Rabu, 02 Mei 2018

Ketika Syiar Islam Menjadi Alat Kampanye Politik


Bagi sebagian orang tahun politik disebut dengan tahun kemunafikan. Alasannya adalah beberapa parpol ramai menggunakan syiar Islam untuk kampanye. Atribut-atribut keislaman dipakai untuk meraup suara umat islam. Sowan ke pondok pesantren, memberi santunan anak yatim, menggunakan jilbab, peci dan sebagainya.

Semua itu mungkin tidak menjadi masalah, jika mereka punya agenda penegakan Islam yang kongkrit dan nyata seperti Muhammad Mursi di Mesir. Namun, yang sering terjadi adalah mereka sama sekali tidak memiliki misi menegakkan Islam. Siklusnya setelah pemilu selesai, mereka terpilih, maka perlahan tapi pasti atribut-atribut keislaman yang dipakai saat kampanye mulai hilang dari mereka.

Pemandangan ini seolah menjadikan agama layaknya sajian prasmanan, yang diambil ketika butuh dan ditinggalkan ketika tidak dibutuhkan lagi. Secara tidak langsung mereka merusak sakralitas simbol dan syiar Islam.

Kampanye dan Syahwat Kekuasaan

Layaknya orang kampanye, seorang politikus akan memasang fotonya di mana-mana, mengumpulkan masyarakat, mengumbar janji-janji politik, yang mengindikasikan bahwa dirinya menginginkan jabatan dan kekuasaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ

“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. al-Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733)

Berkampanye dengan syiar-syiar Islam dengan cara seperti ini akan merugikan Islam, karena bisa mengurangi kehormatan agama Islam. Agama yang diturunkan oleh Allah dan diperjuangkan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam akan menjadi slogan-slogan yang diremehkan. Pasalnya, calon pemimpin yang menggunakan syiar Islam itu dengan mudah melupakan Islam setelah tujuannya tercapai.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِقْرَؤُوْا الْقُرْانَ، وَلاَ تَأْكُلُوا بِهِ، وَلاَ تَسْتَكْثِرُوا يِهِ، وَلاَ تَجْفُوا عَنْهُ، وَلاتَغْلُوا فِيهِ.

Artinya, “Bacalah Al Qur`an, janganlah engkau mencari makan darinya, janganlah engkau memperbanyak harta dengannya, janganlah engkau anggap remeh dan jangan pula terlalu berlebihan” (Hr. Ahmad 3/428 dan 444)

Seolah-olah Menawarkan Islam dan Al-Qur’an

Berkampanye dengan syiar-syiar Islam ini seperti menipu, seolah-olah calon pemimpin itu sedang menawarkan Islam. Tujuannya sudah dapat diketahui bersama, yaitu untuk meraih dukugan sebanyak-banyaknya. Terlebih setelah dirinya meraih kedudukan, banyak kebijakkannya tidak bergantung pada isi al-Qur’an.

Allah telah memperingatkan kepada manusia supaya tidak menawarkan-nawarkan al-Qur’an untuk tujuan duniawi. Allah berfirman :

وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Artinya “Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa..” (QS. al-Baqarah: 41)

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Artinya “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Ma’idah: 44)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan :

معناه لا تعتاضوا عن البيان والإيضاح ونشر العلم النافع في الناس بالكتمان واللبس لتستمروا على رياستكم في الدنيا القليلة الحقيرة الزائلة عن قريب

Artinya, “Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Dan makna “harga yang rendah” adalah dunia seisinya.

Harun bin Zaid menceritakan :

سئل الحسن ، يعني البصري ، عن قوله تعالى : ( ثمنا قليلا ) قال : الثمن القليل الدنيا بحذافيرها

Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang firman Allah, “harga yang rendah”. Kata beliau, “Harga yang rendah adalah dunia seisinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/243).

Dengan kalimat yang keras, Rasulullah juga telah memperingatkan hal itu dalam sabdanya :

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» يَعْنِي رِيحَهَا

Artinya,“Barang siapa yang mempelajari ilmu agama yang seharusnya ditujukan kepada Allah azawajallah, namun dia gunakan untuk mendapatkan kedudukan di dunia dan untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak akan pernah mencium wanginya surga di hari kiamat.” (Hr. Abu Daud 3/323)

Keagungan Syiar-syiar Islam

Larangan menggunakan syiar-syiar Islam untuk meraih kedudukan bukan tanpa arti. Dibalik larangan ini, Allah ta’ala menghendaki manusia supaya mengagungkan nilai-nilai agama. Apa jadinya jika agama dipermainkan dan hanya menjadi kemasan tokoh, layaknya barang obralan di swalayan-swalayan yang dianggap barang murahan.

Allah menyindir manusia untuk meninggalkan perbuatan itu dengan kalimat motivasi yang halus. Allah mengabarkan bahwa tingkat ketakwaan seseorang ditimbang dari penghormatannya terhadap syiar-syiar Islam. Allah berfirman :

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

Artinya,“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ

Artinya,“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya.” (QS. Al-Hajj: 30)

Orang yang beriman dan bertakwa akan mengagungkan apa-apa yang datang dari Allah, baik perintah dan larangan-Nya. Termasuk mencintai orang-orang beriman yang berpegang teguh dan komitmen dengan syariat Allah. Sehingga, marahnya umat Islam ketika syiar-syiar Islam dilecehkan bukanlah sikap fanatisme buta. Namun itu adalah sebuah tuntutan keimanan yang muncul karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Justru sebaliknya, orang yang menganggap remeh syiar-syiar Islam dan mempermainkannya, menggunakannya untuk tujuan-tujuan duniawi semata, siapa yang memiliki sikap ini dikawatirkan ia termasuk orang munafik. Mereka tidak akan senang jika ada orang yang membela agama Islam yang diyakininya. Allah melarang umat Islam untuk berloyalitas kepada mereka, menjadikan mereka sebagai teman dan pemimpin.

Allah ingatkan hal itu dalam firman-Nya :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ وَاتَّقُوا اللهَ إِن كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْقِلُونَ . قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنقِمُونَ مِنَّآإِلآَّأنْ ءَامَنَّا بِاللهِ وَمَآأُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ

Artinya,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?” (Q.S. Al-Maidah: 57-59)

Sangat tidak etis jika al-Qur’an dan syiar-syiar agama Islam digunakan untuk tujuan-tujuan duniawi. Mengingat agungnya syiar-syiar agama Islam. Pelaku bisa terjerumus pada kemunafikan karena syiar Islam hanya untuk kedok semata. Wallahu ‘alam bish showab. []



Penulis : Zamroni
Editor: Arju
Dipublikasikan oleh Kiblat



Artikel Terkait