Jumat, 14 April 2017

Jodoh, Antara Takdir dan Usaha


Masalah jodoh, memang rahasia ilahi. Seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, di saat manusia masih berada dalam perut ibunya, “Kemudian diperintahkan malaikat untuk menuliskan rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, kebahagiaan atau kesengsaraannya…”

Jodoh, termasuk rezeki seseorang. Jadi memang sudah ditentukan oleh Allah semenjak manusia belum diciptakan, dan sudah ditulis di Lauh Mahfuzh. Dalam hal ini, kita tidak diperintahkan untuk memikirkan tentang takdir tersebut, tapi hanya diperintahkan untuk berusaha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beramallah, masing-masing akan dimudahkan melakukan apa telah dituliskan baginya.” (Riwayat Muslim).

Sebenarnya, berusaha atau tidak berusaha, jodoh sudah ditetapkan. Tapi masalahnya bukan itu. Bahwa kita tetaplah dianggap berbuat keliru, bila kita tidak berusaha. Yang dituntut oleh Allah dari kita adalah upaya, ikhtiar dan niat baik. Jodoh tetap Allah yang menentukan. Jadi soal jodoh, rezeki dan takdir kita tidak berhak mengurusnya, tapi kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Dengan upaya yang benar dan niat yang bersih itulah, kita akan diberi pahala. Hasilnya, Allah yang menentukan.

Penyesalan terhadap kekeliruan masa lalu, justru harus tetap ada. Karena hakikat taubat adalah penyesalan. Salah satu syarat taubat adalah menyesali perbuatan dosa yang dilakukan. Dan penyesalan itu muncul, karena adanya rasa takut terhadap siksa dan murka Allah. Tapi, jangan biarkan penyesalan itu mengganggu pikiran, sehingga mengganjal kreativitas.

Selain rasa takut, kita juga harus memiliki rasa berharap-harap, atau rajaa. Yakinlah bahwa Allah akan mengampuni segala dosa-dosa Ukhti, dosa-dosa kita semua. Sambutlah hari esok dengan penuh rasa percaya diri. Lakukanlah perbaikan diri secara bertahap, mulai keyakinan, ibadah, hingga adab pergaulan. Semakin dekat dengan Allah, Ukhti akan semakin memperoleh ketenangan batin yang sejati.

Sekali lagi, persoalan jodoh berada di tangan Allah, kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Selama Ukhti menjaga kehormatan dan berupaya memperbaiki diri, insya Allah, Ukhti akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan harapan. Wanita baik akan dipertemukan dengan pria yang baik.

Asalkan niat tulus selalu dijaga. Peliharalah kualitas ibadah, dan tingkatkan dari waktu ke waktu. Sehingga saat pernikahan tiba, Ukhti dalam kondisi iman terbaik, dan pilihan Ukhti juga lebih didasari oleh luapan iman, bukan desakan nafsu dan syahwat.

Ketika seseorang terlambat mendapatkan jodoh, semua sudah suratan dari Allah. Soal kekeliruan, kelalaian, atau keteledoran, itu semua hanya jalannya saja. Jalan yang menyebabkan kita kesulitan mendapatkan jodoh. Kalau itu kita lakukan dengan sengaja, kita berkewajiban bertaubat. Taubat itu sudah menghapus segalanya, bila dilakukan dengan tulus.

Dan dengan taubat, pengalaman masa lalu (meskipun pengalaman maksiat) menjadi pelajaran berharga. Setidaknya, agarUkhti lebih berhati-hati terhadap bujuk rayu iblis. Agar Ukhti juga menjaga anak-anak Ukhti kelak, untuk tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang sama. Dan bisa jadi, Allah menyimpan jodoh yang paling layak untuk Ukhti, yang paling mampu memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang jodoh itu tidak bisa didapatkan kalau Ukhti mencarinya di waktu dulu. Artinya, keterlambatan itu bisa jadi membawa hikmah besar.

Hikmah yang muncul, karena Ukhti bertaubat. Artinya, segala kekeliruan itu tetap saja kekeliruan. Tapi dengan taubat, seseorang mampu mengambil hikmah di balik kekeliruan itu. Kalau tanpa taubat, semua tidak berarti apa-apa.

Itu terbukti, bahwa pengalaman itu memberitahukan salah satu dari bahaya laten kaum Nasrani yang menyebarkan misi kristenisasi. Betapa wanita-wanita muslimah, menjadi target paling utama dalam misi tersebut. Di antaranya melalui perkawinan dengan pria-pria Kristen. Demikian juga kaum prianya. Saat seorang muslim atau muslimah yang berpacaran dengan wanita atau pria Kristen masih beranggapan bahwa ia memperjuangkan cinta sejati, pihak Nasrani malah sedang berkeyakinan bahwa mereka sedang menjalankan misinya.

Betapa amat sengsaranya muslim atau muslimah yang terperangkap dalam perang pemikiran ini! Oleh sebab itu, bersyukurlah, karena Allah telah menyelamatkan Ukhti dari bahaya tersebut. Kini, bukalah lembaran baru. Soal jodoh, setidaknya di Surga nanti sudah menanti pasangan cinta abada untuk wanita muslimah yang taat. (Abu Umar Basyir)

Sumber: Majalah Nikah, Vol.04/No.07/2005
Dipublikasikan dengan pengubahan tata bahasa seperlunya oleh redaksi www.konsultasisyariah.com
Read more https://konsultasisyariah.com/3128-jodoh-takdir-usaha.html


Artikel Terkait