Rabu, 30 Agustus 2017

Aksi Genosida Muslim Myanmar dan Kelompok Budha Ekstrim 969


Ketika orang berpikir tentang ajaran Buddha, mereka kebanyakan membayangkan sosok pria ramah senyum, berkepala botak dan membawa tasbih. Sehingga, istilah “Buddha neo-Nazi” terdengar seperti sebuah kontradiksi.

Tapi di Myanmar (Burma), sentimen anti-Muslim sangat kentara. Ekstrimis Budha dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas serangan terhadap warga Muslim dan membakar rumah-rumah dan masjid mereka. Suatu keadaan yang diabaikan dunia internasional, hingga kelompok peretas ‘Anonymous’ meluncurkan kampanye di Twitter untuk menceritakan tentang genosida terhadap orang Rohingya kepada dunia.

Menurut Dr Muang Zarni, seorang aktivis hak asasi manusia di Myanmar dan peneliti di London School of Economics, situasi saat ini di Myanmar disebabkan oleh kelompok 969, yang ia gambarkan sebagai organisasi neo-Nazi. Para biksu kejam itu menggunakan taktik Hitler untuk “membersihkan” Myanmar dengan menyingkirkan kaum Muslim. Ia juga menegaskan bahwa kelompok 969 ialah salah satu gerakan yang paling cepat berkembang di negara ini.

Dilansir dari vice.com, Ray Downs (penulis artikel ini, red) berbicara kepada Dr Zarni untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang terjadi di Burma dan bagaimana seorang Buddha dapat menjadi “Nazi”.

Siapakah 969 dan apa maksud dari angka itu?

Dr Muang Zarni: Pemimpin kelompok 969 ialah para biarawan Burma. Agak sulit untuk menggambarkan mereka sebagai biarawan asli karena mereka menyebarkan pesan kebencian anti-Muslim dan Islamophobia yang benar-benar bertentangan dengan pesan kebaikan universal Buddha. Angka 969 menegaskan tiga hal. Angka 9 merupakan atribut khusus bagi Buddha, pendiri agama itu. 6 menandakan ajaran dharma. Dan, yang terakhir 9 merupakan karakteristik khusus para biarawan.

Anda telah menggambarkan kelompok 969 sebagai ” gerakan nasionalis Myanmar dengan pertumbuhan tercepat yang mengusung neo-Nazi ‘Buddha’. Apa yang membuat mereka neo-Nazi dan mengapa mereka menargetkan Muslim?

Saya menggunakan kata neo-Nazi karena niat mereka ialah melakukan genosida, dalam arti bahwa orang Islam – semua dari mereka, termasuk Muslim dari etnis Burma – dianggap sebagai lintah dalam masyarakat kita. Sebagaimana orang-orang Yahudi dianggap lintah dan pengisap darah selama ‘Reich Ketiga’ ketika gerakan Nazi mulai berkembang.

Ada kesamaan antara apa yang kita lihat di Nazi Jerman dan apa yang kita lihat hari ini di Burma. Gerakan 969 dan juru bicara kelompok itu menyeru seluruh bangsa Myanmar untuk menyerang seluruh kaum Muslimin di Burma. Bukan hanya etnis Rohingya di Burma Barat yang dituding sebagai migran ilegal dari Bangladesh, tetapi semua Muslim di Burma. Orang Buddha yang mencoba untuk membantu Muslim atau membeli bahan makanan dari bisnis yang dimiliki warga Muslim akan dipukuli atau diintimidasi atau dikucilkan oleh umat Buddha lainnya.

Militer Myanmar juga terlibat dengan gerakan ini. Sebaik-baiknya, pejabat militer mentoleransi pesan kebencian yang diumbar para pengkhotbah Buddha. Seburuk-buruknya, dan saya yakin ini benar, elemen-elemen dalam kepemimpinan militer terlibat secara pasif mendukung gerakan ini. Selama 50 tahun terakhir sejak militer berkuasa, telah terjadi pola yang konsisten dari pimpinan militer menggunakan proksi organisasi dalam masyarakat Myanmar di seluruh negeri untuk menghasut kekerasan terhadap kelompok sasaran, baik itu pembangkang, etnis Cina, atau sekarang, umat Islam.

Apa yang didapat pemerintah Myanmar dalam kekerasan ini?

Ada tiga tujuan, sejauh yang saya tahu. Salah satunya adalah, pimpinan militer telah menukar seragam jenderal mereka menjadi pakaian sipil, tapi di hati, mereka masih tetap otoriter dan diktator. Mereka terobsesi dengan keamanan dan beberapa dari mereka merasa reformasi yang berlangsung di negara itu berjalan terlalu jauh. Jadi mereka ingin memperlambatnya dan memutar kembali proses reformasi. Untuk melakukan itu, mereka harus menciptakan instabilitas sosial dan menjadikan situasi mudah terbakar emosi sebagai alasan untuk mengatakan, “Orang-orang tidak bisa lagi menjalankan kebebasan berbicara, kebebasan bergerak, dan kebebasan organisasi. Oleh karena itu, kita perlu memiliki pegangan yang kuat pada situasi ini untuk memastikan orang-orang tetap sejalan dan tidak membunuh satu sama lain.”

Kedua, ketika semua gelombang kekerasan terhadap Muslim Rohingya ini dimulai tahun lalu, militer dan partai politik proxi militer berada dalam situasi yang mengkhawatirkan karena kalah telak dalam pemilu. Jadi dalam waktu dua bulan dari kekalahan mereka, mereka memutuskan untuk menciptakan sentimen komunal anti-Muslim yang sangat kuat di seluruh negeri. Dan sekarang, [aktivis dan pemimpin politik] An San Suu Kyi berada dalam situasi sulit karena dia hanya bisa berbicara bahasa liberal, hak asasi manusia dan demokrasi, yang tidak sekuat dengan ideologi yang dikobarkan oleh proxi militer dan para biarawan neo-Nazi. Ketika datang masanya untuk memerangi jenis gerakan keagamaan yang abnormal semacam ini, bahasa hak asasi manusia tidak pernah cukup.

Ketiga, saya pikir militer tidak meninggalkan celah apapun. Mereka memiliki kesempatan lagi pada pemilu tahun 2015, dan mereka ingin memastikan bahwa mereka telah memiliki gerakan politik proksi baru yang dapat mereka gunakan untuk siap beradu dengan partai Suu Kyi. Sebagai hasilnya, dibentuklah gerakan neo-Nazi kelompok 969, sebagai gerakan yang paling populer di negeri ini.

Dalam video YouTube dari khotbah yang disampaikan oleh Wirathu, salah satu pemimpin 969, ia mengklaim bahwa kaum Muslim telah mengambil alih negara itu dan menghancurkan cara hidup Buddha. Apakah ini cara berpikir warga Burma sehari-hari atau hanya populer di kalangan ekstremis?

Muncul reaksi yang beragam. Kami warga Burma cenderung berprasangka terhadap orang-orang dengan warna kulit lebih gelap. Dan ciri itu ada pada orang-orang Timur Jauh atau negara-negara Asia Tenggara di mana kulitnya lebih cerah, kulit pucat dianggap lebih bergengsi dan diinginkan. Gerakan 969 ini menggerogoti prasangka sejarah dan budaya yang kita miliki sebagai masyarakat terhadap warna kulit yang lebih gelap.

Juga, ketika Anda memiliki sebuah negara yang termiskin di Asia Tenggara, bahasa ‘nasionalisme ekonomi’ menjadi menarik, dan itulah yang digunakan gerakan neo-Nazi. Kelompok 969 menyebarkan propaganda kepada orang-orang bahwa mereka miskin karena kekayaan mereka yang diambil oleh “lintah Islam”.

Jika ada, peran apa yang pemerintah-pemerintah Barat harus lakukan dalam hal ini?
Myanmar adalah elemen penting dalam kebijakan luar negeri baru Obama untuk menyeimbangkan kepentingan dan kekuasaan Amerika. Myanmar berada di antara dua kekuatan utama: India dan China. Dan kami juga berada di sebelah Thailand, yang merupakan kawasan strategis Amerika Serikat untuk melakukan operasi diplomatik, ekonomi dan kegiatan intelijen di Asia Tenggara.

Para pebisnis Amerika dan Uni Eropa sedang mencari pasar baru untuk keluar dari kemerosotan ekonomi dan Myanmar memiliki sumber daya besar minyak, gas, uranium, kayu, dan lainnya. Jadi mereka tidak akan menganggap mitra bisnis baru mereka di pasar yang baru muncul itu sebagai pelaku genosida.

Jika Barat menggambarkan apa yang terjadi di Myanmar sebagai genosida, seperti yang terjadi sesungguhnya, komunitas internasional akan menyerukan adanya tindakan dan menuntut para pelaku dibawa ke pengadilan. Itulah mengapa saya pikir masyarakat internasional sangat ‘ramah’ pada militer Myanmar. [sdqfajar]



Pranala luar:
1. https://www.kiblat.net/2014/04/11/aksi-genosida-muslim-myanmar-dan-kelompok-budha-ekstrim-969
2. https://squarefaceblog.wordpress.com/2016/11/29/awal-mula-pemicu-tragedi-pembataian-muslim-di-rohingya-dahulu-hingga-kini


Artikel Terkait

loading...