Jumat, 02 Juni 2017

Diduga Lakukan Plagiarisme, Bagaimana Nasib Afi Nihayah Faradisa?

Lini massa kembali ramai dengan beredarnya kabar seputar tulisan Afi Nihaya Faradisa.

Sebelumnya siswa  SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuawangi Jawa Timur ini mendadak terkenal karena tulisan yang dipostingnya di situs facebook.

Afi mengunggah tulisan tentang toleransi dan keberagaman yang mengundang kontroversi karena dinilai sarat dengan pemahaman pluralisme-liberalisme beragama.

Namun belakangan terungkap, tulisan yang dimuat di akun milik pribadinya itu dinilai plagiat alias menjiplak buah pemikiran orang lain. Terbukti tulisan yang sama telah diunggah sebelumnya oleh pemilik akun lain pertengahan tahun 2016 lalu!

Afi awalnya terlihat santai dengan jilbab pink saat ditemui wartawan di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017). Dia pun menjawab dengan cepat dan singkat, “tidak”, saat dikonfirmasi soal dugaan plagiarisme dalam tulisannya yang berjudul “Belas Kasih Dalam Agama Kita” yang diunggah di akun Facebooknya pada 25 Mei 2017.

Afi mengaku belum mengetahui tuduhan plagiarisme yang ditujukan kepadanya. Dia mengatakan belum membuka media sosial.

“Saya tidak tahu, saya belum banyak buka sosmed,” ucapnya seperti dikutip tribun.

Salah satu warganet dengan nama akun Pringadi Abdi Surya mencoba membongkar dugaan plagiat itu melalui tulisannya di kompasiana dengan judul: “Drama “Dugaan” Plagiarisme Afi Nihaya Faradisa” yang dipublis pada tanggal 31 Mei 2017

Tulisan itu juga ia sertakan dengan bukti-bukti berupa screenshoot yang diambil dari status akun Mita Handayani.

Dalam tulisannya Pringadi Abdi Surya diantaranya mengatakan:

Kegelisahan saya ternyata dialami juga beberapa orang di beranda pertemanan saya. Perbincangan seru terjadi di laman Nuruddin Asyhadie, seorang kritikus sastra yang memang sangat tegas pada teks.

Di statusnya, ia berusaha memancing diskusi, apakah teks yang ditulis Afi benar-benar layak dibilang jenius, logikanya pas, dan sejenisnya.


Namun, perbincangan itu menguak hal lain, yakni dugaan plagiarisme yang dilakukan Afi. Tulisan Afi mengenai belas kasih ini bisa dibilang sama persis dengan tulisan Mita Handayani yang diunggah ke Facebook pada 30 Juni 2016.

Bahkan status-status Afi yang lain, seperti soal warisan, ditengarai memiliki ruh yang sama dengan narasi sebuah video viral yang juga diterjemahkan oleh Mita. tangkapan layar facebook Afi dan Agama Kasih Dari perbandingan di atas, yang berbeda hanyalah judul, tanda baca, dan enjambemennnya/ pemenggalannya, bukan?

Selanjutnya, Pringadi juga menulis:

Lalu, alam mempertemukan saya dengan seseorang yang memiliki screenshoot lebih lengkap atas tulisa Mita Handayani. Dari versi lengkap tersebut, bila kita bandingkan dengan tulisan Afi di sini akan kita temukan perbedaan lain, yakni tambahan 3 paragraf pada tulisan Afi, yang paragraf terakhir (namun hanya satu kalimat) adalah saduran kalimat yang diucapkan Malala.

Ketika saya buka Unplag, dan plagiarisme checker lainnya, awalnya saya berasumsi Afi hanya melakukan parafrase yang ilegal, cara mengutip yang keliru karena tidak tahu bagaimana seharusnya memperlakukan pendapat orang lain di dalam tulisan kita sendiri.

Kasus-kasus plagiat memang banyak terjadi, bahkan oleh penulis dan akademisi yang sudah punya nama. Masih segar dalam ingatan saya kasus DAM yang menjiplak Ryunosuke Akutagawa, cerpen Bamby Cahyadi yang dijiplak oleh Yessy S, dll.

Penjiplakan dalam dunia akademis sama dengan kiamat karena berakibat dikeluarkan dan dicabut gelar akademiknya. Untunglah bangsa kita pemaaf, DAM tidak menyerah sejak Akutagawa-gate-nya di Kompas dan Horison dan kini menjadi penulis yang lebih baik.

Dengan alasan pemaaf seperti itu, mungkin Mita memaafkan dia sehingga sekarang (karena saya tak berteman dengannya), saya tak bisa menemukan tulisan yang diunggah pada 30 Juni 2016 itu.

Di status terbarunya, Mita malah mendefinisikan dirinya sebagai “I’m a proud senior” karena Afi menjadi momentum yang menyebarkan pemikirannya. Biarlah saya tidak dikenal, tapi pemikiran saya dibaca dan dipahami oleh banyak orang. Mungkin seperti itu. [fm/kompasiana/ummatpos]


Artikel Terkait