Jumat, 15 Desember 2017

Bergerak dan Lawan, Al-Quds Tanah Kita!


”Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.” -Sultan Abdul Hamid II-

Perkataan yang berani tersebut diucapkan Sultan Abdul Hamid II kepada Theodore Hertzl, utusan Zionis Yahudi ketika meminta tanah Al-Quds untuk kaum Yahudi kepada khalifah terakhir kaum muslimin tersebut. Theodore Hertzl tidaklah datang dengan tangan kosong.

Disodorkannya uang sebesar 150 juta poudsterling khusus untuk pribadi sultan, melunasi semua hutang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling, membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank, memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga, serta membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina. (Muhammad Harb, Catatan Harian Abdul Hamid II).

Harta yang tak sedikit nilainya tersebut untuk menyuap Sultan Abdul Hamid II agar sultan mau menyerahkan Al-Quds kepada Yahudi. Tapi sultan tetap bergeming dengan pendiriannya bahwa Al-Quds adalah tanah milik kaum muslimin. Harta dunia pun tak ada artinya dihadapan sultan. Menjaga dan melindungi Al-Quds adalah amanah yang harus diemban dipundaknya sebagai seorang khalifah.

Padahal di satu sisi Daulah Utsmaniyyah sedang dalam kondisi yang paling lemah. Kekalahan akibat Perang Dunia I, telah membuat negara jatuh dalam kebangkrutan. Sekularisasi dan pemberontakan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal lewat Turki Muda-nya telah berhasil menyuntikan benih-benih nasionalisme di seluruh wilayah daulah, yang mengakibatkan terlepasnya satu demi satu wilayah daulah. Melihat kondisi negara yang demikian lemah tak menyurutkan keberanian Sultan Abdul Hamid II melindungi tanah suci Al-Quds dengan kekuatannya yang terakhir.

Bandingkan dengan sikap para penguasa muslim saat ini. Adakah yang seberani beliau? Pasca arogansi Trump mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibukota Israel, serta memerintahkan dimulainya pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke kota bersejarah tersebut ( tirto.id, 7/12 ).

Memang benar dunia bergejolak mulai dari kawasan Timur Tengah, Eropa bahkan Australia. Kecaman pun datang dari berbagai pihak terutama dari dunia Islam menanggapi aksi nekat Trump. Berbagai diplomasi negara pun dilakukan untuk “membujuk” Si Donald mengurungkan rencananya. Pertanyaan kita sekarang solusikah dengan hanya mengecam? Sementara yang dibutuhkan saudara kita di Palestina bukan hanya simpati berupa kecaman, doa dan segunung bantuan baik dukungan moral mau pun materi. Tapi lebih dari itu.

Teringat dahulu bagaimana rakyat Palestina dibebaskan lewat tangan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab. Bertahun-tahun sudah mereka berada dalam bayang-bayang tirani Romawi hingga kabar keagungan Islam yang begitu melindungi dan menjaga rakyatnya baik Islam, Nasrani mau pun Yahudi sampai ke telinga rakyat Al-Quds.

Keadilan dan penjagaan Islam lewat tangan khalifah, telah membuat mereka menunggu-nunggu datangnya cahaya Islam memasuki tanah suci ke dalam bilik-bilik rumah mereka. Sampai saat itu tiba, Pendeta Severius sendirilah yang menyerahkan kunci kota suci ke tangan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab tanpa pertumpahan darah. Membebaskan Al-Quds dari gelapnya penjajah Romawi menuju keadilan dan kegemilangan cahaya Islam yang mulia.

Kondisi yang sama kini sedang terjadi di Palestina. Belenggu penjajahan Israel sejak runtuhnya Daulah Khilafah Ustmaniyyah membuat penderitaan yang tak terbayangkan bagi kita. Rintihan doa, kerasnya perjuangan, dan banyaknya darah yang yang tertumpah telah menghiasai hari-hari kaum muslimin di Palestina. Dengan kesabaran yang tak terbatas mereka bertahan dan menunggu datangnya Shalahuddin Al-Ayubi yang membebaskan mereka dari kejamnya penjajahan Israel. Sebagaimana dahulu mereka dibebaskan dari tentara Perang Salib.

Namun amat disayangkan sekat nasionalisme semu telah menjadi dinding penghalang bagi persatuan umat ini. Nasionalisme yang telah disuntikkan ke dalam tubuh umat ini telah berhasil membuat sebagian kaum muslimin mati rasa terhadap penderitaan yang tengah terjadi di Palestina. Kecaman oleh para penguasa negeri-negeri muslim hanya pencitraan di hadapan dunia. Padahal mereka mampu dengan kekuatan militer yang ada digenggaman tangannya, mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan Palestina. Tapi faktanya tidaklah demikian, mereka pintar berolah kata namun minim tindakan. Mereka sembunyikan tangan-tangan mereka untuk rakyat Palestina, tapi mereka ulurkan tangan-tangan mereka untuk melayani kepentingan AS dan sekutunya.

Konflik yang berkepanjangan di Palestina maupun di negeri-negeri muslim lainnya harusnya mampu membuka mata kita dan menyadarkan pikiran kita bahwa tegaknya khilafah adalah hal yang mendesak bagi dunia. Tak hanya bagi kaum muslimin tapi juga bagi seluruh umat manusia. Kerusakan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme global telah menghantarkan umat manusia ke dalam konflik yang berkepanjangan. Sekularisme telah terbukti gagal melindungi dan menjaga jiwa, harta dan darah manusia, justru sebaliknya telah menjadikan jiwa, harta dan darah kaum muslimin menjadi tumbal bagi eksistensinya.

Maka jalan keluar bagi Palestina bukan hanya dengan diplomasi tanpa solusi, tidak pula cukup dengan kecaman. Bukan hanya dengan penggalangan dana, pengiriman ribuan ton obat-obatan dan makanan, pendirian sekolah dan rumah sakit, walaupun itu dapat sedikit membantu meringankan beban mereka tapi tidak menyelesaikan konflik yang terjadi. Karena sejatinya akar persoalannya adalah ketiadaan pelindung dan pemimpin yang menjaga jiwa, harta, kehormatan dan darah mereka serta menjamin seluruh kebutuhan dasar mereka.

Yang mereka butuhkan adalah seorang khalifah yang melindungi jiwa dan kehormatan mereka. Sebagaimana  Khalifah Mukhtasim Billah melindungi seorang gadis keturunan Rasulullah Saw yang dilecehkan oleh penduduk Amuria. Seruan gadis tersebut telah mampu menggerakkan ribuan pasukan Al-Mukhtasim, yang panjang barisannya tidak putus dari Baghdad sampai Amuria demi menakhlukan Amuria untuk membebaskan seorang gadis saja.

Yang mereka butuhkan adalah seorang khalifah yang menjamin dan menjaga seluruh kebutuhan mereka. Sebagaimana yang dilakukan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab memanggul sendiri gandum di punggungnya untuk rakyatnya, seorang janda dan anak-anaknya.

Wahai Mukhtasim, di mana kau wahai Mukhtasim! Kami menunggu seruan jihadmu untuk membebaskan Palestina dari Zionis Israel laknatullah. Kami telah menyiapkan jiwa, harta dan raga kami untuk membela kehormatan kami demi membebaskan tanah suci kami. Yaa Mukhtasim, Kami menunggu seruanmu di barisan terdepan membebaskan negeri-negeri kaum muslimin dari belenggu rezim zalim. Sudah terlalu lama umat ini bagaikan ayam kehilangan induknya, sudah terlalu lama umat ini tertidur dalam buaian ilusi peradaban Barat yang merusak.

Wahai kaum muslimin, kau lah Al-Mukhtasim abad ini! Jika Ahok mampu menyatukan kita di Indonesia, maka mari kita jadikan pelecehan dan kebodohan sikap yang dilakukan oleh Trump sebagai momentum untuk menyatukan seluruh kaum muslimin di dunia. Mari kita satukan langkah dan bergerak melawan penghinaan yang telah di lakukan Trump beserta sekutunya yang telah merampas Al-Quds tanah kita.

Saatnya kini kita bergerak dan melawan dalam satu langkah seirama dalam naungan sistem yang paripurna, yaitu Khilafah. Karena Khilafahlah yang akan membebaskan manusia dari keburukan kapitalisme yang rakus dan kekerasan peradaban Barat yang rusak. Dan bagi seorang muslim tegaknya Khilafah adalah mahkota kewajiban yang akan menjamin pelaksanaan seluruh kewajiban lainnya untuk melanjutkan kehidupan Islam. Khilafah adalah sumber kemuliaan dan kesatuan umat.

Wallahu a’lam bishshawwab.

Ketahui Sejarahnya:
Sejarah Penjajahan Palestina, "Yang Memiliki Yang Pergi"
Kejahatan Perang Israel, Kekejian Sudah Terlebih Dahulu Lahir di Palestina
Inilah Tujuh Keistimewaan Bumi Palestina
- Wajib Baca! Sejarah Singkat Palestina
- Masa Kelam Masjidil Al Aqsa
Shalahuddin al-Ayyubi, Macan Perang Salib Sang Pembebas al-Quds
- Masih Kudet Dengan Makna Bendera Israel? Ini Penjelasannya





Ummu Naflah
Barisan Emak-emak Militan, tinggal di Tangerang
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com
#Selamatkan Al Quds



Artikel Terkait

loading...