Rabu, 07 Juni 2017

Imam-Imam Masjid Inggris Tolak Shalatkan Jenazah Pelaku Teror


Seorang imam salah satu Masjid London mengatakan bahwa pelaku serangan di London Bridge seharusnya tidak dimakamkan secara Islam. Menurutnya, mereka tidak diterima di masyarakat dalam kehidupan dan kematian.

Komentar Imam Qari Asim mengikuti sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh 130 imam pada hari Selasa (6/6/2017) kemarin, yang mengecam serangan tersebut dan meminta para pemimpin agama untuk tidak mengubur para pelaku sesuai dengan syariat Islam.

Pernyataan tersebut dianggap sebagai persatuan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dari para pemuka agama. Penandatangan petisi dilakukan juga oleh cendekiawan Muslimah terkemuka, yakni Sheikha Selina Begum Ali, Timothy Winter dari Universitas Cambridge.

Pernyataan dari para imam tersebut mengatakan bahwa para petisi ini sebagai bentuk duka bahwa serangan telah dilakukan sekali lagi oleh pembunuh yang berusaha mendapatkan legitimasi agama atas tindakan mereka.

“Konsekuensinya, dan berdasarkan prinsip etika lainnya yang sangat penting bagi Islam, kita tidak akan melakukan sholat jenazah atas para pelaku dan kita juga mendesak sesama imam dan otoritas agama untuk mengambil hak istimewa tersebut.”

Doa pemakaman Islam, atau shalat jenazah, adalah singkat yang disampaikan di atas mayat seorang almarhum Muslim. Asim menunjukkan bahwa orang-orang hadir untuk mendoakan pengampunan orang tersebut di dunia berikutnya.

“Sementara penyerang masih bisa memiliki layanan pemakaman pribadi, Asim mengatakan bahwa gravitasi serangan sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak akan berdoa untuk pengampunan. Kami tidak menghargai mereka setelah apa yang mereka lakukan.”

Menanggapi klaim yang dibuat di media sosial bahwa pernyataan tersebut tidak memiliki kecurangan karena kelompok negara Islam dan simpatisannya mungkin tidak mengenali penandatangannya sebagai Muslim.

“Mereka tidak perlu mengenalinya. Kita harus kembali ke akar dan mengatakan Apa yang Al-Quran katakan, ‘Jika ada yang membunuh satu orang, seolah-olah dia membunuh seluruh umat manusia.” kata Asim.

Asim mengatakan bahwa pernyataan tersebut dimaksudkan untuk “menangkap imajinasi” orang-orang Muslim yang berada di pinggiran dan yang mungkin mempertimbangkan untuk melakukan tindakan kekerasan.

“Kami telah memutuskan ini berdasarkan prinsip-prinsip Islam kami. Ketika seseorang terlibat dalam bahaya besar, kami tidak menghukum karena kami meminta maaf, kami menghukum karena iman kami mengutuk tindakan tersebut, iman kita mengatakan untuk melakukannya. Penuh belas kasihan, tapi dia juga adil,” tambahnya.

“Siapa pun yang melakukan kejahatan dalam hidup ini akan dimintai pertanggungjawaban di masa depan.” [] -Sumber: Middle East Eye


Artikel Terkait

loading...