Rabu, 09 Agustus 2017

Mau Dibawa Kemana Kepribadian Generasi Kita?


Rencana pemerintah mengundang girlband asal Korea SNSD atau Girl Generation cukup mengagetkan beberapa pihak. Terlepas dari untuk memeriahkan acara HUT proklamasi ataukah untuk memeriahkan acara hitung mundur Asian Games 2018, rencana ini mendapatkan kecaman  beberapa pihak. Bagaimana tidak girlband asal Negeri Gingseng ini dikenal selalu berpenampilan vulgar dan gaya hidup liberalnya.

Beberapa tahun terakhir ini musik asal Korea atau yang biasa diebut K-pop memang sedang digandrungi para remaja tak terkecuali remaja di Indonesia. Bukan hanya musiknya saja Korea dikenal dengan drama percintaanya, fashionnya, makanannya dan gaya hidup artis-artis mereka yang cenderung bebas. Inilah yang akhirnya mengundang reaksi masyarakat Indonesia.

Belum hilang tanda tanya soal SNSD. Kini masyarakat di kejutkan dengan kabar akan diadakannya Acara pesta dansa dalam ruangan terbesar di dunia, Sensation, akan digelar 7 Oktober nanti di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Serpong. Pesta dansa musik elektronik yang telah melanglang buana di berbagai negara di dunia itu akan menyulap ruangan ICE menjadi sebuah ruangan dansa yang bakal dihadiri lebih dari 20 ribu pengunjung.

Apa yang ada di pikiran pemerintah? Disaat generasi kita krisis identitas, pemerintah justru membiarkan generasi kita rusak oleh budaya asing yang jauh dari nilai-nilai ketimuran. Program pendidikan berkarakter yang dicanangkan pemerintah sepertinya akan sia-sia jika generasi kita masih tetap disuguhkan tontonan hiburan dan budaya-budaya asing yang justru merusak moral generasi kita.

Kasus-kasus kenakalan remaja, free seks, bulliying, narkoba, tawuran antar pelajar adalah segudang PR bagi pemerintah yang hingga saat ini belum mampu dituntaskan hingga ke akar-akarnya. Dan tidak bisa dipungkiri hal ini terjadi karena mereka mencontoh  apa yang dilakukan oleh idola-idola mereka baik itu dari gaya berpakaiannya, perilakunya atau apapun yang idolanya lakukan. Adanya media sosial dan akses internet tanpa batas semakin mempermudah akses untuk mencari informasi tentang mereka.

Berbeda perlakuan ketika generasi muslim yang menjaga ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka yang bisa dikatakan jauh dari perilaku kurang baik justru dituduh intoleran, fanatik, atau bahkan radikal. Dalam wacana pengawasan terhadap Rohis misalnya, Rohis dituduh sebagai tempat penyebaran radikalisme dan terorisme. Padahal dengan adanya Rohis ini para pelajar dididik dengan akidah Islam. Mereka di didik untuk menjadi pribadi muslim yang taat, berakhlak mulia, menjauhi hal-hal yang dilarang Islam seperti pacaran, seks bebas, saling membully dan sebagainya.

Jika pemerintah membiarkan arus serangan budaya asing dengan dalih untuk mendongrak pariwisata, mengembangkan kreatifitas, dan kemajuan bangsa. Itu artinya akan mengorbankan masa depan generasi kita demi kepentingan bisnis (industri kreatif).

Dan pemerintah secara tidak langsung mendorong generasi kita mengikuti role model liberal, sebaliknya generasi muslim dihalangi berkepribadian Islam. Sudah sepatutnya pemerintah tidak menjauhkan generasi kita dari ajaran Islam dan berusaha menghentikan kegiatan-kegiatan yang merusak kepribadian generasi kita.


Lisa Budiarti 
Tinggal di Cilacap


Artikel Terkait