Selasa, 07 November 2017

Pilihan Ada Pada Anda, Mau Jadi Syetan Bicara, Syetan Bisu atau Menjadi Muslim?

Ilustrasi: Massa Ormas di Pasuruan membubarkan pengajian yang diisi oleh Felix Siauw di Masjid Manarul Islam, Bangil, Pasuruan, Sabtu, 04/11/2017.

Kini muncul, ada yang menulis kritikan keras terhadap anak-anak NU yang membenci umat Islam bahkan membubarkan pengajian-pengajian umat Islam. Kritikan keras itu justru dari kalangan NU sendiri. Bahkan (yang menulis kritikan keras itu) seorang anak kyai NU.

Kritikan itu lantaran merasakan betapa malunya terhadap tindakan anak-anak NU (yang membenci sesama umat Islam bahkan membubarkan pengajian-pengajian). Tindakan itu tidak mencerminkan akhlak Islam. Hingga disindir keras dengan tulisan: Jika Memang Sudah Benci Kepada Sesama Muslim, Berhentilah Menjadi Muslim ! (Putra Ulama NU: Jika sudah benci sesama Muslim, berhentilah ... )

Gejala kesadaran dari kalangan generasi NU sendiri ini perlu mendapatkan respon positif dari para tetua NU.

Kalau bapak-bapak kyai NU dan para penggede NU diam saja, tidak mau mencegah tingkah anak-anak NU yang justru membenci sesama umat Islam, bahkan membubarkan pengajian-pengajian Umat Islam, sampai acara tahfidz Al-Qur'an pun dibubarkan oleh anak-anak NU; namun penggede-penggede NU mingkem saja, maka jangan salahkan kalau kena julukan sebagai para penggede syetan bisu (syaithon akhros). Karena sebagian ulama berkata:

"الساكت عن الحق شيطان أخرس، والناطق بالباطل شيطان ناطق" 

"Orang yang diam dari kebenaran itu syetan bisu/gagu, sedang yang berbicara dengan kebatilan itu syetan bicara. Dua-duanya kini tampak nyata di depan mata."

Kemungkinan orang-orang kafirin, musyrikin, dan munafikin pembenci Islam sedang sorak sorai.

Jadi kalau para kyai NU dan penggede-penggede NU tetap mingkem saja, maka dikhawatirkan justru digolongkan kepada yang terderet dalam jajaran sorak sorai itu. Apakah rela, ridho, lego lilo untuk dibegitukan?. Ya silakan saja kalau begitu.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz
Mubaligh, Penulis buku-buku keislaman, tinggal di Jakarta
Dipublikasikan pertama kali oleh Suara-islam.com


Dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah disebutkan, "Yang tidak meyuarakan kebenaran adalah setan bisu." (Lihat hlm 62 bab as-shumti).  Ungkapan ini bukan hadis, tapi dikutip oleh banyak ulama dalam fatwa dan kitab-kitab mereka. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam Majmu' fatawa. Ibnu al-Qayyim juga menukilnya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juga mengutipnya dari Abi al-Qasim al-Qusyairy yang meriwayatkan dari Abu 'Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi as-Syafi'i. Kemungkinan besar Abu Ali ad-Daqqaq inilah yang pertama mengutip ungkapan di atas. Kendati bukan hadis, isi dan jiwa kalimat tersebut sejalan dengan QS Ali Imran ayat 104, at-Taubah:71, dan lainnya. Juga seirama dengan makna banyak hadis amar makruf dan nahi mungkar.

Setiap mukmin berkewajiban untuk mengingkari yang batil dan menyeru kepada yang makruf sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah bersabda, "Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan (atau kekuasaannya) bila tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan lisannya (nasihat) dan bila tidak kuasa maka hendaklah mengingkari dengan hatinya, yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman." (HR Imam Muslim).

Bila seorang Muslim tidak melakukan nahi mungkar padahal mampu dan tidak ada penghalang maka dia adalah setan gagu. Lebih parah lagi bila ada orang yang menyuarakan kebatilan, dia dijuluki sebagai jubir setan.

Kita sering menyaksikan Muslim yang komitmen menegakkan amar makruf dan nahi mungkar tetapi tidak mau menyuarakan yang hak ketika melihat pelanggaran yang sudah merata di masyarakat. Di antara sebabnya, rasa takut dimusuhi ahlul bathil, khawatir dicopot dari jabatannya, takut diisolir dari masyarakatnya seperti yang dialami Siami di Surabaya atau disebabkan hal-hal lainnya.

Kebaikan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang tidak menyuarakan yang hak ketika melihat larangan Allah ditabrak, batas-batas ajaran agama dilanggar dan ketentuan agama ditinggalkan? Bukankah musibah agama terbesar datang dari mereka yang merasa enak hidupnya, dan memiliki jabatan mapan tapi tidak peduli dengan musibah yang menimpa agamanya?

Umat Islam masih  menjadi umat terbaik bila amar makruf dan nahi mungkar ditegakkan. "Kamu adalah umat Yang terbaik yang dilahirkan  untuk manusia, manyuruh kepada yang makruf  dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imran, 110).

Ketika maksiat berkeliaran di tengah-tengah umat manusia, penyelewengan merata di mana-mana sedangkan setan bisu  dan jubir setan semakin banyak, maka Allah akan menimpakan kepada umat ini beberapa malapetaka yang mengerikan: pertama, diberi musibah merata; kedua, umat akan dikuasai preman; ketiga, manusia akan saling bunuh; dan keempat, doa ulama tidak dikabulkan.

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam Kitab Al-Hilyah, dari Abur Riqaad, bahwa ia berkata, "Hendaknya kamu memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar, dan menyuruh kebaikan atau kamu sekalian akan disiksa bersama atau kamu diperintah oleh orang-orang jahat di antara kamu kemudian bila para tokohnya berdoa tidak lagi akan dikabulkan. Na'udzubillah mindzalik.

Oleh Prof Dr KH Achmad Satori
- Guru besar  UIN (Univ. Islam Negri) Ciputat
- Dosen Pascasarjana UIN Jakarta
- Direktur Pasca sarjana UIA (Univ. Islam As syafi’iyah) jakarta
- Anggota Dewan Syariah Nasional MUI
Dipublikasikan pertama kali oleh Republika


Artikel Terkait

loading...