Sabtu, 19 Mei 2018

Viral dan Haru, Sosial Eksperimen "Ada Apa Dengan Cadar" (AADC)

View Article

Seperti yang diketahui kejadian teror baru-baru ini terkait bom bunuh diri menjadi perbincangan yang tak habis-habisnya. Terlebih dengan adanya framing negatif sebagian media dan oknum yang dengan sengaja dan jelas-jelas memanfaatkan kejadian ini sebagai "kesempatan" untuk kembali memojokkan umat muslimin.

Tujuannya tak lain untuk terus menjaga eksistensi Islamphobia, memecah belah umat dan menghadang arus opini syariah dan Khilafah yang kian tak terbendung.

Adalah seorang netizen yang bernama Ahmad Zaki, ia dan beberapa rekannya membuat sebuah eksperimen sosial untuk menampik tudingan dan stereotipe masyarakat awam tentang cadar dan atribut-atribut islam yang selama ini kerap di kaitkan dengan kejadian teror.

Berikut adalah yang ia tulis kami kutip dari akun Instagram nya beberapa waktu yang lalu.

Yang melakukan aksi teror bom itu sangat jahat dan biadab, tapi yang memanfaatkan isu ini untuk membuat framing negatif pada kaum Muslim, jauh lebih jahat dan lebih biadab - Felix Siauw
Ada Apa Dengan Cadar 

Tentang bagaimana Sikap Masyarakat terhadap Akhwat Bercadar....
Pasca kejadian kejadian yang di siarkan di Layar kaca, membawa kerugian mendalam bagi saudari saudari kita...

Reaksi berlebihan saat melihat mereka...
Padahal sangat di sayangkan jika kejadian2 negatif kmrn di kaitkan dengan penampilan mereka.

Apa yang bisa kita lakukan ?

Adalah kembali mengedukasi masyarakat, Jika Cadar bukan Budaya, bukan Trend tapi merupakan bagian dr ajaran Agama Islam.

Tidakperlu di Takuti keberadaan teman2 di luaran sana....

Kita tidak boleh menilai seseorang mengkait kaitan seseorang dgn sebuah kejadian. Krn itu tidak Fair....
Banyak koruptor, Tersangka, penjahat... yang mendadak memakai Cadar saat di Sidang... bahkan banyak yg mendadak pakai Jilbab...

Kita tidak bisa lantas Generalisir Yang pakai Jilbab dan Cadar sbg sosok negatif, krn itu tidak adil...

Yuk di Bulan Mulia ini kita perbanyak Husnudzan thdp sesama.

Jika di sekeliling kita ada yg mmg berpenampilan baik tp sebenarnya tidak baik.
Yuk kita doakan agar beliau2 dapat Hidayah Allah Subḥānahu wa ta'alā. [berdakwah]

Jumat, 18 Mei 2018

Mewaspadai Kemunculan Dan Fitnah Sistem Dajjal

View Article

Semenjak runtuhnya kekhalifahan terakhir, ummat Islam menjadi laksana anak-anak ayam kehilangan induk. Masing-masing negeri kaum muslimin mendirikan karakter kebangsaannya sendiri-sendiri seraya meninggalkan dan menanggalkan ikatan aqidah serta akhlak Islam sebagai identitas utama bangsa. Akhirnya tidak terelakkan bahwa ummat Islam yang jumlahnya di seantero dunia mencapai bilangan satu setengah miliar lebih, tidak memiliki kewibawaan karena mereka terpecah belah tidak bersatu sebagai suatu blok kekuataan yang tunggal dan mandiri.

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sudah mensinyalir bahwa akan muncul babak keempat perjalanan ummat Islam, yakni kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan (Raja-raja yang memaksakan kehendak). Inilah babak yang sedang dilalui ummat Islam dewasa ini. (lihat tulisan Menuju Kehidupan Sejati berjudul Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat tanggal 6 Jul 08)

Jangankan kaum muslimin memimpin dunia, bahkan mereka menjadi ummat yang diarahkan (baca: dieksploitasi) oleh ummat lainnya. Inilah babak paling kelam dalam sejarah Islam. Allah subhaanahu wa ta’aala gilir kepemimpinan dunia dari kaum mu’minin kepada kaum kafirin. Inilah zaman kita sekarang. We are living in the darkest ages of the Islamic history.

Dunia menjadi morat-marit sarat fitnah. Nilai-nilai jahiliah modern mendominasi kehidupan. Para penguasa mengatur masyarakat bukan dengan bimbingan wahyu Ilahi, melainkan hawa nafsu pribadi dan kelompok. Pada babak inilah tegaknya Sistem Dajjal. Berbagai lini kehidupan ummat manusia diatur dengan Dajjalic values (nilai-nilai Dajjal). Segenap urusan dunia dikelola dengan nilai-nilai materialisme-liberalisme-sekularisme, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, medis, pendidikan, hukum, pertahanan-keamanan, militer bahkan keagamaan. Masyarakat kian dijauhkan dari pola hidup berdasarkan manhaj Kenabian.

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda mensinyalir bahwa tidak ada fitnah yang lebih dahsyat semenjak Allah ciptakan manusia pertama hingga datangnya hari Kiamat selain fitnah Dajjal.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ (الطبراني)

“Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal.” (HR Thabrani 1672)

Ummat Islam yang menjalani babak keempat dewasa ini harus mempersiapkan diri mengantisipasi kemunculan fitnah paling dahsyat yaitu fitnah Dajjal. Hidup di babak keempat, yakni babak kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak), merupakan hidup yang penuh tantangan.

Pada babak ini Allah memberikan giliran kepemimpinan ummat manusia kepada fihak kuffar. Allah menguji kesabaran kaum muslimin menghadapi kepemimpinan para penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Sistem hidup yang mereka tawarkan merupakan sistem yang jauh dari nilai-nilai keimanan bahkan didominasi oleh nilai-nilai kekufuran.

Inilah zaman yang sarat dengan fitnah. Keterlibatan seorang muslim dalam aspek kehidupan modern manapun sangat berpotensi mendatangkan dosa bagi dirinya. Rangkaian fitnah yang sedemikian hebat akan berpuncak pada munculnya puncak fitnah yakni fitnah Dajjal. Barangsiapa yang sanggup menyelamatkan dirinya dari rangkaian fitnah sebelum munculnya fitnah Dajjal akan sangat berpeluang selamat pula pada saat munculnya fitnah Dajjal. Demikianlah peringatan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ (أحمد)

Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan di hadapan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam rangka menyongsong fitnah Dajjal.” (HR Ahmad V/389)

Demikian pula sebaliknya, barangsiapa ketika rangkaian fitnah di berbagai dimensi kehidupan sedang menggejala kemudian ia terjebak ke dalamnya, maka dikhawatirkan pada saat puncak fitnah muncul ia akan terjebak pula untuk menjadi pengikut bahkan hamba Dajjal. Wa na’udzubillahi min dzaalika. [Eramuslim/Salingsapa]


Inilah Manfaat dan Rahasia di Balik Gerakan Shalat

View Article

Shalat lima waktu adalah salah satu kewajiban bagi umat Islam. Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi ternyata gerakan–gerakan shalat adalah gerakan paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sisi medis, shalat adalah gudangnya obat dari berbagai macam penyakit.

Selama ini shalat yang dilakukan lima kali sehari oleh umat Islam, sebenarnya telah memberikan investasi kesehatan yang cukup besar bagi yang melakukan shalat tersebut. Gerakan sholat sampai dengan salam memiliki makna yang luar biasa baik untuk kesehatan fisik, mental bahkan keseimbangan spiritual dan emosional. Tetapi sayang hanya sedikit dari umat Islam yang memahaminya.

Berikut ini beberapa manfaat gerakan shalat bagi kesehatan manusia:

TAKBIRATUL IHRAM.

Postur: berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah

Manfaat: Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke s! eluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

RUKUK.

Postur: Rukuk yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang.

Manfaat: Postur ini menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot – otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

I’TIDAL

Postur: Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga.

Manfaat: Itidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.

SUJUD

Postur: Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.

Manfaat: Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisamengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa – gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

DUDUK

Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy ( tahiyyat awal ) dan tawarruk ( tahiyyat akhir ). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.

Manfaat: Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius. Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih ( urethra ), kelenjar kelamin pria ( prostata ) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ – organ gerak kita.

SALAM

Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.

Manfaat: Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah. BERIBADAH secara, kontinyu bukan saja menyuburkan iman, tetapi mempercantik diri wanita luar dan dalam. []


Pranala luar:
1. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/08/10/m8j9ks-inilah-manfaat-dan-rahasia-di-balik-gerakan-shalat-1
2. https://manfaat.co.id/manfaat-gerakan-sholat-untuk-kesehatan-tubuh
3. https://www.lihat.co.id/top-10/manfaat-gerakan-sholat.html
4. https://www.youtube.com/watch?v=5Odcx0AQp4E

Palestina (Al Quds) Dalam Bahaya Besar

View Article

Zionis Yahudi dan Amerika sedang melakukan upaya untuk mencaplok AlQuds. Mereka berusaha keras untuk menjadikan alquds sebagai Ibu Kota Israel. Beberapa hari yang lalu Presiden Amerika, Donald Trump mengatakan “Sepertinya saya akan berkunjung ke AlQuds di bulan ini, untuk memindahkan Kedutaan Amerika dari Tel Aviv.” Sebelumnya Amerika juga telah mengumumkan bahwa waktu pemindahan Kedutaan Amerika dari Tel Aviv akan direalisasikan pada tanggal 14 Mei sekarang.

Deklarasi ini akan mengundang reaksi besar dari Rakyat Palestina khususnya. Bahkan, dari negara Arab dan Internasional, termasuk reaksi dari jutaan Masyarakat di Indonesia. Karena keputusan Amerika adalah standar ganda dan tidak berkesesuaian dengan hukum internasional.

Al Quds dalam bahaya besar jika Zionis berhasil menjadikannya sebagai Ibu Kota Israel.

Jika AlQuds menjadi ibu kota Israel berarti Israel akan dengan mudah melakukan penghancuran Masjid Al-Aqsa dan upaya pendirian ‘kuil solomon’ seperti yang mereka klaim.

Jika AlQuds menjadi Ibu Kota Israel berarti mereka bebas mengusir siapapun yang tidak memiliki kartu identitas Israel di kota AlQuds dan mengusir seluruh penduduk asli yang ada disana.

Jika AlQuds menjadi Ibu Kota Israel maka secara otomatis seluruh hak Palestina dan Umat Islam direbut. Yang seharusnya bangsa Palestina, Arab dan Islam bebas berziarah untuk datang ke salah satu tempat suci di kota AlQuds. dengan dalih menjaga keamanan ibu kota yang menjadi barometer stabilitas sebuah negara, maka hak ziarah itu dengan mudah akan dihapus Israel.

Jika AlQuds menjadi Ibu Kota Israel maka AlQuds akan dikendalikan sesuai dengan kemauan mereka. Termasuk berhak melakukan perluasan dan membangun Ibu Kota-nya sesuai keinginan mereka. Dengan dalih karena kini AlQuds telah menjadi ibukota Israel. Seluruh kebijakan internasional tentang (kewajiban) menjaga warisan sejarah islam, kristen dan penisbahan kepada pemiliknya tidak lagi berlaku.

Jika AlQuds menjadi Ibu Kota Israel maka dengan mudah mereka akan mendirikan pangkalan militer di AlQuds, Serta mengirim tentara Israel secara resmi ke seluruh penjuru kota dengan sesukanya kapanpun dan dengan cara apapun.

Jika AlQuds menjadi Ibu Kota negara Israel, maka semua bentuk rekomendasi dari internasional, negara-negara Arab dan Islam akan mereka hiraukan. karena (mereka menganggap) rekomendasi merupakan bagian dari penjajahan.

Jika AlQuds menjadi Ibu Kota Israel maka mereka akan mengabaikan seluruh berkas dan berbagai dokumen resmi kepemilikan warga AlQuds untuk dikuasai Israel dan dianggap sebagai hak milik negara.

Dan tentunya masih banyak bahaya-bahaya lain akibat dari pencaplokan ibu kota Palestina oleh Israel.

Belakangan ini kita melihat rakyat Palestina berjuang dengan keras. Tidak sedikit korban meninggal dunia dan korban luka di jalur Gaza karena bergabung dalam aksi kepulangan massal. Aksi tersebut adalah bentuk penolakan atas rencana Jahat Yahudi Israel dan Amerika. Baik menolak rencana pencaplokan AlQuds ataupun rencana “deal of Century”. Jika kedua rencana itu berhasil diwujudkan penjajah. Maka mimpi buruk menanti masa depan Palestina dan bisa menjadi mimpi buruk bagi Umat Islam.

Akankah Umat Islam membiarkan Palestina berjuang sendirian.? Rakyat Palestina adalah ujung tombak dalam perjuangan ini. Perlu kita pahami bersama bahwa ujung tombak tidak akan mampu melesat dengan kuat tanpa adanya tangkai panjang yang memberikan daya dobrak dan kekuatan.

Palestina tidak akan memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan Zionis sendirian. Umat Islam harus menjadi tangkai panjang yang memberi kekuatan untuk rakyat Palestina yang berperan sebagai ujung tombak dalam perjuangan ini. []


KIRIM DONASI ANDA UNTUK PALESTINA VIA AKSI CEPAT TANGGAP & RUMAH ZAKAT
SILAHKAN KLIK DISINI & DISINI

Oleh Hanafie Attazikie
Ketua AlQuds Amanati Indonesia.
Anggota Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis.
Dipublikasikan oleh ummatpost

Bendera Israel Dikibarkan di Papua, HNW: Mestinya Pelaku Tak Dibiarkan

View Article

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid (HNW) menyayangkan adanya aksi sejumlah warga di Papua membawa bendera Israel dalam sebuah konvoi.

Aksi yang terekam dalam sebuah video viral di media sosial, menurut HNW bertentangan dengan semangat masyarakat Internasional yang mengutuk aksi terorisme Israel terhadap Palestina.

“Dunia Internasional kecam Israel yang menteror warga Palestina (dengan bunuh lagi puluhan dan lukai ratusan). Eh di Papua, sebagian WNI malah konvoi kibarkan bendera teroris Israel,” kata Hidayat melalui akunnya @hnurwahid, Kamis (17/5/2018).

Apalagi, lanjut HNW, kondisi di Indonesia sedang marak aksi terorisme, aksi mengibarkan bendera Israel tidak pantas dilakukan.
“Polisi kita sedang jadi target teroris, mestinya pelaku pengibaran bendera teroris Israel tak dibiarkan,” tandas Politisi PKS tersebut.

Diketahui, Video berdurasi 1 menit 1 detik tersebut viral di media sosial dan aplikasi percakapan Whatsapp. Di dalam video nampak sejumlah kendaraan melintas.

Sebagian besar orang di dalam kendaraan itu mengibarkan bendera Israel. Dalam keterangan yang menyertai video itu, hal itu terjadi di Jayapura. []


red: adhila
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Kamis, 17 Mei 2018

Meniru Sikap Imam Syafi’i Dalam Menghadapi Orang Bodoh

View Article

Imam Syafi’i adalah seorang Ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat dalam permasalahan agama.

Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata : “Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandainnya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).

Imam Syafi’i adalah seorang Ulama pembela sunnah, sehingga tentu saja pada waktu itu banyak orang sesat yang memusuhinya, karena cela’an Imam Syafi’i terhadap kesesatan mereka.

Berikut perkata’an Imam Syafi’i terhadap mereka.

Imam Syafi’i berkata :

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ

Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

Akupun enggan untuk menjawabnya

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

(Diwân Imam Asy-Syâfi’iy).

– Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”. (Diwan Asy-Syafi’i, hal. 156).

– Imam Syafi’i juga berkata : ”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing”.

• Imam Syafi’i tidak mau berdebat dengan orang bodoh

Walaupun Imam Syafi’i dikenal sebagai ahli debat, tapi Imam Syafi’i tidak mau apabila harus berdebat dengan orang-orang bodoh.

Imam Syafi’i berkata :

ﺍﺫَﺍ ﻧﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ

Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi

ﻓﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳﻤُﻮْﺕُ

Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati

ﻗﺎﻟُﻮْﺍ ﺳﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ

Apabila ada orang bertanya kepadaku, jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??

Jawabku kepadanya : Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

Sikap diam terhadap orang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??

(Diwan As-Syafi’i, karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i).

• Sulitnya berdebat dengan orang bodoh menurut Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i berkata :

“Aku mampu berhujah dengan 10 orang yang berilmu, tapi aku pasti kalah dengan seorang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah faham landasan ilmu”.

• Imam Syafi’i berdebat bukan untuk mencari kemenangan.

Imam Syafi’i berkata :

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”. (Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar).

Imam Syafi’i adalah seorang Ulama pembela sunnah, sehingga tentu saja pada waktu itu banyak orang sesat yang memusuhinya, karena cela’an Imam Syafi’i terhadap kesesatan mereka.

Berikut perkata’an Imam Syafi’i terhadap mereka, orang-orang bodoh.

– Imam Syafi’i berkata :

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ

Orang jahil berbicara kepadaku dengan segenap kejelekan

فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

Akupun enggan untuk menjawabnya

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا

Dia semakin bertambah kejahilan dan aku semakin bertambah kesabaran

كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

Seperti gaharu dibakar, akan semakin menebar kewangian.

(Diwân Imam Asy-Syâfi’iy).

– Imam Syafi’i berkata :

“Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek. Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi”. (Diwan Asy-Syafi’i, hal. 156).

– Imam Syafi’i juga berkata :

”Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi singa meladeni anjing”.

– Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﺼﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟﺼﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

Sikap diam terhadap orang bodoh adalah suatu kemulia’an. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.

Lalu Imam Syafi’i berkata :

ﻭﺍﻟﻜﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟﻌﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??

(Diwan As-Syafi’i, karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i).

Rabu, 16 Mei 2018

3.9 Triliun Pajak Air Freeport Dihapus, Masyarakat Papua Murka!

View Article

Freeport memenangkan perkara melawan Pemprov Papua di tingkat Peninjauan Kembali (PK). Alhasil, Freeport lolos dari beban kewajiban pajak air sebesar Rp 3,9 triliun. Apa alasan Mahkamah Agung (MA) memenangkan Freeport?

Putusan ini diketok oleh ketua majelis Hary Djatmiko dengan anggota Yosran dan Is Sudaryono. Ketiganya mengalahkan Gubernur Papua soal tagihan pajak berdasarkan tagihan Surat Ketetapan Pajak Daerah Pajak Air Permukaan dari Pemprov Papua berdasarkan Peraturan Pemerintah Daerah Provinsi Papua Nomor 4 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.

Berikut empat alasan MA memenangkan Freeport sebagaimana dikutip dari putusan MA, Senin (23/4/2018):

1. Terkait doktrin hukum kontrak, bahwa Kontrak Karya antara Freeport dengan Pemerintah RI, yang telah disetujui oleh Pemerintah RI setelah mendapat rekomendasi DPR dan departemen terkait, mengikat dari Pemerintah Pusat sampai Pemerintah Daerah. Oleh karena itu, sesuai pula dengan surat dari Menteri Keuangan Nomor S-1032/MK.04/1988 tanggal 15 Desember 1998, bersifat khusus yaitu lex spesialis derigat lex generalis dan berlaku sebagai UU bagi pembuatnya. (Vide pasal 1338 ayat 1 KUHPerdata).

2. Sifat kekhususan memiliki yurisdiksi dan kedudukan perlakuan hukum sama tanpa ada pembedaan perlakukan dalam pelayanan hukum.

3. Perikatan atau perjanjian itu harus dilaksanakan dengan itikad baik (pasal 1338 ayat 3 KUHPerdata.

4. Bahwa perkara a quo pada dasarnya merupakan kebijakan fiskal yang merupakan otoritas pemerintah pusat (dalam hal ini Menteri Keuangan sebagai mandatory). Hal ini secara historis dpat dibaca dalam Penjelasan UU PRDR (vide UU Nomor 18/1997 ho UU Nomor 34/2000), yang menyatakan: kebijakan perpajakan antara pemerintah pudat dan pemerintah daerah pada hakikatnya merupakan sistem dan bagian dari suatu kebijakan fiskal nasioan' dan oleh karenanya terbanding (sekarang termohon Peninjauan Kembali) dalam perkawa a quo tidak dapat dipertahankan karena tidak seduai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Pasal 32 dan pasal 33A ayat 4 UU Pajak Penghasilan jo Penjelasan pasal 13 UU Nomor 24/2000 tentang Perjanjian Internasional articel 27 Vienna Conventioon, jo Pasal 13 Kontrak Karya, jo Surat Menteri Keuangan Nomor S-604/MK.017/1998.

Oleh sebab itu, MA menghapus seluruh kewajiban pajak air Freeport. Berikut daftar putusan dan pajak yang dianulir yang tersebar dalam 11 perkara:

1. Perkara Nomor 319 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Februari 2014 Rp 333.849.600.000

2. Perkara Nomor 320 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Maret 2014 Rp 369.619.200.000

3. Perkara Nomor 327 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Oktober 2014 Rp 369.619.200.000

4. Perkara Nomor 328 B/PK/Pjk/2018
November 2014 Rp 357.696.000.000

5. Perkara Nomor 329 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Desember 2014 sejumlah Rp 369.619.200.000,00

Baca juga: MA Hapus Pajak Air Freeport Rp 3,9 Triliun

6. Perkara Nomor 330 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Januari 2015 sebesar Rp 369.619.200.000

7. Perkara Nomor 331 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Februari 2015 sebesar Rp333.849.600.000

8. Perkara Nomor 332 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Maret 2015 sebesar Rp 369.619.200.000

9. Perkara Nomor 333 B/PK/Pjk/2018
Pajak air April 2015 sebesar Rp 357.696.000.000

10. Perkara Nomor 334 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Mei 2015 sebesar Rp 369.619.200.000

11. Perkara Nomor 335 B/PK/Pjk/2018
Pajak air Juni 2015 Rp 357.696.000.000;


Pranala luar:
1. https://news.detik.com/berita/d-3985365/4-alasan-ma-hapus-pajak-air-freeport-rp-39-triliun
2. https://news.detik.com/berita/d-3987224/pajak-air-freeport-rp-39-t-dihapus-ma-papua-kita-pantang-mundur
3. https://news.detik.com/berita/d-3981891/ma-hapus-pajak-air-freeport-rp-39-triliun
4. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180419205210-92-292107/papua-kehilangan-pajak-air-tanah-freeport-rp25-triliun

Media Berperan pada Trauma Masyarakat Pasca Teror, Waspada Framing Negatif

View Article

Pasca kasus teror bom di Surabaya yang terjadi pada Minggu (14/05/2018) dan Senin (15/05/2018), banyak warga masyarakat yang kemudian takut untuk melakukan beberapa aktivitas di luar rumah.

Salah satu penyebabnya adalah banyaknya pemberitaan di media massa dan sosial media. Tri Hadi, psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) JAYA memberikan pendapatnya terkait hal ini.

"Ini bisa digolongkan secondary trauma/vicarious trauma," ungkap Tri kepada Kompas.com melalui pesan singkat pada Senin (15/05/2018). Vicarous trauma sendiri terjadi secara tidak langsung.

Dengan kata lain, masyarakat menjadi korban tidak langsung dari teror bom di Surabaya beberapa waktu lalu. Selain bisa menyebabkan trauma, media juga dapat berperan besar dalam pulihnya trauma yang dialami masyarakat.

Media dalam hal ini bukan hanya media massa tapi juga media sosial.

Banyak Hoaks

Ratih Ibrahim, seorang pikolog sekaligu penggiat Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengimbau kepada siapa saja untuk tidak menyebarkan berita yang belum diverifikasi.

"Supaya kita tidak menyebarkan hoaks. Karena hoaks itu sendiri menjadi paparan trauma yang lebih besar," katanya. Selain itu, menurutnya ketika seorang menyebarkan berita, kita harus bertanggung jawab atas berita yang disebarkan.

Dampaknya seperti apa, kan ada orang yang justru secara sengaja menyebarkan kengerian-kengerian lantaran impact dari sensasinya itu awarding buat dia," kata Ratih. "Jadi kalau orang takut, orang ngeri, orang kuatir menjadi materi dia untuk kasak kusuk.

Belum lagi respons baliknya ke dia membuat dia lebih senang," tambahnya. Menurut Ratih, hal ini berkaitan dengan pribadi orang yang menyebarkan berita. Pendapat serupa juga diungkapkan Tri. "Oleh karena perlu hati-hati dalam memberitakan atau menyebarkan informasi," kata Tri.

Pemberitaan Media Massa

Sedangkan untuk menjaga agar trauma masyarakat tidak menjadi lebih berat, media juga perlu memperhatikan porsi pemberitaan. Ratih mengatakan, cara pemberitaan, obyektivitas, kalimat, dan framing yang digunakan bisa membantu pemulihan trauma masyarakat.

Media juga perlu memunculkan harapan untuk membantu masyarakat merasa lebih aman. "Kita menggelontorkan gerak anti-teroris, bahwa semua bangsa bersatu melawan teroris itu memberikan harapan. Ini lho kita sama-sama nih," kata Ratih "Apresiasi terhadap korban dihargai sebagai martir.

Itu kan ada empati di situ. Itu membantu (masyarakat) untuk sembuh (dari trauma)," tambahnya. Selain itu, menumbuhkan harapan bahwa keadaan akan segera aman. Bukti dari harapan tersebut juga membantu masyarakat untuk lebih tenang. "Penanganan-penanganan sesuai dengan hukum yang dilakukan dan secara cepat, tanggap, dan tegas. Itu juga membantu masyarakat pulih kembali," kata Ratih. "Karena ada jaminan rasa aman tadi, dan harapan rasa aman," tambahnya.

Bentengi Diri

Selain dari orang yang menyebarkan berita dan media, benteng diri sendiri juga diperlukan dalam mengatasi trauma pada masyarakat. "Pertama penting untuk tetap bersikap hati-hati dan waspada, serta mengikuti pengumuman atau informasi dari pihak-pihak resmi dan kredibel seperti pemerintah," ungkap Tri.

"Jangan bergantung pada sumber informasi dari media atau jejaring sosial," tegas Tri. Selain itu, Tri juga mengingatkan untuk selalu mengkonfirmasi sumber berita. Tidak langsung percaya pada berita yang beredar juga penting untuk menjaga kita tidak mudah panik atau paranoid.

"Kedua, penting juga untuk membatasi akses informasi negatif. Jangan terlalu ingin tahu dan terus menerus melihat berita atau tayangan terorisme," ujar Tri. "Itu akan memicu kecemasan berlebih dan menciptakan distorsi penghayatan realita (menganggap keadaan lebih buruk dari realita sebenarnya karena dibanjiri informasi negatif)," sambungnya.

Tri menekankan untuk memfokuskan diri pada aktivitas sehar-hari yang biasa dilakukan untuk mengurangi ketegangan. "Jika tidak ada pengumuman resmi maka silakan tetap mengunjungi tempat-tempat keramaian dan melakukan aktivitas normal," imbuhnya. []

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Media Berperan pada Trauma Masyarakat Pasca Teror Bom Surabaya", https://sains.kompas.com/read/2018/05/15/190000623/media-berperan-pada-trauma-masyarakat-pasca-teror-bom-surabaya.

Penulis : Resa Eka Ayu Sartika
Editor : Yunanto Wiji Utomo

Selasa, 15 Mei 2018

Berdialog Dengan Teroris

View Article

Setan memiliki dua pintu masuk untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Jika seseorang banyak melanggar dan berbuat maksiat, setan akan menghiasi maksiat dan nafsu syahwat untuk orang tersebut agar tetap jauh dari ketaatan. Sebaliknya jika seorang hamba taat dan rajin ibadah, setan akan membuatnya berlebihan dalam ketaatan, sehingga merusak agamanya dari sisi ini. Para ulama menyebut godaan jenis pertama sebagai syahwat, dan yang kedua sebagai syubhat. Meski berbeda, keduanya saling berkaitan. Syahwat biasanya dilandasi oleh syubhat, dan syubhat bisa tersemai dengan subur di ladang syahwat. [1]

Masing-masing dari dua penyakit ini membutuhkan cara penanganan khusus. Ibnul Qayyim mengatakan: “Godaan syubhat ditangkis dengan keyakinan (baca: ilmu), dan godaan syahwat ditangkis dengan kesabaran.”[2] Untuk menekan penyakit syahwat seperti zina, mabuk, pencurian, dan perampokan, agama Islam mensyariatkan hudud, berupa hukuman-hukuman fisik semacam cambuk, rajam dan potong tangan. Islam tidak mensyariatkan hudud untuk penyakit syubhat seperti berbagai bid’ah dan pemikiran menyimpang, karena syubhat tidak mudah disembuhkan dengan hudud, tapi lebih bisa diselesaikan dengan penjelasan dan ilmu. Meski demikian, kadang-kadang juga diperlukan hukuman fisik untuk menyembuhkan penyakit syubhat.

Mengikis syubhat dan berdiskusi dengan pemiliknya telah dilakukan oleh para ulama sejak zaman dahulu. Kadang-kadang mereka melakukannya dengan menulis surat, risalah, atau kitab dan kadang-kadang dengan berdialog langsung . Di samping melindungi umat dari syubhat yang ada, hal tersebut juga dimaksudkan untuk menasehati pemilik syubhat agar bisa kembali ke jalan yang benar.

Khusus pemikiran kelompok Khawarij yang identik dengan terorisme, ada beberapa kisah nasehat yang terkenal dari generasi awal umat Islam. Di antaranya kisah Ibnu Abbas – radhiyallah ‘anhuma – yang mendatangi kaum Khawarij untuk meluruskan beberapa pemahaman agama mereka yang menyimpang. Setelah diskusi yang cukup singkat dengan mereka, sebanyak dua ribu orang tobat dari kesalahan pemikiran mereka.[3] Juga kisah Jabir bin Abdillah – radhiyallah ‘anhuma – yang dikunjungi beberapa orang yang tertarik dengan pemikiran Khawarij dan berencana melakukan aksi mereka di musim haji. Mereka bertanya kepada Jabir tentang pemahaman mereka terhadap ayat dan hadits, dan akhirnya semua rujuk dari pemikiran Khawarij kecuali satu orang.

Dua kisah ini menunjukkan bahwa nasehat dan diskusi sangat bermanfaat untuk mengobati penyakit syubhat ini. Riwayat tersebut juga menunjukkan bahwa jika pemilik syubhat tidak datang sendiri mencari kebenaran –seperti dalam kisah Jabir-, kita dianjurkan untuk mendatangi mereka, seperti dalam kisah Ibnu Abbas.

Dalam banyak kasus terorisme di Indonesia, ditemukan banyak pelaku teror yang sebelumnya pernah menjadi terpidana kasus terorisme. Setelah di penjara dan menjalani hukuman, mereka tidak insaf, dan kembali ke pemikiran dan perilaku mereka semula. Terlepas dari faktor hidayah, hal tersebut sangat mungkin karena penanganan yang salah atau tidak optimal. Kesalahan pemikiran yang mereka miliki termasuk dalam kategori syubhat, sehingga hukuman fisik yang mereka dapatkan di penjara, atau hukuman sosial berupa pandangan miring masyarakat tidak lantas membuat mereka jera dan insaf. Mereka menganggap aksi mereka sebagai ibadah yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan hukuman yang mereka dapatkan di dunia adalah konsekuensi ketaatan yang semakin menambah pundi pahala mereka.

Kondisi seperti ini menuntut pemerintah dan ulama untuk memikirkan solusi yang lebih baik, agar terorisme bisa ditekan dengan lebih optimal. Tulisan singkat ini menawarkan sebuah solusi yang telah terbukti mujarab menekan pemikiran dan aksi terorisme berdasarkan pengalaman Kerajaan Arab Saudi.

Arab Saudi dan Terorisme

Seperti Indonesia, Arab Saudi adalah salah satu negara yang paling banyak dibicarakan saat orang membahas terorisme. Berita kematian Usamah bin Ladin akhir-akhir ini juga membuat Arab Saudi kembali dibicarakan. Sebelumnya, banyak sekali peristiwa seputar terorisme yang telah terjadi di negeri yang membawahi dua kota suci umat Islam ini.

Pada 12 Mei 2003, dunia dikejutkan dengan peristiwa peledakan besar di ibukota negeri tauhid ini. Pemboman terjadi beriringan di tiga kompleks perumahan di kota Riyadh, dan mewaskan 29 orang termasuk 16 pelaku bom bunuh diri dan melukai 194 orang. Pemboman di Wadi Laban (Provinsi Riyadh) pada 8 November 2003 menewaskan 18 orang dan melukai 225 orang. Pada 21 April 2004, sebuah bom bunuh diri meledak di Riyadh dan menewaskan 6 orang dan melukai 144 orang lainnya. Sementara pada 1 Mei 2004, 4 orang dari satu keluarga menyerang sebuah perusahan di Yanbu dan membunuh 5 pekerja bule, dan melukai beberapa pekerja lain. Saat dikejar, mereka membunuh seorang petugas keamanan dan melukai 22 lainnya.

Koran ASHARQ AL-AWSAT telah merangkum peristiwa yang berhubungan dengan terorisme di Arab Saudi dalam setahun sejak pemboman 12 Mei 2003, dan melihat daftar panjang peristiwa itu, barangkali bisa dikatakan bahwa tidak ada negara yang mendapat ancaman teror sebesar dan sebanyak Arab Saudi [4]. Hal ini merupakan bantahan paling kuat untuk mereka yang mengatakan bahwa ideologi terorisme didukung oleh negeri ‘Wahhabi’, karena justru Arab Saudi yang menjadi sasaran utama para teroris.

Para teroris juga telah berulang kali menyerang petugas keamanan. Sudah banyak petugas keamanan yang menjadi korban aksi mereka. Sudah tidak terhitung lagi aksi baku tembak antara teroris dengan petugas keamanan. Kota suci Makkah dan Madinah pun tidak selamat dari aksi-aksi ini. Bahkan ada beberapa tokoh agama yang terang-terangan memfatwakan bolehnya aksi-aksi ini. Terlepas dari objektifitas Amerika dan sekutunya, warga negara Arab Saudi termasuk penghuni terbesar kamp penjara Amerika Serikat di Teluk Guantanamo.

Tapi tampaknya hal itu sudah menjadi masa lalu. Isu terorisme di Arab Saudi dalam beberapa tahun belakangan didominasi oleh keberhasilan pemerintah menggagalkan aksi-aksi terorisme, penyergapan-penyergapan dini, rujuknya para mufti aksi terorisme dan taubatnya orang-orang yang pernah terlibat aksi teror.

Di samping itu ada kampanye besar-besaran melawan terorisme yang dilakukan pemerintah melalui berbagai media massa, penyuluhan-penyuluhan, seminar-seminar, khutbah dan ceramah, sehingga saking gencarnya barangkali terasa membosankan. Selain petugas keamanan yang telah bekerja keras, ada satu lembaga yang menjadi primadona dalam kampanye penanggulangan terorisme di arab Saudi, yaitu Lajnah al-Munashahah (Komite Penasehat).

Apa itu Lajnah al-Munashahah?

Lajnah al-Munashahah yang berarti Komite Penasehat mulai dibentuk pada tahun 2003 dan bernaung dibawah Departemen Dalam Negeri (dibawah komando Deputi II Kabinet dan Menteri Dalam Negeri, Pangeran Nayif bin Abdul Aziz) dan Biro Investigasi Umum. Tugas utamanya adalah memberikan nasehat dan berdialog dengan para terpidana kasus terorisme di penjara-penjara Arab Saudi. Lajnah al-Munashahah memulai kegiatannya dari Riyadh sebagai ibukota, kemudian memperluas cakupannya ke seluruh wilayah Arab Saudi.[5]

Lajnah al-Munashahah terdiri dari 4 komisi, yaitu:

1. Lajnah ‘Ilmiyyah (komisi ilmiah) yang terdiri dari para ulama dan dosen ilmu syari’ah dari berbagai perguruan tinggi. Komisi ini yang bertugas langsung dalam dialog dan diskusi dengan para tahanan kasus terorisme.
2. Lajnah Amniyyah (komisi keamanan) yang bertugas menilai kelayakan para tahanan untuk dilepas ke masyarakat dari sisi keamanan, mengawasi mereka setelah dilepas, dan menentukan langkah yang sesuai jika ternyata masih dinilai berbahaya.
3. Lajnah Nafsiyyah Ijtima’iyyah (komisi psikologi dan sosial) yang bertugas menilai kondisi psikologis para tahanan dan kebutuhan sosial mereka .
4. Lajnah I’lamiyyah (komisi penerangan) yang bertugas menerbitkan materi dialog dan melakukan penyuluhan masyarakat. [6]

Teknik dialog

Hampir tiap hari Lajnah al-Munashahah bertemu dengan para tahanan kasus terorisme. Kegiatan memberi nasehat ini didominasi oleh dialog terbuka yang bersifat transparan dan terus terang. Sesekali dialog tersebut diselingi dengan canda tawa yang mubah agar para tahanan merasa tenang dan menikmati dialog.

Ada juga kegiatan daurah ilmiah berupa penataran di kelas-kelas dengan kurikulum yang menitikberatkan pada penjelasan syubhat-syubhat para tahanan, seperti masalah takfir (vonis kafir), wala’ wal bara’ (loyalitas keagamaan), jihad, bai’at, ketaatan kepada pemerintah, pejanjian damai dengan kaum kafir dan hukum keberadaan orang kafir di Jazirah Arab.[7]

Kegiatan dialog biasanya dilakukan setelah Maghrib dan kadang berlangsung sampai larut malam. Agar efektif, dialog tidak dilakukan secara kolektif, tapi satu per satu. Hanya satu tahanan yang diajak berdialog dalam setiap kesempatan agar ia bisa bebas dan leluasa berbicara, dan terhindar dari sisi negatif dialog kolektif.

Pada awalnya banyak tahanan yang takut untuk berterus terang mengikuti program dialog ini, karena mereka menyangka bahwa dialog ini adalah bagian dari investigasi dan akan berdampak buruk pada perkembangan kasus mereka. Namun begitu merasakan buah manis dialog, mereka sangat bersemangat dan berlomba-lomba mengikutinya.[8]

Mereka segera menyadari bahwa dialog ini justeru menguntungkan mereka. Sebagian malah meminta agar mereka sering diajak dialog setelah melihat keterbukaan dalam dialog dan penyampaian yang murni ilmiah (dipisahkan dari investigai kasus) dan bermanfaat dalam meluruskan pemahaman salah (syubhat) yang melekat di pikiran meraka. Rupanya mereka telah menemukan bahwa ilmulah obat yang mereka cari, dan merekapun dengan senang hati meminumnya.[9]

Pada umumnya, mereka memiliki tingkat pendidikan rendah, tapi memiliki kelebihan pada cabang ilmu yang mereka minati. Mereka –yang sekitar 35 % pernah tinggal di wilayah konflik- mudah termakan oleh pemikiran dan fatwa yang menyesatkan. Ketika dihadapkan pada ulama yang mumpuni dan ilmu yang benar, mereka menyadari kesalahan pemahaman mereka. Melalui dialog ini Lajnah al-Munashahah menjelaskan pemahaman yang benar terhadap dalil, membongkar dalil-dalil yang dipotong atau nukilan-nukilan yang tidak amanah.[10]

Setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, banyak tahanan yang menyatakan bahwa selama ini seolah-olah mereka mabuk. Banyak yang mengaku bahwa mereka mulai mengenal pemikiran terorisme dari kaset-kaset “Islami” (tentu saja Islam berlepas diri darinya), ceramah-ceramah yang menggelorakan semangat dan menyentuh emosi keagamaan mereka, juga fatwa-fatwa penganut terorisme. Tambahan gambar-gambar, cuplikan-cuplikan audio-visual dan tambahan efek pada kaset dan video ikut berpengaruh memainkan perasaan. Hal ini jika tidak dikelola dengan baik bisa menjadi badai yang berbahaya.

Rekaman-rekaman seperti inilah sumber ‘ilmu’ mereka, dan oleh karenanya disebarkan dengan intens di internet oleh pengusung pemikiran teror. Setelah mereka jatuh dalam perangkap pemikiran ini, biasanya mereka dilarang untuk mendengarkan siaran radio al-Quran al-Karim, radio pemerintah yang didukung penuh oleh para ulama besar Arab Saudi. Hal ini dimaksudkan untuk memutus akses para pemuda ini dari para ulama.[11]

Program dan Sarana Penunjang

Program dialog juga ditunjang dengan pemenuhan kebutuhan fisik para tahanan. Berbeda dengan metode Guantanamo yang menyiksa, para tahanan justru diberikan keleluasaan dalam memenuhi kebutuhan gizi mereka dan melakukan kegiatan refreshing.

Akses kunjungan keluarga dibuka lebar-lebar, karena hubungan yang baik dengan keluarga adalah faktor penting yang mendorong mereka keluar dari pemikiran rancu mereka. Bahkan saat dilepas, pemerintah memberikan mereka rumah, membiayai kebutuhan anak-anak mereka, bahkan membantu menikahkan mereka yang belum menikah. Intinya, mereka dibuat sibuk dengan tanggung jawab keluarga, sehingga tidak lagi tergoda untuk kembali ke aktifitas negatif yang dahulu mereka lakukan atau persahabatan buruk yang membuat mereka jatuh dalam syubhat. Keluarga mereka juga mendapat arahan khusus untuk mendukung program ini dan menjaga agar keberhasilan munashahah (upaya untuk menasehati) di penjara tidak pudar di rumah.[12]

Sebelum dilepas kembali ke masyarakat, para tahanan ditempatkan di pusat-pusat pembinaan berupa villa-villa peristirahatan tertutup yang memiliki fasilitas lengkap berupa kelas-kelas pembinaan dan sarana olahraga. Di pusat pembinaan yang dinamai Prince Mohammed Bin Naif Center for Advice and Care ini, program dialog tetap berjalan, ditambah kegiatan-kegiatan pemasyarakatan seperti pelatihan seni rupa dan kursus ketrampilan berijazah. Secara berkala, mereka juga diberi kesempatan untuk berkunjung ke rumah keluarga mereka untuk jangka waku tertentu dengan pengawasan.[13]

Sangat Berhasil, Tapi Kadang Gagal

Program munashahah ini telah mencapai keberhasilan yang luar biasa. Banyak teroris yang berhasil diluruskan kembali pemikiran dan akidahnya sehingga bisa kembali diterima masyarakat. Hanya sedikit sekali yang yang kembali ke jalan terorisme dari ribuan orang telah mengikuti dialog.

Zabn bin Zhahir asy-Syammari, eks tahanan Guantanamo yang telah mengikuti program munashahah mengatakan bahwa program ini telah berhasil dengan baik dan orang-orang yang mengikutinya telah memetik faedah yang besar. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih atas diadakannya program yang penuh berkah ini.[14]

Tapi seperti usaha manusia yang lain, dialog ini juga kadang menemui kegagalan. Salah satu kegagalan yang masyhur adalah kembalinya 7 eks tahanan Guantanamo ke pemikiran mereka selepas dari penjara. Allah tidak membukakan hati mereka untuk nasehat yang telah disampaikan. Sebabnya bisa jadi karena pemikiran takfir sudah mendarah daging pada diri mereka, atau tidak terwujudnya beberapa faktor pendukung dalam dialog. Ada juga yang berpura-pura setuju dengan apa yang disampaikan Lajnah Munashahah secara lahir saja, tanpa kesungguhan batin.[15]

Menurut Abdul Aziz al-Khalifah, anggota Lajnah al-Munashahah, ada tahanan yang penyimpangannya karena ketidaktahuan atau karena terpedaya. Orang seperti ini akan mudah diajak dialog dan cepat menyadari kesalahan. Ada juga yang penyimpangannya terbangun di atas prinsip yang menyimpang atau kesesatan yang sudah lama dipeluknya. Yang demikian lebih sulit dan membutuhkan usaha ekstra.[16]

Namun kegagalan kecil ini tidaklah mengurangi kegemilangan Kerajaan Arab Saudi dalam menumpas terorisme. Bagi pemerintah Arab Saudi, pemikiran tidak cukup dihadapi dengan senjata, tapi juga harus dilawan dengan pemikiran[17]. Dunia internasionalpun mengakui keberhasilan ini. Masyarakat dunia menyebutnya sebagai “Strategi Halus Saudi” atau “Kekuatan Yang Lembut”. Sudah banyak pula negara yang belajar dari pengalaman Arab Saudi dan mentransfernya ke negara mereka.[18]

Penutup: Bagaimana dengan Indonesia?

Banyak kesamaan antara Indonesia dan Arab Saudi. Keduanya adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim, dan pemerintahnya sama-sama divonis kafir oleh para pengusung paham terorime. Para tokoh teror Indonesia juga banyak terpengaruh oleh para tokoh takfiri dari dunia Arab, yang banyak ditemui di wilayah-wilayah konflik dunia. Bagaimanapun, bangsa Arab tetap paling berpengaruh dalam ilmu agama Islam, baik ilmu yang benar ataupun yang salah. Karena itu, apa yang telah berhasil dipraktekkan di Arab Saudi insyaallah juga akan berhasil di Indonesia. Pemerintah RI perlu belajar dari keberhasilan ini dan mentransfernya ke bumi pertiwi, agar fitnah terorisme yang telah merusak citra Islam segera hilang atau paling tidak bisa ditekan secara berarti. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran! Wallahu a’lam. []



[1] Bi Ayyi ‘Aqlin wa Din Yakunu at-Tafjiru Jihadan?, Syaikh Abdul Muhsin al-Abad, hal. 3, at-Tahdzir min asy-Syahawat, ceramah Dr. Sulaiman ar-Ruhaili.
[2] Ighatsatul Lahafan, Ibnul Qayyim 2/167
[3] Sunan al-Baihaqi 8/179.
[4] Koran ASHARQ AWSAT edisi 9297, 12 Mei 2004. Lihat: http://www.aawsat.com/details.asp?article=233530&issueno=9297
[5] Wawancara Dr. Ali an-Nafisah, Dirjen Penyuluhan dan Pengarahan Kemendagri Arab Saudi di Koran al-Riyadh edisi 13.682.
[6] Markaz Muhammad bin Nayif lil Munashahah, Su’ud Abdul Aziz Kabuli, koran al-Watan edisi 3.257
[7] Taqrir: Markaz Muhammad bin Nayif lir Ri’ayah asy-Syamilah wal Munashahah, assakina.com, Markaz Muhammad bin Nayif lil Munashahah, Su’ud Abdul Aziz Kabuli, koran al-Watan edisi 3.257
[8] Wawancara Dr. Ali an-Nafisah, Koran al-Riyadh edisi 13.682.
[9] Wawancara Dr. Ali an-Nafisah, Koran al-Riyadh edisi 13.682.
[10] Wawancara Dr. Ali an-Nafisah, Koran al-Riyadh edisi 13.682.
[11] Taqrir: Markaz Muhammad bin Nayif lir Ri’ayah asy-Syamilah wal Munashahah, assakina.com, Wawancara Dr. Ali an-Nafisah di Koran al-Riyadh edisi 13.682.
[12] Markaz Muhammad bin Nayif lil Munashahah, Su’ud Abdul Aziz Kabuli, koran al-Watan edisi 3.257
[13] Taqrir: Markaz Muhammad bin Nayif lir Ri’ayah asy-Syamilah wal Munashahah, assakina.com
[14] Koran al-Riyadh edisi 14.848, Taqrir: Markaz Muhammad bin Nayif lir Ri’ayah asy-Syamilah wal Munashahah, assakina.com.
[15] Koran al-Riyadh edisi 14.848
[16] Koran al-Riyadh edisi 14.848.
[17] Markaz Muhammad bin Nayif lil Munashahah, Su’ud Abdul Aziz Kabuli, koran al-Watan edisi 3.257
[18] Koran al-Riyadh edisi 15.042.



Penulis: Anas Burhanuddin, Lc., MA.
Artikel https://muslim.or.id/6929-berdialog-dengan-teroris.html

Netizen Geram! Komentar Soal Teroris, Komedian Uus Justru Tulis ini

View Article

Komedian Uus acap kali menuliskan komentar tidak mengenakan dan menyulut kemarahan masyarakat karena kerap menghina ulama.

Seperti tahun 2017 lalu, Uus menyebut Habib Rizieq dengan sebutan ulama gadungan, kini pria bernama asli Rizky Firdaus Wijaksana menuding sejumlah ustad membawa ajaran radikal. Hal ini ditulis Uus di akun Twitternya.

@Uusbiasaaja: “Artis-artis yang udah hijrah ini. Seorang pria. Tetep laku. Endorsan banyak. Sering posting ustad favorit. Ternyata ustadnya menyimpan bibit radikal. Terus diem aja. Tida menyuarakan apapun. Takut dibully. Pengennya dipuji terus,” tulisnya.

Hal ini menimbulkan kemarahan netizen dan menduga jika Uus sengaja mencari sensasi karena sudah tidak laku lagi.

@tur_travel_: “Hati2 Us jgn smpe ditoyor Tuhan gr2 lo ngomong gt. Songong bgt. Dicuil Tuhan dikit aja lo bs kblinger apalagi smpe ditoyor. Trs msh mending kl lo yg ditegor. Kl tegorannya dtg ke anak lo, bs nangis darah lo nyesel udh sotoy komen kyk gitu. Lo masih bs napas dgn tenang jg ada bagian dr para ustadz yg slalu bdoa utk rakyat bangsa ini. Lo kira Tuhan mau dgrin doa org sotoy? Doa Org sombong? Yg ada Tuhan dgr doa org sholeh dan sholeah jg org2 yg terdzolimi. Lo ngrasa terdzholimi? Yg ada lo mendzholimi dgn berkomentar sperti itu. Menyakiti hati kami yg tidak terima guru kami dibilang seperti itu. Malu ah kl msh ngarep rejeki dr Tuhan tp seneg bgt nyinyirin pemuka agama. Sm aja kyk lo yg ilmunya masih SD tp sok2an komenin cara kerja nya dosen universitas.. banyak2 berkumpul sm org berilmu ya biar tau kalo teroris dan hal2 radikal itu tidak ada hubungannya dgn agama manapun.”
@buncha1825: “Hadeuh us… Br mulai kepake di tipi lagi… Jempol dah ga bs di kontrol… Nanti giliran ga laku tinggal nangis2 bilangnya di dzolimin… Minta maap… Anak jd ga punya duit jajan… Binik ga dpt uang belanja… Makanya us… Drpd nyinyir mending ikut ngaji.”

@fatimah.aulani: “Duh dia tuh sengaja kali mancing perhatian secara ketenarannya itu mulai redup alias udah ga tenar lagi.”

@garemrujakk: “Hate speech mulu deh nih orang, bilang aja syirik sama rejeki sesamanya yg sudah berhijrah. Kalo emank berani sebut nama2 orangnya jgn asal ngomong kalo emank katanya fakta.” (Dil/manaberita)

Wafatnya Rasulullah ﷺ

View Article

Rasulullah ﷺ kembali dari haji wada’ setelah Allah ﷻ menurunkan firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS:An-Nashr | Ayat: 1-3).

Setelah itu, Rasulullah ﷺ mulai mengucapkan kalimat dan melakukan sesuatu yang menyiratkan perpisahan. Beliau ﷺ bersabda pada haji wada’

لتأخذوا عني مناسككم لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا

“Pelajarilah dariku tata cara haji kalian, bisa jadi aku tidak berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini.” (HR. al-Bukhari, 4430).

Kemudian di Madinah, beliau berziarah ke makam baqi’, mendoakan keluarganya. Juga menziarahi dan mendoakan syuhada Perang Uhud. Beliau juga berkhotbah di hadapan para sahabatnya, berucap pesan seorang yang hendak wafat kepada yang hidup.

Pada akhir bulan Shafar tahun 11 H, Nabi ﷺ mulai mengeluhkan sakit kepala. Beliau merasakan sakit yang berat. Sepanjang hari-hari sakitnya beliau banyak berwasiat, di antaranya:

Pertama: Beliau ﷺ mewasiatkan agar orang-orang musyrik dikeluarkan dari Jazirah Arab (HR. al-Bukhari, Fathul Bari, 8/132 No. 4431).

Kedua: Berpesan untuk berpegang teguh dengan Alquran.

Ketiga: Pasukan Usamah bin Zaid hendaknya tetap diberangkatkan memerangi Romawi.

Keempat: Berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar.

Kelima: Berwasiat agar menjaga shalat dan berbuat baik kepada para budak.

Beliau ﷺ mengecam dan melaknat orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid. Lalu beliau melarang kubur beliau dijadikan berhala yang disembah.

Di antara pesan beliau ﷺ adalah agar orang-orang Yahudi dikeluarkan dari Jazirah Arab. Sebagaimana termaktub dalam Musnad Imam Ahmad, 1/195.

Beliau ﷺ berpesan kepada umatnya tentang dunia. Janganlah berlomba-lomba mengejar dunia. Agar dunia tidak membuat umatnya binasa sebagaiman umat-umat sebelumnya binasa karena dunia.

Dalam keadaan sakit berat, beliau tetap menjaga adab terhadap istri-istrinya, dan adil terhadap mereka. Nabi ﷺ meminta izin pada istri-istrinya untuk dirawat di rumah Aisyah. Mereka pun mengizinkannya.

Karena sakit yang kian terasa berat, Nabi ﷺ memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami masyarakat. Abu Bakar pun menjadi imam shalat selama beberapa hari di masa hidup Rasulullah ﷺ.

Sehari sebelum wafat, beliau bersedekah beberapa dinar. Lalu bersabda,

لا نورث، ما تركناه صدقة

“Kami (para nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah.” (HR. al-Bukhari dalam Fathul Bari, 12/8 No. 6730).

Pada hari senin, bulan Rabiul Awal tahun 11 H, Nabi ﷺ wafat. Hari itu adalah waktu dhuha yang penuh kesedihan. Wafatnya manusia sayyid anaknya Adam. Bumi kehilangan orang yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya.

Aisyah bercerita, “Ketika kepala beliau terbaring, tidur di atas pahaku, beliau pingsan. Kemudian (saat tersadar) mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berucap, ‘Allahumma ar-rafiq al-a’la’.” (HR. al-Bukhari dalam Fathul Bari, 8/150 No. 4463).

Beliau memilih perjumpaan dengan Allah ﷻ di akhirat. Beliau ﷺ wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyampaikan amanah.

Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat. Dunia terasa gelap bagi mereka. mereka bersedih karena berpisah dengan al-Kholil al-Musthafa. Hati-hati mereka bergoncang. Tak percaya bahwa kekasih mereka telah tiada. Hingga di antara mereka menyanggahnya. Umar angkat bicara, “Rasulullah ﷺ tidak wafat. Beliau tidak akan pergi hingga Allah memerangi orang-orang munafik.” (Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 8/146).

Abu Bakar hadir, “Duduklah Umar”, perintah Abu Bakar pada Umar. Namun Umar menolak duduk. Orang-orang mulai mengalihkan diri dari Umar menuju Abu Bakar. Kata Abu Bakar, “Amma ba’du… siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad ﷺ, maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat. Kemudian ia membacakan firman Allah,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS:Ali Imran | Ayat: 144).

Mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar, orang-orang seakan merasakan ayat itu baru turun hari itu. Mereka begitu larut dalam kesedihan. Mereka merasakan kosong. Bagaimana tidak, mereka ditinggal orang yang paling mereka cintai. Orang yang mereka rindu untuk berjumpa setiap hari. Orang yang lebih mereka cintai dari ayah, ibu, anak, dan semua manusia. Mereka lupa akan ayat itu. Dan mereka diingatkan oleh Abu Bakar, seorang yang paling kuat hatinya di antara mereka.

Penutup

Para ulama sepakat bahwa Nabi ﷺ wafat pada hari sendin tahun 11 H. Namun berbeda pendapat tentang tanggal wafatnya Nabi ﷺ. Mayoritasnya berpendapat tanggal 12 Rabiul Awal. Sebagian menyatakan tanggal 12 tidak tepat, karena haji wada’ terjadi pada hari Jumat. Melihat urut hari sejak itu, maka tanggal 12 Rabiul Awal tidak tepat jika dikatakan hari senin.

Perbedaan pendapat ulama juga terjadi pada tanggal kelahiran beliau ﷺ. Bahkan perbedaannya lebih banyak: antara tanggal 2 Rabi’ul Awal, tanggal 8, 10, 12, 17 Rabiul Awal, dan 8 hari sebelum habisnya bulan Rabi’ul Awal. Berdasarkan penelitian ulama ahli sejarah Muhammad Sulaiman Al Mansurfury dan ahli astronomi Mahmud Basya disimpulkan bahwa hari senin pagi yang bertepatan dengan permulaan tahun dari peristiwa penyerangan pasukan gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan 20 atau 22 april tahun 571, hari senin tersebut bertepatan dengan tanggal 9 Rabi’ul Awal. Allahu a’lam. []




Sumber:
– az-Zaid, Zaid bin Abdulkarim. 1424. Fiqh as-Sirah. Riyadh: Dar at-Tadmuriyah.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel: http://kisahmuslim.com/5347-wafatnya-rasulullah-%EF%B7%BA.html

43 Syahid dan 2238 Terluka dalam Aksi Sejuta Umat di Gaza

View Article

Sebanyak 43 orang gugur sebagai syuhada dan 2238 orang mengalami luka akibat tembakan serdadu Zionis dan gas air mata, dalam aksi sejuta umat kamp kepulangan di perbatasan Jalur Gaza.

Dilansir Pusat Informasi Palestina, Senin (14/5/2018), tingkat keparahan korban luka-luka yang diderita warga diketahui 28 orang dalam kondisi kritis, 71 orang luka parah, 829 luka sedang, 193 orang luka ringan serta 746 luka gas air mata.

Mereka juga dengan sengaja menyerang secara langsung para petugas kesehatan. Dua orang gugur dan lainya luka-luka akibat tembakan Zionis. Termasuk 11 wartawan yang juga menjadi korban.

Sejak pagi buta, para pemuda sengaja membakar ban dan memotong kawat berduri yang memisahkan antara Gaza dan wilayah jajahan 1948, selain meluncurkan pesawat kertas yang sudah dibekali dengan bahan-bahan bakar.

Sejak pagi hari para pemuda membakar ban dan memutus pagar pemisah di perbatasan wilayah Palestina jajahan 1948, dan menerbangkan pesawat kertas pembakar.

Para pemuda Palestina berhasil menjatuhkan pesawat drone zionis yang menembakan senjata ke kemah kepulangan di Gaza Utara, dan menyitanya.

Sementara itu pihak kementerian dalam negeri Palestina menyampaikan belasungkawa atas gugurnya 4 petugas mereka terkena tembakan zionis saat menunaikan tugas sejak Senin pagi di aksi pawai kepulangan akbar, memperingati Nakbah Palestina.

Rakyat Palestina pada Senin berpartisipasi dalam aksi Sejuta Umat menuju perbatasan, merespon seruan Komite Pawai Kepulangan dan Cabut Blokade Gaza, memperingati Nakbah Palestina, dan menolak pemindahan kedubes AS ke al-Quds, dalam rangkaian aksi pawai kepulangan.

Warga Palestina di Gaza mulai menggelar aksi pada 30 Maret, aksi pawai kepulangan bersamaan dengan peringatan Hari Bumi, dan puncaknya pada 15 Mei, bertepatan dengan hari Nakbah Palestina, menuntut hak kepulangan pengungsi Palestina dan menuntut pencabutan blockade Israel terhadap Gaza.

Militer zionis Israel telah membunuh 55 warga Palestina termasuk 6 jenazah yang masih ditahan militer Israel, dan belum tercatat dalam data kementerian kesehatan, dan melukai 9500 lainnya sejak aksi pawai kepulangan dimulai.

red: adhila
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Wujudkan Cintamu Pada Negeri

View Article

Cinta memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan. Rasa cinta adalah fitrah manusia. Beragam ekspresi cinta yang direalisasikan untuk menunjukkan cintanya. Namun, tak jarang rasa cinta tak ubahnya sekedar slogan manis yang diumbar. Apalah artinya cinta bila tak ada pembuktian untuk merealisasikannya. Bisa dikatakan cintanya hanya pura-pura. Gambaran pura-pura cinta bisa kita saksikan dari wujud cinta penguasa sekarang.

Indonesia sebagai negeri yang merdeka berkat rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala memiliki kekayaan alam melimpah. Kekayaan alam yang membentang dari sabang hingga merauke, dari daratan hingga berderet pulau menjadi bukti bahwa negeri ini memang Allah persiapkan untuk hambaNya. Begitu kayanya hingga dunia menjulukinya sebagai zamrud khatulistiwa dan paru-paru dunia. Luar biasa.

Namun, kekayaan alam itu terenggut oleh kerakusan korporasi dan kapitalis yang ingin menguasai negeri. Indonesia tak lagi berdikari sebagaimana berkah dan rahmat yang Allah berikan untuk nusantara tercinta ini. Terlebih penguasa semakin tak menunjukkan rasa cintanya pada negeri. Slogan Aku Indonesia, Aku Pancasila hanya menang dalam teori tapi kalah dalam realisasi.

Sistem kapitalisme telah membuat kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dicaplok oleh segelintir kepentingan. Liberalisasi perdagangan menjadi hal yang harus dilakukan tatkala Indonesia terikat perjanjian perdagangan bebas baik regional maupun inernasional. Kebijakan mengeluarkan Perpres No. 20 Tahun 2018 dinilai menganaktirikan rakyat sendiri. Bagaimana dikatakan cinta bila rakyatnya dipaksa bersaing dengan TKA? Belum lagi kebijakan impor pangan dan komoditi lainnya yang banyak merugikan rakyat. Beginikah wujud cinta kepada negeri bila rakyat harus menjadi tumbal keserakahan penguasa?

Perilaku pejabat korup yang mengkhianati amanah rakyat tentu bukan wujud mencintai negeri. Sebab, perilaku tersebut justru menjerumuskan negara pada kerugian besar. Tumpukan utang yang semakin menggunung menjadikan negeri ini terlilit utang dan riba yang belum tentu mampu dilunasinya. Apakah ini wujud mencintai negeri? Menjual aset negara hingga menggadaikan kepentingan rakyat demi asing. Beginilah bila Indonesia diatur dengan sistem kapitalis – liberal. Bukan malah makmur justru semakin tersungkur.

Cinta kepada negeri tak melulu dengan menyanyikan Indonesia raya di setiap upacara. Cinta kepada negeri tak sekedar umbar slogan tapi kosong pembuktian. Mencintai Indonesia butuh bukti. Membiarkan negeri ini terjajah oleh kapitalisme yang jelas menyengsarakan bukanlah wujud cinta.

Wujud cinta hakiki kepada negeri ini adalah menolak segala bentuk imperialisme dalam sistem kapitalisme. Karena sistem inilah yang menjadi biang kerusakan di Indonesia. Mengkritisi setiap kebijakan yang dzalim bagian dari wujud mencintai negeri. Dengan kritik dan koreksi itu penguasa diharapkan muhasabah dan menyadari kesalahannya.

Sebagai negeri berpenduduk mayoritas muslim, wajar bila Islam menjadi jawaban atas seluruh persoalan. Islam sebagai agama yang paripurna lengkap mengatur kehidupan individu hingga tatanan negara. Islam menjadi solusi alternatif manakala sistem produk pemikiran manusia tak kunjung memberikan jawaban atas problematika umat. Sistem Islam yang berasal dari Dzat pemilik seluruh alam tentu akan memberikan keberkahan dan kemaslahatan bagi umat manusia.

Syariat Islam begitu rupa memberikan penjelasan hukum yang telah Allah tetapkan. Tak pernahkah kita berpikir bahwa segala kerusakan yang terjadi saat ini karena kita menjauh dari aturanNya? Tidakkah kita menginginkan negeri Indonesia tercinta ini menjadi negeri yang diberkahi dari pintu langit dan bumi? Sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah Ta’ala berikut: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’râf: 96)

Keberkahan negeri ini hanya didapat ketika syariat Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Penduduknya beriman dan bertaqwa. Pemimpinnya amanah dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sudah saatnya mengembalikan kedaulatan pengaturan kehidupan kepada aturan Allah Subhanahu Wa Ta'ala bukan kepada manusia yang lemah. []

Chusnatul Jannah
(Lingkar Studi Perempuan Peradaban)
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Membingkai Narasi Sesat Ala Media Sekular

View Article

“Hizbut Tahrir resmi dilarang di Indonesia, dalihnya bertentangan dengan dasar negara. Upaya hukum sudah dilakukan, pengadilan tingkat pertama telah memutuskan. Sebenarnya ini bukan keputusan langka, sejumlah negara sudah lebih dulu melarangnya.” (Narasi Najwa Shihab di Mata Najwa Trans7, 9/5/2018)

Lagi-lagi media sekular membingkai narasi sesat untuk memojokkan para pengemban dakwah Islam. Bukan hanya di Mata Najwa, BBC Indonesia, juga menulis judul “HTI dinyatakan ormas terlarang, pengadilan tolak gugatan” pada Senin, 7/5/2018. Pasca ditolak seluruhnya gugatan HTI di PTUN.

Framing sesat ala media sekular bahwa HTI organisas terlarang jelas bertentangan dengan fakta hukum yang ada. Menurut Prof. Yusril Ihza Mahendra sebagai kuasa hukum HTI, mengatakan jangan menganggap HTI sudah dilarang karena proses hukumnya masih berjalan.

Pernyataan Prof. Yusril Ihza Mahendra di Mata Najwa Trans7 tersebut, senada dengan Ahmad Khozinudin, S.H. dari Koalisi 1000 Advokat Bela Islam. Menurutnya HTI adalah organisasi sah dan legal, bukan organisasi terlarang, status BHP nya saja yang dicabut, dan terhadap pencabutan status BHP itu, HTI sedang melakukan upaya hukum banding. Dia juga menambahkan tidak ada satu pun amar putusan yang menyatakan HTI dibubarkan atau menyatakan HTI sebagai Organisasi Massa Terlarang (media umat.news, 8/5/2018).

Ya, media sekular membingkai narasi sesat lagi jahat tak berhenti hanya terhadap HTI saja. Tapi juga terhadap ajaran Islam yaitu Khilafah. Media sekular selalu mengidentikan khilafah mulai dari ISIS hingga paham sesat, yang selalu dibenturkan dengan Pancasila. Ajaran Islam yang mulia diframing menakutkan dan berpotensi meluluhlantakan Indonesia. Padahal sejatinya Khilafah adalah sistem unik dan khas yang dirancang oleh Zat Yang Maha Sempurna, Allah Ta’ala, Al-Khaliq Al-Muddabir.

Tak jauh beda terhadap para ulama, aktivis Islam dan umatnya. Menolak lupa, bagaimana habib kita tercinta, Habib Rizieq Shihab dipojokan, dihina dan di-bully di linimasa, akibat chat fake yang terbukti direkayasa oleh oknum yang kini tak bertanggung jawab.

FPI yang didirikannya pun tak luput menjadi korban narasi sesat ala media sekular. Kiprah FPI dalam beramar makruf nahiy mungkar, memberantas kemaksiatan di tempat-tempat hiburan malam dan memberantas peredaran miras. Diframing sebagai ormas yang radikal.

Fakta bahwa FPI telah lebih dulu memberikan surat peringatan dan teguran bahkan karena lambannya aparat bertindak, tak pernah di-blow up oleh media sekular. Disembunyikan bersama berita-berita bagaimana FPI peduli dan tanggap terhadap musibah atau pun bencana yang melanda Indonesia.

Narasi sesat menebar fitnah juga senantiasa dihembuskan oleh media sekular terkait radikalisme dan terorisme. Seperti yang terjadi di Mako Brimob, Selasa malam, 8/5/2018, kerusuhan yang terjadi diblow up media sekular seolah-olah terjadi aksi terorisme yang dilakukan para tahanan kasus terorisme.

Fakta yang terjadi kerusuhan dipicu oleh sikap tidak terima para narapidana terkait ketatnya prosedur pemeriksaan terhadap keluarga yang membesuk. Serta soal jatah makanan yang jauh dari kata layak bagi para narapidana (republika.co.id, 10/5/2018).

Narasi terorisme dan radikalisme selalu disematkan media sekular kepada Islam dan umatnya. Mirisnya narasi ini terus berulang dan digunakan untuk memojokan Islam. Seperti pagi ini, berita duka datang dari Surabaya, terjadi ledakan yang diduga bom di Gereja Santa Maria Tak Tercela, Surabaya. Kabid Humas Polda JatimKombes Pols Frans Barung menyebut ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Surabaya, Jawa Timur, bom bunuh diri (kompas.com, 13/5/2015).

Belum diketahui siapa dalang dibalik pengeboman tersebut, tapi linimasa sudah diramaikan dengan duga-dugaan aksi terorisme. Bukti bahwa narasi sesat media sekular telah berhasil menyesatkan publik.

Tak sadar bahwa kegaduhan publik dapat digunakan rezim untuk segera menyelesaikan draf RUU Tindak Terorisme. Seperti yang diungkapkan Menkopolhukam Wiranto pasca kerusuhan di Mako Brimob. Wiranto menegaskan pemerintah berharap segera diselesaikan draf RUU Tindak Terorisme, melihat banyaknya ancaman yang muncul dari aksi terorisme (cnnindonesia.com, 10/5/2018).

Tak berhenti di situ saja, narasi sesat media sekular juga telah berhasil mengalihkan perhatian publik terhadap berita besar seperti naiknya nilai tukar dollar yang berimbas pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Berita besar yang harusnya menjadi perhatian serius masyarakat menjadi seperti hilang ditelan berita isu terorisme yang dibesar-besarkan.

Benarlah apa yang dikatakan Noam Chomsky (seorang psikolog dan pengamat media sekular) bahwa media sekular menetapkan 10 strategi manipulasi terhadap publik. Salah satunya yaitu “Strategy of Distraction atau Strategi Gangguan”. Strategi gangguan inilah yang telah nyata mengorbankan umat, terutama umat Islam. Di mana media sekular telah mengalihkan umat Islam dari berita yang besar diganggu dengan berita-berita kecil yang tidak penting namun disulap menjadi berita yang besar dan keberadaannya sangat penting. Manipulasi media sekular lewat narasi-narasi sesat ini telah menjadikan Islam dan umat sebagai tumbal.

Media dalam demokrasi menjadi pilar keempat setelah yudikatif, eksekutif dan legislatif. Media mengambil peran besar dalam menyokong eksistensi demokrasi. Sayangnya peran media yang lahir dari sistem demokrasi yang telah cacat dari lahir ini, disalahgunakan untuk memuluskan kepentingan politik pragmatis, serta mengorbankan Islam dan umatnya.

Membingkai narasi sesat ala media sekular senantiasa dihembuskan di tengah umat. Tujuannya tak lain untuk terus menjaga eksistensi Islamphobia, memecah belah umat dan menghadang arus opini syariah dan Khilafah yang kian tak terbendung.

Ya, media boleh membuat tipu daya terhadap Islam dan umatnya. Lupa bahwa Allahlah sebaik-baiknya pembuat tipu daya. “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran ayat 54).

Maka, tak ada pilihan lain selain terus melawan narasi sesat ala media sekular dengan terus melanjutkan perjuangan dakwah ini. Baik melalui lisan mau pun tulisan.

Berjuanglah dan berbanggalah para jurnalis Islam dan para penulis ideologis! Karena kiprahmu dirindu dan dinanti umat sebagai cahaya di tengah gelap gulitanya berita dunia yang dicekam wabah sekularisme yang menyesatkan. Wallahu’alam bishshawwab. []

Ummu Naflah
Penulis Bela Islam, Member Akademi Menulis Kreatif
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Utang Penghancur Negara, Perlahan Tapi Pasti

View Article

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa Pujarama mengungkapkan, utang luar negeri Indonesia terus mengalami kenaikan cukup signifikan. Bahkan Riza mengatakan, hingga saat ini utang luar negeri Indonesia telah mencapai Rp7.000 triliun, jumlah tersebut merupakan total utang pemerintah dan swasta.

Utang pemerintah selama 3 (tiga) tahun lebih pemerintahan Jokowi naik sekitar Rp 1.200 triliun, jauh melebihi kenaikan pendapatan pajak yang stagnan sebagai ukuran kemampuan bayar utang. Pemerintah selalu berdalih bahwa utang negara yang kini berjumlah Rp4.000 triliun atau sekitar 29,5% dari PDB adalah masih jauh di bawah ketentuan Undang-undang Keuangan Negara yang batas maksimalnya 60% PDB, dan jauh pula di bawah ratio utang negara-negara lain.

Negara mengklaim bahawa dengan berhutang dapat membantu perekonomian negara dan membantu dalam pembangunan infrastruktur pemerintah, namun nyatanya dengan berhutang bukan membantu perekonomian negara. Bahkan hutang menjadi penjajah yang menghilangkan kemandirian suatu negara.

Dengan berhutang pemerintah menjadi tidak mandiri karena jika pemerintah mempunyai kekurangan dalam urusan keuangan, mereka dengan mudahnya meminjam hutang untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan tidak mau bekerja keras atau berfikir bagaimana caranya untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

Di dalam hutang yang begitu besar bisa dipastkani terdapat bunga atau laba yang sangat besar pula dan itu termasuk riba. Sedangkan di dalam Islam sudah jelas bahwa riba itu diharamkan, karena riba bukan untuk kemajuan suatu negara melainkan suatu kehancuran untuk negara.

Inilah hasil sistem kapitalisme yang sudah terlihat jelas membawa kehancuran untuk negara. Saatnya kita membuka mata dan menyadari akan bobroknya sistem saat ini. Maka oleh karena itu saatnya kita kembali kepada sistem Islam, yang mampu menyelesaikan permasalahan negara tanpa harus berhutang dan tersangkut riba. Wallahua’lam. []

Yulinar, tinggal Lembang, Bandung.
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Rabu, 09 Mei 2018

Seberapa Bahayanya Sih HTI Itu?

View Article

Selasa, 8 Mei 2018 saya menyimak jurnal pagi di stasiun Berita Satu. Judul berita “SAH, HTI DIBUBARKAN”. I Wayan Sudirta kuasa hukum dari pemerintah mengatakan “Pemerintah rada terlambat membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), padahal di 21 negara sudah dilarang”. Selain itu, dia mengucapkan terima kasih karena HTI mengajukan banding atas putusan PTUN.

Pasalnya dengan melakukan langkah seperti itu, HTI mengakui sistem hukum yang berlaku di negara ini. I Wayan juga mengatakan alasan mendesak HTI harus dibubarkan karena tidak sesuai dengan ideologi Pancasila. Menurut saksi ahli, kelompok ini punya paham kafir-mengafirkan dan tidak membolehkan perempuan menjadi pemimpin.

Mencermati pemaparan I Wayan Sudirta, seakan akan ada hal-hal yang sangat mendesak sehingga eksistensi HTI berbahaya sekali dan segera dibubarkan. Paham takfiri sebetulnya dimiliki Syiah Rafidhah, bukan HTI. Saya tidak pernah mendengar dan menemukan anggota HTI melecehkan dan mengafirkan Siti ‘Aisyah, Umar dan sahabat lainnya. Adapun pendapat perempuan tidak dibolehkan menjadi pemimpin suatu negeri, ada hujjahnya. “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”. (HR Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, dan an-Nasa’i).

Seberapa jauh bahayanya HTI? Berdasar pengalaman saya ketika meneliti Hizbut Tahrir (tahun 2009-2010), Berikut ini saya paparkan empat hal bahaya HTI yang membuat “Rezim Mukidi” perlu membubarkannya:

Pertama, membuat seorang muslim mengalami “lompatan ideologi”. Saya kutip istilah ini dari disertasi Prof Dr Syamsul Arifin M.Si yang diterbitkan UMM Press. Yang tadinya hanya mengenal Islam sebatas ritual ibadah, berubah menjadi tercerahkan bahwa Islam adalah ideologi yang mampu menawarkan solusi jitu dibanding komunis dan kapitalis. Kedua ideologi tersebut terbukti gagal menyejahterakan umat manusia.

Kedua, kelompok HTI sangat berbahaya karena membuat seorang melek politik. Bagi kaum sekularis, amat berbahaya jika umat Islam paham dunia perpolitikan. Jika paham politik, maka tidak bisa ditipu lagi dengan sembako dan janji janji manis. HTI melalui aksi turun ke jalan dan penyebaran buletin Al-Islam. Dua cara ini bisa mempengaruhi opini publik sewaktu peristiwa santernya reklamasi dan penistaan al-Maidah ayat 51.

Selanjutnya dalam buletin Al-Islam (edisi 22 April 2016), umat yang awam menjadi sadar bahwa syariat Islam punya aturan main tentang reklamasi. Syariat Islam juga melarang keras menjadikan orang kafir sebagai auliya’. Dalam Al-Islam (edisi 2 Desember 2016), HTI dengan tegas menyerukan, “Semestinya umat tidak berhenti pada kasus penistaan Al-Quran oleh Ahok. Pasalnya, penistaan Al-Quran oleh Ahok hanyalah akibat, bukan sebab. Sebabnya adalah karena negeri ini memang sekular, yakni menjauhkan agama (Islam) dari kehidupan. Karena sekular, negeri ini dijauhkan dari Al-Quran”.

Akibat seruan inilah kelompok HTI menjadi sasaran tembak setelah dikriminalkannya Habib Rizieq, pimpinan Front Pembela Islam (FPI). Dicari-cari kesalahannya. Di propagandakan ke publik bahwa mereka anti-Pancasila dan anti-pemimpin kafir. Darimana tahu HTI anti-Pancasila jika belum melihat seperti apa isi AD/ART-nya?

Ketiga, seorang pecandu rokok menjadi tobat. Sistem ketat yang diterapkan HTI membuat calon anggota (darisin), dengan sukarela harus menerapkan ajaran Islam secara kaffah. Termasuk untuk urusan berhenti total dari merokok. Bukankah merokok itu menimbulkan kemudharatan bagi diri sendiri dan orang sekitarnya?

Bagaimana HTI menyeru dakwah bahkan menegakkan syariat Islam lewat khilafah jika ada anggotanya tidak bisa melindungi dirinya dari kemudharatan!. Hal serupa bisa kita temukan di Jamaah Tarbiyah. Melalui liqa’ dan aktivitas-aktivitas pengaderan yang ketat, bisa dijamin seorang laki-laki berhenti merokok jika bergabung ke dalam kelompok yang menjadi pondasi utama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Keempat, HTI tidak mengurusi “furu’iyyah” di tengah umat. Dengan begitu, kesolidan diantara anggota dan elite-eliteHTI semakin kuat, begitu pula dengan kelompok keagamaan lain. Dalam kesehariannya anggota-anggota HTI di persoalan ritual ibadah, tidak seragam gaya dan ekspresinya sebagaimana dalam hal bidang politik. HTI tidak peduli anda shalat shubuh pakai qunut atau tidak.

Sepertinya mereka sangat dipengaruhi kultur keagamaan mereka sebelum masuk HTI. Kita harus tahu bahwa aktivis HTI dulunya ada yang berlatar belakang kultur Nahdliyin, Muhammadiyah, Persis dan kelompok keagamaan lainnya (Sumber: Jurnal Studi sosial, Th. 6, No. 2, Nopember 2014, hal 96).

Demikianlah empat hal yang menggambarkan bahayanya HTI bagi kaum sekular. Mereka tidak ingin umat Islam melek politik dan bidang-bidang lainnya. Wallahu’allam. []


Fadh Ahmad Arifan
Anggota Forum Penulis Harakatuna
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Siapa Yang Menciptakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala?

View Article

Pertanyaan orang-orang kafir yang diarahkan kepada anda adalah batil secara mendasar dan bertentangan dengan sendirinya! Karena seandainya kita terima bahwa adalah pencipta yang menciptakan Allah, maka sang penanya akan bertanya lagi, siapa yang menciptakan pencipta sang pencipta??!  Kemudian pertanyaan, siapakah yang menciptakan pencipta penciptanya sang pencipta? Demikianlah seterusnya pertanyaan tersebut berantai tak berujung. Ini tentu mustahil secara akal.

Adapun jika seluruh makhluk berhenti kepada sang Khaliq yang menciptakan segala sesuatu dan tidak ada yang menciptakanNya, tapi dialah Sang Pencipta selainNya, inilah yang sesuai dengan akal dan logika, Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun dari sisi syariat dan agama kami, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami tentang pertanyaan seperti ini, darimana sumbernya, bagaimana mengatasinya dan menjawabnya.

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الناس يتساءلون حتى يقال هذا خلق اللهُ الخلقَ ، فمن خلق الله ؟ فمن وجد من ذلك شيئا فليقل آمنت بالله

“Orang-orang akan ada saja yang bertanya-tanya, hingga akhirnya akan ditanyakan, Allah yang menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal tersebut, maka ucapkanlah, aku beriman kepada Allah.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu alaihiw a sallam juga bersabda,

يأتي الشيطانُ أحدَكم فيقول من خلق كذا وكذا ؟ حتى يقول له من خلق ربَّك ؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته

“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu? Hingga akhirnya dia akan bertanya siapa yang menciptakan tuhanmu? Jika hal itu terjadi, hendaknya dia berlindung kepada Allah dan sudahilah (jangan turuti menjawab pertanyaannya).” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa sumber dari pertanyaan seperti itu adalah setan, serta dijelaskan pula terapi dan jawabannya, yaitu;

1- Menyudahinya, tidak terbawa bisikan-bisikan setan.

2- Mengatakan ‘Amantu billah wa rusulih’ (Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasulnya)

3- Berlindung kepada Allah dari godaan setan.

Juga terdapat riwayat agar meludah ke kiri sebanyak tiga kali dan membaca surat Al-Ikhlas. (Lihat kitab ‘Syakawa wa Hulul’ di kolom ‘Al-Kutub’ (kitab-kitab) dalam situs ini)

Adapun tentang siapa yang mendahului keberadaan Allah, maka kami mendapatkan berita dari nabi kami, di antaranya; 

a. Beliau bersabda;

اللهم أنت الأول فليس قبلك شيء ، وأنت الآخر فليس بعدك شيء (رواه مسلم، رقم 2713)

“Ya Allah, Engkaulah yang awal tidak ada sesautupun sebelumMu, Engkaulah yang akhir, tidak sesudahMu sesuatupun.” (HR. Muslim)

b. Sabdanya,

كان الله ولم يكن شيء غيره " ، وفي رواية " ولم يكن شيء قبله ( رواهما البخاري ، الأولى، رقم 3020 ، والثانية، رقم 6982)

“Allah telah ada dan tidak ada sesuatupun selainNya.” Dalam suatu riwayat, “Tidak ada sesuatupun sebelumnya.” (Keduanya diriwayatkan oleh Bukhari, yang pertama, no. 3020, dan yang kedua, no. 6982)

Tambahan lagi ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran, maka seorang mukmin beriman tanpa ragu, sedangkan orang kafir menentangnya, adapun orang munafik ragu-ragu. Kita mohon kepada Allah semoga dikaruniai iman yang jujur dan keyakinan yang tidak ada keraguan padanya. []



Oleh Syekh Muhammad bin Saleh Al-Munajjid
Dipublikasikan oleh https://islamqa.info/id/6660