Selasa, 25 April 2017

Ayah Kandung Lempar Bayinya Ke Tungku yang Masih Menyala, KPAI Langsung Bereaksi Keras

Ilustrasi

Buah hati adalah dambaan dalam keluarga, kadang aksi yang menyakiti anak dalam rumah tangga tidak bisa ditolerir. Kali ini aksi kekerasan oleh pria bernama Taruna (23) terhadap anaknya yang masih bayi di Sukabumi, Jawa Barat, memancing keprihatinan sejumlah pihak.

Lelaki bekerja petani itu melempar bayi perempuannya yang baru usia 47 hari ke arah tungku masak yang dalam keadaan menyala. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kabupaten Sukabumi turut menyoroti kasus tersebut.
Seperti dikutp dari detikcom, bayi itu mengalami luka lebam dan lecet pada dahi, dagu, paha, dan hidung sempat mengeluarkan darah sehingga harus menjalani pengobatan. Terjadinya kekerasan tersebut bermula dari konflik meja makan pasangan suami istri (pasutri) Taruna dan Yeni Maryani (20). Taruna naik pitam lantaran sang istri telat menyajikan makan, lalu dia murka sambil melempar anaknya ke lantai yang diarahkan ke tungku. Peristiwa tersebut berlangsung pada Minggu (23/4) kemarin.

Ketua KPAI Kabupaten Sukabumi Dian Yulianto menduga faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di keluarga pelaku.

“Jadi persoalan ekonomi kerap menjadi penyebab di samping moral dan akhlak orang tua. Hampir seluruh kejadian kekerasan maupun pelecehan seks terhadap anak dialami keluarga prasejahtera. Apakah itu karena faktor ekonomi maupun kondisi rumah tempat tinggalnya,” ujar Dian dikutip dari detikcom, Senin (24/4/2017).
Dian menyebut, tindakan kekerasan ayah kepada anak tidak seharusnya terjadi. KPAI mengecam perbuatan Taruna.

“Miris ayah kandung bisa dengan tega melakukan itu hanya karena dorongan lapar. Orang tua, seharusnya dapat memberikan rasa sayang dan nyaman kepada anak-anaknya. Termasuk tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, bukan sebaliknya malah menganiaya anak,” tutur Dian.

KPAI berencana memberikan pendampingan mental terhadap keluarga bayi. Selain itu, sambung Dian, KPAI akan menghadirkan psikolog untuk memulihkan trauma keluarga korban.

“Banyaknya kejadian, baik itu pelecehan maupun kekerasan terhadap anak, harus menjadi bahan masukan dan peran aktif semua pemangku kebijakan. Jangan sampai persoalan seperti ini terulang kembali,” ucap Dian. (apt-det)


Artikel Terkait

loading...