Rabu, 11 Oktober 2017

Kisah Pilu Istri Dari Suami yang Seorang Perokok Aktif Bak Lokomotif


Merokok adalah soal pilihan hidup. Pun kesehatan yang juga soal pilihan hidup. Merokok tak hanya menyebabkan efek kesehatan namun juga bisa berujung pada harga diri keluarga dan kematian.

Dita Sefty memiliki kisah tentang suaminya, Bayu Andhika. Berikut penuturannya:

"Salah satu yang membuat gue semakin cerewet pada almarhum suami dan keluarga gue yang notabene perokok aktif semua baik cewek maupun cowok adalah karena sayang. Sayang sama kesehatan mereka dan juga diri sendiri. Ya iya dong kita juga punya hak pengin menghirup udara yang sehat tanpa asap rokok. Apalagi gue lagi hamil, nggak mau lah calon bayi gue terpapar asap rokok walau itu dari orang yang gue sayang tetap aja racun! Apa kabar nanti mereka akan menggendong dan menciumi anak gue dengan racun-racun yang nempel di badan mereka dari asap rokok terus nempel ke anak gue, kebayang gue dari sekarang udah stres duluan.

Sebelum menikah almarhum suami perokok aktif dan lumayan kaya lokomotif. Salah satu syarat mutlak menikah dengan gue adalah berhenti total! Kenapa karena memang nggak akan bisa namanya mengurangi, kalau nggak distop nggak akan pernah berhenti.

Tapi banyaklah cibiran, katanya ISTI (ikatan suami takut istri) bahkan kawan-kawannya suami juga banyak kok yang mengolok-olok karena suami nggak ngerokok takut sama gue (kadang gue suka sedih, situ teman macam apa? Orang lagi berhijrah bukan didukung malah disesatkan lagi dengan olokan!)

Ah tetiba hati ini runtuh, ternyata Pak Su Allahuyarham selama berumah tangga masih diam diam merokok, karena faktor lingkungan juga dan sedihnya teman-temannya mengajak kembali merokok bahkan tetangga baru kami dengan bahagianya mengolok-olok suami depan gue, biar apa? Biar harga diri gue jatuh gitu karena ngelarang suami ngerokok? Bahagia gitu kalau mereka ngeliat gue sama suami berantem karena jalan hijrah yang susah payah ditempuh kalian berhasil diporak-porandakan. Walau janjinya pada ibunya dan istrinya untuk berhenti merokok, terbayar sudah! Iya terbayar dalam tidur panjangnya!

Gue pernah bilang sama almarhum, ketika kita hijrah ada kawan yang harus kita tinggalkan bukan untuk memutuskan tali silaturahim, karena jalan kita sudah berbeda sedangkan iman dan ilmu kita belum cukup mampu untuk mendakwahi mereka maka untuk itu tinggalkanlah, bertemanlah sekadarnya bukan untuk berakrab-akrab. Jikalau ilmu dan keimanan kita sudah bertambah kuat, rangkullah kembali mereka di jalan Allah.

Baca: Bagaimana Sebenarnya Hukum Rokok Dalam Agama Islam?

Berteman itu memang harus memilih! Buat apa punya teman "baik" kalau ternyata menjerumuskan, buat apa punya teman "dekat" kalau mereka mendekatkannya pada neraka bukan surga?

Dan kemudian apa yang gue takutkan benar-benar terjadi meski ini memang sudah takdirnya. Di ruang UGD itu suami gue terbaring lemah, badannya yang kekar tak sanggup melawan sesak nafasnya. Gue cuma bisa minta, "Please sayang kamu harus janji hidup sehat, aku bawel juga karena sayang. Jaga pola makan, olahraga dan jauhi rokok!" dia mengangguk pelan, mengusap perut gue yang di dalamnya ada janin calon anaknya.

"Iya ini di perut aku ada dede. Kamu harus sehat!"

Begitupun dengan salah satu tetangga yang setia mendampingi kami, supportnya sama dengan gue. Hidup sehat! Sampai akhirnya dia melirih melihat suami gue semakin melemah, dan berkata,  "Berhenti merokok, Bay!"

Di situ gue ada rasa haru, di antara tetangga baru kami yang sibuk mengajak suami begadang dan merokok masih ada yang punya hati untuk membujuk suami berhenti merokok. Sungguh peringatan di bungkus rokok bukanlah untuk pajangan belaka dan tanpa bukti. IQRO! BACALAH! Tapi jangan cuma dibaca, dilakuin!

Ah sayang, sekarang kamu lebih dicintai Allah. Sungguh jalan Allah begitu penuh misteri, kadang hadiahNya tak terbungkus kado yang rapi atau indah. Di sisi Allah kamu aman, nggak ada lagi yang ajakin kamu merokok ya, sayang." [Paramuda/BersamaDakwah]



Artikel Terkait

loading...