Senin, 27 November 2017

Stop Memojokkan Islam!


Film "Naura dan Genk Juara" sedang menjadi sorotan. Sejak dirilis pada Kamis, 16 November 2017 sampai hari, film tersebut masih menjadi hot topik di dunia maya. Berawal dari status FB milik Nina Asterly yang mereview dan merasa kecewa setelah menonton film tersebut menjadi viral. Pasalnya film musikal anak-anak yang didukung oleh Kompas Gramedia serta disutradarai oleh Eugene Panji tersebut diketahui menyisipkan adegan yang mendiskreditkan Islam.

“Para penjahat digambarkan orang yang berjenggot, brewokan selalu mengucapkan istighfar dan mengucapkan kalimat-kalimat Alloh lainnya… lebih ekstrim lagi saat si penjahat yang diserang anak-anak lalu si penjahat lantang mengucapkan kalimat takbir berkali-kali,” tulis Nina.

Sementara kompasianer, Windi Ningsih pada artikelnya di laman kompasiana.com (21/11), secara lengkap memberi gambaran lebih lengkap dan kritik terhadap film ini. Mulai dari tema, kostum, sentimen agama sampai karakter psikopat peran penjahat. Menurut Windi dalam artikelnya, Islam dicitrakan sebagai penjahat berjenggot, yang meski menteriakan takbir, sering istighfar, namun kelakuan bejat, bahkan di film dinamai trio licik!

Buntut dari banyaknya kekecewaan dan kemarahan ini melahirkan boikot dan petisi agar film tersebut ditarik dari peredaran. Hal ini sependapat dengan Reni Marlinawati, Anggota Komisi X DPR Bidang Pendidikan dan Kesenian, menurutnya film "Naura & Genk Juara" di dalamnya ada unsur yang tidak sesuai kaidah film anak-anak, dan ada unsur yang mendiskreditkan pihak lain dalam hal ini umat Islam. "Jadi film ini sangat tidak layak sebagai film," kritik doktor pendidikan itu. Reni juga menyarankan sebelum film 'Naura & Genk Juara' ini meluas, sebaiknya ditarik dan tidak diputar (kumparan.com, 22/11).

Hal yang sama pun disampaikan Pimpinan Arrahmah Quranic Learning (AQL), Ustaz Bachtiar Nasir mengecam keras film anak-anak berjudul "Naura dan Genk Juara." Menurut beliau film tersebut tidak layak untuk ditonton keluarga Muslim karena berbahaya buat anak-anak Muslim. "Saya menganjurkan kepada umat Islam agar menjaga anak-anaknya jangan sampai terperosok lewat film-film yang sangat benci kepada Islam," ujar beliau pada Rabu, 22/11, di Gedung MUI, Jakarta Pusat (voa-islam.com, 22/11).

Film "Naura dan Genk Juara" menambah daftar panjang film yang mendiskreditkan Islam. Sebelumnya tak terhitung lagi film, animasi dan games untuk dewasa atau anak-anak yang memuat konten yang mendiskreditkan bahkan menghina dan melecehkan Islam. Baik yang dibuat oleh sineas, animator dan game developer dari luar negeri maupun dalam negeri. Film, animasi dan games menjadi taktik Barat untuk menghancurkan kaum muslimin dari tubuh kaum muslimin sendiri yaitu generasi muda dan anak-anak mereka.

Strategi Barat lewat F3 (Fashion, Food, Fun) terbukti bukan hanya ampuh meliberalisasi generasi Islam tapi juga ampuh menstigmatisasi dan menanamkan kebencian anak-anak kaum muslimin terhadap ajaran Islam. Naura dan Genk Juara adalah contoh nyata dihadapan kita yang diam-diam memberikan makhlumat negatif pada anak-anak kaum muslimin bahwasanya Islam itu jahat dari peran Trio Licik. Anak-anak yang jiwanya masih suci di mana pikirannya masih seputih kertas disuguhi dengan adegan demi adegan yang mencitra-burukan Islam lewat film yang berdurasi hampir 100 menit itu. Maka, bukan hal yang aneh jika muncul Islamphobia justru dari tubuh kaum muslimin sendiri sebagai hasil stigmatisasi yang disisipkan melalui tayangan film dan sejenisnya.

Berbagai strategi tersebut berusaha menjauhkan anak-anak kaum muslimin dari akidah dan ajaran Islam yang mulia bahkan menanamkan kebencian dan antipati terhadap Islam. Tujuannya tidak lain menghancurkan Islam dari akar-akarnya dan mengokohkan imperalisme Barat terhadap negeri Islam. Menghalangi kebangkitan Islam dan persatuan umat dengan menyuntikan virus liberalisme ke tubuh kaum muslimin. Maha Benar Allah Subḥānahu wa ta'alā dalam firmannya: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka." (QS. Al-Baqarah [2]: 120).

Sekularisme yang menopang liberalisme telah menjadikan Islam bahan olok-olokan atas nama seni dan kebebasan berekspresi. Mendiskreditkan Islam adalah hal yang lumrah di iklim liberalisme walau anak-anak kaum muslimin menjadi tumbalnya. Menina-bobokan generasi Islam dengan kesenangan yang diam-diam menjauhkan mereka dengan kemuliaan ajaran Islam. Mencuci otak kaum muslimin dengan menstigmatisasi dan mendiskreditkan Islam dengan berbagai kesenangan tersebut.

Wahai emak-emak kaum muslimin, engkaulah tiang peradaban Islam! Tak layak engkau diam sementara anak-anakmu diam-diam sedang dirancang untuk menghancurkan agama yang lurus ini! Tak layak kau diam sementara musuh-musuh Islam tengah mengintai untuk menghabisi calon-calon mujahid/mujahidah kecil kita! Ingatlah: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (TQS. at-Tahrim [66]: 6).

Ingatlah pula mereka sedikit tapi mereka terorganisir, sementara jumlah kita banyak tapi kita terpecah belah. Karena itu mari kita satukan langkah untuk menghadapi mereka! Mari kita mulai dari mengajak anak-anak kita memenuhi majelis-majelis taklim agar akal, jiwa, hati dan pikiran mereka tersirami dengan akidah dan tsaqafah Islam sehingga tumbuh ketakwaan individu dan kecintaan mereka terhadap Allah Subḥānahu wa ta'alā Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) dan Islam. Di samping itu akan menumbuhkan kecintaan mereka terhadap masjid sebagai pusat berbagi aktivitas Islam.

Mari kita jadikan Islam menjadi poros dalam setiap aktivitas kita bersama anak-anak. Jangan ragu untuk mengenalkan amar makruf nahiy munkar agar tumbuh kepedulian mereka terhadap orang-orang di sekitar mereka. Dan langkah ini akan lebih sempurna jikalau negeri ini mau menerapkan Islam secara kaaffah dalam setiap aspek kehidupan. Karena khalifah akan menjadi junnah/perisai bagi rakyat dari segala bentuk stigmatisasi dan penghinaan terhadap Islam.

Wallahu’alam bish shawwab.


Ummu Naflah
Barisan Emak-emak Militan, tinggal di Tangerang
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com


Artikel Terkait

loading...