Selasa, 25 April 2017

Pemerintah India Terus Mengincar Dr. Zakir Naik Untuk Ditangkap


Pemerintah India rupanya terus memantau keberadaan tokoh Islam dr. Zakir Naik. Keberadaan pendakwah kelahiran Mumbai ini terlacak oleh pihak keamanan India saat menerima penghargaan dari LSM Malaysia, Perkasa.

Seperti diumumkan beberapa waktu lalu, Zakir Naik sudah memperoleh status penduduk tetap (PR) dari pemerintah Malaysia, atau semacam suaka. Zakir diincar oleh India dalam kasus ujaran radikalisme dan cuci uang yang dituduhkan pada yayasannya, IFR.

Direktorat penegakan hukum Mumbai, yang baru-baru ini mendapat surat perintah penangkapan tanpa jaminan, menyebut kunjungan Zakir Naik di Malaysia terus dipantau.

"Kami memantaunya", kata seorang pejabat tinggi Direktorat itu, dikutip Hindustan Times.

India menandatangani MLAT (perjanjian hukum timbal balik) dengan 38 negara, termasuk Malaysia. Pihak berwenang sedang melihat opsi-opsi atau mencari celah dari perjanjian tersebut agar bisa menangkap Zakir Naik.

"Upaya untuk membawanya kembali akan terus berlanjut", kata seorang petugas.

Namun, perjanjian MLAT dengan Malaysia tidak mencakup penerapan surat perintah penangkapan. Pejabat Kepolisian Malaysia pernah mengisyaratkan kemungkinan bekerja sama dengan India dalam upaya penyelidikan, meski tak ada jaminan kesediaan secara politik.

Dukungan pemerintah Malaysia terhadap Zakir Naik sangat kuat hingga level wakil perdana menteri. Wakil PM, Dr. Ahmad Zahid Hamidi bahkan mengkonfirmasi sendiri status PR yang telah diberikan 5 tahun lalu.

Di Malaysia, keberadaan Zakir Naik ditentang oleh komunitas Hindu dan kelompok liberal yang mengajukan gugatan menolak pemberian PR. Sebaliknya, tokoh LSM Perkasa, Datuk Dr. Ibrahim Ali, mendukung penuh langkah pemerintah yang melindungi sang pendakwah.

"Adalah hak pemerintah memberikan suaka politik atau status PR pada beliau. Beliau tidak pernah mempromosikan terorisme atau ekstremisme dan kami pun tidak bisa membuktikan (kebenaran) tuduhan pencucian uang", katanya.

Saat berkunjung ke Indonesia awal Maret lalu, Zakir Naik mengkritik langkah pemerintah India yang memburunya dengan cara "mencari-cari kesalahan".

Menurutnya, India yang dikuasai sayap kanan Hindu tak suka dengan banyaknya warga Hindu yang masuk Islam. [HT/The Star]


Artikel Terkait

loading...