Selasa, 19 Desember 2017

LGBT Dibiarkan Bumi pun Diguncangkan


Saat ini kita melihat betapa tak berdayanya negara memberantas penyakit masyarakat yang bernama LGBT. Atas nama hak asasi, atas nama demokrasi, LGBT tidak bisa dikriminalisasi.

Kenyataan ini sangat tidak bisa diterima akal sehat. Perilaku seks menyimpang yang nyata-nyata diharamkan oleh Islam dan melanggar norma agama manapun dibiarkan tumbuh subur tanpa ada sanksi yang tegas terhadap pelakunya.

Pelan tapi pasti, hal ini akan berdampak merusak, tidak hanya merusak pelaku LGBT saja yang rawan terserang penyakit mematikan akibat perilaku seks menyimpang ini, tapi juga seluruh masyarakat yang bukan pelaku LGBT akan mendapatkan konsekuensinya.

Sehari setelah diputuskan bahwa LGBT dan kumpul kebo tidak bisa dipidanakan,  Allah menegur bangsa ini dengan gempa yang hampir merata dirasakan seluruh daerah kepulauan Jawa dan Bali.

Apakah kita menunggu azab Allah yang lebih pedih? Menunggu dibenamkan dalam bumi layaknya kaum Sodom di masa Nabi Luth? Atau menunggu dibakar dengan panasnya abu gunung berapi layaknya penduduk kota Pompei di Italia? Na'udzu billah min dzalik.  Semoga jangan sampai terjadi.

Sudah saatnya kita tidak berdiam diri melihat betapa besarnya kerusakan serta kemaksiatan di negeri ini. Siapapun kita, apapun profesi kita, berapapun usia kita, wajib hukumnya untuk melakukan amar ma'ruf nahyi munkar. Karena hidup bermasyarakat itu diibaratkan seperti sedang berada dalam sebuah kapal.

Dari An Nu’man bin Basyir rhadiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . 
فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

"Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berada di dalam sebuah kapal. Ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).

Wahai para orang tua, wahai para guru, wahai kaum muslimin. Satukan langkah untuk suarakan kebenaran, agar kemaksiatan hilang dari negeri ini, agar kita bisa melindungi anak-anak kita dari azab pedih dari Allah, seperti yang dialami kaum Sodom dan kaum yang sejenis dengannya.

Wallahua'lam bishshawab. []

Simak artikel penting:
- Dosa-Dosa Besar Kaum Pecinta Sesama Jenis
Sodomi Pertama Ajaran Iblis dan Pemusnahan Kaum Nabi Luth
Kota Sodom Ditemukan, Maukah Kaum Pecinta Sesama Jenis Mengambil Pelajaran? 
Foto dan Video Hancurnya Kota Pecinta Sesama Jenis Pompeii


Rivanti Muslimawaty
Pengamat Politik, tinggal Bandung
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com


Artikel Terkait

loading...