Selasa, 17 Oktober 2017

Ini Jawaban Menakjubkan Umar bin Abdul Aziz Saat Ditanya Mengapa Baca Al Fatihah Lama


Ketika membaca surat Al Fatihah, Umar bin Abdul Aziz menghayatinya ayat demi ayat. Ketika ditanyakan kepadanya mengapa membaca Al Fatihah demikian lama, jawabannya sungguh menakjubkan.

“Aku sedang menikmati jawaban-jawaban dari Tuhanku,” jawab Umar bin Abdul Aziz.

Tokoh yang dijuluki khulafa’ur rasyidin kelima itu paham betul bahwa ketika seseorang membaca Surat Al Fatihah, terutama dalam sholat, Allah Subhanahu wa Ta’ala langsung menjawabnya.

Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِى وَنِصْفُهَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ

Aku membagi sholat (surat Al Fatihah) menjadi dua bagian; untukKu dan untuk hambaKu. Separuh untukKu dan separuh lainnya buat hambaKu. Bagi hambaKu apa yang ia minta (HR. Abu Dawud)

Lebih detil lagi, Imam Muslim meriwayatkan jawaban Allah ayat demi ayat:


فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ

Aku membagi sholat (Surat Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi rabbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyebah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan ‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim)

Jawaban Allah inilah yang sangat dinikmati oleh Umar bin Abdul Aziz. Jauh lebih nikmat dari seorang pemuda yang di-follback kekasihnya, atau seseorang yang statusnya mendapat komentar dari orang yang disukainya. [tarbiyah.net/berdakwah.net]



Artikel Terkait

loading...