Minggu, 14 Mei 2017

Tuan Guru Bajang Tuntun Syahadat Gadis Kristen di Ponpes Al Munawwir Krapyak


Dalam Safari Dakwahnya, Dr. Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, menuntun syahadat seorang gadis Kristen di Aula Ponpes Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Sabtu (13/5/2017).

Saat ditanya TGB, Ni Gusti Binahana, gadis mualaf itu beralasan ingin masuk Islam karena ajaran Islam lebih cinta Yesus (Nabi Isa as). Dia merasa justru orang muslim lebih taat menjalankan perintah Yesus. “Waktu saya kuliah dulu materi agama diajarkan lima agama. Tapi saya lama-lama tahu, Oh ternyata Islam itu lebih cinta pada Yesus. Yesus mengatakan wanita berdoa itu memakai tudung dan Islam mengajarkan wanita Muslimah memakai kerudung.”

TGB menuturkan, pilihan untuk menjadi mualaf tentu sudah dipertimbangkan. Keyakinan Ni Gusti dibenarkan TGB, bahwa umat Islam meyakini Nabi Isa juga Rasulullah. “Alhamdulillah apa yang dijalani Ni Gusti ini tentunya sudah dipikirkan melalui pertimbangan. Intinya benar, kita wajib meyakini Nabi Isa as. Bahkan tidak diterima iman kita, kalau tidak meyakini bahwa Nabi Isa utusan Allah,” kata TGB.

Kemudian TGB membimbing Ni Gusti membaca syahadat, hingga diulang ketiga kalinya, gadis itu pun menangis terharu. Selesai bersyahadat, Ni Gusti mendengarkan pesan TGB yang akan dikenangnya.

Sambangi Kampus UPY

Sebelumnya, memasuki hari kedua, Sabtu (13/5),Safari Dakwah Dr. Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, MA, Gubernur NTB menyambangi Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta untuk memberi kuliah umum bertema “ Pencapaian dan Tantangan Kepemimpinan TGB dalam Membangun NTB”.

TGB dalam kuliah umumnya menjelaskan, perkembangan negara India yang stabil dibanding Indonesia. Meski tidak frontal, India lebih dinamis pertumbuhan ekonominya. “Harapan bangsa itu akan maju jika pendidikannya maju. Contoh India, kemegahan dunia tidak lebih dari Negara lain. Jangan salah, India itu pertumbuhannya dinamis dan mengungguli Indonesia,” ujarnya.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu mengatakan India memberikan anggaran pendidikan tinggi lebih besar dari pada anggaran dasar menengah. “Saya berharap mahasiswa menjadi transformator hebat di kemudian hari,” tuturnya.

“NTB ada momentum, indikatornya pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, pengangguran dan segala macam indikator statistik itu menunjukkan NTB pada jalur yang tepat. Jadi Orang NTB itu harus ditantang dengan tantangan yang baru,” tandasnya.

Sementara itu, Rektor UPY, Prof.DR. Bukhori dalam sambutannya mengatakan, Kampus UPY yang lahir sejak 1962 dengan nama IKIP Yogyakarta, berharap ke depan UPY menjadi kampus yang unggul dan bisa bersaing dalam skala Global. “Misi kami 2030 bisa menjadi kampus unggul, berkomitmen tinggi dan berwawasan global,” ucapnya. [panjimas/berdakwah]


Artikel Terkait

loading...