Rabu, 21 Maret 2018

Romo Magnis Sebut Larangan Azan di Papua Karena Sentimen Anti-Pendatang


Budayawan Franz Magnis Suseno menyebut sikap Persekutuan Gereja-Gereja Jayapura (PGGJ) yang melarang azan dan syiar Islam lainnya karena sentimen terhadap pendatang. Ia menolak jika hal itu disebabkan latar belakang agama.

“Jadi lebih kepada sentimen. Saya melihat seperti itu,” katanya saat ditemui Kiblat.net di Kantor Kontras, Jakarta Pusat, Senin (19/03/2018).

Soal pelarangan masjid yang lebih tinggi dari gereja, ia juga menilai hal itu hanya terjadi di Papua. “Kan di tempat lain juga gak ada orang memprotes seperti itu,” ungkapnya.

Baca jugaTernyata Islam Sudah Masuk Papua Sejak Tahun 1224 Masehi
Baca jugaKisah Pusaka Milik Suku di Papua yang Berumur Ratusan Tahun Ternyata Al-Qur'an

Secara pribadi, pria akrab disapa Romo Magnis itu mengatakan tidak masalah jika azan dikumandangkan lima kali sehari.

“Kalau suatu lembaga 24 jam lamanya itu ramai, itu tidak bisa (diterima). Kalau hanya azan lima kali sehari, ya kalau saya sih diterima saja,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, PGGJ memberikan surat imbauan kepada umat Islam di Jayapura. Di antara isi surat imbauan tersebut adalah larangan untuk mengarahkan suara azan ke luar masjid, mendakwahkan Islam di Papua, dan masjid tidak boleh lebih tinggi dari gereja.

Baca juga500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (Bagian 1)
Baca juga500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua (Bagian 2)

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: M. Rudy
Dipublikasikan oleh Kiblat




Artikel Terkait