Senin, 05 Maret 2018

Bahaya Ide Feminisme Dalam Sudut Pandang Islam


Islam sering kali disudutkan sebagai agama yang mengekang kebebasan wanita. Padahal, risalah yang dibawa Rasulullah ini sangatlah menjunjung tinggi kedudukan wanita. Bahkan kemuliaan tersebut telah diberikan pada wanita, jauh sebelum munculnya ideologi feminisme Barat.

Sejatinya, ideologi feminisme justru masih jauh tertinggal dengan cara syariat memuliakan wanita. Jika feminisme menyuarakan posisi wanita yang dapat bersaing  dan menjadi lawan pria, Islam justru memberikan posisi yang sejajar dan menjadi kawan pria. Islam memberikan kehormatan pada wanita dan bukan sekedar kebebasan.

Allah tak membedakan wanita atau pria, namun melihat dari sisi ketaqwaan. Al-Qur’an sering kali menyebut wanita dan pria bersamaan dan saling bersanding. Syariat pula memerintahkan agar memperlakukan wanita dengan sangat baik.

Allah berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 97).

“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 73).

Allah juga berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13).

Masih banyak lagi dalil yang menunjukkan betapa Islam memandang setara antara pria dan wanita, juga menghargai dan memuliakan wanita. Lebih dari itu, Islam sangat menjaga wanita yang notabene secara kodrati bersifat lemah lagi lembut. Karenanya, Islam kemudian mensyariatkan adanya beberapa penjagaan pada wanita, salah satunya dengan berhijab.

Jika menilik dalam sejarah, Islam hadir melawan budaya lama Arab yang sangat menghinakan wanita. Dahulu di masa jahiliyyah, wanita adalah aib sehingga bayi-bayi wanita dibunuh oleh ayah dan keluarga mereka sendiri.

Wanita pula tak ubahnya seperti harta yang dapat diwariskan. Banyak kedzaliman yang dilakukan pada wanita karena dianggap hina. Mereka tak memiliki hak suara, tak berkesempatan berkiprah di tengah masyarakat, tak mendapat pendidikan,

Saat Islam hadir, semua budaya Arab itu dihapuskan. Allah bahkan melaknat pembunuhan pada bayi perempuan dan melarang wanita dijadikan barang waris. Sebagai gantinya, wanita diberi kedudukan setara dengan pria dalam hal keimanan dan amal saleh. Wanita pula termasuk pihak yang berhak mendapat waris dan dapat dipercaya sumpahnya.

Para ummul mukminin dan shahabiyyah menjadi bukti betapa Islam menjunjung tinggi derajat wanita. Mereka mengambil peran penting dalam dakwah Islam dan sosial kemasyarakatan. Aisyah merupakan salah satu perawi yang meriwayatkan ribuan hadits. Para sahabat dan tabiin dari kalangan pria bahkan mengambil ilmu pada beliau radhiyallahu ‘anha.

Jumlah shahabiyyah pula mencapai ribuan dan semuanya mengambil ilmu dari Rasulullah. Tak sedikit dari mereka yang turut ke medan perang dan disanjung Rasulullah atas kepandaian ataupun keshalehan mereka.

Di era awal Islam, kedudukan wanita begitu ideal. Syariat datang membawa angin segar bagi kaum hawa. Namun jika kemudian terjadi banyak penyimpangan pada wanita, maka itu dimulai saat kekhalifahan Islam mengambil sistem kerajaan. Menginjak era modern, muslimin setahap demi setahap mulai melupakan syariat Allah dan sunah Rasulullah.

Maka ketika bangsa Barat menggencarkan beragam ideologi, muslimin justru terpana dan membeo mereka. Padahal, apa yang datang dari Barat hanyalah pemikiran manusia yang cacat. Feminisme adalah salah satu buahnya.

Alih-alih menjaga wanita sebagaimana dalam Islam, feminisme Barat justru membebaskan wanita tanpa aturan. Alhasil, kasus kerasan pada wanita justru bermunculan. Alih-alih memberi kedudukan sama rata dengan pria sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, feminisme Barat justru membuat wanita bersaing hingga berakibat buruk pada pria. Jangan heran jika kemudian banyak sekali pria pengangguran karena pekerjaan mereka direbut oleh wanita.

Jika makna feminisme adalah menghargai dan memberikan hak asasi pada wanita. Maka Islam sangat mengusung feminisme. Yang perlu diperhatikan adalah, feminisme dalam Islam begitu sempurna. Feminisme dalam Islam berada di tengah-tengah antara Barat yang terlalu membebaskan para wanita dan tradisi lama yang terlalu mengekang wanita.

Feminisme dalam Islam memberikan hak wanita untuk berkarya dan berkiprah. Sementara itu penjagaan wanita juga disyariatkan dan para pria berkewajiban berlaku lembut pada wanita. Feminisme dalam Islam bukanlah memberikan kebebasan, melainkan kemuliaan.

Feminisme dalam Islam bukanlah hanya tentang hak asasi melainkan juga kehormatan. Karena itu, muslimin hendaknya tak tertipu dengan ideologi Barat yang menyuarakan feminisme, karena sebetulnya Islam telah menyuarakan feminisme yang amat sangat ideal dan para shahabiyyah di era awal Islam telah menerapkannya. [muslimahdaily/berdakwah]





Artikel Terkait