Rabu, 12 Juli 2017

Astaghfirullah! Beredar Video Lantunan Shalawat Versi "Despacito"


Setelah di hebohkan dengan lagu Despacito yang sedang hits ini, muncullah beberapa fakta yang ternyata lagu ini bila di artikan dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang tidak sesuai dengan norma dan adat serta istiadat kita orang Indonesia, terlebih umat Muslim.

Melalui fenomena "Despacito" yang di gandrungi baik orang dewasa maupun anak-anak ini dapat kita simpulkan bahwa generasi muda kita masih sangat mudah terhanyut oleh budaya luar yang kalau boleh jujur sangat jauh berbeda dengan adat ketimuran kita yang menjunjung tinggi sopan santun dan "budaya malu".

Seperti sebuah tayangan video berikut ini, tampak seorang yang melantunkan shalawat nabi dengan lantunan nada (lagu) Despacito. Astaghfirullah. (Baca: Fenomena Despacito, Muzammil Hasballah dan Pergeseran Idola Remaja)

Adakah ajaran Islam seperti ini? Mengubah dan memodifikasi Ibadah sesuai selera yang sedang "populer"? Apakah ini buah dari pemikiran Bid'ah Hasanah yang menyebabkan seseorang "boleh" memodifikasi ibadah asalkan niat dan tujuannya "baik"? Naudzubillah... Tsumma Naudzubillah... Allahu Yahdiik !!!!

MUTIARA HIKMAH
Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Kewajiban umat Islam adalah ittiba’.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menjelaskan semua perkara agama kepada manusia dan Beliau telah menunaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya, maka wajib mentaatinya.

Allah Ta’al berfirman:

{ وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ }

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasulpun, kecuali untuk ditaati dengan seizin Allah” (QS an-Nisaa’: 64).

Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas tentang kewajiban mentaati perintah Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ini tercantum di lebih dari tiga puluh ayat dalam al-Qur’an.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash t bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun (yang diutus oleh Allah Ta’ala) sebelumku, kecuali wajib baginya untuk menyampaikan kepada umatnya (semua) kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari (semua) keburukan yang diketahuinya”. (HR Muslim (no. 1844).

Sempurna dan lengkapnya petunjuk Islam yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dipersaksi-kan oleh generasi pertama umat ini, yaitu para Shahabat. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits shahih dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika haji wada’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hadapan kaum muslimin: “…Kalian akan ditanya oleh Allah (pada hari kiamat nanti) tentang aku (petunjuk yang aku sampaikan), apa yang kalian katakan (nanti)?”. Mereka (para Shahabat y) menjawab: Kami persaksikan bahwa engkau (wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah menyampaikan (petunjuk Islam dengan lengkap dan sempurna), engkau telah menunaikan (amanah dari Allah Ta’ala) dan engkau telah menasehati (umat ini dengan sebaik-baik nasehat). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat jari telunjuknya ke langit lalu mengarahkannya kepada mereka (sambil bersabda): “Ya Allah persaksikanlah, ya Allah persaksikanlah…tiga kali” (HR Muslim (no. 1218)).

Semua keterangan di atas juga menunjukkan bahwa tidak diperbolehkan melakukan penambahan sesuatu yang baru atau modifikasi ibadah dalam Islam, karena Rasulullah r telah menjelaskan dengan sempurna semua petunjuk kebaikan yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Maka orang yang memperbolehkan melakukan penambahan sesuatu yang baru atau modi-fikasi ibadah dalam Islam, seolah-olah dia meragukan sempurnanya petunjuk yang dijelaskan oleh Rasulullah atau dia menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sebagian dari petunjuk Islam yang diturunkan oleh Allah.

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang menciptakan suatu ibadah yang baru dalam Islam dan memandangnya baik maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad meng-khianati risalah/kerasulan (menyembunyikan sebagian dari petunjuk Islam), karena Allah Ta’ala berfirman:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ}

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu” (QS al-Maaidah: 3).

Maka apapun yang tidak termasuk agama Islam ketika itu (sewaktu turunnya ayat ini) maka hari inipun tidak termasuk agama Islam” (Dinukil oleh Imam asy-Syathibi dalam kitab “al-I’tishaam” (1/33).). (Sumber: https://almanhaj.or.id/2043-islam-adalah-agama-yang-sempurna.html) [berdakwah.net]

BERIKUT VIDEONYA


Artikel Terkait