Sabtu, 22 April 2017

Pilgub DKI dan Lahirnya “Generasi Baru” Islam


Hampir seluruh kaum muslimin Indonesia yang peduli dengan nilai-nilai keIslaman dan mengamati realitas kebangsaan dengan cermat maka dia akan menyadari bahwa saat ini kondisi politik, ekonomi dan kebudayaan yang berjalan kurang berpihak kepada ummat Islam.

Islam sebagai agama terbesar dan ummat islam sebagai mayoritas di Indonesia telah membuktikan di awal perjuangan bahwa merekalah unsur terpenting dalam perjuangan merebut kemerdekaan, pakik takbir dan deretan tokoh pejuang muslim mewarnai catatan sejarah  kemerdekaan. Juga selama tujuh puluh tahun lebih kaum muslimin telah menjadi warga negara yang mampu menjadi teladan bagi bangsa –bangsa lain dalam kebhinekaan, toleransi dan persatuan.

Tiba-tiba ummat yang telah memberikan yang terbaik di Indonesia ini diusik, walaupun upaya marginalisasi nilai-nilai Islam sudah terasa sejak lama tetapi makin kesini semakin terasa dan makin berani. Upaya menstigma Islam dengan terror, anti kebhinekaan bahkan kriminalisasi tokoh-tokohnya serta kurang adanya keadilan hukum makin terasa akhir-akhir ini.

Yang cukup merepotkan adalah upaya “penyingkiran” itu telah terstruktur dalam kukuasaan politik yang juga ditunggangi oleh kekuatan aseng yang terasa mencengkeram perekonomian, media, bahkan mulai masuk membiayai proses-proses politik. Maka ancaman yang dirasakan bukan hanya ancaman tersingkirnya nilai-nilai Islam tetapi juga ancaman kedaulatan Negara yang pelan-pelan dikuasi secara halus melalui tangan politik yang resmi.

Dikuasainya sektor  ekonomi dan media dan sebagian kekuasaan politik itu cukup terasa merepotkan. Sering sekali media mainstream timpang bahkan mendzolimi ummat Islam, juga penegakan hukum pun terasa sangat tajam jika menyangkut tokoh Islam dan “memble” atau biasa saja kalau menyangkut yang lainnya, hingga kaum muslimin pun hafal hal ini.

Ironisnya keadaan ini terjadi dalam keadaan ummat Islam masih mayoritas. Maka dengan mudah bisa ditebak disana ada setumpuk permasalahan yang membutuhkan solusi, diantaranay adalah tidak adanya persatuan dalam menghadapi common enemy (musuh bersama).

Sebagian ormas justru lebih senang bermesraan dengan pihak yang mendzalimi ummat Islam, tidak sedikit tokoh yang terbeli demi kekuasaan dan harta hingga kadang menjadi duri dalam daging ummat ini. Sebagian partai Islam juga sudah disusupi dan dibeli hingga ummat pun bingung mau bagaimana menyelamatkan keadaan yang sudah demikian parah, dimana sebagian tokoh, ormas, bahkan partai banyak yang sudah ‘ditundukkan”.

Maka kekalahan Ahok yang merupakan symbol bagi kekuatan kelompok minoritas yang hendak membuat “tatanan baru” (minus Islam) itu manandakan adanya secercah  harapan yang akan terus berkobar. Bagaimana tidak ?. Telah terbentuk generasi lintas ormas, partai, dan lintas wilayah yang sama-sama menyadari pentingnya bersatu menuju “goal bersama” yaitu mempertahankan nilai-nilai Islam tetap eksis di Negeri ini, sebagaimana para pendahulu mereka yang telah merebutnya  dari tangan penjajah dan mewarnai dasar-dasarnya semampu mereka dengan warna Islam yang tergambar dalam pembukaan UUD 45 dan sila-sila dalam Pancasila.

Generasi baru ini mereka yang belajar dari kesalahan selama ini: berpecah belah, saling membanggakan kelompok, cuek terhadap urusan agama, menjual agama demi harta dan kedudukan, yang kesemuanya itu menyebabkan ummat islam yang mayoritas ini terhempas dalam kenestapaan di negerinya sendiri; ekonomi lemah dan tersingkir, tidak memiliki media, dijauhkan dari kekuasaan politik dan hanya dijadikan objek.

Generasi baru ini tidak lagi memandang apa ormas, jamaah dan harokahnya, selama sama sama berjuang untuk Islam mka mereka adalah saudara. Generasi baru ini juga yang kritis terhadap arahan para pemuka agama yang kurang tepat. Mereka sadar bahwa beribadah meramaikan masjid dan menuntut ilmu agama adalah keharusan sampai mati, tetapi tidak mungkin membiarkan “pihak lain” menendang ummat dalam sebuah proses politik yang sangat menentukan.

Generasi baru ini juga merasakan bahwa menjaga kemurnian agama dan saling menasehati sesama kaum muslimin adalah keharusan, tetapi menasehati saudara adalah dengan semangat ukhuwah dan rasa cinta bukan justifikasi dan memusuhi yang akhirnya justru mengacaukan barisan kaum muslimin. Dalam batas tertentu generasi baru ini “mengoreksi” pemahaman dan prinsip para tokoh yang terlalu lambat dan rigid memahami agama hingga melupakan sekian banyak maqoshid Syariah (maksud diturunkannya syariah) itu sendiri; entah karena fanatik dengan kelompoknya maupun khawatir ditinggalkan pengikutnya.

Generasi baru ini membutuhkan bimbingan dan arahan tetapi ia akan terus bergerak mengawal satu demi satu agenda keummatan ini. Karena disamping  Islam (dalam arti menghambanya seluruh manusia kepada Robb dan Tuhan yang benar) adalah kebutuhan seluruh manusia, berlakunya nilai-niali Islam merupakan satu-satunya jaminan bagi tegaknya perikemanusiaan dan keadilan yang paripurna. Islam telah memiliki panduan yang kokoh dalam Alquran tentang  keadilan dan juga toleransi, bahkan hanya Al-Quran lah satu satunya kitab suci yang tegas melarang adanya pemaksaan dalam menganut Islam.

Setelah pilgub DKI, generasi baru ini terus bergerak bersama (walaupun tanpa satu koordinasi) untuk mengawal dan berusaha menyingkirkan tirani dan ketidakadilan di negeri ini , menjaga kerukunan dan kedamaian serta kedaulatan Indonesia dengan idzin Allah.

Andalah generasi baru itu !!!………. Allohu akbar !!!

Oleh: Anwar Hamzah


Artikel Terkait

loading...