Selasa, 28 Maret 2017

Ulah Kaum Munafik Sewaktu Di Zaman Nabi


Kerasnya permusuhan orang munafik dengan umat Islam bukanlah terbilang baru. Hal ‎itu ‎dikatakan ahli tafsir, Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah (Ra).

Menurut as-Sa’di, ‎sejak ‎awal orang munafik sudah gelisah dan berusaha melemahkan persaudaraan umat ‎Islam ‎antara kaum Muhajirin dan Anshar di kota Madinah.‎

Meski berbaju sama namun orang munafik punya sikap berbeda dengan orang ‎beriman. ‎Mereka selalu berhasrat agar malapetaka dan keburukan menimpa umat ‎Islam. Mereka ‎bersorak jika mendapati kelemahan dan kekurangan saudara mereka ‎sendiri.‎

Selamanya orang munafik tak rela melihat kebaikan atau kesuksesan ‎saudaranya, meski ia ‎sendiri menikmati manfaat dari kebaikan tersebut. Parahnya lagi, secara sengaja mereka ‎suka menyakiti dan menista orang-orang ‎beriman, baik dengan perkataan atau perbuatan.‎

Allah berfirman:‎

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنفِقُوا عَلَى مَنْ عِندَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ 

“Mereka orang-orang ‎yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): Janganlah kamu ‎memberikan ‎perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah ‎supaya ‎mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).‎

Padahal kepunyaan Allah-lah ‎perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang ‎munafik itu tidak memahami.

Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ‎ke Madinah, benar-benar orang ‎yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah ‎dari padanya. Padahal kemuliaaan itu ‎hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi ‎orang-orang mukmin, tetapi orang-orang ‎munafik itu tiada mengetahui.” (QS. Al-‎Munafiqun [63]: 7-8).‎

Tengok saja apa yang mereka lakukan di Madinah, seperti diceritakan ayat di atas. ‎ Dengan terang orang munafik memprovokasi masyarakat Madinah agar tidak memberi ‎‎infak kepada kaum Muhajirin. Harapannya, mereka bubar dan meninggalkan ‎Rasulullah ‎berdakwah sendirian.

Dijelaskan oleh Mufassir Muhammad Ali ash-Shabuni, ucapan tersebut adalah ‎pelecehan ‎untuk mentertawakan Nabi. Sebab andai orang munafik itu beriman kepada ‎risalah Nabi, ‎tentunya mereka tak akan melakukan hal tersebut.‎

Tak cuma itu, di ayat selanjutnya, orang munafik kembali berulah. Pemimpin mereka ‎‎Abdullah bin Ubai bin Salul, berkata: Sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, ‎benar-‎benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari kota ‎Madinah.‎

Ahli tafsir lainnya, al-Qurthubi menjelaskan, orang munafik mengira kekuatan atau ‎‎kemuliaan itu ada pada banyaknya harta benda dan pengikut. Senada, ash-Shabuni ‎‎melanjutkan, ayat tersebut menunjukkan adanya pembatasan makna (hashr). Bahwa ‎‎kekuatan dan kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.‎

Lebih jauh, Hamka dalam tafsir al-Azhar mengingatkan, inilah gambaran jiwa kasar ‎orang ‎munafik dan orang kafir terhadap umat Islam. Mereka menganggap para ‎pejuang dan ‎pendakwah Islam tersebut hanya bergantung kepada materi dan benda-‎benda yang ada.

Mereka menduga, kaum Muhajirin akan melemah dan tak berdaya ‎sekiranya orang-orang ‎Anshar tak lagi memberi bantuan, seperti hasutan Abdullah bin ‎Ubay di atas.‎ Berkaca kepada realitas umat hari ini, persinggungan itu kembali nyata terlihat di ‎‎masyarakat.

Mengaku orang beriman tapi tak senang dengan penerapan syariat Islam. Identitasnya Muslim tapi ucapan dan dukungannya selalu berpihak kepada musuh ‎Islam ‎dan melemahkan kaum Muslimin. Merekala orang-orang munafik. Sukanya ‎menangguk ‎keuntungan di air keruh. [Hidayatullah/Berdakwah]


Artikel Terkait