Sabtu, 22 September 2018

Haruskah Bertanya Masa Lalu Calon Istri atau Suami?

Baca Artikel

Islam menganjurkan agar masing-masing individu merahasiakan setiap dosa dan kesalahan yang dia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508).

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras, menceritakan perbuatan maksiat yang pernah dia lakukan dalam kondisi sendirian. Menceritakan maksiat bisa menjadi sebab, Allah tidak memaafkan kesalahannya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Semua umatku akan diampuni, kecuali orang yang terang-terangan melakukan maksiat. Termasuk bentuk terang-terangan maksiat, seseorang melakukan maksiat di malam hari, Allah tutupi sehingga tidak ada yang tahu, namun di pagi hari dia bercerita,

Hai Fulan, tadi malam saya melakukan perbuatan maksiat seperti ini..

Malam hari Allah tutupi kemaksiatanya, pagi harinya dia singkap tabir Allah yang menutupi maksiatnya. (HR. Bukhari 6069 & Muslim 7676)

Karena itulah, islam menganjurkan agar setiap muslim berusaha menutupi dan merahasiakan aib saudarannya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. (HR. Bukhari 2442, Muslim 7028, dan yang lainnya).

Islam juga memberikan ancaman keras, bagi orang yang suka mencari-cari aib orang lain. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar dan bersabda,

مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ

Siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang Allah cari aibnya, akan Allah permalukan meskipun dia berada di dalam rumahnya. (HR. Turmudzi 2164 dan dinilai hasan shahih oleh al-Albani).

Islam tidak pernah mengajarkan tradisi buka-bukaan. Islam juga tidak menganjurkan agar calon pasangan suami istri untuk saling menceritakan masa lalunya. Yang akan menghisab amal istri bukan suami, demikian pula istri tidak bisa menghisab amal yang pernah dikerjakan suaminya.

Tidak Manfaat!

Apa manfaatnya masing-masing harus menceritakan dengan jujur masa silamnya setelah menikah?

Jika suami tidak terima dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukan istrinya di masa silam, akankah suami akan memberikan pahala bagi amal baik istrinya di masa silam?. Jika orang mau adil, seharusnya ini seimbang.

Sebaliknya, jika istri tidak terima dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukan suaminya, akankah dia akan memberikan pahala untuk amal soleh yang dilakuka suaminya?

Masa silam sudah berlalu. Baik suami istri jujur maupun bungkam tidak menceritakan, kejadian itu takkan bisa dihapus. Justru cerita yang anda dengar, akan menyayat hati anda sebagai pasangannya.

Masa Silam, Pertimbangan Sebelum Menikah

Benar, masa silam bisa dijadikan pertimbangan sebelum para calon ini naik ke pelaminan. Dengan ini, masing-masing bisa menentukan langkah, lanjutkan atau lupakan.

Pertama, Jika calon suami bersedia menerima calon istri dengan semua latar belakangnya, dan masing-masing menunjukkan perubahan untuk menjadi baik, bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Tugas dia selanjutnya, lupakan masa silam masing-masing, dan jangan lagi diungkit.

Kedua, Jika calon suami masih keberatan menerima latar belakang calon istrinya, atau selalu dibayang-bayangi kesedihan, atau kepercayaan kepada calon istri belum bisa tertanam, sangat disarankan agar tidak dilanjutkan, dari pada kebahagiaan keluarga harus tersandra dengan kecurigaan.

Allahu a’lam. []



Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Dewan Pembina Konsultasisyariah.com
Artikel oleh KonsultasiSyariah

Tata Cara Shalat Sesuai Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Baca Artikel

Pembaca buletin At Tauhid yang semoga senantiasa dirahmati Allah, berikut ini kami sajikan tuntunan cara shalat sesuai sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam  secara ringkas dan padat. Semoga dapat menjadi rujukan dan panduan dalam menunaikan ibadah yang agung ini, yaitu ibadah shalat.

Cara melakukan shalat adalah sebagai berikut:

1. Berniat untuk shalat (rukun shalat)
Niat adalah maksud hati untuk melakukan sesuatu. Shalat tidaklah sah tanpa niat, dan shalat tidaklah diterima jika niat shalat bukan karena Allah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Setiap amal tergantung pada niatnya” (HR. Bukhari-Muslim). Para ulama sepakat niat adalah amalan hati, sehingga niat tidak perlu diucapkan. Ketika hati sudah beritikad untuk melakukan shalat, itu sudah niat yang sah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga tidak pernah mengajarkan lafal tertentu untuk niat shalat.

2. Berdiri tegak menghadap kiblat (rukun shalat)
Berdiri ketika shalat wajib, termasuk rukun shalat. Diantara dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam : “Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduk, jika tidak mampu maka sambil berbaring” (HR. Bukhari). Hadits ini juga menunjukkan boleh shalat dalam keadaan duduk jika tidak mampu berdiri, atau berbaring jika tidak mampu duduk. Wajib menghadap ke arah kiblat ketika berdiri, kecuali shalat di atas kendaraan. Bagi penduduk Makkah, wajib menghadap ke arah ka’bah. Adapun bagi penduduk luar Makkah, cukup mengarah ke arah kota Makkah tidak harus pas ke ka’bah. Pandangan mata ketika berdiri, lebih utama memandang ke arah tempat sujud. Boleh memandang ke depan atau ke bawah, dan terlarang keras memandang ke atas atau ke samping tanpa ada kebutuhan.

3. Melakukan takbiratul ihram (rukun shalat)
Caranya dengan mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan “Allahu akbar” dengan suara yang minimal dapat didengar diri sendiri. Tidak sah shalat tanpa Takbiratul ihram. Nabi shallallahu’alaihi wasallam  bersabda: “Jika engkau hendak shalat, ambilah wudhu lalu menghadap kiblat dan bertakbirlah” (HR. Bukhari-Muslim). Tangan diangkat sampai setinggi pundak (sebagaimana hadits riwayat Ahmad (shahih)) atau pangkal telinga (sebagaimana hadits riwayat Muslim.

4. Bersedekap
Setelah takbiratul ihram, tangan bersedekap. Hukumnya sunnah. Caranya yaitu dengan meletakkan tangan kanan berada di atas tangan kiri. Sahl bin Sa’ad berkata: “Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kirinya ketika shalat” (HR. Al Bukhari). Ada dua bentuk bersedekap yang boleh dipilih :

1. al wadh’u (meletakkan kanan di atas kiri tanpa melingkari atau menggenggam). Letak tangan kanan ada di tiga tempat: di punggung tangan kiri, di pergelangan tangan kiri dan di lengan bawah dari tangan kiri. Dalilnya, hadits dari Wa’il bin Hujr tentang sifat shalat Nabi, “..setelah itu beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kiri, atau di atas pergelangan tangan atau di atas lengan” (HR. Abu Daud, shahih).

2. al qabdhu (jari-jari tangan kanan melingkari atau menggenggam tangan kiri). Dalilnya, hadits dari Wa’il bin Hujr: “Aku Melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam  berdiri dalam shalat beliau melingkari tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An Nasa-i, shahih). Adapun mengenai letak sedekap, tidak terdapat hadits yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengenai hal ini. Sehingga perkaranya longgar, boleh di dada, boleh di perut atau juga di bawah perut, semua ini ada contohnya dari salafus shalih.

5. Membaca doa istiftah
Hukum membacanya adalah sunnah. Ada beberapa macam jenis doa istiftah yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih. Diantaranya adalah doa: “Allahumma baa’id bayni wa bayna khothooyaaya, kamaa ba’adta bayna masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii khothooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas, Allahummaghsil khothooyaaya bil maa-i wats tsalji wal barod” (HR.Bukhari-Muslim).

6. Membaca ta’awudz lalu basmalah
Setelah membaca istiftah, lalu membaca ta’awudz. Hukumnya sunnah. Ada beberapa bacaan ta’awudz yang shahih, diantaranya: “a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf) atau “a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim” (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushannaf). Ta’awudz dibaca secara sirr (lirih). Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah dibaca secara jahr (keras) atau sirr (lirih). Yang rajih, lebih afdhal membacanya secara sirr (lirih), namun boleh sesekali membaca secara jahr karena riwayat dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa beliau mengeraskan basmalah.

7. Membaca Al Fatihah (rukun shalat)
Setelah membaca ta’awudz, lalu membaca surat Al Fatihah. Tidak sah shalat tanpa membaca Al Fatihah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab” (HR. Bukhari-Muslim). Namun berbeda lagi bagi makmum, para ulama berbeda pendapat apakah makmum ikut membaca Al Fatihah ataukah diam mendengarkan bacaan imam. Yang rajih, jika makmum mendengar imam sedang membaca (secara jahr), maka ia wajib mendengarkan dan diam. Makmum tidak membaca Al Fatihah ataupun bacaan lain. Jika makmum tidak mendengarkan imam membaca (karena dibaca secara sirr), maka ia wajib membaca Al Fatihah. Inilah pendapat jumhur ulama. Setelah membaca Al Fatihah, disunnahkan mengucapkan “aamiin” dengan jahr (keras). “aamiin” artinya “ya Allah kabulkanlah”.

8. Membaca surat dari Al Qur’an
Kemudian disunnahkan membaca surat dari Al Qur’an (selain Al Fatihah) yang dihafal, dengan jahr (keras) di shalat jahriyyah (maghrib, isya’, dan subuh).

9. Rukuk
Dengan mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan, sama seperti cara takbiratul ihram, kemudian membungkukkan badan sehingga punggung dan kepala dalam keadaan lurus, telapak tangan menggenggam lutut dengan jari-jari direnggangkan. Dari Abu Humaid As Sa’idi mengatakan: “Nabi shallallahu’alaihi wasallam  jika rukuk, beliau meletakkan kedua tangannya pada lututnya, dan meluruskan punggungnya” (HR. Al Bukhari). Ketika rukuk membaca doa: “subhaana rabbiyal ‘azhiim” (HR. Al Bukhari) sebanyak 3x atau lebih.

10. I’tidal (bangun dari rukuk)
Bangun dari rukuk hingga berdiri tegak sambil mengucapkan: “sami’allahu liman hamidah”, bagi imam atau orang yang shalat sendiri. Bagi makmum membaca: “rabbanaa walakal hamdu”. Sambil mengangkat kedua tangan seperti cara mengangkat tangan ketika takbir.

11. Melakukan sujud pertama
Dari kondisi berdiri setelah i’tidal, turun untuk bersujud sambil mengucapkan “Allahu Akbar”. Para ulama berbeda pendapat apakah lebih dahulu tangan ataukah lutut ketika turun. Yang rajih, wallahu a’lam, sebagaimana riwayat dari Ibnu Umar: “bahwasanya ia turun sujud dengan kedua tangannya sebelum lututnya” (HR. Al Bukhari secara mu’allaq, Abu Daud). Cara sujud adalah dengan menempelkan 7 anggota badan. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam : “aku diperintahkan untuk sujud dengan 7 anggota badan: jidat (sambil menunjukkan kepada hidungnya), 2 tangan, 2 lutut, dan jari-jari kedua kaki” (HR. Bukhari-Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa hidung juga termasuk yang wajib ditempelkan. Kemudian kedua tangan sejajar dengan pundaknya atau pangkal telinganya, dengan jari-jari dalam keadaan rapat dan menghadap kiblat. Lengan dibuka dan tidak menempel dengan badan. “Nabi shallallahu’alaihi wasallam  jika shalat (sujud) beliau merenggangkan kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau” (HR. Bukhari-Muslim).

Namun ini dilakukan semampunya tanpa mengganggu orang yang shalat di sebelahnya. Ketika sujud membaca doa: “subhaana rabbiyal a’laa” sebanyak 3 kali atau lebih. Dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud, karena seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika sujud.

12. Duduk di antara 2 sujud
Bangun dari sujud sambil mengucapkan “Allahu akbar” tanpa mengangkat tangan, kemudian duduk iftirasy. Duduk iftirasy adalah duduk dengan cara menegakkan telapak kaki kanan dan posisi jari-jarinya menghadap kiblat. Sedangkan kaki kiri dalam keadaan tidur dan diduduki oleh pantat. Kedua tangan diletakkan di atas paha, jari-jari menghadap ke kiblat. Ketika duduk, mengucapkan doa: “rabbighfirlii” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, An Nasa-i. shahih).

13. Melakukan sujud kedua
Dari posisi duduk, turun untuk sujud sambil mengucapkan “Allahu Akbar”, kemudian sujud dengan tata cara sujud yang sama seperti sujud pertama.

14. Melakukan duduk istirahat dan bangun menuju rakaat kedua
Dari posisi sujud, bangkit tanpa bertakbir, untuk duduk sejenak dengan posisi duduk iftirasy. Lalu bangun untuk berdiri menuju rakaat yang kedua sambil mengucapkan “Allahu Akbar” dan mengangkat kedua tangan seperti cara mengangkat tangan pada takbiratul ihram. Takbir ini dinamakan takbir intiqal. Intiqal artinya berpindah, karena takbir ini dilakukan ketika berpindah dari satu rukun menuju rukun berikutnya.

15. Melakukan tata cara yang sama seperti rakaat pertama
Setelah melakukan takbir intiqal, berdiri secara sempurna dan bersedekap sebagaimana pada rakaat pertama. Kemudian seterusnya melakukan hal yang sama seperti pada rakaat pertama. Perbedaan hanya terletak pada beberapa hal:

  1. Pada rakaat kedua dan seterusnya, tidak disyariatkan membaca doa istiftah. Sebagaimana namanya, istiftah artinya ‘membuka’, hanya disyariatkan pada rakaat pertama. Maka, setelah takbir intiqal, langsung membaca basmalah dan seterusnya.
  2. Pada shalat yang jumlah rakaatnya lebih dari dua, maka rakaat ketiga atau rakaat keempat, bacaan Al Fatihah dan bacaan surat tidak dikeraskan
  3. Pada rakaat kedua, pada shalat yang rakaatnya lebih dari dua, setelah bangun dari sujud yang kedua, tidak melakukan duduk istirahat melainkan duduk tasyahud awal dan melakukan tasyahud awal.
  4. Pada rakaat terakhir, berapapun jumlah rakaatnya, setelah bangun dari sujud yang kedua, tidak melakukan duduk istirahat melainkan duduk tasyahud akhir dan melakukan tasyahud akhir.

16. Cara duduk tasyahud awal
Duduk dengan posisi duduk iftirasy, kemudian mengangkat jari telunjuk kanan hingga lurus ke arah kiblat. Sambil membaca doa: “at taahiyaatu lillah was sholawaatu wat thoyyibaatu, as salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warohmatulloohi wabarokaatuh, assalaamu ‘alaina wa’alaa ibaadillaahis shoolihiin, asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna muhammadarrosuulullooh” (HR. Bukhari-Muslim). Dan ada beberapa bacaan doa tasyahud lainnya yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Dianjurkan untuk membaca shalawat saat tasyahud awal. Setelah tasyahud awal, berdiri menuju rakaat ketiga sebagaimana telah dijelaskan.

17. Cara duduk tasyahud akhir
Para ulama berbeda pendapat mengenai posisi duduk tasyahud akhir, sebagian ulama menyatakan bahwa posisinya tawarruk, yaitu duduk dengan cara menegakkan telapak kaki kanan dan posisi jari-jarinya menghadap kiblat. Sedangkan telapak kaki kiri berada di depan kaki kanan dan bokong menyentuh lantai. Sebagian ulama menyatakan, untuk shalat yang dua rakaat, maka duduk tasyahud akhir dengan posisi iftirasy. Namun dalam masalah ini, perkaranya longgar. Kemudian mengangkat jari telunjuk kanan hingga lurus ke arah kiblat. Sambil membaca doa tasyahud sebagaimana pada tasyahud awal, lalu diwajibkan untuk  membaca shalawat: “Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa Ibroohiim, wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidummajiid” (HR. Bukhori-Muslim). Terdapat juga lafadz lain yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam .

18. Berdoa sebelum salam
Dianjurkan membaca doa sebelum salam. Yaitu doa: “Allohumma inni a’udzubika min ‘adzaabi jahannam, wa min ‘adzaabil qobri, wa min fitnatil mahyaa wal mamaat, wa min syarri fitnati masiihid dajjaal” (HR. Muslim). Kemudian dianjurkan membaca doa apa saja yang diinginkan.

19. Salam
Dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” sambil menoleh ke kanan hingga pipi kanan terlihat dari belakang. Dan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” sambil menoleh ke kiri hingga pipi kiri terlihat dari belakang. Dan tidak terdapat hadits shahih mengenai mengusap wajah setelah salam, sehingga hal ini tidak perlu dilakukan.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita semua dan menerima amal ibadah yang kita lakukan. Wabillahi at taufiq was sadaad. []



Rujukan utama: Sifatu Shalatin Nabi karya Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifi hafizhahullah
Penulis : Yulian Purnama, S.Kom. (Alumni Mahad Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Murojaah : Ust. Aris Munandar, SS, MPI

Pranala luar:
1. http://buletin.muslim.or.id/fiqih/tata-cara-shalat-sesuai-sunnah-nabi
2. https://almanhaj.or.id/900-ringkasan-sifat-shalat-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-1.html
3.

Harta yang Halal Belum Tentu Berkah?

Baca Artikel

Sebagian orang beranggapan dengan hartanya “yang penting halal”. Padahal halal saja belum cukup.

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kata berkah [البركة] secara bahasa artinya sesuatu yang tumbuh dan bertambah atau langgeng dan abadi. (Lisan al-Arab, 10/395).

Ketika seseorang mengucapkan,

اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد

Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad,

maknanya adalah Ya Allah, kokohkanlah, langgengkanlah kebaikan dan kemuliaan untuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya. (Ahkam at-Tabarruk, Dr. Abdul Aziz Rais, hlm. 2)

Istilah untuk harta, bisa dipahami dua hal:

Pertama, harta yang boleh dimanfaatkan

Berdasarkan pengertian ini maka semua harta yang halal bagi muslim, adalah harta yang berkah. Meskipun harta itu habis pakai. Karena harta halal adalah keberkahan bagi mukmin, sehingga ketika mereka menikmati harta itu, tidak menjadi sumber masalah ketika di akhirat.

Allah berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. al-A’raf: 32)

Rizki yang halal di dunia, Allah sediakan untuk orang yang beriman. Sehingga ketika mereka menikmatinya, mereka tidak berdosa.

Kedua, harta berkah dalam arti yang bertambah dan berkembang

Inilah makna berkah yang lebih sering kita pahami. Tidak sebatas halal, namun bertambah, sehingga mencukupi kebutuhan semuanya.

Allah berjanji bagi orang yang beriman dan bertaqwa, akan dibukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96).

Allah berikan kepada kampung yang bertaqwa jatah rizki yang lebih. Tidak sebatas halal, tapi melimpah. Dan itulah keberkahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bertaqwa.

Dan ini bukan sebatas halal, karena semua yang Allah turunkan di muka bumi adalah halal bagi manusia, kecuali yang dilarang. Sementara orang bertaqwa diberi lebih, sebagai balasan baik untuk mereka.

Seperti doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya dan berkahilah semua yang Engkau berikan kepadanya. (HR. Bukhari 6334)

Kata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

فوالله إن مالي لكثير، وإن ولدي وولد ولدي يتعاقبون على نحو المئة

Demi Allah, hartaku sangat banyak. Sementara anak dan cucu-cucuku, mencapai 100 orang. (HR. Ibnu Hibban 7177)

Ketika Zubair wafat, beliau meninggalkan warisan berupa tanah hutan. Ketika dijual, harganya naik sangat tinggi. Abdullah Zubair radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

وَكَانَ الزُّبَيْرُ اشْتَرَى الْغَابَةَ بِسَبْعِينَ وَمِائَةِ أَلْفٍ ، فَبَاعَهَا عَبْدُ اللَّهِ بِأَلْفِ أَلْفٍ وَسِتِّمِائَةِ أَلْفٍ

Zubair pernah membeli tanah hutan seharga 170.000, kemudian tanah itu dijual oleh putranya, Abdullah bin Zubair seharga 1.600.000 (HR. Bukhari 3129).

Hadis ini diletakkan al-Bukhari dalam kitab shahihnya di Bab, “keberkahan harta orang yang berperang.”

Semua yang Halal harus Bertambah?

Berangkat dari pemahaman di atas, bahwa berkah artinya bertambah, dan harta halal adalah harta yang berkah, sebagian orang memahami, harta halal harus bertambah. Dan jika tidak bertambah, ini indikasi bahwa harta itu tidak halal.

Hingga ada sebagian orang yang melakukan usaha, diberi modal kawannya, namun ternyata usahanya gagal dan bahkan mengalami kerugian. Kesimpulan yang dia berikan, modal usahanya tidak berkah, karena berasal dari harta yang haram.

Memang dia tidak menuduh kawannya bekerja di dunia haram. Tapi setidaknya kesimpulan ini tidak lepas dari nuansa suudzan kepada pemodal.

“Harta halal adalah harta yang berkah, karena itu harus bertambah. Jika tidak bertambah, itu tanda bahwa harta itu tidak berkah.”

Kesimpulan ini tidaklah benar. Karena membuat konsekuensi kebalikan dari sebuah kalimat, tidak semuanya benar.

Ada kaidah mengatakan,

لازم القول ليس بلازم

Konsekuensi dari pernyataan, tidak semuanya benar.

Harta halal, memang berkah. Berkah dalam arti, bisa dimanfaatkan tanpa ada hukuman.

Tapi bukan berarti harta halal akan terus berkembang, dan menghasilkan banyak harta. Tidak ada jaminan demikian.

Dulu ada beberapa ulama yang melakukan usaha dan mereka gagal. Bahkan diantara mereka ada yang masuk penjara, gara-gara menanggung utang yang sangat besar.

Diantaranya Muhammad bin Sirin. Seorang ulama besar tabiin, muridnya sahabat Anas bin Malik dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berprofesi sebagai saudagar. Akan tetapi, pada akhir hayatnya, beliau ditimpa pailit dan terlilit utang sebesar 30.000 dirham, sehingga beliau pun dipenjara. Beliau baru dapat terbebas dari penjara setelah putranya, yang bernama Abdullah, melunasi utangnya.

Tentu saja bukan modal beliau yang bermasalah. Harta beliau halal, dan beliau seorang ulama yang wara’ terhadap harta.

Allahu a’lam. []


Oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel PengusahaMuslim

Pertarungan Siber Jilid III Segera Terwujud

Baca Artikel

Jagat sosial media disinyalir akan kembali memanas dan berpotensi melahirkan perang sosmed jilid III. Antara buzzer berbayar yang memiliki tendensi tertentu. Dengan tentara siber muslim. Dilengkapi, dengan resimen warganet berakal sehat.

Sebelumnya, di era Pilpres 2014. Kubu tentara siber bayaran, aka jasmev. ‘Sukses’ menyihir jagat sosmed republik. Dengan adanya sosok spin doktor, KD. Dengan kelihaian memainkan narasi isu ham, isu perkawinan PS08, isu kontroversial pensiun dini dari tentara, hingga hal-hal yang sangat private. Terus disemburkan ke publik. Nonstop. 24 jam 7 hari seminggu. Yang hasilnya, dapat disebut mampu mengarahkan swing voter. Dan dibantu oleh invisible hands di papua. Lengkap sudah, mahkota RI 1 digamit mantan walikota solo tersebut.

Dalam kubu buzzer berbayar, tentunya uang adalah tujuan utama mereka berlama-lama nyerondol depan gadget mereka. Sementara disaat yang sama, siber muslim lebih mengedepankan keberlangsungan ruang sosmed yang bersih dari polusi hoaks, fitnah, atau pembunuhan karakter dari tokoh publik yang kritis pada rezim.

Dalam operasinya, tentara siber bayaran milik rezim diberi pelatihan, peta perang, informasi pribadi tokoh oposisi sebagai bahan bullyan. Dan terutama, bonus berupa jabat tangan incumbent dalam foto sebagai prasasti personal tentara fitnah tadi.   Kemudian selanjutnya, setelah mereka turun gelanggang sebagai setan sosmed yang mengharu-biru pelbagai linimasa, dalam area fitnah. Publik juga akan dipermainkan rasa keadilan-nya. Sebagai ekses langsung keberpihakan aparat hukum. Terutama indikasi oknum kepolisian, yang dekat dengan penyandang dana tentara fitnah ini.

Saat ada yang berusaha menghidupkan nalar publik seperti RS dan RG. Dengan media diskusi di berbagai daerah. Paling lama seminggu, atau sepuluh hari kerja sebelumnya. Isu, framing, pembunuhan karakter akan tersaji di berbagai linimasa medsos. Ditingkahi oleh meme’ provokatif, yang menurut saya seharusnya sudah dapat diproses hukum. Karena merendahkan martabat seseorang di depan umum.

Namun seperti ‘biasa’ aparat hukum terkesan pura-pura buta dan cuek dengan situasi tadi. Hal ini tentunya makin menebalkan sifat imun masyarakat, ketika nantinya aparat hukum bekerja sesuai kaidahnya. Wong tumpukan ketidakadilan menggunung, disiram oleh secuil tupoksi yang benar ya tidak akan mengobati luka ketidakadilan tadi.

Situasi seperti sekarang bukan mendadak begitu saja terjadi, namun menurut hemat penulis, memang sudah dipersiapkan dan mengutip Zeng Wei Jan, mirip dengan doktrin “Unrestricted Warfare” (Rencana China Menghancurkan USA) karya Col. Xiao Liang, dan ini adalah perang dalam arti sebenarnya. Perang persepsi. Atau Ghawzul Fikri dalam khazanah islam.

Mereka bertempur dalam derap langkah yang seirama. Baik jam tayang, isi redaksi, bahkan tanpa interaksi. Akun setan tadi, begitu gencar mengumbar aib orang bermodalkan fitnah. Berpeluru dusta dan herannya lagi, bagaikan tak tersentuh hukum. Untouchable. Digjaya membunuhi karakter kubu oposisi, yang kritis terhadap rezim. Sebagai contoh misalnya, silahkan stalking semua akun twitter dengan key detektif.

Maka pembaca, kejijikan akan segera menjalari isi kepala kita. Tatkala dengan begitu beringas, tanpa malu lagi. Mereka melempar hujatan massal pada tokoh publik yang begitu dihormati. Dulu sempat ada tudingan biadab pada Gubernur terpilih Sumut, namun entah apa sebabnya. Seperti biasa tanpa diproses hukum. Semua ornamen hukum menjadi buta dan tulis saat hinaan publik tadi muncul. Kemudian yang anyar -tentunya dengan pola yang sama- adalah Ketua Timses PS08. Sungguh telah membuat rancu kalimat freedom of speech. Menjungkirbalikan nalar sehat netizen. Membuat cyber patrol impoten dibuatnya.

Adalah Sandiaga Uno, Cawapres tamvan bin tajir yang membuat bani fitnah sekarang ini menyatukan bidikan fitnah pada sosoknya. Perhatikan saja, ketika kurs dollar sedang membumbung tinggi, yang secara alamiah dan spontan disikapi dengan ajakan menukarkan mata uang tersebut. Malah direspon sebagai menguntungkan pihak Sandi. Karena otak kotor mereka telah diprogram, bahwa uang adalah tujuan hidupnya. Mereka tidak mampu menyajikan isi kepala mereka, selain dari fitnah dan dusta. Kan seharusnya bisa dilihat sebagai ajakan nasionalisme, tanpa gembar-gembor. Tanpa mendompleng ajang Asian Games. Tanpa beriklan di bioskop. Namun terbukti ampuh. Untuk sekedar mengompres panas tinggi yang diderita oleh rupiah. Belakangan, akibat terjangan dollar yang makin perkasa.

Ekses langsungnya adalah, naiknya harga komoditi impor seperti kedelai. Dan berujung pada keluhan massal para pengrajin. Untuk kemudian disikapi oleh Santri Millenial dengan semacam rembug saran kubu oposisi. Mencari solusi alternatif bagi perekonomian nasional yang kian limbung. Namun, lagi-lagi seperti biasa. Tentara fitnah tadi hanya mengambil secuil bahan, untuk disebarkan sebagai bullyan tingkat nasional. Tempe setipis kartu atm misalnya. Di-fabrikasi sedemikian rupa sebagai cemooh, celaan, sesuatu yang lucu. Karena narasi perumpamaan tadi, justru disikapi dengan arti harfiah. Irisan tempe setipis atm. Oh come on bong..itu satire, itu adalah kiasan. Hidup kalian terlalu terprogram sih, kurang wawasan. Jadi baperan. Dasar somplak.

Tentara fitnah ini, sampai kapanpun tetap harus dilawan. Karena sebagai perbandingan, dalam kontestasi pilkada DKI 2017. Atau perang sosmed jilid II. Justru kubu tentara bayaran luluh lantak. Habis dilumat oleh kelompok yang menamakan diri, tentara siber muslim. Segala dusta, fitnah, hoax dan juga glorifikasi sosok ahok, tidak mempan, majal dan mengempes perlahan. Diperangi dengan sengit, oleh tentara siber muslim tadi.

Padahal, kekuatan mereka sama. Malah lebih kuat. Karena pihak media, sebagian juga sudah terang-terangan ikut menjadi buzzer koh napi. Namun takdir berkata lain, ahok tumbang. Tergeletak babak belur, sosoknya hancur dikuliti oleh kecanggihan mesin perang tentara siber muslim. Yang disatukan oleh ghirah, dikomandoi oleh seruan Imam Besar Habib Rizieq Syihab. Didukung langsung oleh Allah Ta’ala.

Yang mengizinkan berlangsungnya konsolidasi massal berupa Aksi Bela Islam jikid I sampai III. Suatu berkah bagi bangsa ini. Negara kembali utuh. Indonesia masih disayang Illahi. Kekuatan asing dan aseng mundur teratur, para tikus-tikus koruptor mulai mengamankan diri, serta pengusaha hitam kembali kedalam sarangnya.

Jakarta kini kembali normal. Tanpa ujaran kotor, tanpa puja-puji ahok tokoh anti korupsi, tapi terkait aguan cukong reklamasi.

Nah pembaca, tentara bayaran itu sekarang sudah muncul lagi, menantang dengan teriakan parau. Karena memakan gaji hasil fitnah. Mari kita sama-sama satukan tekad, sisakan waktu dua atau tiga jam di depan gadget-laptop anda, sebarkan keunggulan Capres-Cawapres pilihan ulama, selamatkan bangsa ini dari cengkeraman pengkhianat, selamatkan ibu pertiwi dari oligarki, dari neo komunis, dari sekte syiah, serta selamatkan negara ini untuk anak cucu kita nanti. Bismillah.

Lawan ! [Paradok]

Perang Informasi: Elit Parpol, Pendukung Oposisi dan Korban Propaganda Media

Baca Artikel

Propaganda dan media massa memang tak bisa terpisahkan, lewat media massa inilah kemudian propaganda bisa terlaksana dengan baik terlepas itu oleh media audio, visual, ataupun audio visual.

Media massa memang memiliki pengaruh yang sangat sentral dalam pembentukan opini publik sehingga dalam hal ini informasi yang diberikan dapat mempengaruhi keadaan komunikasi sosial pada masyarakat. Masyrakat yang tidak tahu apa-apa banyak yang menelan mentah-mentah berbagai informasi yang diberitakan pada sebuah media, padahal di sisi lain berita tersebut ada kemungkinan memiliki ketimpangan yang harus diverifikasi.

Berbagai informasi yang kemudian masuk tanpa mengindahkan sisi objektivitas itulah yang kemudian menjadi permasalahan. Propaganda yang tak berimbang tentunya memiliki kepentingan-kepntingan yang biasanya berkenaan dengan kepentingan politik, bertujuan untuk menjatuhkan figur atau tokoh-tokoh tertentu dan berusaha menaikan pamor tokoh tertentu.

Saya pernah membahas implementasi dan juga pembahasan lainnya perkara propaganda yang dilakukan penguasa saat ini. Diantaranya; Habisnya Bahan Bakar Bocornya Tangki Pencitraan, Mau Apalagi?, Media Politik Pencitraan Menggerus Nalar Bangsa, Akun Power Point Sihir Untuk Rakyat, Kekacauan Glorifikasi Dan Lipstiknya Bernama Pemuja.

Sebagai gambarannya adalah ketika Pemilu berlangsung para kontestan dengan menggunakan media berusaha mepromosikan dirinya melalui partai yang mengusungnya. Dengan begitu mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapat simpati masyarakat sehingga banyak yang memilih.

Kemudian untuk memperoleh suara yang banyak, tak sedikit diantara mereka yang melakukan praktik Black Propaganda. Menggunakan cara-cara yang licik dengan menghasut dan mengadu domba.

Propaganda merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Propaganda sendiri berasal dari kata propagare artinya menyebar, berkembang, mekar. Carl I Hovlan menambahkan bahwa propaganda merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap. Propaganda timbul dari kalimat sacra congregatio de propaganda fideatau dari kata Congregatio de propaganda fide atau Congregation for the Propagandation of Faith tahun 1622 ketika Paul Grogelius ke 15 mendirikan organisasi yang bertujuan mengembangkan dan mengembangkannya agama katolilk Roma di Italia dan Negara lain.

Karya Klasik Lasswell, Propaganda Technique in the World war (1927) yang pertama kali berusaha dengan hati-hati mendefenisikan Propaganda: “Propaganda semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi social lainnya. (Seperti yang di kutip oleh Werner J. Severin –Jamesa W Tankard ,Jr. Teori Komunikasi, dalam Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, Terapan di Dalam Media Massa. Hal.128)

Ya, kontrol opini atau penggiringan isu. Manipulasi alam bawah sadar para pembaca dengan terus memproduksi narasi, baik tendensius, aroma stigma, hingga pembunuhan karakter.

Politisi korban headline media

Seperti yang disebutkan dalam rangkaian penjelasan di atas, “Propaganda semata merujuk pada kontrol opini dengan simbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi sosial lainnya”.

Sebelum penetapan resmi calon presiden dan wakil presiden yang akan ikut serta dalam kontestasi politik 2019, media sosial menjadi sangat ramai dengan berbagai opini hingga tebak-tebakan yang sangat rumit.

Pihak lawan politik menggunakan media sebagai alat penggiringan opini, bertujuan membuat gejolak media sosial terutama akar rumput merespon. Kemudian para politisi atau kader parpol begitu liar menafsirkan headline media, seakan berita media adalah berita resmi dari sejumlah partai oposisi.

Mengkondisikan saling serang argumen dengan narasi media, yang padahal belum tentu benar apa tidak  yang tertulis dalam media. Tidak melihat narasi utuh berita, apalagi memperhatikan perkara kaidah berita, seperti sumber kutipan, wawancara, atau setidaknya meredam strategi yang tersimpan rapih di balik meja pertarungan.

Jaring media ditebar dan mengkondisikan yang seharusnya bisa bersatu dibuat tidak bersatu. Rangkaian narasi saling menyudutkan ditujukan pada tiap parpol yang menjadi oposisi. Inilah teknik penggiringan opini, ditambah simpatisan parpol yang aktif di medsos juga berkomentar, seakan membenarkan narasi headline, menganggap bahwa apa yang tertera di headline adalah kebenaran, emosional, hingga brutal menyerang sesama oposisi. Kalian ini adalah korban, dan masuk dalam pola permainan dengan tools propaganda bernama media.

…………

Perang adalah informasi, itu kata Napoleon Bonaparte. Tetapi melihat para elit parpol yang menjadi korban disinformasi tentu sangat disayangkan. Hal inilah yang diinginkan oleh lawan politik. Dengan mudahnya tools propganda ini mematikan fungsi nalar dan juga insting dalam berperang. Hanyut dalam “teks” sedang “konteks” serta esensi pertarungan di darat mengalami ketimpangan, akibat menjadi seperti paradok. Ingin memenangkan kontestasi, tetapi sibuk saing cakar karena teknik propaganda yang massiv. Teknik ini umumnya terkait dengan kesalahan logika, manipulasi psikologis, penipuan langsung atau tidak langsung, teknik retoris dan propaganda, dan sering melibatkan eksploitasi informasi atau sudut pandang pribadi, dengan mendorong orang lain atau kelompok untuk tidak fokus ke suatu hal dengan mengalihkan perhatian ke hal lain.

Selain itu, outlet berita online mainstream ikut dilibatkan sebagai senjata pamungkas, menggunakan teknik framing – membingkai sebuah peristiwa dengan cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Metode framing disajikan sesuai realitas dimana kebenarannya tidak bisa dipungkiri, tetapi dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu dan menyembunyikan beberapa fakta yang bisa merugikan.

Manipulasi media adalah senjata propaganda modern dalam mempengaruhi publik, umumnya digunakan dalam ranah politik untuk memikat pemilih, menggunakan retorika, manipulasi opini publik, berita palsu (hoax), iklan, aktivisme, perang psikologis, public relations (PR), atau framing media massa.

Aktivitasnya menggunakan teknik astroturfing (strategi kampanye atau promosi terselubung), clickbait (digunakan oleh outlet berita), gangguan (pengalihan isu), troll (mengalihkan perhatian hingga keluar dari konteks pembahasan), ad populum (menyesatkan pikiran), manipulasi opini publik (diciptakan oleh aktor-aktor politik), dan teknik lainnya yang digerakan secara terorganisir.

Kekonyolan ini tetap terjadi, buta dengan kontestasi dengan kesepakatan nyata, namun masih saja ada para politisi yang konon ingin memperbaiki bangsa saling serang padahal masih satu sekoci.

Ada satu parpol yang menjadi bulan-bulanan jagad maya oposisi, dengan stigma “Abu-abu”, lantas merasa begitu risih dengan keberadaannya. Tetapi, tidak melihat seberapa besar lawan politik di depan mata. Merasa kuat dengan berjuang sendiri adalah kesombongan. Padahal informasi yang diperoleh juga dengan propaganda massiv akun-akun siluman yang mengkondisikan agar oposisi tidak bersatu, karena hal itulah yang sebetulnya ditakutkan musuh politik.

Kalaupun musuh, maka cerdaslah, Ini kancah politik, segala kemungkinan itu akan terjadi. Bahwa pertarungan selalu penuh dengan hitung-hitungan, jangan merasa besar sendiri, itu yang selalu saya katakan di akun media sosial saya.

Dalam pertempuran apalagi politik, maka saya sering katakan, “Rangkul satu musuh untuk menendang satu musuh yang lebih kuat”. Ya, tetapi dalam politik tak ada musuh abadi, bahkan “Bersikap adil terhadap musuh” adalah prinsip bagi saya pribadi.

Pendukung “Die hard” juga korban media

Gegap gempita nuansa pilpres sudah mulai terjadi. Tetapi terlalu dini untuk berbicara apakah sudah ada di atas angin. Mesin media belum panas, ini baru awal. Berbagai metode propaganda akan dilakukan. Yah, mulai dari pecah suara, meramu gesekan, framing busuk, pembunuhan karakter, hingga fitnah dan hoax yang akan semakin massiv.

………….

Secara bahasa arti propaganda adalah menyebarkan atau menyebarluaskan, awalnya bermakna positif. Kata “propaganda” aslinya berasal dari badan administrasi baru Gereja Katolik (jemaat) yang dibentuk pada tahun 1622, yang disebut Congregatio de Propaganda Fide (Kongres Untuk Menyebarkan Iman). Kegiatannya menyebarkan iman Katolik ke negara-negara non-Katolik.

Sejak tahun 1790-an, istilah itu mulai digunakan untuk merujuk pada propaganda dalam kegiatan-kegiatan sekuler.  Istilah ini mulai mendapat konotasi yang buruk atau negatif pada pertengahan abad ke-19, ketika digunakan dalam lingkup politik. Propaganda ini digunakan dalam skala besar dan terorganisir pertama kali disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia I.

Kekalahan Jerman atas Inggris di Perang Dunia Pertama tidak lepas dari peran propaganda yang dilancarkan Inggris, meruntuhkan semangat pasukan Jerman. Dalam Mein Kampf (buku yang dianggap paling berbahaya di dunia), Hitler menjelaskan teorinya tentang propaganda: “Hitler … tidak membatasi apa yang bisa dilakukan oleh propaganda; orang akan percaya apa pun, asalkan mereka diberitahu itu sangat sering dan cukup tegas, dan oposisi akan dibungkam dan tertahan dalam kesedihan.

Ini yang ditakutkan, terbiasa mengisi memori kepala dengan kebencian tanpa nalar, membuat akhirnya sebagian orang tak bisa membedakan mana jebakan mana yang harus diolah atau menjadi bagian dari perjuangan.

…………..

Mungkin akan dimunculkan pemberitaan media dengan tak lagi menyerang kubu lawan secara frontal, tetapi melakukan pembusukan “orang yang didukung” dengan narasi yang diciptakan, hingga semangat para pendukung menjadi lemah, putus asa, hingga akhirnya kemungkinan terburuk adalah pindah dukungan.

Konyolnya lagi, para pendukung garis beton ini begitu taklid buta. Hingga narasi media disamber atau dilahap, kemudian disebarluaskan tanpa melihat isi pemberitaan. Ketika isinya kontra dengan headline, maka bersiaplah disebut “faqir quota”. Ini sering terjadi, bahkan jangankan berita politik, berita ranah entertain saja kadang pendukung oposisi ini begitu mudah berteriak tanpa melihat isi. Ini jelas pola jebakan betmen dan terus diulang tanpa mau evaluasi.

Komentar yang berapi-api dari para pendukung oposisi ini saat “re-quote” kicau media, tanpa membaca isi, modal capture tanpa link, seperti membuat jebakan betmen untuk diri sendiri. Belum lagi ada satu tim sorai parpol yang sedang kisuh internal, ninyir dari media untuk menyerang parpolnya sendiri, tapi seakan merasa benar apa yang dikatakan media. Seperti headline media itu mereka anggap sabda saja, atau wahyu yang seratus persen berupa pesan.

Padahal hanya berita, yang harus dibaca terlebih dahulu, kemudian konfirmasi pemberitaan, bukan meledak-ledak. Media itu ada editor ada redaksi, apakah percaya dengan independensi sebuah media?

Seperti saat ini, narasi ulama atau berita tentang ulama yang menjadi pasangan petahana keluar dari media. Lantas sebagian pendukung oposisi ini seakan-akan percaya bahwa berita itu adalah seratus persen ucapan ulama. Tidak pernah berpikir bahwa disitu ada pola yang memaksa kubu oposisi untuk menyalak liar, menyudutkan ulama dengan bermodal narasi headline.

Seorang ahli ilmu neural (neurosains), Albert Maoukheiber, menjelaskan mengapa otak kita cenderung dapat terpengaruh, ia memilah-milah informasi yang diterimanya berdasarkan heuristik, yaitu jalan pintas untuk perkiraan cara memecahkan masalah. Terkadang mekanisme penyaringan ini salah dan terjadi kesalahan.

Sebuah informasi dan berita yang kita terima akan menjadi salah atau benar tergantung bagaimana otak menerimanya. Ketika informasi bertentangan dengan apa yang ada di dalam otak, kita akan lebih waspada terhadap setiap fakta yang memperkuatnya.

Singkatnya, otak akan menyortir setiap fakta hingga menjadi kebenaran sesuai dengan selera otak. Ketika informasi hadir, kita akan menilainya secara spontan berdasarkan pendapat, kita tidak bisa memperlakukan informasi secara objektif sebelum memverifikasinya secara mendalam.

Sebagai penutup, hendaknya evaluasi diri agar tak mudah termakan propaganda media, yang bisa jadi bumerang padahal niat untuk menyampaikannya baik. Apalagi asal share informasi hanya bermodal headline yang kebetulan menguntungkan argumen , atau me-RT berita tanpa melihat dampak apa kedepannya terutama bagi kesolidan. Sebab jika kita membaca apa yang disampaikan Megan Burns dari Carnegie Mellon University, ada 5 hal yang diperlukan jika terlibat dalam perang informasi, dan mungkin ini tengah dilakukan oleh lawan politik oposisi.

Pertama, pengumpulan informasi. Semakin baik informasi yang dimiliki, maka perencanaan pertempuran juga akan semakin baik, sehingga bisa memberikan hasil peperangan yang baik juga.

Kedua, pengiriman informasi. Mempunyai informasi itu bagus, tapi tak terlalu berarti jika tidak mempunyai cara, alat, dan kemampuan untuk mengirimkan informasi itu ke pihak yang tepat.

Ketiga, perlindungan informasi. Informasi yang dimiliki harus dilindungi agar tidak bisa diakses oleh lawan.

Keempat, manipulasi informasi. Informasi diubah sedemikian rupa agar musuh tersesat.

Kelima, penggangguan, pelemahan, dan penolakan informasi. Termasuk memalsukan informasi sehingga sistem musuh memilih keputusan yang salah, dan juga memblokade arus informasi.

Apa pun dan bagaimana pun perang informasi itu akan berlangsung, perang informasi bukanlah tujuan. Seperti peperangan jenis lain, perang informasi adalah sarana untuk mencapai tujuan. Namun berbeda dengan perang yang lain, perang informasi lebih mengarah ke upaya untuk mengalahkan strategi musuh ketimbang menumpas pasukan musuh.

Sebagian orang membayangkan perang informasi itu berupa pertempuran siber saling serang antar pasukan ahli teknologi informasi yang saling bermusuhan secara virtual. Perkiraan itu tidak tepat. Perang informasi merupakan gabungan antara perang elektronik, perang siber dan operasi psikologi yang secara bersamaan berhimpun dalam satu organisasi pertempuran.

Sekian. [Paradok]

Tentang Sawit dan Partai Milenial Agenda Kolonial

Baca Artikel

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional berpesan agar Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak mengeluarkan argumen ngawur soal industri sawit dijadikan stimulus menstabilkan nilai tukar Rupiah. Walhi malah menganggap bahwa partai baru ini seperti membawa agenda kolonial atas argumentasinya.

Berikut respon Walhi atas argumentasi PSI yang dituangkan ke dalam akun Twitter resmi miliknya, @walhinasional, Senin (17/9/2018):

Pagi Sahabat WALHI di seantero Negeri. bentar lagi kita mau kasi pandangan nih terkait bredarnya VIDEO #GagalPaham yang dibuat Sis-Bro Partai Solidaritas Indonesia @psi_id tentang dukunganya pada Industri Sawi yang diargumentasikan untuk stabilkan Rupiah. Duh, Partai Milenial kok agenda kolonial.

WALHI organisasi lingkungan hidup yang selama berpuluh tahun telah melakukan advokasi atas fakta buruk perkebunan sawit di Indonesia yang berdampak buruk bagi lingkungan hidup dan keselamatan rakyat. Perlu sampaikan kritik & pandangan, agar tidak terjadi pengaburan fakta pada publik, khususnya kaum muda, atas fakta buram perkebunan sawit di Indonesia dan berbagai negara lain di dunia.

Dalam video Gadget Murah Karena Sawit maupun dalam klarifikasi penjelasan yang disampaikan oleh PSI, kami menilai bahwa Sis Bro pengurus PSI gagal paham terhadap persoalan mendasar sawit di Indonesia dan bahkan dalam konteks global, dan semakin nggak nyambung jika dihubungkan dengan tujuan video ini, agar rupiah stabil. Pernyataan ini ingin menegaskan bahwa sawit sebagai penopang ekonomi bangsa Indonesia adalah sebuah mitos, termasuk adanya sawit putih.

Bagi kami, tidak ada sawit “putih” atau berkelanjutan, karena karakter komoditas ini adalah monokultur dan sudah dipastikan menghancurkan hutan. Pernyataan Partai Solidaritas Indonesia terkait sumbangsih ekonomi korporasi sawit, didasarkan pada argumentasi yang parsial dan sempit.

Kami memberikan beberapa catatan atau kritik penting terhadap kampanye sawit dalam video singkat tersebut dan penjelasan atau klarifikasi dari PSI, antara lain sebagai berikut:

Dari Sisi Ekonomi

(1) Klaim bahwa sektor kelapa sawit memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional (dengan nilai ekspor mencapai 15 persen dari total ekspor Indonesia- BPS 2017). Tetapi, menggunakan angka tersebut sebagai dasar tunggal kebijakan sangatlah tidak tepat dan klaim devisa juga tidak tepat karena sebagian besar devisa hasil ekspor justru disimpan di negara suaka pajak (tax haven countries).

Sementara perkebunan kelapa sawit juga berdampak negatif besar pada hak-hak dasar dan kelangsungan hidup rakyat.

(2) Dari sisi penerimaan pajak justru menunjukkan fakta sebaliknya. Pada tahun 2015, tercatat tingkat kepatuhan perusahaan hanya 46,34 persen. Negara kehilangan potensi penerimaan pajak sebesar 18 triliun rupiah setiap tahunnya dari ketidakpatuhan tersebut. (laporan KPK-2016 Kajian Sistem Pengelolaan Komoditas Kelapa Sawit)

Direktorat Penelitian dan Pengembangan Kedeputian Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam pemberitaan berbagai Media pada periode maret 2018,  bahkan KPK menyampaikan menemukan sekitar 63.000 Wajib Pajak. Di sektor industri sawit bermasalah, terkait dengan dugaan penghindaran setoran pajak dan pemungutan yang tak optimal dari Direktorat Jenderal Pajak.

(3) @KPK_RI telah nyatakan bhwa krugian atau biaya lingkungan hidup yang diakibatkan oleh industri ekstraktif adlh kerugian negara. Pernyataan KPK ini tunjukkan sebuah kesadaran bahwa selama ini memang biaya lingkungan hidup akibat praktik buruk korporasi dibebankan pada negara dan rakyat. Kerugian negara dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada tahu 2015 yang mencapai 200 triliun menunjukkan bahwa investasi berbasis lahan seperti sawit, justru merugikan keuangan negara.

Terlebih kita tahu, kuatnya dugaan korupsi di sektor perkebunan sawit. Itu mengapa KPK membentuk korsup sawit, selain korsup minerba. Usulan @psi_id untuk menghapus pungutan sawit juga keliru. Ini membuat pengusaha sawit diuntungkan dua kali, dari nilai kurs yang meningkat dan pembebasan dari kewajiban membayar pungutan sawit.

Dampak Lingkungan Hidup

(1) masih segar ingatan kita pada Agustus 2018 lalu, saat kebakaram hutan meningkat kembali, khususnya pada wilayah Sumatera dan kalimantan, bahkan Kalimantan Barat, pada Kota Pontianak sampai meliburkan semua anak sekolah karena dampak asap yang semakin tinggi.

Faktanya di Kalimantan barat sebagai wilayah titik api tertinggi hingga Agustus 2018 terdapat 102 titik api di konsesi perkebunan kelapa sawit, (Laporan WALHI Kalimantan barat berSumber: Hotspot NASA (firms.modaps.eosdis.nasa.gov). WALHI mencatat dari berbagai sumber, diketahui bahwa 4.389.757 hektar ekosistem gambut secara langsung dirusak oleh sebanyak 291 perusahaan, yang terdiri dari 193 perusahaan sawit.

(2) Dari data pelepasan Kawasan Hutan untuk Perkebunanan/Pertanian melalui mekanisme permohonan langsung badan Usaha, hingga tahun 2016 KLHK telah mencapai 6.772.633  Hektar terhadap 702 Perusahaan Perkebunan didominasi oleh sawit.

(3) Celah kebijakan dalam banyak laporan eksekutif daerah WALHI juga banyak menemukan Kelompok Pengusaha Kelapa Sawit yang beroperasi dalam kawasan hutan, dengan memanfaatkan celah pada kebijakan TORA.

Kebijakan TORA dari kawasan hutan masih mengatasnamakan rakyat untuk melindungi kepentingan perkebunan kelapa sawit.

Tercatat hingga saat ini 859 korporasi perusahaan sawit beroperasi dalam kawasan hutan. Faktanya, justru banyak kebijakan yang menyediakan ruang bagi korporasi, belum termasuk berbagai keistimewaan yang sedang disusun dalam RUU Perkelapasawitan.

(4) Jika @psi_id mengatakan bahwa ini hanya kebijakan sementara, kami mempertanyakan apa yang dmaksud dengan kebijakan sementara? Jika kampanyenya justru melanggengkan praktik pelanggaran hak asasi manusia dan lingkungan. Pada akhirnya, @psi_id mengabaikan fakta kejahatan lingkungan dan kemanusiaan yang telah dilakukan oleh perkebunan sawit seabad lamanya. Ada luka yang tidak pernah disembuhkan dari praktik perampasan tanah, pelanggaran ham, pencemaran lingkungan.

Sebagai partai politik baru, harusnya @psi_id ini muncul dengan gagasan baru yang membawa harapan bagi keselamatan masa depan bumi dan kemanusiaan yang lebih baik, demi generasi yang akan datang. Bukan justru menggadang-gadang model ekonomi yang usang dan rapuh seperti sawit. terlebih dengan pendekatan yang tidak kalah jadulnya, yakni sumber daya alam untuk ekspor sebesar-besarnya, sementara untuk kebutuhan dalam negeri justru impor. Yang seharusnya didorong dan disuarakan adalah kebijakan korektif untuk membenahi tata kelola sumber daya alam kita.

Namun pembenahan tata kelola mustahil terjadi jika tidak diawali dengan moratorium sawit, yang sekarang draft kebijakannya sudah ada di meja Presiden. @psi_id. Moratorium sawit pun harus dibarengi dengan audit lingkungan, review perizinan dan bahkan pencabutan izin bagi perusahaan-perusahaan sawit yang melanggar hukum dan perundang-undangan.

Please jangan sesatkan pikiran Milenial dengan argumentasi ngawur ini @psi_id. []


Pranala luar:
1. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180918084510-32-330981/walhi-soal-sawit-psi-partai-milenial-beragenda-kolonial
2. https://www.voa-islam.com/read/politik-indonesia/2018/09/18/60126/walhi-labrak-psi-partai-milenial-agenda-kolonial/
3. https://www.nusanews.id/2018/09/walhi-soal-sawit-psi-partai-milenial.html
4. https://www.radiodms.com/klaim-sawit-sumbang-devisa-negarapsi-kena-sindir-walhi/

Islam, Para Penumpang Gelap, Dan Nusantara

Baca Artikel

Penumpang gelap, bisa disebut juga siluman atau para penyusup dalam ranah strategi dan juga perang. Wujud penumpang gelap yang sulit terdeteksi, sebab mereka sangat mahir memainkan peran. Mereka bisa bergerak menjadi siapa saja, mereka bisa menyerupai apa yang mereka mau, mereka seperti hasil kloning yang dimodifikasi berdasarkan agenda yang mereka rencanakan.

Berbagi peran dalam menyusun rencana dan memanfaatkan momentum adalah kelebihan dari para penumpang gelap ini. Dalam tulisan saya sebelumnya pernah membahas perkara “Corporated Warrior” dan Rakhine. Operasi senyap dalam mengkondisikan konflik secara sistematis.

Mereka bisa ganti topeng semau mereka.

Ya, mengapa sulit terdeteksi?

Menanam agenda dengan mengoperasikan segelintir kelompok guna mengkondisikan kejadian adalah mudah. Mendandani mereka sebagai muslim atau budha dalam konflik di Rakhine, dengan sebaran di sejumlah titik, lantas provokasi masing-masing kelompok hingga puncaknya saling serang dan mereka para penumpang gelap langsung ditarik dari titik-titik secara perlahan.

Pecah konflik, dan menghilang.

…………

Beranjak dari pembahasan Rakhine dan Corporated Warriors, kini kita membahas bagaimana dengan kondisi yang ada di Indonesia terkait dengan hal viral yang menyeret dua kata dan menjadi terminologi yang ramai diperbincangkan, islam dan nusantara. Islam di Indonesia telah lama, jalur perdagangan menjadi metode dakwah hingga akhirnya bisa diterima dengan nilai dan budaya lokal. Sudah cukup lama menyatu dengan nusantara. Selama ini baik-baik saja, dan berjalan normal dan biasa saja. Tetapi, generalisir bahwa islam dan nusantara total harus berbau budaya dan kebiasaan masyarakat lokal terjadi. Sehingga islam dan nusantara mengalami kesalahan tafsir atau disorientasi.

Budaya Indonesia dan islam sudah melekat, tentu hal ini tidak bisa digeneralisir dan menabrak aturan islam terkait akidah. Ada batasan, ada rujukan, bahwa keramahan lokal yang akhirnya diserap islam tentu dapat diterima dengan akal sehat, aturan dasar dalam islam, serta nalar sebagai musim sejati. Tidak mungkin juga hal-hal yang berkaitan dengan akidah ditabrak demi label islam dan nusantara.

Ada juga ulah para penumpang gelap, yang meng-generalisir tentang perbedaan khilafiyah sebagi olahan stigma untuk agenda politik mereka sendiri. Mereka kerap gunakan narasi – hasil generalisir atau justifikasi – perbedaan khilafiyah sebagai, sebagai kelompok radikal, ekstrimis, intoleran, takfiri, anti bhineka. Hingga lebih parahnya mereka kerap gunakan stigma Wahabi, pada mereka yang teguh menjalankan aturan sunnah, quran, serta tegas terhadap hal berbau syirik. Dari situ mereka lakukan olahan stigma atau labeling, dan mencoba menggiring opini untuk menjauhi hal-hal berbau arab.

Sikap ekslusif ini jelas kontra dengan semangat kebersamaan, dan inilah salah satu agenda mereka para penumpang gelap, untuk memecah belah umat islam. Ya, saya jelaskan penumpang gelap, selain menjadi penumpang gelap pada “islam dan nusantara” mereka juga menjadi penumpang gelap atau siluman salah satu ormas besar.

Tidak salah konsep islam dan nusantara yang digagas oleh tokoh-tokoh yang sama-sama kita hormati, karena pada awalnya memang berkonsep sesuai ahlulsunnah, islam rahmah, menebar cinta, dan penuh nilai-nilai persatuan. Ya, tanpa merusak arti dan aturan islam itu sendiri dari segi akidah, dan menerima perbedaan khilafiyah demi persatuan umat islam di Indonesia, sangat luar biasa.

Tetapi, kooptasi islam dan nusantara dilakukan. Padahal tujuan awal islam dan nilai nusantara cukup apik dengan segala aturan berdasarkan konsep ahlulsunnah dan islam yang rahmatan lil ‘alamin. Itu juga berdasarkan penjelasan ulama yang sama-sama kita hormati, Buya Yahya serta para Habaib yang jauh lebih dulu tanpa gembar gembor merasa paling nusantara telah mengajarkan islam di nusantara dengan penuh keramahan dan sesuai syariat islam. Mereka juga kerap menjelaskan perbedaan itu indah, baik fiqh dan mahzab. Luar biasa cara pandang para ulama hanif dan Habaib yang tanpa gembar gembor mengaku paling nusantara seperti para penumpang gelap yang justeru lakukan “Soft Terror”, bentuk yang dilakukan para penumpang gelap ini adalah benar-benar “Soft Terror”, karena lakukan disorientasi makna islam dan nusantara, dengan generalisir perbedaan khilafiyah sebagai bentuk pembangkangan yang secara tak langsung membelah umat islam di Indonesia.

Belum lagi ulah para penumpang gelap ini yang menunggangi ormas besar, mereka berhasil masuk dengan sejuta wajah. Mereka para penumpang gelap kerap menjual nama besar ormas, mengaku-ngaku sebagai yang paling memiliki ormas, lantas membenturkan ormas yang ditunggangi dengan ormas atau kelompok islam lainnya. Inilah agenda para penumpang gelap yang mengkooptasi islam dan nusantara versi mereka, bukan versi original yang disepakati ormasnya dan para ulama dan Habaib yang selama ini telah implementasikan dakwah khas nusantara, tetapi tidak merasa mengaku paling nusantara, tidak anti arab, memahami perbedaan mahzab dan khilafiyah sehingga mampu merangkul umat dengan segala perbedaan demi persatuan Indonesia.

Siapa sebenarnya para penumpang gelap ini? Bagaimana pola mereka menggiring opini, kooptasi “islam dan nusantara”, serta adu domba umat islam di Indonesia? []

Oleh Jack Vardan
Author Of JaxNetwork. Member gerakan tertib nalar.
Dipublikasikan oleh Paradok

Jumat, 21 September 2018

Bahaya Makanan Hasil Rekayasa Genetika (GMO) Monsanto

Baca Artikel

Monsanto perusahaan argikultur asal Amerika Serikat ini adalah suatu perusahaan yang menjadi rahasia umum di negaranya, bahwa Monsanto adalah sebuah bisnis besar. Monsanto memproduksi benih makanan dengan menggunakan teknik rekayasa genetika, benih makanan tersebut melalui proses pencampuran gen dari spesies yang tidak sejenis.

Melalui teknologi biokima Monsanto dapat menciptakan apa saja terhadap benih agar menghasilkan bahan pangan sesuai keinginan mereka. Karakteristik perusahaan Monsanto yang penuh pencitraan, disertai sokongan pejabat di sana, membuat mereka seolah-olah tutup mata dengan apa yang mereka kerjakan hanya mengejar untung (profit) yang sebesar-besarnya.

Dengan teknik rekayasa genentika mereka dengan leluasa membuat pruduk benih-benih sesuai keinginan mereka yang sering disebut dengan GMO (Genetically Modified Organism).

Apa Itu Rekayasa Genetika?

GMO (Genetically Modified Organism) organisme yang secara genetik material telah dimodifikasi menggunakan teknik rekayasa genetika dengan cara menstranfer, mengubah, menambah atau mengurangi DNA suatu makhluk hidup, terhadap makhluk hidup lainnya.

“Dengan tujuan agar makhluk hidup tersebut lebih kuat, lebih kebal, lebih produktif, sehingga mampu menekan kerugian hingga 98% daripada normalnya.”

Tidak hanya itu hasil dari rekayasa genetika ini dapat menciptakan spesies atau sub-spesies baru akibat perubahan trans genetika yang disengaja terhadap makhluk hidup tersebut, mengagumkan bukan? sungguh luar biasa pola pikir licik peruasahaan Monsanto ini.

Proses inilah yang dapat menyebabkan benih makanan yang telah dimodifikasi secara genetik bisa menimbulkan berbagai penyakit diataranya adalah terjadi gangguan di pertumbuhan fisik dan psikologi dalam waktu yang agak lama dan efek buruknya bisa menimbulkan penyakit kanker, cacat fisik dan kematian bagi yang mengkonsumsinya.

Hasil dari GMO diantaranya adalah sering kita jumpai yaitu seperti  sayur-sayuran, buah-buahan, ikan dan daging. Monsanto melalui banyak ekperimennya dengan menggabungkan transmisi genetik antar makhluk hidup dari spesies berbeda.

“Oleh sebab itu produk GMO sering juga disebut organisme transgenic.”

Contoh Modifikasi Genetika Monsanto

Berikut ini berbagai macam variasi tranmisi genetik yang sudah dilakukan oleh Monsanto untuk mendukung bisnis terbesarnya yaitu produk GMO:

1. Jagung dan kedelai disuntIk dengan gen bakteri Bacilus Thurigiensis (Bt) agar tahan terhadap hama atau resistan terhadap racun hama.

2. Padi disuntik dgn gen manusia agar menghasilkan beras yg dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan

3. Sapi perah disuntik dgn hormon buatan rGBH  untuk mempercepat produksi susu lebih banyak sehingga proses ini dapat menguntungkan industri sapi perah. Atau sapi perah disuntik dgn gen manusia agar menghasilkan susu setara “susu manusia” utk dikonsumsi para bayi.

4. Babi disuntik dengan gen manusia agar melahirkan keturunan yang organ tubuhnya dapat digunakan untuk transplantasi

5.Kambing disuntik dengan gen laba-laba agar mnghasilkan susu berprotein tinggi untuk keperluan industri kulit.

6. Ayam pedaging disuntik dengan hormon pertumbuhan agar tumbuh lebih cepat dan lebih besar

 Hasil rekayasa genetika GMO

7. Proses modifikasi gen tomat dengan gen antibeku dari ikan air dingin, yang bernama winter flounder (Pseudopleuronectes americanus). Proses ini dilakukan untuk menghasilkan tanaman tomat yang tahan terhadap cuaca  lingkungan yang dingin.

Hasil rekayasa genetika GMO

Itulah beberapa contoh hasil rekayasa genetika Monsanto tak pernah terpikirkan oleh masyarakat awam bahwa itu semua dapat dilakukan oleh peruasahan asal Amerika ini.

Seolah-olah mereka bermain sebagai tuhan (playing God) menciptakan sesuatu dari proses penggabungan gen makhluk hidup berbeda jenis secara paksa.

Dampak Negatif GMO

Jeffrey Smith penulis buku Seeds of Deception dan Genetik Roulette, salah satu buku yang banyak memberikan informasi tentang efek buruk makanan GMO, terdapat 65 risiko kesehatan serius akibat mengkonsumsi produk GMO, berikut salah satu contohnya:

1. Keturunan tikus diberi makan kedelai transgenik menunjukan peningkatan lima kali lipak resiko kematian, bayi yang di lhairkan tidak cukup berat badan, ketidakmampuan berproduksi.

2. Tikus jantan yang diberi makan kedelai transgenik, mengalami kerusakan sel-sel sperma muda.

3. Dapat merubah fungsi DNA dari embrio tikus yang diberikan makan kedelai transgenik (GMO).

4. Beberapa petani di AS telah melaporkan masalah kemandulan atau kesuburan antara babi dan sapi yang diberi makan   varietas jagung GMO.

5. penyidik di Indial telah mendokumentasikan masalah kesuburan, aborsi, kelahiran prematur, dan masalah kesehatan serius, termasuk  kematian diantaranya kerbau yang diberi makan biji kapas GMO.

6. Hewan yang menkonsumsi makanan GMO mengalami pendarahan perut, berpontensi berumbuhnya sel pra-kanker kerusakan organ dan sistem kekebalan tubuh, peradangan ginjal, masalah dengan darah, sel hati, dan kematian yang tidak dapat dijelaskan.

7. Alergi terhadap kedelai telah menunjukan grafik peningkatan setelah sosialisasi cara menanam menggunakan metode GMO/kedelai transgenik

8. Gen dari tanaman GMO mentrasfer bakteri usus manusia, yang mungkin akan mengubah flora usus anda menjadi hidup seperti pabrik pestisida.

Tikus yang hidup bertahun-tahun mengidap tumor dalam penelitian Monsanto-GMO-Cancer Study, setelah diberi pakan GMO dari Monsanto.

Sampai saat ini masih belum bisa dipastikan apa saja resiko produk mutasi genetika ini, yang pasti produk GMO akan memberikan efek buruk pada kesehatan tubuh konsumennya.

Pada tahun 1994-2001 Dr. smith melakukan penelitian pada saat produk GMO mulai berkeliaran di seluruh pasar dunia, dan telah ditemukan beberapa penyakit yang berhunbungan dengan makanan langsung menunjukan grafik penigkatan yang tajam dua kali lipat.

Dr.Smith juga mengatakan makanan GMO dapat menyebabkan:

1. Alergi.
2. Toxic.
3. Karsinogenik (pemicu kanker).
4. Anti-Gizi.

Tidak menuntut kemungkinan hal ini menciptakan bibit penyakit “aneh” bermunculan yang mungkin belum pernah kita lihat sebelumnya, mereka (Global Elite) terus berusaha untuk mengurangi penduduk dunia (depopulasi) menggunakan berbagai cara salah satunya, merusak mental dan merusak manusia melalui makanan (GMO) yang mengakibatkan terserang penyakit yang sering kita lihat, seperti kanker dan beberapa penyakit berbahaya lainya.

Hasil rekayasa genetika GMO

Kejahatan Monsanto yang Terungkap

Siapakah pendiri perusahaan Monsanto ini ? apa saja yang diproduksi? pada tahun 1901 John F. Queeny mendidirkan perusahaan Monsanto ini dimana produk yang dihaslikan adalah  herbisida (asam 2,4-Diklorofenoksiasetat, herbisida Lasso, Ramrod, Roundup, dll.) dan benih tanaman transgenik, seperti jagung dan kapas, tidak hanya itu bahan bakar alkohol E85 dan hormon somatotropin juga diproduksi oleh Monsanto.

Setelah mengakuisisi Delta & Pine Land tahun 2006 Monsanto menciptakan Benih Terminator, hal ini membuat para petani merugi dikarenakan benih terminator ini hanya untuk penanaman sekali saja dan tidak bisa untuk penanaman selanjutnya.

Dari sini sisi jahat Monsanto sudah tercium, bibit terminator ini memonopoly petani sehingga petani harus beli dan beli lagi seolah olah menjadi lahan bisnis yang subur oleh Monsanto. Akibat hal ini, membuat aktivis dan simpatisan di berbagai negara turun dalam sebuah aksi ” March Against Monsanto”  di tanggal 25 Mei 2013.

Untuk memboikot produk GMO Monsanto, sekitar dua juta orang lebih di 50 negara secara simultan, menyatakan kemarahan atas kelicikan Monsanto. Sungguh kejam apa yang telah dilakukan perusahaan argikultur asal Amerika ini, secara tahu atau tidak tahu kita mengkonsumsi makanan yang telah di rekayasa secara genetik tanpa persetujuan kita.

“Siapa yang mengontrol suplai makanan maka ia mengontrol rakyat” -Henry Kissinger.

Quote di atas adalah salah satu manusia penyembah setan (satanic) yang haus akan mengontrol orang dan serakah, mereka (elit global) berdiam-diam ingin manjadi tuhan di dunia ini.

Pertanyaanya, sudah mengetahui dan lakukan riset kembali, apakah kamu masih mau memberi asupan makanan ‘buatan’ penuh racun? []


Pranala luar:
1. http://www.ark21.com/knowledge/fakta-tentang-gmo-teknologi-rekayasa-genetik-pencipta-organisme-unggul
2. http://www.voa-islam.com/read/intelligent/2013/11/28/27811/anti-monsanto-project-2-rekayasa-jagung-pembunuh-di-indonesia
3. https://indocropcircles.wordpress.com/2013/04/03/picu-kanker-tanaman-trans-genetik-atau-gmo-membahayakan-kesehatan

Kamis, 20 September 2018

Adab Bergaul dengan Lawan Jenis Bukan Mahram

Baca Artikel

Dilahirkan sebagai seorang wanita adalah anugerah yang sangat indah dari Allah Ta’ala. Sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh seorang pria.Terlebih anugerah itu bertambah menjadi muslimah yang mukminah yaitu wanita muslimah yang beriman kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

Menjadi wanita muslimah yang beriman kepada Allah tentu tidak mudah,karena banyak sekali godaan-godan dalam mencapainya. Dikarenakan  balasan yang Allah janjikan pun tidak terbandingkan dan semua wanita pun menginginkannya. Godaan-godaan untuk menjadi wanita shalihah sering kali datang dan menggebu-gebu saat kita menginjak usia remaja,di mana masa puberitas seorang wanita ada di masa ini. Bukan hal yang mudah pula bagi remaja muslim dalam melewati masa ini, namun sungguh sangat indah bagi para remaja yang bisa dikatakan lulus dalam melewati masa pubertas yang penuh godaan ini.

Salah satu godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa ketertarikan terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia, baik wanita atau lelaki. Namun kalau kita tidak bisa memenej perasaan tersebut,maka akan menjadi mala petaka yang amat besar,baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang yang kita sukai. Sudah Allah tunjukkan dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

”Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)

Sebagai wanita muslimah kita harus yakin bahwa kehormatan kita harus dijaga dan dirawat, terlebih ketika berkomunikasi atau bergaul dengan lawan jenis agar tidak ada mudhorot (bahaya) atau bahkan fitnah. Di bawah ini akan kami ungkapkan adab-adab bergaul  dengan lawan jenis. Di antaranya:

Pertama: Dilarang untuk berkholwat (berdua-duan)

TTM, teman tapi mesra, kemana-mana bareng, ke kantin bareng, berangkat sekolah bareng, pulang sekolah bareng. Hal ini merupakan gambaran remaja umumnya saat ini,di mana batas-batas pergaulan di sekolah umum sudah sangat tidak wajar dan melanggar prinsip Islam. Namun tidak mengapa kita sekolah di sekolah umum jika tetap bisa menjaga adb-adab bergaul dengan lawan jenis. Jika ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan maka yang ketiga sebagai pendampingnya adalah setan.

Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)

Daripada setan yang menemani kita lebih baik malaikat bukan? Ngaji,membaca Al Quran dan memahami artinya serta menuntut ilmu agama InsyaAllah malaikatlah yang akan mendampingi kita.Tentu sebagai wanita yang cerdas, kita akan lebih memilih untuk didampingi oleh malaikat.

Kedua: Menundukkan pandangan

Pandangan laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah setan. Kalau cuma sekilas saja atau spontanitas atau tidak sengaja maka tidak menjadi masalah pandangan mata tersebut, pandangan pertama yang tidak sengaja diperbolehkan namun selanjutnya adalah haram.Ketika melihat lawan jenis,maka cepatlah kita tundukkan pandangan itu, sebelum iblis memasuki atau mempengaruhi pikiran dan hati kita. Segera  mohon pertolongan kepada Allah agar kita tidak mengulangi pandangan itu.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)

Ketiga: Jaga aurat terhadap lawan jenis

Jagalah aurat kita dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Maksudnya mahram di sini adalah laki-laki yang haram untuk menikahi kita. Yang tidak termasuk mahram seperti teman sekolah, teman bermain, teman pena bahkan teman dekat pun kalau dia bukan mahram kita, maka kita wajib menutup aurat kita dengan sempurna. Maksud sempurna di sini yaitu kita menggunakan jilbab yang menjulur ke seluruh  tubuh kita dan menutupi dada. Kain yang dimaksud pun adalah kain yang disyariatkan, misal kainnya tidak boleh tipis, tidak boleh sempit, dan tidak membentuk lekuk tubuh kita. Adapun yang bukan termasuk aurat dari seorang wanita adalah kedua telapak tangan dan muka atau wajah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, shahih)

Keempat: Tidak boleh ikhtilat (campur baur antara wanita dan pria)

Ikhtilat itu adalah campur baurnya seorang wanita dengan laki-laki di satu tempat tanpa ada hijab. Di mana ketika tidak ada hijab atau kain pembatas masing-masing wanita atau lelaki tersebut bisa melihat lawan jenis dengan sangat mudah dan sesuka hatinya. Tentu kita sebagai wanita muslimah tidak mau dijadikan obyek pandangan oleh banyak laki-laki bukan? Oleh karena itu kita harus menundukkan pandangan,demikian pun yang laki-laki mempunyai kewajiban yang sama untuk menundukkan pandangannya terhadap wanita yang bukan mahramnya, karena ini adalah perintah Allah dalam Al Qur’an dan akan menjadi berdosa bila kita tidak mentaatinya.

Kelima: Menjaga kemaluan

Menjaga kemaluan juga bukan hal yang mudah,karena dewasa ini banyak sekali remaja yamng terjebak ke dalam pergaulan dan seks bebas. Sebagai muslim kita wajib tahu bagaimana caranya menjaga kemaluan. Caranya antara lain dengan tidak melihat gambar-gambar yang senonoh atau membangkitkan nafsu syahwat, tidak terlalu sering membaca atau menonton kisah-kisah percintaan, tidak terlalu sering berbicara atau berkomunikasi dengan lawan jenis, baik bicara langsung (tatap muka) ataupun melalui telepon, SMS, chatting, YM dan media komunikasi lainnya.

Sudah selayaknya sebagai seorang muslim-muslimah baik remaja atau dewasa, kita mempunyai niat yang sungguh-sungguh untuk mematuhi adab-adab bergaul dengan lawan jenis tersebut. Semoga Allah memudahkan usaha kita. Aamiin. []


Penulis: Ummu Zainab (Santri Ma’had Umar)
Muroja’ah: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com

Inilah Akibat Dari Perbuatan Dosa dan Maksiat

Baca Artikel

Barangsiapa yang menaati perintah Allah maka akan meraih kemenangan di dunia dan akhirat. Akan tetapi apabila melanggar perintah Allah maka akan masuk ke kelompok orang yang merugi di dunia akhirat. Maka diri manusia itu sendirilah yang menyebabkan dia sengasara ataupun bahagia. Allah berfirman :

{إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ}

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri.” (QS.Al-Ra’d :11).

Makna firman di atas adalah Allah tidak akan mengubah dan mengganti keadaan seseorang, masyarakat atau umat yang diberi cobaan, musibah, dan kesulitan, sehingga mereka mencoba mengubah keadaan diri mereka sendiri, yang diliputi kemaksiatan, penyimpangan, dan dosa. Dengan kata lain, perubahan dari Allah hanya terjadi setelah adanya perubahan dari manusia itu sendiri dengan meninggalkan kemaksiatan.

Dosa, kedzaliman, keberpalingan kita dari perintah Allah, kesibukan dengan dunia dan kenikmatan yang fana, serta kelalaian akan kematian dan dahsyatnya alam kubur; semua itu dapat membuat hati kita mengeras seperti batu, tidak bisa tersentuh dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekitar berupa ayat-ayat, peristiwa, dan peringatan. Ia telah menjelma menjadi jiwa yang mati dan tak memiliki ruh.

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham pernah ditanya : “Mengapa kita selalu berdoa, namun doa itu tidak pernah dikabulkan? Padahal Allah telah berfirman:

{ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}

“Berdo’alah kalian kepadaKu, Aku akan mengabulkannya untuk kalian.” (QS.Ghafir:60).

Dan inilah beberapa jawaban beliau,

1. Kalian telah mengetahui hak Allah, tapi tidak menunaikannya.
2. Kalian membaca Al-Qur’an, namun tidak mengamalkan batasan-batasannya.
3. Kalian mengatakan mencintai Rasulullah, namun kalian tidak mengamalkan Sunnah beliau.
4. Kalian mengatakan takut kematian, namun kalian tidak menyiapkan diri untuk itu.
5. Allah berfirman,


 {إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا}

“Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS.Fathir:6), namun kalian justru menyepakati untuk berbuat maksiat.

6. Kalian mengatakan takut neraka, namun kalian justru memasukkan diri kalian sendiri ke dalamnya.
7. Kalian mengatakan bahwa mencintai surga, namun kalian tidak bekerja meraihnya.
8. Dan jika kalian bangun dari pembaringan kalian, kalian melemparkan aib-aib kalian ke belakang punggung kalian, untuk kemudian menunggangi aib-aib orang lain, sehingga kalian membuat Rabb kalian murka.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah perkara yang menyebabkan kematian hati dan penyebab yang mengantarkan seseorang ke dalam keterpurukan, akibat jauhnya ia dari Islam dan tuntunannya serta dampak maksiat yang dilakukannya.

Berikut ini, beberapa dampak perbuatan maksiat dan dosa sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Al-Jawab Al-Kafy:

1. Pelaku maksiat akan terhalang dari ilmu, karena ilmu adalah cahaya dan kemaksiatan akan memadamkannya.
2. Pelaku maksiat akan menemukan rasa takut dan cemas saat berinteraksi dengan sesama manusia.
3. Tercabutnya pandangan buruk terhadap maksiat dari hatinya, hingga menganggapnya sebagai suatu yang biasa, bahkan terang-terangan.
4. Maksiat akan mewariskan kehinaan dan kerendahan.
5. Tidak akan menemukan manisnya iman, ketaatan dan ibadah kepada Allah.
6. Maksiat akan menyemaikan maksiat yang lain.
7. Allah akan meninggalkannya berkubang dengan hawa nafsu dan setannya. Ia pun terhalangi untuk “bersahabat” dengan malaikat serta mendapatkan doa mereka.
8. Kemaksiatan akan mematikan mata hati.
9. Kemaksiatan akan membakar keberkahan usia.
10. Kemaksiatan akan mengelamkan wajah, menggelapkan hati, dan mengurangi rezeki.

Betapa butuhnya kita untuk bertaubat dengan jujur dan didasari aqidah yang bersih. Maka demi Allah, tidak ada keselamatan bagi kita kecuali dengan merasakan pengawasaan Allah, baik dalam kesendirian maupun tidak.

Tidak ada keselamatan bagi kita kecuali dengan kembali kepada-Nya, karena hanya Dialah yang memiliki rahmat yang sangat luas, menerima taubat hamba-Nya, serta mengajak mereka untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

{وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman agar kalian beruntung.” (QS.An-Nur:31)

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah sebelum kematian menjemput kalian. Bersegerahlah untuk melakukan amalan-amalan shalih sebelum kalian tersibukkan. Sambunglah hubungan antara kalian dengan Tuhan kalian dengan banyak mengingat-Nya dan banyak bersedekah dalam kesendirian dan keramaian, niscaya kalian akan dikaruniai rezeki, akan ditolong dan dikuatkan.”

Semoga kita selalu tersadarkan dan merasa takut kepada Allah, agar hati kita tenang dan senantiasa merasakan manisnya iman, hingga meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. []



[Sumber: Buku Betapa Singkatnya Dunia Ini!, Penulis Zainuddin, ‘Amir Al-Zaibary Muhammad Ihsan, Penerbit Sukses Publishing, Bekasi, 2011, Cetakan ke-1, dengan beberapa perubahan redaksi seperlunya]

Penulis: Ima Erwindi
Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah
Artikel www.muslimah.or.id

Selasa, 18 September 2018

Antek-Antek Penguasa Dalam Menebarkan Fitnahnya

Baca Artikel

Dalam sejarah permusuhan antara ahlul haq dan ahlul batil, kita mengenal sosok Namrudz yang pernah hidup masa nabi Ibrahim alaihissalam. Namrudz yang nama lengkapnya Namrudz bin Kan’aan bin Kush bin Ham bin Nuh adalah seorang diktator kejam yang mengaku sebagai tuhan. Ia juga digelari a mighty hunter yang berarti “pemburu yang hebat” atau “pemburu yang perkasa”. Konon, pada era Namrudz lah institusi semacam kepolisian dibuat, hal yang akhirnya menjadi tradisi raja-raja dan penguasa setelahnya demi menjaga dan melindungi kekuasaannya. Inilah yang terjadi pada Imperium Persi dan Romawi, Mesir dan juga Yunani.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

يُوشِكُ، إِنْ طَالَتْ بِكَ مُدَّةٌ، أَنْ تَرَى قَوْمًا فِي أَيْدِيهِمْ مِثْلُ أَذْنَابِ الْبَقَرِ، يَغْدُونَ فِي غَضَبِ اللهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللهِ

Hampir saja, jika kamu masih hidup lebih lama lagi, maka kamu akan melihat suatu kaum yang di tangan mereka ada sesuatu yang mirip ekor-ekor sapi, mereka menjalani waktu pagi di dalam kemarahan Allah dan mereka menjalani waktu sore di dalam kemurkaan Allah. [HR. Muslim: Shahîh Muslim, kitab Al-Jannah.]

Saat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam masih hidup, beliau tidak menyaksikan pemandangan semacam raja atau penguasa yang memiliki prajurit dan pengawal layaknya Namrudz dan Fir’aun. Pola kepemimpinan bangsa Arab memang tidak sebagaimana negara-negara adikuasa masa itu. Karenanya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidak menyaksikan pemandangan yang semacam itu pada kaumnya.

Namun, ketika dalam perjalanan Isra mi’raj -saat diperlihatkan surga dan neraka- Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melihat dua golongan manusia penduduk neraka yang sewaktu di dunia beliau Shalallahu 'Alaihi Wassalam belum pernah melihatnya. Salah satunya adalah suatu kaum yang profesinya seperti para pengawal raja-raja diktator di masa silam yang tangannya senantiasa menggenggam cemeti. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dua golongan dari kalangan penghuni neraka yang aku tidak pernah melihat keduanya. Suatu kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi, mereka mencambuki manusia dengan cemetinya. Sejumlah wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mereka ini mengajarkan kedurhakaan kepada wanita lain, wanita-wanita yang menyimpang, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau wanginya, padahal sesungguhnya bau wangi surga itu sudah tercium sejak jarak perjalanan sekian dan sekian jauhnya. [HR. Muslim, Al-Libâs wa Az-Zînah, hadits no. 16046.]

Riwayat di atas memuat isyarat akan adanya sebagian antek-antek penguasa yang hobinya menyiksa rakyat dengan senjata cambuk yang ada di tangannya. Antek-antek penguasa semacam ini yang belum pernah disaksikan pada masa Nabi shalallahu alaihi wasallam di masa beliau hidup. Oleh karena itu Nabi shalallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa manusia jenis ini akan muncul di akhir zaman.

Isyarat yang juga termuat dalam riwayat di atas adalah bahwa sangat mungkin antek-antek penguasa itu adalah umat Islam yang bekerja di bawah pemerintah yang diktator. Namun bisa juga mereka adalah orang kafir asli yang menjadi perpanjangan tangan dari pemerintahan zalim itu. Yang pasti, umat Islam sepeninggal nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam akan merasakan beratnya penderitaan manakala hidup di bawah kekuasaan diktator yang dikelilingi oleh para tukang jagal ini.

Pekerjaan yang dimurka dan dilaknat Allah Subḥānahu wa ta'alā

Siapapun yang merenungi pesan nabi di atas, maka akan mengerti bahwa profesi sebagai antek-antek penguasa di era modern ini lebih tepat jika saat ini disematkan kepada polisi dan profesi yang semisal. Dalam satu riwayat disebutkan lafadz ‘syurtian’ yang berarti polisi. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu Sa’id t: ”Benar-benar akan datang kepada kalian suatu zaman yang para penguasanya menjadikan orang-orang jahat sebagai orang-orang kepercayaan mereka dan mereka menunda-nunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya. Barangsiapa mendapati masa mereka, janganlah sekali-kali ia menjadi seorang penasehat, polisi, penarik pajak, atau bendahara bagi mereka.” [HR. Ibnu Hibban. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 360.]

Dalam riwayat lain digambarkan bahwa profesi semacam ini adalah pekerjaan yang pelakunya akan mendapat murka Allah ketika berangkat pagi dan pulang di waktu petang dengan membawa laknat dan kutukan. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

يَخْرُجُ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ الْبَقَرِ، يَغْدُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي غَضَبِهِ

“Di akhir zaman akan terjadi orang-orang yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi, mereka berangkat pagi-pagi dengan kemurkaan Allah dan pulang di sore hari dengan kemarahan dari-Nya. [HR. Ahmad, isnadnya shahih.]

Ya, mereka memang layak untuk mendapatkan kutukan dan kemurkaan Allah Subḥānahu wa ta'alā lantaran mereka senantiasa melakukan perbuatan yang terlaknat, yakni membantu kezhaliman penguasa dalam memaksakan kehendaknya kepada rakyat.

Di luar dosa tolong-menolong dalam kejahatan dan kemunkaran, kita juga kerap menyaksikan dosa-dosa yang banyak mereka lakukan terhadap umat Islam. Belum lagi dosa-dosa yang terkait dengan syirik dan kufur akbar. Nampaknya, terlalu banyak contoh kedzaliman dan kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang terjun dalam pekerjaan ini. Karenanya, sudah sepantasnya seorang muslim menghindar dari fitnah ini. [samirmusa/arrahmah]