Sabtu, 22 Juli 2017

Cara Mendidik Anak dengan Cinta ala Profesor Muhaya


Seorang dokter bergelar professor yang bernama Prof Dr Muhaya Mohamad membagikan tips tata cara mendidik anak dengan cinta. Tips yang dibagikan oleh wanita pertama Malaysia yang mendapat anugerah sebagai ahli Fellow Royal College of Surgeons (FRCS) di Edinburgh tersebut telah sukses ia terapkan dalam hidupnya.

Wanita yang berprofesi sebagai Profesor Oftalmologi di AUCMS serta kolumnis sejumlah majalah keluarga tersebut memadukan tips mendidik anak secara islami dan memadukannya dengan ilmu psikologi anak.

Berikut sejumlah tips mendidik anak yang ia bagikan di lini masa facebook-nya beberapa waktu lalu.

- Bila tiba-tiba teringat kepada anak, kirimkan bacaan surat Al-Fatihah. Hingga sampai ke ayat "Iyyakana'budu waiyyaakanasta'iin" (artinya: Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), mintalah doa saat itu juga dan ucapkan hal yang ada hubungannya dengan anak kita. Habiskan bacaan surat Al-Fatihah dan kemudia doakan agar anak diberi pemahaman yang baik terhadap agamanya, agar anak memiliki ilmu yang bermanfaat kepada orang lain dan mintalah semoga Allah menjaga hidupnya.

- Pandang wajah anak saat ia tidur dan ucapkan "Ibu/Ayah mau (sebutkan nama anak) menjadi anak yang shaleh, sayang.....".

Kata seperti ini seperti kita berbicara dengan rohnya. Dan seperti kita ketahui bahwa ucapan adalah doa. Dan Allah Maha Mendengar segala doa hambanya.

- Ketika bangun untuk shalat malam, kerjakan shalat di dekatnya. Bisa berdekatan dengan kamarnya atau tempat tidurnya.

Yakinlah bila kita sering melakukannya dan selalu memberitahunya bahwa kita sering mendoakan dia, maka ia akan ikatan kasih sayang dengan orangtuanya. Sering-seringlah mengatakan bahwa kita ingin agar dia menjadi anak yang shaleh sehingga dia tahu bahwa kita selalu mendoakannya.

- Minta dikasihani, yang bermakna seringlah mengucapkan kepada anak bahwa kita bisa menghadap Allah kapan saja, karena itu jelaskan bahwa kita ingin dia menjadi anak yang shaleh agar bisa mengirim doa kepada kita ketika kita meninggal nantinya. Sebutkan bahwa bila ia tidak menjadi anak yang shaleh maka bermakna dia menyayangi kita dan tentu kita akan menderita di Alam akhirat nantinya.

- Sering-seringlah memeluk anak walaupun dia sudah besar. Peluklah ia sebagaimana kita menyayangi ia saat kecil. Peluklah anak dan bisikkan padanya bahwa kita berbangga punya anak yang shaleh seperti dirinya.

- Usahakan untuk bersabar dan memaafkan kesalahan anak walaupun perbuatannya sangat melukai kita. Sering-seringlah bermuhasabah, bisa jadi kesalahan dilakukan oleh anak kita adalah imbas dari dosa-dosa kita di masa lalu.

- Hal yang sangat penting, tetap jaga tutur kata dan kita kepada anak. Jangan sekali-kali mengucapkan kata yang bisa melukai hati anak.

Jika kita khilaf, segera minta maaf padanya pada saat yang tepat. Mengakulah kepada anak bahwa hal itu adalah kelemahan kita. Kita memarahinya karena ia telah berbuat salah dan bukan memarahi karena membencinya.

- Renungkan dan amalkan Surat Ibrahim ayat 40 supaya kita, anak dan keturunan kita menjadi golongan orang yang tetap mendirikan shalat.
(Ya..Tuhanku, jadikan aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya...Tuhan kami, perkenankanlah doaku).

- Seringlah mengingatkan anak bahwa tidak ada gunanya pintar, punya jabatan, banyak harta, bahkan hafal Al-Quran sekalipun, bila tidak punya akhlak mulia. Jelaskan bahwa Allah tidak melihat rupa yang cantik atau tampan, tapi Allah melihat hati yang "rupawan".

- Disaat mencuci beras untuk dikonsumsi sehari-hari, niatkan dengan lafadz doa "Yaa Allah.....lembutkanlah hati anak-anakku, (kemudian sebut nama mereka) agar paham agamanya. Seperti Engkau lembutkan beras ini menjadi nasi ".

Kemudian cucilah beras berlawanan dengan arah jam (arah memutar kekiri, mirip seperti orang yang sedang Thawaf di Mekkah). Kemudian sambil melafadzkan shalawat kepada Rasulullah SAW.
Sering-seringlah dan jangan lalai mengerjakannya. Dan jangan lupa, selalulah mengingat Allah agar dimudahkan segala doa. Aamiin yaa Rabbal 'alamiin. []

Penulis : Prof. Dr. Muhaya


Artikel Terkait

loading...