Rabu, 15 Maret 2017

Ini 3 Cara Rasulullah Menghadapi Hinaan dan Hujatan Yang Bisa Kita Tiru


Tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Manusia dilahirkan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang melekat pada dirinya. Dari kekurangan-kekurangan tersebut, muncullah berbagai macam hinaan, caci maki, ejekan, bahkan hujatan antar sesama manusia.

Tidak hanya manusia saja, seorang mulia seperti Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun tak luput dari hinaan dan hujatan. Dalam menghadapi dinamika hidup seperti itu, manusia patut meneladani cara Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam menghadapi hinaan dan hujatan.

Dalam hidup bermasyarakat, perlu disadari bahwa tidak semua orang berpikir baik tentang satu sama lain. Sekarang ini banyak sekali dijumpai permusuhan dimana-mana dikarenakan seseorang terlalu sibuk mengamati hidup orang lain daripada hidupnya sendiri.

Dari situ timbullah perasaan iri, kemudian berkembang menjadi rasa tidak suka lalu akhirnya berakhir dengan saling menghina dan menghujat demi merendahkan pihak lain supaya tidak lebih tinggi darinya. Oleh Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam telah diajarkan kepada umat Islam supaya jangan menanggapi hinaan dan hujatan secara berlebihan. Sebagai seorang muslim yang baik, seseorang harus tahu bagaimana cara menghadapi hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadanya agar tidak merugikan dirinya di akhirat kelak. Berikut adalah cara Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam menghadapi hinaan dan hujatan yang bisa dijadikan teladan hidup:

1. Menerima dan memaafkan
Terimalah hinaan itu jika memang kita bersalah. Lebih-lebih jika cacian dan hinaan orang lain membuat seseorang menyadari kesalahannya. Selain itu, cara menghadapi hinaan dan cacian adalah dengan memaafkan. Mampu berbesar hati dalam menerima hinaan adalah perbuatan mulia. Karena barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya akan berlipat ganda.

2. Hindari Permusuhan
Seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. Tidak perlu membalas hinaan dan cacian orang lain. Alangkah baiknya kalau kita tidak menanggapi hinaan tersebut atau balaslah dengan kata-kata yang lebih pantas dan lebih baik supaya lidah yang telah dianugerahkan oleh Yang Maha kuasa tidak ternodai oleh kata-kata yang tidak bijak. Karena cara membalas ejekan orang lain dengan membalas ejekannya hanya akan membuat seseorang semakin tercela dihadapanNya.

3. Berbelas kasihlah
Apa pentingnya memiliki belas kasih kepada orang yang menghujat kita? Sangat penting. Orang yang dengan sengaja menghina dan menghujat sesamanya perlu dikasihani karena ia sudah menciptakan petaka dan neraka bagi dirinya sendiri karena Allah tidak meridhoi perbuatan tercela seperti itu.

Memiliki hati yang lapang untuk menerima segala macam hinaan dan cacian merupakan anugerah yang luar biasa yang Allah berikan untuk umatNya. Sayidina Ali mengatakan, dalam permasalahan hidup kesabaran diumpamakan sebagai kepala dari tubuh manusia. Jika kepala manusia itu menghilang, maka seluruh tubuh akan menjadi busuk. Yang ingin disampaikan adalah, jika kesabaran seseorang itu hilang, maka semakin runyamlah permasalahannya dan semakin rusaklah tali persaudaraannya dengan sesama. Kata-kata sabar menghadapi hinaan memang terdengar mudah dan sederhana.Tapi nyatanya, justru hal yang paling sederhana itulah yang paling sulit dilakukan.

Sabar akan terasa sulit ketika seseorang tidak memiliki rasa ikhlas. Maka ikhlaskanlah segala yang terjadi dalam hidup kita. Meneladani cara Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam menghadapi hinaan dan cacian merupakan pedoman hidup yang mampu membantu manusia untuk memperkaya kesabaran hati. Semoga dengan meneladani Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam manusia semakin dimuliakan akhlaknya sebagai bekal di akhirat. []


Artikel Terkait

loading...