Sabtu, 21 Juli 2018

Penjelasan Lengkap Hukum Onani dan Solusinya

View Article

Kalangan remaja atau dewasa tidak sedikit yang kecanduan dengan onani. Remaja yang pergaulannya tidak karuan, atau pasutri yang saling berjauhan, banyak yang mengambil onani sebagai solusi untuk memenuhi hasrat seksual. Bahasan kali ini akan meninjau bagaimana pandangan Islam mengenai onani (masturbasi).

Mengenal Istilah “الاستمناء”

Dalam bahasa Arab dikenal istilah “الاستمناء”, yaitu memaksa keluarnya mani. Atau secara istilah didefinisikan, “الاستمناء” adalah mengeluarkan mani dengan cara selain jima’ (bersenggama/coitus) dan cara ini dinilai haram seperti mengeluarkan mani tersebut dengan tangan secara paksa disertai syahwat, atau bisa pula “الاستمناء” dilakukan antara pasutri dengan tangan pasangannya dan cara ini dinilai boleh (tidak haram).

Dalam kitab I’anatuth Tholibin (2:255) disebutkan makna “الاستمناء” adalah mengeluarkan mani dengan cara selain jima’ (senggama), baik dilakukan dengan cara yang haram melalui tangan, atau dengan cara yang mubah melalui tangan pasangannya.

Istilah “الاستمناء” di sini sama dengan onani atau masturbasi.

Wasilah (Perantara) Onani

Onani bisa dilakukan dengan tangan, atau cara bercumbu lainnya, bisa pula dengan pandangan atau sekedar khayalan. Kita akan mengulas ketiga cara tersebut. Onani dengan bercumbu yang dimaksud adalah seperti dengan menggesek-gesek kemaluan pada perut, paha, atau dengan cara diraba-raba atau dicium dan tidak sampai terjadi senggama pada kemaluan. Pengaruh onani semacam ini sama dengan onani dengan tangan.

Hukum Onani

Onani dengan hanya sekedar untuk membangkitkan syahwat, hukumnya adalah haram secara umum. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31)

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Ma’arij: 29-31). Orang yang melampaui batas adalah orang yang zholim dan berlebih-lebihan. Allah tidaklah membenarkan seorang suami bercumbu selain pada istri atau hamba sahayanya. Selain itu diharamkan. Namun, menurut ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Imam Ahmad, hukum onani itu makruh tanzih (sebaiknya dijauhi).

Jika onani dilakukan untuk menekan syahwat dan takut akan terjerumus zina, maka itu boleh secara umum, bahkan ada yang mengatakan wajib. Karena kondisi seperti ini berarti melakukan yang terlarang di saat darurat atau mengerjakan tindakan mudhorot yang lebih ringan.

Imam Ahmad dalam pendapat lainnya mengatakan bahwa onani tetap haram walau dalam kondisi khawatir terjerumus dalam zina karena sudah ada ganti onani yaitu dengan berpuasa.

Ulama Malikiyah memiliki dua pendapat. Ada yang mengatakan boleh karena alasan kondisi darurat. Ada yang berpendapat haram karena adanya pengganti yaitu dengan berpuasa.

Ulama Hanafiyah seperti Ibnu ‘Abidin berpendapat bahwa jika ingin melepaskan diri dari zina, maka onani wajib dilakukan.

Dari berbagai pendapat yang ada, penulis menilai pendapat yang menyatakan onani itu haram lebih kuat seperti pandangan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya. Karena syahwat tidak selamanya dibendung dengan onani. Dengan sering berpuasa yaitu puasa sunnah akan mudah membendung tingginya syahwat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

Onani Melalui Istri

Mayoritas ulama menilai bolehnya onani jika yang melakukan adalah pasangannya (istrinya), seperti mengeluarkan mani dengan cara kemaluan si suami digesek pada paha atau perut istri selama tidak dilakukan pada kondisi terlarang (yaitu seperti ketika puasa, i’tikaf atau saat berihram ketika haji dan umrah).

Namun ulama lainnya mengatakan perilaku onani dari pasangan (istri) dinilai makruh. Dalam Nihayah Az Zain dan Fatawa Al Qodi disebutkan, “Seandainya seorang istri memainkan kemaluan suami dengan  tangannya, hukumnya makruh, walau suami mengizinkan dan keluar mani. Seperti itu menyerupai perbuatan ‘azl (menumpahkan mani di luar kemaluan istri). Perbuatan ‘azl sendiri dinilai makruh.”

Wajib Mandi Setelah Onani

Para ulama sepakat bahwa yang melakukan onani wajib mandi (janabah atau junub) jika mani keluar dengan terasa nikmat dan memancar. Sedangkan ulama Syafi’iyah tidak memandang jika mani keluar tanpa terasa nikmat dan memancar. Asalkan keluar mani saat onani, mereka nyatakan tetap wajib mandi. Demikian pula pendapat Imam Ahmad dan pendapat yang tidak masyhur dalam madzhab Malikiyah.

Sedangkan jika melakukan onani dan ia menahan mani agar tidak keluar, maka tidak diwajibkan mandi. Karena wajibnya mandi di sini dikaitkan dengan melihat ataukah tidak.

Pengaruh Onani pada Puasa

Onani dengan tangan membatalkan puasa menurut ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hambali dan sebagian besar ulama Hanafiyah. Karena penetrasi tanpa keluar mani saja membatalkan puasa. Maka tentu saja jika keluarnya mani dengan syahwat jelas membatalkan puasa. Jika puasanya batal, hal ini tidak disertai adanya kafaroh seperti jima’ (senggama) saat puasa karena tidak ada dalil yang mewajibkan adanya kafaroh. Demikian pendapat ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah.

Bahaya Onani dari Sisi Kesehatan
  1. Ejakulasi dini atau terlalu cepat selesai ketika melakukan hubungan seks yang sebenarnya. Ketika melakukan onani, biasanya orang cenderung melakukannya secara terburu-buru dengan harapan dapat segera mencapai orgasme. Cara onani yang terburu-buru ini akan membiasakan sistem syaraf untuk melakukan seks secara cepat ketika sedang bercinta. Dan hasilnya adalah ejakulasi dini.
  2. Gairah seks yang lemah ketika sudah berumah tangga. Keinginan untuk melakukan hubungan seks kadang sangat rendah karena sudah terbiasa melakukan onani ketika masih muda.
  3. Orang-orang zaman dulu menyebut onani yang berlebihan akan menyebabkan kebodohan karena selalu membayangkan hal-hal porno dan orientasi pikiran selalu negatif.
  4. Badan jadi kurus dan lemah. Karena pikiran selalu negatif dan berpikir yang porno-porno membuat banyak energi yang terkuras. Hal ini menyebabkan badan menjadi kurus kering.
  5. Sulit menikmati hubungan seks yang sebenarnya bersama wanita. Karena sejak remaja sudah terbiasa merasakan seks secara manual atau onani. Penis yang terbiasa dengan tekanan tertentu dari tangan menjadi tidak responsif terhadap rangsangan dari vagina.
  6. Perasaan bersalah karena terlalu sering onani menimbulkan rasa minder dan tidak percaya diri di lingkungan sosial.
  7. Bagi wanita muda yang senang masturbasi atau onani bisa merobek lapisan hymen keperawanannya.
  8. Mengalami impotensi atau gagal ereksi ketika berhubungan. Orang yang melakukan onani sudah terbiasa menciptakan rangsangan yang bersifat mental berupa khayalan-khayalan, hal tersebut membuat penis tidak terbiasa dengan rangsangan fisik ketika berhubungan seks yang sebenarnya.
  9. Jadi sering melamun dan pikiran selalu negatif membuat adaptasi sosial menjadi terbatas.

Solusi dari Onani

Para ulama memberi nasehat bagi orang yang sudah kecandu onani, hendaklah ia perbanyak do’a, rajin menundukkan pandangan dari melihat yang haram, dan rajin berolahraga untuk menurunkan syahwatnya. Namun jika ia dihadapkan pada dua jalan yaitu berzina ataukah onani, maka hendaklah ia memilih mudhorot yang lebih ringan yaitu onani, sambil diyakini bahwa perbuatan tersebut adalah suatu dosa sehingga ia patut bertaubat, memperbanyak istighfar dan do’a. (Sumber: islamweb)

Solusi yang bisa dirinci:
  1. Banyak berdo’a dan bertaubat kepada Allah, untuk berhenti dari onani selamanya.
  2. Harus memiliki tekad, kemauan, dan motivasi yang kuat dari diri sendiri.
  3. Bergaullah dengan orang-orang yang alim, cerdas, sholeh, beriman, bertakwa. Hindarilah lingkungan pergaulan yang membawa Anda menuju “lembah maksiat” atau “dunia hitam” atau bergaul dengan orang yang hobi onani. Teman karib yang baik sangat berpengaruh pada seseorang ibarat seseorang yang berteman dengan penjual minyak wangi. Kalau tidak diberi gratis, kita bisa dapat bau harumnya secara cuma-cuma. Baca artikel rumaysho.com: Pengaruh Teman Bergaul yang Baik.
  4. Sibukkan diri dengan beribadah terutama banyak melakukan puasa sunnah karena puasa akan mudah mengekang syahwat. Sibukkan diri pula dengan menjaga shalat berjamaah, shalat malam, berzikir, dan membaca Alquran serta melakukan hal bermanfaat seperti olahraga.
  5. Jika Anda “hobi beronani”, berhati-hatilah atau waspadalah dengan kanker prostat! Sebab, hasil riset yang dilakukan oleh Universitas Nottingham Inggris, menyatakan bahwa pria berusia antara 20-30 tahun yang “gemar beronani” memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena kanker prostat. Juga, Sebanyak 34% atau 146 dari 431 orang yang terkena kanker prostat sering melakukan onani mulai usia 20 tahun. Sekadar tambahan, kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di kelenjar prostat, disebabkan karena sel prostat bermutasi dan mulai berkembang di luar kendali.
  6. Hindari melihat tontonan, tayangan, gambar, video, yang “syur”, “aduhai”, atau porno, baik di internet, televisi, VCD, DVD, dsb. Hindari juga “bacaan dewasa”, “kisah panas”, atau “bumbu-bumbu seksual”.
  7. Sadarilah bahwa onani hanya akan menghabiskan energi dan waktu Anda yang sebenarnya dapat Anda gunakan untuk melakukan hal-hal lainnya yang bermanfaat.
Tinggalkanlah onani dan tempuh cara yang halal, lalu ingatlah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

Wallahu waliyyut taufiq. Walhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. []

Disarikan dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, terbitan Kementrian Agama Kuwait, pada index kata ‘الاستمناء’, juz ke-4, hal. 97-102.




Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel oleh Rumaysho

Kiat Menghilangkan Kecanduan Nonton Film Porno

View Article

Berikut adalah kiat-kiat lanjutan untuk menghilangkan kecanduan dari nonton film porno. Part pertama dari artikel ini bisa dibaca pada link ini.

6- Ubahlah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik

Sebagian menonton film porno di tengah malam saat yang lain telah tidur. Kebiasaan ini harus berusaha diubah dengan tidur di awal malam, agar dimudahkan pula untuk bangun shubuh. Kebiasaan ini lebih bermanfaat daripada kebiasaan begadang di malam hari. Karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang beraktivitas setelah Isya dalam hal yang tidak manfaat. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khattab sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 278, Asy Syamilah)

Apalagi maksiat lebih mudah terjadi di kala sepi. Disebutkan dalam hadits,

وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).”

7- Harus tulus dan jujur meninggalkan kebiasaan menonton film porno

8- Jangan merasa bangga karena sudah berhenti

Jangan terlalu bangga kalau sudah berhenti. Kalau sudah berhenti dari melihat film porno satu bulan lamanya, itu belumlah cukup. Dua bulan belum juga cukup. Coba diteruskan hingga setahun lamanya bahkan seterusnya bisa istiqamah, baru bisa katakan sukses.

Ingatlah kalau bisa istiqamah, itu benar-benar suatu karunia yang besar. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin,

أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ

“Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.”

9- Harus tahu akibat buruk jika kita terus menonton video porno

Jika seseorang ingin berubah, coba ia tulis di wallpapernya, “Allah sedang melihat saya.” Ketika itu ditaruh di halaman muka laptop, computer atau handphone kita, kita pasti akan terus merasa diawasi oleh Allah sehingga akan sulit berbuat maksiat. Kalau tulisan itu terus ada, kita pasti akan terus merasa bahwa Allah tetap memperhatikan kita, termasuk saat kita sendiri. Apa lantas seperti itu mau bermaksiat dengan membuka-buka video porno?

Apalagi ia tahu bahwa ada malaikat yang selalu mencatat gerak-gerik kita semua. Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

Ditambah lagi, kita harus tahu bahwa amalan itu dilihat dari akhirnya. Sebagaimana kata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Coba seseorang mengingat konsekuensi di atas, ia akan terus diawasi oleh Allah. Kalau-kalau ia berbuat maksiat, ia pun bisa saja mati dalam keadaan menutup amalannya dengan maksiat. Kalau seseorang ingat akibat buruk ini, ia pasti akan mengurangi maksiatnya.

10- Industri yang membuat film porno benar-benar jahat

Kata Wael Ibrahim (lihat video dibawah), seorang motivator yang memberikan kiat-kiat agar bisa berhenti dari menonton video porno, industri yang membuat video porno sama dengan industri yang membuat video penghinaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya sama yaitu untuk menghancurkan umat manusia.

Bila kita tahu demikian, berarti kita tidak boleh menyupport mereka mengklik video mereka. Mereka akan semakin kaya dengan itu. []




Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel oleh Rumaysho

Inilah Bahaya Dari Nonton Film Porno

View Article

Ada beberapa dampak jelek jika seseorang punya kebiasaan menonton video porno atau melihat gambar telanjang. Berikut di antaranya.

1- Menontonnya akan membuat ketagihan
Demikianlah kenyataannya menonton satu tayangan akan membuat ketagihan ingin menonton lagi. Apalagi kalau membukanya di Youtube, lebih dimudahkan lagi karena akan disambungkan ke tayangan yang lain.

Benarlah kalam ulama salaf,

وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”

Itulah sebagai hukuman dari perbuatan maksiat.

2- Maksiat akan terus melekat
Pornografi membuat cara berpikir seseorang menjadi penuh dengan seks semata. Pikiran seks akan menguasai alam bawah sadarnya. Gambar berbau seks akan melekat pada otaknya, sehingga pada saat seseorang memutuskan untuk berhenti melihat pornografi pun, gambar-gambar yang pernah ia lihat di masa lalu akan bertahan sampai beberapa tahun bahkan selama-lamanya.

3- Jika tidak ada jalan melampiaskan seks, maka berujung onani
Pornografi membuat seseorang terpicu untuk lebih suka melayani diri sendiri. Kalau tidak ada jalan melampiaskan, ujung-ujungnya akan ke kamar mandi untuk onani.

Onani sendiri haram. Karena menahan bangkitnya syahwat adalah dengan menyalurkannya pada tempat yang halal. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Ma’arij: 29-31). Termasuk melampaui batas jika seseorang menyalurkan syahwatnya lewat onani.

Solusi yang ditawarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau belum mampu menikah adalah dengan memperbanyak puasa sunnah. Dalam hadits disebutkan,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari, no. 5065; Muslim, no. 1400) [Mayoritas ulama menilai bolehnya onani jika yang melakukan adalah pasangannya (istrinya), seperti mengeluarkan mani dengan cara kemaluan si suami digesek pada paha atau perut istri selama tidak dilakukan pada kondisi terlarang (yaitu seperti ketika puasa, i’tikaf atau saat berihram ketika haji dan umrah).

Namun ulama lainnya mengatakan perilaku onani dari pasangan (istri) dinilai makruh. Dalam Nihayah Az Zain dan Fatawa Al Qodi disebutkan, “Seandainya seorang istri memainkan kemaluan suami dengan  tangannya, hukumnya makruh, walau suami mengizinkan dan keluar mani. Seperti itu menyerupai perbuatan ‘azl (menumpahkan mani di luar kemaluan istri). Perbuatan ‘azl sendiri dinilai makruh.”]

4- Waktu dan uang habis dengan sia-sia
Pornografi akan membawa seseorang terhadap penggunaan waktu dan uang dengan sangat buruk. Sedikit ada waktu luang atau uang lebih, akan dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsunya.

Kita dilarang menghambur-hamburkan harta dengan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.”

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa orang yang boros, mereka telah mengikuti jalan setan sehingga disebut dalam ayat mereka adalah saudara setan. (Tafsir Al-Jalalain, hlm. 294)

Ada nasihat yang diperoleh Imam Syafi’i tentang masalah waktu,

الوَقْت كَالسَّيْفِ فَإِنَّ قَطَعْتَهُ وَإِلاَّ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تُشْغِلْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ شَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”

5- Daya kerja semakin berkurang
Dalam banyak kasus, pornografi membuat seseorang kehilangan daya kerjanya. Yang tadinya aktif dan kreatif bisa menjadi tidak fokus dalam pekerjaan.

6- Berpengaruh pada rusaknya otak
Menonton film porno dapat berdampak buruk bagi kesehatan otak. Para peneliti di Jerman menemukan, terlalu sering atau secara teratur menonton film atau video porno dapat membuat volume otak di daerah striatum mengalami penyusutan. Striatum merupakan daerah di otak yang berkaitan dengan motivasi.

Ketika menonton film porno, produksi dopamin akan meningkat sehingga membuat suasana hati bahagia. Akan tetapi, jika terlalu sering justru dapat menurunkan sensitifitas otak terhadap rangsangan seksual.

Otak akhirnya membutuhkan lebih banyak dopamin untuk bisa terangsang secara seksual. Dengan begitu, seseorang pun akan memiliki keinginan lebih banyak untuk menonton film porno.

Penelitian lain dari Cambridge University tahun 2013 menemukan, otak orang yang suka menonton film porno mirip dengan pecandu narkoba. Otak mereka yang sering menonton film porno berbeda dengan yang tidak suka.

Hasil scan menunjukkan, ada tiga daerah di otak yang lebih aktif pada orang yang suka menonton film porno sejak usia dini dibanding yang tidak.

7- Dampak pada aktivitas seksual
Menurut sebuah penelitian tahun 2011 yang diterbitkan dalam Psychology Today, jika terlalu sering menonton film porno, pria atau wanita akan membutuhkan pengalaman seksual yang lebih ekstrim untuk bisa terangsang.

Mereka akan sulit terangsang jika hanya melakukan hubungan seksual biasa. Peneliti menyimpulkan, ponografi dapat menciptakan generasi muda yang putus asa di kamar tidur.

Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai dosa yang membinasakan. Wallahu waliyyut taufiq. []




Diselesaikan di Bale Ayu Giwangan, 22 Rabi’uts Tsani 1437 H
Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel: https://rumaysho.com/12838-bahaya-nonton-film-porno-3.html

Referensi:
1. http://www.kaskus.co.id/thread/519ae5f70975b4b724000000/efek-negatif-dan-cara-menghilangkan-kebiasaan-nonton-video-porno/
2. http://health.kompas.com/read/2015/08/16/123638523/Terungkap.Efek.Buruk.Menonton.Film.Porno.bagi.Otak

Keuangan Syariah Bisa Jadi Solusi Permasalahan Dunia

View Article

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengatakan bahwa keuangan syariah dapat menjadi salah satu solusi dunia dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Selain itu,keuangan syariah tidak hanya menjangkau aspek pemberantasan kemiskinan tetapi juga mencakup peningkatan kesehatan, penyediaan pendidikan yang berkualitas, kesetaraan gender, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, antisipasi perubahan iklim dan juga penurunan tingkat ketimpangan tingkat pendapatan. “Prinsip-prinsip khas keuangan syariah yang memihak pada pemerataan pendapatan dan berorientasi pada kegiatan sosial lingkungan, menjadikan pengembangan sistem keuangan syariah menjadi sangat relevan dengan pencapaian target-target SDGs,” kata Muliaman dalam keterangan tertulisnya, Ahad (9/10).

Muliaman menambahkan, OJK sebagai otoritas sektor jasa keuangan di Indonesia terus mendorong perkembangan sektor keuangan syariah mulai dari sektor perbankan syariah, IKNB syariah dan pasar modal syariah. Pangsa pasar industri perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional menunjukkan kenaikan bila dibandingkan tahun sebelumnya, meningkat dari 4,60 persen di Juli 2015 menjadi 4,81 persen pada Juli 2016. Share tersebut diperkirakan akan mencapai sekitar 5,13 persen, apabila turut memperhitungkan hasil konversi BPD Aceh menjadi Bank Umum Syariah.

Sejalan dengan perkembangan share tersebut, terjadi kenaikan aset perbankan syariah (BUS dan UUS) sebesar 18,49 persen (YOY), dari Rp 272,6 triliun (Juli 2015) menjadi Rp 305,5 triliun (Juli 2016). Kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya penghimpunan dana pihak ketiga sebesar 12,54 persen (YOY), dari Rp 216 triliun (Juli 2015) menjadi Rp 243 triliun (Juli 2016) yang selanjutnya telah mendorong penyaluran pembiayaan tumbuh sebesar 7,47 persen (YOY), dari Rp 204,8 triliun (Juli 2015) menjadi Rp 220,1 triliun.

Sementara itu, dari sisi kualitas pembiayaan, NPF gross mengalami penurunan (YOY) dari 4,89 persen (Juli 2015) menjadi 4,81 persen (Juli 2016). Sementara profitabilitas yang tercermin dari rasio ROA meningkat dari 0,91 persen (Juli 2015) menjadi 1,06 persen (Juli 2016). Sedangkan rasio BOPO membaik dari 94,19 persen (Juli 2015) menjadi 92,78 persen (Juli 2016). Selain itu, terjadi peningkatan kecukupan  permodalan perbankan syariah yang tercermin dari kenaikan rasio CAR, yaitu dari 14,47 persen (Juli 2015) menjadi 14,86 persen (Juli 2016).

Sementara untuk pasar modal syariah, persentase nilai masing-masing efek syariah dari total efek per tanggal 23 September 2016 adalah sebagai berikut, saham syariah sebesar 55,97 persen, sukuk korporasi sebesar 3,88 persen, reksa dana syariah sebesar 3,76 persen, dan sukuk negara sebesar 15,08 persen.

Sedangkan perkembangan industri keuangan non ank (IKNB) Syariah sampai Juli 2016, total aset IKNB Syariah meningkat sebesar 23,18 persen menjadi Rp 80,1 triliun. Pertumbuhan aset didominasi oleh penambahan pelaku usaha serta pengembangan produk dan layanan IKNB Syariah. Sementara itu, sukuk Indonesia di lingkup global telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan yang mencapai sekitar 23,3 persen, atau sekitar 10,15 miliar dolar AS dari total penerbitan sovereign sukuk internasional. []


Rep: Rizky Jaramaya
Red: Nur Aini
Dipublikasikan oleh Republika

Pranala luar:
1. http://www.umy.ac.id/perbankan-syariah-solusi-atasi-permasalahan-perekonomian.html
2. http://www.beritasatu.com/bisnis/446767-keuangan-syariah-solusi-atasi-ketimpangan-pendapatan-masyarakat.html

Jumat, 20 Juli 2018

Jangan ‘Sewot’, Kami Ekonom Juga Tahu soal Utang

View Article

Utang pemerintah selama 3 (tiga) tahun lebih pemerintahan Jokowi naik sekitar Rp1200Triliun, jauh melebihi kenaikan pendapatan pajak yang stagnan sebagai ukuran kemampuan bayar utang.

Pemerintah selalu berdalih bahwa utang negara yang kini berjumlah Rp4000triliun atau sekitar 29,5% dari PDB adalah masih jauh dibawah ketentuan Undang-undang Keuangan Negara yang batas maksimalnya 60% PDB, dan jauh pula dibawah ratio utang negara-negara lain.

Utang Jepang yang sering dijadikan pembanding ratio utangnya terhadap PDB jauh diatas 200% tetapi Jepang mempunyai ciri-ciri tersendiri yaitu :

1. Utangnya kepada rakyatnya sendiri dan kepada Bank Sentral Jepang dengan ratio masing-masing sekitar 50%.

2. Utangnya dalam mata uangnya sendiri yaitu Yen.

3. Bunganya sangat rendah hanya sedikit diatas 1%. Bandingkan dengan
bunga utang Indonesia yang tertinggi di Asia dan bahkan sebagiannya
masih 2 digit.

4. Kredit rating jepang A+ alias sangat secure sementara rating Indonesia
BBB.

5. Meskipun utang Jepang tinggi tetapi dari kaca mata riil ekonomi Jepang
mempunyai net international investment positions USD2.8Triliun yang berarti memiliki net external assets positif alias bangsa kreditor. Berbeda dengan Indonesia yang net international investment positionnya negatif lebih dari USD400Miliar alias mempunyai net external liabilities atau benar-benar negara dengan neraca sebagai negara debitor.

Pemerintah tidak membandingkan tax ratio Jepang yang 31% PDB sementara tax ratio Indonesia kurang dari 11% atau praktis yang terendah di Dunia.

Pemerintah juga tidak membandingkan dengan ratio APBN terhadap PDB di Indonesia yang amat rendah dibandingkan dengan ratio yang sama dari negara- negara lain yang sering dijadikan pembanding. Begitu pula dengan debt service ratio di Indonesia yang 40% atau tertinggi di Asia Tenggara, sementara batas yang dianggap aman maksimal 25%.

Sementara itu sekitar 41% utang negara dalam valuta asing. Dengan average time to maturity 9 (Sembilan) tahun dan yang bertenor (jatuh tempo) 5 (lima) tahun sebesar 40% nya, akan menjadi beban berat APBN dalam 5 (lima) tahun kedepan.

Kekhawatiran lain adalah membengkaknya utang pemerintah karena kurs rupiah yang cenderung melemah sehingga diperlukan uang dari pendapatan pajak yang lebih banyak lagi untuk pembayaran utang dalam valas. Kekhawatiran lebih lanjut adalah keterbatasan valas untuk membayar utang dalam mata uang asing mengingat 5 (lima) hal, yakni;

1. Neraca perdagangan yang cenderung defisit dalam 3 (tiga) bulan terakhir ini yaitu dari Desember 2017 sampai dengan February 2018 mengalami defisit total USD1,1Miliar atau rata-rata defisit perbulan USD364juta.

2. Kenaikan Cadangan devisa yang bersumber dari utang luar negeri dan hot money yang sewaktu-waktu mudah ditarik keluar negeri.

3. Tax ratio yang rendah tetapi cenderung menurun yang mengindikasikan kedepan kemampuan pemerintah akan menurun dalam memenuhi kewajiban pembayaran utangnya.

4. Sektor industry yang merupakan penyumbang pajak (tax revenue) sebesar 31% cenderung menciut karena terjadinya de-industrialisasi yaitu dari 28% (1997) menjadi 20% PDB (2017).

5. Kenaikan anggaran 2018 untuk subsidi seperti listrik dan BBM yang akan membebani ekstra APBN karena Presiden Jokowi ingin menjaga dukungan politik rakyat dalam menghadapi pemilu 2019 .

Jadi dari segi kajian dengan memperhatikan berbagai variabel yang berkaitan dengan kemampuan membayar kembali utang plus bunganya, utang pemerintah memang mencemaskan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai target dan perdagangan yang lesu, pihak swastapun mulai merasakan kesulitan membayar utangnya. Kredit berma salah di bank-bank cenderung meningkat dan restrukturisasi utang kabarnya semakin banyak untuk mengurangi status kredit macet.

Karena itu atas berbagai kajian ilmiah dan kritik para ekonom, pemerintah tidak perlu sewot apalagi menudingnya sebagai provokasi.

Ingat bahwa krisis ekonomi dahsyat 1997 bermula dari ketakutan pasar bahwa swasta Indonesia akan kesulitan membayar utang utangnya terlebih utang dalam valas. Ketakutan ini mengawali melemahnya kurs rupiah. Padahal saat itu (1997) kondisi keuangan negara amat bagus dan indikator ekonomi makro pada umumnya bagus termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca perdagangan yang surplus dan cadangan devisa yang memadai. Bahkan saat itu (1997) berkali kali pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat.

Tetapi masalah atau issue yang dihadapi / dilihat kreditur berbeda yaitu apakah debitur akan mampu membayar kembali utangnya? Ini adalah issue mikro yang unik yang tidak selalu berkaitan langsung dengan indikasi ekonomi makro. Dari issue pokok inilah krisis yang bersumber dari utang itu seperti tiba tiba saja terjadi dan Indonesia benar benar kalang kabut.

Karena itu kita,- khususnya pemerintah,- sebaiknya tidak menganggap enteng persoalan utang ini. Jangan pula menganggap bahwa para ekonom pengkritik tidak tahu persoalan alias merasa pintar sendiri. Karena cepat atau lambat pasar akan menyadari bahwa pemerintah akan memasuki masa-masa sulit untuk memenuhi kewajiban pembayaran utangnya, dan itulah awal dimulainya krisis. []


Oleh Dr. Fuad Bawazier
Penulis adalah ekonom senior
Dipublikasikan oleh Swamedium

Memahami Agnostisisme (Logika Agnostik)

View Article

Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas.

Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang-Mutlak”; atau dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi. Dalam kedua hal ini maka agnostikisme mengandung unsur skeptisisme.

Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak). Arti harfiahnya “seseorang yang tidak mengetahui”. (http://id.wikipedia.org/wiki/Agnostisisme)

Demikianlah arti secara harfiah dari kata agnostik menurut Wikipedia.org, yang akan kita telaah dalam artikel ini bagaimana agnostik itu dan bagaimana mereka memahami Tuhan. Membahas ini saya teringat akan seorang teman, atheis dari Yunani, yang mengatakan : “Agnostisisme adalah kebodohan yang sempurna.” Saya setuju dengannya setelah saya pahami apa yang dimaksud dengan agnostisisme itu. Perlu saya akui bahwa saya awalnya agak kesulitan memahami perbedaan yang nyata antara agnostisisme dengan atheisme.

Agnostisisme tidak menyangkal keberadaan Tuhan secara mutlak. Mereka beranggapan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat dinalar oleh akal manusia, dan konsekuensinya adalah keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui dengan cara apapun. Sedangkan atheisme adalah paham yang menyangkal sama sekali keberadaan Tuhan karena tidak dapt dibuktikan secara empiris ataupun logis akan keberadaan-Nya. Dua pemahaman yang sebenarnya sama sekali berbeda. Yang satu tidak berani atau ragu akan keberadaan Tuhan walaupun ia dapat melihat bukti ketuhanan dan yang lain sama sekali menolak bukti keberadaan Tuhan dengan alasan tidak logis. Yang satu adalah ‘kebodohan sempurna’ -meminjam istilah teman saya itu- dan yang lain adalah kesombongan sempurna menurut pendapat saya sendiri.

Mengapa ‘Kebodohan Sempurna’?

Seorang agnostik tidak menyatakan bahwa Tuhan itu ada, walaupun beberapa dari mereka juga meyakini akan keberadaan Tuhan, pada akhirnya. Ia juga tidak akan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena ia menyadari akan bukti-bukti keberadaan Tuhan.

Bagi yang meyakini bahwa Tuhan itu ada, mereka akan menyangkal bahwa Tuhan menurunkan syariat, ketentuan, hukum untuk manusia. Mereka menolak keberadaan agama apapun yang dinisbatkan kepada Tuhan. Dalam kesimpulan mereka, keberadaan Tuhan tidak berarti keberadaan agama. Bahwa Tuhan ada tidak mengharuskan-Nya menurunkan nabi atau rasul untuk menjelaskan agama untuk ummat manusia. Mereka menilai Tuhan menciptakan semesta alam berikut manusia didalamnya, namun bukan Tuhan yang menetapkan fitrah dari tiap-tiap mahluk-Nya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa agnostisisme menyatakan bahwa Tuhan mungkin menciptakan alam semesta beserta manusia didalamnya, dan beberapa yakin bahwa memang Tuhan yang menciptakan, namun tanpa tujuan untuk apa dan alasan mengapa Tuhan menciptakan itu semua. Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, Tuhan ‘iseng’ kemudian menciptakan alam semesta dengan manusia didalamnya.

Mungkin dalam pemikiran mereka, tidak mungkin manusia mengetahui misteri sebesar itu. Artinya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan ketidaksempurnaan yang fatal atau kembali kepada kesimpulan awal, ‘iseng’. Semoga sampai sejauh ini pertanyaan besar sudah terjawab, mengapa ‘kebodohan sempurna’.

Konsekuensi dari Agnostikisme

Pertama; penyangkalan terhadap agama apapun yang berkembang. Atau penerimaan terhadap semua agama sekaligus karena semuanya mungkin benar. Yang manapun seorang agnostik tidak mungkin dapat menerima doktrin agama, sehingga pada akhirnya ia hanya akan kembali kepada posisinya yang tidak beragama.

Kedua; tak ada tujuan hidup, kecuali untuk dirinya sendiri. Atau mengabdikan diri untuk kemanusiaan namun tanpa memiliki parameter yang baku akan benar dan salah kecuali syahwatnya sendiri. Bahkan benar dan salah akan selalu menjadi sesuatu yang relatif, dan tidak ada yang absolut dalam hidup ini. Kebenaran adalah yang semata-mata nampak di depan mata.

Ketiga; tidak memiliki standar nilai atau moralitas, kecuali syahwatnya sendiri atau konsensus yang diterima oleh masyarakat. Karena kebenaran adalah suatu hal yang relatif, maka standar nilai atau moralitas pun akan menjadi relatif. Perselingkuhan akan dapat dibenarkan dengan alasan yang tepat, ini hanya salah satu contoh.

Dari ketiga poin diatas, terlihat jelas kemiripan antara konsekuensi agnostisisme dengan konsekuensi atheisme terhadap seseorang. Hanya saja ada perbedaan ideologis yang menjadi latar belakang keduanya, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya. Lalu bagaimana Islam menjawab keraguan dari seorang agnostik?

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. 2:23)

Sederhana saja. Kalau Al Qur’an bukan bukti nyata keberadaan Tuhan yang dapat diterima dengan akal sehat, silahkan menjawab tantangan ini. Kalau tidak bisa memenangkan tantangan ini, jelas berarti klaim Al Qur’an adalah benar dan ternyata keberadaan Tuhan dapat diterima dengan akal sehat dalam kapasitasnya. Perlihatkanlah klaim dari Al Qur’an yang menunjukkan supremasinya diatas akal manusia, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala :

“Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. 10:37)

Al Qur’an, sebuah bukti nyata yang terang benderang dan menunjukkan kesalahan pola pikir mereka yang didasari oleh asumsi-asumsi manusia tanpa kebenaran sama sekali. Namun jika setelah itu, mereka masih berbantah-bantahan maka selesaikanlah dengan firman Allah Ta’ala :

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang lalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.” (QS. 17:99)

Lalu lakukanlah sebagaimana Allah Subḥānahu wa ta'alā perintahkan dalam firman-Nya :

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. 7:199)

Demikianlah selesai kewajiban kita untuk beramar ma’ruf nahi munkar.

Billahi taufiq wal hidayah, wallahu a’lam bish-showab.


Oleh Stephanus Iqbal
Dipublikasikan oleh At-Tajarrud

Hati- Hati Dengan Tipu Daya Divestasi Freeport!

View Article

Langkah pemerintah membeli 51 persen saham PT. Freeport Indonesia, menuai pujian untuk Jokowi dari media internasional. Media Singapura The Straits Times menulis langkah dari administrasi Jokowi sebagai kesepakatan monumental/landmark deal, untuk menegaskan hak atas sumber daya alam negara.

Media Nikken Asia Review dari Jepang, juga tak ketinggalan memberitakan bahwa keberhasilan pemerintah Indonesia merupakan buah dari tekad Jokowi dalam urusan Freeport.

Sementara Wall Street Journal menyoroti kebangkitan nasionalisme sumber daya (resource nationalism) yang terjadi di Indonesia. Sebagai usaha pemerintah Indonesia untuk mengisi tabungannya dan membangun BUMN yang bersaing secara global (liputan6.com, 14/7/2018).

Pujian dan sanjungan boleh saja berdatangan. Tak heran juga sebab media-media sekular telah menjadi alat neoimperalisme barat untuk menyokong eksistensi kapitalisme. Tak hanya memperbaiki citra diri Jokowi. Tapi juga menciptakan euforia “Dekap Freeport” sebagai usaha mengalihkan publik dari fakta sebenarnya.

Hati-Hati “Perangkap” Divestasi Freeport

Divestasi saham 51 persen Freeport, mungkin membuat publik senang. Tapi kita juga patut waspada. Mengingat selama ini Freeport cukup sulit “dijinakan”.

Walau pemerintah dan Freeport-McMoran Inc. telah menandatangani Perjanjian Pendahuluan (Head of Agreement/HoA) terkait proses peralihan 51 persen saham PT. Freeport Indonesia. Tapi bukan berarti pemerintah dapat bernafas lega. Sebab masih panjang daftar kesepakatan yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak.

Menanggapi kesepakatan tersebut, Ekonom Senior Indef Dradjad Wibowo menegaskan sebetulnya pemerintah belum merebut kembali Freeport Indonesia, mengingat transaksi kedua pihak belum terealisasi.

Dradjad menambahkan klaim bombastis bahwa Freeport sudah direbut kembali terlalu prematur. Mengingat transaksi yang masih jauh dari tuntas, karena Freeport-McMoran dan Rio Tinto menyebut masih ada isu-isu besar yang belum disepakati. Dapat dikatakan masih belum ada kepastian bahwa transaksinya akan tuntas.

Mengutip Bloomberg, Dradjad juga menyampaikan bahwa isu besar yang dimaksud yaitu hak jangka panjang Freeport-McMoran pada Freeport Indonesia hingga 2041 mendatang.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies Marwan Batubara juga angkat bicara. Ia menilai agaknya terlalu dini mengklaim kesuksesan Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) atas divestasi Freeport Indonesia. Bahkan, menurut dia, kesepakatan awal tak membuat posisi RI diuntungkan.

Masih menurut Marwan, dapat dibilang tak ada progres dalam kesepakatan tersebut. Malah kita perlu berhati-hati masuk perangkap. Sebab bicara kesepakatan harusnya menguntungkan kedua belah pihak. Tapi tidak bagi Indonesia, sebaliknya Freeport mendapat jaminan lewat kesepakatan awal ini.

Jaminan yang dimaksud, yakni terkait izin ekspor konsentrat sampai 31 Juli 2018 melalui perpanjangan IUPK Sementara, jaminan perpanjangan kontrak sampai 2041 mendatang, jaminan bayaran US$3,85 miliar atas transaksi divestasi Freeport Indonesia, dan jaminan stabilitas fiskal.

Sementara di pihak Indonesia, tidak ada jaminan smelter (fasilitas pengolahan hasil tambang), tidak ada jaminan pemerintah sebagai pengendali operator tambang Grasberg, dan tidak ada jaminan ganti rugi atas kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas penambangan.

Untuk itu perlu mempertanyakan kembali kesepakatan yang dicapai pemerintah dengan perusahaan tambang yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) tersebut. Ia juga menyebut klaim pemerintah atas kesuksesan divestasi saham Freeport Indonesia sekadar pencitraan politik jelang Pemilihan Presiden 2019 (cnnindonesia.com, 14/7/2018).

Pesimis “Dekap Freeport” dalam Pusaran Neoliberalisme

Kontrak kerja yang kental bernuansa neoliberalisme membuat kita pesimis “Dekap Freeport” ke pangkuan ibu pertiwi. Pasal-pasal karet ampuh dimanfaatkan para kapitalis mengeruk kekayaan alam negeri lewat skenario jahat bernama kontrak kerja berkedok investasi.

Diketahui publik bahwa kontrak kerja Freeport akan berakhir pada 2021 mendatang. Sayang terjadi perbedaan interpretasi kontrak kerja antara pemerintah dan Freeport Indonesia, yang menambah panjang drama akuisisi Freeport Indonesia. Hal ini diakui oleh Head of Corporate Communication and Government Relation Inalum Rendy Witoelar sebagai wakil pemerintah dalam kesepakatan awal tersebut.

Menurutnya, Freeport Indonesia mempunyai interpretasi kontrak kerja yang berbeda dengan pemerintah. Freeport Indonesia memang mengakui bahwa kontrak kerja akan berakhir pada 2021. Namun mereka beranggapan, mereka berhak mengajukan perpanjangan dua kali 10 tahun dan pemerintah tidak akan menahan atau menunda persetujuan tersebut secara tidak wajar. Sebagaimana tercantum dalam kontrak kerja pasal 31 ayat 2 antara pemerintah dan PT. Freeport Indonesia.

Rendy juga menjelaskan, berakhir atau tidaknya pada 2011 akan tetap menjadi perdebatan karena Freeport menafsirkan harus adanya perpanjangan kontrak kerja hingga 2041. Sedangkan jika diteruskan, perdebatan ini akan berpotensi berakhir di arbitrase. Dan tidak ada jaminan 100 persen Indonesia akan menang.

Jadi mau diambil alih sekarang atau menunggu kontrak habis, pemerintah tetap harus membayar ke Freeport jika ingin menguasai tambang emas terbesar di dunia tersebut. Hal ini berdasarkan kontrak kerja Pasal 22 ayat 1 (liputan6.com, 15/7/2018).

Tampak jelas, Indonesia semakin sulit melepas diri dari perangkap kontrak kerja kaum neolib.

Belum lagi segunung hutang yang siap menunggu dilunasi. Sebab seperti diberitakan pemerintah menyebut ada 11 bank yang siap mendanai divestasi Freeport. Dalam perjanjian tersebut, Inalum akan mengeluarkan dana sebesar US$ 3,85 miliar. Sementara, saat ini Inalum memiliki uang sebesar USD 1,5 miliar.

Miris, ibarat pemilik tanah yang harus berhutang ke banyak pihak untuk membeli tanah yang ia kontrakan ke pihak lain. Padahal sejatinya tanah tersebut adalah miliknya. Hanya karena perjanjian kontrak jahat, sang pemilik sebenarnya justru dipaksa masuk perangkap. Itulah kira-kira gambaran sederhana, drama panjang kontrak kerja antara pemerintah Indonesia dan Freeport.

Hanya Islam yang Bisa Mendekap

Drama panjang Freeport tak terlepas dari sistem kapitalisme neoliberalisme yang menaunginya. Sistem kapitalisme meniscayakan berbagai cara untuk individu/perusahaan menguasai/mengelola SDA suatu negeri. Salah satunya dengan investasi yang berbuah kerjasama ataupun kontrak kerja. Maka dibutuh solusi sistemik untuk mengurai akar masalah Freeport.

Islam sebagai akidah dimana di atasnya memancar seperangkat aturan paripurna (syariat) yang berasal dari Al-Khaliq Al-Mudabbir, jelas memiliki solusi khas untuk menyelesaikan masalah Freeport.

Dalam pandangan Islam, kepemilikan barang dan jasa terbagi menjadi tiga jenis kepemilikan yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara (An-Nabhani, Sistem Ekonomi Islam, 1996).

Dari ketiga jenis kepemilikan di atas, barang tambang termasuk kepemilikan umum. Adapun kepemilikan umum adalah hak yang diberikan oleh syara’ kepada komunitas/umat untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bersama-sama.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam: “Orang-orang (masyarakat) bersekutu dalam hal; air, padang gembalaan dan api” (H.R. Abû ‘Ubaid).

Dalam riwayat yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam juga bersabda:“Kaum muslim bersekutu dalam tiga hal; air, padang dan api” (H.R. Ahmad).

Hadits ini juga menegaskan bahwa yang termasuk harta milik umum yang menguasai hajat hidup masyarakat adalah semua kekayaan alam yang sifat pembentukannya menghalangi individu untuk mengeksploitasinya.

Negara dengan tegas melarang baik individu maupun perusahaan asing untuk menguasai tambang ataupun migas yang sejatinya milik umat. Apatah lagi dengan perjanjian kontrak kerja yang merugikan negara dan rakyat.

Dengan demikian, tambang emas Freeport sejatinya kepemilikan umum yang harus dikelola negara. Dimana negara wajib bertanggung jawab sebaik-baiknya mengelola. Sebab hasil keuntungannya diperuntukkan semata-mata untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Di sinilah urgensi menerapkan Islam secara kaffah. Pengelolaan SDA terutama tambang mineral dan migas, difungsikan sebagai sarana pemimpin (khalifah) untuk mengurusi semua kebutuhan hidup semua manusia dalam wilayah kekuasaannya. Sebagai kesadaran akan kewajiban seorang pemimpin.

Di samping itu, tata kelola yang benar dalam rangka taat dan tunduk pada perintah-Nya, adalah ibadah yang akan mendatangkan kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam.

Maka terang hanya Islam yang bisa mendekap Freeport kembali ke pangkuan umat. Bukan dengan kapitalisme yang berujung pada drama tipu daya yang berujung derita. Wallahu’alam bishshawwab.

Ummu Naflah
Member Akademi Menulis Kreatif
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Utang Superbesar Bikin Indonesia Bubar?

View Article

Pidato salah satu politikus yang antara lain meramalkan Indonesia bakal bubar pada 2030 menjadi viral dan menuai komentar pro-kontra. Kalangan Istana dan para pendukungnya tentu saja menampik ramalan tersebut. Bahkan tidak sedikit dari kelompok ini yang cenderung nyinyir dalam menanggapi.

Sebaliknya, mereka yang merasa khawatir atas perkembangan negeri tak urung ikut merasa ngeri. Jangan salah, mereka tidak melulu kelompok pro dan pendukung Prabowo. Saya adalah salah satu di antaranya.

Saya belum membaca novel Ghost Fleet karya PW Singer dan August Cole yang jadi referensi ramalan Prabowo.  Tapi saya tahu, bahwa ramalan Prabowo bisa jadi kenyataan. Faktanya, memang sudah ada beberapa negara yang bubar, kok. Jumlahnya tidak kurang dari 10 negara yang bubar. Yang terbaru, Soviet dan negara-negara Balkan lainnya. Kalau kita tarik mundur lagi, banyak kerajaan, kesultanan, kesunanan, dan kekhalifahan yang bubar.

Jadi, kalau Indonesia pun akhirnya  jadi bubar (semoga tidak), tentu bukan mustahil. Secara geografis, Indonesia tetap masih di titik koordinatnya. Secara pemerintahan, Presiden dan para pejabatnya masih para WNI. Tapi, semua itu hanya lambang. Kekuasaan sejati ada di tangan asing, yang memberi utang dalam jumlah superjumbo dan berbagai iming-iming kemudahan lainnya.

Srilanka, Tibet, Zimbabwe, dan Angola adalah beberapa contoh negara yang kini tidak lagi berdaulat. Penyebabnya sama, mereka terjerat utang amat besar kepada China. Umumnya utang itu digunakan untuk membangun proyek infrastruktur. Namun karena tidak mampu membayar, mereka akhirnya menyerahkan kepada China.  Silakan klik http://www.portal-islam.id/2017/11/tengoklah-nasib-angola-zimbabwe-kini.html.

Utang menjulang

Utang luar negeri yang menjulang, adalah pintu masuk tergadainya kemerdekaan sebuah bangsa. Pemerintah, terutama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) selalu menepis anggapan Indonesia darurat utang. Penjelasan yang senantiasa diulang-ulang, rasio utang Indonesia terhdap PDB masih di bawah 30 persen. Angka ini, jauh dari rasio yang diizinkan UU 17/2003 tentang Keuangan Negara, yaitu 60 persen.

Sebetulnya capek mendengar bantahan Ani yang isinya mengulang-ulang belaka. Soal rasio utang dan PDB, misalnya. Sudah banyak tulisan yang menyebut menjadikan PDB sebagai nisbah dengan utang jelas salah, keliru, sesat dan menyesatkan. Sri juga sering membandingkan utang Indonesia dengan jumlah utang negara-negara maju lain yang jauh lebih besar. Tidak tanggung-tanggung, dia menyebut Jepang, Amerika, dan sejumlah negara lain sebagai pembanding.

Di sinilah kesalahan mendasar Menkeu idaman ‘pasar’ itu. Dia pikir orang Indonesia bodoh semua apa? Dia pikir, hanya dia saja yang ngerti ekonomi makro? Saya sebenarnya malas mengomentari bantahan yang bak nyanyian usang ini. Namun, membiarkan kesesatan yang menyesatkan melenggang, jelas sebuah kesalahan fatal.

Dalam membuat perbandingan, Sri selalu hanya menyodorkan nominal utang Jepang dan rasionya dengan PDB. Nominal utang Jepang memang jauh lebih tinggi daripada Indonesia. Anak kuliah semester awal juga paham. Begitu juga dengan rasio utang Jepang terhadap PDB yang lebih dari 250 persen. Tertinggi di dunia. Hal serupa pun terjadi pada Amerika, yang per Januari 2018 juga utangnya mencapai US$19.947 miliar. Angka ini jauh melampuai PDB mereka

Sepertinya Sri sengaja menyembunyikan fakta bahwa mayoritas surat utang Jepang dimiliki dalam negeri. Bank of Japan memegang hampir 50 persen. Selain itu, jangan lupa, bunga utang Jepang sangat murah, hanya berkisar 1 persen. Bandingkan dengan bunga obligasi yang diobral Sri hingga belasan persen, njomplang sekali bukan?

Belum lagi kalau dikaitkan dengan net international investment positions (NIIP). Jepang menyandang status sebagai negara dengan NIIP positif. Artinya, Jepang memiliki net external Assets, bukan net external liabilities. Dengan kata lain, Jepang adalah adalah negara kreditor. Bukan itu saja, Jepang tercatat punya NIIP tertinggi di dunia. Angkanya mencapai US$2.813 triliun. Bandingkan dengan Indonesia, yang minus US$413,106,000,000. Artinya, Indonesia termasuk negara debitur.

Jepang dan AS memang punya utang jauh di atas PDB masing-masing. Namun utang keduanya masuk kategori aman. Pasalnya, rasio pajak mereka terhadap PDB masing-masing Jepang sekitar 36 persen dan AS 26 persen. Sedangkan Indonesia, angkanya dari dulu sulit bergeser dari 11-12 persen. Ini jadi yang terendah di antara negara anggota G20, bahkan di dunia. Sebaliknya, pajak penghasilan di Indonesia tergolong tinggi di dunia dan cukup memberatkan perusahaan mau pun orang pribadi.

Banyak ekonom mengkritik perbandingan utang dan PDB karena dianggap bukan perbandingan yang logis. Rasio utang terhadap PDB tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya dari kemampuan negara dalam membayar utang-utangnya. Padahal ukuran sehat tidaknya utang terletak pada kemampuan pemerintah melunasi kewajibannya.

Ada parameter yang lebih adil untuk digunakan mengukur utang, yaitu nisbah utang dan kemampuan ekspor alias debt to service ratio (DSR). OECD mendefinisikan DSR adalah perbandingan (persentase) dari total pembayaran cicilan pokok utang dan bunga utang yang dibayar suatu negara pada akhir tahun dibandingkan dengan total ekspor barang dan jasa negara.

Sejak 2011 utang luar negeri Indonesia terus naik. Bank Indonesia (BI) menatat, sampai Januari 2018, jumlahnya US$357,5 miliar. Dengan kurs BI hari ini (Senin, 26/03/18) yang Rp13.776/US$, angkanya setara Rp4.925 triliun, hampir Rp5.000 triliun! Sebaliknya, ekspor justru terus melorot. Sampai akhir 2017, hanya US$145 miliar. Maka tak heran kalau rasio utang luar negeri terhadap ekspor terus menanjak mencapai 176,19 persen. Padahal rasio yang normal ada 125 persen. Sementara itu, Thailand mencapai US$231 miliar, Malaysia US$ miliar, dan Vietnam US$160 miliar.

Tidak peduli

Tapi Sri dan para penganut neolib mana peduli? Mereka juga tidak peduli negara tersedot gila-gilaan untuk membayar utang. Pada  2017 saja, APBN kita mengalokasikan anggaran Rp486 triliun hanya untuk membayar utang. Ini adalah porsi terbesar anggaran kita dalam APBN, jauh mengalahkan anggaran pendidikan yang Rp416 triliun dan infrastruktur yang 'cuma' Rp387 triliun.

Jumlah kewajiban kita terhadap utang tahun 2018 makin mengerikan saja. Di APBN 2018 ada duit sebanyak Rp399,2 triliun untuk membayar pokok dan cicilan utang. Jumlah itu di luar Rp247,6 triliun yang hanya untuk membayar bunga utang. Total jenderal, untuk urusan utang ini Indonesia harus merogoh kocek dalam-dalam hingga Rp646,8 triliun!

Saya tidak yakin, Sri yang, konon, doktor ekonomi top tidak paham soal ini. Bagaimana mungkin seorang yang berkali-kali memperoleh penghargaan bergengsi kelas dunia tidak tahu, bahwa menisbahkan utang dengan PDB adalah permainan negara-negara kreditor untuk menjerat negara debitor dengan utang?

Mohon maaf, hanya ada dua alasan dari sikap ndableg-nya dalam soal ini. Pertama, dia memang tidak paham (lho, katanya ekonom top?). Kedua, dia menjadi bagian dari para pembuka palang pintu benteng bangsa bagi masuknya kekuasaan asing!

Dengan kondisi seperti ini, tidakkah ramalan Indonesia bakal bubar pada 2030 bisa menjadi kenyataan. Bubar atau tidak, yang pasti saat ini kedaulatan negara memang terasa jadi barang mewah.  Tengok saja, bagaimana kontrak-kontrak utang yang dibuat untuk pembangunan infrastruktur kita. Sistem turn key project mengharuskan kita mengimpor bahan baku, bahan penolong, teknologi, perlengkapan, peralatan sampai tenaga kerja dari asing si pemberi utang.

Begitu lunglainya Indonesia, hingga tidak berdaya menerima banjir tenaga kerja asing dengan semua kategori, termasuk kelas kuli. Ironisnya, kuli-kuli asing itu dibayar sangat tinggi. Untuk seorang tukang asing dibayar Rp15 juta/bulan. Sedangkan tenaga tukang yang sama dari dalam negeri harus puas dengan bayaran sesuai upah minimum regional yang sekitar Rp3 jutaan.

Soekarno puluhan tahun silam mengatakan, Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. Para penjajah memang tidak mungkin masuk kecuali atas bantuan para pengkhianat.

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi dalam cuitannya di @AdhieMassardi menulis, Kenapa Belanda bisa kuasa lama di negeri ini? Karena piara anjing-anjing lokal yang diberi makan tulang saudaranya sendiri.

Jika ini terjadi, bubarlah Indonesia tercinta! Na’udzu billahi mindzalik! []

Oleh Edy Mulyadi
Penulis adalah Direktur Program Centre for Ecbomic and democracy Studies (CEDeS)
Dipublikasikan oleh Rmol

Selasa, 17 Juli 2018

Analisa Frasa dan Makna Rapuhnya Konsep Islam Nusantara

View Article

Belakangan ini marak tentang isu Islam Nusantara. Jujur Saya sendiri aneh dengan pemikiran menambahkan embel-embel “Nusantara” ini di belakang kata “Islam”. Islam Nusantara katanya lebih menunjukkan wajah Indonesia yang cinta damai, penuh toleransi dalam keberagaman, tidak seperti Islam Arab. Islam Nusantara lebih mengedepankan budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia yang berjalan seiring dengan penerapan Islam.

“Di Amerika dan Eropa, ayam goreng itu dijual begitu saja, tanpa nasi. Beda dengan di Indonesia, nasi disertakan sebagai pendamping,” terang Prof Akh Muzakki menganalogikan bahwa konsep Islam Nusantara itu sebagai penerapan Islam yang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Saya jujur merasa aneh dan tidak paham dengan pola pemikiran seperti ini. Pertama Saya akan ulas dari segi tata bahasa Islam Nusantara. Jika kita membuat sebuah term maka hal tersebut akan memiliki sebuah makna. Artinya frasa Islam Nusantara merupakan sebuah konsep baru yang sama sekali berbeda dengan Islam. Misal kata “Sekolah”. Sekolah merupakan satu makna, satu konsep, dan satu arti. “Sekolah adalah tempat didikan bagi anak anak. tujuan dari sekolah adalah mengajar tentang mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa,” begini pendapat Wikipedia tentang kata “Sekolah”. Nah coba kita tambahkan kata lain di belakang kata “Sekolah” dan tidak menjadi dua makna, alias satu frasa, satu makna, misalnya “Sekolah Islam”, “Sekolah pagi”, “Sekolah Menengah Pertama”, “Sekolah Tinggi” dan banyak lagi, silahkan Anda tambahkan sendiri. Maknanya sudah berbeda antara kata “Sekolah” saja dengan kata “Sekolah” yang diberikan penambahan kata setelahnya.

Konsep Islam Nusantara (Frasa)

Dari segi istilah jelas ini merubah makna, bisa mempersempit, bisa memperluas, yang jelas makna dan artinya berbeda. Sekolah dan Sekolah Menengah Pertama merupakan sesuatu yang berbeda. “Sekolah menengah pertama (disingkat SMP, Bahasa Inggris: junior high school atau middle school) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah menengah pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9,” begitulah menurut sumber Wikipedia. Berbeda bukan?

Analoginya kurang lebih sama dengan istilah Islam Nusantara. Islam Nusantara bukanlah dua kata yang mengandung makna masing-masing satu, tapi ia adalah dua kata yang membentuk sebuah frasa, artinya makna dari dua kata itu adalah satu. Islam Nusantara merupakan sebuah konsep baru, jika tidak terlalu kasar kita katakan ajaran baru atau agama baru. Islam Nusantara jelas membuat perbedaan sendiri dari Islam yang selama ini kita kenal. Islam Nusantara merupakan sebuah makna baru yang dicetuskan. Kesimpulan Saya Islam Nusantara bukanlah Islam.

Konsep Islam Nusantara (Esensi)

Selanjutnya mari kita lihat dari esensinya apakah konsep Islam Nusantara ini benar atau tidak. Menurut Saya Islam Nusantara merupakan konsep yang melenceng dan termasuk salah satu pelecehan terhadap agama Islam. Apakah ketika dulu mereka yang mendakwahkan Islam menyebut Islam Arab? Apakah dulu Rasulullah SAW menyebut Islam Arab sehingga kita dengan bangganya menyebut istilah Islam Nusantara? Jangan saudara. Pertanyaan Saya sebenarnya cukup simpel dan sederhana bagi yang setuju dengan konsep Islam Nusantara ini.

Pertanyaan Saya adalah, apa dasarnya konsep Islam Nusantara? Al-Qur’an? Hadist? Tunjukkan pada Saya ayat yang mengatakan ada ajaran Islam Nusantara ini. Jika saudaraku yang tercinta tidak bisa menunjukkan dasar pijakan Islam Nusantara ini maka sungguh konsep ini sangatlah rapuh, lemah. Bagi Saya konsep Islam Nusantara sebenarnya merupakan pelemahan dan wujud ketidakpercayaan diri dari umat Islam yang takut akan Islam itu sendiri. Silahkan baca Piagam Madinah yang dibuat Rasulullah SAW, bukankah itu lambang demokrasi (yang kau angungkan), dan merupakan perwujudan toleransi, keadilan, dan kesetaraan yang baru kau bincangkan abad milenium ini?

Bukankah Islam Nusantara sama saja dengan Islam Liberal yang digagas oleh Jaringan Islam Liberal (Pak De Ulil Abshar Abdalla) dkk? Atau bukankah Islam Nusantara sama saja dengan Islam Konservatif, Islam Moderat, Islam Garis Keras. Apa bedanya? Dari sisi konsep tidak ada berbeda, bahwa Islam Nusantara merupakan sebuah konsep tanpa dasar yang digaungkan untuk menambah pengelompokan dan membuat sebuah faksi-faksi dalam Islam.

Islam itu hanya satu, yaitu Islam, arti katanya salam yang bermakna selamat. Jadi nanti orang Islam Nusantara saja yang selamat? Atau mereka yang kalian gelar dengan sebutan Islam Garis Keras saja yang selamat? Tidak saudara. Yang selamat adalah mereka yang selalu mengikuti tuntunan dari jalan keselamatan. Apa itu jalan keselamatan? Yaitu Al-Qur’an, Hadist. Dari dua sumber yang sudah terbukti otentisitasnya, sudah terbukti keaslian skripnya, sudah terbukti kebenaran fakta ilmiahnya ini hanya ada satu agama Islam, bahkan Allah pun tidak mengatakan Islam itu sebagai Islam Arab. Jika Tuhan atau Rasulullah SAW egois bisa saja ia mengatakan pada zamannya itu yang ada Islam Arab, sehingga ketika penyebaran nanti akan banyak Islam, ada Islam Turki, Islam India, Islam Afrika Selatan, termasuk Islam Nusantara ini, tapi buktinya? Tidak!

Islam hanya diturunkan satu yaitu Islam saja tanpa embel-embel apa pun. Islam punya dasar hukum dan landasan yang kuat yaitu firman Allah Al-Qur’an dan Hadist. Islam merupakan agama yang telah disempurnakan. Bahkan Yesus AS sendiri tidak pernah mengatakan bahwa ajaran yang dibawanya adalah Kristen. Yesus Kristus AS merupakan salah satu nabi dan rasul besar Allah yang turut bersunat, tidak makan babi, melaran minuman memabukkan dan tentu saja bersujud seperti yang umat Muslim lakukan saat ini. Di bawah inilah yang mendasari hanya ada satu yaitu Islam, tanpa embel-embel.

Baca juga: Islam Nusantara Tak Lain Adalah Proyek Kaum Liberal
Baca juga: Ini 5 Kejanggalan Dari Gagasan 'Islam Nusantara'
Baca juga: Jualan Baru, Waspadai Istilah Islam Moderat

Dasar Patahnya konsep Islam Nusantara

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa’ : 59)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(Ali Imran:19)

“dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran:85)

dan terakhir, tentu saja toleransi paling nyata dalam berkeyakinan yang termaktub secara jelas bagai hitam dan putih dalam kitab suci, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (Al Baqarah: 256)

Bagi yang setuju konsep Islam Nusantara, Saya terbuka untuk berdiskusi dan berdebat, tapi sebelumnya tunjukkan dulu dasar konsep Islam Nusantara itu. Jika sudah ketemu, baru kita lanjut ke tahap berikutnya.

Kesimpulan terakhir Saya yang bisa dijadikan bahan renungan adalah, tanpa adanya konsep Islam Nusantara ini sejak awal masuknya Islam ke negeri subur ini lewat jalur perdagangan dan asimilasi, Islam berkembang sangat cepat dan begitu pesat. Pertumbuhan pengikut Islam sangat tinggi dan mengesankan hingga Indonesia menjadi negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia.

Pertanyaannya, apakah para pendakwah yang menjadikan negara ini sebagai negara muslim terbesar membawa menawarkan konsep Islam Nusantara? Islam Liberal? Islam Garis Keras? Islam Moderat? Islam Fanatik? Tidak teman, mereka hanya membawa satu ajaran yang disebarluaskan, yaitu Islam (tanpa embel-embel).

Justru hadirnya embel-embel ini yang membuat umat Islam terpecah belah, saling memerangi, saling membenci, saling mencaci dan tidak bersatu padu. Kondisi ini yang diibaratkan nabi sebagai buih dilautan, banyak tapi gampang pecah, atau seperti debu dipadang pasir, hanya bisa tertiup angin dan terbakar panas (Kuldesak).

Persatuan Islam akan melahirkan peradaban yang akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan. []

Baca juga: Berbincang Tentang Islam Nusantara
Baca juga: Ini Penjelasan & Keterkaitan Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme
Baca juga: Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Baca juga: Bahayanya Islam Moderat Melalui Pemberdayaan Perempuan


Video ceramah oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil, MA.
Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)
Pirektur-pendiri INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization)
Wakil rektor Universitas Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur.
Putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, salah seorang pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Pranala luar:
1. https://suaranasional.com/2018/07/06/pimpinan-ponpes-gontor-bongkar-kesalahan-islam-nusantara
2. https://www.kompasiana.com/anandapujawandra/55bef9db3297738d10cca191/konsep-islam-nusantara-kesesatan-yang-menyesatkan-analisa-frasa-makna

Berbincang Tentang Islam Nusantara

View Article

Baru-baru ini muncul polemik di media sosial tentang tilawah Al-Quran dengan langgam Jawa. Peristiwa yang terjadi pada peringatan Isra Miraj di Istana Negara ini menuai pro dan kontra. Namun, sang penggagasnya yaitu Menteri Agama, Gus Lukman Hakim Saefuddin mengatakan “Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air,” kata Gus Lukman melalui akun Twitter resminya, Ahad, 17 Mei 2015.

Harus kita akui kalangan NU terdepan dalam urusan menjaga tradisi Islam Nusantara. Islam Nusantara sudah menjadi trademark tersendiri bagi mereka. Oleh karena itu, artikel ini mencoba berbicara tentang Islam Nusantara. Bagaimana definisinya, siapa pengusungnya dan apa tujuan akhirnya.

“Islam Nusantara itu apa? Kalau masih nggak jelas konsepnya kok dikoarkan ke publik? Publik butuh jawaban, bukan diskusi, terkait dengan aksi ISIS.

Islam Nusantara yang belum jelas ini justru bisa membuat orang-orang yang bingung berpaling ke radikalisme, karena bisa jadi radikalisme lebih jelas konsepnya.” – Begitulah kata Mas Binhad Nurohmat dalam akun facebook-nya.

Saya baru berteman dengan Mas Binhad. Beliau ini pernah kuliah di STF Driyarkara. Sebagai Muslim yang dibesarkan dalam kultur NU, anggaplah demikian. Tetapi beliau ini kritis terhadap wacana-wacana keislaman. Tidak taklid buta seperti yang lain.

Istilah Islam nusantara ini sudah ada di masa lampau. Istilah ini sudah diadopsi menjadi nama kampus swasta di Jawa Barat, yaitu Universitas Islam Nusantara (UNINUS). Namun, sejak KH. Said Aqil terpilih menjadi Ketum PBNU, Istilah ini gencar dipromosikan ke tengah umat.

“Islam Nusantara adalah gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Ini bukan barang baru di Indonesia,” kata Ketum PBNU Prof KH Said Aqil Siraj. Sebagaimana diberitakan Republika, beliau mengatakan, konsep Islam Nusantara menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia (Republika Online, 10 Maret 2015).

Seringkali konsep Islam nusantara dinisbatkan kepada Walisongo. Konon menurut catatan sejarah yang diyakini kalangan NU termasuk dalam hal ini ayah saya, para wali tersebut melakukan Islamisasi dengan pendekatan budaya. Tradisi Slametan, Kupatan dan sejenisnya merupakan kreasi para wali, khususnya Sunan berdarah Jawa seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang.

Terkait hal itu, saya berpandangan tradisi ini sifatnya temporal, bukan sakral. Akan tetapi hingga kini pendekatan untuk mengislamkan orang Hindu kala itu untuk era sekarang tetap jadi hal yang sakral. Seakan-akan wajib! Bahasa kasarnya, menjadi Rukun Islam ke 6.

Ambil contoh, bila ada sebuah keluarga di kampung atau pedesaan tidak melestarikan tradisi Slametan, kupatan dan sejenisnya, akan mendapat 2 resiko. Pertama, jadi bahan pergunjingan tetangga bahkan bisa pula dikucilkan. Kedua, dicap sebagai penganut paham Wahabi.

Satu lagi, Nusantara ini luas. Bukan hanya bicara Jawa saja, masih ada Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali hingga Irian Jaya. Baik saya maupun pembaca akan paham bahwa konsep Islam Nusantara yang diusung kalangan NU sifatnya jawasentris.

Di Jawa itu Islam menyesuaikan dengan budaya lokal. Apakah jika elit-elit NU mempromosikan Islam Nusantara ke pulau Sumatera akan laku? Sedangkan di satu sisi, secara garis besar Sumatera itu adat dan budaya menyesuaikan dengan Islam (Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah). Belum lagi di Sumatera sudah menjadi basisnya Muslim Modernis seperti Muhammadiyah. Bahkan, di daerah tertentu kepala daerahnya dari Partai Dakwah yang dianggap beberapa kiai NU sebagai partainya kaum wahabi.

Sebetulnya siapa yang mensponsori konsep “Islam Nusantara”? Apakah murni dari NU ataukah ditungggangi pihak Asing. Sebut saja Ford foundation, The Asia Foundation, USAID dan sejenisnya. Sudah lama diketahui, wacana-wacana nyeleneh dan prematur dibiayai oleh Asing. Mulai dari proyek pluralisme agama, multikulturalisme, gender, hingga deradikalisasi teroris. Saya ingin kalangan yang mengusung konsep ini transparan kepada umat.

Selanjutnya saya penasaran juga, sebenarnya apa tujuan akhir dari konsep “Islam nusantara”. Ingin memperkuat eksistensi agama Allah kah? Ataukah memperkuat ladang kehidupan para elit NU dari serbuan purifikasi kalangan Muhammadiyah, Persis, Hidayatullah dan kawan-kawan. Bukankah tradisi-tradisi Slametan, Tingkepan, Maulid dan sejenisnya juga menyangkut hajat hidup elit-elit NU. Apa jadinya bila tradisi seperti itu musnah?

Agama Sinkretis

Bila ditarik sebuah kesimpulan, Pertama, konsep Islam Nusantara hanya menghasilkan praktek beragama yang sinkretik. Konsep Islam nusantara mengingatkan saya akan teori Clifford Geertz: “Abangan, Santri, dan Priyayi”. Teori ini benar-benar menggambarkan realita masyarakat Jawa yang telah mengalami sinkretisasi dengan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal setempat.

Kedua, Konsep Islam Nusantara membuat Islam mengalami “jawanisasi”. Harusnya berdakwah itu Islamisasi Jawa dengan menghilangkan hal-hal yang mengandung bid’ah, khurafat dan Tahayul. Hal serupa terjadi di Eropa. Disana ada kebijakan Eropanisasi Islam. Alasannya agar Islam tak dipandang sebagai ancaman. Contoh praktek Eropanisasi Islam yakni meninggalkan cadar (Republika Nnline, 7 juni 2011). Wallahu’allam bishowwab. []

Baca juga: Islam Nusantara Tak Lain Adalah Proyek Kaum Liberal
Baca juga: Ini 5 Kejanggalan Dari Gagasan 'Islam Nusantara'
Baca juga: Jualan Baru, Waspadai Istilah Islam Moderat


Ditulis Oleh Fadh Ahmad Arifan
Pendidik di MA Muhammadiyah 2, kota Malang
Dipublikasikan oleh Kiblat.net

Senin, 16 Juli 2018

Tentang Rapuhnya Ide "Islam Nusantara"

View Article

Sate Buntel, Sate Klathak, Nasi Liwet, Nasi Gudeg, Nasi Gandul, Pindang Tulang, Nasi Padang, semua Kuliner Nusantara, sebab ia khas Nusantara. Kita juga tak menafikkan, Islam pun punya ekspresi Nusantara, yang tak ditemukan di tempat lain seperti songkok, halal bi halal, lebaran anak yatim, atau ekspresi lainnya

Tapi ide "Islam Nusantara" bukan ekspresi Islam di Nusantara, ide ini ditujukan justru untuk menajamkan perbedaan. Seolah punya definisi sendiri yang berbeda dengan yang lain. Lebih parah lagi, Islam Nusantara ini dijadikan alat untuk menjelek-jelekkan yang mereka tuduh sebagai Islam Arab yang dianggap tak ramah, penuh peperangan, dan intoleransi

Baca juga: Islam Nusantara Tak Lain Adalah Proyek Kaum Liberal
Baca juga: Ini 5 Kejanggalan Dari Gagasan 'Islam Nusantara'
Baca juga: Jualan Baru, Waspadai Istilah Islam Moderat

Sejatinya ide "Islam Nusantara" ini adalah bagian dari narasi deradikalisasi yang diusung rezim, yang sebenarnya adalah de-Islamisasi. Dan ini tentu bukan maksud yang baik. Jadi siapapun yang dianggap anti pada penguasa saat ini, disebut "Islam Radikal", sementara yang pro penguasa dan pro penista agama, dilabeli "Islam Nusantara", begitu

Kalau kita lebih jeli, perhatikan dulu yang mengusung "Islam Liberal", setelah tak laku dengan ide itu, maka sekarang semuanya jadi pengasong ide Islam Nusantara. Jadi bisa kita katakan, tak ada bedanya ide Islam Liberal dengan Islam Nusantara, hanya berganti nama saja, pemainnya sama, sutradaranya sama, efeknya juga sama

Pro penista agama, penghina ulama, semua berlindung di balik ide "Islam Nusantara", yakni yang ramah pada penjajah, tapi sangat kasar pada sesama penganut Muslim. Intinya, mereka ingin mengatur Islam sekehendak nafsu mereka, mereka ingin agar Islam itu mengikut pada syahwat mereka. Untuk melegitimasinya, itulah ide Islam Nusantara

Siapa pendukungnya? Ya yang itu-itu saja. Yang kemarin liberal, yang kemarin anti Aksi Bela Islam, yang pro-kaum-nabi-luth, yang pro penista agama, yang 2019 ingin berkuasa lagi

Andai itu hanya ekspresi Islam di Nusantara, saya sepakat. Tapi bila dijadikan ide "Islam Nusantara" ini justru untuk merasa lebih hebat dari Islam yang Rasul bawa, saya menolak tegas. []

Baca juga: Ini Penjelasan & Keterkaitan Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme
Baca juga: Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Baca juga: Bahayanya Islam Moderat Melalui Pemberdayaan Perempuan


Islamophobia di Balik Stigma Radikal

View Article

Belangan ini kata radikal seolah sengaja dibuat viral. Episodenya berlanjut dibuat panas, digoreng terus sampai beritanya nyaris gosong.

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) melakukan telah melakukan survei terhadap 100 masjid pemerintahan di Jakarta. 100 masjid tersebut terdiri atas 35 masjid di Kementerian, 28 masjid di Lembaga Negara dan 37 masjid di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Agus Muhammad mengatakan, survei itu dilakukan setiap shalat Jumat dari 29 September hingga 21 Oktober 2017. Kemudian, tim survei menganalisis materi khutbah Jumat yang disampaikan. Hasilnya, ada 41 masjid yang terindikasi radikal.

“Dari 41 masjid itu kita menemukan khutbahnya sebagian besar isinya ujaran kebencian yang mencapai 60 persen. Kemudian, sikap negatif terhadap agama lain itu mencapai 17 persen. Berikutnya sikap positif terhadap khilafah 15 persen,” jelasnya. (republika.co.id/29/7/2018)

Mengenal Makna Radikal

Tak kenal maka tak sayang, semestinya kita harus membuka kamus untuk mendapati arti dari istilah radikal itu sendiri. Yang demikian agar tidak mudah tergiring arus opini yang memiliki tujuan tersendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikal dimaknai (1) secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip), misalnya dalam frasa ‘perubahan yang radikal’; (2) amat keras menuntut perubahan (undang-undang pemerintahan); (3) maju dalam berpikir atau bertindak.

Setelah mendapati arti kata radikal, barulah bisa didapati pula konotasi atau kecenderungan citranya. Bisa menjadi positif juga negatif bergantung sudut pandang yang digunakan juga keberpihakan dari media yang mengopinikan.

Sebut saja pandangan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno dalam buku bertajuk “Mentjapai Indonesia Merdeka” (Maret 1933), beliau menulis bahwa untuk menuju Indonesia merdeka harus dipimpin oleh sebuah partai pelopor. Adapun unsur-unsur penopangnya, “Di antara obor-obornja pelbagai partai jang masing-masing mengaku mau menjuluhi perdjalanan rakjat, massa lantas melihat hanja satu obor jang terbesar njalanja dan terterang sinarnja, satu obor jang terkemuka jlananja, ja’ni obornja kita punja partai, obornja kita punya radikalisme!” tulisnya.

Jenis makna atau arti radikal di sana positif. Perubahan yang sifatnya mendasar menuju ke arah kebangkitan.

Namun belakangan ini, makna radikal dikonotasikan negatif. Yang lebih mirisnya kata radikal dilekatkan pada Islam dan gerakan Islam yang berupaya untuk menyelamatkan Indonesia dari penjajahan gaya baru (neoimperialisme) dengan Syariat Islam yang bersumber dari Kitabullah dan Sunah Rasulullah. Perjuangan menegakkan khilafah sebagai ajaran Islam dilabeli radikal. Miris!

Sebenarnya pemberian label negatif bukan hal baru. The New York Times, edisi 20 November 1945 menampilkan headline ‘Moslem Fanatics Fight in Surabaya’.

Para pejuang yang mengusir penjajah yang dipimpin Bung Tomo itu dicap sebagai ‘Moslem Fanatics’. Padahal, perjuangan mulia yang mereka lakukan didasari jihad fisabililah, yaitu berjuang di jalan Allah subhanahu wata’ala.

Sejatinya konotasi negatif terhadap radikal, berlebih lagi pelekatannya kepada Islam dan gerakan Islam yang menyuarakan Islam secara kaffah adalah bentuk penyebaran Islamopobia. Paham yang menggiring masyarakat, bahkan Muslim sendiri untuk merasa horor dan ketakutan atas agama dan ajaran Islam yang mulia.

Umat Islam, marilah maksimalkan proses berpikir! Jangan mudah tergiring opini media yang memiliki kepentingan yang mampu mengelabui umat dari perjuangan dan berpegang kepada tali agama Allah. Semoga pertolongan Allah segera datang bagi hamba-hamba-Nya yang berupaya istiqomah menyuarakan syariah Islam dan Khilafah walau tengah hidup di zaman fitnah.

”Jika Allah menolong kamu maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) makasiapakah yang dapat menolong kamu(selain dari Allah) setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang mukmin bertawakkal.” (Ali Imran:160).” Wallahu’alam bishowab.

Ammylia Rostikasari, S.S.
Akademi Menulis Kreatif
Dipublikasikan oleh suara-islam.com

Tik Tok dan Wajah Generasi Jaman Now

View Article

Ketika sebuah negara menerapkan aturan yang bukan berasal dari Islam, seperti saat ini, Kapitalisme menjadi tolok ukur bagi setiap tindakan, baik itu dari level individu maupun negara, yang terjadi adalah kondisi yang amburadul. Kapitalisme dengan aqidahnya yang sekuler alias memisahkan diri dari kehidupan wajar jika akhirnya menimbulkan masalah. Merana memang hidup tanpa aturan Islam.

Salah satu yang menjadi korban sekulerisme adalah remaja, remaja yang seharusnya menjadi penerus peradaban justeru larut dalam kesenangan duniawi. Fenomena Bowo menyeret para remaja khususnya perempuan untuk menanggalkan rasa malunya, bahkan ada juga yang sampai menggadaikan aqidahnya.

Media menjadi sarana untuk memunculkan sosok-sosok selebritis yang mengumbar aurat, mengagung-agungkan materi, gaya hidup yang serba berlebihan dan boros, memamerkan kekayaan,juga menonjolkan kecantikan yang menjadi modal dasar untuk menjadi selebritis.

Muncullah sososk-sosok yang diidolakan oleh remaja yang lainnya, maka remaja sejenis Bowo menjadi ikon. sesungguhnya mereka hanyalah umpan untuk mengeluarkan remaja dari keislamannya. Krisisnya sosok yang layak menjadi panutan, juga menjadikan remaja memilih sosok yang sedang viral, mengikuti trend yang ada, tanpa malu-malu.

Pendidikan disekolahpun tak mampu menjadikan remaja menemukan jati dirinya, pasalnya saat ini, pendidikan umum dan pendidikan agama dipisahkan secara total. Siswa diberikan kebebasan untuk memilih apa yang diinginkan, mau memilih menjadi ahli agama? silahkan memilih perguruan tinggi khusus agama atau pesantren. Sementara yang ingin menjadi ahli dalam bidang selain agama, negarapun menyediakan sekolah kejuruan. Alhasil, saat ini jarang orang yang mendalami ilmu agama kemudian tidak menguasai dalam bidang iptek, sementara yang ahli dalam bidang iptek, kurang paham agama.

Negara yang seharusnya berperan menjaga warganya khususnya remaja, sepertinya abai, munculnya aplikasi-aplikasi smartphon yang tidak mendidik seperti tik tok, kian menjamur. Video porno, begitu mudah di akses tidak terhitung jumlahnya. Ditelevisi, tidak kalah gencarnya iklan-iklan yang mengumbar aurat, sinetron yang mengajarkan pada pergaulan bebas menjadi tontonan yang menyedihkan disetiap rumah-rumah.

Peran negara sangat penting untuk menjaga warganya dari serangan-serangan yang bisa merusak akal. Negara pula yang harus mewajibkan setiap warganya untuk mendalami ilmu agama, sehingga menjadikan warganya yang faqih fiddin atau paham ilmu agama. Bukan generasi alay yang tak punya jati diri.

Selain peran negara, peran orang tua juga menjadi pendidikan dasar bagi remaja, orang tua mempunyai kewajiban untuk memahamkan agama kepada anaknya. Khususnya ibu, seorang ibu menjadi sekolah pertama bagi anaknnya, ibu pulalah yang akan membentuk keperibadian anak. Dangan menanamkan aqidah Islam pada anak sejak dini, diharapkan akan menjadikan remaja yang memiliki keperibadian yang jelas, yaitu keperibadian Islam. Bukan menjadi remaja yang serba membebek.

Orang tua pula yang memiliki kewajiban untuk menjaga anak-anaknya dari pergaulan bebas. Sebelum mereka kehilangan iman serta kehormatan, sebelum mereka terjerumus dalam pergaulan bebas, jika orang tua tidak ingin anaknya menjadi bahan bakar api neraka!

Berangkat dari tujuan pendidikan Islam, yakni mencetak manusia yang berakal, berpikir dan bersikap Islam, serta membentuk jiwa manusia dengan meletakkan seluruh kecenderungan atas dasar Islam. Ini bisa terwujud jika peserta didik akalnya dipenuhi oleh pengetahuan-pengetahuan Islam.

Jadi remaja saat ini tidak cukup hanya bermental pekerja keras, berkemauan baja, atau semangat bergotong royong. Tetapi yang dibutuhkan adala pendidikan yang berkarakter Islam. maka penanaman aqidah Islam kepada peserta didik menjadi hal yang sangat penting.

Sayangnya saat ini remaja seperti tidak menyadari bahwa bahaya pergaulan bebas, juga bahaya pendangkalan aqidah ada di sekitar mereka, celakanya juga tidak sedikit yang kemudian terbawa arus. Budaya pacaran hingga berakhir aborsi menjadi fenomena yang menjijikan. Tawuran pelajar juga menjadi hajatan tahunan dan menjadi warisan alumni sekolah. Itulah salah satu akibat dari sekulerisasi pendidikan.

Seperti analisa Montgomery bahwa rahasia kemajuan peradaban Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika dan ajaran agama. Satu dengan yang lain dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syari’at islam sama pentingnya dengan riset-riset ilmiah.

Tidak heran, ketika syari’at Islam dijadikan rujukan sumber hukum, dan sudah terbukti lebih dari tiga belas abad menghasilkan manusia-manusia yang produktif. Mereka bukan hanya menjadi ahli dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mereka juga menjadi ulama-ulama terkemuka.

Ibnu Rusyd {1126-1198} misalnya, ulama yang di Barat terkenal dengan namanya Averous, diakui sebagai ilmuan handal dibidangnya. Ibnu Rusyd adalah filosof, dokter dan ahli fiqih Andalusia. Bukunya yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah Al-Kulliyat, yang berisi kajian ilmiah mengenai jaringan-jaringan tugas dalam kelopak mata.

Selain Ibnu Rusyd, Islam memiliki ilmuan yang pertama kali memperkenalkan ilmu pembedahan, dialah Az Zahrawi yang lahir di Cordova pada tahun 936 Masehi, dikenal sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahya dijadikan referensi bedaah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah universitas, termasuk di barat, menjadikannya acuan.

Kontriibusi Islam dalam bidang ekonomi tidak kalah penting. Adalah az Zarkalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolabe. Yaitu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan begitu pelayaran sangat berkembanng cepat setelah penemuan astrolabe.

Fantastis memang ketika syari’at islam menjadi acuan dalam pendidikan. Bukan bagian-bagian yang terpisah. Maka tidak heran ketika masa kejayaan Islam, selain mereka faqih fiddin, mereka juga ahli kedokteran, astronom dan lain-lain.

Itu sebabnya, dalam sistem pendidikan Islam, negara akan memprioritaskan pendidikan agama daripada ilmu umum untuk dipelajari. Namun, tidak berarti ilmu umum menjadi warga nomor dua, tetapi berjalan beriringan.

Dalam Islam juga telah membedakan antara orang yang berilmu dan tidak, sebagaiman firman Allah dalam QS. Al Mujadalah [58]: 11 yang artinya : “… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang dibri ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sayangnya kita sekarang ini hidup dalam sistem kapitalis, dimana atas dasar kebebasan yang di elu-elukan, jangankan memberikan pendidikan yang berbasis aqidah Islam, yang ada justru negara membiarkan warganya bersikap bebas layaknya binatang. Ilmu bukan menjadi sesuatu yang penting, sehingga wajar jika menghasilkan manusia-manusia tak beradab.

Pendidikan berbasis aqidah Islam yang mampu membentuk manusia yang berpikir dan bersikap Islam hanya bisa diwujudkan jika Islam dijadikan rujukan hukum. Negara yang mampu menerapkan hukum-hukum Islam adalah negara Islam yang bernama Khilafah. Mari perjuangkan Islam, dan kampanyekan Islam menjadi Ideologi negara. Wallohu a’lam bisshowaab. []


Pri Afifah
Anggota Komunitas Muslimah Peduli Generasi 
Tinggal di Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com