Senin, 28 Mei 2018

Dibangun Sebelum Nabi Muhammad ﷺ Lahir, Inilah 2 Masjid Pertama di Muka Bumi


Masjidil Haram menjadi masjid pertama yang dibangun di muka bumi. Inilah yang menjadi salah satu keistimewaan Masjidil Haram dibanding masjid-masjid di seluruh dunia.

Dikisahkan dalam HR Al-Bukhari, Masjidil Haram dibangun lebih dulu dari Masjidil Aqsha. Dalam buku berjudul Ensikopledia Peradaban Islam (Makkah) karya Muhammad Syafii Antonio disebutkan bahwa selang waktu pembangunan keduanya yakni 40 tahun. Alquran sendiri telah menyebut kata masjidil Haram sebanyak 13 kali, begitu juga dalam hadits. Hal ini semata-mata menunjukan betapa agung dan mulianya masjid ini.

Masjidil Haram terletak di sebuah lembah Makkah. Bangunan seluas 656 ribu meter persegi ini terdiri dari tiga lantai dan memiliki tujuh buah menara. Masjid ini dapat menampung 730 ribu jamaah setiap shalat berjamaah pada hari biasa, dan lebih dari 1 juta jamaah pada musim haji.

Sebelum kelahiran Nabi Muhammad, pernah dilakukan renovasi besar atas Masjidil Haram. Pasalnya kala itu pernah terjadi kebakaran yang memporak-porandakan masjid tersebut, tepatnya sebelum penyerangan Pasukan Gajah, dimana Raja Abrahah menyerbu Kabah.

Pada saat pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah tidak merenovasi masjid ini. Beliau hanya menyingkirkan patung-patung yang berada di sekitar Kabah. Yang dimaksud dengan Masjidil Haram saat itu adalah hamparan luas, dibatasi oleh permukiman penduduk Makkah. Kira-kira luasnya 1.490 hingga 2.000 meter persegi.

Pada masa Khalifah Abu Bakar asShiddiq juga tidak dilakukan renovasi. Renovasi berupa perluasan lokasi masjid, baru dilakukan pada masa Umar bin Khattab. Alasannya tak lain karena meningkatnya jumlah jamaah jaji. Pada 17 Hijriyah atau 638 Masehi, Umar pun membeli rumah-rumah penduduk untuk memperluas area Masjidil Haram. Ini merupakan renovasi pertama pada zaman Islam.

Umar juga berijtihad membuat dinding-dinding sekeliling Masjidil Haram, membuat pintu-pintu masuk dan melaspisi lantai tempat thawaf dengan batu-batu kerikil. Renovasi tersebut diperluas sekitar 840 meter persegi sehingga total luasnya menjadi 2.840 meter persegi.

Renovasi kedua dilakukan pada 26 Hijriyah atau 646 Masehi di zaman Khalifah Utsman bin Affan. Beliau berijtihad menjadikan Masjidil Haram sebagai tempat berteduh karena diberi atap. Saat itu perluasan masjid sekitar 2.040 meter persegi sehingga secara keseluruhan luasnya menjadi 4.880 meter persegi. Selanjutnya, renovasi terhadap Masjidil Haram pun terus berlanjut, yakni pada zaman Abdullah bin Zubair, Khalifah Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, Khalifah Al Mahdi, dan Khalifah Al-Mu'tadhid Billah.

Di masa Pemerintahan Arab Saudi, renovasi Masjidil Haram terus dilakukan. Renovasi besar-besaran dilakukan pada 1375 Hijriyah atau 1955 Masehi yang melibatkan 55 ribu pekerja. Renovasi tersebut berlangsung selama 20 tahun dan menelan biaya Rp 1 miliar riyal (Rp 2,3 triliun).

Adapun yang direnovasi adalah tempat thawaf dengan memasang ubin marmer yang tidak menimbulkan efek panas apabila terkena matahari. Renovasi ini bertujuan memberi kenyamanan bagi para jamaah agar saat thawaf kaki mereka tak kepanasan.

Pada 1406 Hijriyah, renovasi kembali dilakukan dengan membuat eskalator di setiap pojok Masjidil Haram untuk memudahkan para jamaah turun-naik ke lantai dua. Masjid tersebut juga dilengkapi sistem penerangan dan pengeras suara, serta sistem distribusi air zamzam.

Pada 1409 Hijriyah atau 1993 Masehi pada pemerintahan Raja Fahd bin Abdul aziz, renovasi kembali dilakukan. Pada saat itu dibangun pintu baru Babul Umrah dan Bab Malik Abdul aziz dengan permukaan dasar seluas 19 ribu meter persegi meliputi lantai dasar, basement, lantai satu dan loteng. Pada saat itu juga dibangun tiga kubah seluas 15 kali 15 meter, dengan ketinggian 13 meter.

Kubah tersebut dimaksudkan untuk melindungi halaman lantai dasar. Kemudian dibangun dua tangga elektronik untuk memudahkan naik ke lantai satu dan lantai atap. Jumlah seluruhnya ada tujuh buah dengan luas sekitar 375 meter persegi. Setiap tangga mampu mengangkut 1.500 orang per jamnya.

Selain menjadi masjid pertama yang dibangun di muka bumi, Masjidil Haram memiliki keistimewaan lainnya. Dalam HR Ibnu Majah disebutkan, Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda, "Shalat di Masjidil Haram lebih utama 100 ribu kali shalat yang dilakukan di masjid-masjid lainnya. Tak hanya itu, Masjidil Haram merupakan prioritas tempat tujuan perjalanan Muslim selain Masjid Al-Aqsha dan Masjid Nabawi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi?”

قَالَ: اَلْمَسْجِدُ الْحَرَامُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Masjidil Haram.”

“Kemudian apa lagi?”

قَالَ: اَلْمَسْجِدُ اْلأَقْصَى

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Masjid al-Aqsha.”

Beliau ditanya lagi, “Berapa jarak antara keduanya?”

قَالَ: أَرْبَعُوْنَ عَامًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Empat puluh tahun.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sumber: Fatawa Rasulullah: Anda Bertanya Rasulullah Menjawab, Tahqiq dan Ta’liq oleh Syaikh Qasim ar-Rifa’i, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Pustaka As-Sunnah, Cetakan Ke-1, 2008.
(Dengan penataan bahasa oleh www.konsultasisyariah.com).


Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Qommarria Rostanti

Pranala luar:
1. https://konsultasisyariah.com/3079-masjid-pertama-di-muka-bumi.html
2. http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/wijhat/16/07/29/ob2iid313-masjidil-haram-masjid-pertama-yang-dibangun-di-bumi



Artikel Terkait