Selasa, 20 Maret 2018

Ada Tekanan Pembongkaran Menara Masjid Oleh Gereja, Menag: 'Selesaikan Dengan Musyawarah'


Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap agar masalah Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ) yang menuntut pembongkaran menara Masjid Al-Aqsha Sentani bisa diselesaikan dengan musyawarah. Menag juga mendukung rencana tokoh agama untuk menggelar dialog yang produktif dengan para pihak terkait.

“Selesaikan dengan musyawarah. Kami mendukung penuh langkah-langkah pemuka agama, tokoh masyarakat, dan Pemda yang akan melakukan musyawarah antar mereka,” kata Menag di Jakarta, Minggu (18/03)

“Saya telah berkomunikasi dengan para tokoh Islam Papua, juga Ketua Umum PGI Pusat dan Ketua FKUB Papua untuk ikut menyelesaikan masalah tersebut," sambungnya.

Menag juga mengingatkan agar ketentuan regulasi sebagai hukum positif dan hukum adat beserta nilai-nilai lokal yang berlaku haruslah menjadi acuan bersama.

Selain itu, Menag meminta masing-masing pihak mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai, serta tidak memaksakan kehendak dan pandangan masing-masing.

“Kedepankan suasana kedamaian dan kerukunan antarumat beragama di Papua yang telah dicontohkan dan diwariskan para pendahulu kepada kita semua,” ujarnya.

Diinformasikan bahwa PGGJ menuntut agar pembangunan menara Masjid Al-Aqsha Sentani dihentikan dan dibongkar. PGGJ meminta agar tinggi menara masjid tersebut diturunkan sehingga sejajar dengan tinggi bangunan gereja yang ada di sekitarnya. PGGJ beralasan menara Masjid Al-Aqsha saat ini lebih tinggi dari bangunan gereja yang sudah banyak berdiri di Sentani.

Baca jugaTernyata Islam Sudah Masuk Papua Sejak Tahun 1224 Masehi
Baca jugaKisah Pusaka Milik Suku di Papua yang Berumur Ratusan Tahun Ternyata Al-Qur'an

Ketua Umum PGGJ, Pdt. Robbi Depondoye meminta agar pembongkaran dilakukan selambatnya 31 Maret 2018, atau 14 hari sejak tuntutan resmi diumumkan hari ini. PGGJ juga sudah menyurati unsur pemerintah setempat untuk pertama-tama menyelesaikan masalah sesuai aturan serta cara-cara persuasif.

Di samping itu edaran itu juga memuat pesan larangan agar dakwah Islam tidak dilakukan di Jayapura, tidak boleh adzan ke luar masjid, tidak boleh mengenakan baju agama (jilbab-kerudung), tidak boleh ada mushola di kantor dan perumahan, dengan alasan Jayapura adalah bagian dari Tanah Tabi yang sudah dibeli Yesus. []



Pranala luar:
1. https://news.detik.com/berita/3923779/gereja-di-jayapura-tuntut-pembongkaran-masjid-menag-turun-tangan
2. https://kemenag.go.id/berita/read/507204/menag-berharap-masalah-masjid-di-papua-selesai-lewat-musyawarah
3. https://www.instagram.com/p/BgfvUX3joVR



Artikel Terkait