Rabu, 15 Agustus 2018

Inilah Tawakal yang Sebenar-benarnya

View Article

Sebagian orang menganggap bahwa tawakal adalah sikap pasrah tanpa melakukan usaha sama sekali. Contohnya dapat kita lihat pada sebagian pelajar yang keesokan harinya akan melaksanakan ujian. Pada malam harinya, sebagian dari mereka tidak sibuk untuk menyiapkan diri untuk menghadapi ujian besok namun malah sibuk dengan main game atau hal yang tidak bermanfaat lainnya. Lalu mereka mengatakan, “Saya pasrah saja, paling besok ada keajaiban.”

Apakah semacam ini benar-benar disebut tawakal?! Semoga pembahasan kali ini dapat menjelaskan pada pembaca sekalian mengenai tawakal yang sebenarnya dan apa saja faedah dari tawakal tersebut.

Tawakal yang Sebenarnya

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”

Tawakal Bukan Hanya Pasrah

Perlu diketahui bahwa tawakal bukanlah hanya sikap bersandarnya hati kepada Allah semata, namun juga disertai dengan melakukan usaha.

Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An Nisa [4]: 71). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfaal [8]: 60). Juga firman-Nya (yang artinya), “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha.

Sahl At Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan -pen). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam)

Burung Saja Melakukan Usaha untuk Bisa Kenyang

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan, “Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rezekiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan, “Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Allah menjadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Maktabah Syamilah)

Al Munawi juga mengatakan, “Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rezeki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Maktabah Syamilah)

Tawakal yang Termasuk Syirik

Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rezeki, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut tetapi Allah ta’ala semata.

Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakal adalah amalan hati yaitu ibadah hati semata (Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 2/96). Sedangkan setiap ibadah wajib ditujukan kepada Allah semata. Barang siapa yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan-, maka hal ini juga termasuk kesyirikan.

Tawakal semacam ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam), apabila dia bertawakal (bersandar) pada makhluk pada suatu perkara yang tidak mampu untuk melakukannya kecuali Allah ta’ala. Seperti bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya diampuni, atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat, atau untuk segera memperoleh anak sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah kubur dan wali. Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka, padahal tidak ada siapapun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah ta’ala. Apa yang mereka lakukan termasuk tawakal kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada seorang makhluk pun memenuhinya. Perbuatan semacam ini termasuk syirik akbar. Na’udzu billah min dzalik.

Sedangkan apabila seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab (lebih dari sebab semata), seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rezekinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.

Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa. (Lihat At Tamhiid lisyarhi Kitabit Tauhid, 375-376; Syarh Tsalatsatil Ushul, 38; Al Qoulul Mufid, 2/29)

Penutup

Ingatlah bahwa tawakal bukan hanya untuk meraih kepentingan dunia saja. Tawakal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhai dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan). Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa inilah tawakal para rasul dan pengikut rasul yang utama.

Kami tutup pembahasan kali ini dengan menyampaikan salah satu faedah tawakal. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3). Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan, “Barang siapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Seandainya semua manusia mengambil nasihat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.” Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49). Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakal dan Dia-lah Rabb ‘Arsy yang agung. []



Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

Bolehkah Puasa Arafah dan Puasa Dzulhijjah Namun Masih Memiliki Utang Puasa?

View Article

Bolehkah melakukan puasa awal Dzulhijjah namun masih memiliki utang puasa (qadha puasa)? Termasuk pula apakah boleh melakukan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah sedangkan masih memiliki utang puasa?

Para fuqoha berselisih pendapat dalam hukum melakukan puasa sunnah sebelum melunasi qadha’ puasa Ramadhan.

Para ulama Hanafiyah membolehkan melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa Ramadhan. Mereka sama sekali tidak mengatakannya makruh. Alasan mereka, qadha’ puasa tidak mesti dilakukan sesegera mungkin.

Ibnu ‘Abdin mengatakan, “Seandainya wajib qadha’ puasa dilakukan sesegera mungkin (tanpa boleh menunda-nunda), tentu akan makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qadha’ puasa Ramadhan. Qadha’ puasa bisa saja diakhirkan selama masih lapang waktunya.”

Para ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat tentang bolehnya namun disertai makruh jika seseorang mendahulukan puasa sunnah dari qadha’ puasa. Karena jika melakukan seperti ini berarti seseorang mengakhirkan yang wajib (demi mengerjakan yang sunnah).

Ad Dasuqi berkata, “Dimakruhkan jika seseorang mendahulukan puasa sunnah padahal masih memiliki tanggungan puasa wajib seperti puasa nadzar, qadha’ puasa, dan puasa kafaroh. Dikatakan makruh baik puasa sunnah yang dilakukan dari puasa wajib adalah puasa yang tidak begitu dianjurkan atau puasa sunnah tersebut adalah puasa yang amat ditekankan seperti puasa ‘Asyura’, puasa pada 9 Dzulhijjah. Demikian pendapat yang lebih kuat.”

Para ulama Hanabilah menyatakan diharamkan mendahulukan puasa sunnah sebelum mengqadha’ puasa Ramadhan. Mereka katakan bahwa tidak sah jika seseorang melakukan puasa sunnah padahal masih memiliki utang puasa Ramadhan meskipun waktu untuk mengqadha’ puasa tadi masih lapang. Sudah sepatutnya seseorang mendahulukan yang wajib, yaitu dengan mendahulukan qadha’ puasa. Jika seseorang memiliki kewajiban puasa nadzar, ia tetap melakukannya setelah menunaikan kewajiban puasa Ramadhan (qadha’ puasa Ramadhan). Dalil dari mereka adalah hadits Abu Hurairah,

من صام تطوّعاً وعليه من رمضان شيء لم يقضه فإنّه لا يتقبّل منه حتّى يصومه

“Barangsiapa yang melakukan puasa sunnah namun masih memiliki utang puasa Ramadhan, maka puasa sunnah tersebut tidak akan diterima sampai ia menunaikan yang wajib.” Catatan penting, hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).[HR. Ahmad 3/352. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah dan dinilai dho’if, dan di dalamnya ada perowi yang matruk (Lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah, Darul Fikr, 3/86). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah wal Mawdhu’ah (2/235) mengatakan bahwa hadits ini dho’if. Begitu pula hadits ini didho’ifkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij Musnad Imam Ahmad (3/352).]

Para ulama Hanabilah juga mengqiyaskan (menganalogikan) dengan haji. Jika seseorang menghajikan orang lain (padahal ia sendiri belum berhaji) atau ia melakukan haji yang sunnah sebelum haji yang wajib, maka seperti ini tidak dibolehkan.

Jika Merujuk pada Dalil

Dalil yang menunjukkan bahwa terlarang mendahulukan puasa sunnah dari puasa wajib adalah hadits yang dho’if sebagaimana diterangkan di atas.

Dalam mengqadha’ puasa Ramadhan, waktunya amat longgar, yaitu sampai Ramadhan berikutnya. Allah Ta’ala sendiri memutlakkan qadha’ puasa dan tidak memerintahkan sesegera mungkin sebagaimana dalam firman-Nya,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185).

Begitu pula dapat dilihat dari apa yang dilakukan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Sebagaimana pelajaran dari hadits ‘Aisyah yang di mana beliau baru mengqadha’ puasanya saat di bulan Sya’ban, dari hadits tersebut Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh mengakhirkan qadha’ puasa lewat dari Ramadhan berikutnya.” (Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, 4: 191)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan menyegerakan mengqadha’ puasa Ramadhan. Jika ditunda, maka tetaplah sah menurut para ulama muhaqqiqin, fuqaha dan ulama ahli ushul. Mereka menyatakan bahwa yang penting punya azam (tekad) untuk melunasi qadha’ tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 23).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Inilah pendapat terkuat dan lebih tepat (yaitu boleh melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa selama waktunya masih lapang, pen). Jika seseorang melakukan puasa sunnah sebelum qadha’ puasa, puasanya sah dan ia pun tidak berdosa. Karena analogi (qiyas) dalam hal ini benar. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang sakit atau dalam keadaan bersafar (lantas ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185). Dalam ayat ini dikatakan untuk mengqadha’ puasanya di hari lainnya dan tidak disyaratkan oleh Allah Ta’ala untuk berturut-turut. Seandainya disyaratkan berturut-turut, maka tentu qadha’ tersebut harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah mendahulukan puasa sunnah dari qadha’ puasa ada kelapangan.” (Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 6: 448).

Kesimpulannya, masih boleh berpuasa Arafah maupun berpuasa sunnah di awal Dzulhijjah meskipun memiliki utang puasa (qadha puasa). Asalkan yang punya utang puasa tersebut bertekad untuk melunasinya. Wallahu Ta’ala a’lam.

Hanya Allah yang memberi taufik. []


Selesai disusun di siang hari dari awal Dzulhijjah di Pesantren DS, 4 Dzulhijjah 1435 H
Akhukum fillah: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel oleh Rumaysho.com

Selasa, 14 Agustus 2018

Langit, Bumi, dan Gunung Menolak Saat Ditawari Jadi Seperti Manusia

View Article

Manusia boleh berbangga karena dinobatkan sebagai makhluk sempurna diantara seluruh makhluk ciptaan-Nya. Kita menjadi pemimpin atas seluruh penghuni semesta yang ada dengan kelebihan akal serta pikiran yang digunakan dalam bertindak.

Namun menjadi makhluk sempurna bukanlah perkara yang mudah. Ada hal besar yang menjadi tanggungjawab manusia yakni amanah. Menjalankan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya menjadi amanah yang tidak dapat dibantah.

Manusia dari sekian banyak makhluk Allah menyanggupi amanah tersebut. Padahal makhluk lain yang memiliki kekuatan lebih besar seperti langit, bumi dan gunung menolak untuk menjadi seperti manusia. Hal ini dijelaskan Allah Subḥānahu wa ta'alā dalam Alquran surat Al-Ahzab. Seperti apa? Berikut ulasannya.

Ada begitu banyak peristiwa yang terjadi sebelum akhirnya alam semesta dan segala isinya siap untuk ditinggali. Salah satunya adalah peristiwa saat Allah Subḥānahu wa ta'alā mengungumpulkan makhluknya untuk membagi peran. Saat itu Allah Subḥānahu wa ta'alā memberikan pilihan kepada mahkluk untuk menerima amanah.

Bagi siapa yang menerimanya, maka akan menjadi makhluk yang paling sempurna di alam semesta. Namun amanah ini juga memiliki kosekuensi. Bagi yang menjalankan perintah-Nya, maka akan dihadiahi surga, namun jika melanggar akan diberi siksa di neraka.

Allah Subḥānahu wa ta'alā menawari amanah tersebut kepada langit, bumi dan gunung. Namun ketiganya menolak, bukan karena ingkar kepada Allah, namun mereka merasa tidak sanggup untuk mengemban besarnya amanah tersebut.

Ternyata, manusialah yang dengan berani menerima tawaran Allah Subḥānahu wa ta'alā untuk menjadi makhluk sempurna. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Ahzab

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72).

Ayat ini dimaknai berbeda oleh para Mufassirin. Diantaranya adalah Imam Al-Aufi dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Yang dimaksud dengan al-amanah adalah, ketaatan yang ditawarkan kepada mereka sebelum ditawarkan kepada Adam ‘Alaihissalam, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Lalu Allah berfirman kepada Adam, ‘ Sesungguhnya Aku memberikan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Apakah engkau sanggup untuk menerimanya?’ Adam menjawab, ‘Ya Rabbku, apa isinya?’ Maka Allah berfirman, ‘Jika engkau berbuat baik maka engkau akan diberi balasan, dan jika engkau berbuat buruk maka engkau akan diberi siksa’. Lalu Adam menerimanya dan menanggungnya. Itulah maksud firman Allah, ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh’.”

Kemudian, Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu- berkata, ‘Amanah adalah kewajiban-kewajiban yang diberikan oleh Allah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Jika mereka menunaikannya, Allah akan membalas mereka. Dan jika mereka menyia-nyiakannya, maka Allah akan menyiksa mereka. Mereka enggan menerimanya dan menolaknya bukan karena maksiat, tetapi karena ta’zhim (menghormati) agama Allah kalau-kalau mereka tidak mampu menunaikannya.” Kemudian Allah Ta’ala menyerahkannya kepada Adam, maka Adam menerimanya dengan segala konsekwensinya. Itulah maksud dari firman Allah:

“Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” yaitu pelanggar perintah Allah Subḥānahu wa ta'alā.

Bisa disimpulkan jika manusia hidup di dunia ini hanya menjalani ujiannya saja. Lulus atau tidak dalam menjalankan ujian tersebut akan dijawab oleh Allah Subḥānahu wa ta'alā saat kiamat tiba. Disana, akan ditunjukan bahwa sebelum hidup di dunia manusia sudah melakukan perjanjian dengan Allah yakni mengakui keesaan-Nya dan menjalankan amanah yang sudah ditetapkan.

Namun fitrahnya, manusia akan lupa setelah lahir ke dunia. Kemudian, setelah hari kiamat nanti, manusia akan kembali diingatkan tentang janji tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Hadid ayat 8 yang berbunyi “Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia (Allah) telah mengambil perjanjianmu, jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. (QS. Al Hadid, 57:8).

Wallahu a'lam…semoga kita termasuk manusia yang tidak menyianyiakan waktu saat hidup di muka bumi, serta dapat menjalankan amanah yang sudah diembankan Allah kepada kita. [Dream]

Secara Ilmiah Terungkap Mengapa Nabi Muhammad ﷺ Melarang Kencing Berdiri

View Article

Umumnya, pria buang air kecil dengan posisi berdiri sementara wanita dengan posisi jongkok. Namun, bagaimana bila pria kencing dengan posisi jongkok?

Mungkin hal ini akan terkesan aneh, tapi dibalik kesan aneh ternyata kencing dengan berjongkok bermanfaat bagi kesehatan pria.

Di Swedia pria dilarang kencing berdiri sebab pemerintah memandang ada banyak keuntungan yang diperoleh bila pria kencing dengan cara duduk di toilet. Partai sosialis dan feminis di Swedia mengklaim bila pria duduk saat buang air kecil maka akan lebih higienis.

Hal itu dapat mengurangi genangan air dan dianggap dapat mengurangi risiko kanker prostat dan meningkatkan kualitas kehidupan seks pria. Berikut ini manfaat buang air kecil dengan jongkok  bagi kesehatan pria:

1. Saat buang air kecil dengan posisi jongkok sempurna kandung kemih akan tertekan dan memicu keluarnya seluruh urin dari tubuh tanpa sisa. Kandung kemih yang kosong dapat membantu mengurangi risiko kanker prostat.

Untuk mengosongkan kandung kemih, saat buang air seni usahakan batuk-batuk kecil supaya kandung kemih lebih tertekan dan urin bisa keluar semua.

2. Biasanya saat buang air seni dengan posisi jongkok sering disertai dengan buang gas, dengan begitu Anda telah membuang metabolisme tubuh berupa air dan gas. Kondisi ini sangat jarang terjadi bila Anda kencing dengan posisi berdiri.

3. Buang air kecil dengan posisi berdiri tidak akan menekan kandung kemih sehingga masih ada urin yang tertinggal dalam tubuh. Hal ini tentu saja dapat meinmbulkan berbagai macam penyakit akibat masih tertinggalnya sisa metabolisme tubuh. Makin banyak urin yang tersimpan dalama tubuh maka makin meningkat pula risiko terkena batu kandung kemih.

Beberapa manfaat kesehatan di atas dapat Anda jadikan pertimbangan jika ingin memiliki hidup lebih sehat. [doktersehat.com]

Tidak diharamkan seseorang kencing sambil berdiri. Akan tetapi, disunahkan baginya kencing dengan berjongkok, berdasarkan ucapan Aisyah radhiallahu anha,

مَن حدّثكم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يَبُول قائما فلا تصَدِّقوه ، ما كان يبول إلا قاعداً (رواه الترمذي ، باب  الطهارة/12) وقال هو أصح شيء في هذا الباب وصححه الألباني في صحيح سنن الترمذي برقم 11)

"Siapa yang menyampaikan kepada kalian bahwa Nabi shallallahu alaih wa sallam kencing sambil berdiri, maka jangan kalian percaya. Belian setiap kencing pasti berjongkok." (HR. Tirmizi, bab Thaharah, no. 12, dia berkata, ini merupakan hadits yang paling shahih dalam bab ini. Dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Sunan Tirmizi, no. 11)

Karena kencing sambil jongkok/duduk lebih tertutup dan lebih terhindari dari terkena percikan air kencing.

Diriwayatkan bahwa terdapat keringanan boleh kencing sambil berdiri dengan syarat jika aman dari terkena percikan air kencing ke tubuh atau pakaiannya serta tidak tersingkap auratnya.

Dari Umar, Ibnu Umar dan Zaid bin Tsabit radhiallahu anhum, berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim dari Huzaifah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau mendatangi tempat buang hajat sebuah kaum, lalu dia kencing dalam keadaan  berdiri."

Tidak ada perentantangan antara hadits ini dengan hadits Aisyah radhiallahu anha. Ada kemungkinan beliau melakukan hal tersebut (kencing berdiri) karena tidak mungkin melakukannya sambil duduk, atau mungkin juga beliau melakukan hal tersebut untuk menjelaskan kepada manusia bahwa kencing berdiri tidak diharamkan. Hal ini tidak menafikan pokok permasalahan apa yang dinyatakan oleh Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau kencing dalam keadaan duduk dan bahwa itu merupakan perkara sunah, bukan perkara wajib yang diharamkan selainnya.

Wallahua'lam. []


Pranala luar:
1. https://islamqa.info/id/9790
2. https://rumaysho.com/1001-bolehkah-kencing-sambil-berdiri201.html
3. https://www.huffingtonpost.com/2012/06/13/sweden-left-party-toilet-stand_n_1590572.html
4. https://www.theatlantic.com/international/archive/2015/01/a-victory-for-the-right-to-pee-standing-up/384754
5. https://www.youtube.com/watch?v=cCAItLzLHco
6. https://www.youtube.com/watch?v=2362LtslFVY

Bingung, Idul Adha dan Puasa Arafah Ikut Arab Saudi Atau Pemerintah?

View Article

Sebagian orang pada bingung, puasa Arafah akan ikut siapa? Karena jadwal wukuf di Arafah dan 9 Dzulhijjah nantinya di tanah air berbeda untuk tahun ini.

Puasa Arafah adalah amalan yang disunnahkan bagi orang yang tidak berhaji. Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arqfah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Penglihatan Hilal Indonesia Jadi Rujukan

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).

Hilal di negeri masing-masinglah yang jadi patokan, itulah maksud perintah hadits. Yang menguatkannya pula adalah riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.

Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib.

Ibnu Abbas menjelaskan,

لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ

“Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”

Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”

Jawab Ibnu Abbas,

لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087).

Ini jadi dalil bahwa hilal di negeri kita tidak mesti sama dengan hilal Kerajaan Saudi Arabia, hilal lokal itulah yang berlaku.

Kalau hilal negara lain terlalu dipaksakan berlaku di negeri ini, coba bayangkan bagaimana hal ini diterapkan di masa silam yang komunikasinya belum maju seperti saat ini. Tentu berita wukuf di Arafah sulit sampai ke negeri lain karena terkendalanya komunikasi. Syariat dulu dan syariat saat ini berlaku sama. Maka kesimpulan kami, hilal lokal lebih memudahkan kaum muslimin dalam menentukan moment penting mereka.

Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul untuk hadits Kuraib, “Setiap negeri memiliki penglihatan hilal secara tersendiri. Jika mereka melihat hilal, maka tidak berlaku untuk negeri lainnya.”

Imam Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Hadits Kuraib dari Ibnu ‘Abbas jadi dalil untuk judul yang disampaikan. Menurut pendapat yang kuat di kalangan Syafi’iyah, penglihatan rukyah (hilal) tidak berlaku secara umum. Akan tetapi berlaku khusus untuk orang-orang yang terdekat selama masih dalam jarak belum diqasharnya shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 175). Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa hilal internasionallah yang berlaku. Maksudnya, penglihatan hilal di suatu tempat berlaku pula untuk tempat lainnya. (Lihat Idem)

Hadits berikut pun menunjukkan yang jadi patokan adalah hilal. Hilal yang berlaku adalah di negeri masing-masing.

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً

“Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1977)

Karena larangan yang disebut dalam hadits berlaku jika sudah terlihat hilal Dzulhijjah, maka demikian pula untuk puasa Arafah berpatokan pada hilal dan bukan pada wukuf.

Puasa Arafah Ikut Negeri Masing-Masing

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20: 47-48). Baca Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin secara lengkap di sini.

Kesimpulan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan di negeri masing-masing dan tidak mesti mengikuti wukuf di Arafah. Kita harus berlapang dada karena para ulama berselisih pula dalam memberikan jawaban untuk masalah ini. Legowo itu lebih baik.

Wallahu a’lam, wallahu waliyyut taufiq. []


Diselesaikan di siang hari selepas Zhuhur di Pesantren Darush Sholihin, 30 Dzulqo’dah 1435 H
Akhukum fillah: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel oleh Rumaysho.com

Senin, 13 Agustus 2018

Pencitraan, lmage Imitasi para Politisi

View Article

Akhir-akhir ini publik kembali disuguhi berita-berita, terutama di media mainstream, tentang aksi para politisi yang tidak seperti biasanya. Jelang tahun Pemilu, kejadian seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan.

Mulai dari aksi para politisi ini untuk terjun langsung ke masyarakat, misal dengan ‘blusukan’ ke pasar, aksi silaturahmi mereka dengan kalangan santri dan para kyai di pesantren, hingga aksi sholat berjamaah di masjid yang membuat mereka terlihat sangat Islami.

Aksi-aksi tersebut pada masa-masa sebelumnya nyaris tidak pernah terlihat. Akan tetapi menjelang tahun 2019, tiba-tiba para politisi berlomba-lomba untuk menjadi yang paling dekat dengan rakyat. Apa gerangan sebenarnya yang sedang terjadi?

Perilaku para politisi inilah kiranya yang disebut sebagai pencitraan. Pencitraan merupakan sebuah upaya untuk membangun citra, gambaran, yang positif (bisa juga negatif) tentang seseorang.

Dalam dunia self-branding, pencitraan ini memang sesuatu yang biasa dilakukan. Bahkan bisa jadi suatu keharusan. Hal ini dibutuhkan untuk membangun citra yang baik dan merebut perhatian publik demi tercapainya tujuan-tujuan yang dimaksud.

Meskipun pada awalnya pencitraan ini hanya di gunakan dalam dunia bisnis dan ekonomi untuk membangun bisnis seseorang atau membangun sebuah perusahaan. Namun, sekarang ini dunia politik pun sering menggunakan pencitraan ini untuk membangun image para politisinya.

Dalam alam politik demokrasi, dimana Pemilu menjadi salah satu pilar utamanya, pencitraan sangat sering dilakukan. Pencitraan dilakukan untuk meraih simpati masyarakat sebagai calon pemilih yang suaranya sangat diperlukan dalam upaya mereka meraih kekuasaan.

Sebut saja Hari Tanoe, sang CEO MNC Group sekaligus Ketum Partai Perindo yang telah lama rajin menyambangi Ponpes-ponpes di seluruh Indonesia demi meraih simpati kalangan santri dan para kyai. Tentu yang diharapkan dukungan suaranya saat Pemilu nanti.

Kemudian kita juga disuguhi aksi pencitraan Presiden Jokowi dalam hiruk pikuk divestasi Freeport. Dengan bangganya Presiden menyatakan bahwa 51% saham Freeport telah berpindah tangan ke Indonesia. Padahal fakta dilapangan menunjukkan bahwa proses pengambilalihan saham Freeport masih berlangsung dan belum final. Jadi terlalu dini jika Presiden Jokowi memberikan pernyataan demikian.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Dalam alam demokrasi sekuleristik memang segala cara bisa ditempuh untuk meraih tujuan yang dimaksud. Bahkan hoax dan pembohongan publik menjadi sah-sah saja demi meraih dukungan dan simpati masyarakat. Yang diharapkan akan memberikan suaranya demi tercapainya kekuasaan.

Tidak ada kode etik, apatah lagi mengindahkan aturan Allah. Semuanya sah-sah saja dilanggar. Tidak hanya pencitraan positif yang dilakukan. Akan tetapi pencitraan negatif juga dilakukan demi menjatuhkan lawan-lawan politiknya. Semua demi meraih kekuasaan.

Demikianlah fakta yang ada dalam alam demokrasi. Alih-alih menjadikan politik sebagai upaya mengurus urusan rakyat, malah hanya dijadikan sebagai ajang berebut kekuasaan. Segala cara pun ditempuh untuk mencapai tujuan, termasuk pencitraan.

Akan sangat berbeda kondisinya jika yang melingkupi kita adalah sistem Islam. Politik dalam Islam bermakna mengurus urusan rakyat. Jadi orang-orang yang berada dalam lingkup politik, yaitu para politisinya, sudah pasti haruslah orang-orang yang memang mempunyai kapasitas sebagai pengurus urusan rakyat.

Para politisi ini diberikan amanah sebagai pemimpin rakyat karena memang benar-benar dianggap mampu untuk melaksanakan amanah tersebut. Bukan karena pencitraan yang hanya dibuat-buat. Bahkan cenderung menipu rakyat.

Mereka juga dipastikan adalah orang-orang yang sangat memahami tanggungjawabnya sebagai pemimpin. Mereka akan senantiasa bersikap amanah karena yakin pasti akan dimintai pertanggungjawaban akan amanahnya itu. Bukan saja di dunia tetapi juga di hadapan Allah di akhirat nanti.

Sejarah mencatat bagaimana para Khalifah pada masa kekhalifahan Islam yang pernah berlangsung selama 13 abad, mengatur segala urusan rakyatnya.

Khalifah Umar bin Khattab r.a. bahkan pernah memikul sendiri gandum untuk salah satu warganya yang kelaparan. Beliau melakukan hal itu sebagai tanggungjawab beliau sebagai seorang Khalifah.

Kemudian ada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sangat amanah dan kehidupannya sangat bersahaja. Beliau tidak mau sedikit pun memakai fasilitas negara demi kepentingan pribadinya. Meski hanya sekedar minyak yang menyalakan lentera.

Ada juga Khalifah al Mu’tasim Billah yang mengirimkan puluhan ribu tentaranya ketika ada seorang muslimah yang diganggu oleh orang Yahudi. Hal ini juga dilakukan sebagai pertanggungjawaban beliau sebagai pelindung dan pengurus urusan umat.

Dengan demikian, para politisi dalam Islam bukanlah orang-orang yang haus akan kekuasaan. Yang dengan mudah memberikan janji-janji pada masyarakat sementara abai akan segala janjinya setelah duduk sebagai penguasa.

Para politisi dalam Islam adalah orang-orang yang sangat memikirkan urusan rakyatnya. Mereka adalah orang-orang terpilih yang tidak diragukan lagi kapabilitasnya sebagai pemimpin.

Mereka tidak butuh dan tidak akan pernah melakukan pencitraan. Sebab tanpa pencitraan pun rakyat telah bisa melihat citra mereka yang sebenarnya. Bahwa mereka adalah politisi, penguasa dan pemimipin yang amanah dan bertanggungjawab.

Berbeda sekali dengan para politisi yang ada pada masa sekarang. Mereka mencoba tampil sebaik mungkin di hadapan rakyatnya hanya saat mereka membutuhkan suara rakyat. Demi memuluskan jalan meraih kekuasaan. Namun, setelahnya wallahu’alam.

Betapapun para politisi ini mencoba memoles tampilan mereka, tetap saja terlihat seperti apa yang sebenarnya. Pepatah jawa mengatakan, “Becik ketitik ala ketara”. Jika memang mereka baik maka rakyat akan bisa melihat juga. Begitupun sebaliknya.

Rakyat sejatinya telah terbiasa dengan musim pencitraan ini. Sebab demikianlah yang terjadi setiap suara mereka sedang dibutuhkan oleh para politisi. Mereka diberi janji-janji yang tak pernah terrealisasi.

Semoga fenomena pencitraan politik ini semakin membuat umat tersadar akan buruknya demokrasi yang tak pernah memberi solusi. Yang hanya menjadi ajang bertaruh gengsi antar politisi.

Hanya Islam yang telah terbukti. Mampu melahirkan para politisi yang amanah juga mumpuni. Yang menciptakan kesejahteraan di seluruh negeri. Maka, seharusnya hanya kepada Islam dan seluruh aturannya lah kita kembali.

Mukhy Ummu Ibrahim
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Minggu, 12 Agustus 2018

Inilah Amalan Utama di Awal Bulan Dzulhijah

View Article

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Alhamdulillah, bulan Dzulhijah telah menghampiri kita. Bulan mulia dengan berbagai amalan mulia terdapat di dalamnya. Lantas apa saja amalan utama yang bisa kita amalkan di awal-awal Dzulhijah? Moga tulisan sederhana berikut bisa memotivasi saudara untuk banyak beramal di awal Dzulhijah.

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah

Adapun keutamaan beramal di sepuluh hari pertama Dzulhijah diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“[1]

Dalil lain yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]

Lantas manakah yang lebih utama, apakah 10 hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad memberikan penjelasan yang bagus tentang masalah ini. Beliau rahimahullah berkata, “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).”[6]

Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.[7] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”[8]

6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah

Ada 6 amalan yang kami akan jelaskan dengan singkat berikut ini.

Pertama: Puasa

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[9], …”[10]

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [11]

Kedua: Takbir dan Dzikir

Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.[12]

Catatan:

Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqoyyad (dikaitkan dengan waktu tertentu).

Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah[13].

Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.

Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Ketiga: Menunaikan Haji dan Umroh

Yang paling afdhol ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah. Silakan baca tentang keutamaan amalan ini di sini.

Keempat: Memperbanyak Amalan Sholeh

Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kelima: Berqurban

Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq disunnahkan untuk berqurban sebagaimana ini adalah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Silakan baca tentang keutamaan qurban di sini.

Keenam: Bertaubat

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama. Silakan baca tentang taubat di sini.

Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[14]

Sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari tersebut (sepuluh hari pertama Dzulhijah) dengan melakukan ketaatan pada Allah, dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah.[15]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. []


Finished with aid of Allah, on 1st Dzulhijah 1431 H (07/11/2010), in KSU, Riyadh, KSA
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.com
Catatan kaki:
[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.
[2] Lihat Taisir Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H, hal. 923.
[3] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, Al Maktab Al Islami, cetakan ketiga, 1404, 9/103-104.
[4] Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan tahun 1424 H, hal. 159.
[5] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 469.
[6] Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, 1407, 1/35.
[7] Lathoif Al Ma’arif, 469.
[8] Latho-if Al Ma’arif, hal. 458.
[9] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi.
[10] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[11] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.
[12] Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”.
[13] Syaikh Hammad bin ‘Abdillah bin Muhammad Al Hammad, guru kami dalam Majelis di Masjid Kabir KSU, dalam Khutbah Jum’at (28/11/1431 H) mengatakan bahwa takbir muqoyyad setelah shalat diucapkan setelah membaca istighfar sebanyak tiga kali seusai shalat. Namun kami belum menemukan dasar (dalil) dari hal ini. Dengan catatan, takbir ini bukan dilakukan secara jama’i (berjama’ah) sebagaimana kelakukan sebagian orang. Wallahu a’lam.
[14] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, Dar Al Imam Ahmad, hal. 116, 119-121.
[15] Point-point yang ada kami kembangkan dari risalah mungil “Ashru Dzilhijjah” yang dikumpulkan oleh Abu ‘Abdil ‘Aziz Muhammad bin ‘Ibrahim Al Muqoyyad.

Inilah Nasehat Emas Imam Asy-Syafi’i

View Article

Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i,

Aku melihat pemilik ilmu hidupnya mulia walau ia dilahirkan dari orangtua terhina.
Ia terus menerus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia.
Umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing ke sana sini diikuti hewan piaraan.
Jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia dan tidak mengenal halal dan haram.

Diantara keutamaan ilmu kepada penuntutnya adalah semua umat manusia dijadikan sebagai pelayannya.
Wajib menjaga ilmu laksana orang menjaga harga diri dan kehormatannya.
Siapa yang mengemban ilmu kemudian ia titipkan kepada orang yang bukan ahlinya karena kebodohannya maka ia akan mendzoliminya.

Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diraih kecuali dengan enam syarat dan akan aku ceritakan perinciannya dibawah ini:
Cerdik, perhatian tinggi, sungguh-sungguh, bekal, dengan bimbingan guru dan panjangnya masa.
Setiap ilmu selain Al-Qur’an melalaikan diri kecuali ilmu hadits dan fikih dalam beragama.
Ilmu adalah yang berdasarkan riwayat dan sanad maka selain itu hanya was-was setan.

Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,
Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.
Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.
Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.

Ilmu adalah tanaman kebanggaan maka hendaklah Anda bangga dengannya. Dan berhati-hatilah bila kebanggaan itu terlewatkan darimu.
Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian.
Pengagum ilmu akan selalu berusaha baik dalam keadaan telanjang dan berpakaian.
Jadikanlah bagi dirimu bagian yang cukup dan tinggalkan nikmatnya tidur
Mungkin suatu hari kamu hadir di suatu majelis menjadi tokoh besar di tempat majelsi itu.


Disadur dari kitab Kaifa Turabbi Waladan Shalihan (Terj. Begini Seharusnya Mendidik Anak),
Al-Maghrbi bin As-Said Al-Maghribi, Darul Haq.
Artikel Muslimah.or.id

Jumat, 10 Agustus 2018

Atheis, Kedangkalan Berfikir yang Berusaha Terlihat Jenius

View Article

Dalam bukunya A Brief History of Time, Stephen Hawking mengatakan bahwa Tuhan mungkin ada, tapi Dia tidak turut campur dalam pengaturan alam. Setelah tiga puluh tahun berlalu, dalam karyanya yang lain, The Grand Design, ia meralat pendapatnya.

Kini ia yakin bahwa Tuhan itu tidak ada dan segala kejadian di alam semesta ini terjadi karena gravitasi. Kukuhlah nama Hawking di ‘barisan elit’ kaum ateis. Banyak orang bertanya mengapa orang secerdas dirinya justru memilih untuk menjadi ateis. Akan tetapi, pertanyaan yang lebih menarik daripada itu adalah: mengapa orang (yang mengaku) ateis terus menerus memikirkan Tuhan? Waktu kuliah di ITB dulu, saya mengenal seorang mahasiswa yang begitu bangga dengan ke-ateisannya dan suka merendahkan mereka yang tidak ateis.

Menurut mereka, yang tidak ateis itu tidak ilmiah. Kebanyakan orang mengacuhkannya, karena dia memang bukan Stephen Hawking. Kuliahnya tidak sukses-sukses benar dan orangnya tidak pintar-pintar amat. Mungkin karena dia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membicarakan (dan mendustakan) Tuhan. Tapi gejala umumnya sama saja. Jika Tuhan memang tidak ada, maka orang-orang ateis adalah kelompok manusia yang paling rajin memikirkan hal yang tidak ada. Segala pembicaraan bisa berujung pada Tuhan. Bahkan orang berimanpun belum tentu melakukan hal yang demikian! Baik Buya Hamka maupun Prof. Malik Badri (tokoh psikologi Islam kenamaan) telah mencermati hal yang serupa, meskipun observasi mereka tidak terbatas pada orang-orang ateis.

Menurut Hamka, sudah fitrahnya manusia untuk mengajukan ‘pertanyaan-pertanyaan abadi’ yang selalu muncul dalam jiwanya, yaitu seputar hakikat dirinya, tujuan hidupnya, kemana ia akan pergi setelah mati, ada-tidaknya Tuhan dan akhirat, dan seterusnya.

Menurut Prof. Malik, setiap manusia yang sudah mencapai usia enam tahun tidak mungkin tidak pernah mempertanyakan hal-hal tersebut. Ini adalah gejala psikologi yang berlaku umum tanpa kecuali, tidak peduli antum anak yang makan bangku sekolah atau temannya Tarzan yang bergelantungan keliling hutan bersama binatang. Selama spesiesnya masih manusia dan masih waras, pasti ia akan memikirkan Tuhan. Biarpun mengaku ateis.

Pertanyaan-pertanyaan abadi yang telah disebutkan oleh Buya Hamka pada dasarnya adalah pertanyaan-pertanyaan seputar identitas diri. Siapa saya? Untuk apa saya dilahirkan? Untuk apa saya menjalani hidup? Bagaimana menjadikan hidup ini bermakna? Apakah hidup ini memang memiliki makna? Ada apa lagi setelah hidup ini? Siapa yang ‘mewajibkan’ saya untuk dilahirkan? Ke mana saya akan dibawa? Sepanjang hidup, kita terus mempertanyakan hal-hal semacam ini, dan manusia takkan berhenti sampai memperoleh jawabannya. Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab, maka segala kenikmatan duniawi menjadi tidak relevan, atau minimal hanya dinikmati sementara saja. Sebab, untuk merasakan kenikmatan hidup saja, manusia perlu diajari caranya membedakan hal yang benar-benar bisa membuatnya bahagia dari hal-hal yang hanya menawarkan kesenangan semu. Ujung-ujungnya, manusia kembali pada pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya sendiri.

Identitas menjadi hal yang sangat penting karena ia membantu kita mengenal diri kita sendiri. Orang yang amnesia baru akan merasa sedikit tenang kalau ia sudah mengetahui nama aslinya, bahkan jika ia tidak menemukan masalah dengan nama baru yang ditawarkan kepadanya. Kita akan resah jika ada yang memberitahukan kepada kita bahwa orang tua kita bukanlah orang tua kandung kita, atau istri kita tidak menjalani hidup sebagaimana yang kita kenal selama ini, atau anak kita diam-diam telah mengkonsumsi narkoba, dan sebagainya. Segala informasi di seputar diri kita akan membentuk cara pandang kita terhadap diri dan hidup kita sendiri.

Dalam kasus orang tua yang menghadapi kenyataan bahwa anaknya diam-diam mengkonsumsi narkoba, mungkin ia mulai mempertanyakan segala pengetahuan yang dimilikinya sebagai orang tua dan mulai mempersalahkan dirinya dalam segala hal. Ia tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, karena kenyataan telah membanting keras semua keyakinan dirinya. Konflik batin yang terjadi dalam diri seorang ateis pun tidak kurang pedihnya. Ia terus-menerus menolak Tuhan, mungkin karena serangkaian kejadian dalam hidup yang tak bisa diterimanya, namun pada kenyataannya hidup pula yang terus-menerus menyodorkan bukti bahwa Tuhan itu ada.

Dalam kasus Stephen Hawking, otak encernya kemungkinan besar tidak berhenti pada hipotesis bahwa segala sesuatunya terjadi karena grativasi, sebab kemudian ia diarahkan lagi pada pertanyaan lainnya: lalu siapa yang telah menciptakan gravitasi? Jika gravitasi di antara dua benda terjadi karena masing-masing memiliki massa, lantas siapa yang membuat ketentuan bahwa semua benda bermassa akan menimbulkan gravitasi? Bukankah jauh lebih mudah untuk menerima bahwa Tuhan menciptakan massa, dan Tuhan menetapkan bahwa setiap massa akan menimbulkan gravitasi?

Orang-orang ateis menciptakan begitu banyak teori untuk menolak Tuhan, namun lisannya tidak kering membicarakan Tuhan. Sejak dahulu, para penentang Tuhan selalu gusar hanya dengan mendengar nama-Nya. Fir’aun membual bahwa dirinya adalah tuhan, tapi toh ia memerintahkan anak buahnya untuk membuat menara tinggi agar bisa menatap wajah Tuhannya Musa as dan Harun as. Raja di jaman Nabi Ibrahim as juga sama pembualnya, namu matahari selalu terbit dari Timur dan tenggelam di Barat; seumur hidupnya ia hanya bisa menjadi pengamat hukum-hukum alam dan tidak bisa menciptakan hukumnya sendiri, tidak pula bisa menerangkan bagaimana hukum-hukum itu menciptakan dirinya sendiri. Kurang lebih sama saja seperti Hawking dan gravitasinya itu.

Islam menyebut alam semesta sebagai tanda- tanda kebesaran Allah yang Terlihat Jenius, atau kita mengenalnya dengan nama ayat-ayat kawniyyah. Seindah- indahnya alam, ia tidak lebih dari sebuah tanda. Oleh karena itu, tidak wajar jika orang begitu disibukkan dengan dunia ini dan lalai dari apa yang ditunjuk olehnya. Sama saja seperti orang yang berhenti di tengah jalan untuk mengagumi rambu-rambu lalu lintas; ia tak pernah sampai ke tujuan. Sama seperti Hawking yang berhenti pada gravitasi tanpa pernah mencapai ujung dari perjalanan intelektualnya. Resep yang ditawarkan oleh Buya Hamka berlaku umum, baik untuk para filsuf maupun fisikawan: manusia boleh memeras akal dan berspekulasi semaunya, tapi ia takkan memperoleh jawaban sempurna dari pertanyaan-pertanyaan abadinya hingga ia bisa menerima agama.

Artinya, untuk memahami hakikat dirinya, ia tidak boleh hanya berpegang pada pancaindera dan akalnya saja, melainkan harus berpaling pada Wahyu Ilahi. Karena Tuhan yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini, maka hanya Dia-lah yang bisa menjelaskan hakikat dari segala sesuatunya itu.

Sehebat-hebatnya Stephen Hawking, sebesar apa pun namanya di kalangan fisikawan dan sesama ateis, kita bersyukur tidak banyak yang menjadikannya sebagai acuan. Orang-orang ateis bisa bicara apa saja dan menertawakan orang- orang yang beriman sesuka hatinya, namun hati kecilnya takkan membiarkannya begitu saja mendustakan Tuhan, sebab ia tahu persis Dia ada, Dia Maha Mengetahui dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatunya.

Tanpa Tuhan, hidup akan kehilangan makna. Manusia yang berpaling dari wahyu tidak kan memahami tujuan penciptaannya. Mereka tidak memahami posisinya sebagai khalifah di muka bumi dan rahmatan lil ‘aalamiin, dan karenanya mereka kehilangan pegangan moral. Mereka tidak membaca penjelasan Tuhan tentang kehidupan di akhirat, dan – setelah kehilangan standar moralitas mereka tidak pula memahami kebahagiaan yang hakiki. Orang-orang beriman merasa tenang hidupnya karena mereka yakin bahwa segala kebaikannya akan memberikan dampak sistemik di akhirat, sedangkan orang-orang ateis (berusaha keras) mendustakan akhirat, sehingga mereka terus terpacu mencari kesenangan sesaat di dunia. Kesenangan yang satu berganti dengan kesenangan berikutnya, namun seberapa pun mereka mencari, semuanya hanyalah sesaat.

Mereka memandang pasangan mereka sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan seks (yang tentu saja hanya sesaat), sedangkan orang-orang beriman merasa sejuk hanya dengan melihat anak-istrinya saja dan hatinya berbunga-bunga membayangkan keluarganya kelak akan berkumpul di tempat yang baik di akhirat.

Orang-orang ateis tidak pernah puas dengan makanan lezat yang terhidang di mejanya, sedangkan orang-orang beriman tidak pernah mencela makanannya dan sibuk memberi makan orang lain. Itulah jarak yang menganga antara hati yang sempit dan lapang, antara hidup yang kosong dan penuh makna. Tepat betul kiranya jika orang-orang yang mendustakan Tuhan ini disebut kafir. Hal yang paling maksimal bisa mereka lakukan adalah mengingkari atau menutup-nutupi (kufur). Apa yang disembunyikan di balik tabir pada hakikatnya tetaplah ada. Sekuat apa pun dirimu mengingkari Tuhan, pada hakikatnya Dia tetap ada, dan Dia tetap Maha Berkuasa. Manusia tak bisa lari dari-Nya, dan kita menyaksikan kebenaran ini di mana-mana, bahkan dari lisan seorang ateis. []


Oleh Ustadz Akmal Sjafril
Aktivis #IndonesiaTanpaJIL
Kunjungi malakmalakmal.com/buku

Kamis, 09 Agustus 2018

Apakah Kaum Muslimin Menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad?

View Article

Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Bagaimana membantah orang atheis yang mengatakan, ‘Wahai kaum muslimin, kalian sendiri menyembah batu (Hajar Aswad) dan berputar mengelilinginya! Lantas, kenapa kalian menyalah-nyalahkan orang lain yang menyembah berhala dan patung/gambar?”

Syekh Shaleh Al-Fauzan memberikan jawaban sebagai berikut,

“Ini jelas kebohongan yang nyata! Kami sama sekali tidak menyembah batu (Hajar Aswad), melainkan kami menyentuhnya dan menciumnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini artinya, kami melakukan hal tersebut dalam rangka beribadah dan mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mencium Hajar Aswad adalah bagian dari ibadah, sebagaimana kita wuquf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan tawaf mengelilingi Baitullah (Ka’bah). Juga, kita mencium Hajar Aswad dan menyentuhnya atau memberi isyarat padanya. Itu semua adalah bentuk ibadah kepada Allah, bukan berarti menyembah batu tersebut.

Lebih dari itu, kita bisa beralasan dengan tindakan yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab radhiallahu ‘anhu ketika beliau mencium Hajar Aswad. Ketika itu, beliau mengatakan, ‘Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu.’ (H.R. Bukhari, no. 1597 dan Muslim, no. 1270)

Oleh karena itu, masalah ini berkaitan dengan cara umat Islam mengikuti tuntunan nabinya, dan bukan berkaitan dengan menyembah batu (Hajar Aswad). Jadi, sebenarnya mereka yang menyebarkan isu tersebut telah merencanakan kebohongan atas umat Islam.

Kita sama sekali tidak menyembah Ka’bah. Bahkan, yang kita sembah adalah Rabb pemilik Ka’bah. Begitu pula, kita melakukan tawaf keliling Ka’bah dalam rangka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla karena Allah-lah yang memerintahkan kita untuk melakukan seperti itu.

Kita melakukan demikian hanya karena menaati Allah ‘azza wa jalla dan mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (‘Aqidatul Haj fi Dhauil Kitab was Sunnah, Syekh Shaleh Al-Fauzan, hlm.22–23; diterjemahkan dari http://fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=890)

Baca juga: Mengapa Umat Islam Mengelilingi Ka’bah?
Baca juga: Mantan Biarawati, Umat Islam Tidak Menyembah Ka'bah


Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.rumaysho.com | Dipublikasikan oleh KonsultasiSyariah.com
Riyadh, KSA, 2 Jumadal Awwal 1432 H (05/04/2011 M)

Rabu, 08 Agustus 2018

Apa Hukumnya Bertahan Shalat Ketika Gempa?

View Article

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terdapat kaidah umum yang disampaikan para ulama fiqh. Kaidah itu menyatakan,

دَرْءُ المَفَاسِد أَولَى مِن جَلبِ المَصَالِح

Menghindari mafsadah (potensi bahaya) lebih didahulukan dari pada mengambil maslahat (kebaikan).

Dalam banyak literatur yang membahas qawaid fiqh, kaidah ini sering disebutkan.

Diantara dalil yang mendukung kaidah ini adalah firman Allah,

ولا تَسُبُوا الَّذِينَ يَدْعُونَ من دوُنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْواً بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Janganlah kamu memaki tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (QS. al-An’am: 108)

Syaikh Dr. Muhammad Shidqi al-Burnu menjelaskan kandungan makna ayat ini,

ففي سب آلهة الكفار مصلحة وهي تحقير دينهم وإهانتهم لشركهم بالله سبحانه، ولكن لما تضمن ذلك مفسدة وهي مقابلتهم السب بسب الله عز وجل نهى الله سبحانه وتعالى عن سبهم درءاً لهذه المفسدة.

Memaki tuhan orang kafir ada maslahatnya, yaitu merendahkan agama mereka dan tindakan kesyirikan mereka kepada Allah – Ta’ala –. Namun ketika perbuatan ini menyebabkan potensi bahaya, yaitu mereka membalas makian, dengan menghina Allah, maka Allah melarang memaki tuhan mereka, sebagai bentuk untuk menghindari potensi bahaya. (al-Wajiz fi Idhah Qawaid Fiqh, hlm. 265).

Karena pertimbangan inilah, pelaksaan kewajiban yang sifatnya muwassa’ (waktunya longgar), harus ditunda untuk melakukan kewajiban yang waktunya terbatas.

Shalat wajib termasuk wajib muwassa’ (waktunya longgar). Shalat isya rentang waktunya sejak hilangnya awan merah di ufuk barat, hingga tengah malam. Sehingga, kalaupun seseorang tidak bisa menyelesaikan di awal malam, dia bisa tunda di waktu setelahnya.

Sementara menyelamatkan nyawa juga kewajiban. Karena secara sengaja berdiam di tempat yang berbahaya, hukumnya haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Imam Ahmad 2863, Ibnu Mâjah 2341 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Ketika terjadi gempa, sementara posisi kita sedang shalat, di sana terjadi pertentangan antara maslahat dengan mafsadah.

Mempertahankan shalat, itu maslahat, sehingga jamaah bisa segera menyelesaikan kewajibannya. Namun di sana ada potensi bahaya, karena jika bangunan itu roboh, bisa mengancam nyawa jamaah.

Mana yang harus didahulukan?

Kaidah di atas memberikan jawaban, menghindari potensi bahaya lebih didahulukan, dari pada mempertahankan maslahat. Apalagi shalat termasuk kewajiban yang waktunya longgar.

Pertimbangan lainnya adalah Maqasid as-Syari’ah (tujuan besar adanya syariah), diantaranya menjaga keselamatan jiwa. Sehingga bertahan shalat, sementara orang itu  sudah tahu bahwa gempa ini berpotensi menghilangkan nyawa, maka tindakannya bertentangan dengan Maqasid as-Syariah.

Wajib Menyelamatkan Nyawa dengan Membatalkan Shalat

Karena itulah, para ulama menegaskan wajib mendahulukan penyelamatan nyawa, dari para shalat wajib. Kita simak keterangan mereka,

[1] Keterangan Hasan bin Ammar al-Mishri – ulama Hanafiyah –

فيما يوجب قطع الصلاة وما يجيزه وغير ذلك…  يجب قطع الصلاة باستغاثة ملهوف بالمصلي

Penjelasan tentang apa saja yang mewajibkan orang untuk membatalkan shalat dan apa yang membolehkannya… wajib membatalkan shalat ketika ada orang dalam kondisi darurat meminta pertolongan kepada orang yang shalat… (Nurul Idhah wa Najat al-Arwah, hlm. 75)

[2] Keterangan al-Izz bin Abdus Salam – ulama Syafi’iyah – wafat 660 H.

Dalam kitabnya Qawaid al-Ahkam, beliau menjelaskan,

تَقْدِيمُ إنْقَاذِ الْغَرْقَى الْمَعْصُومِينَ عَلَى أَدَاءِ الصَّلَوَاتِ، لِأَنَّ إنْقَاذَ الْغَرْقَى الْمَعْصُومِينَ عِنْدَ اللَّهِ أَفْضَلُ مِنْ أَدَاءِ الصَّلَاةِ، وَالْجَمْعُ بَيْنَ الْمَصْلَحَتَيْنِ مُمْكِنٌ بِأَنْ يُنْقِذَ الْغَرِيقَ ثُمَّ يَقْضِي الصَّلَاةَ…

Harus mendahulukan upaya penyelamatan orang yang tenggelam, dari pada pelaksanaan shalat. karena menyelamatkan nyawa orang yang tenggelam, lebih afdhal di sisi Allah dibandingkan melaksanaan shalat. Disamping menggabungkan kedua maslahat ini sangat mungkin, yaitu orang yang tenggelam diselamatkan dulu, kemudian shalatnya diqadha. (Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, 1/66).

Beliau berbicara tentang penyelamatan nyawa orang lain. dia didahulukan dibandingkan pelaksanaan shalat wajib. Tentu saja, menyelamatkan diri sendiri harus didahulukan dibandingkan shalat.

[3] Keterangan al-Buhuti – ulama hambali – (wafat 1051 H),

ويجب إنقاذ غريق ونحوه كحريق فيقطع الصلاة لذلك فرضاً كانت أو نفلاً، وظاهره ولو ضاق وقتها لأنه يمكن تداركها بالقضاء بخلاف الغريق ونحوه، فإن أبى قطعها لإنقاذ الغريق ونحوه أثم وصحت صلاته

Wajib menyelamatkan orang tenggelam atau korban kebakaran, sehingga harus membatalkan shalat, baik shalat wajib maupun sunah. Dan yang kami pahami, aturan ini berlaku meskipun waktunya pendek. Karena shalat tetap bisa dilakukan dengan cara qadha, berbeda dengan menolong orang tenggelam atau semacamnya. Jika dia tidak mau membatalkan shalatnya untuk menyelamatkan orang yang tenggelam atau korban lainnya, maka dia berdosa meskpiun shalatnya sah. (Kasyaf al-Qi’na, 1/380).

Mereka mewajibkan membatalkan shalat untuk menyelamatkan nyawa satu orang yang sedang terancam. Sementara sikap imam yang mempertahankan diri, bisa membahayakan nyawanya dan nyawa sekian banyak makmum. Bukankah lebih layak untuk segera dibatalkan??

Karena itulah, bagi mereka yang sedang shalat jamaah, kemudian terjadi gempa, sikap yang tepat bukan bertahan shalat namun segera dibatalkan. Karena ini potensi bahaya yang seharusnya dihindari. Terlebih, shalat bisa ditunda setelah situasi memungkinkan.

Demikian, Allahu a’lam. []

Baca juga: Ini Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa
Baca juga: Musibah antara Ujian ataukah Azab?
Baca juga: Nasehat Ulama, Dibalik Musibah Gempa Bumi
Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa
Baca juga: Begini Cara Rasulullah dan Umar Menghentikan Gempa


Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina Konsultasisyariah.com

Meroket 7 Kali Lipat, Ribuan TKA Serbu Jawa Tengah

View Article

Jumlah tenaga kerja asing (TKA) yang masuk Jawa Tengah, utamanya dari Tiongkok meroket. Bahkan, pada semester awal tahun 2018, tercatat sudah sebanyak 14 ribu orang lebih atau naik hampir lima kali lipat dibanding periode 2017 keseluruhan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, Wika Bintang, menyebut, tahun lalu hanya ada 2.119 TKA yang masuk dan bekerja di provinsinya. Sementara semester pertama tahun ini tepatnya berjumlah 14.148 orang dari yang biasanya berkutat pada angka 1.900-2.000 saja.

"Tapi kami sedang mencoba mencari 14 ribu TKA ini dimana, di kabupaten mana. Karena ini kan online izinnya awal, sehingga langsung di pusat," ujar Wika saat dijumpai di Kantornya, Semarang, Kamis (2/8).

Jumlah TKA, lanjutnya, didominasi pekerja asal Tiongkok, yakni 4.219 orang. Disusul Jepang 1.744 orang, Korea Selatan 1.598 orang, India 1.430 orang. Kemudian negara-negara lain di Asia Tenggara dan Eropa yang jumlahnya tak melebihi seribu orang.

"Ada juga dari negara-negara lain jumlahnya kecil-kecil yang kalau ditotal bisa mencapai dua ribuan lebih," sambung Wika.

Ia berharap bahwa belasan ribu TKA itu berizin atau memiliki dokumen lengkap. Di satu sisi, Wika juga punya keinginan bahwa para tenaga kerja asing itu mampu bertukar ilmu dengan pekerja lokal.

Pasalnya, melonjak tajamnya jumlah TKA di Jateng ini, disinyalir Wika sebagai perwujudan peluang investasi yang menjamur. Sehingga, makin banyak pula tenaga ahli yang didatangkan.

"Tapi kami berharap nantinya ada alih teknologi ke tenaga kerja kita. Karena dalam aturannya setiap TKA harus ada yang mendampingi dari tenaga kerja lokal. Jadi ke depannya makin banyak pula lokal yang menguasai skill tersebut," cetusnya. [Jawapos]

Selasa, 07 Agustus 2018

Tantangan dari Al-Quran

View Article

Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang terbesar di antara semua mukjizat para nabi.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan,

ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺓ ﻫﻲ ﻣﺎ ﻳُﺠﺮِﻱ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻳﺪﻱ ﺍﻟﺮﺳﻞ ﻭﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺭﻕ ﺍﻟﻌﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺘﺤﺪﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ، ﻭﻳﺨﺒﺮﻭﻥ ﺑﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﺘﺼﺪﻳﻖ ﻣﺎ ﺑﻌﺜﻬﻢ ﺑﻪ ، ﻭﻳﺆﻳﺪﻫﻢ ﺑﻬﺎ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ؛ ﻛﺎﻧﺸﻘﺎﻕ ﺍﻟﻘﻤﺮ ، ﻭﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻫﻮ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻌﺠﺰﺓ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻃﻼﻕ

“Mukjizat adalah suatu yang Allah turunkan melalui para rasul dan nabi berupa kejadian-kejadian luar biasa (di luar hukum adat/sebab-akibat) sebagai bentuk tantangan bagi manusia. Merupakan berita dari Allah untuk membenarkan apa yang telah Allah utus untuk menguatkan para rasul dan nabi. Seperti terbelahnya bulan dan turunnya Al-Quran. Al-Quran adalah mukjizat terbesar dari para rasul secara mutlak.” (At-Tanbihaat Al-Lathiifah hal. 107)

Tantangan dari Al-Quran

Al-Quran adalah mukjizat yang membuktikan bahwa manusia ini adalah hamba yang lemah dan memiliki Rabb yang harus diibadahi. Al-Quran memiliki mukjizat berupa keindahan susunan kata dan sekaligus memiliki kandungan yang luar biasa berupa hukum, aqidah dan kisah-kisah serta informasi masa depan yang sangat tepat.

Al-Quran memberikan tantangan kepada manusia yaitu tantangan bagi manusia semuanya dan para jin sekalipun agar membuat semisal Al-Quran, walau hanya satu surat saja. Sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab tantangan ini, bahkan orang-orang pintar yang tidak percaya adanya tuhan dengan hanya mengandalkan kepintaran mereka, juga tidak bisa menjawab tantangan Al-Quran sampai saat ini.

Allah menurunkan tantangan agar mendatangkan semisal Al-Quran, Allah berfirman,

ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ ﺍﻟْﺈِﻧْﺲُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻟَﺎ ﻳَﺄْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬِﻴﺮًﺍ

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Israa:88)

Ibnu Katsir menjelaskan,

، فأخبر أنه لو اجتمعت الإنس والجن كلهم ، واتفقوا على أن يأتوا بمثل ما أنزله على رسوله ، لما أطاقوا ذلك ولما استطاعوه ، ولو تعاونوا وتساعدوا وتظافروا ، فإن هذا أمر لا يستطاع ، وكيف يشبه كلام المخلوقين كلام الخالق ، الذي لا نظير له ، ولا مثال له ، ولا عديل له ؟ !0

“Allah mengabarkan bahwa seandainya manusia dan jin seluruhnya bersepakat untuk membuat semisal apa yanh diturunkan kepada Rasul-Nya, mereka tidak akan bisa dan tidak mampu, walaupun mereka saling menolong dan membantu. Perkara ini tidak mungkin bisa dilakukan. Bagaimana mungkin perkataan makhluk bisa menyerupai perkataan pencipta yang tidak ada semisalnya, yang mirip dan yang sebanding.” (Tafsir Ibnu  Katsir)

Dalam ayat lain tantangan yang lebih ringan yaitu mendatangkan 10 surat saja.

Allah berfirman,

ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺳُﻮَﺭٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻣُﻔْﺘَﺮَﻳَﺎﺕٍ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ﴿١٣﴾ﻓَﺈِﻟَّﻢْ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟَﻜُﻢْ ﻓَﺎﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﺃُﻧْﺰِﻝَ ﺑِﻌِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَٰﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ۖ ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ

Bahkan mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’ân itu!” Katakanlah, “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allâh, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’ân itu diturunkan dengan ilmu Allâh, dan bahwasanya tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (Hud:13-14)

Bahkan Allah turunkan tantangan agar mendatangkan satu surat saja semisal, akan tetapi manusia tidak akan mampu menjawab tantangan tersebut

Allah berfirman,

ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦ ﴿٢٣﴾ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ۖ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ

Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 23-24)

Dalam ayat lainnya Allah berfirman,

ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﺘَﺮَﻯٰ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَٰﻜِﻦْ ﺗَﺼْﺪِﻳﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﺗَﻔْﺼِﻴﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﺎ ﺭَﻳْﺐَ ﻓِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ ﴿٣٧﴾ ﺃَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺍﻓْﺘَﺮَﺍﻩُ ۖ ﻗُﻞْ ﻓَﺄْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻴﻦَ

Tidaklah mungkin al-Qur’ân ini dibuat oleh selain Allâh ; akan tetapi (al-Qur’ân itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (Yunus : 37- 38)

Allah menegaskan bahwa seandainya manusia yang membuat semisal Al-Quran, tentu akan ada banyak pertentangan di dalamnya.

Allah berfirman,

ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﻋِﻨْﺪِ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻮَﺟَﺪُﻭﺍ ﻓِﻴﻪِ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ

“Kalau sekiranya al-Qur`ân itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisaa’:82)

Demikian semoga bermanfaat. []


Penyusun: Raehanul Bahraen | Artikel www.muslim.or.id

Tak Berhenti di Tik-tok, Kiki Challenge Menggerus Jagad Maya

View Article

Belum lagi surut viralnya generasi Tik tok, jagad media kembali lagi dirmaikan dengan yang namanya Kiki Challenge. Bermodal lagu ngehits ala hiphop My Feelings, yang dipopulerkan musisi asal Canada bernama Drake.

Seru guys…!! Itu banyak komentar para pelaku tantangan Kiki Chalenge yang tersebar di media sosial. Pelaku tantangan ini merekam video dimana mereka memutar lagi in My Feelings.

Orang yang duduk di bangku depan mobil keluar dari pintu kiri sambil menari-nari di depan pintu kiri mobil yang terbuka. Sementara sang pengemudi merekam video sambil mengendarai mobilnya. Mobil dibiarkan berjalan pelan dengan pintu kiri terbuka, selama tarian dilakukan. Setelah tarian selesai, si penari masuk lagi ke mobil.

Dear Sobat! Pernah terpikir gak sih untungnya ikut berbagai tantangan bermodal Viral? Zonk pastinya, Bahaya iyai !. Inilah gambaran kaum milenal yang mudah terjebak sesuatu yang sama sekali tidak memberikan nilai positif. Sistem sekulerisme telah melanggengkan kehidupan hedonis. Membawa para remaja lepas kontrol tak tentu arah.

Chalenge yang sesungguhnya adalah ketika kita menghadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Berkontribusi memberikan amal solih selama kehidupan kita. Naudzubillah! Sanggupkah kita memberikan nilai tertinggi yang nantinya akan menggandeng kita keluar dari siksa api neraka. Jika kita larut dengan latahnya dunia viral sosial media saja. Mampukah mencapai derajat ini sobat!

Nah, sobat, itulah pentingnya mencari bekal amal sholih sebanyak mungkin. Jadilah remaja yang istimewa dihadapan Allah dan Rosulnya. Istimewa dalam ketaatan kepada aturan Allah, dengan taat kepada Allah maka otomatis dalam kehidupanya akan taat kepada kedua orang tua dan orang tua dimana ia belajar paatinya.

So, untuk mencapai amal solih agar menjadi Istimewa. Tak hanya cukup hanya duduk manis dan berpangku tangan. Asahlah pemikiran kita dengan benar. Karena kebenaran datangnya hanya dari Islam. Pelajari Islam secara menyeluruh, hingga terbentuk kepribadian Islam. Sehingga kita bisa berkontribusi dalam melanjutkan kehidupan Islam. Wallahu a’lam bi showab. []


Silvi Ummu Zahiyan
Pemerhati Remaja
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Begini Cara Rasulullah dan Umar “Menghentikan” Gempa

View Article

Gempa bumi termasuk bencana alam yang tidak bisa dicegah. Bahkan menurut BMKG, gempa bumi tak bisa diprediksi.

Lalu mengapa Rasulullah dan Umar bisa “menghentikan” gempa yang pernah terjadi di Madinah? Tentu semuanya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena tak bisa dicegah oleh teknologi secanggih apa pun, yang Kuasa mencegah dan menghentikannya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menunjukkan pola yang sama untuk “menghentikan” gempa agar tidak berlanjut ke level yang lebih parah.

Bagaimana caranya?

Suatu ketika, Rasulullah bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman naik ke bukit Uhud. Tiba-tiba bukit itu berguncang. Maka beliau menghentakkan kakinya ke Uhud dan bersabda:

اثْبُتْ أُحُدُ فَمَا عَلَيْكَ إِلاَّ نَبِىٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِ

Tenanglah wahai Uhud, tidak ada di atasmu kecuali seorang Nabi, Ash Shiddiq dan asy Syahid.” (HR. Bukhari)

Di masa kekhalifahan Umar, tiba-tiba Madinah berguncang. Gempa. Umar kemudian mengetukkan tongkatnya ke bumi dan mengatakan: “Wahai bumi, apakah aku berbuat tidak adil?

Lalu beliau melanjutkan dengan lantang, “Wahai penduduk Madinah, apakah kalian berbuat dosa? Tinggalkan perbuatan itu atau aku yang akan meninggalkan kalian.

Rasulullah dan Umar mengerti bahwa bumi pun bisa diajak komunikasi, dengan izin Allah. Dan bumi itu tunduk pada ketentuan Allah. Akan memberikan keberkahan jika pemimpin dan penduduknya bertaqwa.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

Maka untuk "menghentikan" dan "mencegah" gempa bumi dan berbagai bencana alam karena peringatan atau hukuman Allah, pemimpin dan penduduknya diajak untuk meningkatkan ketaqwaan. Sebagaimana seruan Umar yang diabadikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari tersebut.

Baca juga: Ini Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa
Baca juga: Musibah antara Ujian ataukah Azab?
Baca juga: Nasehat Ulama, Dibalik Musibah Gempa Bumi
Baca juga: Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa