Rabu, 26 September 2018

Rizal Ramli: Impor Pangan Sumber Dana Politik yang Besar

Baca Artikel

Impor pangan kerap mengundang polemik. Yang teranyar adalah keputusan Kementerian Perdagangan (Kemendag) menambah impor beras hingga 500 ribu ton yang diprotes Dirut Perum Bulog Budi Waseso dan Kementerian Pertanian (Kementan).

Mantan Menko Perekonomian di era Gus Dur sekaligus mantan Menko Kemaritiman di era Jokowi, Rizal Ramli, ikut angkat bicara soal maraknya impor pangan.

Rizal Ramli mengatakan, ada pihak-pihak yang mencari rente dari impor pangan. Impor juga sengaja dibuka lebar karena bisa menjadi sumber dana yang besar untuk kepentingan politik.

"Yang terjadi, di belakang inisiatif impor ada yang selalu ingin cari uang gampang. Impor pangan sumber politik besar," kata Rizal saat ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (18/5).

Rizal menuturkan, salah satu orang yang pernah menjadi Menteri Perdagangan mengakui ada pihak yang menawarkan bagian keuntungan dari jatah impor pangan.

Ada pula orang yang langsung jor-joran membuka keran impor pangan begitu diangkat menjadi Menteri Perdagangan.

"Salah seorang Mendag cerita, dia seminggu ditawarin dapat kuota daging, gula, garam, bawang putih. Ada Mendag yang jor-joran seminggu diangkat dia impor," ia menuturkan.

Menurut Rizal Ramli, kebijakan pemerintah yang jor-joran membuka impor pangan tidak pro rakyat. Dengan sumber daya yang ada, harusnya Indonesia tak perlu bergantung pada pangan impor. Malahan Indonesia bisa jadi eksportir pangan.

Karena itu, Rizal Ramli meminta pemerintah memperkuat kedaulatan pangan dengan memberdayakan petani di dalam negeri.

"Pemerintah jangan bikin hidup kita lebih susah. Tak masuk akal Indonesia satu-satunya negara yang dapat matahari, dan air yang banyak, kita harusnya jadi mangkok makan Asia, eksportir produk pangan," tutupnya. []



Pranala luar:
1. https://kumparan.com/@kumparanbisnis/rizal-ramli-impor-pangan-sumber-dana-politik-yang-besar
2. https://www.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/03/22/p5z50c415-impor-pangan-cara-cepat-kumpulkan-dana-politik
3. https://politik.rmol.co/read/2018/01/15/322360/Impor-Beras-Dan-Dana-Politik-

Ini Beberapa Manfaat dan Keutamaan Istighfar

Baca Artikel

Berikut beberapa penjelasan manfaat yang akan diraih oleh hamba dengan beristighfar.

Pertama: Istighfar Adalah Sebab Pengampunan Dosa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ.

“Dan orang-orang yang, apabila berbuat keji atau menganiaya diri sendiri, mengingat Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa, kecuali Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” [Ali ‘Imran: 135]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا.

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, (tetapi) kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An-Nisa`: 110]

Kedua: Meluaskan Rezeki Seorang Hamba

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan seruan Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.

“Maka saya berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian (karena) sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan Dia akan melipatkangandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.” [Nuh: 10-12]

Ayat di atas menunujukkan bahwa istighfar adalah sebab turunnya rezeki dari langit, dilapangkannya harta dan keturunan, serta dibukakannya berbagai kebaikan untuk hamba sehingga, terhadap masalah apapun yang dihadapi oleh seorang hamba, jalan keluar akan dihamparkan untuknya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebut sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Bashry bahwa ada empat orang yang datang secara terpisah kepada beliau. Mereka mengeluh akan masa paceklik, kefakiran, kekeringan kebun, dan tidak mempunyai anak. Namun, terhadap semua keluhan tersebut, beliau hanya menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah,” lalu membacakan ayat di atas. [Demikian makna kisah yang disebut dalam Fathul Bary 11/98.]

Ketiga: Menghindarkan Hamba dari Siksa Allah dan Musibah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.

“Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sedang mereka dalam keadaan beristighfar.” [Al-Anfal: 33]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula menjelaskan sebab terselamatkannya Nabi Yunus ‘alaihis salam,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ. لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ.

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk sebagai orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya ia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan.” [Ash-Shaffat: 143-144]

Pada ayat lain, Allah Jalla Jalaluhu menjelaskan bentuk tasbih Nabi Yunus ‘alaihis salam yang merupakan salah satu makna istighfar, yaitu dalam firman-Nya,

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.

“Tiada sembahan (yang hak), kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya termasuk ke dalam golongan orang-orang zhalim.” [Al-Anbiya`: 87]

Keempat: Istighfar Adalah Sebab yang Mendatangkan Rahmat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.

“Hendaklah kalian memohon ampunan kepada Allah agar kalian dirahmati.” [An-Naml: 46]

Perhatikanlah jaminan Allah tersebut! Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa beristighfar.

Kelima: Salah Satu Sumber Tambahan Kekuatan dan Kejayaan adalah Istighfar

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ucapan Nabi Hud ‘alaihis salam kepada kaumnya sebagaimana dalam firman-Nya,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ.

“Wahai kaumku, beristighfarlah kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian dan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian, serta janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” [Hud: 52]

Keenam: Istighfar Adalah Salah Satu Hal yang Melapangkan Dada Seorang Hamba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya, kadang terdapat sesuatu yang melekat pada hatiku maka saya pun beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali dalam sehari.” [Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari Al-Agharr Al-Muzany radhiyallahu ‘anhu.]

Ketujuh: Wajah Orang yang Beristighfar Dijadikan Berseri dan Berbahagia oleh Allah pada Hari Pertemuan dengan-Nya

Telah shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

“Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari kiamat), hendaklah ia beristighfar kepada Allah.” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabarany, dalam Al-Ausath, dan Dhiya` Al-Maqdasy dari Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2299.]

Telah shahih pula bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Sangat beruntunglah orang yang menemukan bahwa pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’.]

Kedelapan: Membersihkan Noda Hitam dari Hati Seorang Hamba

Jika seorang hamba melakukan kesalahan, suatu noda hitam akan tertitik pada hati seorang hamba. Jika hamba beristighfar, dihapuslah noda itu dan hatinya kembali bersih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى يَعْلُوَ قَلْبَهُ ذَاكَ الرَّيْنُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ عزَّ وَجَلَّ فِي الْقُرْآنِ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.

“Jika seseorang melakukan sebuah dosa, dititiklah satu titik hitam pada hatinya. Jika dia bertaubat, berhenti (melakukan dosa), lalu beristighfar, hatinya akan kembali bersih. Jika dia mengulangi dosanya, ditambahkanlah titik hitam sampai menutupi hatinya, dan jika hatinya sudah tertutup, itulah ar-rain ‘penutup hati’ yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam Al-Qur`an, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya sesuatu yang selalu mereka usahakan itu menjadi ar-rain terhadap hati-hati mereka.’ [Al-Muthaffifin: 14].” [Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, Ibnu Majah, dan selainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami’ dan Syaikh  Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad.]

Kesembilan: Istighfar Adalah Salah Satu Bekal bagi Seseorang yang Berdakwah di Jalan Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ.

“Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar, serta beristighfarlah terhadap dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada petang dan pagi.” [Ghafir: 55]

Kesepuluh: Sebab Terkabulkannya Doa adalah Istighfar

Nabi Shalih ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ.

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sembahan (yang hak) bagi kalian, kecuali Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian sebagai pemakmur (bumi) itu maka beristighfarlah kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku amatlah dekat lagi mengabulkan (doa hamba-Nya).” [Hud: 61]

Kesebelas: dengan Istighfar, Seorang Hamba Akan Semakin Mengagungkan dan Membesarkan Rabb-Nya

Telah berlalu penjelasan keagungan istighfar karena digandengkan dengan tauhid dalam sejumlah ayat, juga telah berlalu penyebutan nama-nama dan sifat pengampunan Allah. Tidak diragukan bahwa dua makna tersebut sangatlah menanamkan pengagungan dan pembesaran dalam hati seorang hamba kepada Rabb-nya. [Dzulqarnain]

Selasa, 25 September 2018

Bunga Bank Bukan Riba, Karena Nasabah Ikhlas?

Baca Artikel

Dalam setiap perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, setan turut bermain di sana. Setan jin dan setan manusia, bekerja sama saling membisikkan kalimat indah, alibi-alibi, upaya pembenaran, untuk dijadikan senjata agar orang yang bersalah, bisa tetap bertahan dalam kesalahan dan penyimpangannya.

Dalam Al-Quran Allah menceritakan, bahwa setan membisikkan kalimat indah, namun menipu. Allah berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112)

Dalam al-Quran Allah bercerita, ketika Iblis diusir oleh Allah dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam, Iblis dendam dan dia berjanji dengan bersumpah atas nama Allah, akan mengajak semua keturunan Adam ke Neraka. Namun anehnya, sewaktu Iblis menggoda Adam agar juga diusir dari Surga, Iblis datang tidak dengan wajah garang, tidak menampakkan wajah permusuhan. Tapi dia datang dengan wajah pertemanan, bahkan dia sebut dirinya pemberi nasehat bagi Adam dan Hawa.

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآَتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ  وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“Syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (QS. al-A’raf: 20 – 21)

Seperti itu pula yang dilakukan oang munafik. Mereka membagun prinsip besar, yaitu prinsip serba boleh (permisif) di tengah kaum Muslimin. Mereka memberikan sejuta alasan agar sesuatu yang dilarang dalam al-Quran, menjadi boleh. Allah Ta’ala befirman,

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ

“Orang munafik lelaki dan orang munafik perempuan, satu sama lain saling memerintahkan yang munkar dan mencegah yang makruf.” (QS. At-Taubah: 67).

Bunga Bank Bukan Riba?

Semua utang yang menuntut adanya kelebihan adalah riba. Ibnu Qudamah mengatakan,

كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف

Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama). (al-Mughni, 4/390).

Keterangan lain disampaikan Ibnul Mundzir,

أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا

Ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90).

Semua pengajuan kredit di bank, ada ketentuan harus membayar bunga sekian persen perbulan. Dan sangat jelas ini riba, berdasar sepakat ulama. Bunga atas pinjaman ini adalah manfaat yang didapatkan pihak bank karena memberikan dana utangan ke nasabah.

Kita memang tidak bisa mendapatkan keterangan tentang bunga bank di buku-buku klasik. Karena ketika itu belum ada bank. Tapi bisa kita dapatkan dari pernyataan ulama kontemporer yang menjumpai bank. Salah satu kesepakatan mereka dinyatakan dalam kitab Ahkam al-Mal al-Haram,

“Muktamar Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo, tahun 1965, hingga muktamar tertinggi di Mekah, yang dihadiri lebih dari 300 ulama besar, menetapkan bahwa semua bunga bank adalah haram.” (Ahkam al-Mal al-Haram, hlm. 168).

Baca juga: Sales Kartu Kredit yang Mendapat Ceramah Soal Riba
Baca juga: Penipuan dan Pengelabuan Dalam Jual Beli
Baca juga: Penjelasan Riba Dalam Transaksi Go-Food

Bukankah Bunga itu Saling Ridha?

Benar, riba itu saling ridha. Dan saling ridha dalam hal ini tidak mengubah hukum riba menjadi halal.

Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan kepada Abu Burdah ketika beliau berkunjung ke rumahnya Abdullah,

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ فَلا تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3603)

Judi juga saling ridha… sebelum bermain, para penjudi bersepakat, siapa yang kalah, harus menyerahkan hartanya. Tapi saling ridha tidak menyebabkan judi menjadi halal.

Sogok dan gratifikasi juga saling ridha… sebelum menang tender, vendor sudah mengikat perjanjian dengan oknum pejabat, akan ada bagi hasil setelah proyek selesai.

Tidak semua akad menjadi halal karena saling ridha. Yang dipersyaratkan saling ridha adalah jual beli atau perdagangan. Agar hasilnya halal, disyaratkan pelaku akad harus saling ridha.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta orang lain diantara kalian dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan yang saling ridha diantara kalian. (QS. an-Nisa: 29)

Dalam ayat di atas, ada 2 syarat agar harta yang kita makan tidak terhitung sebagai harta yang bathil:

[1] Didapatkan dari hasil perdagangan atau jual beli
[2] Dilakukan saling ridha.

Demikian, Semoga anda tidak menjadi pengikut preman…

Allahu a’lam. []

Baca juga: Riba, Dosa Besar yang Menghancurkan
Baca juga: Terbelit Utang Riba Ratusan Juta, Bagaimana Cara Melunasinya?
Baca juga: Kaidah Umum Dalam Memahami Riba


Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina Konsultasisyariah.com
Artikel oleh KonsultasiSyariah

Senin, 24 September 2018

Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya (Bagian II―Tamat)

Baca Artikel

Peringatan Ulama tentang Kedustaan Syiah

Memahami kenyataan prinsip taqiyah, para ulama kaum muslimin sejak masa silam telah mengingatkan penipuan mereka. Mereka menolak informasi dari syiah, karena memiliki sifat dasar: pembohong. Berikut pernyataan mereka,

1. Keterangan Imam Malik

Asyhab – ulama Malikiyah – mengatakan,

سئل مالك عن الرافضة ؟ قال لا نكلمهم ولا نروي عنهم فإنهم يكذبون

“Imam Malik ditanya tentang rafidhah (syiah). Jawaban beliau: “Kami tidak mau bicara dengan mereka, tidak meriwayatkan dari mereka, karena mereka suka berdusta.”

2. Keterangan Imam As-Syafii

Diriwayatkan oleh Harmalah – salah satu murid Imam As-Syafii –,

سمعت الشافعي يقول لم أر أشهد بالزور من الرافضة

“Saya mendengar As-Syafii mengatakan, ‘Saya belum pernah mengetahui ada kelompok yang paling mudah berdusta melebihi rafidhah (syiah).”

3. Yazid bin Harun Al-Wasithi – salah satu ulama tabi’ tabiin – mengatakan,

يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون

“Boleh ditulis semua hadis dari pelaku bid’ah, selama dia bukan tokohnya. Kecuali rafidhah, karena mereka suka berdusta.”

[Simak 3 keterangan di atas dalam An-Nukat ‘ala Muqadimah Ibnu Sholah, Az-Zarkasyi, 3/399 dan Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327].

4. Syarik bin Abdillah – seorang Qadhi Kufah di zaman Imam Abu Hanifah – mengatakan,

أحمل العلم عن كل من لقيت إلا الرافضة فإنهم يضعون الحديث ويتخذونه دينا

“Saya menimba ilmu (hadis) dari setiap orang yang saya jumpai, kecuali rafidhah (syiah). Karena mereka memalsu hadis dan menjadikannya sebagai aturan agama.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).

5. Bahkan hanya sebatas mencela sahabat, hadisnya sudah tidak boleh diterima, karena diduga syiah. Itulah kehati-hatian yang dilakukan Ibnul Mubarok – gurunya Imam Bukhari –, beliau mengatakan,

لا تحدثوا عن عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف

“Janganlah kalian mengambil hadis dari Amr bin Tsabit. Karena dia melaknat para sahabat.” (Tadribur Rawi, As-Suyuthi, 1/327).

6. Syaikhul Islam mengatakan

وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والإسناد على أن الرافضة أكذب الطوائف والكذب فيهم قديم ولهذا كان أئمة الإسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب

“Para ulama sepakat, berdasarkan nukilan, riwayat, dan sanad, bahwa rafidhah (syiah) adalah kelompok paling pendusta. Dan dusta bagi mereka, ada sejak masa silam. Karena itu, para ulama islam mengenal ciri khas mereka dengan banyaknya berdusta.” Selanjutnya, Syaikhul Islam menyebutkan beberapa riwayat di atas. (Minhaj As-Sunah An-Nabawiyah, 1/59).

7. Keterangan lainnya dari Ibnu Hazm, dalam karyanya tentang firqah dan kelompok-kelompok yang menisbahkan dirinya kepada islam,

… إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم بخمس وعشرين سنة …وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر

Rafidhah (syiah) adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis denga Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran. (Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal, Ibnu Hazm, 1/176).

Atas Nama Ahlul Bait

Selanjutnya anda bisa menilai klaim mereka sebagai pengikut ahlul bait. Anda bisa menilai kebenaran pengakuan mereka sebagai pemilik riwayat dari Ahlul Bait.

1. Mungkinkah ahlul bait mengajarkan kawin kontrak (nikah mut’ah) yang sama sekali tidak berbeda dengan zina?

Sebagai referensi penilaian, anda bisa simak aturan nikah mut’ah dan tarifnya di Iran:

Nikah Mut’ah Ajaran Syiah
Tarif Nikah Mut’ah di Iran
Keajaiban Dunia yang Hanya Ada di Iran

2. Mungkikah ahlul bait mengajarkan kaum muslimin untuk melaknat Abu Bakar, Umar, Utsman, A’isyah, dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?

Sebagai referensi penilaian, anda bisa pelajari:


3. Mungkinkah ahlul bait mengajarkan doktrin bahwa Al-Quran telah berubah? Mungkinkah mereka masih menyimpan Al-Quran, dan tidak diajarkan kepada kaum muslimin yang lainnya dan hanya dimiliki syiah.

Sebagai referensi, anda bisa pelajari, Ajaran Syiah

4. Mungkinkah ahlu bait mengajarkan kultus kepada para Imam, dan orang shaleh. Sampai memposisikan mereka layaknya Tuhan.

Sebagai referensi, anda bisa pelajari, Hakikat Ajaran Syiah

5. Dan mungkinkah ahlul bait mengajarkan umat untuk rajin berdusta?? Sehebat apapun penipu, dia tidak akan pernah mau ditipu.

Masih ada segudang keyakinan aneh syiah, yang dia klaim sebagai ajaran ahlul bait. Anda bisa pelajari di:

― www.hakekat.com
― www.syiahindonesia.com
― atau klik kumpulan artikel tentang Syiah disini atau disini

Penjelasan Syiah lebih Ilmiah?

Karena itu, sungguh aneh ketika ada orang yang menjadikan keterangan syiah sebagai referensi yang dihargai. Bagaimana mungkin, pendusta dan pembohong bisa menjadi rujukan dalam informasi. Terlebih di saat musim ketegangan antara kaum muslimin dan kelompok syiah.

Lebih menyedihkan lagi, ketika ada orang yang tertipu dan menganggap keterangan tokoh syiah lebih ilmiah. Anda boleh geleng kepala… bohong, dianggap ilmiah. Sayangnya, mereka yang tertipu dengan kebohongan syiah kebanyakan dari kalangan civitas akademik universitas-universitas ‘islam’ (dalam tanda kutip) di Indonesia.

Sebagai contoh, anda bisa saksikan, bagaimana upaya pembelaan mereka terhadap kekejaman pemerintahan Basyar, yang membantai kaum muslimin Suriah.

Beberapa klaim yang sering kita dengar, yang mengunggulkan syiah,

1. Syiah penganut ahlul bait
2. Sunni mendapat riwayat dari sahabat, dan syiah mendapat riwayat dari ahlul bait
3. Iran musuh besar Amerika & Zionis Yahudi
4. Iran memiliki bom nuklir yang membuat Amerika & Zionis Yahudi gentar
5. Iran & Syiah, musuh barat – pembebas palestina
6. Iran negera islam makmur & berperadaban
7. Iran pemimpin peradaban islam dunia
8. Perjuangan sang revolusioner ayatollah Khumaini
9. Ahmadi Nejad, pemimpin muslimin dunia yang rendah hati
10. Al-Quran kita sama

Dan sejuta klaim lainnya. Namun sayang, banyak orang yang rela untuk jadi korban kedustaan mereka. Semoga kita tidak termasuk…

Kang Jalal Berdusta
Jika anda mendengar kalimat ini maka benarkanlah. Tokoh sentral syiah indonesia ini, sering sekali menukil dalil atau keterangan ulama dengan cara serampangan. Tidak lain, dalam rangka mengelabuhi masyarakat tentang hakekat syiah. Sekalipun harus memlintir ayat Al-Quran atau hadis, atau keterangan ulama. Yang penting, syiah menang.

Anda bisa simak beritanya di:

― Jalaludin Rakhmat Hina MUI dengan Memelintir Ucapan Imam Malik Ahmad dan Syafi’i
― Kisah Ganjil Syiah

Sudah saatnya anda buang jauh-jauh citra orang ini, agar anda tidak termasuk korban penipuannya.

Buku-buku Syiah

Pernahkah anda mendapatkan buku syiah dijual bebas di pasaran? Pernahkah anda membeli referensi asli syiah beredar di toko-toko buku? Bagian ini yang mungkin sering kita lupakan. Mengapa mereka begitu merahasiakan buku-buku dan referensi asli mereka? Informasi dari beberapa rekan yang ingin mencari fakta, merasa kesulitan untuk mendapatkan buku asli karya ulama-ulama syiah Iran. Itulah sikap eksklusif Iran. Dia jauh lebih tertutup dibandingkan Amerika. Seolah, pemerintah Iran berusaha menutup rapat, jangan sampai kaum muslimin dunia mempelajari aqidah, doktrin dan ajaran Syiah Iran. Kecuali jika kita telah menjadi syiah. Kita bisa dengan mudah mendapatkan referensi asli mereka. Tapi sekali lagi…, jika otak kita sudah terinstal program syiah.

Ini berbeda dengan Saudi. Pemerintah Saudi sangat gencar menyebarkan buku-buku gratis ajaran islam yang didakwahkan di Saudi kepada umumnya masyarakat. Mereka begitu terbuka di hadapan kaum muslimin. Seolah Saudi ingin berteriak kepada kaum muslimin, silahkan pelajari seluruh aqidah, doktrin dan ajaran kami. Dan silahkan memberikan penilaian, apakah ajaran kami sesat ataukah sesuai Al-Quran dan sunah. Anda bisa menilai, jika memang prinsip beragama yang diajarkan oleh pemerintah Saudi itu sesat, mereka akan berusaha merahasiakannya, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Iran terhadap ajaran Syiah.

Buka Kedok dengan Referensi Asli

Karena itu, ketika seseorang hendak debat dengan syiah, dia wajib mempelajari buku-buku syiah. Referansi asli yang ditulis oleh tangan-tangan tokoh syiah. Tanpa ini, dia hanya akan menjadi bahan tipuan orang syiah yang menjadi lawan debatnya. Sebagaimana yang pernah terjadi pada salah satu dai di Jogja, hingga akhirnya dia mengikuti Syiah.

Dengan buku asli, ketahuan kedoknya. Di situlah syiah tidak bisa mengelak. Mereka tidak bisa mengelabuhi. Karena wajah asli syiah, ada dalam karya tokoh aliran sesat ini. Sekalipun sejuta kemunafikan untuk menutupi dirinya, dia tidak akan bisa mengelak jika ditunjukkan ucapan tokohnya.

Sungguh betapa capeknya dakwah melawan syiah. Karena doktrin yang paling berbahaya yang mereka miliki: taqiyah, yang hakekatnya adalah kemunafikan. Semoga Allah melindungi kita dari kelompok munafik, yang menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslimin ini.

Allahu a’lam. []


Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com
Artikel oleh KonsultasiSyariah

Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya (Bagian I)

Baca Artikel

Salah satu diantara aqidah syiah yang paling berbahaya adalah doktrin taqiyah. Taqiyah dalam ajaran syiah adalah upaya berbohong dalam rangka menyembunyikan jati diri ketika dalam kondisi Syiah minoritas. Baik untuk tujuan menjaga diri dari gangguan luar atau untuk menimbulkan kesamaran di tengah masyarakat tentag hakekat syiah atau untuk menyudutkan lawan syiah.

Taqiyah dilakukan dengan cara menampakkan sesuatu berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya. Ungkapan lainnya artinya nifaq dan menipu, sebagai usaha mengelabui atau mengecoh manusia. Dengan bahasa yang lebih ringkas, taqiyah hakikatnya adalah berdusta. [Simak keterangan Muhammad Jawad Mughniyah, dalam bukunya As-Syiah fil Mizan]

Taqiyah, Rukun Penting dalam Agama Syiah

Taqiyah menjadi ajaran penting dalam agama Syi’ah. Para tokoh syiah membuat berbagai riwayat dusta atas nama ahlul bait, untuk memotivasi umat Syiah agar melakukan taqiyah. Taqiyah mereka jadikan prinsip hidup yang tidak terpisahkan dalam ajaran syiah. Berikut beberapa riwayat dusta atas nama ahlul bait, tentang pentingnya Taqiyah,

Pertama, taqiyah bagian dari agama

Keterangan Al-Kulaini, tokoh syiah ini meriwayatkan dari Ja’far As-Shadiq,

التقية من ديني ودين آبائي ولا إيمان لمن لا تقية له

“Taqiyah bagian dari agamaku dan agama bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.”

Dia juga meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far,

إن تسعة أعشار الدين في التقية , ولا دين لمن لا تقية له

“Sesungguhnya sembilan persepuluh (90%) bagian agama adalah taqiyah. Tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.” [Ushul Al-Kafi 2/217, Biharul Anwar 75/423, dan Wasail Syiah 11/460].

Kedua, taqiyah merupakan akhlak paling mulia

Keterangan At-Thusi. Dalam bukunya Al-Amali, dia meriwayatkan dari Ja’far,

ليس منا من لم يلزم التقية , ويصوننا عن سفلة الرعية

“Bukan bagian dariku, orang yang tidak menekuni taqiyah, dan tidak melindungi kami dari rakyat jelata.”

Kemudian dalam Al-Ushul Al-Ashliyah, At-Thusi juga meriwayatkan dari Imam Al-Baqir, bahwa beliau ditanya, ‘Siapakah manusia yang paling sempurna?’ Jawab Imam Al-Baqir,

أعلمهم بالتقية … وأقضاهم لحقوق إخوانه

“Orang yang paling tahu tentang taqiyah.. dan yang paling sempurna dalam menunaikan hak saudaranya.”

Juga diriwayatkan dari Al-Baqir,

أشرف أخلاق الأئمة والفاضلين من شيعتنا استعمال التقية

“Akhlak paling mulia dari para imam dan orang-orang penting dari kelompok kami adalah melakukan taqiyah.”

Kemudian, dalam kitab Al-Mahasin, dari Habib bin Basyir, dari Abu Abdillah,

لا والله ما على الأرض شيء أحب إلي من التقية، يا حبيب إنه من له تقية رفعه الله يا حبيب من لم يكن له تقية وضعه الله

“Demi Allah, tidak ada di muka bumi ini, sesuatu yang lebih aku cintai melebihi taqiyah. Wahai Habib, orang yang melakukan taqiyah, Allah akan angkat derajatnya. Wahai Habib, siapa yang tidak melakukan taqiyah, akan Allah rendahkan.”

Ketiga, taqiyah hukumnya wajib, meninggalkan taqiyah = meninggalkan shalat

Tokoh Syiah Ibnu Babawaih mengatakan,

اعتقادنا في التقية أنها واجبة من تركها بمنزلة من ترك الصلاة

“Keyakinan kami tentang taqiyah, bahwa taqiyah itu wajib. Siapa yang meninggalkan taqiyah, seperti orang yang meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hlm. 114).

Untuk mendukung keterangannya, dia tidak malu untuk berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyantumkan hadis palsu,

تارك التقية كتارك الصلاة

“Orang yang meninggalkan taqiyah, sama dengan orang yang meninggalkan shalat.” [Simak Jami’ Al-Akhbar, hlm. 110 dan Bihar Al-Anwar, 75/412]

Ketika Bohong Menjadi Prinsip Agama

Apa yang bisa anda simpulkan, ketika bohong kebiasaan hidup seseorang atau menjadi prinsip hidup seseorang. Anda tentu yakin, orang ini akan selalu diwaspadai oleh rekan dan lingkungannya. Karena dia bisa menipu siapapun, kapanpun dan di manapun.

Bagi syiah, taqiyah (baca: berbohong) tidak semata menjadi prinsip hidup. Lebih dari itu, mereka meyakini, taqiyah merupakan amal sholeh yang menjadi sumber pahala. Berbohong demi syiah mereka anggap sebagai amal ibadah mulia yang akan meningkatkan derajatnya.

Mereka bisa memiliki 1000 wajah untuk mengelabuhi masyarakat tentang siapakah sejatinya syiah. Mereka bisa berdusta dan berbohong, kapanpun dan dimanapun, demi pencitraan syiah. Mereka bisa berbohong untuk membangun opini positif di mata publik tentang Iran. Mereka tidak segan berdusta, untuk menarik simpati kaum muslimin terhadap syiah. Mereka bisa berdusta untuk menciptakan kesan, syiah adalah kelompok minoritas yang tertindas. Mereka juga tidak segan berdusta, menampakkan perlawanan terhadap Zionis yahudi di mata dunia, meskipun sejatinya mereka sendiri seperti yahudi.

Siapa sasarannya?

Tentu saja bukan kepada sesama syiah. Bohong ini mereka arahkan kepada kelompok yang mereka anggap sebagai musuh besar syiah, yaitu kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah. Kami, anda, dan seluruh kaum muslimin yang bukan syiah adalah sasaran utama kebohongan taqiyah itu.

Itulah yang menjadi landasan Khomaini untuk memobilisasi masa. Dia menekankan kepada para pengikutnya, kaum muslimin selain syiah sama sekali tidak memiliki kehormatan, layaknya orang kafir. Menipu mereka atau bahkan menumpahkan darah mereka adalah tindakan mulia yang layak dilakukan semua orang syiah.

Dalam bukunya Al-Makasib Al-Muharramah, Khomaini mengatakan,

فلا شبهة في عدم احترامهم، بل هو من ضروري المذهب كما قال المحققون، بل الناظر في الأخبار الكثيرة في الأبواب المتفرقة لا يرتاب في جواز هتكهم والوقيعة فيهم، بل الأئمة المعصومون أكثروا في الطعن واللعن عليهم، وذكر مساويهم… والظاهر منها جواز الافتراء والقذف عليهم.

“Tidak ada lagi keraguan, bahwa mereka (ahlus sunah), tidak memiliki kehormatan. Bahkan itu bagian prinsip penting dalam madzhab syiah, sebagaimana yang disampaikan ulama. Orang yang mempelajari berbagai riwayat yang banyak dalam berbagai kajian yang berbeda, tidak akan ragu tentang bolehnya merusak mereka dan menyakiti mereka. Bahkan para imam maksum, sangat sering mencela, melaknat, serta menghina mereka (ahlus sunah)….dan yang zahir, boleh membuat kedustaan dan melemparkan kedustaan kepada mereka” [Al-Makasib Al-Muharramah, Al-Khumaini, Muassasah Ismailiyan, cet. Ketiga, 1410 H. Jilid 1, hlm. 251 – 252].

Hal yang sama juga disampaikan Al-Khou’i – salah satu tokoh syiah yang sangat membenci ahlus sunah – ,

… وأما هجو المخالفين أو المبدعين في الدين فلا شبهة في جوازه؛ لأنه قد تقدم في مبحث الغيبة، أن المراد بالمؤمن هو القائل بإمرة الإثني عشر (عليهم السلام)، … ومن الواضح أن ما دل على حرمة الهجو مختص بالمؤمن من الشيعة، فيخرج غيرهم عن حدود حرمة الهجو موضوعاً…. أنه قد تقتضي المصلحة الملزمة جواز بهتهم والإزراء عليهم، وذكرهم بما ليس فيهم افتضاحاً لهم، والمصلحة في ذلك استبانة شؤونهم لضعفاء المؤمنين، حتى لا يغتروا بآرائهم الخبيثة

“Menghina kaum yang menyimpang atau para pelaku bid’ah dalam agama (ahlus sunah), tidak samarnya, hukumnya boleh. Sebagaimana pembahasan ghibah yang telah lewat, bahwa yang dimaksud orang mukmin adalah mereka yang mengikuti prinsip kepemimpinan imam dua belas ‘alaihimus salam,… dan sangat jelas, dalil yang menunjukkan larangan menghina, hanya tertuju kepada orang syiah yang beriman. Sehingga tidak termasuk selain syiah, mereka di luar batas larangan penghinaan.… Berdasarkan tuntutan kemaslahatan yang kuat, boleh memfitnah mereka, melemparkan kedustaan kepada mereka, menyebutkan kesalahan yang tidak mereka lakukan, untuk mempermalukan mereka. Bentuk maslahat dalam hal ini adalah membeberkan keadaan buruk mereka, mengingat kaum muskminin (baca: Syiah) masih lemah. Sehingga syiah yang lemah iman ini tidak tertipu dengan pemikiran buruk mereka…” [Misbah Al-Faqahah, Al-Khou’i, penerbit Al-Ilmiah, Qom, cet. Pertama, jilid 1, hlm. 700 – 701].

Allahul musta’an, seperti itulah kebencian mereka terhadap kaum muslimin. Berlindunglah kepada Allah, agar anda tidak menjadi salah satu korban kekejaman mereka. [Bersambung...]

Berlanjut: Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya (Bagian II-Tamat)


Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com
Artikel oleh KonsultasiSyariah

Perayaan Asyuro Syiah di Solo Dibubarkan Warga

Baca Artikel

Kegiatan perayaan Asyura Syiah pada Kamis (20/09/2018) di rumah mendiang Syegaf Bin Husain Al Jufri di Mertodranan, Pasar Kliwon, Semanggi dibatalkan setelah mendapat penolakan dari sejumlah elemen umat Islam warga Solo.

Sebelumnya, beberapa pengurus dari Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) mendapat laporan dari warga terkait akan adanya ritual aliran Syiah tersebut.

Warga merasa resah karena dalam kegiatan yang mendatangkan peserta dengan pakaian serba hitam, dan dicurigai para peserta akan meratapi kematian cucu Rasulullah Husain dengan cara menyiksa diri hingga berdarah dan juga mencaci-maki dan melaknat para sahabat dan istri-istri Rasulullah.

ZN salah satu warga sekitar mengatakan kalau acara tersebut sudah berlangsung sejak lama. Ia juga mengaku resah dengan keberadaan kegiatan tersebut.

“Dari dulu emang udah tau kalau ada kegiatan itu, kakak saya dulu juga pernah direkrut makanya saya juga nggak suka, wong saya juga belajar dari situ Syiah itu apa, sejarahnya apa gitu, saya mendukung penuh penolakan ini,” katanya seperti dikutip dari Jurnalislam.com.

“Tau sendiri kan kalau Syiah itu sesat dan bukan bagian dari Islam, bahkan mereka mengatakan kalau para sahabat Rasulullah berada di neraka,” sambungnya.

Sejak pukul 15.30 wib, massa yang berjumlah lebih dari 50 orang itu sudah berkumpul di depan gang masuk yang berjarak sekitar 10 meter dari rumah Syegaf Bin Husain. Beberapa warga dan perwakilan elemen umat Islam melakukan mediasi terkait penolakan dengan panitia kegiatan dan didampingi dari pihak aparat kepolisian setempat.

Situasi sempat memanas ketika panitia kegiatan berusaha mengulur-ulur waktu untuk tetap melanjutkan kegiatan perayaan Asyura Syiah itu. Hampir lebih dari satu jam, panitia kegiatan belum mau mengeluarkan peserta yang berada di dalam rumah. Hal ini sempat membuat massa yang berada di ujung gang meneriaki panitia meminta untuk segera membubarkan diri.

Tak berselang lama puluhan anggota Polresta Surakarta datang untuk ikut melakukan mediasi dengan panitia kegiatan dan massa yang menolak.

Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo akhirnya meminta pihak panitia untuk segera mengeluarkan para peserta agar dapat segera dapat dievakuasi. Puluhan peserta pun akhirnya dapat keluar dengan aman dari lokasi tersebut setelah dikawal oleh anggota kepolisian dan elemen umat Islam Surakarta.

Sekitar pukul 17.00 WIB semua peserta kegiatan Asyura Syiah telah meninggalkan tempat berlangsungnya kegiatan. Salah satu tokoh umat Islam Pasar Kliwon ustadz Faiz Baraja melakukan orasi di atas mobil dan menjelaskan kepada masyarakat sekitar terkait adanya kegiatan dari penganut Syiah itu.

“Ini adalah upaya kita untuk menjaga keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah Islam yang murni di masyarakat, mungkin sebagian masyarakat belum tau apa yang di dalam, acaranya adalah perayaan hari raya Syiah, keyakinan yang menyimpang yang dirayakan setiap tanggal 10 Muharam, dan kita harus menjaga akidah kita dan anak keturunan kita untuk tidak menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” ungkapnya.

Sekitar pukul 17.10 WIB massa akhirnya membubarkan diri satu persatu dan meninggalkan lokasi kegiatan tersebut secara damai dan tertib.

MUI Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa sesat yang tertuang dalam keputusan No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 terkait ajaran Syiah. Para ulama MUI Jawa Timur menilai semua negara yang dimasuki Syiah pasti tercipta konflik akibat banyaknya pemberontakan karena paham yang bertentangan dengan Islam. []


Sumber: Jurnalislam.com
Redaktur: Ibas Fuadi
Dipublikasikan oleh Kiblat

Sabtu, 22 September 2018

Haruskah Bertanya Masa Lalu Calon Istri atau Suami?

Baca Artikel

Islam menganjurkan agar masing-masing individu merahasiakan setiap dosa dan kesalahan yang dia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508).

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras, menceritakan perbuatan maksiat yang pernah dia lakukan dalam kondisi sendirian. Menceritakan maksiat bisa menjadi sebab, Allah tidak memaafkan kesalahannya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Semua umatku akan diampuni, kecuali orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan maksiat, seseorang melakukan maksiat di malam hari, Allah tutupi sehingga tidak ada yang tahu, namun di pagi hari dia bercerita,

Hai Fulan, tadi malam saya melakukan perbuatan maksiat seperti ini..

Malam hari Allah tutupi kemaksiatanya, pagi harinya dia singkap tabir Allah yang menutupi maksiatnya. (HR. Bukhari 6069 & Muslim 7676)

Karena itulah, islam menganjurkan agar setiap muslim berusaha menutupi dan merahasiakan aib saudarannya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. (HR. Bukhari 2442, Muslim 7028, dan yang lainnya).

Islam juga memberikan ancaman keras, bagi orang yang suka mencari-cari aib orang lain. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar dan bersabda,

مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ

Siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang Allah cari aibnya, akan Allah permalukan meskipun dia berada di dalam rumahnya. (HR. Turmudzi 2164 dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

Islam tidak pernah mengajarkan tradisi buka-bukaan. Islam juga tidak menganjurkan agar calon pasangan suami istri untuk saling menceritakan masa lalunya. Yang akan menghisab amal istri bukan suami, demikian pula istri tidak bisa menghisab amal yang pernah dikerjakan suaminya.

Tidak Manfaat!

Apa manfaatnya masing-masing harus menceritakan dengan jujur masa silamnya setelah menikah?

Jika suami tidak terima dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukan istrinya di masa silam, akankah suami akan memberikan pahala bagi amal baik istrinya di masa silam?. Jika orang mau adil, seharusnya ini seimbang.

Sebaliknya, jika istri tidak terima dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukan suaminya, akankah dia akan memberikan pahala untuk amal soleh yang dilakuka suaminya?

Masa silam sudah berlalu. Baik suami istri jujur maupun bungkam tidak menceritakan, kejadian itu takkan bisa dihapus. Justru cerita yang anda dengar, akan menyayat hati anda sebagai pasangannya.

Masa Silam, Pertimbangan Sebelum Menikah

Benar, masa silam bisa dijadikan pertimbangan sebelum para calon ini naik ke pelaminan. Dengan ini, masing-masing bisa menentukan langkah, lanjutkan atau lupakan.

Pertama, Jika calon suami bersedia menerima calon istri dengan semua latar belakangnya, dan masing-masing menunjukkan perubahan untuk menjadi baik, bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Tugas dia selanjutnya, lupakan masa silam masing-masing, dan jangan lagi diungkit.

Kedua, Jika calon suami masih keberatan menerima latar belakang calon istrinya, atau selalu dibayang-bayangi kesedihan, atau kepercayaan kepada calon istri belum bisa tertanam, sangat disarankan agar tidak dilanjutkan, dari pada kebahagiaan keluarga harus tersandra dengan kecurigaan.

Allahu a’lam. []



Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina Konsultasisyariah.com
Artikel oleh KonsultasiSyariah

Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Baca Artikel

Pembaca buletin At Tauhid yang semoga senantiasa dirahmati Allah, berikut ini kami sajikan tuntunan cara shalat sesuai sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam  secara ringkas dan padat. Semoga dapat menjadi rujukan dan panduan dalam menunaikan ibadah yang agung ini, yaitu ibadah shalat.

Cara melakukan shalat adalah sebagai berikut:

1. Berniat untuk shalat (rukun shalat)
Niat adalah maksud hati untuk melakukan sesuatu. Shalat tidaklah sah tanpa niat, dan shalat tidaklah diterima jika niat shalat bukan karena Allah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Setiap amal tergantung pada niatnya” (HR. Bukhari-Muslim). Para ulama sepakat niat adalah amalan hati, sehingga niat tidak perlu diucapkan. Ketika hati sudah beritikad untuk melakukan shalat, itu sudah niat yang sah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga tidak pernah mengajarkan lafal tertentu untuk niat shalat.

2. Berdiri tegak menghadap kiblat (rukun shalat)
Berdiri ketika shalat wajib, termasuk rukun shalat. Diantara dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam : “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduk, jika tidak mampu maka sambil berbaring” (HR. Bukhari). Hadits ini juga menunjukkan boleh shalat dalam keadaan duduk jika tidak mampu berdiri, atau berbaring jika tidak mampu duduk. Wajib menghadap ke arah kiblat ketika berdiri, kecuali shalat di atas kendaraan. Bagi penduduk Makkah, wajib menghadap ke arah ka’bah. Adapun bagi penduduk luar Makkah, cukup mengarah ke arah kota Makkah tidak harus pas ke ka’bah. Pandangan mata ketika berdiri, lebih utama memandang ke arah tempat sujud. Boleh memandang ke depan atau ke bawah, dan terlarang keras memandang ke atas atau ke samping tanpa ada kebutuhan.

3. Melakukan takbiratul ihram (rukun shalat)
Caranya dengan mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan “Allahu akbar” dengan suara yang minimal dapat didengar diri sendiri. Tidak sah shalat tanpa Takbiratul ihram. Nabi shallallahu’alaihi wasallam  bersabda: “Jika engkau hendak shalat, ambilah wudhu lalu menghadap kiblat dan bertakbirlah” (HR. Bukhari-Muslim). Tangan diangkat sampai setinggi pundak (sebagaimana hadits riwayat Ahmad (shahih)) atau pangkal telinga (sebagaimana hadits riwayat Muslim.

4. Bersedekap
Setelah takbiratul ihram, tangan bersedekap. Hukumnya sunnah. Caranya yaitu dengan meletakkan tangan kanan berada di atas tangan kiri. Sahl bin Sa’ad berkata: “Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kirinya ketika shalat” (HR. Al Bukhari). Ada dua bentuk bersedekap yang boleh dipilih :

1. al wadh’u (meletakkan kanan di atas kiri tanpa melingkari atau menggenggam). Letak tangan kanan ada di tiga tempat: di punggung tangan kiri, di pergelangan tangan kiri dan di lengan bawah dari tangan kiri. Dalilnya, hadits dari Wa’il bin Hujr tentang sifat shalat Nabi, “..setelah itu beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kiri, atau di atas pergelangan tangan atau di atas lengan” (HR. Abu Daud, shahih).

2. al qabdhu (jari-jari tangan kanan melingkari atau menggenggam tangan kiri). Dalilnya, hadits dari Wa’il bin Hujr: “Aku Melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam  berdiri dalam shalat beliau melingkari tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An Nasa-i, shahih). Adapun mengenai letak sedekap, tidak terdapat hadits yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengenai hal ini. Sehingga perkaranya longgar, boleh di dada, boleh di perut atau juga di bawah perut, semua ini ada contohnya dari salafus shalih.

5. Membaca doa istiftah
Hukum membacanya adalah sunnah. Ada beberapa macam jenis doa istiftah yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih. Diantaranya adalah doa: “Allahumma baa’id bayni wa bayna khothooyaaya, kamaa ba’adta bayna masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii khothooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas, Allahummaghsil khothooyaaya bil maa-i wats tsalji wal barod” (HR.Bukhari-Muslim).

6. Membaca ta’awudz lalu basmalah
Setelah membaca istiftah, lalu membaca ta’awudz. Hukumnya sunnah. Ada beberapa bacaan ta’awudz yang shahih, diantaranya: “a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf) atau “a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim” (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushannaf). Ta’awudz dibaca secara sirr (lirih). Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah dibaca secara jahr (keras) atau sirr (lirih). Yang rajih, lebih afdhal membacanya secara sirr (lirih), namun boleh sesekali membaca secara jahr karena riwayat dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa beliau mengeraskan basmalah.

7. Membaca Al Fatihah (rukun shalat)
Setelah membaca ta’awudz, lalu membaca surat Al Fatihah. Tidak sah shalat tanpa membaca Al Fatihah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab” (HR. Bukhari-Muslim). Namun berbeda lagi bagi makmum, para ulama berbeda pendapat apakah makmum ikut membaca Al Fatihah ataukah diam mendengarkan bacaan imam. Yang rajih, jika makmum mendengar imam sedang membaca (secara jahr), maka ia wajib mendengarkan dan diam. Makmum tidak membaca Al Fatihah ataupun bacaan lain. Jika makmum tidak mendengarkan imam membaca (karena dibaca secara sirr), maka ia wajib membaca Al Fatihah. Inilah pendapat jumhur ulama. Setelah membaca Al Fatihah, disunnahkan mengucapkan “aamiin” dengan jahr (keras). “aamiin” artinya “ya Allah kabulkanlah”.

8. Membaca surat dari Al Qur’an
Kemudian disunnahkan membaca surat dari Al Qur’an (selain Al Fatihah) yang dihafal, dengan jahr (keras) di shalat jahriyyah (maghrib, isya’, dan subuh).

9. Rukuk
Dengan mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan, sama seperti cara takbiratul ihram, kemudian membungkukkan badan sehingga punggung dan kepala dalam keadaan lurus, telapak tangan menggenggam lutut dengan jari-jari direnggangkan. Dari Abu Humaid As Sa’idi mengatakan: “Nabi shallallahu’alaihi wasallam  jika rukuk, beliau meletakkan kedua tangannya pada lututnya, dan meluruskan punggungnya” (HR. Al Bukhari). Ketika rukuk membaca doa: “subhaana rabbiyal ‘azhiim” (HR. Al Bukhari) sebanyak 3x atau lebih.

10. I’tidal (bangun dari rukuk)
Bangun dari rukuk hingga berdiri tegak sambil mengucapkan: “sami’allahu liman hamidah”, bagi imam atau orang yang shalat sendiri. Bagi makmum membaca: “rabbanaa walakal hamdu”. Sambil mengangkat kedua tangan seperti cara mengangkat tangan ketika takbir.

11. Melakukan sujud pertama
Dari kondisi berdiri setelah i’tidal, turun untuk bersujud sambil mengucapkan “Allahu Akbar”. Para ulama berbeda pendapat apakah lebih dahulu tangan ataukah lutut ketika turun. Yang rajih, wallahu a’lam, sebagaimana riwayat dari Ibnu Umar: “bahwasanya ia turun sujud dengan kedua tangannya sebelum lututnya” (HR. Al Bukhari secara mu’allaq, Abu Daud). Cara sujud adalah dengan menempelkan 7 anggota badan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam : “aku diperintahkan untuk sujud dengan 7 anggota badan: jidat (sambil menunjukkan kepada hidungnya), 2 tangan, 2 lutut, dan jari-jari kedua kaki” (HR. Bukhari-Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa hidung juga termasuk yang wajib ditempelkan. Kemudian kedua tangan sejajar dengan pundaknya atau pangkal telinganya, dengan jari-jari dalam keadaan rapat dan menghadap kiblat. Lengan dibuka dan tidak menempel dengan badan. “Nabi shallallahu’alaihi wasallam  jika shalat (sujud) beliau merenggangkan kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau” (HR. Bukhari-Muslim).

Namun ini dilakukan semampunya tanpa mengganggu orang yang shalat di sebelahnya. Ketika sujud membaca doa: “subhaana rabbiyal a’laa” sebanyak 3 kali atau lebih. Dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud, karena seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika sujud.

12. Duduk di antara 2 sujud
Bangun dari sujud sambil mengucapkan “Allahu akbar” tanpa mengangkat tangan, kemudian duduk iftirasy. Duduk iftirasy adalah duduk dengan cara menegakkan telapak kaki kanan dan posisi jari-jarinya menghadap kiblat. Sedangkan kaki kiri dalam keadaan tidur dan diduduki oleh pantat. Kedua tangan diletakkan di atas paha, jari-jari menghadap ke kiblat. Ketika duduk, mengucapkan doa: “rabbighfirlii” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, An Nasa-i. shahih).

13. Melakukan sujud kedua
Dari posisi duduk, turun untuk sujud sambil mengucapkan “Allahu Akbar”, kemudian sujud dengan tata cara sujud yang sama seperti sujud pertama.

14. Melakukan duduk istirahat dan bangun menuju rakaat kedua
Dari posisi sujud, bangkit tanpa bertakbir, untuk duduk sejenak dengan posisi duduk iftirasy. Lalu bangun untuk berdiri menuju rakaat yang kedua sambil mengucapkan “Allahu Akbar” dan mengangkat kedua tangan seperti cara mengangkat tangan pada takbiratul ihram. Takbir ini dinamakan takbir intiqal. Intiqal artinya berpindah, karena takbir ini dilakukan ketika berpindah dari satu rukun menuju rukun berikutnya.

15. Melakukan tata cara yang sama seperti rakaat pertama
Setelah melakukan takbir intiqal, berdiri secara sempurna dan bersedekap sebagaimana pada rakaat pertama. Kemudian seterusnya melakukan hal yang sama seperti pada rakaat pertama. Perbedaan hanya terletak pada beberapa hal:

  1. Pada rakaat kedua dan seterusnya, tidak disyariatkan membaca doa istiftah. Sebagaimana namanya, istiftah artinya ‘membuka’, hanya disyariatkan pada rakaat pertama. Maka, setelah takbir intiqal, langsung membaca basmalah dan seterusnya.
  2. Pada shalat yang jumlah rakaatnya lebih dari dua, maka rakaat ketiga atau rakaat keempat, bacaan Al Fatihah dan bacaan surat tidak dikeraskan
  3. Pada rakaat kedua, pada shalat yang rakaatnya lebih dari dua, setelah bangun dari sujud yang kedua, tidak melakukan duduk istirahat melainkan duduk tasyahud awal dan melakukan tasyahud awal.
  4. Pada rakaat terakhir, berapapun jumlah rakaatnya, setelah bangun dari sujud yang kedua, tidak melakukan duduk istirahat melainkan duduk tasyahud akhir dan melakukan tasyahud akhir.

16. Cara duduk tasyahud awal
Duduk dengan posisi duduk iftirasy, kemudian mengangkat jari telunjuk kanan hingga lurus ke arah kiblat. Sambil membaca doa: “at taahiyaatu lillah was sholawaatu wat thoyyibaatu, as salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh, assalaamu ‘alaina wa’alaa ibaadillaahis shoolihiin, asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna muhammadarrosuulullooh” (HR. Bukhari-Muslim). Dan ada beberapa bacaan doa tasyahud lainnya yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Dianjurkan untuk membaca shalawat saat tasyahud awal. Setelah tasyahud awal, berdiri menuju rakaat ketiga sebagaimana telah dijelaskan.

17. Cara duduk tasyahud akhir
Para ulama berbeda pendapat mengenai posisi duduk tasyahud akhir, sebagian ulama menyatakan bahwa posisinya tawarruk, yaitu duduk dengan cara menegakkan telapak kaki kanan dan posisi jari-jarinya menghadap kiblat. Sedangkan telapak kaki kiri berada di depan kaki kanan dan bokong menyentuh lantai. Sebagian ulama menyatakan, untuk shalat yang dua rakaat, maka duduk tasyahud akhir dengan posisi iftirasy. Namun dalam masalah ini, perkaranya longgar. Kemudian mengangkat jari telunjuk kanan hingga lurus ke arah kiblat. Sambil membaca doa tasyahud sebagaimana pada tasyahud awal, lalu diwajibkan untuk  membaca shalawat: “Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiim, wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidummajiid” (HR. Bukhori-Muslim). Terdapat juga lafadz lain yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam .

18. Berdoa sebelum salam
Dianjurkan membaca doa sebelum salam. Yaitu doa: “Allohumma inni a’udzubika min ‘adzaabi jahannam, wa min ‘adzaabil qobri, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min syarri fitnati masiihid dajjaal” (HR. Muslim). Kemudian dianjurkan membaca doa apa saja yang diinginkan.

19. Salam
Dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” sambil menoleh ke kanan hingga pipi kanan terlihat dari belakang. Dan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” sambil menoleh ke kiri hingga pipi kiri terlihat dari belakang. Dan tidak terdapat hadits shahih mengenai mengusap wajah setelah salam, sehingga hal ini tidak perlu dilakukan.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita semua dan menerima amal ibadah yang kita lakukan. Wabillahi at taufiq was sadaad. []



Rujukan utama: Sifatu Shalatin Nabi karya Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi hafizhahullah
Penulis : Yulian Purnama, S.Kom. (Alumni Mahad Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Murojaah : Ust. Aris Munandar, SS, MPI

Pranala luar:
1. http://buletin.muslim.or.id/fiqih/tata-cara-shalat-sesuai-sunnah-nabi
2. https://almanhaj.or.id/900-ringkasan-sifat-shalat-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-1.html
3.

Harta yang Halal Belum Tentu Berkah?

Baca Artikel

Sebagian orang beranggapan dengan hartanya “yang penting halal”. Padahal halal saja belum cukup.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kata berkah [البركة] secara bahasa artinya sesuatu yang tumbuh dan bertambah atau langgeng dan abadi. (Lisan al-Arab, 10/395).

Ketika seseorang mengucapkan,

اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد

Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad,

maknanya adalah Ya Allah, kokohkanlah, langgengkanlah kebaikan dan kemuliaan untuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya. (Ahkam at-Tabarruk, Dr. Abdul Aziz Rais, hlm. 2)

Istilah untuk harta, bisa dipahami dua hal:

Pertama, harta yang boleh dimanfaatkan

Berdasarkan pengertian ini maka semua harta yang halal bagi muslim, adalah harta yang berkah. Meskipun harta itu habis pakai. Karena harta halal adalah keberkahan bagi mukmin, sehingga ketika mereka menikmati harta itu, tidak menjadi sumber masalah ketika di akhirat.

Allah berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. al-A’raf: 32)

Rizki yang halal di dunia, Allah sediakan untuk orang yang beriman. Sehingga ketika mereka menikmatinya, mereka tidak berdosa.

Kedua, harta berkah dalam arti yang bertambah dan berkembang

Inilah makna berkah yang lebih sering kita pahami. Tidak sebatas halal, namun bertambah, sehingga mencukupi kebutuhan semuanya.

Allah berjanji bagi orang yang beriman dan bertaqwa, akan dibukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96).

Allah berikan kepada kampung yang bertaqwa jatah rizki yang lebih. Tidak sebatas halal, tapi melimpah. Dan itulah keberkahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bertaqwa.

Dan ini bukan sebatas halal, karena semua yang Allah turunkan di muka bumi adalah halal bagi manusia, kecuali yang dilarang. Sementara orang bertaqwa diberi lebih, sebagai balasan baik untuk mereka.

Seperti doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya dan berkahilah semua yang Engkau berikan kepadanya. (HR. Bukhari 6334)

Kata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

فوالله إن مالي لكثير، وإن ولدي وولد ولدي يتعاقبون على نحو المئة

Demi Allah, hartaku sangat banyak. Sementara anak dan cucu-cucuku, mencapai 100 orang. (HR. Ibnu Hibban 7177)

Ketika Zubair wafat, beliau meninggalkan warisan berupa tanah hutan. Ketika dijual, harganya naik sangat tinggi. Abdullah Zubair radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

وَكَانَ الزُّبَيْرُ اشْتَرَى الْغَابَةَ بِسَبْعِينَ وَمِائَةِ أَلْفٍ ، فَبَاعَهَا عَبْدُ اللَّهِ بِأَلْفِ أَلْفٍ وَسِتِّمِائَةِ أَلْفٍ

Zubair pernah membeli tanah hutan seharga 170.000, kemudian tanah itu dijual oleh putranya, Abdullah bin Zubair seharga 1.600.000 (HR. Bukhari 3129).

Hadis ini diletakkan al-Bukhari dalam kitab shahihnya di Bab, “keberkahan harta orang yang berperang.”

Semua yang Halal harus Bertambah?

Berangkat dari pemahaman di atas, bahwa berkah artinya bertambah, dan harta halal adalah harta yang berkah, sebagian orang memahami, harta halal harus bertambah. Dan jika tidak bertambah, ini indikasi bahwa harta itu tidak halal.

Hingga ada sebagian orang yang melakukan usaha, diberi modal kawannya, namun ternyata usahanya gagal dan bahkan mengalami kerugian. Kesimpulan yang dia berikan, modal usahanya tidak berkah, karena berasal dari harta yang haram.

Memang dia tidak menuduh kawannya bekerja di dunia haram. Tapi setidaknya kesimpulan ini tidak lepas dari nuansa suudzan kepada pemodal.

“Harta halal adalah harta yang berkah, karena itu harus bertambah. Jika tidak bertambah, itu tanda bahwa harta itu tidak berkah.”

Kesimpulan ini tidaklah benar. Karena membuat konsekuensi kebalikan dari sebuah kalimat, tidak semuanya benar.

Ada kaidah mengatakan,

لازم القول ليس بلازم

Konsekuensi dari pernyataan, tidak semuanya benar.

Harta halal, memang berkah. Berkah dalam arti, bisa dimanfaatkan tanpa ada hukuman.

Tapi bukan berarti harta halal akan terus berkembang, dan menghasilkan banyak harta. Tidak ada jaminan demikian.

Dulu ada beberapa ulama yang melakukan usaha dan mereka gagal. Bahkan diantara mereka ada yang masuk penjara, gara-gara menanggung utang yang sangat besar.

Diantaranya Muhammad bin Sirin. Seorang ulama besar tabiin, muridnya sahabat Anas bin Malik dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berprofesi sebagai saudagar. Akan tetapi, pada akhir hayatnya, beliau ditimpa pailit dan terlilit utang sebesar 30.000 dirham, sehingga beliau pun dipenjara. Beliau baru dapat terbebas dari penjara setelah putranya, yang bernama Abdullah, melunasi utangnya.

Tentu saja bukan modal beliau yang bermasalah. Harta beliau halal, dan beliau seorang ulama yang wara’ terhadap harta.

Allahu a’lam. []


Oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel PengusahaMuslim

Pertarungan Siber Jilid III Segera Terwujud

Baca Artikel

Jagat sosial media disinyalir akan kembali memanas dan berpotensi melahirkan perang sosmed jilid III. Antara buzzer berbayar yang memiliki tendensi tertentu. Dengan tentara siber muslim. Dilengkapi, dengan resimen warganet berakal sehat.

Sebelumnya, di era Pilpres 2014. Kubu tentara siber bayaran, aka jasmev. ‘Sukses’ menyihir jagat sosmed republik. Dengan adanya sosok spin doktor, KD. Dengan kelihaian memainkan narasi isu ham, isu perkawinan PS08, isu kontroversial pensiun dini dari tentara, hingga hal-hal yang sangat private. Terus disemburkan ke publik. Nonstop. 24 jam 7 hari seminggu. Yang hasilnya, dapat disebut mampu mengarahkan swing voter. Dan dibantu oleh invisible hands di papua. Lengkap sudah, mahkota RI 1 digamit mantan walikota solo tersebut.

Dalam kubu buzzer berbayar, tentunya uang adalah tujuan utama mereka berlama-lama nyerondol depan gadget mereka. Sementara disaat yang sama, siber muslim lebih mengedepankan keberlangsungan ruang sosmed yang bersih dari polusi hoaks, fitnah, atau pembunuhan karakter dari tokoh publik yang kritis pada rezim.

Dalam operasinya, tentara siber bayaran milik rezim diberi pelatihan, peta perang, informasi pribadi tokoh oposisi sebagai bahan bullyan. Dan terutama, bonus berupa jabat tangan incumbent dalam foto sebagai prasasti personal tentara fitnah tadi.   Kemudian selanjutnya, setelah mereka turun gelanggang sebagai setan sosmed yang mengharu-biru pelbagai linimasa, dalam area fitnah. Publik juga akan dipermainkan rasa keadilan-nya. Sebagai ekses langsung keberpihakan aparat hukum. Terutama indikasi oknum kepolisian, yang dekat dengan penyandang dana tentara fitnah ini.

Saat ada yang berusaha menghidupkan nalar publik seperti RS dan RG. Dengan media diskusi di berbagai daerah. Paling lama seminggu, atau sepuluh hari kerja sebelumnya. Isu, framing, pembunuhan karakter akan tersaji di berbagai linimasa medsos. Ditingkahi oleh meme’ provokatif, yang menurut saya seharusnya sudah dapat diproses hukum. Karena merendahkan martabat seseorang di depan umum.

Namun seperti ‘biasa’ aparat hukum terkesan pura-pura buta dan cuek dengan situasi tadi. Hal ini tentunya makin menebalkan sifat imun masyarakat, ketika nantinya aparat hukum bekerja sesuai kaidahnya. Wong tumpukan ketidakadilan menggunung, disiram oleh secuil tupoksi yang benar ya tidak akan mengobati luka ketidakadilan tadi.

Situasi seperti sekarang bukan mendadak begitu saja terjadi, namun menurut hemat penulis, memang sudah dipersiapkan dan mengutip Zeng Wei Jan, mirip dengan doktrin “Unrestricted Warfare” (Rencana China Menghancurkan USA) karya Col. Xiao Liang, dan ini adalah perang dalam arti sebenarnya. Perang persepsi. Atau Ghawzul Fikri dalam khazanah islam.

Mereka bertempur dalam derap langkah yang seirama. Baik jam tayang, isi redaksi, bahkan tanpa interaksi. Akun setan tadi, begitu gencar mengumbar aib orang bermodalkan fitnah. Berpeluru dusta dan herannya lagi, bagaikan tak tersentuh hukum. Untouchable. Digjaya membunuhi karakter kubu oposisi, yang kritis terhadap rezim. Sebagai contoh misalnya, silahkan stalking semua akun twitter dengan key detektif.

Maka pembaca, kejijikan akan segera menjalari isi kepala kita. Tatkala dengan begitu beringas, tanpa malu lagi. Mereka melempar hujatan massal pada tokoh publik yang begitu dihormati. Dulu sempat ada tudingan biadab pada Gubernur terpilih Sumut, namun entah apa sebabnya. Seperti biasa tanpa diproses hukum. Semua ornamen hukum menjadi buta dan tulis saat hinaan publik tadi muncul. Kemudian yang anyar -tentunya dengan pola yang sama- adalah Ketua Timses PS08. Sungguh telah membuat rancu kalimat freedom of speech. Menjungkirbalikan nalar sehat netizen. Membuat cyber patrol impoten dibuatnya.

Adalah Sandiaga Uno, Cawapres tamvan bin tajir yang membuat bani fitnah sekarang ini menyatukan bidikan fitnah pada sosoknya. Perhatikan saja, ketika kurs dollar sedang membumbung tinggi, yang secara alamiah dan spontan disikapi dengan ajakan menukarkan mata uang tersebut. Malah direspon sebagai menguntungkan pihak Sandi. Karena otak kotor mereka telah diprogram, bahwa uang adalah tujuan hidupnya. Mereka tidak mampu menyajikan isi kepala mereka, selain dari fitnah dan dusta. Kan seharusnya bisa dilihat sebagai ajakan nasionalisme, tanpa gembar-gembor. Tanpa mendompleng ajang Asian Games. Tanpa beriklan di bioskop. Namun terbukti ampuh. Untuk sekedar mengompres panas tinggi yang diderita oleh rupiah. Belakangan, akibat terjangan dollar yang makin perkasa.

Ekses langsungnya adalah, naiknya harga komoditi impor seperti kedelai. Dan berujung pada keluhan massal para pengrajin. Untuk kemudian disikapi oleh Santri Millenial dengan semacam rembug saran kubu oposisi. Mencari solusi alternatif bagi perekonomian nasional yang kian limbung. Namun, lagi-lagi seperti biasa. Tentara fitnah tadi hanya mengambil secuil bahan, untuk disebarkan sebagai bullyan tingkat nasional. Tempe setipis kartu atm misalnya. Di-fabrikasi sedemikian rupa sebagai cemooh, celaan, sesuatu yang lucu. Karena narasi perumpamaan tadi, justru disikapi dengan arti harfiah. Irisan tempe setipis atm. Oh come on bong..itu satire, itu adalah kiasan. Hidup kalian terlalu terprogram sih, kurang wawasan. Jadi baperan. Dasar somplak.

Tentara fitnah ini, sampai kapanpun tetap harus dilawan. Karena sebagai perbandingan, dalam kontestasi pilkada DKI 2017. Atau perang sosmed jilid II. Justru kubu tentara bayaran luluh lantak. Habis dilumat oleh kelompok yang menamakan diri, tentara siber muslim. Segala dusta, fitnah, hoax dan juga glorifikasi sosok ahok, tidak mempan, majal dan mengempes perlahan. Diperangi dengan sengit, oleh tentara siber muslim tadi.

Padahal, kekuatan mereka sama. Malah lebih kuat. Karena pihak media, sebagian juga sudah terang-terangan ikut menjadi buzzer koh napi. Namun takdir berkata lain, ahok tumbang. Tergeletak babak belur, sosoknya hancur dikuliti oleh kecanggihan mesin perang tentara siber muslim. Yang disatukan oleh ghirah, dikomandoi oleh seruan Imam Besar Habib Rizieq Syihab. Didukung langsung oleh Allah Ta’ala.

Yang mengizinkan berlangsungnya konsolidasi massal berupa Aksi Bela Islam jikid I sampai III. Suatu berkah bagi bangsa ini. Negara kembali utuh. Indonesia masih disayang Illahi. Kekuatan asing dan aseng mundur teratur, para tikus-tikus koruptor mulai mengamankan diri, serta pengusaha hitam kembali kedalam sarangnya.

Jakarta kini kembali normal. Tanpa ujaran kotor, tanpa puja-puji ahok tokoh anti korupsi, tapi terkait aguan cukong reklamasi.

Nah pembaca, tentara bayaran itu sekarang sudah muncul lagi, menantang dengan teriakan parau. Karena memakan gaji hasil fitnah. Mari kita sama-sama satukan tekad, sisakan waktu dua atau tiga jam di depan gadget-laptop anda, sebarkan keunggulan Capres-Cawapres pilihan ulama, selamatkan bangsa ini dari cengkeraman pengkhianat, selamatkan ibu pertiwi dari oligarki, dari neo komunis, dari sekte syiah, serta selamatkan negara ini untuk anak cucu kita nanti. Bismillah.

Lawan ! [Paradok]

Perang Informasi: Elit Parpol, Pendukung Oposisi dan Korban Propaganda Media

Baca Artikel

Propaganda dan media massa memang tak bisa terpisahkan, lewat media massa inilah kemudian propaganda bisa terlaksana dengan baik terlepas itu oleh media audio, visual, ataupun audio visual.

Media massa memang memiliki pengaruh yang sangat sentral dalam pembentukan opini publik sehingga dalam hal ini informasi yang diberikan dapat mempengaruhi keadaan komunikasi sosial pada masyarakat. Masyrakat yang tidak tahu apa-apa banyak yang menelan mentah-mentah berbagai informasi yang diberitakan pada sebuah media, padahal di sisi lain berita tersebut ada kemungkinan memiliki ketimpangan yang harus diverifikasi.

Berbagai informasi yang kemudian masuk tanpa mengindahkan sisi objektivitas itulah yang kemudian menjadi permasalahan. Propaganda yang tak berimbang tentunya memiliki kepentingan-kepntingan yang biasanya berkenaan dengan kepentingan politik, bertujuan untuk menjatuhkan figur atau tokoh-tokoh tertentu dan berusaha menaikan pamor tokoh tertentu.

Saya pernah membahas implementasi dan juga pembahasan lainnya perkara propaganda yang dilakukan penguasa saat ini. Diantaranya; Habisnya Bahan Bakar Bocornya Tangki Pencitraan, Mau Apalagi?, Media Politik Pencitraan Menggerus Nalar Bangsa, Akun Power Point Sihir Untuk Rakyat, Kekacauan Glorifikasi Dan Lipstiknya Bernama Pemuja.

Sebagai gambarannya adalah ketika Pemilu berlangsung para kontestan dengan menggunakan media berusaha mepromosikan dirinya melalui partai yang mengusungnya. Dengan begitu mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapat simpati masyarakat sehingga banyak yang memilih.

Kemudian untuk memperoleh suara yang banyak, tak sedikit diantara mereka yang melakukan praktik Black Propaganda. Menggunakan cara-cara yang licik dengan menghasut dan mengadu domba.

Propaganda merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Propaganda sendiri berasal dari kata propagare artinya menyebar, berkembang, mekar. Carl I Hovlan menambahkan bahwa propaganda merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap. Propaganda timbul dari kalimat sacra congregatio de propaganda fideatau dari kata Congregatio de propaganda fide atau Congregation for the Propagandation of Faith tahun 1622 ketika Paul Grogelius ke 15 mendirikan organisasi yang bertujuan mengembangkan dan mengembangkannya agama katolilk Roma di Italia dan Negara lain.

Karya Klasik Lasswell, Propaganda Technique in the World war (1927) yang pertama kali berusaha dengan hati-hati mendefenisikan Propaganda: “Propaganda semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi social lainnya. (Seperti yang di kutip oleh Werner J. Severin –Jamesa W Tankard ,Jr. Teori Komunikasi, dalam Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, Terapan di Dalam Media Massa. Hal.128)

Ya, kontrol opini atau penggiringan isu. Manipulasi alam bawah sadar para pembaca dengan terus memproduksi narasi, baik tendensius, aroma stigma, hingga pembunuhan karakter.

Politisi korban headline media

Seperti yang disebutkan dalam rangkaian penjelasan di atas, “Propaganda semata merujuk pada kontrol opini dengan simbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi sosial lainnya”.

Sebelum penetapan resmi calon presiden dan wakil presiden yang akan ikut serta dalam kontestasi politik 2019, media sosial menjadi sangat ramai dengan berbagai opini hingga tebak-tebakan yang sangat rumit.

Pihak lawan politik menggunakan media sebagai alat penggiringan opini, bertujuan membuat gejolak media sosial terutama akar rumput merespon. Kemudian para politisi atau kader parpol begitu liar menafsirkan headline media, seakan berita media adalah berita resmi dari sejumlah partai oposisi.

Mengkondisikan saling serang argumen dengan narasi media, yang padahal belum tentu benar apa tidak  yang tertulis dalam media. Tidak melihat narasi utuh berita, apalagi memperhatikan perkara kaidah berita, seperti sumber kutipan, wawancara, atau setidaknya meredam strategi yang tersimpan rapih di balik meja pertarungan.

Jaring media ditebar dan mengkondisikan yang seharusnya bisa bersatu dibuat tidak bersatu. Rangkaian narasi saling menyudutkan ditujukan pada tiap parpol yang menjadi oposisi. Inilah teknik penggiringan opini, ditambah simpatisan parpol yang aktif di medsos juga berkomentar, seakan membenarkan narasi headline, menganggap bahwa apa yang tertera di headline adalah kebenaran, emosional, hingga brutal menyerang sesama oposisi. Kalian ini adalah korban, dan masuk dalam pola permainan dengan tools propaganda bernama media.

…………

Perang adalah informasi, itu kata Napoleon Bonaparte. Tetapi melihat para elit parpol yang menjadi korban disinformasi tentu sangat disayangkan. Hal inilah yang diinginkan oleh lawan politik. Dengan mudahnya tools propganda ini mematikan fungsi nalar dan juga insting dalam berperang. Hanyut dalam “teks” sedang “konteks” serta esensi pertarungan di darat mengalami ketimpangan, akibat menjadi seperti paradok. Ingin memenangkan kontestasi, tetapi sibuk saing cakar karena teknik propaganda yang massiv. Teknik ini umumnya terkait dengan kesalahan logika, manipulasi psikologis, penipuan langsung atau tidak langsung, teknik retoris dan propaganda, dan sering melibatkan eksploitasi informasi atau sudut pandang pribadi, dengan mendorong orang lain atau kelompok untuk tidak fokus ke suatu hal dengan mengalihkan perhatian ke hal lain.

Selain itu, outlet berita online mainstream ikut dilibatkan sebagai senjata pamungkas, menggunakan teknik framing – membingkai sebuah peristiwa dengan cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Metode framing disajikan sesuai realitas dimana kebenarannya tidak bisa dipungkiri, tetapi dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu dan menyembunyikan beberapa fakta yang bisa merugikan.

Manipulasi media adalah senjata propaganda modern dalam mempengaruhi publik, umumnya digunakan dalam ranah politik untuk memikat pemilih, menggunakan retorika, manipulasi opini publik, berita palsu (hoax), iklan, aktivisme, perang psikologis, public relations (PR), atau framing media massa.

Aktivitasnya menggunakan teknik astroturfing (strategi kampanye atau promosi terselubung), clickbait (digunakan oleh outlet berita), gangguan (pengalihan isu), troll (mengalihkan perhatian hingga keluar dari konteks pembahasan), ad populum (menyesatkan pikiran), manipulasi opini publik (diciptakan oleh aktor-aktor politik), dan teknik lainnya yang digerakan secara terorganisir.

Kekonyolan ini tetap terjadi, buta dengan kontestasi dengan kesepakatan nyata, namun masih saja ada para politisi yang konon ingin memperbaiki bangsa saling serang padahal masih satu sekoci.

Ada satu parpol yang menjadi bulan-bulanan jagad maya oposisi, dengan stigma “Abu-abu”, lantas merasa begitu risih dengan keberadaannya. Tetapi, tidak melihat seberapa besar lawan politik di depan mata. Merasa kuat dengan berjuang sendiri adalah kesombongan. Padahal informasi yang diperoleh juga dengan propaganda massiv akun-akun siluman yang mengkondisikan agar oposisi tidak bersatu, karena hal itulah yang sebetulnya ditakutkan musuh politik.

Kalaupun musuh, maka cerdaslah, Ini kancah politik, segala kemungkinan itu akan terjadi. Bahwa pertarungan selalu penuh dengan hitung-hitungan, jangan merasa besar sendiri, itu yang selalu saya katakan di akun media sosial saya.

Dalam pertempuran apalagi politik, maka saya sering katakan, “Rangkul satu musuh untuk menendang satu musuh yang lebih kuat”. Ya, tetapi dalam politik tak ada musuh abadi, bahkan “Bersikap adil terhadap musuh” adalah prinsip bagi saya pribadi.

Pendukung “Die hard” juga korban media

Gegap gempita nuansa pilpres sudah mulai terjadi. Tetapi terlalu dini untuk berbicara apakah sudah ada di atas angin. Mesin media belum panas, ini baru awal. Berbagai metode propaganda akan dilakukan. Yah, mulai dari pecah suara, meramu gesekan, framing busuk, pembunuhan karakter, hingga fitnah dan hoax yang akan semakin massiv.

………….

Secara bahasa arti propaganda adalah menyebarkan atau menyebarluaskan, awalnya bermakna positif. Kata “propaganda” aslinya berasal dari badan administrasi baru Gereja Katolik (jemaat) yang dibentuk pada tahun 1622, yang disebut Congregatio de Propaganda Fide (Kongres Untuk Menyebarkan Iman). Kegiatannya menyebarkan iman Katolik ke negara-negara non-Katolik.

Sejak tahun 1790-an, istilah itu mulai digunakan untuk merujuk pada propaganda dalam kegiatan-kegiatan sekuler.  Istilah ini mulai mendapat konotasi yang buruk atau negatif pada pertengahan abad ke-19, ketika digunakan dalam lingkup politik. Propaganda ini digunakan dalam skala besar dan terorganisir pertama kali disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia I.

Kekalahan Jerman atas Inggris di Perang Dunia Pertama tidak lepas dari peran propaganda yang dilancarkan Inggris, meruntuhkan semangat pasukan Jerman. Dalam Mein Kampf (buku yang dianggap paling berbahaya di dunia), Hitler menjelaskan teorinya tentang propaganda: “Hitler … tidak membatasi apa yang bisa dilakukan oleh propaganda; orang akan percaya apa pun, asalkan mereka diberitahu itu sangat sering dan cukup tegas, dan oposisi akan dibungkam dan tertahan dalam kesedihan.

Ini yang ditakutkan, terbiasa mengisi memori kepala dengan kebencian tanpa nalar, membuat akhirnya sebagian orang tak bisa membedakan mana jebakan mana yang harus diolah atau menjadi bagian dari perjuangan.

…………..

Mungkin akan dimunculkan pemberitaan media dengan tak lagi menyerang kubu lawan secara frontal, tetapi melakukan pembusukan “orang yang didukung” dengan narasi yang diciptakan, hingga semangat para pendukung menjadi lemah, putus asa, hingga akhirnya kemungkinan terburuk adalah pindah dukungan.

Konyolnya lagi, para pendukung garis beton ini begitu taklid buta. Hingga narasi media disamber atau dilahap, kemudian disebarluaskan tanpa melihat isi pemberitaan. Ketika isinya kontra dengan headline, maka bersiaplah disebut “faqir quota”. Ini sering terjadi, bahkan jangankan berita politik, berita ranah entertain saja kadang pendukung oposisi ini begitu mudah berteriak tanpa melihat isi. Ini jelas pola jebakan betmen dan terus diulang tanpa mau evaluasi.

Komentar yang berapi-api dari para pendukung oposisi ini saat “re-quote” kicau media, tanpa membaca isi, modal capture tanpa link, seperti membuat jebakan betmen untuk diri sendiri. Belum lagi ada satu tim sorai parpol yang sedang kisuh internal, ninyir dari media untuk menyerang parpolnya sendiri, tapi seakan merasa benar apa yang dikatakan media. Seperti headline media itu mereka anggap sabda saja, atau wahyu yang seratus persen berupa pesan.

Padahal hanya berita, yang harus dibaca terlebih dahulu, kemudian konfirmasi pemberitaan, bukan meledak-ledak. Media itu ada editor ada redaksi, apakah percaya dengan independensi sebuah media?

Seperti saat ini, narasi ulama atau berita tentang ulama yang menjadi pasangan petahana keluar dari media. Lantas sebagian pendukung oposisi ini seakan-akan percaya bahwa berita itu adalah seratus persen ucapan ulama. Tidak pernah berpikir bahwa disitu ada pola yang memaksa kubu oposisi untuk menyalak liar, menyudutkan ulama dengan bermodal narasi headline.

Seorang ahli ilmu neural (neurosains), Albert Maoukheiber, menjelaskan mengapa otak kita cenderung dapat terpengaruh, ia memilah-milah informasi yang diterimanya berdasarkan heuristik, yaitu jalan pintas untuk perkiraan cara memecahkan masalah. Terkadang mekanisme penyaringan ini salah dan terjadi kesalahan.

Sebuah informasi dan berita yang kita terima akan menjadi salah atau benar tergantung bagaimana otak menerimanya. Ketika informasi bertentangan dengan apa yang ada di dalam otak, kita akan lebih waspada terhadap setiap fakta yang memperkuatnya.

Singkatnya, otak akan menyortir setiap fakta hingga menjadi kebenaran sesuai dengan selera otak. Ketika informasi hadir, kita akan menilainya secara spontan berdasarkan pendapat, kita tidak bisa memperlakukan informasi secara objektif sebelum memverifikasinya secara mendalam.

Sebagai penutup, hendaknya evaluasi diri agar tak mudah termakan propaganda media, yang bisa jadi bumerang padahal niat untuk menyampaikannya baik. Apalagi asal share informasi hanya bermodal headline yang kebetulan menguntungkan argumen , atau me-RT berita tanpa melihat dampak apa kedepannya terutama bagi kesolidan. Sebab jika kita membaca apa yang disampaikan Megan Burns dari Carnegie Mellon University, ada 5 hal yang diperlukan jika terlibat dalam perang informasi, dan mungkin ini tengah dilakukan oleh lawan politik oposisi.

Pertama, pengumpulan informasi. Semakin baik informasi yang dimiliki, maka perencanaan pertempuran juga akan semakin baik, sehingga bisa memberikan hasil peperangan yang baik juga.

Kedua, pengiriman informasi. Mempunyai informasi itu bagus, tapi tak terlalu berarti jika tidak mempunyai cara, alat, dan kemampuan untuk mengirimkan informasi itu ke pihak yang tepat.

Ketiga, perlindungan informasi. Informasi yang dimiliki harus dilindungi agar tidak bisa diakses oleh lawan.

Keempat, manipulasi informasi. Informasi diubah sedemikian rupa agar musuh tersesat.

Kelima, penggangguan, pelemahan, dan penolakan informasi. Termasuk memalsukan informasi sehingga sistem musuh memilih keputusan yang salah, dan juga memblokade arus informasi.

Apa pun dan bagaimana pun perang informasi itu akan berlangsung, perang informasi bukanlah tujuan. Seperti peperangan jenis lain, perang informasi adalah sarana untuk mencapai tujuan. Namun berbeda dengan perang yang lain, perang informasi lebih mengarah ke upaya untuk mengalahkan strategi musuh ketimbang menumpas pasukan musuh.

Sebagian orang membayangkan perang informasi itu berupa pertempuran siber saling serang antar pasukan ahli teknologi informasi yang saling bermusuhan secara virtual. Perkiraan itu tidak tepat. Perang informasi merupakan gabungan antara perang elektronik, perang siber dan operasi psikologi yang secara bersamaan berhimpun dalam satu organisasi pertempuran.

Sekian. [Paradok]