Jumat, 19 Mei 2017

Minta Maaf Sebelum Ramadhan dan Hadits yang Dipelesetkan atau Dimodifikasi


Pembaca yang budiman, menjelang bulan suci Ramadhan, selayaknya kita mempersiapkan diri dengan berbekal ilmu dan persiapan lainnya. Berikut ini kami sajikan artikel khusus menyambut ramadhan yang diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman kita serta sebagai upaya melindungi diri dan keluarga dari pemahaman yang keliru seputar amalan ibadah di dalamnya, selamat menyimak.

Ketika Rasulullah sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Aamiin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasulullah mengatakan amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasulullah berkata Aamiin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat Jum’at para sahabat bertanya kepada Rasulullah, kemudian menjelaskan: “ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, “hai Rasulullah amin-kan doaku ini,” jawab Rasulullah.

Do’a Malaikat Jibril adalah sebagai berikut: Yaa Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
– Tidak memohon ma’af terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
– Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri;
– Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Maka Rasulullahpun amin sebanyak 3 kali.

(Hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah ra)

Tak terasa 3 minggu lg akan memasuki bln suci Ramadhan. Untuk itu; izinkan dari lubuk hatiku yang paling dalam, memohon maaf untuk…

lisan yg tidak berkenan…
janji yg terabaikan…
hati yg berprasangka buruk..
sikap yg menyakitkan…

Mohon maaf atas semua kekhilafan…..

Semoga kita di beri umur panjang nan barokah…
Semoga kita bisa di pertemukan pd bulan Suci Ramadhan…

Allahumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya’bana wa ballighnaa Romadhoona waghfirlanaa dzunuubanaa. Aamiin.

Note: tertulis di atas, “(Hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah ra)”

Kutipan terjemahan hadits di awal tulisan di atas tentu saja sangat ngawur dan dusta. Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Baihaqi tidak meriwayatkan hadits di atas. karena memang tidak ada haditsnya.

Demikian saya copaskan catatan saya dalam hal ini:

Ini adalah hadits Jibril yang terkenal. Hadits ini dipelesetkan dan dimodifikasi, lalu (sering) dijadikan dalil tentang “acara” bermaaf-maafan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Kami sendiri sering mendapatkan pertanyaan tentang hadits ini. Ada juga yang meminta agar kami menampilkan matan hadits ini lengkap dengan takhrijnya. Baiklah, demikian ringkasnya:

Hadits tersebut aslinya berbunyi,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَى الْمِنْبَرَ ، فََلَمَّا رَقَى الدَّرَجَةَ الْأُوْلَى قَالَ آمِيْنَ ، ثُمَّ رَقَى الثَّانِيَةَ فَقَالَ آمِيْنَ ، ثُمَّ رَقَى الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِيْنَ ، فَقَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ سَمِعْنَاكَ تَقُوْلُ آمِيْنَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، قَالَ لَمَّا رَقَيْتُ الدَّرَجَةَ الْأُوْلَى جَاءَنِي جِبْرِيْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ آمِيْنَ ، ثُمَّ قَالَ شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ ، فَقُلْتُ آمِيْنَ ، ثُمَّ قَالَ شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ آمِيْنَ .

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar. Ketika menginjak anak tangga pertama, beliau berkata, “Amin.” Kemudian saat sampai di anak tangga kedua, beliau berkata, “Amin.” Lalu, pada anak tangga ketiga, beliau berkata lagi, “Amin.”

Mereka (para sahabat) pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan ‘Amin’ tiga kali.” Beliau berkata, “Pada waktu aku naik anak tangga pertama, Jibril mendatangiku. Dia mengatakan; ‘Celaka seorang hamba yang mendapatkan Ramadhan tetapi dia tergelincir dan tidak diampuni dosanya.’ Aku pun berkata; Amin. Kemudian, Jibril berkata; ‘Celaka seorang hamba yang mendapatkan kedua orangtuanya atau salah satunya, tetapi tidak membuatnya masuk surga.’ Aku pun berkata; Amin. Lalu, Jibril berkata; ‘Celaka seorang hamba yang disebut namamu di sisinya, namun dia tidak bershalawat kepadamu’. Aku pun berkata; Amin.”

• Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Musradrak, nomor 7365, dari Ka’ab bin Ujrah Radhiyallahu ‘Anhu. Dia berkata, “Hadits ini shahih sanadnya, tapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.”

• Hadits Al-Hakim ini dishahihkan (shahih li ghairih) oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, nomor 1677.

• Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits ini dalam Al-Adab Al-Mufrad, nomor 644 dan 646. Yang pertama dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, dan yang kedua dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Jadi, hadits ini ada dua dalam Al-Adab Al-Mufrad.

• Untuk hadits Jabir, Al-Albani mengatakan; shahih. Sedangkan untuk hadits Abu Hurairah, Al-Albani mengatakan; hasan shahih.

• Imam Ath-Thabarani meriwayatkan hadits ini dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (15647) dari Ka’ab bin ‘Ujrah.

• Imam Al-Haitsami menshahihkan hadits Ath-Thabarani dalam Majma’ Az-Zawa`id (17317). Kata Al-Haitsami, “Diriwayatkan Ath-Thabarani dengan rijal yang tsiqah.”

• Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (16004) & Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya (410) meriwayatkan hadits ini dari Malik bin Al-Huwairits Radhiyallahu ‘Anhu.

• Untuk hadits Malik bin Al-Huwairits ini, Al-Haitsami mendha’ifkan (melemahkannya) dalam Al-Majma’ (17318). Dia berkata, “Diriwayatkan Ath-Thabarani, namun dalam sanadnya terdapat Imran bin Aban yang ditsiqahkan Ibnu Hibban, tapi didha’ifkan oleh banyak orang. dan para perawi lainnya tsiqah.”

• Adapun Al-Albani mengatakan hadits Malik ini sebagai; shahih li ghairih, dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (996).

• Untuk hadits Abu Hurairah, selain diriwayatkan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, juga diriwayatkan Al-Bazzar dalam Musnad-nya (1256) dan Ibnu Khuzaimah dalam shahih-nya (1781).

• Hadits Abu Hurairah ini didha’ifkan Al-Haitsami dalam Al-Majma’ (17319). Dia berkata, “Diriwayatkan Al-Bazzar dan dalam sanadnya terdapat Katsir bin Zaid Al-Aslami, dia ditsiqahkan (dikuatkan) oleh sejumlah imam, tapi dalam dirinya ada kedha’ifan. Adapun para perawi lainnya tsiqah atau terpercaya.”

• Hadits Jibril yang diriwayatkan dari Abu Hurairah inilah yang banyak dianggap dha’if oleh sebagian kalangan, karena memang ada sedikit kelemahan di dalam sanadnya. Namun demikian, dalam Tahqiq Adabul Mufrad, Al-Albani mengatakan hadits ini; hasan shahih. Sedangkan dalam kitab Tahqiq Fadhlu Ash-Shalati ‘Ala An-Nabiyy, Al-Albani berkata; sanadnya hasan.

Jadi, secara umum, hadits ini adalah shahih. Ia diriwayatkan dari sejumlah sahabat dan dari banyak jalur. Kelemahan sanad riwayat dari Abu Hurairah tidak mempengaruhi keshahihan hadits senada yang diriwayatkan dari sejumlah sahabat lain.

Oya, sekadar tambahan, hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam Fadhlu Syahri Ramadhan, hadits nomor 7 dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu RA; dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, hadits nomor 12386 dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma.

Wallahu a’lamu bish-shawab. - Oleh : Ustadz Abduh Zulfidar Akaha [ummatpost/berdakwah]


Artikel Terkait