Selasa, 17 Juli 2018

Analisa Frasa dan Makna Rapuhnya Konsep Islam Nusantara

View Article

Belakangan ini marak tentang isu Islam Nusantara. Jujur Saya sendiri aneh dengan pemikiran menambahkan embel-embel “Nusantara” ini di belakang kata “Islam”. Islam Nusantara katanya lebih menunjukkan wajah Indonesia yang cinta damai, penuh toleransi dalam keberagaman, tidak seperti Islam Arab. Islam Nusantara lebih mengedepankan budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia yang berjalan seiring dengan penerapan Islam.

“Di Amerika dan Eropa, ayam goreng itu dijual begitu saja, tanpa nasi. Beda dengan di Indonesia, nasi disertakan sebagai pendamping,” terang Prof Akh Muzakki menganalogikan bahwa konsep Islam Nusantara itu sebagai penerapan Islam yang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Saya jujur merasa aneh dan tidak paham dengan pola pemikiran seperti ini. Pertama Saya akan ulas dari segi tata bahasa Islam Nusantara. Jika kita membuat sebuah term maka hal tersebut akan memiliki sebuah makna. Artinya frasa Islam Nusantara merupakan sebuah konsep baru yang sama sekali berbeda dengan Islam. Misal kata “Sekolah”. Sekolah merupakan satu makna, satu konsep, dan satu arti. “Sekolah adalah tempat didikan bagi anak anak. tujuan dari sekolah adalah mengajar tentang mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa,” begini pendapat Wikipedia tentang kata “Sekolah”. Nah coba kita tambahkan kata lain di belakang kata “Sekolah” dan tidak menjadi dua makna, alias satu frasa, satu makna, misalnya “Sekolah Islam”, “Sekolah pagi”, “Sekolah Menengah Pertama”, “Sekolah Tinggi” dan banyak lagi, silahkan Anda tambahkan sendiri. Maknanya sudah berbeda antara kata “Sekolah” saja dengan kata “Sekolah” yang diberikan penambahan kata setelahnya.

Konsep Islam Nusantara (Frasa)

Dari segi istilah jelas ini merubah makna, bisa mempersempit, bisa memperluas, yang jelas makna dan artinya berbeda. Sekolah dan Sekolah Menengah Pertama merupakan sesuatu yang berbeda. “Sekolah menengah pertama (disingkat SMP, Bahasa Inggris: junior high school atau middle school) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah menengah pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9,” begitulah menurut sumber Wikipedia. Berbeda bukan?

Analoginya kurang lebih sama dengan istilah Islam Nusantara. Islam Nusantara bukanlah dua kata yang mengandung makna masing-masing satu, tapi ia adalah dua kata yang membentuk sebuah frasa, artinya makna dari dua kata itu adalah satu. Islam Nusantara merupakan sebuah konsep baru, jika tidak terlalu kasar kita katakan ajaran baru atau agama baru. Islam Nusantara jelas membuat perbedaan sendiri dari Islam yang selama ini kita kenal. Islam Nusantara merupakan sebuah makna baru yang dicetuskan. Kesimpulan Saya Islam Nusantara bukanlah Islam.

Konsep Islam Nusantara (Esensi)

Selanjutnya mari kita lihat dari esensinya apakah konsep Islam Nusantara ini benar atau tidak. Menurut Saya Islam Nusantara merupakan konsep yang melenceng dan termasuk salah satu pelecehan terhadap agama Islam. Apakah ketika dulu mereka yang mendakwahkan Islam menyebut Islam Arab? Apakah dulu Rasulullah SAW menyebut Islam Arab sehingga kita dengan bangganya menyebut istilah Islam Nusantara? Jangan saudara. Pertanyaan Saya sebenarnya cukup simpel dan sederhana bagi yang setuju dengan konsep Islam Nusantara ini.

Pertanyaan Saya adalah, apa dasarnya konsep Islam Nusantara? Al-Qur’an? Hadist? Tunjukkan pada Saya ayat yang mengatakan ada ajaran Islam Nusantara ini. Jika saudaraku yang tercinta tidak bisa menunjukkan dasar pijakan Islam Nusantara ini maka sungguh konsep ini sangatlah rapuh, lemah. Bagi Saya konsep Islam Nusantara sebenarnya merupakan pelemahan dan wujud ketidakpercayaan diri dari umat Islam yang takut akan Islam itu sendiri. Silahkan baca Piagam Madinah yang dibuat Rasulullah SAW, bukankah itu lambang demokrasi (yang kau angungkan), dan merupakan perwujudan toleransi, keadilan, dan kesetaraan yang baru kau bincangkan abad milenium ini?

Bukankah Islam Nusantara sama saja dengan Islam Liberal yang digagas oleh Jaringan Islam Liberal (Pak De Ulil Abshar Abdalla) dkk? Atau bukankah Islam Nusantara sama saja dengan Islam Konservatif, Islam Moderat, Islam Garis Keras. Apa bedanya? Dari sisi konsep tidak ada berbeda, bahwa Islam Nusantara merupakan sebuah konsep tanpa dasar yang digaungkan untuk menambah pengelompokan dan membuat sebuah faksi-faksi dalam Islam.

Islam itu hanya satu, yaitu Islam, arti katanya salam yang bermakna selamat. Jadi nanti orang Islam Nusantara saja yang selamat? Atau mereka yang kalian gelar dengan sebutan Islam Garis Keras saja yang selamat? Tidak saudara. Yang selamat adalah mereka yang selalu mengikuti tuntunan dari jalan keselamatan. Apa itu jalan keselamatan? Yaitu Al-Qur’an, Hadist. Dari dua sumber yang sudah terbukti otentisitasnya, sudah terbukti keaslian skripnya, sudah terbukti kebenaran fakta ilmiahnya ini hanya ada satu agama Islam, bahkan Allah pun tidak mengatakan Islam itu sebagai Islam Arab. Jika Tuhan atau Rasulullah SAW egois bisa saja ia mengatakan pada zamannya itu yang ada Islam Arab, sehingga ketika penyebaran nanti akan banyak Islam, ada Islam Turki, Islam India, Islam Afrika Selatan, termasuk Islam Nusantara ini, tapi buktinya? Tidak!

Islam hanya diturunkan satu yaitu Islam saja tanpa embel-embel apa pun. Islam punya dasar hukum dan landasan yang kuat yaitu firman Allah Al-Qur’an dan Hadist. Islam merupakan agama yang telah disempurnakan. Bahkan Yesus AS sendiri tidak pernah mengatakan bahwa ajaran yang dibawanya adalah Kristen. Yesus Kristus AS merupakan salah satu nabi dan rasul besar Allah yang turut bersunat, tidak makan babi, melaran minuman memabukkan dan tentu saja bersujud seperti yang umat Muslim lakukan saat ini. Di bawah inilah yang mendasari hanya ada satu yaitu Islam, tanpa embel-embel.

Baca juga: Islam Nusantara Tak Lain Adalah Proyek Kaum Liberal
Baca juga: Ini 5 Kejanggalan Dari Gagasan 'Islam Nusantara'
Baca juga: Jualan Baru, Waspadai Istilah Islam Moderat

Dasar Patahnya konsep Islam Nusantara

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa’ : 59)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(Ali Imran:19)

“dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran:85)

dan terakhir, tentu saja toleransi paling nyata dalam berkeyakinan yang termaktub secara jelas bagai hitam dan putih dalam kitab suci, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (Al Baqarah: 256)

Bagi yang setuju konsep Islam Nusantara, Saya terbuka untuk berdiskusi dan berdebat, tapi sebelumnya tunjukkan dulu dasar konsep Islam Nusantara itu. Jika sudah ketemu, baru kita lanjut ke tahap berikutnya.

Kesimpulan terakhir Saya yang bisa dijadikan bahan renungan adalah, tanpa adanya konsep Islam Nusantara ini sejak awal masuknya Islam ke negeri subur ini lewat jalur perdagangan dan asimilasi, Islam berkembang sangat cepat dan begitu pesat. Pertumbuhan pengikut Islam sangat tinggi dan mengesankan hingga Indonesia menjadi negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia.

Pertanyaannya, apakah para pendakwah yang menjadikan negara ini sebagai negara muslim terbesar membawa menawarkan konsep Islam Nusantara? Islam Liberal? Islam Garis Keras? Islam Moderat? Islam Fanatik? Tidak teman, mereka hanya membawa satu ajaran yang disebarluaskan, yaitu Islam (tanpa embel-embel).

Justru hadirnya embel-embel ini yang membuat umat Islam terpecah belah, saling memerangi, saling membenci, saling mencaci dan tidak bersatu padu. Kondisi ini yang diibaratkan nabi sebagai buih dilautan, banyak tapi gampang pecah, atau seperti debu dipadang pasir, hanya bisa tertiup angin dan terbakar panas (Kuldesak).

Persatuan Islam akan melahirkan peradaban yang akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan. []

Baca juga: Berbincang Tentang Islam Nusantara
Baca juga: Ini Penjelasan & Keterkaitan Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme
Baca juga: Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Baca juga: Bahayanya Islam Moderat Melalui Pemberdayaan Perempuan


Video ceramah oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil, MA.
Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)
Pirektur-pendiri INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization)
Wakil rektor Universitas Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur.
Putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, salah seorang pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Pranala luar:
1. https://suaranasional.com/2018/07/06/pimpinan-ponpes-gontor-bongkar-kesalahan-islam-nusantara
2. https://www.kompasiana.com/anandapujawandra/55bef9db3297738d10cca191/konsep-islam-nusantara-kesesatan-yang-menyesatkan-analisa-frasa-makna

Berbincang Tentang Islam Nusantara

View Article

Baru-baru ini muncul polemik di media sosial tentang tilawah Al-Quran dengan langgam Jawa. Peristiwa yang terjadi pada peringatan Isra Miraj di Istana Negara ini menuai pro dan kontra. Namun, sang penggagasnya yaitu Menteri Agama, Gus Lukman Hakim Saefuddin mengatakan “Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air,” kata Gus Lukman melalui akun Twitter resminya, Ahad, 17 Mei 2015.

Harus kita akui kalangan NU terdepan dalam urusan menjaga tradisi Islam Nusantara. Islam Nusantara sudah menjadi trademark tersendiri bagi mereka. Oleh karena itu, artikel ini mencoba berbicara tentang Islam Nusantara. Bagaimana definisinya, siapa pengusungnya dan apa tujuan akhirnya.

“Islam Nusantara itu apa? Kalau masih nggak jelas konsepnya kok dikoarkan ke publik? Publik butuh jawaban, bukan diskusi, terkait dengan aksi ISIS.

Islam Nusantara yang belum jelas ini justru bisa membuat orang-orang yang bingung berpaling ke radikalisme, karena bisa jadi radikalisme lebih jelas konsepnya.” – Begitulah kata Mas Binhad Nurohmat dalam akun facebook-nya.

Saya baru berteman dengan Mas Binhad. Beliau ini pernah kuliah di STF Driyarkara. Sebagai Muslim yang dibesarkan dalam kultur NU, anggaplah demikian. Tetapi beliau ini kritis terhadap wacana-wacana keislaman. Tidak taklid buta seperti yang lain.

Istilah Islam nusantara ini sudah ada di masa lampau. Istilah ini sudah diadopsi menjadi nama kampus swasta di Jawa Barat, yaitu Universitas Islam Nusantara (UNINUS). Namun, sejak KH. Said Aqil terpilih menjadi Ketum PBNU, Istilah ini gencar dipromosikan ke tengah umat.

“Islam Nusantara adalah gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Ini bukan barang baru di Indonesia,” kata Ketum PBNU Prof KH Said Aqil Siraj. Sebagaimana diberitakan Republika, beliau mengatakan, konsep Islam Nusantara menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia (Republika Online, 10 Maret 2015).

Seringkali konsep Islam nusantara dinisbatkan kepada Walisongo. Konon menurut catatan sejarah yang diyakini kalangan NU termasuk dalam hal ini ayah saya, para wali tersebut melakukan Islamisasi dengan pendekatan budaya. Tradisi Slametan, Kupatan dan sejenisnya merupakan kreasi para wali, khususnya Sunan berdarah Jawa seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang.

Terkait hal itu, saya berpandangan tradisi ini sifatnya temporal, bukan sakral. Akan tetapi hingga kini pendekatan untuk mengislamkan orang Hindu kala itu untuk era sekarang tetap jadi hal yang sakral. Seakan-akan wajib! Bahasa kasarnya, menjadi Rukun Islam ke 6.

Ambil contoh, bila ada sebuah keluarga di kampung atau pedesaan tidak melestarikan tradisi Slametan, kupatan dan sejenisnya, akan mendapat 2 resiko. Pertama, jadi bahan pergunjingan tetangga bahkan bisa pula dikucilkan. Kedua, dicap sebagai penganut paham Wahabi.

Satu lagi, Nusantara ini luas. Bukan hanya bicara Jawa saja, masih ada Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali hingga Irian Jaya. Baik saya maupun pembaca akan paham bahwa konsep Islam Nusantara yang diusung kalangan NU sifatnya jawasentris.

Di Jawa itu Islam menyesuaikan dengan budaya lokal. Apakah jika elit-elit NU mempromosikan Islam Nusantara ke pulau Sumatera akan laku? Sedangkan di satu sisi, secara garis besar Sumatera itu adat dan budaya menyesuaikan dengan Islam (Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah). Belum lagi di Sumatera sudah menjadi basisnya Muslim Modernis seperti Muhammadiyah. Bahkan, di daerah tertentu kepala daerahnya dari Partai Dakwah yang dianggap beberapa kiai NU sebagai partainya kaum wahabi.

Sebetulnya siapa yang mensponsori konsep “Islam Nusantara”? Apakah murni dari NU ataukah ditungggangi pihak Asing. Sebut saja Ford foundation, The Asia Foundation, USAID dan sejenisnya. Sudah lama diketahui, wacana-wacana nyeleneh dan prematur dibiayai oleh Asing. Mulai dari proyek pluralisme agama, multikulturalisme, gender, hingga deradikalisasi teroris. Saya ingin kalangan yang mengusung konsep ini transparan kepada umat.

Selanjutnya saya penasaran juga, sebenarnya apa tujuan akhir dari konsep “Islam nusantara”. Ingin memperkuat eksistensi agama Allah kah? Ataukah memperkuat ladang kehidupan para elit NU dari serbuan purifikasi kalangan Muhammadiyah, Persis, Hidayatullah dan kawan-kawan. Bukankah tradisi-tradisi Slametan, Tingkepan, Maulid dan sejenisnya juga menyangkut hajat hidup elit-elit NU. Apa jadinya bila tradisi seperti itu musnah?

Agama Sinkretis

Bila ditarik sebuah kesimpulan, Pertama, konsep Islam Nusantara hanya menghasilkan praktek beragama yang sinkretik. Konsep Islam nusantara mengingatkan saya akan teori Clifford Geertz: “Abangan, Santri, dan Priyayi”. Teori ini benar-benar menggambarkan realita masyarakat Jawa yang telah mengalami sinkretisasi dengan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal setempat.

Kedua, Konsep Islam Nusantara membuat Islam mengalami “jawanisasi”. Harusnya berdakwah itu Islamisasi Jawa dengan menghilangkan hal-hal yang mengandung bid’ah, khurafat dan Tahayul. Hal serupa terjadi di Eropa. Disana ada kebijakan Eropanisasi Islam. Alasannya agar Islam tak dipandang sebagai ancaman. Contoh praktek Eropanisasi Islam yakni meninggalkan cadar (Republika Nnline, 7 juni 2011). Wallahu’allam bishowwab. []

Baca juga: Islam Nusantara Tak Lain Adalah Proyek Kaum Liberal
Baca juga: Ini 5 Kejanggalan Dari Gagasan 'Islam Nusantara'
Baca juga: Jualan Baru, Waspadai Istilah Islam Moderat


Ditulis Oleh Fadh Ahmad Arifan
Pendidik di MA Muhammadiyah 2, kota Malang
Dipublikasikan oleh Kiblat.net

Senin, 16 Juli 2018

Tentang Rapuhnya Ide "Islam Nusantara"

View Article

Sate Buntel, Sate Klathak, Nasi Liwet, Nasi Gudeg, Nasi Gandul, Pindang Tulang, Nasi Padang, semua Kuliner Nusantara, sebab ia khas Nusantara. Kita juga tak menafikkan, Islam pun punya ekspresi Nusantara, yang tak ditemukan di tempat lain seperti songkok, halal bi halal, lebaran anak yatim, atau ekspresi lainnya

Tapi ide "Islam Nusantara" bukan ekspresi Islam di Nusantara, ide ini ditujukan justru untuk menajamkan perbedaan. Seolah punya definisi sendiri yang berbeda dengan yang lain. Lebih parah lagi, Islam Nusantara ini dijadikan alat untuk menjelek-jelekkan yang mereka tuduh sebagai Islam Arab yang dianggap tak ramah, penuh peperangan, dan intoleransi

Baca juga: Islam Nusantara Tak Lain Adalah Proyek Kaum Liberal
Baca juga: Ini 5 Kejanggalan Dari Gagasan 'Islam Nusantara'
Baca juga: Jualan Baru, Waspadai Istilah Islam Moderat

Sejatinya ide "Islam Nusantara" ini adalah bagian dari narasi deradikalisasi yang diusung rezim, yang sebenarnya adalah de-Islamisasi. Dan ini tentu bukan maksud yang baik. Jadi siapapun yang dianggap anti pada penguasa saat ini, disebut "Islam Radikal", sementara yang pro penguasa dan pro penista agama, dilabeli "Islam Nusantara", begitu

Kalau kita lebih jeli, perhatikan dulu yang mengusung "Islam Liberal", setelah tak laku dengan ide itu, maka sekarang semuanya jadi pengasong ide Islam Nusantara. Jadi bisa kita katakan, tak ada bedanya ide Islam Liberal dengan Islam Nusantara, hanya berganti nama saja, pemainnya sama, sutradaranya sama, efeknya juga sama

Pro penista agama, penghina ulama, semua berlindung di balik ide "Islam Nusantara", yakni yang ramah pada penjajah, tapi sangat kasar pada sesama penganut Muslim. Intinya, mereka ingin mengatur Islam sekehendak nafsu mereka, mereka ingin agar Islam itu mengikut pada syahwat mereka. Untuk melegitimasinya, itulah ide Islam Nusantara

Siapa pendukungnya? Ya yang itu-itu saja. Yang kemarin liberal, yang kemarin anti Aksi Bela Islam, yang pro-kaum-nabi-luth, yang pro penista agama, yang 2019 ingin berkuasa lagi

Andai itu hanya ekspresi Islam di Nusantara, saya sepakat. Tapi bila dijadikan ide "Islam Nusantara" ini justru untuk merasa lebih hebat dari Islam yang Rasul bawa, saya menolak tegas. []

Baca juga: Ini Penjelasan & Keterkaitan Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme
Baca juga: Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Baca juga: Bahayanya Islam Moderat Melalui Pemberdayaan Perempuan


Islamophobia di Balik Stigma Radikal

View Article

Belangan ini kata radikal seolah sengaja dibuat viral. Episodenya berlanjut dibuat panas, digoreng terus sampai beritanya nyaris gosong.

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) melakukan telah melakukan survei terhadap 100 masjid pemerintahan di Jakarta. 100 masjid tersebut terdiri atas 35 masjid di Kementerian, 28 masjid di Lembaga Negara dan 37 masjid di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Agus Muhammad mengatakan, survei itu dilakukan setiap shalat Jumat dari 29 September hingga 21 Oktober 2017. Kemudian, tim survei menganalisis materi khutbah Jumat yang disampaikan. Hasilnya, ada 41 masjid yang terindikasi radikal.

“Dari 41 masjid itu kita menemukan khutbahnya sebagian besar isinya ujaran kebencian yang mencapai 60 persen. Kemudian, sikap negatif terhadap agama lain itu mencapai 17 persen. Berikutnya sikap positif terhadap khilafah 15 persen,” jelasnya. (republika.co.id/29/7/2018)

Mengenal Makna Radikal

Tak kenal maka tak sayang, semestinya kita harus membuka kamus untuk mendapati arti dari istilah radikal itu sendiri. Yang demikian agar tidak mudah tergiring arus opini yang memiliki tujuan tersendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikal dimaknai (1) secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip), misalnya dalam frasa ‘perubahan yang radikal’; (2) amat keras menuntut perubahan (undang-undang pemerintahan); (3) maju dalam berpikir atau bertindak.

Setelah mendapati arti kata radikal, barulah bisa didapati pula konotasi atau kecenderungan citranya. Bisa menjadi positif juga negatif bergantung sudut pandang yang digunakan juga keberpihakan dari media yang mengopinikan.

Sebut saja pandangan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno dalam buku bertajuk “Mentjapai Indonesia Merdeka” (Maret 1933), beliau menulis bahwa untuk menuju Indonesia merdeka harus dipimpin oleh sebuah partai pelopor. Adapun unsur-unsur penopangnya, “Di antara obor-obornja pelbagai partai jang masing-masing mengaku mau menjuluhi perdjalanan rakjat, massa lantas melihat hanja satu obor jang terbesar njalanja dan terterang sinarnja, satu obor jang terkemuka jlananja, ja’ni obornja kita punja partai, obornja kita punya radikalisme!” tulisnya.

Jenis makna atau arti radikal di sana positif. Perubahan yang sifatnya mendasar menuju ke arah kebangkitan.

Namun belakangan ini, makna radikal dikonotasikan negatif. Yang lebih mirisnya kata radikal dilekatkan pada Islam dan gerakan Islam yang berupaya untuk menyelamatkan Indonesia dari penjajahan gaya baru (neoimperialisme) dengan Syariat Islam yang bersumber dari Kitabullah dan Sunah Rasulullah. Perjuangan menegakkan khilafah sebagai ajaran Islam dilabeli radikal. Miris!

Sebenarnya pemberian label negatif bukan hal baru. The New York Times, edisi 20 November 1945 menampilkan headline ‘Moslem Fanatics Fight in Surabaya’.

Para pejuang yang mengusir penjajah yang dipimpin Bung Tomo itu dicap sebagai ‘Moslem Fanatics’. Padahal, perjuangan mulia yang mereka lakukan didasari jihad fisabililah, yaitu berjuang di jalan Allah subhanahu wata’ala.

Sejatinya konotasi negatif terhadap radikal, berlebih lagi pelekatannya kepada Islam dan gerakan Islam yang menyuarakan Islam secara kaffah adalah bentuk penyebaran Islamopobia. Paham yang menggiring masyarakat, bahkan Muslim sendiri untuk merasa horor dan ketakutan atas agama dan ajaran Islam yang mulia.

Umat Islam, marilah maksimalkan proses berpikir! Jangan mudah tergiring opini media yang memiliki kepentingan yang mampu mengelabui umat dari perjuangan dan berpegang kepada tali agama Allah. Semoga pertolongan Allah segera datang bagi hamba-hamba-Nya yang berupaya istiqomah menyuarakan syariah Islam dan Khilafah walau tengah hidup di zaman fitnah.

”Jika Allah menolong kamu maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) makasiapakah yang dapat menolong kamu(selain dari Allah) setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang mukmin bertawakkal.” (Ali Imran:160).” Wallahu’alam bishowab.

Ammylia Rostikasari, S.S.
Akademi Menulis Kreatif
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Tik Tok dan Wajah Generasi Jaman Now

View Article

Ketika sebuah negara menerapkan aturan yang bukan berasal dari Islam, seperti saat ini, Kapitalisme menjadi tolok ukur bagi setiap tindakan, baik itu dari level individu maupun negara, yang terjadi adalah kondisi yang amburadul. Kapitalisme dengan aqidahnya yang sekuler alias memisahkan diri dari kehidupan wajar jika akhirnya menimbulkan masalah. Merana memang hidup tanpa aturan Islam.

Salah satu yang menjadi korban sekulerisme adalah remaja, remaja yang seharusnya menjadi penerus peradaban justeru larut dalam kesenangan duniawi. Fenomena Bowo menyeret para remaja khususnya perempuan untuk menanggalkan rasa malunya, bahkan ada juga yang sampai menggadaikan aqidahnya.

Media menjadi sarana untuk memunculkan sosok-sosok selebritis yang mengumbar aurat, mengagung-agungkan materi, gaya hidup yang serba berlebihan dan boros, memamerkan kekayaan,juga menonjolkan kecantikan yang menjadi modal dasar untuk menjadi selebritis.

Muncullah sososk-sosok yang diidolakan oleh remaja yang lainnya, maka remaja sejenis Bowo menjadi ikon. sesungguhnya mereka hanyalah umpan untuk mengeluarkan remaja dari keislamannya. Krisisnya sosok yang layak menjadi panutan, juga menjadikan remaja memilih sosok yang sedang viral, mengikuti trend yang ada, tanpa malu-malu.

Pendidikan disekolahpun tak mampu menjadikan remaja menemukan jati dirinya, pasalnya saat ini, pendidikan umum dan pendidikan agama dipisahkan secara total. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih apa yang diinginkan, mau memilih menjadi ahli agama? silahkan memilih perguruan tinggi khusus agama atau pesantren. Sementara yang ingin menjadi ahli dalam bidang selain agama, negarapun menyediakan sekolah kejuruan. Alhasil, saat ini jarang orang yang mendalami ilmu agama kemudian tidak menguasai dalam bidang iptek, sementara yang ahli dalam bidang iptek, kurang paham agama.

Negara yang seharusnya berperan menjaga warganya khususnya remaja, sepertinya abai, munculnya aplikasi-aplikasi smartphon yang tidak mendidik seperti tik tok, kian menjamur. Video porno, begitu mudah di akses tidak terhitung jumlahnya. Ditelevisi, tidak kalah gencarnya iklan-iklan yang mengumbar aurat, sinetron yang mengajarkan pada pergaulan bebas menjadi tontonan yang menyedihkan disetiap rumah-rumah.

Peran negara sangat penting untuk menjaga warganya dari serangan-serangan yang bisa merusak akal. Negara pula yang harus mewajibkan setiap warganya untuk mendalami ilmu agama, sehingga menjadikan warganya yang faqih fiddin atau paham ilmu agama. Bukan generasi alay yang tak punya jati diri.

Selain peran negara, peran orang tua juga menjadi pendidikan dasar bagi remaja, orang tua mempunyai kewajiban untuk memahamkan agama kepada anaknya. Khususnya ibu, seorang ibu menjadi sekolah pertama bagi anaknnya, ibu pulalah yang akan membentuk keperibadian anak. Dangan menanamkan aqidah Islam pada anak sejak dini, diharapkan akan menjadikan remaja yang memiliki keperibadian yang jelas, yaitu keperibadian Islam. Bukan menjadi remaja yang serba membebek.

Orang tua pula yang memiliki kewajiban untuk menjaga anak-anaknya dari pergaulan bebas. Sebelum mereka kehilangan iman serta kehormatan, sebelum mereka terjerumus dalam pergaulan bebas, jika orang tua tidak ingin anaknya menjadi bahan bakar api neraka!

Berangkat dari tujuan pendidikan Islam, yakni mencetak manusia yang berakal, berpikir dan bersikap Islam, serta membentuk jiwa manusia dengan meletakkan seluruh kecenderungan atas dasar Islam. Ini bisa terwujud jika peserta didik akalnya dipenuhi oleh pengetahuan-pengetahuan Islam.

Jadi remaja saat ini tidak cukup hanya bermental pekerja keras, berkemauan baja, atau semangat bergotong royong. Tetapi yang dibutuhkan adala pendidikan yang berkarakter Islam. maka penanaman aqidah Islam kepada peserta didik menjadi hal yang sangat penting.

Sayangnya saat ini remaja seperti tidak menyadari bahwa bahaya pergaulan bebas, juga bahaya pendangkalan aqidah ada di sekitar mereka, celakanya juga tidak sedikit yang kemudian terbawa arus. Budaya pacaran hingga berakhir aborsi menjadi fenomena yang menjijikan. Tawuran pelajar juga menjadi hajatan tahunan dan menjadi warisan alumni sekolah. Itulah salah satu akibat dari sekulerisasi pendidikan.

Seperti analisa Montgomery bahwa rahasia kemajuan peradaban Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika dan ajaran agama. Satu dengan yang lain dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syari’at islam sama pentingnya dengan riset-riset ilmiah.

Tidak heran, ketika syari’at Islam dijadikan rujukan sumber hukum, dan sudah terbukti lebih dari tiga belas abad menghasilkan manusia-manusia yang produktif. Mereka bukan hanya menjadi ahli dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mereka juga menjadi ulama-ulama terkemuka.

Ibnu Rusyd {1126-1198} misalnya, ulama yang di Barat terkenal dengan namanya Averous, diakui sebagai ilmuan handal dibidangnya. Ibnu Rusyd adalah filosof, dokter dan ahli fiqih Andalusia. Bukunya yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah Al-Kulliyat, yang berisi kajian ilmiah mengenai jaringan-jaringan tugas dalam kelopak mata.

Selain Ibnu Rusyd, Islam memiliki ilmuan yang pertama kali memperkenalkan ilmu pembedahan, dialah Az Zahrawi yang lahir di Cordova pada tahun 936 Masehi, dikenal sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahya dijadikan referensi bedaah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah universitas, termasuk di barat, menjadikannya acuan.

Kontriibusi Islam dalam bidang ekonomi tidak kalah penting. Adalah az Zarkalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolabe. Yaitu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan begitu pelayaran sangat berkembanng cepat setelah penemuan astrolabe.

Fantastis memang ketika syari’at islam menjadi acuan dalam pendidikan. Bukan bagian-bagian yang terpisah. Maka tidak heran ketika masa kejayaan Islam, selain mereka faqih fiddin, mereka juga ahli kedokteran, astronom dan lain-lain.

Itu sebabnya, dalam sistem pendidikan Islam, negara akan memprioritaskan pendidikan agama daripada ilmu umum untuk dipelajari. Namun, tidak berarti ilmu umum menjadi warga nomor dua, tetapi berjalan beriringan.

Dalam Islam juga telah membedakan antara orang yang berilmu dan tidak, sebagaiman firman Allah dalam QS. Al Mujadalah [58]: 11 yang artinya : “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang dibri ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sayangnya kita sekarang ini hidup dalam sistem kapitalis, dimana atas dasar kebebasan yang di elu-elukan, jangankan memberikan pendidikan yang berbasis aqidah Islam, yang ada justru negara membiarkan warganya bersikap bebas layaknya binatang. Ilmu bukan menjadi sesuatu yang penting, sehingga wajar jika menghasilkan manusia-manusia tak beradab.

Pendidikan berbasis aqidah Islam yang mampu membentuk manusia yang berpikir dan bersikap Islam hanya bisa diwujudkan jika Islam dijadikan rujukan hukum. Negara yang mampu menerapkan hukum-hukum Islam adalah negara Islam yang bernama Khilafah. Mari perjuangkan Islam, dan kampanyekan Islam menjadi Ideologi negara. Wallohu a’lam bisshowaab. []


Pri Afifah
Anggota Komunitas Muslimah Peduli Generasi 
Tinggal di Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com

Larangan Mendatangi Istri dari "Belakang"

View Article

Al-Qur’an mengibaratkan istri-istri kita seperti ladang tempat cocok tanam. Dengan cara apa dan dari mana saja boleh dilakukan asal dilakukan pada tempatnya. Terkait dengan persoalan ini Allah menurunkan ayat yang berbunyi:

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 223)

Turunnya ayat ini memiliki sebab dan hikmah sebagaimana disebutkan oleh ulama India Syah Waliyyullah Ad-Dahlawi, beliau berkata, “Orang-orang Yahudi mempersempit gaya persetubuhan tanpa dilandasi hukum samawi (syara’). Sedangkan orang-orang Anshar mengikuti cara mereka. Mereka berkata, ‘Apabila seseorang menyetubuhi isterinya pada kemaluannya dari belakang, maka anaknya akan lahir juling (letak hitam matanya tidak di tengah). Kemudian turunlah ayat, “Fa’tuu hartsakum annaa syi’tum (Maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu dari mana saja kamu kehendaki).” Yakni dari depan atau dari belakang, asalkan pada satu sasaran yaitu kemaluan tempat menanam (bibit).

Hal itu tidak ada larangan karena tidak memiliki kaitan dengan kepentingan kebudayaan dan agama. Sedang setiap orang lebih mengerti tentang kemasahatan khusus untuk dirinya. Dan pandangan seperti itu hanyalah sikap kaum Yahudi yang mengada-ada, oleh karena itu sudah selayaknya pandangan itu dihapus.

Seorang wanita Anshar bertanya kepada beliau tentang lelaki yang menyetubuhi istrinya pada kemaluannya dari belakang, lalu beliau membacakan kepadanya ayat: “Isteri-isterimu itu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah bercocok tanammu (ladangmu) itu bagaimana saja kamu kehendaki.” Asalkan pada satu sasaran.” (HR. Ahmad)

Umar pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, aku telah binasa.” Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bertanya, “Apakah yang membinasakanmu?” Dia menjawab, “Tadi malam saya memutar kendaraan saya –suatu ungkapan tentang menyetubuhi isteri dari belakang—“ Maka Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidak menjawab sedikit pun sehingga turun ayat di atas. Lalu beliau bersabda kepadanya, “Setubuhilah dari depan atau dari belakang, dan hindarilah pada waktu haid dan dubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Bukan tugas agama untuk memberi batas kepada seseorang mengenai gaya dan tatacara melakukan hubungan biologis. Yang penting menurut agama hendaklah seorang suami bertakwa kepada Allah dan merasa yakin bahwa kelak aan bertemu dengan-Nya. Oleh karena itu hendaklah ia tidak menyetubuhi istrinya pada duburnya, karena dubur merupakan tempat kotoran. Menyetubuhi istri di dubur sama dengan tindakan kaum Luth yang menjijikkan (homoseks). Maka sudah tentu agama melarangnya.

Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: “Janganlah kamu menyetubuhi istrimu di duburnya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibn Majah)

Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam mengatakan perbuatan menyetubuhi istri di duburnya sebagai “Tindakan liwath (homoseksual) kecil.” (HR. Ahmad dan An-Nasai). [suara-islam]

Jembatan di Garut ini Bisa Rubuh Kapan Saja, Yuk Bantu Pembangunannya

View Article

Perkenalkan Nama saya Dindin Dinul Yakin sering dipanggil "Dindin". Saya asli warga Desa Sinarjaya tepatnya kampung sukapura. Saya lulusan SMK 4 Garut.

Dalam kesempatan ini saya mewakili masyarakat Desa Sinarjaya Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut bermaksud ingin mewujudkan pembangunan jembatan permanen di desa kami.

Apabila dana sudah terkumpul, nanti akan digunakan untuk biaya membangun jembatan ini dengan lebih baik dan lebih kokoh agar anak-anak sekolah bisa menikmati belajar full di sekolah terutama di musim hujan. Masyarakat di desa kami selalu kompak dan antusias dalam soal pembangunan sarana prasarana seperti jembatan yang sangat dibutuhkan ini. Hanya saja masyarakat di desa kami sangat kesulitan untuk mencari dana.

Berikut adalah alasan-alasan kami dan masyarakat ingin membangun jembatan permanen ini:

1. Jembatan bambu ini merupakan jembatan penghubung beberapa kampung di Desa Sinarjaya yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang disebut "Sungai Cianda". Selain itu, jembatan ini juga merupakan salah satu dari 3 jembatan bambu yang menghubungkan antara Desa Sinarjaya dengan Desa Tegallega.

2. Jembatan ini terbuat dari bambu yang disusun. Dengan demikian, jembatan ini tidak mampu bertahan lebih lama. Apalagi jika musim hujan datang jembatan ini sering sekali tergusur arus sungai.

3. Posisi jembatan bambu ini agak curam sehingga sedikit agak miring. Sebelah selatan agak tinggi dan sebelah timur posisinya sedikit rendah. Posisi ini sangat membahayakan masyarakat yang membawa motor, apalagi jika di musim hujan sangat licin. Tak sedikit pengendara motor yang jatuh di jembatan ini.

4. Jembatan ini panjangnya sekitar 200 meter. Terlebih dari itu, di tengah-tengah jembatan ini tidak ada penyangga yang kokoh, melainkan hanya dibantu 2 batang bambu. Dan kita bisa bayangkan jika arus sungai sangat kencang secara otomatis penyangga jembatan tersebut langsung tergusur. Jadi jembatan bambu ini hanya bisa bertahan beberapa bulan saja.

5. Jembatan bambu ini adalah satu-satunya jembatan yang digunakan anak-anak pergi sekolah. Anak-anak dari beberapa kampung di sebelah timur sungai Cianda harus melewati jembatan yang kerap roboh ini untuk sampai di sekolahnya yang berada di sebelah selatan Sungai Cianda ini. Jika musim hujan tiba, jembatan ini kerap sekali roboh dan membuat mereka tidak bisa berangkat ke sekolah.

6. Jembatan bambu ini juga merupakan jembatan utama masyarakat Desa Sinarjaya. Jembatan ini sering dilewati kendaraan bermotor oleh masyarakat. Dan tidak ada jalan lain lagi untuk menyeberang.

7. Masyarakat Desa Siarjaya pada umumnya adalah para petani yang penghasilannya tidak seberapa. Sehingga mereka sangat kesulitan untuk membangun sarana-prasarana seperti jembatan yang sangat penting ini menjadi lebih baik.

8. Terkadang masyarakat banyak yang mengeluh dengan kondisi jembatan yang seperti ini. Selain daripada itu, jalan-jalan di desa kami masih belum bagus. Banyak jalan yang sering dipakai masyarakat tetapi sedikit tak layak untuk ditempuh dengan kendaraan.

9. Kami sangat berharap jembatan ini bisa dibangun permanen agar anak-anak sekolah bisa menikmati belajar penuh di kelasnya. Dan masyarakatpun bisa lancar dalam mencari rezeki sehari-harinya.

Trakhir, saya mewakili masyarakat Desa Sinarjaya mendo'akan kepada para donatur nati semoga menjadi amal ibadah yang diterima di sisi Allah SWT. Dan semoga amal ibadah seperti ini menjadikan sebuah jembatan untuk kita mencapai Syurganya Allah SWT nati di akhirat.

Aamiinn, ya Allah ya robbal alamin.........."


Dokumentasi selengkapnya Kitabisa.com

Sabtu, 14 Juli 2018

Kelicikan Kaum Yahudi Membuatnya Dimurkai Allah

View Article

Sesungguhnya Al-Quran merupakan kitab yang berisikan petunjuk, penjelasan, nasehat, dan arahan. Di dalamnya terdapat cerita orang-orang sebelum kita, dan berita orang-orang setelah kita, dan hikmah-hikmah / pelajaran-pelajaran bagi kita. Barangsiapa yang beramal dengannya, maka akan diberi pahala. Barangsiapa berhukum dengannya, niscaya dia telah berbuat adil. Dan barangsiapa berdakwah kepadanya, maka dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Diantara dalil yang jelas dan petunjuk mulia yang ada dalam al-Quran, ialah penyingkapan jalan orang-orang yang gemar melakukan dosa, dan penjelasan terhadap orang-orang yang dibenci lagi sesat; supaya kaum mukminin mengetahuinya kemudian mereka menjauhinya; dan tersingkap bagi mereka keadaanya, kemudian mereka menjaga diri darinya; dan jelas bagi mereka musuh-musuh mereka, kemudian memperingatkan manusia darinya. Allah Ta’ala berfirman :

{وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ}

Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran, supaya jelas jalan orang-orang yang berdosa” (QS. al-An’am : 55)

yaitu supaya jelas jalan mereka, dan tersingkap perkara mereka, dan jelas keadaan mereka, sehingga kaum muslimin memperingatkan manusia dari mereka.

Yahudi merupakan umat yang dimurkai oleh Allah

Telah datang dalam Al-Quran berupa dalil dan petunjuk yang jelas, bahwasanya orang-orang yang paling licik tipu-dayanya terhadap kaum mukminin, paling besar permusuhannya, dan paling kotor makar dan kebenciannya; ialah orang-orang Yahudi. Mereka adalah umat yang dimurkai, yang – karena jeleknya amal perbuatan mereka – mendapat kemarahan, laknat, dan kemurkaan dari Allah Ta’ala. Maka, mereka adalah umat yang terlaknat lagi dimurkai, karena kejelekan yang mengakar pada diri mereka, kekejian yang bertumpuk-tumpuk, dan kerusakan yang besar,
Allah Ta’ala berfirman :

{ قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ }

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus” (QS. al-Maidah : 60)

Allah Ta’ala juga berfirman :

{تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ}

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan” (QS. al-Maidah : 80)

Dia Ta’ala juga berfirman :

{ بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ }

Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan” (QS. al-Baqarah: 90)

Orang-orang yahudi memiliki hati yang keras

Dan Allah telah mensifati mereka dalam al-Quran, bahwasanya hati-hati mereka keras.

{ ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً }

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi” (QS. al-Baqarah : 74)

Pengingkaran yahudi terhadap Taurat

Ketika dihadapkan kepada mereka Taurat – yang merupakan firman Allah, wahyu-Nya, dan diturunkan dari-Nya – mereka menolaknya, dan menutup diri dari menerimanya. Kemudian Allah memerintahkan Jibril ‘alaihis salaam untuk mencabut sebuah gunung sampai akarnya dari bumi, sesuai dengan ukuran/jumlah mereka, kemudian mengangkatnya di atas kepala mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Jika kalian tidak menerimanya, maka akan Kami jatuhkan gunung ini kepada kalian.” Maka mereka menerimanya dalam keadaan terpaksa. Allah Ta’ala berfirman :

{وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa”” (QS. al-A’raf : 171)

Allah Ta’ala juga berfirman :

{وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ – ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ}

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”. Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi” (QS. al-Baqarah : 63 – 64)

Kelancangan yahudi terhadap Allah dan rasul-Nya

Dan ketika Nabi Musa ‘alaihis salaam mengajak mereka untuk beriman kepada Allah dan wahyu-Nya, mereka menolaknya, seraya berkata, “Kami tidak akan beriman hingga kami melihat Allah dengan mata kepala kami.” Maka Allah menurunkan api dari langit, lalu membunuh mereka dengan api tersebut karena sebab dosa mereka. Kemudian, Allah menghidupkan mereka setelah kematian mereka tersebut supaya mereka bersyukur. Allah Ta’ala berfirman :

{وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ – ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ}

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur” (QS. al-Baqarah : 55 – 56)

Dan diantara keculasan mereka adalah mereka menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan selain Allah, padahal mereka telah melihat sendiri bagaimana Allah menimpakan hukuman yang dahsyat kepada kaum Musyrikin. Padahal Nabi mereka masih hidup, belum mati. Padahal mereka juga melihat sendiri dengan mata kepala mereka bagaimana tukang patung membuat patung sapi tersebut. Ia membuat adonan bahannya, memasukannya ke dalam api, menempanya dengan palu, lalu didinginkan, lalu dibolak-balik oleh tangan si pematung, walaupun mereka tahu semua ini namun mereka tetap menyembahnya selain juga menyembah Allah. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga mengklaim secara dusta bahwa patung tersebut adalah sesembahannya Musa ‘Alaihissalam.

{فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ} [طه:88]

kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”” (QS. Thaha: 88)

Dan Allah juga berfirman:

{وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ (51) ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [البقرة:51-52]

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang lalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah: 51-52)

Walaupun hujjah-hujjah senantiasa ditunjukkan kepada mereka dan mereka senantiasa dilimpahkan kenikmatan dari Allah berkali-kali, mereka tetap saja meminta untuk dibuatkan sesembahan selain Allah. Terkadang mereka menyembah patung sapi selain menyembah Allah. Terkadang mereka mengatakan, “Wahai Musa, kami belum bisa membenarkanmu sebelum kami melihat Allah dengan nyata”. Dan ketika Allah menyelamatkan mereka dari kekuasaan Fir’aun dan kezhalimannya, dan mereka dipisahkan dengan laut, mereka sudah melihat ayat-ayat Allah, keajaiban-keajaiban serta pertolongan dari-Nya, namun ketika Nabi mereka (Musa) mengajak mereka untuk berperang mereka malah enggan dan berkata

{فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ} [المائدة:24]

““Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”” (QS. Al Maidah: 24).

Dan diantara ulah mereka juga, ketika dikatakan mereka, dan ketika mereka bersama Nabi mereka lalu wahyu dari Allah turun:

{وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ}[البقرة:58]

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “hithah (Bebaskanlah kami dari dosa)”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Baqarah: 58).

Al qaryah maksudnya Baitul Maqdis. Mereka diperintahkan masuk ke dalamnya dengan cara yang demikian, yaitu cara yang penuh ketundukan dan perendahan diri kepada Allah, namun mereka malah enggan. Mereka ingkar dan sombong, mereka pun masuk ke sana lewat pintu belakang, mereka kembali ke belakang, dan berkata: “hinthah” (padahal yang disuruh adalah “hithah”), artinya biji-bijian. Maka Allah Ta’ala pun berfirman:

{فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ} [البقرة:59]

Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik” (QS. Al Baqarah: 59)

Dan diantara keculasan mereka adalah mereka membunuhi para Nabi yang sesungguhnya hidayah tidak sampai kepada mereka kecuali oleh sebab para Nabi tersebut. Dan mereka menjadikan para rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah. Mereka juga menuduh Nabi Isa dan ibu telah berbuat dosa besar. Dan mereka juga mengklaim bahwa mereka telah berhasil membunuh keduanya.

{فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا (155) وَبِكُفْرِهِمْ وَقَوْلِهِمْ عَلَى مَرْيَمَ بُهْتَانًا عَظِيمًا (156) وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا (157) بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا } [النساء:155-158] .

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nisaa’: 155-158)

Dan diantara keculasan mereka adalah menisbatkan hal-hal yang tidak layak kepada Allah. Dan mereka menyifati Allah dengan sifat-sifat yang Allah disucikan darinya. Diantara perkataan mereka, bahwa Allah lelah dan beristirahat setelah menciptakan langit dan bumi. Kemudian Allah menurunkan ayat untuk membantah mereka:

{وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ} [ق:38]

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan” (QS. Qaaf: 38)

lughuw maknanya lelah. Dan diantara perkataan mereka juga, “Allah itu faqir dan kami itu kaya”. Maka Allah pun menurunkan ayat:

{لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ} [آل عمران:181]

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”” (QS. Al Imran: 181)

Allah juga berfirman:

{ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ } [المائدة:64]

Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki” (QS. Al Maidah: 64)

Kemudian, dengan semua kekufuran yang besar dan kedustaan yang nyata ini, mereka mengklaim diri mereka ahli surga dan juga mengklaim diri mereka adalah makhluk Allah yang paling terbaik dan makhluk terpilih.

{وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ } [البقرة:111

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”” (QS. Al Baqarah: 111)

{وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ} [المائدة:18]

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan:”Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya” (QS. Al Maidah: 18)

Dan yang semestinya kita ketahui bersama, bahwa kaum Yahudi itu setelah mencoba membunuh Al Masih Isa bin Maryam, dan Allah menjaga Nabi Isa dari usaha mereka tersebut, ternyata makar mereka sama sekali tidak berkurang sampai Allah memecah mereka menjadi banyak golongan dan menyempitkan mereka sesempit-sempitnya.

Dan mereka tidak memiliki kekuasaan sampai diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Merekapun kufur kepada beliau dan mendustakannya. Kemudian Allah menyempurnakan adzab-Nya kepada mereka dan menhancurkan mereka sehancur-hancurnya, serta menghinakan mereka sehina-hinanya. Kehinaan ini terus ada pada mereka hingga diturunkannya Nabi Isa ‘Alaihissalam di akhir zaman kelak. Akan dihentikan semua ulah mereka dan dibunuh semua dari mereka yang tersisa. Dan bumi dibersihkan dari para penyembah salib.

Inilah sebagian kabar yang datang dari Al Qur’an Al Karim mengenai keadaan kaum Yahudi yang dimurkai dan dilaknat ini. Agar kaum Muslimin mengetahu sejarah hitam dari kaum tersebut. Kehidupan mereka itu kelam dan penuh dengan kekufuran, permusuhan, kezaliman dan kedustaan. Mereka tidak merasa aman terhadap kejahatan mereka sendiri, dan mereka tidak henti-hentinya berbuat keji hingga tidak ada perasaan aman di setiap waktu dan keadaan karena kesesatan dan permusuhan yang mereka perbuat. Selain itu, hikmah Al Qur’an mengabarkan hal ini juga agar setiap Muslim menyadari kadar nikmat Allah yang diberikan kepadanya yang berupa agama yang hanif dan juga berupa nikmat ilmu dan iman. Maka sungguh segala puji bagi Allah dari awalnya hingga akhirnya.

Sesungguhnya seorang Mukmin dalam setiap keadaannya dan setiap perkaranya, baik di kala sulit maupun lapang, dikala senang maupun susah, ia tidak merasa takut kecuali kepada Allah dan tidak meminta jalan keluar kecuali kepada Rabb-nya sebagai penghulunya dan penolongnya. Wahai Allah, Engkau lah tempat mengadu dan Engkau lah yang mencukupi kami. Wahai Dzat yang mengabulkan doa orang kesulitan ketika ia berdoa, dan menguatkan hati orang yang rapuh ketika ia menengadahkan tangannya dan menghilangkan kegelisahan orang yang gelisah ketika ia menundukkan diri kepada-Nya dan berharap pada-Nya. Wahai Rabb kami, sesungguhnya kaum Yahudi berbuat makar terhadap saudara-saudara kami di Palestina, berupa pembunuhan dan pengusiran. Kaum Yahudi menghancurkan dan menyabotase rumah-rumah mereka, mencoreng dan merusak kehormatan mereka. Betapa banyak rumah yang telah hancur dan betapa banyak kehormatan yang dicoreng. Betapa banyak wanita yang diperkosa, betapa banyak darah yang telah mengucur, dan betapa banyak anak-anak yang telah menjadi yatim. Sungguh arogansi kaum Yahudi semakin menjadi-jadi, semakin bertambah kesombongan dan kejahatan mereka, serta semakin besar pula perlawanan dan permusuhan mereka.

Wahai Rabb kami, wahai Dzat yang memiliki pertolongan dan kemuliaan, kepada-Mu pertolongan diminta. Wahai Dzat yang pintu-pintu-Nya dan khizanah-Nya dibuka bagi orang yang berdoa, wahai Dzat yang menggoyangkan singgasananya orang-orang zalim, wahai Dzat yang menghancurkan kekuasaan para penguasa hebat, wahai Dzat yang membatalkan tipu daya orang-orang jahat. Ya Allah, hancurkanlah kaum Yahudi yang mereka itu melampaui batas. Ya Allah, kami jadikan Engkau penolong untuk membinasakan mereka dan kami memohon perlindungan dari-Mu dari kejahatan mereka. []


Syaikh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al Abbad Al Badr hafizhahullah
Sumber: http://al-badr.net/detail/9BPph26c5w
Penerjemah: tim penerjemah Muslim.Or.Id

Jumat, 13 Juli 2018

Pembantaian Srebrenica: Kenapa Anda Harus Tahu tentang Ini?

View Article

Jenderal Mladic, 74 tahun, kini telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Pengadilan Pidana Internasional untuk bekas Yugoslavia (ICTY) di Den Haag. Ini karena terlibat dalam ribuan pembunuhan yang terjadi selama Perang Bosnia 1992-1995.

Mladic, mantan jenderal militer Serbia Bosnia, juga ditemukan memiliki "tanggung jawab yang signifikan" atas genosida lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim yang dilakukan di Srebrenica pada tahun 1995.

Dia dinyatakan bersalah atas 10 dari 11 tuduhan terhadap dia termasuk genosida, pembunuhan, pemusnahan, penuntutan, deportasi paksa. Namun, bagi banyak orang, kejahatan Mladic sangat luas sehingga tidak ada hukuman yang bisa menebus ribuan orang yang terbunuh dan terluka oleh pasukannya.

Hatidza Mehmedovic, presiden Mothers of Srebrenica Association mengatakan: "Kita harus menerima fakta dan membangun masa depan yang lebih baik. Genosida di Bosnia dan Herzegovina seharusnya tidak lagi ditolak," seraya mengatakan bila keputusan tersebut seperti ”turun dalam lautan."

Fikret Grabovica, presiden sebuah asosiasi orang tua yang anak-anaknya terbunuh saat pengepungan Sarajevo mengatakan bahwa mereka telah diberi "keadilan parsial". "Tidak ada hukuman atas apa yang telah dilakukan Mladic dan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ini penting agar dia mendapat hukuman penjara seumur hidup. Kami merasa puas dengan keputusan tersebut, meskipun tidak sepenuhnya," kata Grabovica.

Presiden negara bagian Srebrenica dan Zepa, Munira Subasic, mengatakan kepada Anadolu Agency di Den Haag bahwa penjara seumur hidup tidak akan pernah cukup. "Ini adalah keputusan yang sama yang diberikan juga kepada Radial Karman dari Bosnia. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Mladic memiliki hubungan dengan tentara Serbia. Kami sekarang memiliki hak untuk mendakwa Serbia dan Republika Srpska," kata Subasik.

Namun, orang Serbia dari Kepresidenan Bosnia dan Herzegovina, Mladen Ivanic, mengatakan pengadilan tersebut tidak memiliki keadilan di antara orang Serbia, Kroasia dan Bosnia. "Pengadilan Den Haag telah membawa ketidakpercayaan dan bukan kepercayaan dari pada alih-alih melakukan rekonsiliasi dan ini akan menyebabkan konflik politik baru. Putusan Jenderal Mladic menunjukkan bahwa mereka melanjutkan sikap negatif terhadap orang-orang Serbia dan bahwa Pengadilan Den Haag akan tetap diingat karena tidak berbagi keadilan, tapi politik, "kata Ivanic.

Kepala Jaksa Pengadilan Pidana Internasional untuk mantan Yugoslavia (ICTY) Serge Brammertz, menegaskan bahwa keputusan tersebut tercermin pada tindakan Mladic, bukan tindakan orang-orang Serbia. "Beberapa orang mungkin berpikir bahwa keputusan ini adalah keputusan melawan seluruh orang Serbia, namun kantor saya benar-benar menolak untuk menerimanya. Sebab keputusan itu hanya untuk kejahatan yang dilakukan oleh Mladic," katanya.

Reaksi internasional

Kementerian Luar Negeri Turki menekankan pentingnya penilaian ICTY yang mengatakan bahwa terbukti pengadilan khusus tidak membiarkan impunitas atas kejahatan yang dilakukan terhadap kemanusiaan.

"Kami berharap penghakiman tersebut akan menghasilkan perdamaian dan rekonsiliasi sosial di Bosnia Herzegovina, dan akan menjadi contoh untuk menghindari komitmen kejahatan serupa dalam konflik yang sedang berlangsung di berbagai belahan dunia," kata MFA dalam sebuah pernyataan.

Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra'ad al-Hussein menyebut keyakinan tersebut sebagai sebuah ”kemenangan penting bagi keadilan."

"Dua arsitek utama dari beberapa kekejaman terburuk di Bosnia dan Herzegovina, termasuk genosida Muslim Bosnia di Srebrenica, Ratko Mladic dan Radovan Karadzic, kini telah dipidana dan menghadapi hukuman penjara yang panjang. Mladic adalah lambang kejahatan. Dan penuntutan Mladic adalah lambang dari apa keadilan internasional, "katanya dalam sebuah pernyataan.

"Semua orang yang melakukan kejahatan internasional yang serius dalam banyak situasi hari ini di seluruh dunia harus takut akan hasil ini," kata Hussein.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg juga menyambut keputusan pengadilan PBB dengan mengatakan bahwa dia berharap bahwa keputusan tersebut akan memindahkan wilayah tersebut ke jalur perdamaian dan rekonsiliasi lebih lanjut.

Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengklaim semua orang tahu apa hasil percobaan Ratko Mladic. Vucic juga meminta bangsanya untuk menanti kedamaian. "Saya mendesak warga Serbia untuk mulai melihat ke masa depan dan untuk berpikir bahwa kita akan menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan ini. Sehingga kita tidak terjebak dalam air mata masa lalu, namun berdasarkan keringat para pekerja kita menciptakan sebuah masa depan yang lebih baik bagi kita semua,” katanya.

Juru bicara Deputi Menteri Luar Negeri Jerman Maria Adebahr mengatakan pada sebuah konferensi pers di Berlin, keyakinan tersebut merupakan "kontribusi penting untuk menghadapi kejahatan mengerikan yang dilakukan di bekas Yugoslavia di tahun 1990an.”

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan: (Pengadilan ini) telah menyampaikan keadilan dan melawan kekebalan hukum atas kejahatan yang paling mengerikan adalah kewajiban manusia yang mendasar.

"Simpati kami ada pada mereka yang selamat dan mereka yang kehilangan orang yang mereka cintai, ” katanya. []


Oleh Muhammad Subarkah
Penulis adalah redaktur Republika

Islam Nusantara Tak Lain Adalah Proyek Kaum Liberal

View Article
Istilah islam nusantara, menjadi isu yang mulai ramai dibicarakan. Sejalan dengan peran para budayawan dan orang-orang liberal di Indonesia. Dan nampaknya ini hendak dijadikan sebagai gerakan. Di UIN jakarta sendiri telah diselenggarakan festival budaya islam nusantara. Bahkan ada yang mengatakan, fenomena membaca al-Quran dengan langgam jawa, merupakan bagian dari proyek islam nusantara itu.

Mengingat ini istilah yang asing bagi masyarakat, kita perlu tahu, sebenarnya apa maksud mereka dengan istilah islam nusantara itu. Apakah maksudnya agama islam yang dibongkar pasang, diganti sana-sini, sehingga menjadi agama sendiri yang berbeda sama sekali dengan ajaran islam Nabi Muhammad? Seperti halnya istilah ‘kristen jawa’ yang berbeda sama sekali dengan ajaran kristen lainnya. Atau islam seperti apa?

Di sana ada sebuah tulisan, yang dirilis oleh web Fakultas Adab & Humaniora UIN jakarta. Dalam tulisan itu, dikutip definisi istilah ‘islam nusantara’ menurut Azyumardi Azra. Dia mengatakan,

Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islamic legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global.” (https://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/15/06/17/nq3f9n-islam-nusantara-1)

Yah… anda boleh baca sambil tutup mata sebelah. Paham gak paham, anggap saja paham. Ini bahasa ‘wong pinter’ gaya masyarakat UIN. Kepentingan kita, keterangan Pak Azra dijadikan sebagai acuan. Karena beliau bagian dari pelaksana inti proyek islam nusantara itu.

Kita bisa perhatikan, definisi islam nusantara menurut Pak Azra di bagian pertama,

Islam Nusantara adalah Islam distingtif, artinya islam yang unik. Tentu saja memiliki ciri membedakannya dengan lainnya.

Sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi (disesuaikan keadaan pribumi) dan vernakularisasi (disesuaikan kedaerahan) Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia.

Dari pengertian Pak Azra, berarti islam ada dua:

(1) islam universal dan

(2) islam yang sudah mengalami penyesuaian dengan budaya dan realitas sosial. Yang mereka istilahkan dengan islam nusantara itu.

Jika yang dimaksud islam universal adalah islam ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang itu diterima oleh seluruh dunia, berarti islam nusantara yang menjadi gagasan para tokoh uin itu, berbeda dengan islam ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya, Pak Azra mengaku bahwa islam nusantara yang dia maksud, penyatuan kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali. Tentu saja, ini terlalu berlebihan. Anggap saja, masalah tata cara membaca al-Quran masuk dalam kajian fiqh, pernahkah ada fatwa dalam fiqh syafii yang membolehkan membaca al-Quran dengan lagu macapat?

Lebih dari itu, sebenarnya UIN jakarta, sangat terengaruh dengan pemikiran pemikian liberal Harun Nasution. Posisi Pak Harun yang dianggap pencetus pemikiran islam baru, sangat menentang kalam Asy’ari. Karena yang ingin dia kembangkan adalah pemikiran mu’tazilah. Pak Harun sendiri pernah menyatakan, “Bila umat Islam ingin maju, maka kita harus menggantikan paham Asy’ariyah yang telah mendarah daging menjadi paham Mu’tazilah.” (Teologi Pembaruan, Fauzan S, 2004, hlm. 264)

Karena itulah, Pak Harun dikenal pencetus Neo-Mu’tazilah di Indonesia.

Ketika uin jakarta mengaku mengembangkan ajaran ilmu kalam asy’ari, jelas ini terlalu jauh. Hakekatnya, mereka sedang mengembangkan pemikiran mu’tazilah.

Memecah Belah Umat

Kita tinggalkan kajian masalah definisi di atas.

Karena jika kita perhatikan, pemikiran ini jelas hendak merusak islam besar-besaran. Dan tidak jauh jika kita katakan, memecah belah kaum muslimin.

Budaya di nusantara bagi Indonesia, sangat beragam. Aceh jauh berbeda dengan jawa. Kalimantan, jauh beda dengan Papua. Ketika islam nusantara dipahami sebagai islam hasil akulturasi budaya lokal, apa yang bisa anda bayangkan ketika islam ini disinkronkan dengan budaya papua. Sehingga tercipta sebuah desain pakaian muslim, hasil interaksi antara islam dan budaya koteka. Tentu saja, ini akan sangat ditolak oleh masyarakat jawa atau lainnya.

Ingatan kita masih sangat segar terkait kasus shalat dengan bahasa jawa, yang diajarkan di Pesantren I’tikaf Ngadi Lelaku, Malang. Spontan memancing emosi banyak masyarakat. Jika sampai hal ini diwujudkan, yang terjadi bukan renaisans peradaban Islam, tapi malah mengacaukan masyarakat.

Termasuk ajaran sebagian etnis Sasak, shalat 3 waktu. Apakah bisa disebut islam nusantara? Jika sampai ini dilegalkan, berarti menolak keberadaan 2 shalat sisanya.

Wahyu Menyesuaikan Budaya?

Hingga kini, banyak orang liberal menuduh, bahwa tujuan terbesar dakwah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah untuk arabisasi dunia. Menerapkan hegemoni quraisy di alam raya. Sehingga, ketika ada gerakan dakwah di tengah masyarakat, mereka sebut, arabisasi.

Inti masalahnya, orang liberal lemah dalam membedakan antara budaya dan ajaran agama. Sehingga, di manapun ajaran agama itu disampaikan, menurut orang liberal, itu sedang memasarkan budaya arab.

Kita bisa telusuri, sebenarnya yang dilakukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu meng-arab-kan islam ataukah meng-islam-kan arab??.

Jika kita menggunakan teori orang liberal, berarti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meng-arabkan islam. Artinya, islam sudah ada, kemudian oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diwarnai dengan budaya arab.

Anda layak untuk geleng kepala..

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya. Ada yang baik dan ada yang buruk. Ketika beliau datang, beliau mengislamkan budaya-budaya itu. Dalam arti, mengarahkan pada budaya yang baik, dan membuang budaya jahat. Bukan disinkronkan, kemudian islam menyesuaikan semua budaya mereka.

Kita bisa simak, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang budaya buruk jahiliyah, beliau mengatakan,

أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ

“Katahuilah, segala urusan jahiliyah, terkubur di bawah telapak kakiku.” (HR. Muslim 3009)

Ini salah satu bukti, bagaimana upaya beliau menolak setiap tradisi jahiliyah yang bertentanagn dengan wahyu.

Dari sini kita mendapat pelajaran, bahwa budaya harus menyesuaikan islam. Bukan islam yang menyesuaikan budaya.

Islam Agama Menyeluruh

Islam agama yang unversal. Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebarkan islam kepada seluruh umat manusia. Sehingga ajaran islam sedunia adalah sama. Karena sumbernya sama. Ketika ada orang yang memiliki kerangka ajaran yang berbeda, berarti itu bukan islam ajaran beliau.

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Aku tidak mengutus kamu, melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Dalam tafsirnya, al-Hafidz Ibnu Katsir menfsirkan ayat ini, bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk seluruh makhluk. Semua yang mukallaf. Baik orang arab maupun luar arab. Yang paling mulia diantara mereka, adalah yang paling taat kepada Allah. (Tafsir Ibn Katsir, 6/518).

Saya kira, tidak ada orang muslim yang ingin tidak dianggap sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam arti khusus, gara-gara dia punya islam yang berbeda dengan islam beliau.

Adat Bisa Menjadi Acuan Hukum

Ada satu kaidah dalam ilmu fiqh,

العادة محكَّمة

“Adat bisa dijadikan acuan hukum.”

Kaidah ini termasuk kaidah besar dalam fiqh (qawaid fiqhiyah kubro). Kaidah ini menjelaskan bahwa adat dan tradisi masyarakat dalam pandangan syariat bisa menjadi penentu untuk hukum-hukum terkait muamalah sesama manusia. Selama di sana tidak ada dalil tegas yang bertentangan dengan adat tersebut. (al-Wajiz fi Idhah Qawaid al-Fiqh al-Kulliyah, hlm. 276).

Hanya saja di sana para ulama fiqh memberikan batasan, ketika adat bertentangan dengan dalil syariat,

Pertama, jika ada adat yang sesuai dengan dalil syariat, wajib untuk diperhatikan dan diterapkan. Karena mempraktekkan hal ini hakekatnya mempraktekkan dalil dan bukan semata adat. Contoh: memuliakan tamu.

Kedua, jika adat bertentangan dengan dalil syariat, ada beberapa rincian keadaan sebagai berikut,

1. Adat bertentangan dengan dalil dari segala sisi. Menggunakan adat otomatis akan meninggalkan dalil. Dalam kondisi ini adat sama sekali tidak berlaku. Misalnya: tradisi koperasi simpan pinjam berbunga.
2. Adat bertentangan dengan dalil dalam sebagian aspek. Dalam kondisi ini, bagian yang bertentanga dengan dalil, wajib tidak diberlakukan. Misalnya: Dropshipping dengan cara terutang.
3. Dalil yang bertentangan dengan Urf, dibatasi dengan latar belakang adat yang terjadi ketika itu. Misalnya, larangan membiarkan api penerangan menyala di malam hari. Atau larangan minum air dari mulut botol.

Contoh Penerapan Kaidah

Allah mewajibkan suami untuk menafkahi istri. Tentang ukuran nafkah, dikembalikan kepada keadaan masyarakat, berapa nilai uang nafkah wajar untuk istri.

Islam mewajibkan kita untuk bersikap baik terhadap tetangga. Bagaimana batasan sikap baik itu, dikembalikan kepada standar masyarakat. dst.

Gagasan Islam Nusantara Vs Kaidah Fiqh

Apakah kaidah fiqh ini yang hendak dikembangkan dalam proyek “Islam Nusantara.”?

Dugaan kuat kami, tidak untuk ini. Islam nusantara, bukan dalam rangka memahamkan masyarakat tentang kaidah fiqh di atas.

Karena seperti yang dinyatakan Pak Azra, beliau menyebut islam nusantara sebagai islam yang distingtif, islam unik. Mereka anggap itu gagasan baru dari mereka, bagi muslim Indonesia. Makanya, kita tidak pernah mendengar istilah ini dikobarkan, di masa pemerintahan SBY. Proyek ini baru disemarakkan di masa pemerintahan sekarang.

Padahal kaidah fiqh di atas, bukan sesuatu yang baru. Dan untuk memahamkan kadiah ini, tidak butuh orang liberal. Kaidah ini telah final dibahas para ulama. Jika orang liberal ngaku hendak membumikannya, itu hanya klaim. Mengelabuhi masyarakat abangan untuk memasarkan pemikiran mu’tazilah.

Benar apa yang Allah firmankan, salah satu diantara upaya setan untuk menggoda manusia adalah dengan membisikkan kata-kata indah, untuk menjadi alasan pembenar bagi kesesatan mereka,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, mereka saling membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112)

Semoga kita tidak termasuk orang yang tertipu propaganda mereka. Allahu a’lam. []

Baca juga: Ini Penjelasan & Keterkaitan Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme
Baca juga: Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Baca juga: Bahayanya Islam Moderat Melalui Pemberdayaan Perempuan


Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina Konsultasisyariah.com

Ini 5 Kejanggalan Dari Gagasan 'Islam Nusantara'

View Article

Beberapa bulan ini muncul wacana “Islam Nusantara” di tengah masyarakat. Sebelum menjelaskan, kita harus sepakat terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara. Kalau yang di maksud adalah pemeluk Islam di Nusantara, maka seharusnya kalimat yang tepat adalah “Muslim Nusantara’ bukan ‘Islam Nusantara’. Sejauh ini, para pendukung gagasan ini memiliki definisi sendiri-sendiri yang juga tidak memiliki kejelasan.

Jika dibaca sepintas, gagasan lahirnya ‘Islam Nusantara’ hanyalah gagasan untuk melawan istilah yang sering disebut sebagai ‘Arabisasi’ Islam di Indonesia.

Banyak Kejanggalan

Dalam sejarah pergolakan antara Muslim tradisional dengan Muslim yang notabene dinilai non tradisional sudah ada sejak dulu. Perbedaan pandangan antara Hamzah Fansuri dan Nuruddin Al-Raniri, bahkan di kemudian hari antara KH. Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy`ari, apakah lantas me-Nusantarakan satu pihak secara paripurna dan me-non-Nusantarakan yang lain? Agaknya kurang bijak dengan standarisasi semacam ini.

Setidaknya, ada lima kejanggalan dari gagasan wacana ‘Islam Nusantara’;

Pertama, adanya klaim ‘Islam Nusantara’ milik satu golongan dan kelompok. Padahal Nusantara bukan hanya milik satu golongan; bukan hanya milik NU, Muhammadiyah atau ormas manapun. Ia lahir adalah bagian dari heterogenitas kelompok yang ada di dalamnya.

Kedua, kelompok yang setuju istilah ‘Islam Nusantara’ seolah-olah ingin berupaya mempertentangkan antara Islam Nusantara dengan Islam Timur-Tengah.

Jika demikian, pertanyannya, “Penggunaan istilah yang benar itu Islam atau Muslim?” Islam tidak ada salahnya, kalau Muslim bisa berpotensi salah.

Kalaupun yang hendak dibandingkan adalah antara Muslim Nusantara dengan Muslim Timur-Tengah, apakah lantas mengunggulkan yang satu dan merendahkan yang lain?

Muslim Timur-Tengah dan Muslim Nusantara abad berapa yang dimaksud?

Timur-Tengah pada zaman keemasan Islam adalah soko guru peradaban dunia. Pada waktu itu mereka mampu mengharmonikan antara manusia, negara, alam dan Tuhan. Tidak seperti Timur-Tengah sekarang.

Kemudian, yang dimaksud Nusantara itu sebenarnya kapan? Muslim abad ini kah? Atau sejak Wali Songo? Bahkan sejak kerajaan Hindu-Budha kah?

Masalahnya, masuknya Islam di Indonesia saja masih debateable kok langsung membuat formulasi ‘Islam Nusantara’. Selama istilah belem jelas maka akan asyik berbicara di dunia khayalan.
Para wali dan ulama-ulama besar yang lahir di Nusantara (seperti Imam Nawawi Al-Bantani, KH. Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy`ari dll), apakah steril dari pengaruh kebudayaan Arab? Faktanya tidak.

Secara pakaian, di antara mereka masih menggunakan sorban dan gaya ala orang Arab. Belum lagi guru-gurunya yang banyak berasal dari Arab. Bukankah Wali Songo yang terkenal itu kebanyakan berasal dari Timur-Tengah?

Berapa persen yang penduduk asli Nusantara?

Upaya untuk mengotak-kotakkan Islam menjadi ‘Islam Nusantara’ dan ‘Islam Timur-Tengah’, menurut hemat penulis terlalu gegabah bahkan a-historis.

Ketiga, ada pula klaim, seolah-olah mereka yang setuju gagasan ‘Islam Nusantara’ paling kokoh dan istiqamah menjaga kebinekaan negeri ini. Kalau satu mengklaim sebagai pihak paling kokoh, lalu yang lain jadi apa?

Indonesia adalah negeri yang luas, dibangun oleh banyak darah para syuhada. Mereka ada NU, ada Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah dan masih banyak yang tak sedikit perannya membangun negeri ini.

Nusantara tidak bisa dimonopoli oleh satu pihak, apalagi hanya salah satu yang mengaku-ngaku sebagai benteng kokoh pengawal NKRI.

Apapun wacana ini, meski seolah-olah menggunakan Wali Songo sebagai patokan dan ukuran ‘Islam Nusantara’, tetap akan kabur dan menemui jalan buntu.

Apakah sebelum Wali Songo mereka tidak berkembang? Katakanlah misalkan benar sejak masa Wali Songo, lalu pertanyaannya, “Apakah Wali Songo itu satu ritme dalam melakukan cara dakwahnya? Apakah semuanya harus mengikuti gaya Kanjeng Sunan Kali Jogo (yang identik dengan cara kultural) dalam melakukan dakwah?”

Anggap kita terima kalau Wali Songo sebagai cikal-bakal pengembang ‘Islam Nusantara’. Masih juga akan menyisahkan masalah tak sedikit.

Apakah yang mereka lakukan selama ini itu adalah ‘me-Nusantarakan Islam’ atau ‘mengislamkan Nusantara’? Apakah mereka menjadikan Islam sebagai obyek sedang Nusantara sebagai subyek, atau sebaliknya?

Mereka menjadikan budaya sebagai cara berdakwah atau menjadikannya sebagai tujuan berdakwah?

Penulis pikir, mereka sangat tahu persis mana ranah yang boleh dirubah demi kepentingan budaya, dan mana yang tidak bisa dirubah sebagai prinsip Islam.

Keempat, gagasan ‘Islam Nusantara’ lahir secara emosional karena harus dibenturkan Arab atau Timur-Tengah, yang seolah-olah apa yang dating dari Arab selalu mengkafirkan, intoleran, suka membid`ahkan, menyesatkan, anti budaya dan lain sebagainya.

Sekedar contoh, oranganisasi Nahdhatul Ulama (NU) secara geneologi keilmuan tak bisa dipisahkan dengan ulama-ulama yang notabene berasal dari Timur-Tengah.

Padahal dalam sejarah NU yang dikenal dengan bermadzhab Syafi`i dan berakidah Asy`ari, keduanya ulama besar ini bukan asli Nusantara. Mereka justru lahir dari Timur Tengah.

Adalah benar, banyak nilai-nilai di Nusantara yang digunakan dan bisa ditawarkan pada masyarakat dunia. Misalnya, menyimpan kearifan budaya, toleransi, kelembutan, kesopanan dan lain sebagainya.
Namun, menjadikan seolah-olah nilai kesopanan, kearifan serta toleransi seolah-olah bisa mewakili semua nilai Islam jelas tak masuk akal.

Kelima, klaim “Islam Nusantara’ akan menjadi referensi bagi dunia internasional menurut penulis adalah gagasan yang ke-pedean (terlalu percaya diri, red).

Sebagai Muslim, yang seharusnya kita tanam dalam keyakinan kita adalah Islam berlandaskan al-Qur`an dan Hadits, itulah referensi umat Islam seluruh dunia.

Bukankah ajaran Islam sudah meng- cover semuanya. Islam –selama tidak bertentangan dengan prinsip- sangat menghormati toleransi, kelembutan dan budaya.

Bukankah sejak awal Islam yang dibawa nabi adalah Islam rahmatan lil `alamin?

Mana yang lebih menyeluruh dan universal Islam rahmat bagi seantero alam atau sebatas Islam Nusantara?

Menurut penulis, jika diteruskan wacana ‘Islam Nusantara’ ini, maka kelak akan pusing sendiri dan menjumpai jalan buntu akibat mentahnya gagasan ini.

Jadi –menurut pikiran penulis-, Islam adalah Islam. Titik!

Tidak ada embel-embel atau atribut apa pun. Kalau pun dari masing-masing Muslim memiliki kultur dan kelebihan berbeda, itu bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk saling belajar dan mengenal. Dengan saling berendah hati dan tanpa caci-maki, InsyaAllah semua bisa teratasi. Karena –sebagaimana istilah Nabi- Islam itu mengatasi bukan diatasi.

Jadi, masih perlukah istilah ‘Islam Nusantara’? Wallahu a`lam bi dzatis shudur. []



Oleh Mahmud Budi Setiawan
Alumnis peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) VIII UNIDA Gontor 2014
Dipublikasikan oleh Hidayatullah.com

Kamis, 12 Juli 2018

Heboh 'Susu' Kental Manis, Mengapa Baru Sekarang?

View Article

Sepekan belakangan, publik dikagetkan dengan masifnya pemberitaan ‘susu’ kental manis. Terungkap, produk kental manis yang dikemas dalam kaleng ukuran mini itu ternyata bukan produk susu yang bisa dikonsumsi sebagai sumber asupan gizi untuk anak-anak apalagi balita.

Fakta bahwa kental manis bukan produk susu seperti misalnya susu formula atau full cream pernah diunggah oleh akun Twitter @KemenkesRI pada awal Mei lalu. Namun, kini menjadi heboh setelah DPR mengundang rapat pihak-pihak terkait dan setelahnya mengeluarkan peringatan-peringatan keras kepada publik agar tidak mengonsumsi kental manis sebagai minuman.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kandungan gula dan kabohidrat dalam kental manis begitu tinggi dan rendah protein. Sebagai ilustrasi, jika anak mengkonsumsi dua gelas kental manis sehari, itu artinya konsumsi gulanya telah melebihi batasan kebutuhan gula harian. Padahal, kebutuhan gula anak 1 sampai 3 tahun hanya sekitar 13-25 gram.

Berdasarkan Permenkes Nomor 63 Tahun 2015, tentang Penetapan Batasan-Batasan Konsumsi Gula, Natrium, dan Lemak, konsumsi harian per orang adalah, gula 50 gram (empat sendok makan); natrium lebih dari 2.000 miligram (satu sendok teh); lemak 67 gram (lima sendok makan). Apabila, mengonsumsi gula, natrium dan lemak lebih dari batas-batas yang diebutkan, bisa berisiko terkena hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.

Berdasarkan keterangan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebagian besar produk kental manis yang beredar di pasar Indonesia hanya mengandung sekitar 2-3 persen protein susu. Memberikan kental manis yang minim gizi dan tinggi gula untuk anak sebagai pelengkap gizi dan pertumbuhan anak, adalah keputusan yang keliru.

Lebih keliru lagi bila yang diberikan adalah krimer kental manis yang jelas tidak masuk dalam kategori susu. Faktanya, sebagian besar konsumen belum cakap membedakan mana susu dan mana krimer. Menurut YLKI, gerakan bijak membaca label suatu produk pun baru dikampanyekan dua tahun terakhir.

Bisa dibayangkan, berapa ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan anak di Indonesia yang telah diberi kental manis sebagai asupan minuman penunjang gizi harian. Khususnya kalangan menengah ke bawah yang tak mampu membeli susu formula, pastinya menjadikan kental manis sebagai alternatif. Apalagi, sejak produk kental manis berbagai merek telah hadir di Indonesia puluhan tahun lalu, promosinya kerap mencitrakan kental manis sebagai susu yang baik diminum oleh anak-anak.

Polemik kental manis ini, setidaknya meninggalkan beberapa pertanyaan. Mengapa baru sekarang terungkap bahwa kental manis bukan susu? Kenapa Kemenkes dan BPOM tidak sejak dahulu memberikan peringatan dan tindakan tegas? Siapa pihak paling berperan dalam penyesatan publik, produsen kental manis atau biro iklan?

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kehadiran produk kental manis di Indonesia dapat dirunut sampai pada masa sebelum kemerdekaan. Kental manis mulai masuk ke Indonesia pada 1873, yaitu melalui impor kental manis merek Milkmaid oleh Nestlé yang kemudian dikenal dengan nama Cap Nona.

Selanjutnya, pada 1922 masuk kental manis oleh De Cooperatve Condensfabriek Friesland yang sekarang dikenal dengan PT Frisian Flag Indonesia dengan produk Friesche Vlag. Pada akhir 1967, Indonesia mulai memproduksi kental manis pertama kalinya melalui PT Australian Indonesian Milk atau atau yang saat ini dikenal dengan nama PT Indolakto.

Kemudian, diikuti oleh PT Frisian Flag Indonesia pada 1971 di pabriknya yang terletak di Pasar Rebo, Jakarta Timur. PT Nestlé Indonesia mulai memproduksi pada 1973 oleh pabriknya di Provinsi Jawa Timur. Setelah itu, industri kental manis terus berkembang hingga sekarang.

Sebuah industri tidak mungkin lama bertahan jika produknya tidak laku di pasaran. Sebelum dipasarkan, produk seperti kental manis pastinya telah lulus izin edar dari BPOM.

Pihak Kemenperin menyebut, kental manis adalah salah satu anasir dari berbagai macam produk turunan susu seperti diatur dalam Peraturan Kepala BPOM Nomor 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan. Berdasarkan peraturan itu, kental manis adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu, dengan atau tanpa penambahan bahan lain.

Hingga akhirnya, BPOM menerbitkan Surat Edaran bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 Tentang Label dan Iklan Pada Produk Susu Kental Manis dan Analognya (Kategori Pangan 01.3). Surat edaran itu terbit pada 22 Mei 2018 atau pada bulan yang sama dengan cicitan serial @KemenkesRI. Lewat surat edaran itu, BPOM bertujuan melindungi konsumen utamanya anak-anak dari informasi yang tidak benar dan menyesatkan.

Sayangnya, masyarakat sudah lama tersesatkan. Banyak iklan produk kental manis sejak dulu kala hingga setidaknya setahun lalu masih menyebut, kental manis adalah produk susu minuman. Beberapa iklan yang pernah tayang di televisi pun selalu menggunakan anak-anak dalam masa pertumbuhan sebagai model. Jamak dalam setiap iklan, hasil olahan kental manis tersaji dalam gelas berisi cairan berwarna putih mirip susu yang siap diminum oleh anak-anak.

BPOM menegaskan, ada dua poin penting dalam surat edaran terbaru mereka terkait produk kental manis. Pertama, mengenai label dan iklan produk agar memperhatikan larangan menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dan larangan menggunakan visualisasi bahwa produk susu kental manis disertakan dengan produk susu lain sebagai menambah atau pelengkap gizi.

Kemudian, BPOM juga melarang produsen menggunakan visualisasi gambar susu cair dan atau susu dalam gelas disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman. Selain itu, iklan kental manis juga dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak. Baik produsen, importir maupun distributor produk susu kental manis diwajibkan menyesuaikan produknya dengan surat edaran BPOM paling lama enam bulan sejak ditetapkan.

Suara-suara lantang para wakil rakyat di DPR, khususnya dari Komisi IX mendesak pihak terkait untuk meluruskan salah kaprah yang telah terjadi ini. Para produsen kental manis bahkan diminta menggelar keterangan pers bersama untuk membuat pengakuan bahwa produk yang mereka jual bukan produk susu untuk diminum dan tidak baik dikonsumsi oleh anak-anak.

Hingga kini, belum diketahui respons para produsen kental manis atas polemik yang berkembang. Produsen kental manis tentunya tetap memiliki hak berindustri, tetapi mereka kini dituntut transparan terhadap kandungan kental manis yang dijual ke masyarakat.

Apalagi, menurut data Kemenperin, industri kental manis terus tumbuh berkembang. Kapasitas produksi pabrik kental manis di dalam negeri saat ini mencapai 812 ribu ton per tahun. Sementara nilai investasi di sektor usaha ini telah tembus di angka Rp 5,4 triliun dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 6.652 orang.

Semoga, ujung dari polemik ‘susu’ kental manis ini adalah masyarakat yang semakin teredukasi dan ada solusi bagi kalangan industri. []


Oleh Andri Saubani
Penulis adalah redaktur Republika.