Minggu, 09 Juli 2017

Biadab! Muslim Rohingya Dilempari Batu-Bata oleh Ektrimis Hingga Terbunuh


Gerombolan ekstrimis Buddha di Rakhine Barat dilaporkan melempari seorang pria muslim Rohingya dengan batu hingga Ia terbunuh.

Sementara itu, akibat ulah para ektrimis Budhha tersebut selain seorang muslim terbunuh, 6 korban muslim Rohingya juga menderita luka-luka di negara bagian Rakhine bagian Barat Myanmar, ujar pihak berwenang Myanmar Selasa malam (04/07).

Ketujuh muslim Rohingya tersebut diserang setelah mereka meninggalkan kamp pengungsian mereka di pinggiran ibukota negara bagian Rakhine, Sittwe untuk memberikan sebuah pernyataan dalam kasus pengadilan pidana.

Ketujuh muslim rohingya itu didampingi 2 petugas polisi saat berkunjung ke pengadilan. Kemudian, mereka mengunjungi sebuah dermaga untuk mendiskusikan pembelian kapal nelayan lalu tiba-tiba sekelompok ektrimis Budhha menyerang mereka, demikian menurut sebuah pernyataan Kantor Penasihat Negara Aung San Suu Kyi.

“Di dermaga kapal, sebuah argumen berkembang,” menurut laporan Global New Light of Myanmar.

“Mereka diserang oleh beberapa orang dengan batu-bata.”

Tidak jelas apakah petugas polisi berada di lokasi, saat serangan tersebut terjadi.

Office of State Counsellor, Kantor Penasihat Negara Suu Kyi mengatakan Maung Nu, berusia 55 tahun, terbunuh saat gerombolan sekitar 100 ektrimis Buddha Rakhine melempari kendaraan dimana ketujuh muslim Rohingya berada.

2 dari 6 orang korban Rohingya yang terluka parah segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif, jelas pernyataan Office of State Counsellor, sementara 4 korban lainnya luka ringan.

Muslim Rohingya di Rakhine ditolak hak kewarganegaraannya dengan Undang-Undang Kewarganegaraan 1982 yang diundangkan oleh Ne Win, seorang pemimpin militer yang melakukan kudeta dan kepemimpinannya pada periode 1962-1988 menerapkan kebijakan xenofobia dan anti-muslim.

Penindasan Rohingya Terstruktur dan Sistematis


Pelapor khusus HAM PBB di Myanmar, Yanghee Lee, pada Jumat (20/01/2017) mengatakan bahwa pemberontakan bersenjata di negara bagian Rakhine disebabkan karena diskriminasi selama beberapa dekade lamanya yang dilembagakan, tersturktur dan sistematis terhadap Muslim Rohingya.

Undang-Undang tahun 1982 menolak hak-hak etnis Rohingya – banyak di antara mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi, namun hak kewarganegaraan mereka tak diakui, status mereka stateless [tanpa negara]. Situasi ini juga menghilangkan kebebasan Rohingya bergerak, dari akses pendidikan hingga layanan kesehatan yang sangat minim, bahkan otoritas Myanmar terus melakukan penyitaan sewenang-wenang terhadap properti milik mereka.

Diperkirakan 1,1 juta Muslim Rohingya tinggal di Rakhine, di mana mereka  dianiaya, dan menjadi minoritas etnis tanpa negara. Pemerintah Myanmar secara resmi tidak mengakui Rohingya, menyebut mereka imigran Bengali sebagai imigran ilegal, meskipun ketika dilacak akar sejarahnya, etnis Rohingya telah lama hidup dan tinggal di Myanmar selama beberapa generasi.

Minoritas Etnis Paling Tertindas


John McKissick, seorang pejabat Badan pengungsi PBB yang berbasis di Bangladesh, mengatakan etnis Rohingya adalah “minoritas etnis yang paling tertindas di dunia.”

Bahkan sebuah rencana Kepolisian akhir tahun lalu mengumumkan untuk mempersenjatai dan melatih kekuatan sipil para warga non-Muslim dari Arakan, dan hal ini cenderung meningkatkan ketegangan sektarian.

Kekerasan sangat mempengaruhi Muslim Rohingya. Sekitar 100.000 masih hidup dalam keterbatasan di tempat-tempat kumuh di mana mereka dilarang pergerakannya, dibatasi aksesnya terhadap pendidikan dan kesehatan. Puluhan ribu Rohingya telah melarikan diri dengan perahu, banyak dari mereka meregang nyawa di lautan yang berbahaya.

Muslim Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar sejak pertengahan 2012 setelah kekerasan komunal pecah di Rakhine antara etnis Rakhine Buddha dan Muslim Rohingya, menewaskan lebih dari 100 orang dan memaksa sekitar 140.000 Muslim Rohingya mengungsi.

Menurut perhitungan lainnya, Kekerasan tahun 2012 tersebut membuat sekitar 57 Muslim dan 31 Buddha tewas, sekitar 100.000 korban lainnya mengungsi di kamp-kamp dan lebih dari 2.500 rumah dihancurkan -. yang sebagian besar milik Muslim Rohingya

Laporan-laporan penargetan disengaja dan pembunuhan tanpa pandang bulu serta penangkapan warga sipil Rohingya, penghancuran rumah-rumah dan bangunan keagamaan, juga pelecehan sesual pada perempuan Rohingya oleh pasukan militer harus diselidiki sepenuhnya oleh masyarakat internasional, karena tindakan-tindakan itu sama saja dengan kejahatan terhadap kemanusiaan. [IZ]

Sumber valid:
- https://www.dawn.com/news/1343566/rohingya-man-killed-in-myanmar-buddhist-mob-attack
- https://issuu.com/myanmarnewspaper/docs/7_july_17_gnlm


Artikel Terkait