Rabu, 12 Juli 2017

Fenomena Despacito, Muzammil Hasballah dan Pergeseran Idola Remaja


Jujur aku sedikit terhenyak dengan berita tentang lagu Bieber yang lagi hits di kalangan anak-anak sekarang. Yang membuat terhenyak bukan karena liriknya yang mesum (karena sudah biasa mendapati lirik lagu yang disisipi kata-kata mesum), tapi karena menemui fakta bahwa ternyata teman-teman anakku sebagian besar sudah fasih menyanyikan lagu ini lengkap dengan dancenya segala.
Sementara aku tau lagunya pun baru hari ini.

Tapi...apakah anak-anak ini salah?
Tidak...mereka tidak salah, karena mereka tidak tahu.
Yang mereka tahu lagu ini asyik dan lagi nge-hits.
Lagipula mereka seolah tidak punya pilihan lain. Dalam artian mereka tidak tau harus mengidolakan penyanyi anak-anak yang mana sekarang ini? Karena memang tidak ada lagi.
Jadi saat suntuk dimobil maka lagu inilah yang akan diulang-ulang oleh mereka.

Eeh tunggu, gak perlu juga mengatakan: kenapa gak dengar murottal saja?
Atau kenapa gak dengar nasyid saja?
Karena sungguh itu akan sangat tidak menggiurkan bagi kalangan ini.

Berpaling ke kondisi remaja yang lainnya.
Yang lahir di lingkungan keluarga shalih/shalihah, mereka sih tahu Justin Bieber tapi mungkin tidak mengatakan secara terbuka seperti anak-anak remaja lainnya.
Selain Bieber mereka juga mengidolakan artis-artis muda yang keren dan berbakat lainnya.

Lalu...saat kehadiran fenomena seorang imam muda bersuara merdu, maka perlahan mereka pun mengalihkan kekagumannya kepada imam muda ini.
Dan...sayangnya tidak beberapa lama mereka mendengar kabar bahwa imam muda ini akan segera menikah.
Maka satu persatu mereka membuat status #haripatahhatinasional #haribapernasional dan sebagainya.

Sayangnya lagi....mereka terhempas karena langsung dikritik dan diomeli dengan tajam, setajam silet oleh para orangtua di media sosial.

Bukan...bukan ingin mencari pembenaran. Bukan ingin melegalkan sesuatu yang kalian anggap salah.

Tapi...
Tahukah antum begitulah fenomena yang ada sekarang.
Tahukan antum begitulah kondisi generasi muda sekarang.
Ya...mereka butuh figuritas yg baik.
Mereka butuh "idola" yang baik.
Mereka butuh contoh konkrit keshalihan yang nyata dan jelas terlihat oleh mata mereka.

Plis jangan disanggah dulu.

Kita tau dan sepakat, sebaik-baik idola ummat muslim adalah Rasulullah SAW. Sosok manusia pilihan Allah SWT yang insya Allah dijamin kebaikan akhlaknya.
Yang dijamin syurga-Nya.
Yang dijamin tidak akan membuat kita kecewa.
Yang dijamin jika mengidolakannya akan berbuah pahala dan syurga.
Yang akan dijanjikan syafaat di hari akhir nanti.

Namun, selayaknya anak muda, dalam proses pencarian jatidirinya, mereka tetap membutuhkan sosok yang konkrit.

Maka lihatlah saat ini (saya tidak tau bagaimana kalau di kampung asal saya di Aceh sana), tapi disini, di kota Bandung ini saya melihat sendiri anak-anak muda yang haus figuritas shalih/shalihah.
Maka biarkanlah mereka mengidolakan sang imam muda tersebut.

Karena sungguh itu jauh lebih baik daripada sebelumnya mereka selalu mengidolakan artis-artis bening mulai dari barat, Korea dan Indonesia.

Saya betul-betul heran kenapa harus nyinyir dengan fenomena ini.
Come on....buka mata dan buka telinga antum.
Jangan hanya melihat yang disekitar antum.
Coba lihatlah dalam radius yang lebih besar lagi.
Lihatlah bagaimana gencarnya pengaruh sosial media saat ini.
Dan lihatlah siapa selebgram-selebgram yang kini sedang difavoritkan oleh remaja-remaja kita?
Atau jangan-jangan anda sendiri tidak kenal dengan nama-nama berikut: Awkarin, Younglex, Anya dan bahkan selebgram yang berbalut kerudung pun juga sangat "abu-abu", sering memposting video bercanda dengan teman lelakinya, yang terakhir memposting video saat dia diluar negeri dan melihat sepasang kekasih yang lagi asyik masyuk kissing disebuah tempat wisata.

Dan you know??
Mereka ini followernya bukan lagi di angka ribuan, tapi sudah jutaan.
Dan sebagian besarnya jelas adalah remaja Muslim.

Itu baru selebgram, belum lagi melalui televisi.
Di kotak ajaib itu, anak-anak remaja ini setiap hari bebas melihat artis-artis keren, mulai dari Aliando, Ammar Zoni, Justin Bieber hingga song-song couple tea.

Tapi... kan mereka adalah akhawat masak ngidolain ikhwan sih?
Yup benar, sebagian dari mereka adalah adik-adik shalihah kita yang berlabel akhawat.

Saya sangat bisa merasakan geregetan ini karena kebetulan saya sedang diamanahi membina satu kelompok yang rentang usianya 16 tahun sampai 20 tahun.
Mereka adalah akhawat.
Lahir dari orangtua-orangtua shalih/shalihah.
Mereka semangat ikut halaqah.
Bahkan mereka adalah para calon Hafidzah.

Tapi tetap, saya tidak boleh lupa bahwa biar bagaimanapun mereka adalah anak muda.
Mereka sedang berproses menjadi baik.
Mereka sedang dalam proses "mencari".

Maka saat mereka mengidolakan imam muda tersebut, apa saya harus langsung mengeluarkan dalil-dalil tentang ini itu?

Dan saat mereka mengatakan dengan sedikit bercanda (ada juga yang serius) mengatakan patah hati dengan pernikahan imam muda tersebut, apakah saya harus langsung mentaujih dengan ini itu?

Saya memilih untuk tidak melakukan itu.
Saya mencoba untuk memahami bahwa hal ini masih sangat wajar.
Karena apa? Karena saya tau sebelum booming imam muda ini, idolanya mereka adalah artis-artis muda, selebgram dan komika-komika yang sering bicara kotor.

Jadi, come on....
How can you do that?
#ups.....
Suka atau tidak suka, inilah fenomena sekarang.

Anak remaja kita butuh idola tandingan yang tetap keren dan gak terkesan #ndeso.
Maka biarkanlah mereka mengidolakan imam muda daripada selebgram berakhlak minus.
Biarkanlah mereka mengidolakan Hafidz Hafidzah daripada penyanyi lagu mesum.

Biarkanlah HP mereka berisi video-video mutottal imam muda tersebut daripada berisi video sok lucu dari komika-komika bermulut jorok.
Dan tentu saja, harus sambil kita arahkan.

Kemarin seorang adik binaan curhat kepada saya:
"Teh, kenapa atuh pada ceramahi aku waktu aku pasang status whatsappnya foto nikahan Muzammil, apa karena aku kasih caption #haripatahhatinasional jilid 2?."

Nah.... yang begini nih yang gak tau tempat untuk dakwah.
Anak 16 tahun kok langsung ditegur begitu?
Antum saat 16 tahun sudah seperti apa?

Ya Alhamdulillah kalau antum sudah shalih dari sananya.
Tapi anak 16 tahun sekarang ini hidup di era sosmed.
Tahukah antum betapa berharganya jika ia sudah tidak lagi mengidolakan Awkarin, Younglex dan sejenisnya itu?

Tahukah antum betapa sakit dan malunya dia karena dianggap sudah paling berdosa oleh postingan-postingan antum itu.

Bersiaplah dengan Fenomena sekarang.
Jangan langsung nyinyir terhadap ini itu.
Itulah salah satu bumbu yang harus kita benahi dari efek berkembangnya dakwah Islam saat ini.

Seperti saat jilbab syar'i sudah melambai dimana-mana, tapi tetap nyinyir bilangin tabarruj-lah, mubazir-lah, inilah itulah.
Padahal di kota besar mah sudah adem banget lihat yang begini, dibanding harus lihat hotpants melulu di jalanan.

Atau saat tren i'tikaf sudah menjamur, saya lihat sendiri banyak anak muda yang ikut 'itikaf tapi sibuk selfie daripada mengaji. Yang remaja putri malah banyak yang tidak berkerudung. Tapiiii...lagi-lagi gunakanlah metode yang baik, jangan langsung dihakimi. Masih lebih baik mereka mau menghabiskan waktunya di masjid daripada mereka nga-goler di rumah sepanjang malam sambil nonton drama Korea.

Dan banyak lagi fenomena lainnya.
Inilah tugas kita untuk mengarahkan dengan baik.
Bukan dengan menghakimi.
Bukan dengan nyinyir.

Jauh lebih baik jika anda yang nyinyir, langsung turun langsung ke lapangan untuk ikut membina adik-adik SMP- SMA yang sedang haus panutan ini.
Mari bersama kita rangkul adik-adik shalihah ini, jangan dihakimi hanya gara-gara mereka mengatakan patah hati.

Bahkan untuk ibu-ibu yang baperan dengan pernikahan imam muda itu pun, so what gitu loh, yang mereka baper kan adalah mereka ingin nanti anak gadisnya memiliki suami seperti imam muda tersebut.
Kecuali jika ibu-ibunya baper karena naksir sama imam mudanya, yaaa lain lagi sih ceritanya. Tapi yang saya lihat tidak ada tuh yang begitu. Kecuali kalau lihatnya dengan emosi ya terserah sih.

Jadi. Selow aja...
Malah harus banyak syukur karena tren idola anak remaja sekarang adalah anak muda yang shalih bukan anak muda yang mesum, atau anak muda yang plagiat, atau anak muda yang terbiasa berkata kotor, atau yang terbaru artis muda yang terlihat baik namun ternyata pecandu narkoba.

Mohon dimaafkan jika banyak yang tersakiti dengan postingan ini. []

Penulis: Popi Fadliani, M.Pd
(Praktisi parenting, alumnus Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia)


Artikel Terkait

loading...