Rabu, 31 Mei 2017

Habib Rizieq Shihab Dan Rekayasa Penetapan Sebagai Tersangka


Setelah polemik berkepanjangan akhirnya Habib Rizieq dijadikan tersangka. Kasus yang menginternasional ini akan berdampak pada konstelasi politik karena melibatkan banyak kepentingan.

Pandangan saya yang subjektif mengatakan kasus ini merupakan orderan dari pihak yang tidak senang dengan Aksi Bela Islam (ABI). Aksi fenomenal itu menjadi catatan sejarah sekaligus pembuktian bahwa benar Islam itu cinta damai bahkan ketika dihina.

Habib Rizieq sebagai simbol perlawanan terhadap para liberalis memang pantas dijadikan musuh. Usaha kriminalisasi terhadapnya memang membutuhkan ekstra power. Sosoknya yang tak bisa disuap sehingga jalan terbaik untuk menjatuhkan kredibelitasnya dengan jebakan perempuan.

Kasus chat yang melibatkan Habib dan Firza tak perlu pembuktian kebenaran, yang terpenting nama baik Habib Rizieq sudah ternoda. Kasus serupa kita jumpai ketika Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, dan dua aktivis lainnya yang kini masih ditahan disangkakan melakukan makar namun tak terbukti.

Rekayasa kasus dizaman ini tak sulit, kita hanya butuh satu atau dua orang yang bersaksi palsu maka kita dapat dengan mudah dijadikan tersangka. Bila Firza memiliki kasus dimasa lalu, dengan mudah ia ditekan serta mengakui kebenaran chatnya dengan Habib Rizieq.

Pihak penjerat Habib Rizieq hanya membutuhkan saksi ahli pembohong untuk memperkuat argumennya di pengadilan, media sebagai corong akan berupaya menggoreng isu menjadi kebenaran-kebenaran untuk mencuci otak masyarakat.

Operasi rekayasa semakin menemui jalan cerah, tak penting apa keputusan pengadilan nantinya yang terpenting hukuman masyarakat kepada Habib Rizieq. Skala prioritas kasus Habib Rizieq dan Firza adalah pengopinian citra buruk terhadap Habib Rizieq.

Habib Rizieq pernah dipenjara sehingga bukan hal baru baginya ditahan namun kasus ini bukan soal hukuman tersebut akan tetapi hukuman sosial kepadanya. Masyarakat pengkonsumsi berita media bayaran akan dengan mudah tercuci otaknya. Bila merujuk pada pertarungan ideologi, menjauhkan ulama dan rakyat salah satu cara efektif.

Saat ini walaupun tak banyak, masyarakat mulai percaya bahwa chat tersebut benar. Kalangan anak muda miskin ilmu dan iman akan dengan mudah percaya pembenaran dari media-media yang menghukum Habib Rizieq sebelum pengadilan memutuskan kasus tersebut.

Kasus HRS mengingatkan saya pada kisah film Alif Lam Mim 3, dimana rekayasa dilakukan 3 komponen penting. Pihak pemerintah yang diwakili oknum kepolisian, oknum pondok pesantren, dan media. Dalam kasus HRS bisa saja hal itu dilakukan ke-3 komponen tersebut, tentu bukan institusi akan tetapi oknum.

Hasil akhir kasus dalam film tersebut tentu tidak sama, akan tetapi masyarakat dapat menilai bagaimana perempuan dalam film tersebut memiliki peran signifikan. Perempuan sengaja ditugaskan mendekati target operasi, kedekatan kemudian dimanfaatkan untuk kelancaran operasi.

Masih menjadi misteri, apakah peran Laras dalam film Alif Lam Mim 3 dan Firza sama. Bila merujuk pada Film tersebut maka Firza harus siap dijadikan korban, tentu hasilnya akan beda bila Firza menonton film tersebut.

Kasus HRS bisa saja berakhir happy ending maupun sad ending akan tetapi hukuman sosial sudah terlanjur diterimanya. Hal itu lebih penting, sebagaimana Firman Allah AWJ bahwa dunia ini adalah permainan serta senda gurau belaka (QS.6:32) dan semoga kita dapat menjadi pemain dan penonton yang cerdas serta amanah. []

Don Zakiyamani - (Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam/Banda Aceh)


Artikel Terkait