Senin, 21 Agustus 2017

Mantan Biarawati : Umat Islam Tidak Menyembah Ka'bah


Fitnah demi fitnah, seolah meluncur tanpa batas, dan terus menerpa ummat Islam. Kemuliaan risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam ini seolah menjadi ancaman bagi segolongan kaum yang membenci dan merasa tertekan.

Salah satu fitnah keji yang dilontarkan adalah, ummat Islam, setiap kali shalat, sama artinya dengan menyembah Ka'bah. Na'udzubillah. Mari kita telaah.

Perlu diingat bahwa Ka'bah adalah kiblat, yaitu arah di mana Muslim menghadap ketika mengerjakan shalat. Dalam hal ini perlu digarisbawahi bahwa Muslim menghadap Ka'bah ketika mengerjakan shalat bukan berarti bahwa mereka menyembah Ka'bah. Muslim tidak menyembah sesuatu pun selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur'an Suratul Baqarah ayat 144.

Seperti misalnya, jika umat Islam ingin mengerjakan shalat, maka kemungkinan sebagian dari mereka akan mengerjakan shalat ke arah utara, sedang yang lain ke arah selatan. Maka untuk mempersatukan ummat Islam dalam mengerjakan shalat menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka ummat Islam di manapun mereka tinggal, diperintah untuk menghadap hanya pada satu arah yaitu menghadap kiblat. Jika sebagian ummat Muslim hidup di sebelah barat Ka'bah maka akan menghadap ke arah timur, demikian pula sebaliknya.

Satu hal yang perlu diingat bahwa Ka'bah terletak di tengah peta dunia. Peta pertama yang dibuat oleh umat Islam digambar dengan penunjuk arah selatan menghadap ke atas dan arah utara menghadap ke bawah. Bangunan Ka'bah berada di tengah-tengahnya. Kemudian para pembuat peta dari Barat menggambar peta dunia dengan terbalik, di mana arah utara menghadap ke atas dan arah selatan menghadap ke bawah. Alhamdulillah, sampai saat ini Ka'bah tetap berada di tengah-tengah peta dunia.

Kemudian Tawaf. Tawaf menunjukkan adanya Tuhan yang satu. Ketika ummat Islam mengunjungi Masjidil Haram di Mekkah, mereka melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah, hal ini menunjukkan keimanan dan menyembah Tuhan yang satu (Allah Subhanahu Wa Ta'ala) karena setiap putaran memiliki satu titik pusat, maka hanya ada satu Tuhan yang patut disembah yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kemudian mengenai batu hitam yang disebut Hajar Aswad. Berdasar pada Shahih Bukhari, bagian 2 dalam Kitab Haji bab 56 Hadits ke 675, Umar berkata : ''Saya tahu engkau hanya sebuah batu yang tidak bermanfaat dan tidak merugikan. Jika aku tidak melihat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam ) menyentuh (dan mencium) kamu, maka aku tidak akan pernah menyentuh (dan mencium) kamu."

Pada zaman Rasulullah, orang Islam berdiri di atas Ka'bah dan mengumandangkan adzan atau panggilan shalat. Seseorang yang menyatakan bahwa Muslim menyembah Ka'bah boleh bertanya, ''penyembah berhala manakah yang berdiri di atas berhala yang disembahnya?''

Hj. Irena Handono


Artikel Terkait

loading...