Selasa, 22 Agustus 2017

Khalifah Turki Utsmani, Sultan Aceh dan Budaya Ngopi

Aceh pernah menjadi bagian dari kekhalifahan Turki Utsmani

Sebagai sebuah kerajaan Islam, Nanggroe Aceh Darusalam telah menjalin hubungan diplomatik yang sangat erat dengan pihak Kekhalifahan Ustmaniyyah. Bahkan dari berbagai fakta dan catatan yang ada, Aceh Darussalam sesungguhnya telah menjadi bagian dari Kekhalifahan Utsmaniyah.

Sebuah arsip kekhalifahan yg berisi sebuah petisi dari Sultan Alauddin Riayat Syah (tahun 1537-1568) kepada Sultan Sulaiman Al-Qanuni (tahun 1494-1566) yang dibawa oleh Husein Effendi juga membuktikan bahwa Aceh saat itu sudah mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai kekhalifahan Islam.

Kopi dan kafe di Turki

Ternyata dokumen tersebut juga berisi laporan terkait adanya armada Salib Portugis yang sering mengganggu dan merompak kapal-kapal pedagang Muslim yang tengah berlayar di jalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya.

Selain mengganggu ekspedisi dagang, Portugis juga sering menghadang jamaah haji dari Aceh dan Nusantara yang hendak menunaikan ibadah haji ke Makkah Al Mukarramah, salah satu wilayah Kekhilafahan saat itu.

Karena itulah kemudian pihak kekhalifahan Aceh memohon bantuan kekhalifahan Utsmaniyah agar mengirimkan armada perangnya guna mengamankan jalur pelayaran tersebut dari gangguan armada kafir Farangi (Portugis).

Mari perhatikan bendera kerajaan Islam Aceh Darussalam yang dinamakan "Alam Zulfiqar" (bendera pedang) berwarna dasar merah darah dengan bulan sabit dan bintang di tengah serta sebilah pedang yang melintang di bawah berwarna putih. Sangat mirip dengan salah satu panji Kekhalifahan Utsmaniyah yakni dasar merah darah dengan bulan sabit dan bintang di tengah berwarna putih. Bukan sebuah kebetulan kan?

Bendera kekhalifahan Aceh yang sangat mirip dengan bendera kekhalifahan Turki Ustmani

Selain dalam hal akidah, teritorial kekuasaan, politik, pertahanan dan keamanan, dalam hal budaya pun Aceh dan Kekhalifahan Utsmaniyah memiliki hubungan yang erat. Contohnya adalah masuknya kopi, budaya minum kopi, serta kehadiran warung kopi.

Kopi sudah masuk ke Nusantara jauh sebelum didatangkan oleh VOC. Dibawa oleh tentara Kekhalifahan Utsmaniyah sebagai "energy drink". Kegemaran minum kopi para tentara Utsmaniyah ini kemudian "menular" kepada tentara kerajaan Islam Darussalam dan masyarakat Aceh.

Pernah mencoba kopi Aceh? Jika pernah minum kopi Aceh, kemudian merasakan Türk Kahvesi alias kopi Turki, sahabat akan kesulitan menemukan perbedaan rasa dan strong-nya. Ya, kopi aceh dan kopi Turki itu identik.

Tempat untuk minum kopi yang paling awal dikenal di Turki dengan nama Kiva Han didirikan pada tahun 1475 di kota Istanbul. Lokasi tempat minum kopi tersebut menjadi salah satu catatan dalam sejarah kopi, setelah pada awal abad ke-13 kopi ditemukan dan diperkenalkan mulai dari Etiopia, Yaman, Arab, hingga negeri-negeri yang dikuasai oleh Kekhalfahan Utsmaniyah.

Dari nama Kiva Han itu kemudian kita kenal istilah "kafe" setelah masuk ke Eropa. Tidak lama setelah itu kafe kemudian diperkenalkan di Aceh. Hingga kemudian berkembang menjadi warung-warung kopi seperti saat ini yang banyak bisa kita jumpai saat ini di Aceh.

Peue haba? Jak tajak jep kupi...


Penulis: Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq


Artikel Terkait

loading...