Kamis, 29 Juni 2017

Muslim Indonesia Salurkan Rp 2 Miliar untuk Palestina

View Article

Umat Islam Indonesia telah menyalurkan dana sebesar Rp 2 miliar bagi rakyat Palestina yang dikelola dalam berbagai kegiatan selama bulan suci Ramadan dan program kemanusiaan lainnya.

Keterangan dari Pelaksana Fungsi Palestina di KBRI Amman, Yordania Nico Adam yang diterima di Jakarta, Rabu (21/6), menyebutkan umat Islam Indonesia setiap tahun selalu ingin bersedekah makanan berbuka puasa kepada rakyat Palestina yang berada di Masjid Al-Aqsa, namun usaha tersebut tidak pernah berhasil karena larangan dari otoritas Israel.

Menurut dia, pada awal Ramadan tahun ini ada larangan untuk berbuka puasa di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa, namun pada pekan kedua larangan tersebut dicabut.

Begitu mengetahui informasi tersebut, KBRI Amman langsung berkoordinasi dengan Abdillah Onim, seorang warga Indonesia di Gaza dan Abeer Zeyad, alumni peserta pelatihan peningkatan kapasitas yang diselenggarakan oleh Direktorat Kerja Sama Teknik, Kementerian LuarNegeri yang merupakan warga Yerusalem, untuk memberikan bantuan berbuka puasa bagi kaum muslim di Masjid Al-Aqsa.

"Alhamdulillah, akhirnya niat umat Islam Indonesia untuk berbagi dengan muslim Palestina di Masjid Al-Aqsa pada bulan suci Ramadan tercapai," ujar Abdillah Onim.

Hingga pekan terakhir di bulan Ramadan ini, dia bersama Abeer sudah melaksanakan tiga kali berbuka puasa bersama dengan setidaknya 1.800 muslim Palestina atas bantuan dari muslim Indonesia.

Abdillah juga menggelar beberapa kegiatan lainnya, seperti pembagian bahan pokok, bantuan dana pendidikan melalui program orang tua asuh, dan bantuan solar kepada 140 masjid di Gaza.

Semua kegiatan tersebut telah menghabiskan dana lebih dua miliar rupiah yang merupakan sumbangan dari umat Islam Indonesia. [republika/berdakwah]

Ade Armando Bangga “Masjid” Ini Perbolehkan Pria dan Wanita Bercampur dalam Satu Shaf

View Article

Ade Armando menyebarkan berita tentang “masjid” yang memperbolehkan pria dan wanita bercampur dalam satu shaf. Dosen Universitas Indonesia (UI) itu juga membanggakan “masjid” tersebut karena memperbolehkan wanita mengimami jamaah pria dan menerima LGBT.

“Alhamdulillah. Perkembangan Islam di Eropa mulai menemukan babak kebebasan baru. Di sana, didirikan masjid yang menepiskan segregasi gender. Pria dan perempuan bersatu di barisan yang sama. Imam shalat nya pun bisa perempuan. Masjid itu juga bisa menerima kaum LGBT,” tulis Ade melalui akun Facebook pribadinya, Senin (26/6/2017), sembari mengunggah tautan berita BBC.

“Tentu saja tak ada paksaan bagi umat Islam untuk sholat di sana. Mereka yang merasa bahwa praktek-praktek semacam itu tidak bisa diterima, dipersilakan sholat di masjid-masjid arus utama yang jumlahnya jauh lebih banyak. Namun sebagai alternatif, ini tentu melegakan. Mudah-mudahan, kehadiran masjid ini tidak direspons dengan tindak kekerasan dan teror kelompok lain,” pungkasnya.

Tulisan Ade ini menuai ratusan komentar. Umumnya warganet menunjukkan tanggapan tidak sependapat dengan Ade Armando. Pasalnya, dalam Islam telah diatur bahwa shaf laki-laki terpisah dari shaf perempuan dan jika jamaahnya ada laki-laki, maka yang boleh menjadi imam adalah laki-laki. Ada pun perempuan, hanya boleh menjadi imam bagi jamaah perempuan.

“Anjay..... Speechless sama bapak yg satu ini, disebut bercanda tp gak lucu... Disebut serius tapi kok koyo..... Nilai sendiri lah. Sejak kapan wanita jd imam sholat? Sejak kapan sholat dengan aurat terbuka untuk perempuan diperbolehkan? Perkembangan atau kemunduran? Anggapan pintar atau justru anggapan super bodoh?” kata Ali Rohman.

“Semoga dapat hidayah dan bertobat atau dapat azab kalo ga bertobat,” kata Hartono. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Begitulah lisan yang keluar dari penggiat Islam Liberal, pada dasarnya setiap lisannya adalah cermin kebodohan dan kebobrokannya sendiri. Sejarah dan fakta mengajarkan kita bahwa sejak zaman dahulu kala hingga sekarang yang sulit untuk di hadapi oleh kaum muslimin bukanlah kaum kafir, namun kaum munafiquun.

Rabu, 28 Juni 2017

Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad tentang Kelompok yang Tidak Suka Ikhwanul Muslimin

View Article

Umat Islam di puluhan negara serta para ulama yang menyukai Ikhwanul Muslimin. Bagaimana tidak, pergerakan Islam ini lantang membela Islam hingga berani berperang melawan Israel pada tahun 1948.

Ikhwanul Muslimin juga berjasa dalam kebangkitan umat dan mendukung kemerdekaan negeri-negeri muslim termasuk Indonesia.

Namun, ada dua kelompok yang tidak menyukai Ikhwanul Muslimin. Ustadz Abdul Somad, Lc, MA memaparkan penjelasan mengapa dua kelompok ini tidak menyukai Ikhwanul Muslimin.

Pertama, orang-orang liberal.

“Orang liberal sangat tidak suka. Mengapa? Karena Ikhwan membawa istilahnya Islam politik. Mereka (liberal) maunya Islam ibadah. Orang liberal kalau ada orang puasa sunnah, mereka nggak ngurus. Silakan. Orang liberal kalau ada orang shalat sunnah, dhuha, tahajud, silakan. Tapi kalau ada orang sudah bicara politik Islam, kalau orang sudah bicara ekonomi Islam, itu yang dikatakan Muhammad Natsir rahimahullah: Islam politik habisi, Islam ekonomi awasi, Islam ibadah biarkan. Karena Islam politik itu mengancam kekuasaan mereka,” terang Ustadz Abdul Somad.

Baca Juga: Siapa Ikhwanul Muslimin? Ini Penjelasan Singkat Padat Ustadz Abdul Somad

Adapun kelompok Islam yang membenci Ikhwanul Muslimin, menurut Ustadz Abdul Somad, kronologinya panjang.

“Dulu ulama-ulama Ikhwanul Muslimin itu dilindungi oleh Saudi Arabia. Ketika Sayyid Quthb digantung, adiknya yang bernama Muhammad Quthb itu ke mana? Ke Saudi Arabia. Dilindungi di sana. Maka pertemuan Ikhwanul Muslimin dengan penguasa Saudi Arabia sangat dekat. Namun ketika Amerika membuka pangkalannya di Riyadh, Ikhwanul Muslimin tidak setuju. Maka bagaimana menghabisi Ikhwanul Muslimin? Ditumbuhkanlah kelompok yang membenci Ikhwanul Muslimin. Lalu difitnahlah bahwa Sayyid Quthb itu takfiri, Hasan Al Banna itu sufi,” lanjut Ustadz
alumni Mesir dan Maroko ini. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Siapa Ikhwanul Muslimin? Ini Penjelasan Singkat Padat Ustadz Abdul Somad

View Article

Hari-hari ini, Ikhwanul Muslimin kembali menjadi perbincangan. Pergerakan Islam yang pernah berperang melawan Israel pada tahun 1948 dan berjasa dalam mendukung kemerdekaan Indonesia itu dituduh oleh sebagian oknum kelompok tertentu.

Siapakah sebenarnya Ikhwanul Muslimin? Ustadz Abdul Somad, Lc, MA memaparkan penjelasan menarik. Singkat, padat.

Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Imam Syahid Hasan Al Banna. Dilatarbelakangi oleh kondisi Mesir yang kacau balau seiring perubahan dari kerajaan ke republik, terlebih karena tumbangnya Turki Utsmani.

Tujuan didirikannya Ikhwanul Muslimin adalah untuk memperbaiki umat. Diambil nama Ikhwanul Muslimin sebab kaum muslimin bersaudara karena Islam, bukan karena suku dan lainnya.

Di belakang hari, Ikhwanul Muslimin mendirikan partai dan puncaknya berhasil mengantarkan Mursi menjadi Presiden. Namun hanya satu tahun karena dikudeta oleh Jenderal As Sisi. Amerika dan Israel berada di balik kudeta itu karena Ikhwanul Muslimin dianggap membahayakan kepentingan mereka khususnya dalam membantu Palestina melawan Israel.

Baca Juga: Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad tentang Kelompok yang Tidak Suka Ikhwanul Muslimin

“Maka ulama-ulama besar itu kebanyakan Ikhwanul Muslimin. Di Suriah ada Syaikh Abdul Fattah, ulama ahli hadits, secara politik Ikhwanul Muslimin. Ada Syaikh Muhammad Mushtafa As Siba’i, ulama ahli hadits, Ikhwanul Muslimin. Di Maroko ada Syaikh Abdullah Al Ghumari, itu Ikhwanul Muslimin. Kenapa? Karena ini gerakan kebangkitan Islam,” kata Ustadz alumni Mesir dan Maroko ini. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Hasil Survey: Mayoritas Pelaku Terorisme di AS Bukan Muslim

View Article

Berdasarkan survey dari sebuah studi terbaru yang dikutip dari media Amerika Serikat bernama Independent beberapa waktu lalu menyimpulkan bahwa ternyata mayoritas pelaku terorisme di AS adalah berasal dari kelompok esktrem kanan dan bukan berasal dari muslim.

Studi yang merupakan proyek antara Investigative Fund di Nation Institute dan Reveal from the Center for Investigative Reporting tersebut mengambil sejumlah sampel dari beberapa aksi terorisme pada tahun 2008 hingga 2016.

"Dan hasil dari studi tersebut ternyata mayoritas kelompok ekstrim kanan berada di balik hampir semua teror. Dan jumlahnya hampir dua kali lipat dari aksi yang dituduh dilakukan oleh kelompok yang mengaku muslim," tulis laporan yang dilansir The Independent pada Sabtu (24/6).

Dalam laporan lengkap tersebut, turut disertakan bukti yang diambil dari 63 insiden terorisme yang bermotif ideologi politik yang mirip seperti gerakan ISIS.

Namun aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis kanan berjumlah 115 serangan yang dilakukan pada periode yang sama.

Ironinya, dalam studi tersebut juga mencantumkan reaksi polisi atas teror yang melibatkan kelompok ekstremis yang mengaku Islam mencapai 76 persen. Namun reaksi terhadap kelompok ekstrimis kanan hanya sebesar 35 persen.

bahkan survey lainnya menyebutkan 36 orang tewas setiap harinya karena kejahatan biasa

Reaksi polisi disebutkan lebih tegas bila pelakunya mengaku beragama Islam. Reaksi tersebut lebih besar empat kali lipat dibanding operasi terhadap penumpasan ekstremis kanan.

Dan tertulis dari persentase aksi teror yang menyebabkan kematian, kelompok ekstremis kanan mencapai 33 persen lebih besar dibanding teroris yang mengaku Islam yang hanya 13 persen.

Sehingga laporan tersebut dianggap telah membantah kebijakan Presiden Trump yang semakin menyuburkan aksi Islamophobia di negara tersebut. [bersamaislam/berdakwah]

2 Masjid di AS Diserang, Al-Quran Dibakar dan Dirobek

View Article

Pihak berwenang di California, Amerika Serikat (AS) dilaporkan sedang menyelidiki 2 dugaan aksi kejahatan kebencian terhadap Islamic center di Sacramento dan Davis, dilansir dari Associated Press.

Sheriff Sacramento County mengatakan pihaknya sedang menyelidiki sebuah insiden di Masjid Annur Islamic Center di Sacramento.

Pihak berwenang mengatakan seorang deputi sheriff diarahkan oleh seorang warga Sabtu siang (24/06) dan dibawa ke sebuah altar dimana kitab suci Al-Quran dibakar bersama dengan daging babi asap, dan digantung dengan borgol di pagar.

Situs berita Sacramento Bee melaporkan kejadian terpisah saat seseorang yang mengendarai mobil mengeluarkan halaman yang dirobek dari Al Qur’an ke Islam Islamic Center of Davis Jumat malam (23/06), saat para jamaah menunaikan sholat tarawih.

Pada bulan Januari, seorang perempuan memecahkan jendela Masjid dan meninggalkan potongan daging babi asap di gagang pintu masuk Masjid.

Perempuan itu berusia 30 tahun, Ia bernama Lauren Kirk-Coehlo, dan baru-baru ini menerima hukuman masa percobaan lima tahun, setelah mengaku bersalah atas kejahatan kebencian terhadap Masjid. [RN/panjimas]

Doddy Illona, Pasangan Suami Istri Luar Biasa yang Menginspirasi

View Article
Foto IG : @illonaillonalona

Pasangan yang dewasa dan lillahi ta'ala, tentunya akan senantiasa bersiap siaga dengan berbagai varian cobaan dari sang Maha Kuasa. Termasuk ketika Allah menguji kita dengan 'melesetnya' sesuatu yang diharapkan. :)

Semua manusia, tentu menginginkan segala yang sifatnya ideal. Hmm, kalo bisa ... mendekati sempurna. Bahkan, kadang lupa menyiapkan kelapangan jiwa bila yang terjadi jauh dari mimpi.

Adalah kekaguman saya kepada para orang tua yang berbahagia kala Allah anugerahkan ananda yang 'istimewa.'

Tetap bersyukur, bershabar, menerima, merawat, dan mendidik buah hati mereka dengan paripurna.

Sebab, tak jarang orang tua (entah salah satu atau keduanya) yang jatuh terperosok ke jurang kekecewaan mendalam. Walhasil, sang anak malah diratapi. Tak mampu, tak mau menerima kenyataan di hadapan.

Ada pula yang terang-terangan tak mau merawat, sehingga amanah Allah ini diabaikan begitu saja.

Dibuang, ditinggalkan .... :(

Awal Ramadhan lalu, saya menonton sebuah tayangan. Lupa judulnya. Yang pasti menyuguhkan kehidupan 'para tokoh yang terlupakan.'

Mungkin mereka tak hits di dunia, namun termasyur di area langit di antara jajaran para malaikat.

Terkisah seorang ibu, yang rela mendedikasikan hidupnya untuk menampung anak-anak berkebutuhan khusus. Entah karena kesulitan ekonomi atau karena memang dibiarkan begitu saja.
Menyediakan rumah singgah yang berguna sebagai tempat bernaung, mengenyam pendidikan, pelatihan keterampilan, serta pengajaran kecakapan hidup sehari-hari.

Mantap! Beliau amat tulus lakukan itu semua. Terbukti dari respon anak-anak yang sangat sayang kepadanya.

Sang founder hanya berharap, semoga apa yang beliau lakukan bisa menjadi tabungan amalan sebelum menutup usia.

Then, kekaguman saya kepada sepasang pasutri muda saat scroll di laman instagram. Pasangan yang cantik dan tampan, namun Allah uji dengan buah hati yang mengidap Pfeiffer Syndrome type 2. *googling aja. Secara fisik, pengidap penyakit ini sudah nampak keunikannya.

Sekilas, saya tak menyangka jika mereka sebegitu ketje-nya dalam merawat sang buah hati tercinta. Performa mereka sungguh stylish, modest, kekiniian abis.

Dan inilah yang saya maksud di awal tulisan, pasangan yang DEWASA dan insya Allah lillahi ta'ala.

Saya terharu atas cara mereka memperlakukan puterinya. Totalitas. Tak pernah merasa bahwa anak mereka berbeda. Terlebih dalam panggilan kesayangan, mereka kerap memberikan panggilan yang baik dan indah. "Si cantik, si pintar ..." dan afirmasi positif lainnya.

So, bagi orang tua yang masiiih saja hobi membanding-bandingkan anaknya, bisa belajar dari mas (doddy)-mbak (Illona) ini kali, ya.

Pasangan muda yang hatinya bisa seluaaaas samudera ....

Anak kurang ini, kurang itu, dsb. 

Padahal, bisa jadi ... ortu belum bisa menemukan potensi emas anaknya. 

Setiap anak adalah unik, punya perannya masing-masing di dunia. Mereka adalah amanah, mereka sungguh berharga .... [ChikaAnanda/Berdakwah]

Kisah Nyata : Pusaka Milik Suku di Papua yang Berumur Ratusan Tahun Ternyata Al-Qur'an

View Article

Islam telah lama masuk ke bumi Papua sejak ratusan tahun yang lalu, hal ini terbukti dengan masih ada peninggalan-peninggalan ajaran Islam yang dipegang erat-erat oleh suku-suku di Papua sebagai sebuah hukum adat.

Disebuah wilayah antara Sorong dan Papua terdapat sebuah suku dipinggir pantai, kebanyakan di wilayah itu muslimin, namun mereka tak ada lagi yang mengajarkan islam hingga turun temurun, mereka muslim tapi tak tahu agama Islam.

Mereka sudah tidak kenal syahadat, mereka hanya mengenal satu ajaran adat, yaitu tak boleh makan babi, padahal babi adalah santapan yang masyhur di Irian, mereka menganggap itu hukum adat, padahal itu hukum Islam, dan kepala suku mempunyai satu barang yang dikeramatkan, ia adalah sebuah kotak yang menyimpan pusaka turun temurun yang dipegang oleh kepala suku dari generasi ke generasi, mereka tak tahu benda apa itu.

Ketika mulai banyak para nelayan muslimin yang datang, mereka minta sebidang tanah pada kepala suku untuk musholla, maka kepala suku mengizinkan, lalu mereka berkunjung kerumah kepala suku, dalam sambutan hangat itu kepala suku menunjukkan pusaka yang disimpan ratusan tahun dan diwariskan dari datuk datuknya.

Ketika kotak itu dibuka, maka para nelayan Muslim pun kaget dan bertakbir, ternyata isinya adalah Alqur’an yang sudah sangat tua Subhanallah.

Mereka ternyata sejak berabad abad sudah muslim, namun karena mungkin tak ada para dai dai pengganti, maka ajaran Islam pun hilang dan tak lagi dikenali, tinggallah pusaka yang diwasiati turun temurun itu yang ada pada mereka, ternyata ia adalah Kitabullah, Alqur’anulkarim.

Maka kepala suku ini pun kembali memeluk Islam, tak lama kabar sampai kepada Koramil dan kecamatan yang camat dan Danramil adalah Nasrani, mereka memanggil kepala suku itu dan mendampratnya habis habisan karena telah memberi sebidang tanah untuk muslimin membangun Musholla.

Kepala suku dipaksa untuk mengusir mereka dan kepala suku tetap pada pendiriannya, maka kepala suku itu ditelanjangi hingga hanya celana dalamnya yg disisakan, lalu ia disiksa dan dicambuki dengan kulit ikan pari, Ikan pari terkenal dengan kulitnya yang penuh duri tajam yang beracun, kepala suku tetap tidak mau merubah keputusannya, ia tetap ingin mempertahankan pusaka Alqur’an dan tak mau mencabut izin untuk pembangunan musholla. Subhanallah.

Senin, 26 Juni 2017

Sejarah Panjang Permusuhan Yahudi Terhadap Islam

View Article

Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka.

Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.

Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air.

Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis.

Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam

Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82)

Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;

Marhalah pertama:
Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.

Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:
  1. Pemboikotan (embargo) Ekonomi: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75)
  2. Membangkitkan fitnah dan kebencian: Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda: يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهَ اللهَ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.” Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya: Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99)
  3. Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.
  4. Memata-matai kaum Muslimin: Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119)
  5. Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49)

Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.

Marhalah kedua:
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:
  1. Pengusiran Bani Qainuqa’
  2. Pengusiran bani Al Nadhir
  3. Perang Bani Quraidzoh
  4. Penaklukan kota Khaibar

Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.

Marhalah ketiga:
Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:
  1. Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
  2. Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
  3. Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.

Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:
  1. Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.
  2. Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H. Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.
  3. Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk.

Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:
  1. Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
  2. Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
  3. Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.

Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:
  1. Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
  2. Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
  3. Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
  4. Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
  5. Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.

Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.

Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.

Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.
Artikel UstadzKholid.com dikutip oleh : https://muslim.or.id/496-yahudi-islam-dalam-sejarah.html

40 Ribu Orang Masuk Islam Setelah Penghina Nabi Muhammad Tewas Digigit Anjing

View Article

Orang-orang Nasrani itu bersuka cita. Mereka meluapkan kegembiraannya karena Pemimpin Mongol yang tadinya beragama Islam kini murtad.

Dalam perayaan yang dihadiri para tokoh Nasrani itu, tampillah seorang pendeta. Dengan segagah mungkin, ia ingin tampil mengkesima semua mata yang tertuju padanya. Ia juga ingin menguatkan pendirian sang raja. Agar tetap dalam kemurtadannya, dan tak sedikitpun melirik kembali agama Islamnya.

Dalam ceramahnya, pendeta itu menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Baru beberapa ucapan, tiba-tiba seekor anjing pemburu yang terikat di arena itu menyalak keras. Orang-orang terkejut. Tapi belum hilang keterkejutan itu, dengan cepat anjing tersebut lepas dari ikatannya dan berlari mencakar wajah pendeta. Masih beruntung, orang-orang di sekitar pendeta itu berhasil menghentikan aksi anjing tersebut.

“Itu pasti gara-gara engkau mencela Nabi Muhammad, karena itu anjing ini marah dan menyerangmu,” orang-orang mengingatkan sang pendeta yang kini wajahnya terluka.
“Oh, tidak. Anjing ini hanya salah merespon. Ia mungkin terkejut dan mengira isyarat tanganku tadi hendak menyerangnya,” sergah sang pendeta.

Ia pun kemudian bersiap melanjutkan kembali ceramahnya. Tak kapok, ia mulai menghina Nabi Muhammad lagi. Baru terucap beberapa kata-kata keji tentang Rasulullah, anjing tadi berontak dan lepas dari ikatan. Secepat kilat, ia menyambar leher pendeta dan merobek dadanya. Seketika pendeta itu roboh. Tak lagi bernyawa.

Teriakan histeris segera terdengar. Ada yang takut, pasti. Tetapi lebih banyak lagi yang merenungi peristiwa ini. Tidak mungkin ini kebetulan saja. Tidak mungkin anjing itu menyerang dua kali pada saat Nabi dihina kecuali ia digerakkan oleh Dzat yang Maha Kuasa. Akhir riwayat sang pendeta, secara dhahir, memang akibat dikoyak anjing. Tapi di balik itu, sesungguhnya kematian dengan cara mengerikan itu adalah adzab dari Dzat yang tidak ridha Muhammad dihina.

Siapa Dzat itu kalau bukan Allah? Siapa yang kuasa melakukan hal itu kalau bukan Rabb yang mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Maka, mereka pun kemudian berbondong-bondong masuk Islam.

“Karena kejadian ini,” tutur Ibnu Hajar Al Asqalani seperti ditulis Imam Adz Dzahabi dalam Mu’jamus Syuyuukh, “40 ribu orang Mongol masuk Islam.” Allahu akbar! [kisahhikmah/berdakwah]

Khatam 3 Kali dan I'tikaf Penuh, Anak Ini Ternyata Putra Gubernur

View Article

Terbayangkah ada anak seorang gubernur yang menghabiskan 10 malam terakhir Ramadhannya di masjid? Tak hanya itu, anak tersebut juga sudah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak tiga kali. Dia bernama Hadi. Siapakah sang ayah yang sehari-hari menjadi gubernur?

Hadi adalah anak Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Dia masih duduk di kelas 3 SMP. Tak seperti kebanyakan anak-anak seusianya, Hadi bukan menonton youtube, tapi justru senang mengaji. Dan dia melakukan i'tikaf selama 9 hari di Masjid Al-Muttaqien, di kompleks Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat.

Hal itu berdasarkan kesaksian Rinanda Halfi Muhammad, yang dituliskan dalam akun Instagramnya r_halfi_m. Berikut penuturannya.

Ada cerita menarik di itikaf Ramadhan tahun ini, setiap pagi pas saya mau pulang, Masjid Al-Muttaqin sudah kosong tinggal menyisakan satu anak kecil ini dia asik sendiri baca Al Qur'an sangat menikmati banget baca Al-Quranya. Ngeliat dia antusias baca Quran kaya ngeliat anak-anak lain seumurnya antusias nontonYouTube.

Di hari ke 9 Itikaf (29 Ramadhan) ini saya penasaran ngobrol ama anak kecil ini ternyata namanya Hadi dia kelas 3 SMP dimana anak seumurnya doyan nonton YouTubeyonglex, anak kecil ini doyannya baca AlQuran.

Yang bikin salute lagi dia cerita, selama 9 hari dia ga pulang. Dia satu-satunya jamaah di Masjid ini yang full Itikaf tanpa pulang. Hebat banget!

Belom habis keterkaguman saya, saya bertanya, lagi namatin Quran ya? Jawaban adik ini bikin saya makin bengong, Alhamdulillah mas ini yang ke 3. Dalem hati malu, saya aja belom beres khatamin Quran, adik ini udah 3 kali dan full ga pulang ke Rumah.

Pembawaan adik ini ramah & ceria sekali, sesekali pas bosan, dia buka hp ga tau apa yang dia liat dia senyum-senyum sendiri lalu dia lanjut lagi baca Quran nya. Dalam hati saya "hebat sekali ini anak, sejak kecil sudah sangat cinta Quran dan Masjid", saya sebagai org yg udah dewasa jujur sangat malu & ketampar.

Yang bikin saya penasaran, siapa orang tuanya? Ko hebat banget anak sekecil ini yang biasanya doyan main dan nonton YouTube kok ini rela buat Full tinggal di Masjid dan namatin Quran sampai 3 kali.

Saya makin tercengang karena, orang tuanya adalah seorang gubernur. Yang tak lain Bapak Ahmad Heryawan dan Ibu Netty (Gubernur Jawa Barat). Ya adik Hadi ini anak bungsu Pak Aher dan ibu Netty

Di bayangan saya, anak pejabat itu kebanyakan pertantang petenteng sok jago, nakal, hobinya main buang-buang duit.Masya Allah ditengah kesibukannya pak Aher dan Ibu Netty ternyata jago dalam mendidik anak. Menjadi respect berkali-kali lipat kepada mereka. Kesibukan amanah sebagai Gubernur beliau tetap bisa membimbing anaknya menjadi anak Sholeh. Bahkan sangat Sholeh. Penilaian seorang pemimpin itu bagus bisa dinilai dari memimpin keluarganya dulu.

Respect buat Pak Aher dan Ibu Netty ditengah kesibukannya memimpin Jabar, tetap bisa mendidik anaknya menjadi anak soleh. Sangat menginspirasi saya, semoga kelak saya juga bisa mempunyai Anak yang Sholeh. [wajada/berdakwah]

Pertanyaan Seputar Puasa Syawal yang Wajib Kamu Ketahui

View Article

Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ …

“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)

Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.

Dianjurkan untuk Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka.

Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)

Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.


Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri.

Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawal hingga keluar waktu (bulan Syawal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.

Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)

Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih Dahulu

Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.

Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)

Catatan: Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.

Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan).

Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!


Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa Sunnah

Permasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)

Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id , dipublish ulang oleh https://rumaysho.com/521-jangan-lupa-lakukan-puasa-syawal.html

Sabtu, 24 Juni 2017

Jelang Lebaran, Saudi Gagalkan Upaya Teror di Masjidil Haram

View Article

Dua hari menjelang perayaan Idul Fitri, aparat keamanan Arab Saudi berhasil menggagalkan upaya seorang pria yang ingin melakukan aksi bom bunuh diri di Masjidil Haram.

Kementerian Dalam Negeri Saudi menyatakan, aparat mengepung pria tersebut di sebuah rumah di Ajyad al-Masafi, Mekkah, pada Jumat (25/6).

Menolak untuk menyerahkan diri, pria tersebut sempat terlibat baku tembak dengan aparat hingga akhirnya meledakkan dirinya sendiri.

Akibat baku tembak tersebut, rumah tempat penyergapan terjadi itu runtuh, melukai enam warga asing dan lima personel pasukan keamanan.

Kemdagri juga melaporkan, ada tiga sel teror yang merencanakan serangan terhadap jemaah dan pasukan keamanan di Masjidil Haram menjelang berakhirnya Ramadan.

Sebelumnya, di hari yang sama, pasukan keamanan menembak mati seorang buron militan di persembunyiannya di daerah Al-Aseelah, Mekkah. Sel ketiga juga sudah dilumpuhkan di Kota Laut Merah.

Hingga kini, belum jelas latar belakang ketiga sel militan tersebut. Namun selama ini, kelompok militan ISIS kerap merencanakan serangan di Mekkah.

Pada Mei tahun lalu, pasukan keamanan Saudi menembak mati dua anggota ISIS di Mekkah, sementara dua militan lainnya meledakkan diri di dekat kota tersebut. [cnn/tempo]

Bagikan! Inilah 6 Sunnah Nabi di Hari Raya Idul Fithri

View Article

Apa saja amalan atau adab yang perlu diingat ketika kita berada di hari Idul Fithri? Berikut penjelasannya.

1- Disunnahkan untuk mandi sebelum berangkat shalat Idul Fithri
Mandi ketika itu disunnahkan. Yang menunjukkan anjuran ini adalah atsar dari sahabat Nabi. Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seseorang pernah bertanya pada ‘Ali mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Al-Baihaqi, 3: 278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al-Irwa’, 1: 177)

Ada riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma sebagai berikut.

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang. (HR. Malik dalam Al-Muwatho’ 426. Imam Nawawi menyatakan bahwa atsar ini shahih)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa para ulama sepakat akan disunnahkannya mandi untuk shalat ‘ied.

Dikatakan dianjurkan karena saat itu adalah berkumpungnya orang banyak sama halnya dengan shalat Jum’at. Kalau shalat Jum’at dianjurkan mandi, maka shalat ‘ied pun sama.

2- Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik
Ada riwayat yang disebutkan dalam Bulughul Maram no. 533 diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki baju khusus di hari Jumat dan di saat beliau menyambut tamu. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adab Al-Mufrad)

Ada juga riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa ‘Umar pernah mengambil jubah berbahan sutera yang dibeli di pasar. Ketika ‘Umar mengambilnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Ibnu ‘Umar lantas berkata, “Wahai Rasulullah, belilah pakaian seperti ini lantas kenakanlah agar engkau bisa berpenampilan bagus saat ‘ied dan menyambut tamu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata,

إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ

“Pakaian seperti ini membuat seseorang tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Bukhari, no. 948)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempermasalahkan berpenampilan bagus di hari Idul Fithri. Yang jadi masalah dalam cerita hadits di atas adalah jenis pakaian yang ‘Umar beli yang terbuat dari sutera.
Ada juga riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُبَّةٌ يَلْبَسُهَا لِلْعِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fithri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya, 1765)
Diriwayatkan pula dari Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa memakai pakaian terbaik di hari ‘ied.

Aturan berpenampilan menawan di hari ‘ied berlaku bagi pria. Sedangkan bagi wanita, lebih aman baginya untuk tidak menampakkan kecantikannya di hadapan laki-laki lain. Kecantikan wanita hanya spesial untuk suami.

3- Makan sebelum shalat Idul Fithri
Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352. Syaikh Syu’aib  Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Untuk shalat Idul Fithri disunnahkan untuk makan sebelum keluar rumah dikarenakan adanya larangan berpuasa pada hari tersebut dan sebagai pertanda pula bahwa hari tersebut tidak lagi berpuasa.

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Al-Fath (2: 446) menyatakan bahwa diperintahkan makan sebelum shalat Idul Fithri adalah supaya tidak disangka lagi ada tambahan puasa. Juga maksudnya adalah dalam rangka bersegera melakukan perintah Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ .. وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar pada hari Idul Fithri (ke tempat shalat, pen.) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Bukhari, no. 953)

Kalau tidak mendapati kurma, boleh makan makanan halal lainnya.

4- Bertakbir dari rumah menuju tempat shalat
Ketika puasa Ramadhan telah sempurna, kita diperintahkan untuk mensyukurinya dengan memperbanyak takbir. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).

Dalam suatu riwayat disebutkan,

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya Idul Fithri sambil bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/1/2. Hadits ini mursal dari Az-Zuhri namun memiliki penguat yang sanadnya bersambung. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)

Ibnu Syihab Az-Zuhri menyatakan bahwa kaum muslimin ketika itu keluar dari rumah mereka sambil bertakbir hingga imam hadir (untuk shalat ied, pen.)

Namun kalau kita lihat dari keumuman ayat Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menunjukkan perintah bertakbir itu dimulai sejak bulan Ramadhan sudah berakhir, berarti takbir Idul Fithri dimulai dari malam Idul Fithri hingga imam datang untuk shalat ‘ied.

Takbir yang diucapkan sebagaimana dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah, bahwasanya Ibnu Mas’ud bertakbir,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd. (artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, segala puji bagi-Nya).

Kalau lafazh di atas takbir “Allahu Akbar” ditemukan sebanyak dua kali. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah pula disebutkan dengan sanad yang sama dengan penyebutan tiga kali takbir. (Lihat Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 36442)

Artinya di sini, dua atau tiga kali takbir sama-sama boleh.

Syaikhul Islam menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, itu juga diperbolehkan. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24: 220)

Disyari’atkan bertakbir dilakukan oleh setiap orang dengan menjaherkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab. (Majmu’ah Al-Fatawa, 24: 220)

5- Saling mengucapkan selamat (at-tahniah)
Termasuk sunnah yang baik yang bisa dilakukan di hari Idul Fithri adalah saling mengucapkan selamat. Selamat di sini baiknya dalam bentuk doa seperti dengan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima amalan kami dan kalian). Ucapan seperti itu sudah dikenal di masa salaf dahulu.

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2: 446)

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka.” (Al-Mughni, 2: 250)

Namun ucapan selamat di hari raya sebenarnya tidak diberi aturan ketat di dalam syari’at kita. Ucapan apa pun yang diutarakan selama maknanya tidak keliru asalnya bisa dipakai. Contoh ucapan di hari raya ‘ied:
‘Ied mubarak, semoga menjadi ‘ied yang penuh berkah.

Minal ‘aidin wal faizin, semoga kembali dan meraih kemenangan.
Kullu ‘aamin wa antum bi khair, moga di sepanjang tahun terus berada dalam kebaikan.
Selamat Idul Fithri 1437 H.
Sugeng Riyadi 1437 H (selamat hari raya) dalam bahasa Jawa.
Ucapan selamat di atas biasa diucapkan oleh para salaf setelah shalat ‘ied. Namun jika diucapkan sebelum shalat ‘ied pun tidaklah bermasalah. (Lihat bahasan Fatwa Islam Web 187457)

6- Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di hari ied (ingin pergi ke tempat shalat, pen.), beliau membedakan jalan antara pergi dan pulang. (HR. Bukhari, no. 986)

Di antara hikmah kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara jalan pergi dan pulang adalah agar banyak bagian bumi yang menjadi saksi bagi kita ketika beramal. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al-Zalzalah : 4)

Rasul lalu bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا

“Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi jadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, “Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi. (HR. Tirmidzi no. 2429. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Namun hadits ini punya penguat dalam Al-Kabir karya Ath-Thabrani 4596, sehingga hadits ini dapat dikatakan hasan sebagaimana kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy dalam Bahjah An-Nazhirin, 1: 439)

Semoga bermanfaat. Yuk amalkan!
Semoga hari ied kita penuh berkah, taqabbalallahu minna wa minkum, kullu ‘aamin wa antum bi khair.

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber : https://rumaysho.com/13875-6-sunnah-nabi-di-hari-idul-fithri.html

SIMAK VIDEO BERIKUT, JANGAN LUPA SHARE!

Jumat, 23 Juni 2017

Bagaimana Panduan Dari Zakat Fitrah? Simak Berikut Ini

View Article

Berikut ini adalah beberapa panduan singkat tentang bagaimana sebaiknya berzakat fitrah sesuai dengan sunnah dan tuntunan dari Rasulullah dan para sahabat. Silahkan disimak, insyaallah bermanfaat agar zakat kita dapat tepat sasaran dan berkah.

WAKTU MEMBAYAR ZAKAT FITRAH
Dilihat dari waktunya, pembayaran zakat fitrah ada 4 tingkatan:

1. Dibolehkan membayar zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya.
"Ibn Umar radliallahu ‘anhu, bahwa beliau membayar zakat fitrah kepada panitia penerima zakat fitrah. Mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum hari raya." (HR. Bukhari secara muallaq, keterangan hadis no. 1511).

2. Dianjurkan mengeluarkan zakat fitrah pada pagi hari raya sebelum shalat id.
"Bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan zakat fitrah untuk dibayarkan sebelum masyarakat berangkat shalat id." (HR. Bukhari 1509).

3. Tidak boleh menunda pembayaran zakat fitrah sampai setelah shalat. Barangsiapa yang mengakhirkan pembayaran zakat fitrah setelah shalat tanpa udzur maka dia harus bertaubat dan segera mengeluarkannya.
“Siapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat id, maka zakatnya diterima. Dan siapa yang memberikannya setelah shalat id, maka nilainya hanya sedekah biasa.” (HR. Abu Daud 1609, Ibn Majah 1827, dan dihasankan Al-Albani).

ZAKAT FITRAH HANYA DENGAN BAHAN MAKANAN POKOK
Zakat fitrah hanya boleh dibayarkan dalam bentuk bahan makanan yang umumnya digunakan masyarakat setempat, seperti beras, kurma, atau gandum.

"Kami mengeluarkan zakat fitrah pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan satu sha’ bahan makanan" (HR. Bukhari 1510)

“Yang menjadi makanan pokok kami adalah gandum, anggur kering, keju, dan kurma.” (HR. Bukhari 1510)
Bolehkah membayar zakat fitrah dalam bentuk uang?

Tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang. Karena hal ini bertolak belakang dengan ajaran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini adalah pendapat hampir seluruh ulama.

Imam Malik mengatakan, “Tidak sah jika seseorang membayar zakat fitri dengan mata uang apa pun. Tidak demikian yang diperintahkan Nabi.” (Al-Mudawwanah Syahnun)

Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Penunaian zakat fitri wajib dalam bentuk satu sha’ dari umumnya bahan makanan di negeri tersebut pada tahun tersebut.” (Ad-Din Al-Khash)

Imam Ibn Qudamah mengatakan: Jika ada orang yang mengeluarkan zakat dengan selain bahan makanan, berarti dia telah menyimpang dari dalil nas, sehingga tidak sah, seperti mengeluarkan zakat dalam bentuk uang. (Al mughni, 5/482)

An Nawawi mengatakan: Tidak sah membayar zakat fitrah dengan uang menurut madzhab kami. Ini adalah pendapat Malik, Ahmad dan Ibnul Mundzir. (Al Majmu’, 6/144)

UKURAN ZAKAT FITRAH
Ukurannya satu sha’ untuk semua jenis abahan makanan. Ukuran satu sha’ itu sama dengan empat mud. Sedangkan satu mud adalah ukuran takaran yang sama dengan satu cakupan dua tangan. Ukuran satu sha’ kurang lebih setara dengan 3 kg. (Majmu’ fatawa komite fatwa Arab saudi, no. Fatwa: 12572).

ZAKAT FITRAH HANYA UNTUK ORANG MISKIN
Golongan yang berhak menerima zakat fitrah adalah fakir miskin saja, dan tidak boleh diberikan kepada selain fakir miskin.

Ibnul Qoyim mengatakan:
Diantara petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengkhususkan fakir miskin untuk zakat ini (zakat fitrah). Beliau tidak membagikannya kepada semua golongan penerima zakat yang jumlahnya delapan. Beliau juga tidak memerintahkannya, dan tidak ada seorangpun sahabat yang melakukannya, tidak pula ulama setelahnya…(Zadul Ma’ad, 2/21)

ZAKAT FITRAH DIBAYAR DI TEMPAT
Hukum asalnya, zakat fitrah didistribusikan kepada fakir miskin yang berada di daerah orang yang membayar zakat. Namun, dibolehkan mengirim zakat fitrah ke daerah lain karena adanya kebutuhan atau maslahat lainnya. Syaikh Abdul Aziz bin baz rahimahullah ditanya tentang hukum memindahkan zakat fitrah. Beliau menjawab: Boleh memindahkannya, dan sah zakatnya, menurut pendapat ulama yang paling kuat. Namun membayar zakat zakat fitrah di daerah tempat tinggalmu itu lebih baik dan lebih menjaga kehati-hatian dalam beramal. (Majmu’ fatawa syaikh Ibn Baz, 14/215). Allahu a’lam. [Ustadz Ammi Nur Baits/konsultasisyariah.com]

Mengenai pendapat lain yang mengatakan boleh dibayarkan dalam bentuk uang, silakan dibaca di sini:
https://konsultasisyariah.com/7001-zakat-fitrah-dengan-uang.html

Mengenal Syiah: Antara Syiah Dan Rafidhah, Apa Perbedaannya?

View Article

Seorang muslim selain dituntut untuk mempelajari kebenaran, juga harus mengetahui kebatilan. Di dalam Al Qur’an pun Allah ta’ala selain menjelaskan jalan kebenaran (sabilul mu’minin)[1] juga menjelaskan jalan kebatilan (sabilul mujrimin)[2].

Hal ini menunjukan bahwa seorang muslim harus memahamai kedua hal tersebut. Sebagaimana yang dipahami oleh sahabat Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata “dahulu orang orang bertanya kepada Rosulullah Shallalllahu ‘Alaihi Wasallam tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada nya tentang keburukan, karena takut terjerumus kepadanya”.[3]

Dan betul apa yang dikatakan oleh seorang penyair :

عرفت الشرّ لا للشرّ……………. ولكن لتوقّيه
ومن لا يعرف الشرّ……………. من الناس يقع فيه
“aku mengetahui keburukan bukan untuk berbuat keburukan, akan tetapi untuk menghindarinya.
Dan barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan dari manusia, dia akan terjatuh kedalamnya”

Diantara bentuk kebatilan yang sekarang sedang menjadi isu sentral di masyarakat dunia secara umum dan di masayarakat indonesia seara khusus adalah isu syiah. Di indonesia sendiri, mereka sudah membuat keresahan dimana mana. Mereka begitu aktif menyebarkan dan mendakwahkan ajarannya. Baik dengan tulisan, ceramah, gerakan sosial, politik, hingga aksi kekerasan pun mereka lakukan demi melancarkan tujuannya. Berbagai macam teror, intimidasi, keonaran, ancaman dan lainnya sudah mereka lakukan. Kita pun menyaksikan, banyak kaum muslimin yang dangkal akidahnya, sudah terpengaruh oleh ajaran mereka.

Maka menjadi penting bagi umat islam indonesia untuk sedikit banyak mengetahui ajaran ini. Dan di makalah ini –serta makalah makalah selanjutnya insya Allah– akan dibahas secara ringkas tentang syiah, definisi, akidah, sejarah dan hal yang lainnya. Dengan harapan Allah ta’ala menyelamatkan diri kita dari syubhat-syubhat mereka. Dan tetap menjaga diri kita dalam kebenaran ajaran islam yang murni sebagaimana yang dipahami oleh para pendahulu kita.

Siapakah yang dimaksud dengan syiah
Secara bahasa syiah bermakna kelompok, penolong, dan pengikut[4]. Adapun secara istilah para ulama berbeda beda[5] dalam mendefinisikannya.[6] Namun bila dicermati kembali, perbedaan tersebut tidak terlepas dari keberadaan ajaran syiah yang terus mengalami perkembangan. Syiah di awal kemunculannya berbeda dengan syiah di jaman jaman setelahnya. Dahulu tidak lah dinamakan syiah kecuali mereka yang mengutamakan Ali bin Abi Thalib diatas Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu, [7]dengan tetap mengutamakan Abu Bakar dan Umar bin khatab Radhiyallahu ‘Anhu.[8]

Namun pada masa perkembangannya syiah mengalami banyak sekali perubahan. Berbagai penyimpangan akidah disusupkan dalam ajaran syiah. Orang orang yang memiliki kebencian dan dendam kesumat kepada umat islam bersembunyi dibalik topeng syiah. Sehingga akhirnya para ulama pun enggan menyebut mereka dengan syiah dan lebih suka menyebut mereka dengan nama Rafidhah.

Definisi Rafidhah dan sebab penamaannya.[9]
Adapun rafidhah secara bahasa bermakna meninggalkan. Adapun secara istilah rafidhah adalah suatu aliran yang menisbatkan dirinya kepada syiah (pengikut) ahlul bait, namun mereka berlepas diri (baro’) dari Abu Bakar dan Umar bin Khathab, serta seluruh sahabat yang lain kecuali beberapa dari mereka, juga mengkafirkan dan mencela mereka.

Sebagian ulama menyatakan bahwa sebab penamaan Rafidhah adalah karena mereka meninggalkan dan menolak (rofadho) kepemimpinan (imaamah) Abu Bakar dan Umar. Dengan meyakini bahwa kepemimpinan yang seharusnya sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah ditangan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhum.

Namun mayoritas ulama menyatakan bahwa penamaan rafidhah bermula pada masa Zaid bin Ali Rahimahullah. Yang mana ketika itu beliau meyakini bahwa Ali lebih utama dibandingkan Utsman. Beliaupun masih memberikan loyalitasnya kepada Abu Bakar dan Umar dan menganggap mereka sebagai manusia terbaik sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namun ternyata diantara pengikutnya yang telah berbaiat kepadanya ada sebagian orang yang justru mencela Abu bakar dan Umar. Maka zaid pun langsung menegur dan mengingkari mereka, hingga akhirnya mereka berpecah belah dan meninggalkan Zaid bin Ali. Maka Zaid pun berkata kepada mereka, “kalian telah meninggalkanku” (rofadhtumuunii), maka sejak saat itulah mereka dikenal dengan nama Rafidhah.

Syiah atau Rafidhah?
Berdasarkan penjelasan diatas, bisa kita lihat bahwasanya kata syiah memiliki makna yang positif dan baik, apalagi jika dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, yang bermakna pengikut atau penolong Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu. Adapun kata Rafidhah berkonotasi negatif. Karena bermakna penolakan terhadap Abu Bakar dan Umar Rodhiyallahu Anhu atau kepada Zaid bin Ali menurut pendapat jumhur. Hal ini lah yang menyebabkan orang orang syiah tidak suka disebut sebagai Rafidhah.[10] Mereka menganggap bahwa penamaan ini berasal dari orang orang yang benci dengan ajaran syiah. Meskipun jika melihat keadaan mereka yang sebenarnya penamaan Rafidhah lebih tepat disematkan kepada mereka.

Selain itu juga penamaan syiah kepada mereka akan menimbulkan kerancuan. Sebab syiah sendiri terpecah menjadi berkelompok kelompok, yang diantaranya syiah zaidiyah, yang masih dekat dengan Ahlu Sunnah. Sehingga jika dimutlakan istilah syiah, maka akan mencakup seluruh aliran syiah, termasuk zaidiyah. Belum lagi jika kita melihat syiah diawal kemunculannya. Yang hanya mengedepankan Ali bin Abi Thalib dihadapan Utsman. Penamaan syiah secara mutlak kepada orang orang Rafidhah akan menjadikan munculnya kesalahpahaman sebagian orang. Dengan menganggap orang orang syiah diawal kemunculannya sama dengan orang orang Rafidhah saat ini.

Meskipun memang tidak bisa kita pungkiri, jika melihat realitasnya saat ini, tidaklah disebutkan nama syiah secara mutlak kecuali maknanya akan kembali kepada syiah Rafidhah. Hal tersebut selain karena syiah Rafidhah ajarannya mereprentasikan akidah kelompok syiah yang lainnya secara umum, juga jika melihat sumber ajaran mereka yang disebutkan dalam hadis dan riwayat yang tercantum dalam kitab kitab mereka, telah mencakup ajaran berbagai macam kelompok syiah dalam berbagai kurun waktu dimasa perkembangannya.[11]

Maka jikapun hendak menggunakan kata syiah, sebaiknya disertai dengan kata yang khusus menunjukan kepada mereka orang orang Rafidhah. Baik menyebutnya dengan syiah Rafidhah, atau syiah imamiyah, atau syiah itsna asyariyah, ataupun syiah ja’fariyah. Yang merupakan nama lain dari syiah Rafidhah.[12]

Wallahu ‘Alam bis Showab

Catatan kaki
  1. Lihat An Nisa ayat 115
  2. Lihat Al An’am : 55
  3. HR. Bukhori : 3606
  4. Ushul madzhabis Syiah, Dr. Nashir Al Qifari (Dar Khulafaur Rosyidin, Cet 1; 1433 H) hal. 27
  5. Lihat perbedaan para ulama dan krittikannya dalam ushul madhabis Syiah, hal. 35-45
  6. Diantara definisi yang paling mendekati kebenaran adalah definisi As Syahrstani, beliau berkata, “syiah adalah mereka yang mengikuti Ali Radhiyallahu ‘Anhu secara khusus. Meyakini kepemimpinan dan kekhalifahannya secara nash dan wasiat, baik secara terang terangan maupun sembunyi sembunyi. Dan meyakini bahwa kepemimpinan tidak lepas dari keturunannya. Jika kemudian keluar dari keturunannya, maka itu terjadi karena kedholiman dari orang lain atau taqiyah darinya. Mereka mengatakan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah kemaslahatan yang dilakukan berdasarkan pemilihan umum dan diberlakukan oleh umum. Namun imamah merupakan masalah pokok dan rukun agama yang tidak boleh bagi para rosul menyepelekan dan melalaikannya, juga tidak boleh menyerahkannya kepada masyarakat umum. (Lihat : Al Milal Wan Nihal 6/146)
  7. Dan memang salaf dahulu berbeda pendapat mana yang lebih mulia antara Utsman dan Ali. Namun perbedaan ini termasuk dalam ranah ijtihad. Bukan merupakan masalah pokok dalam ajaran islam. sehingga karenanya kesalahan dalam masalah ini tidak menjadikan seseorang sesat. Para sahabatpun ketika itu tidak saling menyesatkan. (lihat penjelasan hal ini dalam Aqidah Wasathiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
  8. Yang karenanya meskipun mereka dinamakan syiah, pada hakekatnya mereka adalah ahlu sunnah wal jama’ah. (Ushul Madzhabis Syiah, hal. 56)
  9. Lihat Aqidatur Rafidhah Wa Mauqifuhum Min Ahlis Sunnah, Dr Ibrohim Ar Ruhaili, (Darun Nasihah, Cet 1; 1432 H) Hal. 15-17
  10. Fikrul Khowarij Was Syiah Fie Miizani Ahlus Sunnah, Dr Ali As Shalabi (Darul Andalus, Cet 1; 1429 H0 Hal. 100
  11. Lihat Ushul Madzhabils Syiah hal 88
  12. Fikrul Khowarij Was Syiah, hal. 101
Penulis: Muhammad Singgih Pamungkas
Artikel: https://muslim.or.id/25664-mengenal-syiah-antara-syiah-dan-rafidhah.html