabian.

Dalam berbagai Hadits dikatakan bahwa perjalanan Isra Mi’raj terjadi di malam hari yang melibatkan jasad dan ruh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang ditemani oleh Jibril. Isra Mi’raj dimulai dari Masjidil Haram di Mekah menuju ke Baitul Maqdis di Palestina (Masjidil Aqsa). Hal tersebut sesuai dengan firman Allah di dalam Alquran yang artinya, “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.” Surah Al-Isra ayat 1.

Adapun rincian dan penjelasan mengenai perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam diriwayatkan dalam berbagai hadits. Setidaknya, ada 16 sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut mulai dari, Ali Bin Abi Thalib r.a, Umar bin hattab r.a, Ibnu Mas’ud r.a, Anas bin Malik r.a, Abu Dzar r.a, Ibnu Umar r.a, dan sahabat-sahabat yang lainnya.

Isra Mi’raj merupakan peristiwa besar yang bisa dikatakan sebagai salah satu penghibur bagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setelah berbagai peristiwa dan ujian yang menimpa beliau. Isra Mi’raj juga menjadi salah satu perjalanan terpenting Nabi Muhammad dimana beliau kemudian mendapatkan perintah untuk mengerjakan shalat. Selain itu, peristiwa Isra Mi’raj juga menandakan bahwa Nabi Muhammad memiliki keistimewaan atau mukjizat yang luar biasa.

Namun setelah kembalinya Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) dari perjalanan tersebut, banyak diantara kaum muslimin dan orang-orang munafik pada saat itu yang menyangsikan perjalanan dan cerita Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Karena ini merupakan sebuah peristiwa besar yang bagi beberapa akal manusia pada saat itu tidak bisa menerimanya.

Berbeda dengan kaum muslimin yang lain, Abu Bakar yang merupakan sahabat sekaligus mertua Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya mengenai hal tersebut menjawab dengan mantap bahwa hal tersebut “pasti terjadi” jika yang mengatakannya adalah Muhammad sendiri.

Diriwayatkan, pada pagi hari setelah Nabi Muhammad menceritakan peristiwa perjalanan beliau dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa dan proses mi’raj untuk naik ke langit ketujuh hingga bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala, beberapa orang yang mendengarnya kemudian menanyakan hal tersebut kepada Abu Bakar. Mereka berkata, “Apakah kamu (Abu Bakar) mempercayai sahabatmu (Muhammad) yang mengira bahwa ia telah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis tadi malam?” mendapat pertanyaan tersebut, Abu Bakar, sebaliknya, bertanya, “Apakah benar Muhammad mengatakan hal tersebut?” Kemudian orang-orang yang bertanya menjawab, “Benar!” maka kemudian Abu Bakar berkata, “Sungguh apa yang dikatakannya (Muhammad) itu benar. Dan aku akan membenarkannya pula, bahkan jika ia mengatakan lebih dari itu.” Kisah tersebut didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Al-hakim.

Menurut cerita dari Ali bin Abi Tholib, setelah mendengarkan kesaksian dari Abu Bakar tersebut, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sendiri melalui lisannya, mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang memiliki sifat Sidiq, yang berarti “orang yang membenarkan.” Sejak saat itulah, Abu Bakar r.a mendapat julukan As-Siddiq. Ini adalah salah satu bukti loyalitas Abu Bakar dan betapa besarnya Iman Abu Bakar. Beliau tidak ragu-ragu mengenai apapun yang diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan meyakininya sebagai sebuah kebenaran.

Bukti bahwa Abu Bakar memiliki iman yang besar adalah ucapan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) yang dikutip oleh Ibnu Katsir, yang artinya, “Tiada aku mengajak seseorang masuk Islam, tanpa ada hambatan, keragu-raguan, tanpa mengemukakan pandangan dan alasan, hanya Abu Bakar lah ketika aku menyampaikan ajakan tersebut, dia langsung menerimanya tanpa ragu sedikitpun. Bahkan di dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa Umar Bin Khattab berkata, yang artinya, “Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat, maka akan lebih berat keimanan Abu Bakar.” ini adalah bukti lain bahwa Abu Bakar memang merupakan seorang yang terbuka mata hatinya dan memiliki iman yang sangat kuat. []



Pranala luar:
1. https://muslim.or.id/9377-kisah-isra-miraj.html
2. https://adlanmuslim.com/2016/07/28/bukti-loyalitas-abu-bakar-pada-peristiwa-isra-miraj
3. http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/04/24/oowz52361-abu-bakar-tetap-mengimani-isra-miraj-meski-saat-itu-di-luar-logika

Rabu, 18 April 2018

Pan-Islamisme, Sultan Abdul Hamid II, dan Proyek Rel Kereta Api Hijaz 1876-1909

View Article

Khilafah Utsmaniyah adalah kekhalifahan Turki Islam terbesar yang berkuasa di dunia Islam. Bukan hanya terbesar di kalangan Turki Islam, namun juga terbesar di seluruh kekhalifahan Islam. Khilafah Utsmaniyah memiliki kekuasaan mulai dari Turki, Asia Barat, sebagian besar Eropa Tenggara, hingga Afrika bagian utara. Selain wilayah kekuasaan yang luas, Khilafah Utsmaniyah juga merupakan khilafah yang paling lama berkuasa.

Khilafah Utsmaniyah menjadikan Bursa sebagai ibu kota pertama kali sebelum akhirnya berpindah ke Edirna (Adrianopel) setelah mendapatkan pijakan yang lebih kokoh di daratan Eropa dan berkembang menjadi kekhalifahan yang besar. Penaklukan Konstantinopel (Istanbul) pada 1453 yang dipimpin oleh Sultan Muhammad II yang bergelar Al Fatih secara formal mengantarkan Khilafah Utsmaniyah pada satu era baru.

Di masa akhir kekhalifahan, Khilafah Utsmaniyah dipimpin oleh seorang sultan ternama, Sultan Abdul Hamid II. Sultan dengan begitu banyak prestasi di antaranya meningkatkan perekonomian, memangkas korupsi, menumbuhkan Pan-Islamisme, melaksanakan proyek kereta api Hijaz, serta berhasil menepis propaganda Yahudi untuk menguasai Palestina melalui Theodor Herzl.

Pan-Islamisme

Pan-Islamisme adalah sebuah gerakan untuk menyatukan kaum muslimin di seluruh dunia. Pan-Islamisme tidak muncul dalam dunia politik kecuali di masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II atau lebih tepatnya ketika Sultan Abdul Hamid naik ke singgasana Khalifah Utsmaniyah pada 1876 M. Tatkala “nafas” Sultan Abdul Hamid II telah pulih dari upaya menyingkirkan orang-orang yang terpengaruh pemikiran barat dari lingkungan kekuasaannya, Sultan Abdul Hamid II mulai memikirkan tentang Pan-Islamisme. 

Pada buku catatan pribadi, Sultan Abdul Hamid II menyebutkan tentang pentingnya melakukan gerakan menanamkan kembali nilai ukhuwah islamiyah di antara kaum muslimin dunia, baik Cina, India, Arab, Afrika, dan tempat-tempat lain. Sultan Abdul Hamid II menegaskan keyakinannya tentang kemungkinan lahirnya kesatuan dunia Islam ketika mengatakan, “Kita wajib menguatkan ikatan kita dengan kaum muslimin di belahan bumi lain. Kita wajib saling mendekat dan merapat dalam intensitas yang sangat kuat. Sebab tidak ada harapan lagi di masa depan kecuali dengan kesatuan ini. Memang waktunya belum datang, namun dia akan datang. Akan datang suatu hari di mana kaum muslimin akan bersatu dan mereka akan bersama-sama dalam satu kebangkitan yang serentak. Akan ada seorang yang memimpin umat ini dan mereka akan menghancurkan kekuatan orang-orang kafir.”

Pan-Islamisme tidak bisa kita lepaskan antara Sultan Abdul Hamid II dengan Jamaluddin al-Afghani. Jamaluddin al-Afghani sangat mendukung ide dan seruan Sultan Abdul Hamid II tentang Pan-Islamisme. Jamaluddin Al Afghani pernah berpendapat tentang Sultan Abdul Hamid II dengan ungkapan, “Sesungguhnya Sultan Abdul Hamid, andaikata ditimbang dengan empat orang yang paling terkenal di zaman itu, pasti kecerdasan dan kecerdikan politiknya akan mengalahkan mereka, khususnya dalam menaklukkan orang-orang yang berada dekat dengannya. Maka tidak heran jika kita melihat dia akan mampu menunjukkan kebolehannya dalam membela negerinya di saat-saat genting dari orang barat. Orang-orang yang menentangnya akan keluar darinya dengan rela dan dia akan puas dengan perjalanan hidup dan perilakunya. Siapapun akan puas dengan argumen yang dia lontarkan, baik itu raja, pangeran, menteri, maupun duta besar.”

Sultan Abdul Hamid II dan Jamaluddin Al Afghani saling memiliki keuntungan dengan kesamaan pandangan tentang Pan-Islamisme. Jamaluddin Al Afghani mendapatkan tempat bernaung di wilayah Khilafah Utsmaniyah dan sultan juga memanfaatkan pengaruh Jamaluddin Al Afghani atas negara-negara Islam yang menentang barat, yang ketika itu mendesak kedudukan Khilafah Utsmaniyah. Meski keduanya memiliki banyak kesamaan yang saling menguntungkan, ternyata ada perbedaan pendapat yang cukup tajam antara keduanya. Sultan Abdul Hamid II tetap mempertahankan kekuasaan otokrasi lama, sementara Jamaluddin Al Afghani mencoba memasukkan ide-ide pembaharuan dalam pemerintahan. Sultan Abdul Hamid II akhirnya membatasi kegiatan-kegiatan Jamaluddin Al Afghani dan melarangnya keluar Istanbul, sampai ajal menjemputnya.

Proyek Pembuatan Rel Kereta Api Hijaz

Untuk kembali menarik perhatian hati bangsa-bangsa Islam di bawah wilayah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II banyak memperhatikan lembaga-lembaga keagamaan, lembaga ilmiah, perbaikan terhadap Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta bangunan penting lainnya dan pembangunan inovasi berupa proyek pembuatan rel kereta api Hijaz. Pembuatan rel kereta api Hijaz ini tidak lepas dari visi Sultan Abdul Hamid II, yakni berusaha memikat dan menyatukan hati-hati kaum muslimin Arab dengan berbagai cara. Karena pada saat itu Barat sedang mencoba menguasai kaum muslimin Arab di wilayah Hijaz dengan berbagai pemikiran dan ideologinya.

Sultan membentuk pengawal khusus serta mengangkat banyak kaum muslimin Arab dalam jabatan dan pos penting. Salah satu di antaranya adalah ‘Izzat Pasya Al-Abid dari Syam. ‘Izzat Pasya ini adalah salah satu kaum muslimin Arab yang sangat dipercaya Sultan Abdul Hamid II dan memainkan peran sangat penting dalam pembangunan rel kereta api Hijaz yang membentang dari Damaskus hingga Madinah. Sultan Abdul Hamid II menganggap proyek pembangunan rel kereta api Hijaz ini sebagai salah satu sarana yang mengangkat nama Khilafah Utsmaniyah dan akan berfungsi untuk menyatukan kaum muslimin Arab dan menyebarkan pemikiran Pan-Islamisme.

Proyek pembangunan rel kereta api Hijaz adalah salah satu proyek pembangunan terpenting pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Proyek ini dimulai pada 1900 M dan berakhir pada 1908 M. Proyek pembangunan rel kereta api Hijaz ini melahirkan semangat keislaman yang tinggi di antara kaum muslimin di seantero pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. Sultan Abdul Hamid II berhasil menyebarkan edaran yang menyerukan kaum muslimin di seluruh dunia untuk ikut andil dalam pembangunan proyek rel kereta api Hijaz ini.

Sultan Abdul Hamid II memulai pendaftaran para penyumbang kaum muslimin dengan dimulai oleh dirinya sendiri yang memberikan 50.000 keping uang emas Utsmani. Kemudian dibayar juga uang sebanyak 100.000 keping emas Utsmani dari kas negara. Kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia juga turut berlomba-lomba dalam membantu pembangunan rel kereta api Hijaz baik dengan harta maupun jiwa. Proyek ini juga sangat didukung oleh para pejabat pemerintahan serta pegawai perusahaan saat itu. Media massa seperti Al Muayyid, Al Liwa’, Al Manar serta Al Raid Al Mishr turut mengampanyekan proyek pembangunan rel kereta api Hijaz dengan sangat antusias.

Pada 1907 M, proyek pembangunan rel kereta api Hijaz ini dikerjakan oleh sekitar 7.500 pekerja yang hampir kesemua pekerja itu adalah kaum muslimin. Sultan Abdul Hamid II sangat meminimalisasi peran pekerja asing seperti arsitek dan pekerja lainnya dalam proyek ini. Sultan memaksimalkan tenaga para kaum muslimin. Dengan menghabiskan total biaya yang sangat besar, sekitar 4.283.000 lira Utsmani, pada Agustus 1908 M rel kereta api Hijaz ini telah sampai pada Madinah Al Munawwarah.

Seharusnya pembangunan berlanjut hingga Makkah. Namun pekerjaan terhenti karena penguasa Makkah saat itu, Husein bin Ali, memiliki kekhawatiran akan intervensi berlebih dari pemerintah pusat Khilafah Utsmaniyah. Kereta api pertama yang beroperasi dari Damaskus di Syam menuju Madinah di Hijaz terjadi pada 22 Agustus 1908 M. Peristiwa ini dianggap sebagai realisasi dari mimpi-mimpi yang panjang oleh jutaan kaum muslimin di seantero dunia. Perjalanan kereta api dari Damaskus menuju Madinah yang berjarak 814 kilometer hanya memakan waktu tiga hari perjalanan. Padahal sebelumnya, perjalanan dari Damaskus ke Madinah harus ditempuh dalam jangka waktu kurang lebih lima (5) pekan perjalanan.

Pada saat itu, kaum muslimin demikian merindukan untuk menunaikan haji ke Baitullah, memikirkan perdagangan yang lebih mudah, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan pemerintah pusat Khilafah Utsmaniyah yang merasa menemukan titik terang bagaimana menjaga keamanan dan stabilitas wilayah Khilafah Utsmaniyah. Pembangunan rel kereta api Hijaz ini setidaknya memiliki lima keuntungan pokok. Di antaranya adalah:

1. Menghubungkan antar wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah yang saling berjauhan sehingga akan sangat membantu untuk menebarkan pemikiran kesatuan pemerintahan Khilafah Utsmaniyah dan pemikiran Pan-Islamisme serta mempermudah pemerintah pusat Khilafah Utsmaniyah.

2. Memaksa wilayah-wilayah di bawah Khilafah Utsmaniyah untuk kembali masuk ke bawah naungan pemerintahan serta taat pada hukum dan undang-undang yang mewajibkan setiap wilayah membayar zakat berupa harta serta mengirimkan pasukan.

3. Mempermudah tugas keamanan dan pertahanan pemerintah pusat Khilafah Utsmaniyah dari berbagai pihak yang berusaha melakukan penentangan terhadap pemerintah.

4. Mengakselerasi terjadinya pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah.

5. Mempermudah perjalanan kaum muslimin yang akan melakukan ibadah haji.

Kesimpulan

Proyek pembangunan rel kereta api Hijaz yang dimulai pada 1900 dan berakhir pada 1908 adalah salah satu proyek pembangunan terpenting pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Proyek pembangunan rel kereta api Hijaz ini melahirkan semangat keislaman yang tinggi di antara kaum muslimin di seantero pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. Sultan Abdul Hamid II berhasil menyerukan kaum muslimin di seluruh dunia untuk ikut andil dalam pembangunan proyek rel kereta api Hijaz.

Pembuatan rel kereta api Hijaz ini juga tidak lepas dari visi Sultan Abdul Hamid II yakni berusaha memikat dan menyatukan hati-hati kaum muslimin dengan berbagai cara dan menjauhkan dari barat. Karena pada saat itu barat sedang mencoba menguasai kaum muslimin dengan berbagai pemikiran dan ideologinya. Proyek pembangunan rel kereta api Hijaz ini sebagai salah satu sarana yang mengangkat nama Khilafah Utsmaniyah dan akan berfungsi untuk menyatukan kaum muslimin dan menyebarkan pemikiran Pan-Islamisme. []


Oleh Fahrudin Alwi
Ketua LDKN Salam UI 20, Mahasiswa Program Studi Arab FIB UI
Dipublikasikan pertama kali oleh Republika

Daftar Pustaka:
1. Hitti, Philip K. (2013). History of the Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
2. Ash Shallabi, Muhammad Ali. (2014). Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.
3. Harb, Muhammad. (1991). Mudzakkiraat Al Sulthan Abdul Hamid II, Darul Qalam.
4. Hamid, Muhsin Abdul. (1983). Jamaluddin Al Afghani Al Mushlih Al Muftaraa ‘Alaihi, Muassasah Ar Risalah.

Selasa, 17 April 2018

Malam Nisfu Syaban dan Amalan Nisfu Syaban

View Article

Malam nisfu Sya’ban (malam 15 Sya’ban) adalah malam mulia menurut sebagian kalangan. Sehingga mereka pun mengkhususkan amalan-amalan tertentu pada bulan tersebut. Benarkah pada malam nisfu Sya’ban punya keistimewaan dari bulan lainnya?

Bulan Sya’ban Secara Umum adalah Bulan Mulia

Bulan Sya’ban adalah bulan mulia yang terletak sebelum bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan tersebut adalah waktu dinaikkan amalan.

Mengenai bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Setiap pekannya, amalan seseorang juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا

“Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai’.” (HR. Muslim no. 2565)

Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban

Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa.

Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Al-Mundziri dalam At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At-Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.”

Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia adalah perawi yang dinilai dha’if.”

Hadits lainnya lagi adalah hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ

“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.”

Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif atau di-jarh, namun haditsnya masih dicatat).” Berarti hadits ini bermasalah.

Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhaifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 245).

Intinya, penilaian kebanyakan ulama (baca: jumhur ulama), keutamaan malam nisfu Sya’ban dinilai dha’if. Namun sebagian ulama menshahihkannya.

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Taruhlah hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban itu shahih, bukan berarti dikhususkan amalan khusus pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di malam nisfu Sya’ban dengan shalat jama’ah atau membaca Yasin atau do’a bersama atau dengan amalan khusus lainnya.

Karena mengkhususkan amalan seperti itu harus dengan dalil. Kalau tidak ada dalil, berarti amalan tersebut mengada-ada.

Walau sebagian ulama ada yang menganjurkan shalat di malam nisfu Sya’ban. Namun shalat tersebut cukup dilakukan seorang diri.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nisfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan shalat.

Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nisfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nisfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 131)

Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai pendukung sehingga tidak perlu diingkari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 23: 132)

Malam Nisfu Sya’ban sama dengan Malam Lainnya

Kalau kita biasa shalat tahajud di luar nisfu Sya’ban, nilainya tetap sama dengan shalat tahajud di malam nisfu Sya’ban.

‘Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam nisfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam nisfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).

Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam nisfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678)

Cukup Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban

Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Yang Punya Utang Puasa Ramadhan Segera Lunasi

Bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi karena bulan Sya’ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Perbanyak Pula Amalan Bacaan Al-Qur’an di Bulan Sya’ban

Salamah bin Kahil berkata,

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ القُرَّاء

“Dahulu bulan Sya’ban disebut pula dengan bulan membaca Al Qur’an.”

وَكَانَ عَمْرٌو بْنِ قَيْسٍ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ شَعْبَانَ أَغْلَقَ حَانَوَتَهُ وَتَفْرُغُ لِقِرَاءَةِ القُرْآنِ

‘Amr bin Qois ketika memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya dan lebih menyibukkan diri dengan Al Qur’an.

Abu Bakr Al Balkhi berkata,

شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ

“Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.” (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 92748)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. []



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel: https://rumaysho.com/11158-malam-nisfu-syaban-dan-amalan-nisfu-syaban.html

- Naskah Khutbah Jumat di Masjid Adz Dzikro Ngampel, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, 11 Sya’ban 1436 H
- Selesai disusun Jumat pagi, 11 Sya’ban 1436 H di Darush Sholihin Panggang Gunungkidul

Banyak Berpuasa di Bulan Syaban

View Article

Alhamdulillah, sebentar lagi kita akan menginjak tanggal 1 Sya’ban. Namun kadang kaum muslimin belum mengetahui amalan-amalan yang ada di bulan tersebut. Juga terkadang kaum muslimin melampaui batas dengan melakukan suatu amalan yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dalam tulisan yang singkat ini, Allah memudahkan kami untuk membahas serba-serbi bulan Sya’ban. Dan kami di website ini, akan membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian.

Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolong dan mudahkanlah kami).

Keutamaan Bulan Sya’ban

Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathoif Al Ma’arif, 235)

Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban

Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)

Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156)

Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,

أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)?

Asy Syaukani mengatakan,  “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Author, 7/148). Jadi, yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.

Lalu Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa penuh di bulan Sya’ban?

An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. ”(Syarh Muslim, 4/161)

Di antara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)

Hikmah di Balik Puasa Sya’ban

1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadhan. Tatkalah manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa. Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar. Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari mengingat Allah.”

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa setiap bulannya sebanyak tiga hari. Terkadang beliau menunda puasa tersebut hingga beliau mengumpulkannya pada bulan Sya’ban.  Jadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Sya’ban sedangkan di bulan-bulan sebelumnya beliau tidak melakukan beberapa puasa sunnah, maka beliau mengqodho’nya ketika itu. Sehingga puasa sunnah beliau menjadi sempurna sebelum memasuki bulan Ramadhan berikutnya.

3.  Puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif,  hal. 234-243)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita mengikuti suri tauladan kita untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut.

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506). Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya (terkabulnya) do’a. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad)

-bersambung ke pembahasan “Malam Nishfu Sya’ban“-




Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel: https://rumaysho.com/384-banyak-berpuasa-di-bulan-syaban.html

Duh! Siswa SMP Mengaku Dibayar Rp 40 Ribu untuk Demo Anies

View Article

Ada pelanggaran dalam demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Front Aksi Mahasiswa Jakarta Raya (FAM Jaya) di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (16/4). Pasalnya, sejumlah peserta aksi tersebut masih berada di bawah umur.

Tampak ada sejumlah peserta demo yang terlihat bukan perawakan mahasiswa. Badannya terbilang kecil. Ketika dikonfirmasi, Randi, bukan nama sebenarnya, mengaku sedang duduk di kelas VII SMP di kawasan Jakarta Pusat. “Kelas 7, Bang,” ujarnya.

Ada belasan peserta lainnya yang ikut dalam aksi tersebut. Rata-rata dari wilayah yang sama dan usia mereka pun beragam dari rentang pelajar jenjang pendidikan menengah pertama hingga menengah atas (SMA).

Lukman, bukan nama sebenarnya, mengaku hanya ikut diajak oleh teman-temannya. Dia juga tidak mengetahui akan demo apa. “Saya ikutan aja,” ujarnya sambil tersenyum polos.

Warga Kramat Sentiong, Jakarta Pusat itu mengakui kalau dirinya dibayar untuk demo. Dia dan rekan-rekannya dibayar Rp 40 ribu per orang untuk ikut demo. Menariknya, dia mengaku malah pendukung Anies-Sandi saat Pilkada. “Saya pendukung Pak Anies,” ujarnya seraya tertawa seperti dilansir JPNN.

Pelibatan anak di bawah umur dalam aksi demonstrasi sendiri sudah banyak ditentang. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan terang-terangan menyebut bahwa pelibatan anak-anak untuk aksi demonstrasi tersebut melanggar undang-undang.

Komisioner Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Jasra Putra, mengingatkan dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa anak tidak boleh dilibatkan dalam demonstrasi.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi juga menyebut ada aturan terkait larangan itu turut mengatur sanksi hukum bagi para orang tua maupun oknum masyarakat yang melibatkan anak dalam aksi tersebut. [jpnn]

Gadis Muslim 8 Tahun di India Diperkosa dan Dibunuh, Picu Ketegangan Nasional

View Article

Kasus penculikan, penyekapan, pemerkosaan dan pembunuhan seorang anak perempuan berusia delapan tahun di India telah memicu perdebatan nasional. Jenazah korban yang bernama Asifa Bano (8) ditemukan di tengah hutan di dekat kota Kathua, negara bagian Jammu dan Kashmir pada 17 Januari 2018 lalu.

Kepolisian pun telah menahan setidaknya delapan orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Namun kasus yang awalnya sebatas kriminal, kini telah memicu perdebatan nasional dengan sebagian masyarakat menuntut keadilan bagi korban.

Sementara lainnya menyebut para tersangka yang telah ditahan telah diperlakukan tidak adil. Konflik antara kedua kelompok pun kini berkembang menjadi perselisihan agama, karena korban yang berasal dari komunitas muslim dan para tersangka yang beragama Hindu.

Mengutip BBC, para tersangka yang ditahan termasuk seorang anak di bawah umur, pensiunan pejabat pemerintah, serta petugas kepolisian lokal. Korban Asifa, adalah anak dari keluarga komunitas muslim nomaden yang hidup berpindah-pindah bersama dengan hewan ternak mereka.

Di musim dingin, tak jarang mereka berpindah ke hutan di Jammu untuk berlindung. Hal tersebut beberapa kali menyulut perselisihan dengan komunitas Hindu yang ada di wilayah tersebut.

Perdebatan semakin luas setelah dua menteri dari partai nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP) ikut hadir dalam aksi dukungan terhadap para tersangka. Kritikan pun disampaikan salah seorang anggota parlemen India, Rahul Gandhi, yang sekaligus pemimpin oposisi dari partai Kongres Nasional India.

"Bagaimana bisa seseorang melindungi para penjahat yang seperti setan?" tulis Gandhi dalam akun Twitter-nya, Kamis (12/4/2018). "Apa yang menimpa Asifa di Kathua adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak boleh berakhir tanpa hukuman." "Akan menjadi seperti apa kita jika kita membiarkan politik mempengaruhi terhadap tindakan brutal dan kejam pada anak-anak yang tidak berdosa?" tambahnya.

Kasus ini turut memicu gelombang aksi protes baik oleh kelompok yang membela korban maupun yang mendukung para tersangka. Rahul Gandhi turut memimpin aksi pawai lilin di Delhi pada Kamis (12/4/2018) malam.

Aksi lain telah direncanakan untuk membawa perhatian pemerintah pada kejahatan brutal terhadap perempuan di India.

Kepala Komisi Perempuan Delhi, Swati Maliwal mengatakan akan melakukan aksi mogok makan dan menuntut keamanan yang lebih baik bagi perempuan dan anak-anak di negara itu.

Beberapa aktivis perempuan juga merencanakan protes di Delhi dan juga sejumlah kota lainnya. []



Penulis : Agni Vidya Perdana
Editor : Agni Vidya Perdana

Pranala:
1. https://internasional.kompas.com/read/2018/04/13/19042981/gadis-8-tahun-di-india-diperkosa-dan-dibunuh-picu-perdebatan-nasional. 
2. https://international.sindonews.com/read/1297555/40/gadis-muslim-8-tahun-diperkosa-dan-dibunuh-picu-ketegangan-di-india-1523592727

Senin, 16 April 2018

Alhamdulillah, Empat Santri Indonesia Juara Debat Internasional

View Article

Duta Besar Indonesia untuk Qatar, Muhammad Basri Sidehabi menyampaikan kebanggaannya. Pasalnya, Indonesia menyabet juara pertama dalam kejuaraan 4th International Schools Arabic Debating Championship 2018, di Doha, Qatar 7-11 April 2018.

Basri mengundang peserta Indonesia di Wisma Duta untuk merayakan kemenangan tersebut.

"Kita bersyukur atas prestasi tim Indonesia menjuarai kejuaraan yang bergengsi ini. Kemenangan ini meningkatkan citra Indonesia di Qatar dan terus semangat guna menjadi generasi emas Indonesia 2045," tutur Basri, dalam siaran pers KBRI Doha kepada SINDOnews, Kamis (12/4/2018)

Ajang bergengsi yang digelar di Qatar National Convention Center Doha ini diikuti 50 negara-negara dari kawasan Amerika, Eropa, Asia, Australia dan Timur Tengah.

"Indonesia mengukir tinta emas di kancah Internasional sebagai Juara pertama International Schools Arabic Debating Championship 2018 untuk kategori non-Native di Qatar," ungkap Agung Muttaqien yang merupakan manager sekaligus pelatih tim Indonesia melalui pesan WhatsApp.

Peserta Indonesia juga memborong juara pertama, kedua, dan ketiga Best Speaker untuk kategori non-Native, "Alhamdulillah semalam kami diundang Pak Dubes dan Bu Dubes serta Staf KBRI Doha untuk malam bersama di Wisma Duta," ujar pengajar di Tazkia Internasional Islamic Boarding School (Tazkia IIBS) di Kota Malang, Jawa Timur ini seperti dilansir Sindo.

Menurut Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Doha, Anwar Lukman Hakim, tim Indonesia yang berasal dari santriwati Takzia IIBS ini dengan gemilang membawa sang merah putih ke atas panggung.

Tim terdiri atas Aftina Zakiyya Wafda, Aqidatul Izzha Rahayu, Nuriya Lailatus Sakinah dan Shofiah Achmad Zaky.

Indonesia berlaga pada kategori non-native speaker bersama 29 negara lainnya. Pada kategori ini, para siswa kelas 1 SMA  ini berhasil meraih Juara ke-1 setelah mengalahkan Pakistan di babak final.

Tidak hanya itu, tim juga meraih predikat Best speaker kategori non-native peringkat pertama, yakni Aqidatul Izzha Rahayu. Peringkat kedua dan ketiga, masing-masing Aftina Zakiyya Wafda dan Nuriya Lailatus Sakinah.

Selain itu Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang juga berhasil masuk tiga besar untuk pengajuan proyek Debate Pioneer, dan memeroleh bantuan teknis dari Qatar Debate untuk mengembangkan budaya debat pada masyarakat Indonesia.

Kemenangan tersebut mendapat respons dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

"Selamat kepada Tim Indonesia yang berhasil meraih juara pertama dalam kejuaraan 4th International Schools Arabic Debating Championship 2018, di Doha, Qatar pada 7-11 April 2018.

Ajang ini diikuti 50 negara-negara dari kawasan Amerika, Eropa, Asia, Australia dan Timur Tengah. Ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan untuk Indonesia, semoga generasi penerus khususnya bagi anak-anak muda Indonesia bisa mengikuti keberhasilan dari kompetisi ini," ungkapnya. [BersamaDakwah]

Di Depan Ustadz, Misionaris Mengaku Memurtadkan 100 Pemuda Islam

View Article

Datang seorang ibu kepada Ustaz Bachtiar Natsir.  Ia curhat anaknya seorang muslimah, berhijab sejak SMP dan dipacari oleh pemuda nasrani. Ayah dari anak tersebut adalah seorang tokoh Islam kenamaan.

Sekilas ini adalah persoalan cinta dan kegalauan.

Lalu datang lagi seorang anak muda kepada Ustaz Bachtiar juga. Kondisinya sudah dibaptis. Kemudian anak muda ini dilatih untuk menjadi misionaris dan anak muda ini berhasil mengkristenkan lebih dari 100 pemuda muslim.

Ustaz Bachtiar bertanya kepadanya ternyata anak muda itu memiliki panduan bagaimana ayat-ayat yang harus digunakan menghadapi target anak muda untuk dikristenkan.

Baca juga5 Pertanyaan Ini Sering Diajukan Misionaris untuk Memurtadkan Umat Islam 

Lalu ada lagi, seorang ibu yang ditarik di sebuah terminal, diajak untuk berdoa bersama. Suaminya dan anaknya pun marah kepada misionaris di terminal tersebut. Padahal sang ibu berhijab tapi ditarik untuk berdoa atas nama Yesus.

Ustaz Bachtiar melihat hal itu adalah fenomena puncak gunung es dari peristiwa kristenisasi yang sudah nampak sekali. Hampir di beberapa komplek di kawasan Jakarta, kata Ustaz Bachtiar melalui kanal AQL Center, telah disebarkan brosur tentang Kristen ke rumah-rumah.

Misionaris tidak peduli adanya SKB Tiga Menteri. Bagaimana menghormati agama orang lain dan mereka tetap ngotot mengetuk pintu orang Islam.

Di kesempatan lain, di daerah ada pelatihan PKK akan tetapi menghadirkan pelatih dari misionaris dan bahasa-bahasa kaum misionaris.

Ustaz Bachtiar menjelaskan bahwa Alquran sudah mengingatkan dengan jelas.

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Baca jugaJawaban atas Pertanyaan Misionaris untuk Memurtadkan Umat Islam (1)
Baca jugaJawaban atas Pertanyaan Misionaris untuk Memurtadkan Umat Islam (2) 

Kristenisasi sudah terjadi di Indonesia dan ini sebuah pertarungan. Lalu apa hikmah di balik ini semua? Kepada orangtua dan kepada para tokoh agama, kata dia, untuk menanamkan akidah pada anak kita semua. Kesesatan di bumi akan terus terjadi. Namun kita tetap yakin selama kita berpegangan terhadap "qul huwallahu Ahad" [BersamaDakwah]

Jumat, 13 April 2018

Penipuan dan Pengelabuan dalam Jual Beli

View Article

Kita lihat sekarang para pelaku bisnis berlaku tidak jujur, seringnya akal-akalan atau melakukan pengelabuan/ penipuan demi meraup untung yang banyak. Padahal kejujuran dapat meraih berkah, sedangkan menipu menjauhkan dari keberkahan pada harta.

Dari Jabir bin Abdillah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di Mekah saat penaklukan kota Mekah (tahun 8 H),

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ وَالْخِنْزِيرِ وَالأَصْنَامِ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ الْمَيْتَةِ فَإِنَّهَا يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ ، وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُلُودُ ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ . فَقَالَ « لاَ ، هُوَ حَرَامٌ » . ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عِنْدَ ذَلِكَ « قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ ، إِنَّ اللَّهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُومَهَا جَمَلُوهُ ثُمَّ بَاعُوهُ فَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai, mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk penerangan?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu haram.” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah melaknat Yahudi. Sesungguhnya, tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjual minyak dari lemak bangkai tersebut, kemudian mereka memakan hasil penjualannya.” (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim, no. 4132).

Beberapa pelajaran dari hadits di atas sudah dikaji di Rumaysho.Com:

1- Hukum jual beli patung

2- Hukum jual beli babi

3- Hukum jual beli bangkai

4- Hukum jual beli khamar (miras)

Sekarang ada satu pelajaran penting lainnya yang bisa digali yaitu larangan mengelabui dalam jual beli.

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa orang Yahudi kena laknat karena mereka melakukan pengelabuan. Lemak bangkai jelas haram untuk dijual, walaupun masih boleh dimanfaatkan menurut pendapat terkuat sebagaimana telah diterangkan dalam tulisan “Hukum jual beli bangkai“. Mereka kelabui dengan mencairkan lemak bangkai tersebut sehingga menjadi minyak yang cair lalu mereka jual. Kemudian mereka makan hasil penjualannya.

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan berkata, “Pengelabuan atau akal-akalan pada sesuatu yang telah Allah haramkan menyebabkan murka dan laknat Allah. Orang yang melakukan akal-akalan itu berdosa disebabkan karena melakukan tipu daya terhadap Allah Ta’ala. Orang seperti ini telah menyerupai orang-orang Yahudi yang terkena murka Allah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. Telah banyak bentuk akal-akalan di zaman ini, lebih-lebih dalam masalah jual beli. Itu bisa terjadi karena lemahnya iman dan kurangnya rasa takut pada Allah, juga karena meremehkan hukum syari’at. Ini pun disebabkan karena sudah terfitnah dengan dunia.” (Minhatul ‘Allam, 6: 17).

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim no. 102). Jika dikatakan tidak termasuk golongan kami, maka itu menunjukkan perbuatan tersebut termasuk dosa besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ.

“Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat makar dan pengelabuan, tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban 2: 326. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1058).

Semoga Allah memberikan kepada setiap pelaku bisnis muslim sifat jujur.



@ Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul, 8 Jumadats Tsaniyah 1435 H
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel: https://rumaysho.com/7154-penipuan-dan-pengelabuan-dalam-jual-beli.html

Kamis, 12 April 2018

Bersama Orang yang Dicintai pada Hari Kiamat

View Article

Setiap orang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang ia cintai meski mungkin saja amalnya jauh dari mereka. Ini adalah dorongan untuk berteman dengan orang sholih. Juga menunjukkan bahayanya berteman dengan orang kafir.

Zir bin Hubaisy berkata,

أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ الْمُرَادِىَّ أَسْأَلُهُ عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ يَا زِرُّ فَقُلْتُ ابْتِغَاءَ الْعِلْمِ فَقَالَ إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ.

“Saya mendatangi Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu ‘anhu. Saya bertanya tentang mengusap dua sepatu khuf. Shafwan berkata, “Apakah yang menyebabkan engkau datang, wahai Zir?” Saya menjawab, “Untuk mencari ilmu.” Ia berkata lagi, “Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia cari.”

Faedah dari penggalan hadits di atas:

1- Para ulama sangat semangat untuk mencari ilmu.

2- Di antara keutamaan menuntut ilmu adalah sampai malaikat pun membentangkan sayapnya sebagai tanda ridha dan menghormati setiap orang yang mencari ilmu. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i.

3- Setiap yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sampaikan mengenai perkara ghaib seperti perihal malaikat yang memiliki sayap dan mereka meletakkan sayapnya pada penuntut ilmu, wajib untuk dibenarkan seakan-akan hal itu kita lihat langsung.



قُلْتُ إِنَّهُ حَكَّ فِى صَدْرِى الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ بَعْدَ الْغَائِطِ وَالْبَوْلِ وَكُنْتَ امْرَأً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَجِئْتُ أَسْأَلُكَ هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِى ذَلِكَ شَيْئًا قَالَ نَعَمْ كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَوْ مُسَافِرِيِنَ أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ.

Maka saya berkata, “Sebenarnya sudah terlintas di hatiku untuk mengusap di atas dua sepatu khuf itu sehabis buang air besar atau kecil, sementara engkau termasuk salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, saya datang untuk menanyakannya kepadamu. Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut?” Shafwan menjawab, “Ya pernah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan jika kami bepergian, supaya kami tidak melepaskan khuf kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami terkena janabah. Namun, kalau hanya karena buang air besar atau kecil atau karena sehabis tidur, boleh tidak dilepas.

Faedah dari penggalan hadits di atas:

4- Jika seseorang mengenakan sepatu atau kaos kaki, maka lebih afdhol ia mengusap daripada ia mencopot dan mencuci kakinya.

5- Hendaklah orang yang memiliki kebingungan dalam hati tentang suatu masalah agar menanyakannya kepada orang yang berilmu sehingga keragu-raguan tersebut bisa hilang dari hatinya. Jadi jangan biarkan kebingungan terpendam dalam hati begitu saja.

6- Boleh seseorang yang bertanya menanyakan dalil apakah itu dari ayat atau hadits atau mungkin dari hasil ijtihad. Menjawab sembari membawakan dalil menunjukkan akan keikhlasan dan kejujuran seseorang yang memberikan jawaban.

7- Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya mengusap khuf. Hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits yang mutawatir. Mengusap khuf ini jadi pegangan Ahlus Sunnah sampai-sampai para ulama mencantumkan hal ini dalam kitab akidah mereka. Karena ternyata Rafidhah (baca: Syi’ah) menyelisihi hal ini. Mereka tidak menetapkan adanya mengusap khuf dan bahkan mengingkarinya. Tapi sungguh mengherankan, padahal yang meriwayatkan masalah mengusap khuf adalah sahabat ‘Ali bin Abi Tholib yang mereka agungkan. Mengusap khuf inilah yang menjadi syi’ar Ahlus Sunnah. Imam Ahmad berkata, “Hatiku tidak ada ragu sama sekali mengenai perintah mengusap khuf.”

8- Jangka waktu mengusap khuf bagi musafir adalah tiga hari tiga malam (3 x 24 jam), sedangkan orang mukim adalah sehari semalam (1 x 24 jam).

9- Hadats besar atau junub membatalkan mengusap khuf. Sedangkan hadats kecil seperti buang air besar, buang air kecil dan tidur tidak membatalkan mengusap khuf.



فَقُلْتُ هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِى الْهَوَى شَيْئًا قَالَ نَعَمْ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَبَيْنَا نَحْنُ عِنْدَهُ إِذْ نَادَاهُ أَعْرَابِىٌّ بِصَوْتٍ لَهُ جَهْوَرِىٍّ يَا مُحَمَّدُ. فَأَجَابَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى نَحْوٍ مِنْ صَوْتِهِ هَاؤُمُ وَقُلْنَا لَهُ وَيْحَكَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ فَإِنَّكَ عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَقَدْ نُهِيتَ عَنْ هَذَا. فَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَغْضُضُ. قَالَ الأَعْرَابِىُّ الْمَرْءُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ. قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Saya berkata lagi, “Apakah engkau pernah mendengar beliau menyebutkan tentang masalah hawa nafsu (cinta)?” Dia menjawab, “Iya pernah. Suatu ketika kami bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Di kala kami berada di sisi beliau, tiba-tiba ada seorang Arab Badui (pegunungan) memanggil beliau dengan suara keras sekali. Ia berkata, “Hai Muhammad!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab dengan suara yang sama kerasnya, “Mari ke mari.” Saya pun berkata kepada Arab Badui tersebut, “Celaka engkau ini, perlahankanlah suaramu. Sebab engkau ini benar-benar berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan aku dilarang seperti itu.” Namun Arab Badui itu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memelankan suaraku.” Kemudian ia berkata kepada beliau, “Ada seseorang mencintai suatu golongan, tetapi ia tidak dapat bertemu (menyamai) mereka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.”

Faedah dari penggalan hadits di atas:

10- Orang yang jauh dari ilmu biasa jauh dari adab atau akhlak yang baik seperti yang terdapa pada Arab Badui yang memanggil Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan suara keras.

11- Seseorang harus pintar meladeni orang yang jahil (bodoh) dengan cara yang baik.

12- Jika seseorang mencintai suatu kaum dan amalnya tidak bisa menggapai amal mereka, masih bisa ia bersama mereka karena setiap orang akan bersama dengan siapa yang ia cintai pada hari kiamat kelak. Semoga kita dapat bersama dengan Rasul, bersama dengan para khulafaur rosyidin, bersama dengan para sahabat karena kecintaan kita pada mereka dan mau mengikuti jalan mereka.

13- Keutamaan berkumpul dan berteman dengan orang baik dan sholih. Setiap orang akan tergantung pada teman baiknya. Karena disebutkan dalam pepatah Arab,

الصاحب ساحب

“Sahabat itu akan mudah mempengaruhi temannya.”

14- Setiap orang wajib membenci orang kafir agar ia tidak dikumpulkan bersama dengan mereka di hari kiamat kelak.



فَمَازَالَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى ذَكَرَ بَابًا مِنْ قِبَلِ الْمَغْرِبِ مَسِيرَةُ عَرْضِهِ أَوْ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِى عَرْضِهِ أَرْبَعِينَ أَوْ سَبْعِينَ عَامًا قَالَ سُفْيَانُ قِبَلَ الشَّامِ خَلَقَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مَفْتُوحًا يَعْنِى لِلتَّوْبَةِ لاَ يُغْلَقُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْهُ »

Tidak henti-hentinya beliau memberitahukan apa saja kepada kami. Sehingga akhirnya menyebutkan bahwa di arah barat itu ada sebuah pintu yang perjalanan luasnya jika ditempuh seseorang dengan berkendara, memakan waktu empat puluh atau tujuh puluh tahun perjalanan.”

Sufyan, salah seorang perawi hadits ini mengatakan, “Dari arah Syam, pintu itu dijadikan oleh Allah sejak hari Dia menciptakan seluruh langit dan bumi. Akan senantiasa terbuka untuk taubat, tidak pernah ditutup sampai matahari terbit dari sana.” (HR. Tirmidzi no. 3535. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Faedah dari penggalan terakhir dari hadits di atas:

15- Taubat itu berakhir sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya.

16- Wajib menyegerakan taubat sebelum datang waktu yang tiada manfaat penyesalan.

Semoga faedah-faedah dari hadits di atas bermanfaat. Moga Allah mengumpulkan kita bersama Nabi, para sahabat, dan orang-orang sholih pada hari kiamat kelak.



Referensi:
- Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 49-52.

- Syarh Riyadhish Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, terbitan Madarul Wathon, cetakan tahun 1426 H, 1: 108-115.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel: https://rumaysho.com/3397-bersama-orang-yang-dicintai-pada-hari-kiamat.html

Rabu, 11 April 2018

PDIP Sebut Jokowi Seperti Umar Bin Khattab, Ini Tanggapan Telak Wasekjen MUI

View Article

Ketua DPP PDIP Bidang Kemaritiman, Rokhmin Dahuri, meyakini bahwa Jokowi akan menang di Pilpres 2019 meskipun ada gerakan #2019GantiPresiden. Menurutnya, Jokowi mirip dengan Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

"Leadership dari kepemimpinan Pak Jokowi luar biasa karena beliau dan rakyat biasa, sangat approachable, beliau ke mana saja salaman enggak ada protokoler, beliau kayak Umar Bin Khattab dan datang ke sana kemari," kata Rokhmin di DPP PDIP, Lenteng Agung, Ahad (8/4/2018), seperti dikutip Kumparan.

Kepemimpinan Jokowi tersebut, lanjutnya, berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya yang berjarak dengan rakyat.
"Kalau presiden-presiden dulu kan ada jarak ya. Jadi karena itu kalau kami ikuti wah rakyat itu mind (pikiran) dan heart (hati) sudah jatuh pada Pak Jokowi," tandasnya.

Menanggapi pernyataan ada Presiden yang seperti Umar bin Khattab, Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain melontarkan tanggapan telak.

“Sayyidina Umar Tegas pada semua kemungkaran: pelacuran, homoseksual, khamar, judi, korupsi, narkoba, dan lainnya. Adil dalam menegakkan hukum tidak pandang bulu, tegas terhadap kuffar dan munafik, taat hukum, ditakuti setan. Ayo siapa kemarin yang bilang sekarang ini ada yang seperti beliau?! #ulangi,” kata Tengku Zulkarnain melalui akun Twitter pribadinya, @ustadtengkuzul, Selasa (10/4/2018).

Sabtu, 07 April 2018

Al-Biruni, Sang Penemu Benua Amerika

View Article

Selama berabad-abad, mayoritas sejarawan Barat berusaha meyakinkan dunia bahwa penjelajah Spanyol, Christopher Columbus, adalah orang pertama yang menemukan Benua Amerika. Namun, siapa sangka 'cerita resmi' itu justru mendapat sangkalan dari seorang pakar sejarah kenamaan asal Amerika sendiri, S Frederick Starr.

Sebuah artikel yang ditulis Starr menyatakan, sarjana Muslim dari Asia Tengah, Abu Raihan al-Biruni, telah menemukan benua itu berabad-abad sebelum kedatangan Columbus. "Al-Biruni adalah orang pertama yang menemukan 'dunia baru' selain Asia, Eropa, dan Afrika," kata Starr lewat satu artikelnya yang dimuat laman History Today pada 12 Desember 2013,

Melalui tulisannya tersebut, Starr menegaskan, Al-Biruni memang menemukan Amerika jauh sebelum Columbus melakukan pelayarannya pada 1498. Al-Biruni yang lahir pada 973 di negeri yang sekarang disebut Uzbekistan, adalah orang pertama yang secara resmi menunjukkan adanya daratan lain yang belum ditemukan di samudera lepas antara Eropa dan Asia. Dataran itulah yang kini dikenal sebagai Benua Amerika.

Meskipun al-Biruni menemukan Amerika pada awal abad kesebelas, hal itu tak lantas membuatnya mengklaim diri sebagai penemu pertama benua tersebut. Yang jelas, keahlian yang dimiliki al-Biruni pada geografi dan ilmu pemetaan, telah membawanya pada sebuah kesimpulan bahwa dunia ini sangat luas.

Menurut al-Biruni, bagian yang membentang dari pantai barat Eropa dan Afrika ke pantai timur Asia, hanya menyumbang sekitar dua per lima dari keselurahan di dunia. Al-Biruni memiliki pengetahuan yang mumpuni mengenai bahasa di negeri-negeri Timur Tengah dan India. Selain itu, ia juga menguasai beragam ilmu seperti matematika, astronomi, mineralogi, geografi, kartografi, geometri, dan trigonometri.

Pendidikan yang dijalani al-Biruni di bawah ulama besar seperti Ahmad al-Farghani, juga memberinya wawasan yang mendalam ilmu dari berbagai bidang dan peradaban. Al-Biruni memulai penelitiannya dengan menelusuri lokasi lintang dan longitudinal dari berbagai kota di Asia Tengah, India, Timur Tengah, dan Mediterania.

Setelah mempelajari karya-karya sarjana Yunani Kuno seperti Claudius Ptolemy dan Pythagoras, al-Biruni menjadi salah satu dari beberapa sarjana pada saat itu yang meyakini bahwa bumi berbentuk bulat. Keyakinannya tersebut bertentangan dengan kepercayaan masyarakat Eropa pada umumnya ketika itu yang mengatakan, bumi berbentuk datar. Guru al-Biruni, al-Farghani, juga berasumsi demikian dan melakukan pengukuran terhadap lingkar bumi dengan sangat baik dan akurat.

"Bahkan, Columbus sendiri juga menggunakan hasil perhitungan al-Farghani sebagai dasar untuk penjelajahan dunianya," tulis Starr yang juga menjabat profesor riset di Johns Hopkins University, Baltimore, Maryland, AS itu.

Namun, kata Starr lagi, Columbus ternyata gagal mencatat bahwa al-Farghani menggunakan satuan jarak versi Arab pada petanya, bukan Romawi. Kegagalan Columbus mengonversikan satuan Arab tersebut membuat penjelajah asal Spanyol itu terlalu meremehkan jarak perjalanannya sehingga dia pun mengalami kesulitan saat melaut.

"Selain itu, Columbus sejak awal memang tidak berniat menemukan benua Amerika ketika ia mulai berlayar. Karena, ia beranggapan perjalanannya akan membawanya langsung dari Eropa ke Asia," kata Starr lagi.

Baca jugaIni dia Bukti Penemu Benua Amerika Adalah Muslim, Bukan Colombus
Baca jugaMasa Keemasan Islam, Berbanggalah dan Azzamkan untuk Ulangi Kembali

Al-Biruni, seperti gurunya, juga memberikan perkiraan tentang lingkar bumi—yang ternyata jauh lebih akurat dari al- Farghani. Perhitungan yang dibuatnya hanya terpaut 10,44 kilometer dari pengukuran modern.

Al-Biruni juga termasuk ilmuwan pertama yang menggagas bumi mengorbit matahari (heliosentris). Gagasan itu jelas berlawanan dari pandangan umum yang lebih diterima waktu itu, yakni 'teori' geosentris.

Dalam karyanya yang belakangan dikenal sebagai Codex Masudicus, Biruni juga membuat hipotesis mengenai keberadaan Benua Amerika. Teori ini diusulkannya pada 1037, di mana ia akan menginjak usia 70 tahun. Atas alasan ini, karena tidak memiliki energi atau sarana untuk membuat perjalanan sendiri, keyakinan Al-Biruni tetap menjadi teori belaka.

Meskipun saat itu baru sebatas teori, hal tersebut tak lantas membatalkan klaim Al-Biruni atas penemuan Amerika pra-Columbus. Pasalnya, ada juga beberapa catatannya yang mengutip bahwa Norsemen dari Skandinavia pernah menyeberang ke Islandia dan Greenland. Pada akhir abad kesepuluh, Norsemen akhirnya sengaja mendarat di sebuah daratan (Kanada sekarang) hanya untuk diusir oleh penduduk asli yang sudah lebih dulu bermukim di sana.

"Dengan begitu, al-Biruni adalah orang pertama di dunia ini yang dikenal secara resmi mengklaim keberadaan 'dunia baru' (Benua Amerika) itu," kata Starr. []



Rep: Ahmad Islamy Jamil
Red: Agung Sasongko
Dipublikasikan oleh Republika

Jumat, 06 April 2018

Al-Qur'an dan Sains Jelaskan Munculnya Api di Dalam Lautan

View Article

Setelah Perang Dunia II, para ilmuwan menjelajahi samudera dan lautan mencari bahan-bahan mineral. Mereka terkejut menemukan bahwa pegunungan vulkanik terbentang di seluruh lautan sepanjang ribuan kilometer yang mereka sebut sebagai pegunungan bawah laut.

Dalam buku ‘Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah’ dijelaskan, dengan mempelajari bentangan pegunungan bawah laut ini, jelas bahwa gunung-gunung tersebut terbentuk sebagai akibat dari letusan-letusan dahsyat gunung berapi.

Terdapat jaringan raksasa pergeseran geologi yang meretakkan kerak berbatu Bumi dan mengitari celah akibat retakan tersebut. Pergeseran ini terutama berpusat di dasar laut.

Jaringan pergeseran geologi tersebut membentang hingga lebih dari 64 ribu kilometer dan kedalamannya mencapai sekira 65 kilometer menembus kerak berbatu. Jaringan pergeseran itu mencapai lapisan lunak yang dikenal sebagai zona lunak (astenosfer).

Di dalam astenosfer, bebatuannya dalam keadaan sebagian leleh dengan tingkat kepadatan dan kelekatan relatif tinggi. Arus panas menggiring berton-ton bebatuan yang meleleh itu ke dasar samudera. Selain itu, batuan tersebut juga menuju dasar beberapa lautan seperti Laut Merah dengan temperatur mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius.

Batuan ini yang diperkirakan berjumlah jutaan ton, kemudian mendorong air laut ke kanan dan kiri. Fenomena ini dikenal oleh para ilmuwan sebagai fenomena perluasan dan pembentukan kembali dasar laut dan samudera.

Daerah yang dihasilkan dari proses perluasan itu dipenuhi dengan magma, sehingga mengakibatkan munculnya api di dasar samudera dan beberapa kawasan dasar laut.

"Demi bukit, dan Kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi Baitul Ma'mur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya," Surah At Tur Ayat 1-8.

Fakta bahwa terdapat api di dalam laut telah disebutkan dalam Alquran sejak 14 abad lalu, jauh sebelum manusia mengenal teknologi canggih untuk bisa meneliti serta menemukan keberadaan api di dalam laut tersebut. [techno.okezone.com]




MasyaAllah…. maha benar allah dengan seluruh firmannya.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. al-Baqarah: 147).