Senin, 17 April 2017

Kabar Sedih dari Singapura; Radang Kornea Memburuk, Novel Baswedan Terancam Buta


Kabar menyesakkan dan menyedihkan datang dari Singapura. Di salah satu klinik pengobatan mata di Negeri Singa itu, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan terbaring lemah.

Kondisi kesehatannya yang sempat membaik, kembali drop dan memburuk, akibat peradangan kornea matanya kian parah. Perbuatan biadab para pengecut yang menyiramkan air keras ke wajah Novel seusai salat Subuh berjamaah di masjid Selasa (11/4) membuat penyidik komisi antirasuah yang banyak menangani kasus kelas kakap itu terancam buta.

Kornea adalah bagian depan mata yang terletak di lapisan paling luar. Bagian itu berupa selaput bening dan jernih yang bersifat tembus pandang atau transparan. Melalui kornea, cahaya masuk ke sel-sel penerima cahaya di bagian dalam bola mata. Kornea juga berfungsi melindungi mata dari benda-benda asing yang hendak masuk merusak mata.

Dilangsir jawapos.com, Senin, kini kornea mata Novel rusak parah akibat cairan asam. Pandangan matanya selalu berkabut. Ada kemungkinan Novel harus melakukan cangkok kornea agar terhindar dari kebutaan.

Kornea Novel bisa menjadi personifikasi perjuangan antikorupsi. Sifat kornea yang transparan dan melindungi bisa beriringan dengan transparansi anggaran sebagai bagian dari roh antikorupsi. Begitu pula misi perjuangan antikorupsi untuk melindungi uang rakyat dari jarahan tangan kotor para koruptor.

Sosok Novel sendiri bisa menjadi ikon perjuangan antikorupsi di Indonesia. Kriminalisasi dengan ancaman penjara, teror tabrak mobil, hingga teror siraman air keras menjadi fakta betapa para koruptor begitu frustrasi dengan sepak terjangnya.

Perjuangan antikorupsi memang selalu memicu perlawanan. Ancaman teror fisik (bahkan santet) seolah menjadi makanan sehari-hari para penyidik KPK. Di negara lain pun sama.

Berita kekerasan terhadap aktivis dan tokoh antikorupsi sering muncul dari negara-negara yang tengah berjuang melawan rakusnya korupsi, seperti di India, Yaman, Rwanda, hingga Ukraina. Bahkan, tak sedikit yang berujung hilangnya nyawa.

Sebuah laporan Commonwealth Human Rights Initiative yang berbasis di India menyebutkan, sejak 2005, lebih dari 50 pejuang antikorupsi tewas di Negeri Sungai Gangga itu. Ada yang ditembak, ditusuk, ditabrak, hingga dibuat skenario seolah bunuh diri.

Jangan sampai kondisi serupa terjadi di tanah air tercinta. Karena itu, pemerintah harus bisa merancang skema perlindungan untuk para penyidik KPK, terutama yang tengah menangani kasus-kasus kelas kakap. Pengamanan oleh pasukan khusus dari TNI patut diupayakan. Contohnya, pengawalan Novel oleh personel Marinir TNI-AL saat menangani kasus simulator SIM beberapa waktu lalu bisa menjadi pertimbangan.

Selain itu, kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel harus diusut tuntas. Kini sudah lima hari penyelidikan, namun hasilnya belum membuat puas publik. Polisi pun harus bekerja lebih keras. Agar pelaku biadab itu bisa segera ditindak tegas. (*)


Artikel Terkait