Rabu, 30 Mei 2018

Asosiasi Kebudayaan Lewat Pendidikan Barat, Upaya Snouck Lemahkan Perjuangan Umat Islam


Dalam bidang kemasyarakatan, Snouck merekomendasikan agar pemerintah memanfaatkan Adat kebiasaan yang berlaku agar rakyat mendekati pemerintah Belanda. Pemerintah mempunyai tujuan untuk mempererat ikatan antara Negeri jajahan dengan negara penjajah melalui kebudayaan, di mana lapangan Pendidikan menjadi garapan utama. Dengan adanya asosiasi ini maka pribumi akan bisa menerima kebudayaan Belanda tanpa mengabaikan kebudayaannya sendiri.

Dengan mengabulkan keinginan penduduk Indonesia memperoleh pendidikan, menurut Snouck Hurgronje akan menjamin loyalitas mereka terhadap pemerintah kolonial (baca:penjajah), dan akan berdampak menghilangkan cita-cita Pan Islam (Khilafah) dari segala kekuatannya.

Menurut Snouck, sistem Islam sangat kaku dan tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan abad baru. Hanya melalui organisasi pendidikan berskala luas atas dasar yang universal dan netral secara agamis (liberal), pemerintah kolonial dapat “membebaskan” atau melepaskan muslimin dari Agama mereka:

“Pengasuhan dan pendidikan adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut. Bahkan di Negeri-Negeri berbudaya Islam yang jauh lebih tua dibanding kepulauan Nusantara kita menyaksikan mereka bekerja dengan efektif untuk membebaskan umat Muhammad dari kebiasaan lama yang telah lama membelenggunya.”

Ada tiga fase dalam perkembangan pendidikan di Hindia Belanda pada abad ke-20. Tahun 1900-1915 pendidikan Barat dianggap sangat penting bagi pribumi. Tahun 1915-1927 ada reaksi yang menghendaki agar pendidikan tidak melepaskan mereka dari kebudayaan aslinya. Selanjutnya tahun 1927-1942 timbul fase pengurangan pendidikan Barat yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantarnya.

Umat Islam Indonesia tidak sepenuhnya menolak pendidikan barat. Hal ini terlihat jelas dari usaha Muhammadiyah untuk menyelenggarakan pendidikan Barat yang disesuaikan dengan kebutuhan Islam dan Indonesia. Muhammadiyah tahun 1937 mendirikan MULO pribumi di Yogyakarta. Sebuah sekolah menengah pertama dengan sistem pendidikan seperti MULO tetapi menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar.

Ki Hajar Dewantara juga mendirikan lembaga pendidikan swasta nasional di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922. Taman Siswa menolak sistem pendidikan Barat ala Kolonial yang dinilai hanya mengutamakan mendidik peggawai kolonial dan menggerus kebudayaan lokal. Lembaga ini juga menolak subsidi pendidikan dari pemerintah Penjajah. Taman siswa pada kongres pertamanya bulan Agustus 1930 telah memiliki 58 cabang di seluruh Indonesia.

Tetapi Snouck sebenarnya hanya menginginkan pendidikan Barat bagi kaum bangsawan pribumi. Maka sekolah HIS awalnya hanya diperuntukkan bagi keluarga bangsawan pribumi. Pemerintah kolonial sedikit sekali berbuat bagi pendidikan rakyat pribumi, sehingga 93 persen dari 60 juta rakyat Indonesia pada akhir tahun 1930 masih buta huruf latin.

Saat itu hanya sekitar 200 orang saja, pribumi yang lulus dari sekolah menengah atas per tahun. Hal itu terjadi karena penyelenggaraan pendidikan dilakukan dengan alasan politik, untuk kepentingan keberlangsungan penjajahan, bukan untuk kepentingan rakyat.

Di dunia pendidikan, liberalisasi dalam pendidikan Islam sangat berbahaya. Liberalisasi pemikiran Islam yaitu berupa metodologi studi Islam yang berbasis pada metode para orientalis. Ciri-cirinya adalah metode ini diajarkan dengan metode kritis untuk menanamkan keraguan (tasykik). “Orang belajar Agama bukan untuk menyakini, mengimani, dan selanjutnya mengamalkan, serta membentuk akhlak yang baik, akan tetapi hanya sekedar untuk wacana diskusi kritis,”

Secara ringkas yang diinginkan Snouck dengan pendidikan adalah; (1) memutuskan Kaum Muslimin dari ilmu pengetahuan keIslaman melalui sistem pendidikan, dan (2) memasukkan unsur-unsur halus faham-faham, nilai-nilai serta konsep-konsep Kebudayaan Barat hingga secara perlahan-lahan menggantikan faham-faham, nilai-nilai serta konsep-konsep Islam serta memutuskan hubungan kebudayaan Islam di kalangan umat Islam seluruhnya.

Pengaruh Barat dalam pendidikan adalah sesuatu yang serius dan melumpuhkan Islam. Perkembangan modernisme di dunia Islam, kecuali menaburkan benih kebingungan (keragu-raguan) akal pikiran sehingga menggoyahkan keIslaman seseorang, juga membuat dunia Islam terpisah-pisah satu sama lain.


Referensi:
1. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES Jakarta, cetakan pertama Februari 1985
2. Karel Steenbrink, H. Aqib Sumnito, dan Azyumardi Azra, Kawan Dalam Pertikaian  kaum Kolonial Belanda  dan  Islam di Indonesia 1596-1942 (Bandung : Mizan, 1955)
3. Adian Husaini, Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab. INSISTS dan Bina Qalam Indonesia, Jakarta 2015.
4. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: Institut Antarabangsa Pemikiran dan Tamadun Islam (ISTAC) 2001.
5. Nasr, terj.Anas Mahyudin, Islam dan Nestapa Manusia Modern (Bandung; Pustaka, 1983)
6. Gobée Dan C. Adriaanse, Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, Jakarta: INIS, 1990



Artikel Terkait