Minggu, 09 April 2017

Metro TV Dan Stereotip 'Metro Tipu'


Nama Metro TV mencuat belakangan ini menjadi bahan pembicaraaan, namun dengan cara yang sangat tidak diinginkan, yaitu: dikecam, seruan boikot dan dibully.

Bukan tanpa alasan, netizen dari kalangan Islamis memandang Metro TV memiliki dosa akut soal framing pemberitaan umat Islam dan "berulang kali membuat fitnah".

Sejak beberapa tahun silam, Metro TV telah melakukan "blunder" yang merendahkan Islamis secara langsung.

Sebut saja berita rohis jadi ladang persemian teroris yang jadi viral.

Foto tayangan Metro TV

Bagai anak panah yang terlanjur melesat maka mustahil ditarik lagi, berita-berita blunder Metro TV terkait Islam perlahan namun pasti membangun sentimen negatif.

Metro TV juga dinilai kerap menyudutkan ormas Islam, seperti FPI misalnya. Dalam artian mudah menemukan berita buruk tentang FPI daripada berita kebaikan mereka.

Berbanding terbalik dengan pemberitaan partai Nasdem, Metro TV dipandang publik sebagai kepanjangan media partai itu.

Klarifikasi ataupun permintaan maaf hanya dipandang pemirsa sebagai upaya di kala terdesak. Respek memang sudah luntur.

Kini, setiap Metro TV membuat berita tak berimbang, dampak dan respon kalangan Islamis makin meningkat untuk mengampanyekan menolak media itu.

Mereka beramai-ramai mengaku menghapus Metro TV dari daftar tontonannya.

Hal-hal buruk atau celah kesalahan hingga fakta lucu tentang Metro TV pasti cepat viral, dan ini terus membangun pandangan buruk kalangan Islamis.

Misalnya pemberitaan terkait Aksi Bela Islam oleh Metro TV. Mulai dari masalah sampah yang dianggap dibesar-besar Metro TV, pada Aksi Bela Islam I.

Di Aksi Bela Islam II, yel-yel mengecam Metro TV mulai bergema. "Awas jangan injak taman dan nyampah, nanti direkam Metro TV", ujar peserta saat itu.

Juga jumlah peserta yang dianggap dikecil-kecilkan, membuat netizen Muslim memandang buruk Metro TV. Kru mereka berulang kali diusir oleh massa. Sementara di dunia maya, video itu viral dan jadi ajang membully stasiun TV yang terlanjur dipandang anti Islam ini.

Akhirnya lahirlah istilah "Metro Tipu" sebagai plesetan Metro TV, yang merupakan buah kekesalan atas track record media itu, seperti yang mereka tahu.

Awal pekan ini, jagad twitter dihebohkan dengan hastag #BoikotMetroTV yang segera jadi trending topic. Kritikan, kecaman dan ledekan bertubi-tubi menghajar Metro TV.

Hingga komentar buruk salah satu pekerjanya bernama Janes C Simangunsong makin memperparah posisi mereka.

“Banyak orang tetiba jadi pakar jurnalistik, sok ngerti framing, jadi ahli media, pengamat saham dan politik. Padahal otak udang semua”, kata Janes C. Simangunsong.

Hal itu tambah membuat marah netizen kepada Metro TV. Dan mengorek-ngorek tweet lama Janes yang berisi sangat mengerikan, termasuk menyebut FPI dengan 'Fantik P*nis dan I***'.

Setelah tersudut, Janes kemudian meminta maaf dan mengunci akunnya. Ia mengaku tweet-tweet tidak senonoh itu dibuat saat dirinya masih kuliah dan belum bekerja di Metro TV.

Namun, kesimpulan bahwa Metro TV bercorak anti Islam makin kuat setelah netizen melihat sosok seperti Janes bisa bekerja di sana. Lalu lewat sebuah petisi online, penolakan Metro TV mendapat persetujuan hingga 54 ribu orang.

"...Oleh karna itu inilah kado untuk MetroTV yang berulang tahun ke 16 tahun dari kita rakyat Indonesia. Demi kebaikan Muslim, tinggalkan Metro TV. Jangan tonton acaranya, agar ratingnya rendah. terlalu keji ia memusuhi Islam & Muslimin sejak beberapa tahun yang lalu", ajak petisi yang dibuat oleh Triyan Wibowo.

Media TV tak lagi bisa memonopoli opini, namun justru mereka yang jadi sasaran pandangan masyarakat di era media sosial. [risalah/berdakwah]


Artikel Terkait