Jumat, 12 Januari 2018

Pasti Tiba, Hari Pembalasan untuk Pengolok Islam


Lagi-lagi umat Islam digegerkan oleh sindiran dan olok-olok berbau SARA. Di panggung komedi, Joshua Suherman dan Ge Pamungkas berusaha meraih tawa penontonnya dengan menyelipkan kata-kata nyinyir terhadap keyakinan yang dianut mayoritas rakyat Indonesia.

Tak perlu kita menulis redaksi kalimat nyinyir tersebut. Membaca teks semata bisa memunculkan tafsir beragam. Namun jika dilihat gestur dan mimik muka melalui video yang ramai disebar di media sosial, setidaknya maksud sebenarnya dari pemilik ucapan bisa diterka lebih objektif.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus olok-olok terhadap agama Islam. Kita sulit menduga apakah semua ini konsekuensi dari revolusi informasi oleh internet, atau lebih karena sistem di negeri ini yang kurang tegas dan kurang berpihak demi menjaga perasaan umat Islam.

Namun yang membuat prihatin, mengapa cari uang dengan mengundang tawa orang lain mesti dilakukan dengan menyindir agama? Dua nama di atas bukanlah nama besar dalam dunia standing-up comedy. Bangsa ini juga mempunyai banyak nama pelawak legendaris yang tetap bisa mengundang tawa tanpa harus menyindir agama.

Agama atau keyakinan lain boleh berbeda dalam berinteraksi dengan pemeluknya. Namun Islam mengajari pemeluknya untuk mensyukuri dan mencintai ajaran ini sebagai petunjuk dari Allah. Salah satu bentuk kecintaan itu adalah rasa tersinggung dan marah bila ada yang mengolok-olok agama (istihza’).

Agaknya dalam mengimplementasikan kecintaan terhadap agamanya, umat Islam yang tinggal di negara ini, pada hari ini, masih harus sering mengelus dada. Perangkat hukum yang seharusnya dibuat untuk melindung rakyat—sekaligus keyakinannya—seperti tak bergigi bila objek kasusnya adalah Islam.

Pada saat bersamaan, jika ada umat Islam yang melakukan reaksi di luar perangkat hukum yang ada, akan langsung ditindak. Reaksi tersebut kemudian dibesar-besarkan sebagai tindakan yang tidak beradab, minimal dituding sebagai anarkis dan intoleran.

Keadaan seperti itu seolah disengaja untuk menempatkan emosi umat Islam hingga pada suatu keadaan tertentu. Bila tiba waktu dan momentum yang tepat, akan dipantik menjadi sebuah peristiwa yang diperlukan untuk maksud dan kepentingan tertentu. Maju kena, mundur pun seperti tak punya wibawa.

Dalam kondisi menyakitkan seperti itu, kita perlu berterimakasih dan angkat topi kepada sejumlah pihak yang mencoba membawa kasus olok-olok agama ini ke ranah hukum. Topi yang sama pun kita angkat untuk mereka yang melawan di ranah sosial. Setidaknya hal itu akan membuat para pengolok itu merasa was-was mata pencahariannya bakal susut.

Beruntunglah umat yang berusaha semampunya untuk membela agamanya dari olok-olok, selemah apapun usaha itu. Meski mereka yakin, sebagai pemilik risalah, Allah pasti sudah mempunyai perhitungan tersendiri. Sebab, meski tak tahu waktunya, hari pembalasan itu pasti akan tiba.

Akan terulang kisah Ka’bah yang hendak dirobohkan. Ketika Abdul Muthalib tidak mungkin melindunginya dari bala-tentara Abrahah, sang Pemilik Ka’bah turun tangan langsung dengan mengirim pasukan Ababil. [kiblat.net]






Artikel Terkait