Rabu, 10 Mei 2017

Ini Permintaan Maaf dan Klarifikasi Radar Sukabumi "Merobek" Al-Liwa


Umat Islam mengecam karikatur yang dibuat koran 'Radar Sukabumi' pasca pengumuman pembubaran kelompok Hizbut Tahrir Indonesia oleh pemerintah Jokowi.

Pasalnya, karikatur koran tersebut menggambar seekor burung Elang (visual lambang negara atau Garuda Pancasila) tengah merobek bendera putih bertuliskan kalimat Tauhid (al-Liwa) yang diasosiasikan sebagai penggambaran gerakan HTI.

Seperti diketahui, bendera Tauhid (al-Liwa dan ar-Rayah) adalah warisan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam, kini kerap digunakan kelompok Hizbut Tahrir seluruh dunia dalam berkampanye Khilafah versinya.

Namun, bendera ini sebetulnya milik seluruh kelompok Islam dalam mengekspresikan upaya perjuangannya.

Berbagai kecaman direspon Radar Sukabumi (RS) dengan menyatakan minta maaf serta mengungkapkan alasan pembuatan gambar kontroversial itu.

Lewat laman FB-nya, RS mengklaim karikatur sebagai bentuk kekecewaan pada pemerintah yang sepihak membubarkan HTI.

"Pemerintah yang diwakili Menkopolhukam, Menkumham, Mendagri dan Kapolri yang dilambangkan dengan Burung Garuda. Kemudian, HTI yang dibubarkan dilambangkan dengan symbol bendera. Kenapa dicabik-cabik? karena mencerminkan pemerintah melakukan kekerasan dalam pembubaran HTI", tulis RS.

"Namun harus diakui memang yang menjadi persoalan adalah gambar bendera yang dirobek. Itu hanya semata-mata penggambaran symbol dari HTI. Tapi kami sekali lagi tidak ada maksud untuk melecehkan atau menistakan agama. Dan harus diakui itu bagian dari kebablasan kami dalam berekspresi", lanjut pernyataan.

Netizen menanggapi klarifikasi RS, sebagian besar mengkritik keras koran tersebut yang telah "bermain" di ranah sensitif dan jelas hakikatnya (bendera Tauhid).

Radar Sukabumi mengemukakan alasan


"Kan bisa benderanya di tulis HTI bukan kalimat tauhid. Pertanyaannya adalah yang mendisain gambar itu apakah dia seorang muslim atau bukan? Kalau seorang muslim dia tau itu bukan simbol HTI saja, itu sudah ada di jaman Rasulullah SAW. Ingat persoalan ini sensitif, beritakan lah yang baik dan netral jangan menjadi alat kepentingan tertentu", tulis Mochamad Djuliansyah.

"Umat Islam sudah kenyang dengan permintaan maaf yang terbukti tidak membuat jera pelaku.. Permintaan maaf pasti diterima tapi hukum harus tetap di jalankan.. Media Radar yang pake embel-embel Sukabumi sudah membuat malu warga Sukabumi karena berita tersebut sudah viral di media-media sosial..", kritik Irman Amri. []


Artikel Terkait