Selasa, 12 September 2017

Anda Harus Tahu, Siapa Biksu Radikal Wirathu


Aksi brutal yang bernuansa genoside yang berlangsung di Rohingnya bukanlah semata-mata karena kekuatan junta militer dan rezim penguasa Myanmar yang dipimpin Aung San Suu Kyi saat ini. Namun aksi genoside tersebut kolaborasi antara rezim dan dogma agama (Budha).

Atas konflik ini, telah terjadi tirani mayoritas (Budha) kepada Minoritas (Muslim). Hal ini ditegaskan oleh pengamat politik Myanmar dari Universitas Deakin Australia, Anthony Ware. Dia mengatakan, terdapat dukungan kuat dari kelompok mayaritas Budha di Myanmar untuk melakukan aksi anti Rohingnya. Aksi tersebut dipimpin oleh para Biksu Budha ultra nasionalis, Biksu Wirathu.

“Anda bisa berikan kebaikan dan rasa kasih, tetapi Anda tidak bisa tidur disamping anjing gila (umat muslim)” begitulah pernyataan Biksu Teroris Wirathu seperti dikutip The New York Times, 21 Juni 2013.

Wirathu, saat ini menjabat sebagai kepala di Biara Masoeyein Mandalay. Di kompleks luas itu Wirathu memimpin para biksu dan memiliki pengaruh atas lebih dari 2.500 umat Budha di daerah tersebut.

Catatan hitam Wirathu mencuat sejak tahu 2001. Waktu itu ia menghasut kaum Budha untuk membenci muslim. Hasilnya, kerusuhan anti-muslim pecah tahun 2003. Wirathu sempat mendekam di penjara. Namun dia dibebaskan tepatnya pada tahun 2010 atas amnesti yang juga diberikan untuk ratusan tahanan politik.

Biksu seperti Wirathu ini menurut rezim Myanmar saat ini perlu untuk ‘dipelihara’ sebagai ‘anjing’ penjaga yang sewaktu-waktu bisa dilepas menerkam yang dianggapnya ‘musuh’ oleh rezim junta militer Myanmar. Terbukti memang ada kerjasama antara rezim dan para biksu teroris ini.

Wirathu, saat ini menjabat sebagai kepala di Biara Masoeyein Mandalay. Di kompleks luas itu Wirathu memimpin para biksu dan memiliki pengaruh atas lebih dari 2.500 umat Budha di daerah tersebut. Dari basis kekuatan itulah, Wirathu memimpin gerakan anti-Islam 969.

Kampanye Wirathu meluas sejak awal 2013. Ia berpidato di berbagai tempat, menyulut kebencian kaum Budha atas umat Islam. Selain melalui pidato, gerakan 969 juga menyebar cepat melalui stiker, brosur dan sebagainya. Sehingga kebencian dan anti-Islam meluas dengan cepat, berbuah pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingnya.

Sebelumnya, militer juga sering melakukan kekerasan dan pemerkosaan terhadap anak-anak. Kelompok HAM telah mendokumentasikan kejahatan militer Myanmar sejak lama. Terutama kejahatan terhadap etnis minoritas di Rakhine dan Kachin.

Menurut pendiri Fortify Rights di Bangkok, Matthew Smith mengatakan, bahwa militer Myanmar saat ini sedang melakukan genosida terhadap suku Rohingnya. Mereka melakukan segala cara untuk memusnahkan suku Rohignya dari muka bumi dengan memusnahkan umat muslim di Rakhine.

Sementara Cina, membela kejahatan kemanusiaan di Myanmar yang dilakukan milter dan oknum biksu teroris Wirathu. Menurut penelitian tim Hagiasovia, Cina memang mendominasi perdagangan dan sumber daya yang ada di Myanmar. Pembelaan Cina disampaikan Menteri Pertahanan Cina, Chang Wanquan yang mengatakan Cina akan membela Myanmar dan biksu radikal. Bahkan Cina siap mengumumkan perang terhadap Turki.

Chang Wanquan meminta milliter, polisi dan rakyat Cina untuk membantu sekuturnya Myanmar serta bersiap perang rakyat. Hal ini diungkapkan dalam kunjungannya ke instalasi militer di pesisir Zhejiang, Provinsi RRC.

Setiap laporan PPB di Dewan Keamanan untuk menyelidiki pembantaian penduduk Rohingnya, akan selalu ditolak oleh Cina, karena Cina punya hak veto di PBB. Sementara negara-negara Barat bersikap mendua, tidak sepenuh hati, karena ada kepentingan korporasi mereka di Myanmar. [mabda.tv/berdakwah.net]



Pranala luar:
1. http://www.nytimes.com/2013/06/21/world/asia/extremism-rises-among-myanmar-buddhists-wary-of-muslim-minority.html
2. https://www.nytimes.com/2014/10/30/opinion/the-persecution-of-the-rohingya.html


Artikel Terkait

loading...