Kamis, 03 Mei 2018

3 Faktor Keberhasilan Generasi Sahabat Keluar dari Masa Jahiliyah


Sebelum Islam datang, para sahabat hanyalah bagian dari bangsa Arab yang saat itu di pandang sebelah mata oleh bangsa lain. Mereka dianggap tidak ada. Kalaupun ada yang mengenal profil mereka di jazirah Arab tidak lebih hanyalah sebagai masyarakat miskin dan bodoh (jahiliyah). Bahkan bangsa superpower sekalipun waktu itu tidak punya minat untuk menjajah negeri yang dikelilingi gurun pasir itu.

Mereka hidup terpecah-pecah antar satu suku dengan suku lainnya. Tidak ada wadah yang mempersatukan mereka kecuali hanya sebatas kesamaan daerah, bahasa atau budaya. Mungkin ini lah yang dinamakan dengan persatuan bangsa pada masa jahiliyah. Persatuan yang rapuh dan gampang terpecah. Terbukti, peperangan antar suku sering terjadi di antara mereka.

Dalam kitab al-Kamil fi at-Tarikh, Ibnu al-Atsir mengisahkan tentang banyaknya perang di masa jahiliyah, Ia mengatakan, “Saya sebutkan hari-hari yang dikenal dan perang-perang yang dikisahkan. Yang merangkum banyak konflik yang sengit. Namun hal itu belum termasuk perampokan, karena hal itu meluas dari tema bahasan.” (Ibnu al-Atsir, al-Kamil fit-Tarikh, 1/454)

Bahkan di hadapan Raja Najasyi, Ja’far bin Abdul Mutthalib pernah menggambarkan kondisi masyarakat mereka dengan berkata, “Wahai paduka, kami dulu adalah orang-orang yang diliputi kebodohan. Kami menyembah patung. Memakan bangkai (hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah). Dan melakukan perbuatan keji. Kami memutus tali kekerabatan. Berlaku buruk terhadap tetangga. Yang kuat menindas yang lemah.” (HR. Ahmad)

Demikianlah kondisi masyarakat jahiliyah, hingga risalah Islam datang mempersatukan mereka. Mereka saling bersatu tanpa ada sekat yang membatasi. Semuanya memiliki derajat yang sama. Tak ada yang membedakan kecuali tingkat ketakwaan. Mulai saat itu lah mereka mulai bangkit dan menjadi masyarakat yang paling disegani di jazirah Arab. Mereka menjadi umat yang terbaik dan mulia dalam catatan sejarah. Allah ta’ala berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali-Imran: 110)

Pertanyaannya, apa yang menyebabkan mereka mampu membalikkan statusnya. Dari yang sebelumnya bukan siapa-siapa dan tidak diperhitungkan sama sekali oleh musuh, berubah menjadi umat yang disegani di seantero jazirah Arab?

Dalam kajian ilmiahnya, Dr. Muhammad Quthb mencoba menganalisa pertanyaan ini dengan penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Setidaknya, kata beliau, ada beberapa faktor yang menjadikan generasi para sahabat bisa bangkit dengan begitu cepat.

Pertama; Menjadikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk Aturan Hidup.

Awalnya, mereka hidup di tengah-tengah kemusyrikan yang kental dengan budaya kufur. Lalu, al-Qur’an turun membersihkan budaya syirik tersebut dan menggantikannya dengan prinsip tauhid yang ditancapkan dalam jiwa mereka. Dari sini lah jiwa-jiwa mereka berubah secara total. Laksana hidup kembali di dunianya yang baru. Mereka lebih mudah dalam menghadapi masalah.

Kandungan ayat-ayat suci yang disampaikan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam tumbuh subur bagaikan bibit unggul dalam jiwa mereka. Hatinya dipenuhi cahaya iman dan memancarkan sikap optimisme dalam berjuang. Kalimat tauhid yang menghujam kuat dalam jiwanya menjadi barometer utama dalam menilai kebaikan.

Ketika kalimat tauhid menjadi spirit yang menggerakkan raganya, maka seluruh aturan hidupnya pun otomatis berjalan di atas manhaj rabbani. Manhaj yang memperbaiki cara pandang manusia dalam menjalani hidup. Ia turun langsung dari Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui tentang makhluk-Nya. Aturan itu diturunkan tidak lain karena Allah lah satu-satunya Dzat yang berhak mengatur dan menetapkan pedoman hidup bagi manusia. Sebab, Dia lah Sang Pencipta seluruh alam beserta isinya.

أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“….Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

Syaikh Muhammad Quthb menerangkan, “Manusia tidak akan mampu menerapkan manhaj Rabbani ini sehingga mereka mengetahui dan meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Setelah itu, ia menyerahkan sepenuh jiwa dan raganya untuk Allah semata. Ia yakin bahwa tak ada yang mampu mendatangkan manfaat dan madharat kecuali Allah Ta’ala. Sehingga Ia rela menerima seluruh ketatapanNya, mengamalkan perintah dan meniggalkan larangan-Nya dan menjadikan hukum-Nya (Al-Quran) sebagai sumber pijakan hukum dalam hidupnya.”

Kedua: Hadirnya Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam Sebagai Sosok Panutan Dalam Hidup Mereka

Faktor berikutnya yang mampu mengubah hidup para sahabat adalah hadirnya Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam sebagai sosok teladan di antara mereka. Bagi mereka, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidak hanya sebagai sosok panutan dalam beragama semata. Lebih dari itu, beliau benar-benar dijadikan sumber inspirasi dan rujukan dalam seluruh persoalan hidup. Sebab, mereka paham bahwa tidak ada satu pun ucapan atau pun amalannya, kecuali di bawah petunjuk dari Allah Ta’ala.

Kehadiran Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mampu membawa pengaruh yang cukup dahsyat dalam jiwa mereka. Mereka mampu memahami makna al-Qur’an secara menyeluruh dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Bila ada masalah, mereka langsung bertanya kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Sehingga peran Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dalam membersamai mereka benar-benar membuat mereka lahir sebagai sosok yang alim, ahli ibadah dan berjiwa pejuang.

Mereka itulah yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik umat ini, para sahabat Nabi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in), dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in)” (Muttafaqun ‘alaih)

Namun demikian, bukan berarti Umat Islam hari ini tidak bisa lagi untuk bangkit. Demikian juga bukan berarti hadirnya Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam menjadi syarat dalam memenangkan agama ini. Seandainya Allah menetapkan syarat adanya rasul dalam kewajiban menegakkan agama, maka tentu Umat Islam tidak dibebani lagi untuk menegakkan agama setelah wafatnya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Sebab, Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.

Pokok penting hadirnya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam adalah keteledanan yang diluarkan beliau kepada para sahabat. Begitupun dengn hari ini, keteladanan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bisa kita temukan dalam hadits dan kisah-kisah para sahabat. Keteladanan dalam mengatur negara, mengatur masyarakat, mentarbiyah keluarga, hingga dalam ibadah.

Ketiga: Mereka Adalah Generasi Baru Dalam Sebuah Peradaban

Sebagai generasi baru, para sahabat memiliki jiwa yang lebih energik daripada generasi yang datang setelahnya. Hal ini sudah lumrah dalam kehidupan ini. Biasanya, generasi awal dari sebuah peradaban terbilang lebih baik daripada generasi yang datang setelahnya. Para sahabat adalah generasi baru yang merasakan nikmatnya iman di awal turunnya risalah Islam. Sebelumnya, mereka telah merasakan gelapnya kehidupan di masa jahiliyah. Sehingga ketika Islam datang, mereka bisa merasakan indahnya hidup di bawah system Islam.

Karena itu, Umar bin Khattab pernah mengungkapkan, “Islam tidak dapat dipahami dengan baik oleh mereka yang tidak mengenal jahiliyah.” Maknanya, ia tidak mampu memahami islam seutuhnya kecuali ketika dia mengetahui jahiliyah dan berupaya sekuat mungkin untuk menghindarinya. Sehingga dia bisa membandingkan indahnya ajaran Islam dibandingkan dengan sistem hidup lainnya.

Di sisi lain, ibarat sebuah bangunan, mereka adalah peletak dasar pondasi Islam. Bagaimana pun mereka siap berkorban demi tegaknya pondasi tersebut hingga sempurna. Begitulah perjuangan yang mereka bangun. Sehingga Islam kian meluas dan mampu menerapkan syariatnya secara kaffah.

Pertanyaanya, bagaimana umat ini bisa melakakukan perubahan yang sama sebagaimana para sahabat? Bukankah hadirnya nabi sebagai sang pemimpin sesuatu yang tidak mungkin diulangi lagi?

Menjawab pertanyaan di atas, Dr Muhammad Qutb menjelaskan, “Sejatinya, kunci perubahan utama yang dilakukan para sahabat tidak lepas dari Al-Quran dan hadis sebagai pedoman utama dalam hidup mereka. Ia menjadi sumber materi pokok dalam membentuk karakter seorang muslim, membina jamaah dan mengatur negara. Para sahabat dipilih oleh Allah sebagai potret ideal generasi muslim dalam memperjuangkan Islam. Ketika mereka menerapkan nilai-nilai Islam seutuhnya dalam hidup mereka, maka kemenangan itu pun bisa mereka capai dengan sempurna.”

Perjuangan Islam hari ini kondisinya tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh para sahabat. Keterasingan syariat islam sudah terjadi dalam banyak sisi. Terutama syariat yang mengatur sistem politik, budaya, muamalah dan sebagainya. Penerapan syariat terpasung oleh system jahiliyah hanya dalam lingkup masjid atau persoalan pribadi semata.

Dulu, di awal masa keterasingan Islam, masyarakat Quraisy menolak untuk mengucapkan kalimat tauhid; laa ilaaha illallah karena paham dengan konsekuensi kalimat tersebut. Berbeda dengan keterasingan Islam hari ini. Lafaz tauhid diterima dan diyakini kebenarannya oleh banyak orang, tapi konsekuensinya yang ditolak. Mereka berikrar dengan kalimat tauhid tapi tidak mau diatur dengan hukum Allah. Mereka mengakui kebenaran kalimat tauhid tapi berat meninggalkan hukum atau tradisi jahiliyah. Inilah yang disebut dengan ketarasingan islam di akhir zaman.

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Karena itu, keterasingan Islam hari ini tidak cukup dihilangkan hanya dengan cara mendakwahkan umat untuk kembali ke masjid, memperbanyak zikir, baca quran, sedekah dan sebagainya. Lebih dari itu, justru keterasingan itu harus dilenyapkan dengan cara menyadarkan umat agar mau menanggalkan sistem jahiliyah dalam hidup mereka.

Ya, prioritas gerakan islam hari ini adalah melenyapkan sistem jahiliyah dan membangun generasi baru yang menerapkan Islam sebagai aturan hidup. Dengan seperti itu, umat mampu bangkit di tengah-tengah keterasingan layaknya para sahabat zaman dulu.

Hadirnya Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam di tengah-tengah para sahabat memang suatu anugerah yang tak mungkin terulangi lagi. Namun itu bukanlah syarat dalam meraih kejayaan umat. Sebab, inti sebenarnya yang dilakukan para sahabat adalah ketundukan jiwa terhadap perintah Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan mengidolakan beliau dalam hidupnya. Karena itu, kunci kebangkitan umat hari ini adalah siap meneladani Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dengan cara menelusuri sirah perjalanan hidupnya serta mengamalkan sunnahnya.

Kisah perjuangan yang ditorehkan para sahabat hendaknya menjadi role model pergerakan islam hari ini. Mereka dipilih oleh Allah sebagai contoh bagi generasi umat berikutnya. Syariat yang mereka pahami dan mereka implementasikan sebenarnya bukanlah kewajiban khusus bagi mereka. Namun itu tuntutan yang diwajibkan bagi setiap muslim, kapan pun dan di mana pun ia berada. Artinya, ketika syariat itu diterapkan secara kaffah sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat, maka kejayaan itu pun bisa diraih kembali. Wallahu a’lam bis shawab! []


Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju
Dipublikasikan oleh Kiblat



Artikel Terkait

loading...