Jumat, 12 Januari 2018

Antara Penyair Penghina Nabi dan Komedian Pengolok Islam


Para penghibur yang menjadikan Islam sebagai bahan olokan sudah ada sejak dahulu. Jika fenomena itu terjadi lagi, maka itu adalah pola yang berulang dan akan terus berulang. Menjadikan agama sebagai bahan olokan di dalam Al-Quran disebutkan sebagai ciri khas orang kafir dan munafik.

Di dalam surat Al-Muthoffifin Allah Subhanahu wa ta'ala (سبحانه و تعالى) berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ

Artinya, “Dan hari ini (di dunia) orang-orang yang berbuat dosa menertawai orang-orang yang beriman.”

Begitu juga orang munafik, pernah suatu ketika Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) memotivasi para sahabat untuk berinfak, datanglah Abdurrahman bin Auf dengan membawa harta yang cukup banyak, orang munafik mengejeknya dengan mengatakan infaknya karena riya’. Sebaliknya, ada orang miskin dari kaum Anshor yang hanya bisa berinfak satu Sho’ kurma. Kaum munafik juga mencelanya dengan berkata, “Allah dan Rasul-Nya tidak butuh infakmu.”

Begitu juga dengan para penghibur. Dahulu para penghibur (baca penyair) kerap melakukan hinaan dan olokan terhadap agama. oleh karenanya ketika Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) memberikan amnesti bagi penduduk Mekkah saat Fath Mekkah, para panyair penghina Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) tidak temasuk yang mendapatkan amnesti tersebut.

Sebut saja Abdullah bin Khotol, dia termasuk orang yang tidak diberi amnesti oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ). Bahkan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) memerintahkan untuk membunuhnya meski dia berlindung dibalik tirai Ka’bah. Hal itu karena dia pernah masuk Islam dan murtad, membunuh seorang muslim dan membikin syair yang berisi hinaan dan ejekan terhadap agama Islam.

Selain membuat syair yang mengolok agama, dia juga mendatangkan dua orang penyanyi wanita. Kedua wanita ini melantunkan syair yang berisi hinaan terhadap Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ). Kedua wanita tersebut juga diperintahkan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) untuk dibunuh. Meskipun salah satunya mendapat amnesti khusus dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ), akan tetapi ini menjelaskan bahwa menjadikan Islam sebagai bahan olokan bukanlah perkara sepele.

Ada juga Ka’ab bin Zuhair, dia merupakan pujangga kenamaan di kota Mekkah. Syair-syair gubahannya kerap menghina Nabi dan Islam. Sehingga namanya masuk dalam daftar orang-orang yang tidak mendapatkan amnesti. Mengetahui hal tersebut akhirnya dia melarikan diri dari Kota Mekkah.

Adalah saudaranya yang bernama Bujair bin Zuhair menulis surat untuknya agar mendatangi Nabi, meminta maaf dan masuk Islam. Akhirnya Ka’ab masuk Islam dan meminta maaf kepada Rasulullah dan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) memaafkannya.

14 abad pasca peristiwa Fath Mekkah kejadian itu terulang lagi. Kalau dahulu dilakukan oleh seniman syair, maka hari ini dilakukan oleh dua orang komedian stand-up. Beruntung bagi Ge Pamungkas dan Joshua Suherman  karena mereka tidak berada di zaman Fathu Mekkah. Bisa saja mereka masuk dalam daftar yang orang yang tidak diberi amnesti oleh Nabi.

Mereka beruntung karena mereka hidup di Indonesia. Dimana bagi sebagian orang kebebasan berekspresi itu ditolerir bahkan diizinkan walaupun menjadikan Islam sebagai bahan olokan. Kalau beruntung, penistaan agama berakhir hanya dengan permintaan maaf. Kalau apes, cuma dihukum kurungan 2 tahunan. Sebuah hukuman yang ringan dibanding dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam (ﷺ) terhadap para penyair yang menghina Islam saat Fath Mekkah.

Wallahu a’lam bissowab. []




Penulis : Arju
Dipublikasikan oleh kiblat.net


Artikel Terkait

loading...