Jumat, 14 Juli 2017

Catatan Tentang Rohisfobia dan Rekayasa Islamophobia di Indonesia


Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengeluarkan pernyataan kontroversial. Dalam sambutannya pada acara halal bihalal Kemenag pada Jum’at (7/7), ia meminta para kepala sekolah agar mengawasi kegiatan Rohis (Kerohanian Islam) di sekolah atau madrasahnya. Ia menilai aktivitas Rohis rentan disusupi paham radikal.

"Kami selalu mengingatkan agar stakeholder sekolah tidak membuat kebijakan yang justru memberikan celah tumbuhnya radikalisme. Jangan ada kegiatan ekstra keagamaan yang tidak terkontrol guru," ujar dia. (Republika, 8 Juli 2017).

Hal ini tentu mengundang reaksi keras dari banyak pihak. Pengamat terorisme Al Chaidar menilai pernyataan seperti itu terlalu berlebihan. Pasalnya, dalam catatan mantan aktivis NII ini, hampir tidak ada alumni Rohis yang jadi teroris.

"Berlebihan itu, aneh itu. Karena kan beberapa pelaku terorisme itu, setahu saya tidak ada aktivis Rohis," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin juga menyesalkan kalimat blunder yang diucapkan Menteri Agama. Menurutnya Rohis selama ini justru telah membantu dalam membina kerohanian siswa.

"Seharusnya Menag berterima kasih kepada para Rohis di sekolah," tuturnya blak-blakan. Apalagi di saat krisis jumlah guru agama saat ini, Rohis telah berperan mengisi kekosongan tersebut.

Di Senayan, Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini ikut bersuara. Menurutnya, pernyataan Menag tersebut tidak arif.

"Coba tunjukan kerusakan apa yang ditimbulkan oleh aktivitas Rohis? Justru manfaat besar yang bisa kita petik."

Pemerintah, tuturnya, justru perlu mengapresiasi Rohis dengan mengokohkan perannya dan mensupport aktivitasnya. Di berbagai kanal media sosial, warganet ramai mengkritisi sikap Menag tersebut. Apalagi mengingat belum lama ini Menag menyampaikan pesan agar tak mengucilkan kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender. Wajar saja bila sebagian warganet menciumnya sebagai aroma Islamofobia yang begitu kental.

Bukan Kali Pertama


Sebenarnya ini bukan kali pertama Rohis mendapat tuduhan serampangan. Pada bulan September 2012, sebuah program berita di Metro TV menayangkan infografis yang menyebut bahwa rekrutmen generasi baru teroris dilakukan melalui ekstakurikuler di masjid sekolah. Tentu saja ini terang menyasar Rohis, sebab tak mungkin Pramuka atau Palang Merah Remaja yang spesifik berkegiatan di masjid. Publik marah atas kesemena-menaan stasiun televisi milik politisi Partai Nasdem ini. Tidak tanggung-tanggung, jumlah aduan masyararakat kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait konten ini memecahkan rekor yakni sebanyak 29.730 pengaduan. Setelah didesak, akhirnya pihak media tersebut meminta maaf dan memberikan klarifikasi.

Tidak hanya itu, pada 6 Januari 2017 Helmy Faishal Zaini juga menulis hal yang setali tiga uang dengan Menag. Dalam opininya di Jawa Pos yang berjudul "Indonesia di Pusaran Radikalisme Global", Sekjen PBNU tersebut menyatakan bahwa Rohis merupakan pabrik yang memproduksi tumbuh kembangnya benih radikalisme. Mengutip Anas Saidi (2015), ia menuding kegiatan Rohis berdampak pada suburnya radikalisme, pandangan soal kekerasan, abai soal toleransi, tidak punya tepo seliro dan pudarnya tengggang rasa.

Senada dengan itu, Majalah Tempo edisi 19-25 Juni 2017 juga mengangkat hal yang sama. Berbagai tajuk bertendensi negatif diturunkan media tersebut seperti "Menyemai Radikalisme di Sekolah", "Berbelok Menuju Syariat" dan "Mengeras Sejak Dini". Berbekal riset Wahid Foundation pada 1.600 responden peserta Kemah Rohis di Cibubur 2016, Tempo melakukan framing untuk menggiring opini publik bahwa Rohis adalah kegiatan yang "berbahaya". Patut diduga Tempo melakukan cherry picking yaitu kesalahan logika dimana redaksi hanya mengambil data yang menyokong klaimnya saja, tanpa mempertimbangkan keseluruhan data yang sangat mungkin membantah klaimnya.

Bahkan ketika kita buka hasil penelitian itu secara menyeluruh, dapat ditemukan pertanyaan-pertanyaan menjebak dan indikator penilaian yang rancu. Misalnya pertanyaan, setujukah “lebih baik pemimpin Muslim meskipun tidak bersih dari korupsi, daripada pemimpin non-Muslim yang bersih dari korupsi”. Tentu ini menyesatkan. Alam bawah sadar responden digiring secara halus untuk meyakini bahwa tidak ada Muslim yang bersih, sedangkan non-muslim pasti bersih. Lalu, jika siswa konsisten mengikuti fatwa MUI sesuai Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 maka itu disebut intoleran.

Anehnya lagi, sekedar setuju bahwa lelaki dan perempuan yang bukan mahram dilarang berduaan saja divonis intoleran. Taat pada fatwa MUI bahwa paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme sesat adalah radikal. Patuh pada keterangan ulama bahwa Ahmadiyah menyimpang dari akidah Islam distigma sebagai anti-keberagaman. Konon, penilaian ini menjadikan kriteria ala Greg Fealy dalam Islamic Radicalism in Indonesia: The Faltering Revival sebagai rujukan. Ujungnya siapa saja yang menjalankan ajaran Islam secara kaffah dengan mudah dicap sebagai radikal dan anti-kebhinekaan.

Padahal, dimana-mana umumnya Rohis mengajarkan Islam yang wasathiyah (pertengahan). Suka tidak suka, Rohis adalah benteng moral dari narkoba, pergaulan bebas, tawuran dan aneka kenalan remaja lainnya. Merokok saja mereka ogah, pacaran yang merupakan langkah mendekati zina juga dijauhi. Kegiatannya pun positif. Mulai dari pengajian, belajar baca Al-Qur’an, pelatihan keterampilan, kreativitas seni relijius, kelompok belajar, tadabbur alam hingga olahraga bersama.

Para alumninya pun kini ada yang jadi gubernur, anggota legislatif, pengusaha, dosen, pegiat LSM, birokrat, bahkan turut jadi aparat pemerintah di TNI, Kepolisian, Kejaksaan dan berbagai kementerian/lembaga. Apakah menganjurkan shalat dhuha di jam istirahat pertama adalah intoleran? Apakah tradisi menyebarluaskan salam dan berbagi senyuman kepada sahabat ciri radikalisme?

Rohis Bukan Teroris


Mereduksi Islamofobia


Berbagai tuduhan keji kepada Rohis tak bisa dilepaskan dari gelombang Islamofobia yang kian menjalar. Ilmuwan politik Prancis, Dominique Moisi dalam Geopolitics of Emotions: How Culture of Fears, Humiliation and Hope are Reshaping the World (2009) mengungkap adanya benturan emosi antara Islam dan Barat. Ada pihak yang merasa takut (Barat) karena aksi terorisme oknum muslim dan ada pihak yang dipermalukan (Islam) karena tidak mendapat keadilan dan dizalimi semena-mena. Tesis ini melanjutkan postulat Bernad Lewis tentang benturan antar peradaban (clash of civilization) yang dipopulerkan oleh Samuel P. Huntington. Konflik ini senantiasa eksis karena konsep ini terus dipropagandakan secara paksa.

Parahnya lagi, arus Islamofobia di AS juga direkayasa dengan penyebaran berita bohong. Nathan Lean dalam The Islamophobia Industry secara tegas menyebut kemarahan masyarakat AS bisa dipicu hanya dengan sebuah hoax tentang "Ground Zero Mosque". Kabar palsu tersebut secara terorganisir disebar oleh seorang blogger bernama Pamela Geller dengan ujaran kebencian kepada Islam, bukan teroris muslim. Menariknya, tujuannya bukan semata ideologis, tapi keuntungan bisnis ketika pundi dollar mengucur deras ke sakunya.

Jadi, sudah saatnya kita hentikan saling menaruh prasangka. Rohis semestinya dibina, bukan dimusuhi oleh Pemerintah. Mencurigai Rohis tanpa dasar malahan akan membuat publik yang kini gelombang kesadaran beragamanya meningkat menjadi antipati kepada pemerintah. Ketakutan berlebih Menag bisa jadi-meminjam Yasraf A.

Piliang-karena ketidaktahuan semata. Persis seperti Albus Dumbledore dalam serial Harry Potter yang begitu takut ketika ia menatap kematian dan kegelapan. Ketakutannya itu maya, bukan nyata sama sekali. Hanya berasal dari reka-reka belaka. Khusus kepada penggiat Rohis ini tantangan untuk tampil ke depan meluaskan syiar sebagaimana Iqbal bersyair dalam Payam-i-Mashriq, "Burung bul-bul tak akan mengetahui taman, jika semerbak mawar tak menunjukkan alamatnya."

Penulis: Anugrah Roby Syahputra
(alumni Rohis SMA Negeri 1 Binjai dan  Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Sumatera Utara)


Artikel Terkait