Jumat, 22 Juni 2018

Wahai Umat Islam, Jangan Golput !!

View Article

Jangan Golput…, karena orang kafir, sekuler, liberal, LGBT dan syiah, juga tidak golput untuk memenangkan tokoh, ideologi, dan rencana-rencana mereka melalui pemilu.  Bahkan, mereka memobilisasi massa untuk menguasai pos-pos dan struktur penting di negeri ini.

Jangan Golput…, karena diam saja -berpangku tangan- terhadap kenyataan seperti itu adalah syaithanul akhras. Berkata Imam Abu Ali Ad-Daqaq, “Saakit ‘anil haq syaithanul akhras – Diam saja tidak menyampaikan kebenaran adalah setan bisu.”

Jangan Golput …, karena kekecewaan kita  terhadap anggota dewan yang lalu, atau caleg-caleg yang ada saat ini, lalu  kita apatis, juga tidak menyelesaikan masalah.  Sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah Ta’ala, bukan anggota dewan dan caleg. Toh, jika  kitapun menjadi dewan seperti mereka, belum tentu  bisa lebih baik dari mereka, dan juga bisa bikin kecewa orang lain.

Jangan Golput…, karena -jika kita mengharamkan pemilu- sudah sejak 60 tahun lalu para ulama di negeri ini tidak pernah mempermasalahkannya. Baik para ulama di NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan sebagainya. Bahkan, Kibarul Ulama di kerajaan Arab Saudi saja tidak mempermasalahkannya. Ulama di belahan dunia lainnyapun tak mempermasalahkannya. Apakah sepanjang itu para ulama ini sepakat dalam kesalahan? Ataukah mereka bodoh sehingga tidak mengetahui keharaman pemilu dan keharaman itu luput dari ilmu mereka? Ataukah -jangan-jangan-, kitanya yang lancang sehingga mudah mengharamkan?

Jangan Golput…, karena keharaman Pemilu masih diperselisihkan dan masuk dalam perselisihan mu’tabar para ulama kontemporer. Sementara bersatu-padu melawan musuh adalah kewajiban yang pasti tanpa diperselisihkan lagi. Seharusnya, kita lebih mementingkan kewajiban yang pasti, dibanding perselisihan tersebut.

Jangan Golput…, karena anggapan ‘semua partai sama -tidak ada yang amanah, rakus kekuasaan-,’ merupakan tuduhan berat dan emosional, yang mesti dibuktikan oleh penuduhnya. Apalagi jika anggapan itu hanyalah ikut-ikutan semata, atau penggiringan opini media terhadap politisi muslim, yang umumnya memang media-media itu berdiri di atas kaki para sekuleris dan kapitalis.

Jangan Golput….,  karena  seburuk apapun calon-calon yang ada, kita masih berharap pada yang terbaik dan mendingan di antara yang  buruk itu. Sebab, tidak mungkin dari ribuan bahkan puluhan ribu calon yang disodorkan partai Islam semuanya bejat dan rusak -tak satu pun, atau puluhan, atau ratusan  yang memikirkan umat-. Tidak mungkin! Tidak mungkin batu bata yang ditempa oleh pembinaan Islam, semuanya rapuh dan tidak layak pakai. Pasti ada batu bata kuat yang siap memikul beban berat umat ini.

Jangan Golput…, ambillah bagian dalam menentukan arah umat ini, yang semoga bisa lebih baik dari sebelumnya. Wallahu A’lam. []



Farid Nu'man Hasan
Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000)
Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri
Dipublikasikan oleh Dakwatuna

Kamis, 21 Juni 2018

Tazkirah QS An-Nisaa 59, Makna Ketaatan pada Ulil Amri

View Article

Allah Subḥānahu wa ta'alā berfirman:

َاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

”Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benarberiman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. An-Nisaa: 59]

Ayat 59 yang mulia dari QS An-Nisaa ini tidak diragukan lagi merupakan ayat yang sering disalahpahami sebagai dalil yang menunjukkan kewajiban ketaatan mutlak pada ulil amri, waliyu al-amr, atau pemimpin. Padahal QS An-Nisaa: 59 ini maknanya ialah taati ulil amri selama masih berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah, selama masih dalam koridor ajaran Islam, sebagai syarat ketaatan yang mutlak dalam pandangan Islam.

Bagi mereka yang gemar menyembunyikan kebenaran, ayat ini justru dipakai untuk mendukung kebijakan-kebijakan kufur dan batil dari pemerintahan level negara maupun level daerah. Asalkan pemerintah dan penguasa senang, tidak jarang fatwa-fatwa dari ulama su’u yang tidak bertanggung jawab justru melegitimasi kebijakan-kebijakan kufur dan batil pemerintah. Tidak lagi peduli sesuai ajaran Islam atau tidaknya.

Akhirnya, umat yang dikobarkan menanggung kemaksiatan dan kebatilan demi kepentingan dunia ulama-ulama palsu tersebut. Tidak jarang dari ulama-ulama palsu tersebut dibayar pemerintah saat ‘di balik layar’ atau diiming-imingi kedudukan.

Hendaknya jangan lagi ada kasus QS An-Nisaa ayat 59 ini diselewengkan maknanya oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Ayat ini sesungguhnya memerintahkan umat Islam untuk mengembalikan urusan mereka saat terjadi perselisihan, utamanya dalam masalah hukum atau kebijakan, untuk mengembalikannya pada landasan ayat-ayat Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya.

Ayat suci ini juga menjelaskan kepada bahwa tidaklah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya jika ada umat Islam yang tidak melakukan perintah sebagaimana yang diserukan ayat. Setiap perkara, setiap urusan atau pun setiap kebijakan negara wajib menjadikan Allah dan rasul-Nya sebagai landasan. Sumber ajaran Islam wajib dijadikan asas dan rambu-rambunya.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Sebagai tuntutan dan kewajiban dari iman. Jika pengembalian urusan kepada Allah dan rasul-Nya ini hilang maka hilang pulalah iman, sebagai bentuk hilangnya malzum (akibat) karena lazimnya (sebabnya) telah hilang. Apalagi antara dua hal ini merupakan sebuah kaitan yang erat, karena terjadi dari kedua belah pihak. Masing-masing hal akan hilang dengan hilangnya hal lainnya…” [Kitab A’lamul Muwaqi’in I/84]

Imam Ibnu Katsir, pakar tafsir kenamaan, mengatakan berkenaan ayat ini: Maksudnya kembalikanlah perselisihan dan hal yang kalian tidak ketahui kepada kitabullah dan sunah rasulullah. Berhukumlah kepada keduanya atas persoalan yang kalian perselisihkan “Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir”. Hal ini menunjukkan bahwa siapa tidak berhukum kepada Al Qur’an dan As Sunah serta tidak kembali kepada keduanya ketika terjadi perselisihan maka (konsekuensinya) ia dianggap tidak beriman kepada Allah dan tidak juga beriman kepada hari akhir.”[Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim I/519]

Asbabun Nuzul ayat ini juga sangat terkait kepada ketaatan dalam koridor kema’rufan, yakni dalam lingkup ajaran Islam, sehingga jika sudah tidak sesuai ajaran Islam maka itu sebuah kemaksiatan dan kebatilan. Di mana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: “Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan sesungguhnya ketaatan (kepada ulil amri, pemimpin) hanya pada kema’rufan (yang sesuai ajaran Islam).” (HR Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad). Sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam sendiri menjadi tafsir ayat ke-59 surat An-Nisaa ini.

Latar belakangnya karena ada sekelompok sahabat Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam yang diutus dalam sebuah ekspedisi, kala itu pemimpin atau komandan pasukan tersebut memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke dalam api, dalam suatu riwayat api dari dalam gua, dalam riwayat lain api unggun yang dinyalakan oleh pasukan saat beristirahat.

Dengan maksud menguji dan bercanda kepada anak buahnya, sang komandan memerintahkan beberapa anak buahnya untuk masuk ke dalam api tersebut, maka setelah terjadi perdebatan antara mereka, mereka mengadukan hal ini kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pun menegaskan bahwa tiada ketaatan pada siapa pun dalam kemaksiatan, dalam kasus ini perintah sang komandan itu dinilai mengada-ngada dan batil.

Dalam berbagai kitab tafsir dan hadits, pembahasan makna QS An-Nisaa: 59 selalu terkait dengan kisah para sahabat dan sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam ini. Maka sepatutnya kita kritis, taat pada ulil amri yang diperintahkan ayat ini merupakan ketaatan dalam koridor syariat bukan di luar syariat. Ketaatan pada ulil amri yang bagaimana dulu? Perintah dan kebijakannya yang seperti apa? berlandaskan Islam atau tidak? Wallahu’alam. []


Ilham Martasya’bana
Penggiat Sejarah Islam
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com

Produk Demokrasi: Watak Anti Koreksi

View Article
Massa PDIP saat menggeruduk kantor Radar Bogor.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers dikejutkan dengan kabar yang belakangan ini beredar. Yakni aksi premanisme yang dilakukan oleh sekelompok massa dari PDIP Bogor. Mereka mengamuk dan menggeruduk Kantor Radar Bogor pada Rabu 30 Mei 2018 lalu. Bahkan, ulah mereka hingga memukul staf dan merusak properti kantor. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh kader PDIP ini berawal dari reaksi keberatannya atas headline Radar Bogor yang berjudul “Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 Juta”.

Direktur eksekutif LBH Pers, Nawawi Bahrudin pun mengecam tindakan tersebut. Ia mengatakan hal itu merupakan pelanggaran hukum yang dapat dikategorikan perbuatan pidana yang sangat mengancam demokrasi dan kebebasan pers di Indonesia. Lebih jauh lagi, sikap tersebut sangat bertentangan dengan Pancasila yang notabene Ketua Umumnya adalah sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) (Republika.co.id/31/05/2018).

Tentunya hal ini justru merusak citra demokrasi sendiri yang menjamin kebebasan individu dan khususnya pada kasus ini ialah insan pers dalam menyuarakan pendapatnya. Bentuk kritik tajam yang sejatinya merupakan cambuk bagi para pemegang tampuk kekuasaan, agar mereka menimbang kembali kebijakannya selaraskah dengan suara rakyatnya.

Standar ganda, itulah yang terjadi di tanah air tercinta kita ini. Dimana kebebasan kritik gencar dilakukan oleh rezim demokrasi dan ditujukan bagi sesuatu yang dianggap musuh oleh mereka. Tak hanya kritik, tapi berbagai makar dan fitnah digencarkan bertubi-tubi. Dimana ajaran Islam serta ulama dan ormas yang aktif menyuarakannya dipersekusi dan diklaim sepihak tak sejalan dengan Pancasila.

Sedangkan disisi lain, kritik terhadap berbagai kebijakan dan solusi brilian yang ditawarkan oleh rakyat malah dianggap sebagai ancaman. Karena dalam hal ini mereka tak ingin kepentingannya atas supremasi yang mereka miliki terusik. Mereka tak butuh solusi, hanya kekuasaan yang menjadi ambisi.

Lain padang lain ilalang. Dalam demokrasi, kekuasaan akan selalu berkawan dengan pencitraan. Berbeda halnya dengan sistem Islam, dimana kekuasaan merupakan amanah yang amat berat dipikul. Karena mereka memahami bahwa ada bentuk pertanggungjawaban sekecil apapun saat berhadapan dengan Allah Swt kelak.

Mengingat seorang pemimpin juga merupakan manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Maka, pemimpin dalam Islam justru sangat haus akan kritik dan saran atas kebijakannya. Membuka ruang koreksi seluas-luasnya. Menerima dengan lapang dada jika memang koreksi yang disampaikan benar-benar meluruskan kesalahannya.

Berbagai saran, kritik dan tuntutan tak akan dianggap sebagai sebuah penghinaan yang menghancurkan figur kehormatan. Islam sebagai aturan hidup manusia ketika diterapkan seluruh hukumnya telah menorehkan sejarah cermin karakter mulia seorang pemimpin. Para sahabat di masa itu sering mengritik para khalifah secara terbuka.

Bilal bin Rabbah pernah mengritik khalifah Umar bin Khattab karena tidak membagi tanah syam kepada para mujahidin dan akan mengambil tanah itu dengan pedang. Hukum yang ditimpakan khalifah Ali bin Abi Thalib kepada kaum Zindiq pun dikritik oleh Ibnu Abbas RA. Ia mengingatkan sabda Nabi Muhammad Saw: “Janganlah kamu menyiksa dengan siksaan Allah (api)” maka bunuhlah dengan cara selainnya. Bahkan, Hamzah bin Abdul Muthalib mendapat gelar pemimpin para syuhada ketika terbunuh saat mengoreksi kepemimpinan seorang imam yang zhalim.

Menasehati atau mengritik pemimpin merupakan ibadah yang sangat mulia. Bahkan Nabi Muhammad Saw ketika ditanya jihad apa yang paling utama? Beliau menjawab, “Kalimat yang benar yang disampaikan di sisi pemimpin yang zhalim.” (HR. Imam Nasai, Ibnu Majah).

Islam menjadikan pemimpin membutuhkan kritik dan nasehat agar kepemimpinannya tersebut terhindar dari perbuatan yang tidak adil dan zhalim. Ketika melaksanakan amanahnya, ia mengurus dan menyejahterakan rakyatnya bukanlah sebagai pencitraan untuk mendapatkan simpati rakyat atau melanggengkan kekuasannya. Namun semata-mata ikhlas sebagai bentuk tanggung jawab dan kewajibannya.

Maka, sudah sewajarnya seorang pemimpin senantiasa membutuhkan kritik dari rakyatnya agar menjalankan amanahnya dengan hati-hati. Inilah karakter seorang pemimpin sejati yang hanya bisa lahir ketika Islam diterapkan menjadi sistem kehidupan. Tinta sejarah pun telah mengabadikan para pemimpin amanah tersebut yang lahir dalam kegemilangan masa peradaban Islam. Wallahu al’am bi ashshawab. []

Novita Sari Gunawan
Aktivis Akademi Menulis Kreatif
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com

Kembali Bikin Ulah, Politisi Anti Islam Belanda Buat Lomba Kartun Nabi

View Article

Politisi anti-Islam Belanda, Geert Wilders mengadakan kompetisi kartun Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam di kantor parlementer partainya.

Partai Kebebasan (PVV) mengatakan, kompetisi ini telah disetujui oleh badan kontra-terorisme negara. PVV – partai Geert Wilders bernaung – juga pernah menyerukan pelarangan Alquran di Belanda.

Bertindak sebagai juri dalam kompetisi tersebut adalah kartunis asal Amerika Bosch Fawstin. Ia adalah pemenang kompetisi serupa di Texas tiga tahun lalu, dan pernah menjadi target dua pria Muslim bersenjata.

Bagi umat Muslim, pengilustrasian Nabi Muhammad merupakan penghinaan. Sementara kartun-kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad sebelumnya telah memancing reaksi keras.

“Kebebasan berbicara terancam, terutama bagi para kritikus Islam,” kata Wilders. “Kami tak akan menerima hal itu, dan kebebasan berbicara adalah kebebasan kita yang paling penting.”

Politisi ultra kanan itu menilai, Islam lebih sebagai ideologi politik totaliter daripada agama. Ia konsisten menyuarakan penutupan masjid dan sekolah-sekolah Islam, serta melarang para imigran Muslim masuk ke Belanda.

Pada tahun 2016 lalu, Wilders pernah dihukum karena menghasut kebencian dan diskriminasi. Tahun 2008, ia juga membuat kontroversi dengan membuat film “Fitna” yang menghina Islam.

Wilders juga mengunggah pamflet kompetisi di akun instagram pribadinya. Ia mengatakan, “Muhammad masuk parlemen. Untuk pertama kalinya, kompetisi kartun Muhammad akan digelar oleh gedung parlementer.”

“Aku akan mengumumkan tanggalnya dengan segera. Silahkan kirim kartun Anda ke: muhammadcartoons@pvv.nl,” imbuhnya.

PVV sebagai partai oposisi di Belanda mengatakan, kompetisi kartun Nabi Muhammad akan digelar pada musim gugur mendatang. mereka mengklaim kompetisi telah mendapat lampu hijau dari badan kontra-terorisme NCTV.

Partai ini juga menawarkan hadiah sebesar 5.000 Euro untuk pemenang kompetisi. []



red: adhila/dbs
pub: suara-islam.com

Waspadalah terhadap Adu Domba Antar-Gerakan Islam

View Article

Bismillaah wal Hamdulillaah … Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Sebuah pusat penelitian dan pengkajian strategi tentang Islam dan Timur Tengah di Santa Monica – California di Amerika Serikat (AS), yang bernama Rand Corporation (RC) telah melakukan penelitian tentang Gerakan Islam di seluruh dunia selama puluhan tahun.

Hasil penelitian lembaga ini telah diturunkan dalam bentuk sejumlah laporan resmi yang antara lain berjudul :

1. Civil Democratic Islam yang dibuat pada tahun 2003.
2. Building Moderate Muslim Networks yang dibuat pada tahun 2007.

Laporan RC menjadi referensi penting bagi National Intelligent Council (NIC), yaitu sebuah Dewan Intelijen Nasional AS yang membawahi 15 badan intelijen dari 15 Negara.

Klasifikasi Gerakan Islam

Dalam berbagai laporan hasil kajiannya, RC memetakan gerakan Islam di dunia sesuai “kepentingan barat”. RC membuat “Klasifikasi Gerakan Islam” lengkap dengan uraian karakter, ciri, status dan cara penanganan tiap kelompok. RC membagi gerakan Islam di dunia menjadi empat kelompok, yaitu:

Pertama, kelompok “Fundamentalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan sangat kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “BAHAYA”, sehingga penanganannya harus “DIHABISI”, karena kelompok ini “MUSUH BARAT”.

Kedua, kelompok “Modernis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro demokrasi, tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIRANGKUL”, walau terkadang masih mengkritisi barat saat “kepentingan” mereka terganggu. Namun kelompok ini tetap dianggap “KAWAN BARAT”.

Ketiga, kelompok “Liberalis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro demokrasi dan menerima sepenuhnya pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAT AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIBESARKAN”, karena kelompok ini adalah “ANTEK BARAT”,

Keempat, kelompok “Tradisionalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta juga pro Demokrasi tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “WASPADA”, sehingga penanganannya harus “DIAWASI”, karena tiga dari empat ciri kelompok ini sama dengan ciri “Fundamentalis”, sehingga jika sering bersentuhan dengan “Fundamentalis”, maka dengan sangat mudah menjadi “Fundamentalis”. Karenanya, kelompok “Tradisionalis” harus dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan harus “DIADU-DOMBA”.

Strategi dan Taktik

Dalam laporan resminya, RC memaparkan secara detail tentang strategi dan taktik penanganan tiap kelompok Islam sesuai pemetaan dan klasifikasi yang mereka buat, antara lain :

1. Stigmatisasi & Pencitraan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus distigmatisasi sebagai kelompok “intoleransi”, “anarkis”, “radikalis”, “ekstrimis” dan “teroris”, dengan mengekspos secara besar-besaran segala bentuk berita sekecil apa pun terkait mereka, yang tidak disukai masyarakat, sekaligus menutup habis-habisan segala berita simpatik sebesar apa pun tentang mereka, melalui semua media yang dikuasai barat dan anteknya.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai [ro Barat maka harus dicitrakan sebagai kelompok “toleran”, “santun”, “ramah” dan “lembut”, dengan mengekspos secara besar-besaran segala bentuk berita sekecil apa pun terkait mereka, yang sangat disukai masyarakat, sekaligus menutup habis-habisan segala berita buruk sebesar apa pun tentang mereka, melalui semua media yang dikuasai barat dan Anteknya.

2. Pengkerdilan & Pengagungan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dikerdilkan sehingga terkesan sebagai kelompok “terbelakang”, “kaku”, “kolot”, “bodoh”, “tidak berpendidikan” dan “tidak kreatif”.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro Barat maka harus dibesarkan dan dimajukan, sehingga terkesan sebagai kelompok “modern”, “cerdas”, “maju”, “terhormat” dan “berpendidikan”.

3. Pengucilan & Pengaktifan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dikucilkan dengan cara jangan diberi kesempatan sekecil apa pun dalam sistem kekuasaan, baik legislatif atau eksekutif atau pun yudikatif.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus dimunculkan dengan cara diajak berperan aktif dalam sistem kekuasaan.

4. Pembusukan & Penyegaran

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dibusukkan dengan cara susupi dan tunggangi serta adu domba dan pecah belah antar mereka sendiri.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus disegarkan dengan cara memberi segala bantuan material mau pun spiritual.

5. Pembunuhan & Perlindungan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dihabisi baik melalui pembunuhan karakter mau pun pelenyapan nyawa sekali pun jika diperlukan.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus dilindungi dan dijaga serta selalu dibela dalam kondisi bagaimana pun.

Introspeksi Diri

Nah, jika kita ingin tahu posisi kita di mata barat ada dimana, maka lihat saja karakter dan ciri diri kita berdasarkan standar pemetaan mereka tersebut.

Jika kita pro Khilafah dan pro-Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan kritis terhadap pengaruh barat, baik kita lembut atau pun tegas, baik perorangan mau pun organisasi, maka kita masuk kategori “Fundamentalis” yang sangat berbahaya, sehingga harus dihabisi.

Kalau pun kita menerima Demokrasi, tapi tetap pro Khilafah dan Tathbiq Syari’ah serta kritis terhadap pengaruh barat, maka kita masuk katagori “Tradisionalis” yang harus diwaspadai, sehingga mesti selalu diawasi. Dan bagaimana pun caranya harus ditunggangi untuk dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan mesti diadu-domba.

Semoga kita tidak masuk katagori “Modernis” dalam arti dan definisi barat yaitu anti Khilafah dan Tathbiq Syari’ah, apalagi kategori “Liberalis” yang nyata-nyata jadi antek barat.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa melindungi seluruh gerakan Islam yang pro Khilafah dan Tathbiq Syari’ah dari makar musuh-musuhnya, dan selalu menyatukan mereka dalam kasih sayang sesama, serta memberi kemenangan dari dunia hingga akhirat.

Hasbunallaahu wa Ni’mal Wakiil … Ni’mal Maulaa wa Ni’man Nashiir …
Ini yg telah dan sedang terjadi di negeri kita ini. []


Habib Dr Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com

Senin, 18 Juni 2018

Setan Datang Menggoda Saat Menjelang Ajal

View Article

Setan sebagai musuh manusia yang paling nyata, selalu memanfaatkan kesempatan untuk menyesatkan umat manusia. Dia paham, hakikat kebahagiaan dan penderitaan adalah di akhirat kelak. Karena itu, target utama setan adalah menyeret manusia ke neraka, dengan tipuan dunia. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ، حَتَّى يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ، فَإِذَا سَقَطَتْ مِنْ أَحَدِكُمُ اللُّقْمَةُ، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى، ثُمَّ لِيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ، فَإِذَا فَرَغَ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ تَكُونُ الْبَرَكَةُ

“Sesungguhnya setan mendatangi kalian dalam setiap urusan kalian. Sampai setan ikut hadir di makanan kalian. Karena itu, jika ada sejumput makanan kalian yang jatuh, hendaknya dia bersihkan kotoran yang menempel, kemduian makanlah, dan jangan ditinggalkan untuk setan. Jika selesai makan, hendaknya kalian menjilati jarinya, karena kalian tidak tahu di bagian makanan yang manakah yang mengandung berkah.” (HR. Muslim no. 2033)

Sebagai seorang mukmin, kita pun menyadari akan pentingnya khusnul khotimah (ujung kehidupan yang baik) dan bahaya suu-ul khotimah (ujung kehidupan yang buruk). Oleh karena itu, kita perhatikan masing-masing tokoh agama sangat antusias mengajak orang untuk memeluk agamanya di ujung hayatnya. Tak ketinggalan adalah setan. Dia bisa jadi memanfaatkan kesempatan ini untuk menyeret manusia ke neraka.

Al-Qurthubi mengatakan, “Para ulama telah menceritakan bahwa setan mendatangi manusia pada detik-detik ajalnya, dalam bentuk ibunya atau bapaknya, teman dekat atau lainnya yang sangat ia nantikan bimbingannya. Kemudian setan dalam rupa semacam ini akan mengajaknya untuk mengikuti agama Yahudi atau Nasrani atau pemikiran menyimpang lainnya. Dalam kondisi semacam ini, ada beberapa orang yang tersesat, kecuali mereka yang mendapat taufik dari Allah.”  (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 33, dinukil dari Al-Yaumul Akhir I, karya Dr. Umar bin Sulaiman Al-Asyqar)

Ujian Imam Ahmad Saat Kematian

Diceritakan oleh Abdullah putra Imam Ahmad, Aku menghadiri proses meninggalnya bapakku, Ahmad. Aku membawa selembar kain untuk mengikat jenggot beliau. Beliau kadang pingsan dan sadar lagi. Lalu beliau berisyarat dengan tangannya, sambil berkata, “Tidak, menjauh…. Tidak, menjauh…” beliau lakukan hal itu berulang kali. Maka aku tanyakan ke beliau, “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? Beliau menjawab,

إن الشيطان قائم بحذائي عاض على أنامله يقول: يا أحمد فتني وأنا أقول لا بعد لا بعد

“Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggingit jarinya, dia mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu (tidak sanggup menyesatkanmu).  Aku katakan: “Tidak, menjauhlah…. Tidak, menjauhlah….” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 186)

Maksud cerita ini, setan hendak menyesatkan Imam Ahmad dengan cara memuji Imam Ahmad. Setan mengaku menyerah di hadapan Imam Ahmad, agar beliau menjadi ujub terhadap diri sendiri dan bangga terhadap kehebatannya. Tapi beliau sadar, ini adalah tipuan. Beliau tolak dengan tegas: “Tidak….” tidak bisa kita bayangkan, andaikan ujian semacam ini menimpa tokoh agama atau orang awam di sekitar kita…

Imam Al-Qurthubi melanjutkan ceritanya:
“Saya mendengar guru kami, Abu Abbas Ahmad bin Umar di daerah perbatasan Iskandariyah bercerita: ‘Saya menjenguk saudara guruku, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad di daerah Kordoba. Ketika itu beliau sedang sekarat. Ada yang mentalqin beliau: ucapakan: Laa ilaaha illallaah…

Tapi orang ini malah menjawab: Tidak… Tidak… Setelah beliau sadar, beliau bercerita: ‘Ada dua setan mendatangiku, satu di sebelah kanan dan satunya di sebelah kiri. Yang satu menyarankan: Matilah dengan memeluk Yahudi, karena itu adalah agama terbaik. Satunya berkata: Matilah memeluk Nasrani, karena itu adalah agama terbaik’. Lalu aku jawab: Tidak… Tidak…” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 187)

Hanya saja, ini tidak terjadi pada semua orang. Ada yang mengalami kejadian demikian dan ada yang tidak mengalami.  Setidaknya ini menjadi lampu kuning bagi kita akan bahaya sakaratul maut. Karena yang menentukan status manusia adalah ujung hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Nilai amal, dintentukan keadaan akhirnya.” (HR. Bukhari, Turmudzi dan yang lainnya)

Dan itu semua meruapakan fitnah mahya wal mamat (ujian hidup dan mati). Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari ujian yang mengerikan ini. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa ketika tasyahud akhir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal, beliau membaca,

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka, dari adzab kubur, dari ujian hidup dan mati, dan dari keburukan ujian masih dajjal.” (HR. Bukhari, Muslim, dan yang lainnya)
Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan khusnul khotimah. []


Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel: https://konsultasisyariah.com/11177-setan-datang-menggoda-saat-menjelang-ajal.html

Secular Radicalism: The Real Blasphemy

View Article

Gerakan untuk memisahkan antara politik dan agama menuai banyak kecaman. Ide sekulerisme patut dicurigai, hendak dibawa kemana bangsa ini sebenarnya.

Secara genetik, sekulerisme membawa sifat dasar blasphemic yakni menghujat, menista, menfitnah dan ketiadaan rasa hormat terhadap Tuhan dan agama.

Jika sifat blasphemic ini disematkan kepada agama selain Islam, seperti Kristen misalnya, mungkin bisa dipahami karena selain agama ini memang agama ritualistik semata, juga secara historis lahirnya sekulerisme adalah akibat perseteruan kaum intelektual kristen dengan para pendeta diseputar gugatan doktrin Kristen yang anti sains.

Karena itu dalam negara yang mengadopsi ideologi sekulerisme seperti Indonesia, Islam sering dinistakan. Sudah sering terjadi kasus-kasus penistaan dan penghinaan terhadap Alquran, Nabi Muhammad dan Islam itu sendiri.

Istilah sekuler berasal dari bahasa latin saeculum yang oleh Naquib al-Attas diistilahkan dengan paham kedisinikian adalah ideologi Barat yang menolak sistem agama dalam semua urusan dunia seperti politik, sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya.

Dalam paradigma sekuler, kehidupan harus diatur berasaskan kepada rasional, ilmu dan sains. Paham pemisah antara agama dan dunia ini menganggap kewujudan sebenarnya adalah melalui pancaindera bukan unsur-unsur rohaniah dan metafisik yang sukar dikesan melalui kajian modern.

Prinsip lainnya adalah bahwa nilai baik dan buruk ditentukan oleh akal manusia bukannya teks agama. Bahkan menganggap alam ini terjadi melalui fenomena sains dan kimia tertentu bukannya refleksi kuasa Tuhan.

Sementara Islam adalah agama dan peradaban sekaligus. Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam –artinya tunduk atau patuh– selain yaslamu salaam –yang berarti selamat, sejahtera, atau damai.

Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai)

Dari pengertian Islam, maka muslim adalah dia yang menyerahkan segenap wujudnya di jalan Allah taala. Yakni mewakafkan wujudnya untuk Allah, mengikuti kehendak-kehendakNya, serta untuk meraih keridhaanNya. Kemudian dia berdiri teguh diatas perbuatan-perbuatan baik demi Allah semata. Dan dia menyerahkan segenap kekuatan amaliah wujudnya di jalan Allah. Artinya, secara akidah dan secara amalan, dia telah menjadi milik Allah semata.

Dalam perspektif paradigmatik, ideologi sekulerisme yang lahir dari Barat ini jelas bertentangan dengan Islam. Sebagai contoh pandangan Islam terhadap alam semesta sangat bertentangan dengan pandangan sekulerisme.

Menurut Islam, pandangan terhadap alam semesta bukan hanya berdasarkan akal semata sebagaimana pandangan sekulerisme. Alam semesta dalam Islam difungsikan untuk menggerakkan emosi dan perasaan manusia terhadap keagungan al-Khaliq, kekerdilan manusia dihadapanNya, dan pentingnya ketundukkan kepadaNya. Artinya, alam semesta dipandang sebagai dalil qath’i yang menunjukkan keesaan dan ketuhanan Allah

Gelombang modernisme peradaban Barat dengan basis sekuler-liberal ke dunia Islam merupakan ancaman terbesar dalam bidang pemikiran dan keimanan. Perdaban Barat Modern tidak memperdulikan aspek kemanusiaan. Pendidikan modern Barat telah menghilangkan keyakinan kaum muda muslim terhadap agamanya. Padahal keyakinan adalah aset terpenting dalam kehidupan seseorang.

Melalui hegemoni sekulerisme, dunia Islam telah dihadapkan pada ancaman pemurtadan yang menyelimuti bayang-bayang diatasnya dari ujung-ke ujung.

Inilah pemurtadan yang telah melanda muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan paling serius terhadap Islam sejak masa Rasulullah. Filsafat materialisme Barat tak diragukan lagi adalah “agama” terbesar yang diajarkan di dunia setelah Islam.

Secara historis, sekulerisme di tangan Kemal Attaturk telah menjatuhkan keagungan Islam kekhilafahan Turki Ustmani dalam jurang kenistaan. Turki yang islamis berubah total menjadi Turki teracuni oleh peradaban Barat yang amoral. Meski perindu Islam masih ada di Turki, namun kelompok Kemalis masih terus menghantui masa depan Turki. Gerakan kudeta yang berhasil digagalkan pekan kemarin adalah bukti empiris akan tesis ini.

Islam adalah ilmu dan peradaban, agama dan pemerintahan yang oleh sekulerisme hendak dipisahkan. Diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” *(HR. Ahmad)*.

Namun pada hakikatnya paham sekulerisme sebagaimana disampaikan oleh Ahmad Al Qashash dalam kitabnya Usus Al-Nahdha Al -Rasyidah adalah pemisahan agama dari kehidupan manusia atau pemisahan Tuhan dari kehidupan manusia

Dengan karakteristiknya yang pragmatis duniawi, maka konsep sekulerisme tentang makna kebahagiaan juga bertolak belakang dengan pandangan Islam.

Sekulerisme memandang kebahagiaan adalah tercapainya kebutuhan materi semata tanpa mengindahkan cara untuk memperolehnya. Sumber kebahagiaan dalam sekulerisme dengan demikian adalah faktor yang berada di luar dirinya, yakni materi.

Sementara Islam memandang kebahagiaan adalah berasal dari dalam diri manusia. Faktor-faktor luar seperti kemakmuran, kekayaan, keluarga, kedudukan, pengetahuan, adalah faktor penunjang. Sifatnya hanya sebagai penyempurna, setelah faktor dominatifnya sudah ditemukan. Seseorang tidak akan mungkin menemukan kebahagiaan yang dicari di luar dirinya. Kebahagiaan hanya akan ditemukan di dalam diri sendiri.

Alquran maupun sunah Rasul telah memberikan jawaban bahwa faktor dominatif yang menyebabkan orang bisa memperolah kebahagiaan adalah sakinatul qalb atau ketenangan hati. Yaitu hati yang dipenuhi dengan kuatnya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bertindak sesuai dengan Alquran dan sunnah.

Dengan demikian, dalam pandangan Islam, kebahagiaan itu memiliki dua faktor. Pertama, faktor dominan yaitu berupa sakinatul qalb atau ketenangan hati karena adanya iman dan kedekatan kepada Allah. Sifatnya inner self, di dalam diri. Kedua faktor penunjang seperti kekayaan, jabatan, kesehatan dan sebagainya, yang sifatnya berada di luar diri manusia. Karena sifatnya menunjang, kekayaan, kesehatan, dan sebagainya itu melengkapi faktor dominan.

Dengan kata lain, faktor dominan itu mesti ada untuk timbulnya kebahagiaan. Jika tidak adanya faktor dominan menyebabkan kebahagiaan akan hilang. Akan tetapi, tidak adanya faktor penunjang belum tentu kebahagiaan seseorang hilang dari dirinya. Idealnya memang sesorang memilki faktor dominan dan penunjang sekaligus, sehingga kebahagiaan yang diperolehnya sempurna.

Kontaminasi racun sekulerisme di segala bidang sangat membahayakan aqidah kaum muslimin. Apalagi jika telah merasuki bidang pendidikan. Ciri sistem pendidikan yang sekuleristik adalah yang mengesampingkan etika dan moral anak didik. Sebab moral dianggap sebagai masalah pribadi dengan Tuhannya. Mereka memisahkan antara agama dengan kehidupan. Agama dicampakkan dalam ranah indivudi bukan publik.

Sistem pendidikan sekuleristik dengan demikian adalah sistem pendidikan yang tidak bertuhan. Apa jadinya jika produk pendidikan adalah manusia tanpa etika. Apa jadinya manusia tidak memiliki moral. Islam sangat mementingkan moral sebagai landasan kehidupan manusia.

Sebab jika manusia minus moral, maka tak ubahnya seperti binatang. Etika memiliki peran yang fundamental dalam sistem pendidikan Islam.

Di bidang politikpun, sekulerisme bisa menjadi racun mematikan. Paham sekulerisme dengan sistem demokrasinya telah merusak kemuliaan tujuan politik dengan lahirnya politik tak beretika.

Sekulerisasi politik telah mengakibatkan tumbangnya pilar-pilar fundamental dalam mengurus rakyat dan mengelola sumber daya alam. Politik yang telah terkontaminasi sekulerisme menjelma menjadi politik pragmatis transaksional.

Perilaku politikus yang hedonis, rakus kekuasaan, abai terhadap kepentingan rakyat, tidak amanah, opportunis dan anti-syariah bahkan hingga korupsi, suap dan fitnah mewarnai polah politik sekuler. Sekulerisme ini juga membahayakan jika telah merasuki bidang ekonomi dan budaya.

Ekonomi kapitalisme yang hanya mengayakan segelintir manusia dan memiskinkan jutaan manusia lainnya tanpa mengindahkan nilai-nilai etika adalah karakteristik ekonomi sekuler.

Timbangan kapitalisme adalah materialisme, hanya mengejar keuntungan materi tanpa memperdulikan hukum halal dan haramnya. Istilah pertumbuhan dalam sistem ekonomi kapitalis adalah pertumbuhan semu, sebab hanya fokus kepada produksi dan abai terhadap distribusi.

Sementara prinsip ekonomi Islam adalah ekonomi berbasis nilai kebajikan untuk kesejahteraan dan keberkahan banyak orang, sehingga lebih fokus kepada distribusi.

Budaya sekuler adalah budaya hedonis dan liberal yang bertujuan untuk memuaskan hawa nafsu. Budaya sekuler memberikan peluang kepada manusia untuk berekspresi sebebas-bebasnya tanpa batas-batas kepantasan dan nilai religius.

Pergaulan bebas, seks bebas, minuman keras, dan hiburan amoral adalah sedikit contoh budaya sekuler. Sementara Islam menjadikan budaya sebagai penghalus rasa dan sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Untuk membendung paham sekulerisme di segala bidang, harus menjadikan Alquran dan As Sunnah sebagai sumber pemikiran dan perilaku. Rasulullah bersabda, “ telah aku tinggalkan kepada mu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Alquran dan Sunnah” *(HR. Bukhari)*

Bahkan Allah mengancam dengan kerusakan kehidupan manusia jika mengadopsi sekulerisme dan membuang hukum Allah. “Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. *(QS Thaha : 124)*

Sifat blasphemik sekulerisme telah menjadi pangkal segala kerusakan peradaban manusia. Daya rusak blasphemik sekulerisme meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Saatnya menegakkan Islam dan tinggalkan sekulerisme, jika masih punya impian bagi kebaikan negeri ini.

Jika ada istilah Islam radikal, itu hanya tuduhan Barat untuk merusak citra Islam, sebab Islam adalah agama dan ideologi terbaik yang datang dari Allah. Tapi jika disebut Barat sebagai radikalisme sekuler yang menjadi biang kerok kerusakan kehidupan manusia, ini adalah kenyataan. Secular radicalism is the real blasphemy.

Karena itu gerakan revolusi Islam dengan dakwah syariah dan khilafah untuk menggantikan ideologi kapitalisme sekuler atau komunisme ateis selain rasional juga sebuah keharusan. []


Oleh Dr. Ahmad Sastra
Dosen Filsafat UIKA Bogor
Dipublikasikan pertama kali oleh Republika

Rabu, 13 Juni 2018

Bagi Muslim yang Lurus, Al-Qur'an dan Hadits Bukan Dokumen Sejarah

View Article

Syaitan memang menggoda manusia dengan banyak cara, sebab dia sudah terlatih ribuan tahun, dengan berbagai cara dan strategi yang sudah jelas keberhasilannya

Allah ingatkan dalam Al-Qur'an "Maka syaitan menghias amal-amal buruk mereka", hingga mereka merasa berbuat baik padahal bermaksiat, memperbaiki padahal merusak

Itulah sifat Yahudi munafik, mereka merasa memperbaiki dunia padahal merusak, jangankan bertindak biadab membunuhi manusia, para Nabi saja mereka bunuhi

Maka memenuhi undangan mereka, dengan dalih menasihati adalah bagian tipudaya. Alasannya Musa saja menghadap Fir'aun, padahal jauh dari itu

Musa datang dengan penuh kehormatan, mendakwahi Fir'aun dengan tegas, bahwa dia melampaui batas. Bukan diundang, difasilitasi, untuk berkata yang diinginkan Fir'aun

Lihat saja, ketika diundang dan ditanya sekira begini "Apakah mungkin mengintepretasi Al-Qur'an dengan cara berbeda, agar tidak jadi masalah bagi relasi Islam dan Yahudi?" begitu

Maka dijawab, "Bukan hanya bisa, tapi wajib". Lalu lanjut berkata. "So, the Qur'an and the Hadith, are both basically, a historical document". Innalillahi

Menganggap Al-Qur'an dan Al-Hadits ialah dokumen sejarah. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang menolak Al-Qur'an dengan berkata "itu hanya kisah orang terdahulu", Ya Rabb

Sama saja mengatakan, bahwa apa yang dibuat oleh Rasulullah sebagai pengertiannya terhadap Al-Qur'an tidak lagi relevan dengan masa kini, merasa lebih tau ketimbang Rasul?

Bagi yang begini, Allah ingatkan,

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu". Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan" - QS Al-Mutaffifin: 13-17

Bagi kita Al-Qur'an dan Hadits adalah wahyu. Penuntun hidup manusia.

Fatah dan Hamas Kecam Keras Yahya C Staquf

View Article

Gerakan Fatah menilai partisipasi Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) pada konferensi hubungan Yahudi-Amerika di Yerusalem sebagai kejahatan terhadap Yerusalem, Palestina, dan Muslim di dunia. Fatah berpendapat duduk bersama penjajah Israel sama dengan melawan rakyat Palestina.

Sebagai informasi, meski menuai banyak kecaman, Yahya akhirnya benar-benar datang menjadi pembicara dalam acara American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem, Israel, Ahad (10/6/2018) kemarin, yang dibuka oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

“Partisipasi Yahya Staquf, Sekretaris Jenderal organisasi Muslim Indonesia Nahdlatul Ulama, pada konferensi ini di Yerusalem yang diduduki adalah pengkhianatan terhadap agama, al-Aqsha dan kebangkitan, rakyat Palestina, dan negara-negara Arab dan Islam,” kata juru bicara Fatah Osama al-Qawasmi dalam sebuah pernyataan, dilaporkan Palestinow, Selasa (12/6/2018).

Dia meminta Pemerintah Indonesia dan pejabat pro-Palestina Indonesia dan rakyat Indonesia untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang menjual diri mereka kepada ‘setan’ dan ingin menjadi
instrumen di tangan Zionis dan Israel.

Senada dengan Fatah, gerakan perlawanan yang berbasis di Gaza, Hamas, juga mengecam langkah anggota Dewan Pertimbangan Presiden tersebut dalam kehadirannya di Israel. Hamas menegaskan, kunjungan itu dilakukan di tengah penolakan masyarakat dan tidak adanya hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel.

“Kami menghargai sikap bersejarah Indonesia yang mendukung hak-hak bangsa Palestina dan perjuangannya untuk kebebasan dan kemerdekaan,” ujar Hamas dalam pernyataan resminya, Senin (11/6), dikutip Anadolu Agency.

Kunjungan Yahya, kata Hamas, merupakan bentuk dukungan besar dan pengakuan bagi rezim fasis. Hamas menilai kehadiran Gus Yahya akan memberikan pembenaran bagi Israel untuk melakukan kejahatan lebih lanjut terhadap rakyat dan tempat-tempat suci bangsa Palestina.

red: farah abdillah / suara-islam

Katib Aam PBNU ke Israel, Kyai Ma’ruf Amin: Tak Terkait MUI dan NU, Kami tidak Mendukung

View Article

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Ma’ruf Amin, mengatakan keberangkatan Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf ke Israel merupakan tanggung jawab pribadi dan tidak terkait dengan MUI serta Nahdlatul Ulama (NU).

Sebagai informasi, Yahya Cholil Staquf adalah Katib Aam PBNU. Secara organisastoris, Yahya bawahan Kyai Ma’ruf Amin yang menjabat sebagai Rais Aam. Sementara di ajang AJC Global Forum in Israel 2018, nama Yahya Staquf diberi predikat sebagai “General Secretary of the Nahdlatul Ulama (NU) Supreme Council.” Yahya baru-baru ini juga diangkat Presiden Jokowi sebagai anggota Wantimpres, yang menggantikan posisi Alm Kyai Hasyim Muzadi.

“Keberangkatan Yahya Staquf tidak ada kaitannya dengan MUI dan juga NU. Kami tidak mendukung. Kalau ditanya alasannya, silahkan tanya kepada yang bersangkutan mengapa melakukan hal itu (berangkat ke Israel),” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (12/06/2018) seperti dikutip ANTARA.

Kyai Ma’ruf menegaskan, MUI konsisten membela Palestina. Sama halnya dengan sikap pemerintah dan juga negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Ma’ruf juga menegaskan bahwa MUI mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota dari Palestina.

Yahya Staquf diundang menjadi pembicara dalam seminar internasional yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) di Israel.

“Itu inisiatif sendiri, tanggung jawab sendiri. Seberapa jauh pengaruhnya, terhadap upaya Kementerian Luar Negeri, apakah memperlancar upaya Kemenlu dalam mengupayakan perdamaian dengan tetap agar menjaga agar Palestina menjadi negara yang merdeka dan berdaulat atau justru mengganggu nanti akan dilihat,” ujarnya.

“Nanti akan dilihat, seberapa mengganggunya keberangkatan Yahya ini. MUI tidak punya hak untuk menindak, kami serahkan sepenuhnya pada NU,” demikian Ma’ruf Amin.

red: farah abdillah / suara-islam

Rabu, 06 Juni 2018

Islamophobia di Dunia Pendidikan, Upaya Menjegal Sinar Kebangkitan Umat

View Article

Radikalisme dalam konteks terorisme saat ini tengah digadang-gadang terinfiltrasi dalam berbagai aspek, termasuk di dunia pendidikan. Perumpamaan “Gebyah Uyah” dalam bahasa jawa yang artinya mengeneralisir semua hal atas “waspada radikalisme”, saat ini tengah menyoroti sekolah yang dituding sebagai tempat berkembangnya cikal bakal terorisme.

Sebagaimana dilansir oleh mediaindonesia.com, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Musdah Mulia mengungkapkan, saat ini sekolah di Indonesia tidak berperan sebagai penjaga anak-anak dari radikalisme. Sekolah justru kerap menjadi lokasi berkembangnya paham tersebut. Sementara itu, Shinta Nuriah Wahid bersama dengan puluhan aktivis Gerakan Warga Lawan Terorisme mengatakan sudah saatnya pemerintah menyegerakan reformasi di bidang pendidikan. Hal itu untuk mengatasi perkembangan paham intoleran dan radikal yang demikian pesat. Pernyataan senada diungkapkan oleh Al Chaidar, pengamat terorisme, dalam republika.com, yang menyarankan pemerintah harus membuat program pencegahan dalam bentuk pendidikan kepada anak-anak sekolah. Program tersebut menurutnya bisa mencegah masuknya paham-paham radikalisme pada anak-anak.

Tidak hanya menerpa sekolah formal, bahkan homeschooling pun menjadi bahasan yang dikaitkan dengan cikal bakal radikalisme. Kasus bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak didalamnya, diklaim bahwa mereka adalah korban indoktrinasi orang tuanya dimana sehari-harinya anak-anaknya dikatakan belajar mandiri (homeschooling). Rilis dalam CNNIndonesia.com, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar tak menampik homeschooling tunggal mungkin menjadi sarana baru bagi orang tua mengajarkan radikalisme pada anak. “Kami sendiri masih tergagap-gagap. Terus terang, komunikasi orang tua terhadap anak, siapa yang bisa mengawasi? Instrumen apa? Kami nggak tahu bagaimana menjawab itu,” kata Harris kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/5).

Isu Radikalisme yang terus diembuskan semakin menunjukkan bahwa tengah terjadi Islamophobia tingkat akut. Pemahaman radikalisme yang dimaksudkan sedang terus berkembang diantaranya adalah konsep jihad dalam islam serta sistem pemerintahan dalam Islam. Kekhawatiran atas semakin banyaknya umat muslim yang ingin menjalankan syariat dalam agamanya telah menimbulkan Islamophobia bagi banyak kalangan. Islamophobia sendiri didefinisikan oleh Wikipedia sebagai prasangka dan dikriminasi pada Islam dan muslim.

Sebenarnya mengapa Islamophobia ini terus diopinikan? Hal ini tidak lepas dari proyek Global War on Terrorism (GWOT) yang digagas oleh Amerika Serikat. Bukti bocornya dokumen dari Wikileaks seharusnya cukup menjadi bukti bahwa isu terorisme sengaja diangkat sebagai pembenaran kejahatan AS atas dunia Islam. Alih-alih menghindar, pemerintah Indonesia malahan terus meningkatkan kerja sama berantas terorisme dengan pemerintah Amerika. Kerja sama ini dibahas dalam pertemuan bilateral menhan Ryamizard Ryacudu dengan Menhan AS James Mattis di Kementrian Pertahanan di Jakarta, sebagaimana dilansir beritasatu.com.

Sesungguhnya mengapa islamophobia kian marak? Benarkah jihad yang dimaksud Rasulullah saw., sebagai puncak amal seorang muslim, adalah dengan meneror kaum non muslim? Dalam QS Al Maidah : 32 disampaikan bahwa barangsiapa menghilangkan nyawa seorang manusia yang tidak bersalah maka seakan-akan dia menghilangkan nyawa manusia seluruhnya. Kaum muslim dilarang keras untuk meneteskan darah baik muslim maupun non-muslim yang tidak menyerangnya, dan perbuatan tersebut tergolong sebagai dosa besar. Bahkan di masa kejayaan islam, islam terbukti melindungi warga negaranya yang baik muslim maupun non-muslim, tanpa ada perbedaan. Kaum non-muslim sama-sama berhak mendapatkan pendidikan gratis, pengobatan gratis, perlidungan terhadap jiwa dan harta serta sama haknya di mata hukum.

Peristiwa penaklukkan kembali Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin pun diakui oleh banyak pihak sebagai ketinggian akhlak kaum muslimin dimana seluruh penduduk yang menyerah diampuni dan dipersilakan untuk tinggal dan beribadah sesuai keyakinannya, tanpa dipersekusi sama sekali. Hal ini bertolak belakang dengan perebutan Baitul Maqdis dari kaum muslimin yang dipenuhi dengan kekejaman dan pengusiran kaum muslimin. Film The Kingdom of Heaven yang telah sering diputar di layar kaca adalah salah satu contoh nyata yang diakui oleh banyak sejarawan mengenai ketinggian ajaran Islam yang direfleksikan oleh Shalahuddin al Ayubi saat masuk ke Baitul Maqdis. Sehingga jelas-jelas kasus bom bunuh diri yang terjadi akhir-akhir ini sesungguhnya sangat bertentangan dengan Islam.

Islamophobia yang diangkat akhir-akhir ini di kalangan akademisi, sesungguhnya adalah respon terhadap semakin berkembangnya pemahaman kaum muslim yang semakin rindu untuk senantiasa terikat dengan hukum Islam. Dari URI.co.id, diberitakan mengenai hasil survei yang dilakukan atas pengurus Unit Kegiatan Sekolah Kerohanian Islam atau Rohis di beberapa SMA Negeri favorit di Jawa Tengah dan DIY, menyatakan bahwa rangking tertinggi tokoh-tokoh idola para pelajar adalah Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir. Hasil survei yang dipaparkan dalam Seminar Hasil Penelitian Agama di Laras Asri Hotel Salatiga ini cukup mengejutkan kalangan akademisi, yang menyimpulkan bahwa pemahaman dan sikap keagamaan siswa SMA Negeri di Jawa Tengah telah terinfiltrasi dengan radikalisme.

Dr Aji Sofanudin, MSi Peneliti Muda pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang (Kemenag RI) atas hasil survei tersebut menyatakan beberapa siswa SMA Negeri setuju untuk mengubah dasar negara Pancasila, memilih pemimpin semata-mata berdasarkan kesamaan agama, serta pemisahan siswa laki-laki dan perempuan dalam acara keagamaan. Di kesempatan lain, Prof. Musdah Mulia menyampaikan hasil survei yang dilakukan Wahid Foundation pada 2016, setidaknya 60% dari 1.626 responden aktivis Rohani Islam (Rohis) setuju untuk berjihad ke wilayah konflik saat ini. Bahkan, 68% juga setuju untuk berjihad di masa mendatang.

Isu radikalisasi yang diembuskan terus-menerus sejatinyanya adalah upaya global membungkam umat yang mulai bergeliat untuk kembali kepada syariat islam yang kaffah. Umat dari kalangan akademisi, mahasiswa bahkan pelajar SMP dan SMA semakin hari semakin bergejolak dan mulai bangkit pemikirannya melihat ketimpangan ekonomi dan jauhnya negeri ini dari syariat Islam. Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya seharusnya steril dan tidak dibatasi ruang gerak intelektualitasnya dalam mencari kebenaran hakiki. Ruang diskusi seharusnya dikedepankan, bukannya praduga dan justifikasi sepihak. Publik telah mulai cerdas membaca fakta sehingga jika saja forum debat dilakukan secara adil dan tidak memihak, maka akan terang terlihat akar permasalahan dari keterpurukan umat muslim saat ini.

Maka pergolakan ini, semakin ditahan, dengan UU Antiterorisme, UU Ormas dan berbagai metodenya, justru akan semakin meningkatkan perlawanan dan pembelaan dari umat yang hanif. Umat semakin paham bahwa akar dari segala masalah yang menimpa kaum muslimin adalah akibat dari perilaku sekulerisme yang memisahkan aturan Islam dari aturan kehidupan.

Kembali bangkitnya Islam adalah janji Allah yang pasti, tinggal menunggu waktu, sebagaimana terjemah QS An Nur : 55 yang artinya “sungguh Allah akan menjadikan mereka (orang-orang yang beriman) berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa”. Dan ingatlah pula tantangan Allah kepada kaum yang menghalangi tegaknya kemuliaan Islam di dalam QS Al Anfal: 30. Allah Swt. berfirman “bahwa sesungguhnya mereka memikirkan tipudaya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. Wallahu ‘alam.

Dona Sulistia Kusuma, M.Si
Penyelenggara pendidikan, Ketua Yayasan Pendidik Generasi Khoiru Ummah
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Muslim Melayu Menentang Naga Komunis

View Article

Sungguh mencengangkan kemenangan Dr. Mahathir Muhammad, 92 tahun dalam Pemilu Malaysia baru-baru ini. Dalam usianya yang sudah sangat lanjut itu.

Koalisi oposisi Pakatan Harapan yang diketuai Mahathir menyatakan telah memenangi kursi yang cukup dalam Pemilihan Umum ke-14 untuk membentuk pemerintah federal Malaysia. Berdasarkan laporan undi.info.live, Barisan Nasional beroleh 77 kursi parlemen, Pakatan Harapan 119 kursi, dan PAS 17 kursi. Sesuai aturan, mereka yang perolehan kursinya melebihi 112 berhak membentuk pemerintahan federal.

Kemenangan itu mengakhiri lebih dari 60 tahun pemerintahan oleh Barisan Nasional. Mahathir Mohamad menyatakan, koalisi itu akan mengembalikan hukum dan peraturan. Dia juga menyatakan bahwa kemenangannya, “tidak hanya tentang beberapa suara, tidak hanya tentang beberapa kursi,tapi tentang mayoritas yang substansial.”

Mayoritas yang substansial yang dimaksudkan secara tersirat itu adalah Muslim Melayu, yang menentang petahana yang disokong kaum China berideologi anti Tuhan, atau disebut juga dengan istilah Naga Komunis. Tun Nadjib Razak ditumbangkan Mahathir Mohammad yang sudah berusia 92 tahun.

Amien Rais menyebut kemenangan Mahathir Mohamad di pemilu Malaysia akan berdampak di Indonesia. Dia yakin kemenangan yang sama akan diraih partai oposisi di Indonesia di pemilu 2019 mendatang.

“(Mahathir) menghadapi Najib (petahana) yang sangat kuat, menguasai polisi, menguasai ini dan lain-lain. Kalah Najib,” kata Amien saat mengisi ceramah di Masjid Muthohirin Yogyakarta, Kamis (10/5/2018) malam. “Insyaallah ini (pemilu Indonesia 2019) juga akan seperti itu,” lanjut Amien.

Amien mengakui memang kemenangan Mahathir sangat berdampak dalam pemilu di Indonesia mendatang. Sebab, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa petahana masih bisa dikalahkan.

“Kalau Mahathir menang di Malaysia, Prabowo menang di Indonesia nanti itu bisa bermitra. Kita bisa saling memperkuat,” ungkapnya.

Amin menyebut pemilu 2019 mendatang merupakan ajang pertempuran politik. Dia mengibaratkan pemilu 2019 seperti perang badar di zaman Rasulullah.

Kala itu, jumlah pasukan muslim tidak sebanding dengan jumlah lawan. Namun, atas tekad para pejuang muslim dan atas bantuan Allah, akhirnya perang tersebut dimenagkan pihak muslim. “Allah akan tetap menolong kita,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Amien Rais memang menjadi pendapat umum rakyat Malaysia. Tim Suara Islam yang bertandang ke Malaysia merekam opini masyarakat yang seolah tak percaya kemenangan Mahathir.

“Benar-benar, banyak orang tidak sangka, Datuk Dr Mahatir Muhammad berhasil memenangkan pemilihan umum. Pula, kendati tidak dengan kemenangan yang mutlak, Agung (maksudnya Yang Dipertuan Agung Diraja Malaysia, re ) memilihnya untuk kembali ke kekuasaan Perdana Menteri.”

Demikian tuturan Ustaz Shofwan Badrie Bin Ahmad Badrie, shohibul fadhilah alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo Jawa Timur, yang sudah mukim selama 30 tahun dan sudah menjadi warga Negara Malaysia, Senin (28 Mei 2018) dalam perbincangan dengan Suara Islam yang berkunjung ke Malaysia selama tiga hari.

Kendati banyak yang tidak sangka atas kemenangan ini, namun setelah partai-partai oposisi—-terutama dengan keluarga Anwar Ibrahim dapat menyatu, umumnya warga Malaysia kemudian menjadi Optimis Datuk Mahatir mampu ambil alih kembali pemerintahan. “Jika yang dulu menyebabkan kebagusan bagi Malaysia , kemudian terjadi kerusakkan, Allah masih beri kesempatan Datuk Mahatir untuk perbaiki kembali,” tandas Ustaz Sofwan Badrie.

Ustaz Sofwan Badrie bin Ahmad Badrie serta sejumlah Sahibul Fadhilah yang sempat berbincang dengan Suara Islam rata-rata mengungkap kunci keberhasilan Datuk Mahatir Muhammad memenangkan pemilihan; karena terjadi kesatuan kehendak yang menggumpal kuat dari segenap partai oposisi untuk mengganti pemerintahan. Dan, ketika itu memang ada “sesuatu” yang mampu mempersatukan menjadi gumpalan pandangan dan kehendak yang satu dan kokoh.

“Jakarta (Indonesia, red) Insyaallah tentu mampu merembetkan kemenangan Datuk Mahatir, untuk mengambil kemenangan pada pemilu 2019 mendatang. Toh, indikasinya sudah ada; yang sudah terbukti mampu menyatukan kekuatan, untuk meraih kemenenangan di ibu kota Negara,” ungkap Ustaz Sofwan Badrie.

Suara Islam di antaranya mencatat yang pernah terjadi di dalam menghadapi Pilkada DKI dengan target menggagalkan incumbent untuk memimpin kembali. Namun ketika sudah memaksimalkan – semaksimal mungkin ikhtiar, di pihak seberang justru memperhebat “rayuan” kepada calon pemilih, dengan menggencarkan pembagian sembako. Menggerojok hebat hingga ke kantong-kantong dhuafa yang paling tersembunyi. [suara-islam]

Tentang THR dan APBN yang Dikelola Ugal-ugalan

View Article

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke-13 tahun ini adalah bukti bahwa klaim itu Cuma isapan jempol. Faktnya Pemerintah mengelola APBN dengan ugal-ugalan.

Beberapa bukti itu antara lain, pertama, Presiden Jokowi mengaku tidak tahu-menahu tentang THR dan gaji ke-13 tersebut. Untuk perkara ini memang bisa disebut aneh bin ajaib. Kok bisa Presiden tidak tahu ada alokasi duit hingga Rp35,8 triliun yang diklaim Sri sudah dianggarkan di APBN.

Keanehan berikutnya, kalau pun Jokowi tidak tahu-menahu, kok Presiden sudah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang pemberian THR dan gaji ke-13 untuk para pensiunan penerima tunjangan, seluruh PNS, prajurit TNI, dan Anggota Polri, pada 23 Mei 2018 silam?

Selain untuk para pegawai sipil, militer, dan Polri, PP tersebut menyebut pejabat negara lainnya seperti Presiden, Wakil Presiden, anggota MPR dan DPR juga dapat THR. Rinciannya, anggaran THR gaji sebesar Rp 5,24 triliun, THR untuk tunjangan kinerja Rp 5,79 triliun, THR untuk pensiunan Rp 6,85 triliun, gaji ke-13 sebesar Rp 5,79 triliun,‎ dan pensiunan ke-13 senilai Rp 6,85 triliun.

Bukti kedua bahwa APBN dikelola dengan ugal-ugalan adalah, para kepala daerah (bupati/walikota) ternyata kebingungan. Pasalnya, Sri mengatakan pemberian THR dan gaji ke-13 di daerah menjadi tanggungjawab APBD. Yang jadi persoalan, para kepala daerah tadi tidak tahu ada ketentuan tersebut. Bukan itu saja, mereka malah menyatakan tidak tahu harus mencomot dari pos mana di APBD.

Sebagai Menkeu, tentu saja, Sri mengklaim semuanya sudah diurus rapi-jali sejak awal. Menurut dia, penganggaran THR dan gaji ketiga belas tahun ini sudah masuk dalam Dana Alokasi Umum (DAU) di APBN 2018. Artinya, Pemerintah sudah membahas dengan DPR.

Pembohongan publik

Kelau Sri memang benar, bahwa penganggarananya sudah masuk dalam pos DAU, kenapa para kepala daerah kebingungan? Keluhan seperti inilah yang disampaikan Ketua MPR Zulkifli Hasan, hari-hari belakangan. Bahkan, menurut Zulkifli, dia mengaku mendapat informasi ada Bupati yang membayar sendiri THR tersebut. Apakah ini tidak berarti Sri telah melakukan pembohongan publik?

Sengkarut perkara THR ini kian jadi pabalieut setelah Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo ikut cawe-cawe. Melalui surat bernomor 903/3387/SJ, Tjahjo melimpahkan pembayaran THR dan gaji 13 kepada APBD.

Sayangnya, niat Tjahjo untuk membantu koleganya, justru makin menguak betapa APBN disusun dan dikelola dengan serampangan. Buktinya, pada poin keenam surat menyebutkan bagi daerah yang belum menyediakan/tidak cukup tersedia anggaran THR dan gaji 13 dalam ABBD tahun 2018, pemerintah daerah segera menyediakan. Caranya, dengan menggeser anggaran yang dananya bersumber dari belanja tidak terduga, penjadwalan ulang kegiatan dan atau menggunakan kas yang tersedia.

Lalu, poin ketujuh surat tersebut menyebutkan penyediaan anggaran THR dan gaji ke-13 atau penyesuaian nomenklatur anggaran sebagaimana tersebut pada angka 6 dilakukan dengan cara mengubah penjabaran APBD tahun 2018 tanpa menunggu perubahan APBD tahun 2018. Meski demikian, para kepala daerah harus segera memberitahukan kepada pimpinan DPRD paling lambat sebulan setelah dilakukan perubahan penjabaran APBD.

Praktik geser-menggeser anggaran karena tidak dialokasikan sebelumnya jelas membongkar kebohongan Sri. Menkeu yang satu ini dengan yakin dan pedenya alias percaya diri menyatakan, soal THR dan gaji ke-13 sudah dialokasikan dalam DAU. Yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Para bupati dan walikota kebingunan dan kelimpungan.

Pidana korupsi

Tapi, tahukah Sri, Tjahjo dan para pejabat publik lain, bahwa praktik geser-menggeser anggaran dalam APBD dan atau APBN tidak bisa sembarangan dilakukan? Kalau nekat, mereka bisa dikenai pasal-pasal pidana korupsi. Paling tidak, begitulah pendapat pakar hukum tata negara Margarito Kamis.

Menurut Margarito, dari segi tata negara dan hukum keuangan, memberi THR dan gaji ke-13 adalah hal yang lazim saja. Keganjilan baru terjadi bila keduanya tidak dianggarkan dalam APBN dan atau APBD.

Seperti diketahui, APBN dan APBD adalah produk hukum. Di tingkat pusat, APBN disahkan dengan Undang Undang. Sedangkan di daerah sah melalui Perda. Dengan demikian, jika sebelumnya tidak dianggarkan dalam APBN dan atau APBD, maka akibat hukumnya adalah Pemerintah tidak punya dasar hukum melakukan pembayaran THR dan gaji ke-13 itu.

“Pembayaran THR dan gaji-13 tidak dapat dipecahkan dengan cara menggeser mata anggaran dalam APBD. Bila Pemda melakukannya, maka tindakan itu absolut bertentangan dengan hukum. Dapat dipastikan pergeseran itu akan menjadi temuan oleh BPK. Surat edaran Mendagri tidak memiliki kapasitas hukum, sehingga tidak bisa dijadikan dasar hukum oleh Pemda menggeser anggaran. Bila Pemda memaksakan diri, maka potensi munculnya tindak pidana korupsi,” papar Margarito.

Itu baru dari sisi hukum. Di luar itu, masih ada masalah lain. Duit Rp35,8 triliun jelas bukanlah sedikit. Jumlah itu kian terasa jumbo, manakala pada banyak kesempatan Pemerintah berteriak-teriak tidak punya uang untuk membiayai pembangunan. Namun anehnya, pada saat yang sama Pemerintah dengan entengnya menggelontorkan dana sangat besar untuk keperluan yang aroma politisnya sangat menyengat ini.

Asal tahu saja, alokasi THR dan gaji ke-13 tahun ini memang benar-benar superjumbo. Dibandingkan dengan alokasi serupa tahun lalu yang ‘hanya’ Rp23 triliun, kali ini kenaikannya mencapai 68,92%. Lonjakan ini lantaran adanya penambahan komponen THR pensiun sebesar Rp6,9 triliun dan THR tunjangan kinerja sebesar Rp5,8 triliun.

Pada 2017, THR hanya diberikan kepada aparatur pemerintah sebesar gaji pokok tanpa tunjangan. Sedangkan pensiunan tidak diberikan THR. Sebaliknya tahun ini komponen THR mencakup gaji pokok, tunjangan umum, tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, dan tunjangan kinerja. Sementara THR yang diterima para pensiun meliputi pensiun pokok, tunjangan keluarga dan tunjangan tambahan penghasilan. THR dengan berbagai komponen seperti itulah yang juga diterima Presiden, Wakil Presiden, pimpinan dan anggota DPR dan MPR.

Katanya ber-Pancasila?

Sampai di sini sedikitnya ada dua muatan. Pertama, aksi bagi-bagi duit di tahun politik ini jelas jadi hajat penting Pemerintah. Gampang ditebak, Pemerintah mencoba merayu aparat dan pensiunan untuk meraup suara dukungan mereka. Sahkah? Hmmm…. gimana yaaa…

Kedua, apa iya Presiden, Wapres, pimpinan dan anggota DPR/MPR masih perlu dapat THR dan gaji ke-13. Lha wong hampir bisa dipastikan, mereka selama ini sudah relatif tajir. Para pejabat publik itu sudah memperoleh gaji dan guyuran fasilitas lebih dari cukup, untuk tidak menyebut berlebihan, yang semuanya dibiayai dengan uang rakyat. Tidakkah ada sedikit saja empati mereka terhadap sebagain besar rakyat yang kesehariannya harus berakrobat dan pontang-panting untuk sekadar bertahan hidup?

Katanya ini negeri ber-Pancasila? Dimanakah nilai-nilai Pancasila itu? Bagaiman dengan jargon dan slogan para pejabat publik yang getol berteriak paling lantang, “kami Pancasila, kami Indonesia, NKRI harga mati”?

Masih soal empati dan teposliro dari para pejabat publik tadi. Iseng-iseng hitung, berapa jumlah seluruh aparatur negara? Silakan gabung jumlah PNS, aparat sipil dan militer dari Sabang sampai Merauke? Adakah total jumlah mereka 10 juta orang saja? Katakanlah, rata-rata tiap aparat/pegawai menanggung beban empat jiwa (satu istri plus tiga anak), maka jumlahnya baru 50 juta jiwa. Kalau kini penduduk Indonesia ada 263 juta jiwa, lalu, bagaimana dengan nasib 213 juta jiwa sisanya? Kepada siapa mereka berharap THR dan gaji ke-13?

Makin dikulik, perkara THR dan gaji ke-13 ini makin miris saja. Bagaimana tidak, APBN di tangan seorang Menkeu yang konon terbaik di dunia, kok bisa-bisanya jadi amburadul dan acak-kadut begini? Sekali lagi, ini jadi bukti bahwa dia memang memang cuma moncer di media belaka. Gemerlap yang ada adalah buah kolaborasi media mainstream dan kapitalisme global yang punya kepentingan dan agenda tersembunyi, baik secara ekonomi maupun politik, terhadap negeri ini. Ngeriii…!

Jakarta, 5 Juni 2018

Edy Mulyadi
Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Selasa, 05 Juni 2018

Beberapa Amalan yang Dianjurkan pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

View Article

Setelah memaklumi bahwa lailatul qadr berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, tentu seorang hamba harus mempersiapkan dirinya dengan beberapa amalan shahih yang, kalau dikerjakan pada lailatul qadr, nilai amalan itu tentu lebih baik daripada dikerjakan selama seribu bulan.

Amalan shahih apapun, yang dikerjakan pada lailatul qadr, akan mengandung keutamaan tersebut. Oleh karena itu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat memaksimalkan amalan shalih pada sepuluh malam terakhir sebagaimana diterangkan oleh Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir, suatu hal yang beliau tidak bersungguh-sungguh (seperti itu) di luar (malam) tersebut.” [Diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Majah.]

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim mencontoh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam kesungguhan beliau dalam hal menjalankan ibadah.

Berikut beberapa amalan yang pelaksanaannya sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Pertama: Qiyamul Lail

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (untuk mengerjakan shalat) pada lailatul qadr karena keimanan dan hal mengharap pahala, akan diampuni untuknya segala dosanya yang telah berlalu.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, Muslim, Abu Dâwud, At-Tirmidzy, dan An-Nasâ`iy.]

Perihal amalan ini juga diterangkan oleh Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,

كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Adalah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, bila sepuluh malam terakhir telah masuk, mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry (konteks hadits ini milik beliau), Muslim, dan Abu Dâwud.]

Kedua: Membaca Al-Qur`an

Al-Qur`an Al-Karim memiliki kekhususan kuat berkaitan dengan bulan Ramadhan bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur`an.” [Al-Baqarah: 185]

Dimaklumi pula bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memberi perhatian lebih terhadap Al-Qur`an pada bulan Ramadhan sehingga Jibril turun pada bulan Ramadhan untuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang membaca Al-Qur`an sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ bahwa beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَلْقَاهُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam orang yang terbaik dengan kebaikan, dan beliau lebih terbaik pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril menjumpai beliau setiap tahun pada (bulan) Ramadhan hingga bulan berlalu. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam memperhadapkan Al-Qur`an kepada (Jibril). Apabila Jibril menjumpai (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam), beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang lebih baik dengan kebaikan daripada angin yang berembus tenang.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, Muslim, dan An-Nasâ`iy.]

Dimaklumi oleh setiap muslim, keutamaan Al-Qur`an dalam segala hal, baik dalam membacanya, menadabburinya, mempelajarinya, maupun hal-hal selainnya.

Ketiga: I’tikaf

I’tikaf berarti berdiam di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Tidaklah seseorang keluar dari masjid, kecuali untuk memenuhi hajatnya sebagai manusia.

I’tikaf adalah ibadah sunnah pada bulan Ramadhan serta di luar Ramadhan. Amalan tersebut adalah syariat yang telah ada pada umat-umat sebelum umat Islam dan merupakan mahligai kaum salaf shalih.

Dasar pensyariatan amalan itu adalah firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Sedang kalian beri’tikaf di dalam masjid.” [Al-Baqarah: 187]

Ayat di atas masih dalam rangkaian penjelasan hukum-hukum seputar puasa Ramadhan. Jadi, I’tikaf memiliki kekhususan berkaitan dengan Ramadhan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagaimana diterangkan oleh hadits Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ,

أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri beliau beri’tikaf setelah itu.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary, Muslim dan Abu Dâwud.]

Keempat: Memperbanyak Doa

Doa adalah ibadah yang sangat agung, merupakan sifat para nabi dan rasul serta ciri orang shalih. Keutamaan, perintah, dan manfaat doa sangatlah banyak diterangkan dalam Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Keberadaan doa pada bulan Ramadhan sangatlah kuat. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menyebut tentang amalan tersebut di sela-sela pembicaraan tentang hukum-hukum puasa. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [Al-Baqarah: 186]

Dimaklumi pula bahwa pertengahan malam adalah waktu yang baik untuk berdoa,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ (وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : حِيْنَ يَمْضِيْ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ, وَفِيْ رِوَايَةٍ أُخْرَى لَهُ : إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثَاهُ) فَيَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهِ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita Tabâraka wa Ta’âlâ turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam terakhir tersisa (dalam salah satu riwayat Muslim, ‘Ketika sepertiga malam pertama telah berlalu,’ dan dalam riwayat beliau yang lain, ‘Apabila seperdua atau dua pertiga malam telah berlalu,’), kemudian berfirman, ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkan untuknya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberikan untuknya, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.’.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, Abu Dâwud, At-Tirmidzy, dan Ibnu Mâjah.]

Kelima: Taubat dan Istighfar

Taubat dan istighfar adalah amalan yang dituntut pada seluruh keadaan. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kalian seluruhnya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” [An-Nûr: 31]

Malam hari adalah tempat untuk bertaubat dan beristighfar bagi orang-orang yang bertakwa. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ. آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ. كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan pada mata air-mata air, sambil mengambil sesuatu yang diberikan oleh Rabb mereka kepada mereka. Sesungguhnya, sebelumnya di dunia, mereka adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; Dan pada akhir malam, mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzâriyât: 15-18]

Keenam: Umrah

Umrah termasuk amalan shalih yang agung, penuh dengan keutamaan dan kebaikan, serta lebih utama untuk diamalkan pada bulan Ramadhan karena Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُمْرَةً فِيْ رَمَضَانَ تَقْضِيْ حَجَّةً مَعِيْ

“Umrah pada bulan Ramadhan menggantikan haji bersamaku.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, Abu Dâwud, At-Tirmidzy, dan Ibnu Mâjah.]

Demikian beberapa contoh amalan shalih pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Wallâhu A’lam.


Oleh Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi
Artikel: http://dzulqarnain.net/beberapa-amalan-yang-dianjurkan-pada-sepuluh-malam-terakhir-ramadhan.html

Sabtu, 02 Juni 2018

Perawat 21 Tahun Ini Ditembak Mati Zionis Israel (Video)

View Article

Razan al-Najjar, 21 adalah tenaga medis  perempuan Palestina ditembak mati oleh pasukan Israel di Jalur Gaza pada Jumat (1/6/2018). Tenaga media berparas cantik penolong demonstran yang terluka ini ditembak di Khan Yunis.

Ia telah muncul beberapa kali di tengah-tengah para mujahid Palestina yang terluka oleh tembakan pasukan zionis Israel.

Najjar ditembak mati di tengah-tengah para demonstran yang menggelar aksi Great March Return.

Demo besar-besaran selama beberapa minggu ini menyerukan hak pengembalian para pengungsi Palestina yang terusir dari kota-kota dan desa-desa mereka di tempat yang sekarang dirampok Israel.

Pejabat Kementerian Kesehatan Gaza, seperti dikutip Haaretz, Sabtu (2/6/2018), mengatakan bahwa setidaknya 100 warga  Palestina terluka selama protes Jumat. Mereka terkena tembakan pasukan Israel, termasuk 40 orang di antaranya terkena tembakan peluru tajam.

Jumlah kematian dan korban luka terus meningkat sejak demo dimulai 30 Maret lalu. Kondisi ini tercatat yang terburuk sejak Perang Gaza 2014. Hari terburuk terjadi pada tanggal 14 Mei lalu, ketika 61 orang Palestina tewas dalam bentrokan dengan pasukan zionis Israel. Pada hari itu, para mujahid juga memprotes pembukaan Kedutaan Besar AS di Yerusalem. []

Kenapa Setelah Menikah Istri Terlihat Kalah Cantik Dibanding Wanita Lain?

View Article

Seorang suami mengadukan apa yang ia rasakan kepada seorang syekh.

Dia berkata: “Ketika aku mengagumi calon istriku seolah-olah dalam pandanganku Allah tidak menciptakan perempuan yang lebih cantik daripadanya di dunia ini.

“Ketika aku sudah meminangnya, aku melihat banyak perempuan seperti dia. Ketika aku sudah menikahinya, aku lihat banyak perempuan yang jauh lebih cantik daripada dirinya.

“Ketika sudah berlalu beberapa tahun pernikahan kami, aku melihat seluruh perempuan lebih manis daripada istriku.”

Syekh berkata: “Apakah kamu mau aku beritahu yang lebih dahsyat daripada itu dan lebih pahit?”

Laki-laki penanya: “Iya, mau.”

Syekh: “Sekalipun kamu menikahi seluruh perempuan yang ada di dunia ini pasti anjing yang berkeliaran di jalanan itu lebih cantik dalam pandanganmu daripada mereka semua.”

Laki-laki penanya itu tersenyum masam, lalu ia berujar: “Kenapa tuan Syekh berkata demikian?”

Syekh: “Karena masalahnya terletak bukan pada istrimu. Tapi masalahnya adalah bila manusia diberi hati yang tamak, pandangan yang menyeleweng, dan kosong dari rasa malu kepada Allah, tidak akan ada yang bisa memenuhi pandangan matanya kecuali tanah kuburan.

‘Rasulullah bersabda: ‘Andaikan anak Adam itu memiliki lembah penuh berisi emas pasti ia akan menginkan lembah kedua, dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa yang mau bertaubat.’

“Jadi, masalah yang kamu hadapi sebenarnya adalah kamu tidak menundukkan pandanganmu dari apa yang diharamkan Allah.

“Sekarang, apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan mengembalikan kecantikan istrimu seperti pertama kali kamu mengenalnya? Ketika ia menjadi wanita tercantik di dunia ini?”

Laki-laki penanya: “Iya, mau sekali.”

Syekh: “Tundukan pandanganmu.” []

Jumat, 01 Juni 2018

Selalu Hadirkan Perasaan, "Ini Ramadhan Terakhir Saya"

View Article

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Seandainya disingkap kepada kita tentang ajal kita, bahwa Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir dalam hidup kita. Bagaimana kita menjalani Ramadhan kali ini? Berapa kebaikan yang berusaha kita kumpulkan?

Pastinya kita akan sungguh-sungguh mengisi siang dan malamnya dengan banyak ibadah. Banyak amal-amal kebaikan yang kita lakukan, walau membutuhkan pengorbanan tenaga dan materi yang tak sedikit. Mengikhlaskan niat dalam semua amalan. Bertekad meninggalkan semua yang bisa merusak puasa dan mengurangi kesempurnaannya. Intinya, kita akan serius menjalani Ramadhan tahun ini.

Selayaknya perasaan “ini Ramadhan terakhirku dan kesempatanku beramal shalih tinggal sebentar” kita tanamkan dalam diri kita. Sehingga akan mendorong jiwa ini serius, bersungguh-sungguh, dan konsentrasi penuh menjalani ibadah Ramadhan. Tidak tertipu dengan taswif (aku akan lakukan ini besok, lusa, seterusnya) dan angan-angan panjang, bahwa kematianku masih lama dan kesempatanku berbekal masih panjang.

Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu berkata: Wahai Rasulullah, ajari aku dan nasihati aku dengan ringkas. Kemudian beliau bersabda,

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Apabila kamu berdiri dalam shalatmu maka shalatlah seperti shalatnya perpisahan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad. Disebutkan juga dalam Shahih al-jami', no. 742)

Maksudnya: seperti shalat orang yang mengira bahwa ia tak akan shalat lagi sesudahnya. Apabila orang yang shalat yakin dirinya akan mati dan di sana masih ada satu shalat sebagai shalat yang terakhir, hendaknya ia khusyu' dalam shalat yang dikerjakannya itu karena ia tidak tahu bahwa bisa jadi shalat ini adalah shalat yang terakhir." (Dinukil dari 33 Penyebab Khusyu' Shalat, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid: 45-46)

Perasaan ini hendaknya dihadirkan dalam semua ibadah kita, khususnya puasa Ramadhan kali ini. Kita merasa bahwa puasa Ramadhan tahun ini adalah puasa terakhir kita. Kita perlakukan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan perpisahan. Sehingga kita terdorong untuk mengisinya dengan sebaik-baiknya, karena kita tak akan mendapati kesempatan ini di tahun berikutnya.

. . . kita jadikan Ramadhan kali ini benar-benar bisa mewujudkan makna Shiyam Imanan wa Ihtisaban sehingga terampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. . .

Mari kita istimewakan Ramadhan kali ini dengan meningkatkan perhatian kita kepadanya, seolah-olah kita berpuasa padanya sebagai puasa perpisahan. Kita buang rasa malas yang menghabiskan umur kita dan kita singkirkan angan-angan panjang yang melalaikan dari ibadah yang sungguh-sungguh. Kita keluar dari sekat rutinitas dalam pelaksanaannya kepada ibadah yang hidup ruhnya.

Boleh jadi pada Ramadhan-ramadhan yang telah berlalu kita mengerjakannya hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban, maka kita jadikan Ramadhan kali ini benar-benar bisa mewujudkan makna Shiyam Imanan wa Ihtisaban sehingga terampuni dosa-dosa kita yang telah lalu.

Bisa jadi di antara kita ada yang semangat menghatamkan Al-Qur'an beberapa kali di tahun ini, maka kita jadikan hataman Al-Qur'an di Ramadhan ini sebagai hataman yang ditadabburi, dipahami dan diamalkan isinya.

Jika di tahun sebelumnya ada yang punya hobi berpindah-pindah masjid untuk mencari imam yang bagus bacaannya atau lebih cepat shalatnya, maka ditahun ini kita tanamkan tekad untuk mengejar shalat yang lebih sempurna.

Jika biasanya kita manjakan diri dan keluarga kita dengan minuman dan makanan enak serta hal-hal yang bersifat duniawi, maka di tahun ini kita manjakan diri dan keluarga dengan hidangan ruhiyah dan imaniyah sehingga terpancar cahaya keimanan dalam rumah kita.

Kita yang senang karena sudah membahagiakan keluarga dengan materi duniawi, maka kita perlebar kebahagiaan tersebut ke keluarga lain yang membutuhkan. Kita tingkatkan rasa berbagi kepada keluarga saudara muslim di Ramadhan tahun ini sebagai wujud rahmat kita kepada sesama. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada kita.

Jika kita sudah sering sedekah untuk membantu orang yang menderita, maka kita jadikan tujuan sedekah kita di Ramadhan ini untuk menyelamatkan diri kita dari jilatan api neraka akibat kesalahan dan dosa kita. Karena sedekah yang ikhlas bisa menghapuskan kesalahan sebagaimana air yang memadamkan api. Sedekah juga merupakan sarana efektif memadamkan kemurkaan Allah.

Tanamkan dalam diri rasa senang memberi hidangan berbuka bagi orang-orang yang berpuasa. Ini untuk menyempurnakan pahala puasa kita, karena orang yang memberi hidangan berbuka ia mendapatkan pahala puasa seperti yang diperoleh pelakunya tanpa dikurangi sedikitpun.

Di antara kita yang memiliki kelapangan rizki, niatkanlah umrah di Ramadhan ini karena keutamaannya yang besar. Kita jadikan umrah kali ini sebagai penghapus dosa-dosa kita yang telah lalu.

. . . Kita tingkatkan rasa berbagi kepada keluarga saudara muslim di Ramadhan tahun ini sebagai wujud rahmat kita kepada sesama. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada kita. . .

Kita rencanakan di sepuluh terakhir dari Ramadhan tahun ini dengan I’tikaf. Kita bermuhasabah di dalamnya, boleh jadi kematian datang kepada kita secara tiba-tiba. Kita bermuhasabah saat kita berada di alam kubur, apakah masih ada amal-amal yang menjadi sebab siksa kubur yang belum kita istighfar darinya. Kita memuhasabah diri, apakah sudah cukup amal-amal kita untuk menghadapi hisab Allah di hari kiamat kelak. Pantaskah kita menjadi penghuni surga? Apa yang terjadi dengan kita kalau kita harus masuk neraka?

Jangan pelit untuk mendoakan saudara-saudara kita yang disekitar kita dan di belahan bumi lain, semoga Allah mengampuni dosa mereka dan merahmati mereka. Semoga Allah sembuhkan siapa yang sakit, Allah kuatkan hati mereka dengan kesabaran atas musibah-musibah yang menimpa, Allah angkat bala’ dan waba’ dari mereka, dan Allah tolong mereka atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya, saat kita mendoakan saudara muslim kita yang lain, hakikatnya, kita mendoakan untuk diri kita sendiri.

Semoga pesan-pesan ini mampu kita realisasikan bersama sehingga kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terbaik di antara Ramadhan yang telah kita jalani. Semoga Allah limphakan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiiin! [PurWD/voa-islam.com]


Oleh Badrul Tamam
Artikel: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2013/07/09/25787/hadirkan-perasaan-ini-ramadhan-terakhir-saya