Selasa, 17 Juli 2018

Analisa Frasa dan Makna Rapuhnya Konsep Islam Nusantara


Belakangan ini marak tentang isu Islam Nusantara. Jujur Saya sendiri aneh dengan pemikiran menambahkan embel-embel “Nusantara” ini di belakang kata “Islam”. Islam Nusantara katanya lebih menunjukkan wajah Indonesia yang cinta damai, penuh toleransi dalam keberagaman, tidak seperti Islam Arab. Islam Nusantara lebih mengedepankan budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia yang berjalan seiring dengan penerapan Islam.

“Di Amerika dan Eropa, ayam goreng itu dijual begitu saja, tanpa nasi. Beda dengan di Indonesia, nasi disertakan sebagai pendamping,” terang Prof Akh Muzakki menganalogikan bahwa konsep Islam Nusantara itu sebagai penerapan Islam yang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Saya jujur merasa aneh dan tidak paham dengan pola pemikiran seperti ini. Pertama Saya akan ulas dari segi tata bahasa Islam Nusantara. Jika kita membuat sebuah term maka hal tersebut akan memiliki sebuah makna. Artinya frasa Islam Nusantara merupakan sebuah konsep baru yang sama sekali berbeda dengan Islam. Misal kata “Sekolah”. Sekolah merupakan satu makna, satu konsep, dan satu arti. “Sekolah adalah tempat didikan bagi anak anak. tujuan dari sekolah adalah mengajar tentang mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa,” begini pendapat Wikipedia tentang kata “Sekolah”. Nah coba kita tambahkan kata lain di belakang kata “Sekolah” dan tidak menjadi dua makna, alias satu frasa, satu makna, misalnya “Sekolah Islam”, “Sekolah pagi”, “Sekolah Menengah Pertama”, “Sekolah Tinggi” dan banyak lagi, silahkan Anda tambahkan sendiri. Maknanya sudah berbeda antara kata “Sekolah” saja dengan kata “Sekolah” yang diberikan penambahan kata setelahnya.

Konsep Islam Nusantara (Frasa)

Dari segi istilah jelas ini merubah makna, bisa mempersempit, bisa memperluas, yang jelas makna dan artinya berbeda. Sekolah dan Sekolah Menengah Pertama merupakan sesuatu yang berbeda. “Sekolah menengah pertama (disingkat SMP, Bahasa Inggris: junior high school atau middle school) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah menengah pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9,” begitulah menurut sumber Wikipedia. Berbeda bukan?

Analoginya kurang lebih sama dengan istilah Islam Nusantara. Islam Nusantara bukanlah dua kata yang mengandung makna masing-masing satu, tapi ia adalah dua kata yang membentuk sebuah frasa, artinya makna dari dua kata itu adalah satu. Islam Nusantara merupakan sebuah konsep baru, jika tidak terlalu kasar kita katakan ajaran baru atau agama baru. Islam Nusantara jelas membuat perbedaan sendiri dari Islam yang selama ini kita kenal. Islam Nusantara merupakan sebuah makna baru yang dicetuskan. Kesimpulan Saya Islam Nusantara bukanlah Islam.

Konsep Islam Nusantara (Esensi)

Selanjutnya mari kita lihat dari esensinya apakah konsep Islam Nusantara ini benar atau tidak. Menurut Saya Islam Nusantara merupakan konsep yang melenceng dan termasuk salah satu pelecehan terhadap agama Islam. Apakah ketika dulu mereka yang mendakwahkan Islam menyebut Islam Arab? Apakah dulu Rasulullah SAW menyebut Islam Arab sehingga kita dengan bangganya menyebut istilah Islam Nusantara? Jangan saudara. Pertanyaan Saya sebenarnya cukup simpel dan sederhana bagi yang setuju dengan konsep Islam Nusantara ini.

Pertanyaan Saya adalah, apa dasarnya konsep Islam Nusantara? Al-Qur’an? Hadist? Tunjukkan pada Saya ayat yang mengatakan ada ajaran Islam Nusantara ini. Jika saudaraku yang tercinta tidak bisa menunjukkan dasar pijakan Islam Nusantara ini maka sungguh konsep ini sangatlah rapuh, lemah. Bagi Saya konsep Islam Nusantara sebenarnya merupakan pelemahan dan wujud ketidakpercayaan diri dari umat Islam yang takut akan Islam itu sendiri. Silahkan baca Piagam Madinah yang dibuat Rasulullah SAW, bukankah itu lambang demokrasi (yang kau angungkan), dan merupakan perwujudan toleransi, keadilan, dan kesetaraan yang baru kau bincangkan abad milenium ini?

Bukankah Islam Nusantara sama saja dengan Islam Liberal yang digagas oleh Jaringan Islam Liberal (Pak De Ulil Abshar Abdalla) dkk? Atau bukankah Islam Nusantara sama saja dengan Islam Konservatif, Islam Moderat, Islam Garis Keras. Apa bedanya? Dari sisi konsep tidak ada berbeda, bahwa Islam Nusantara merupakan sebuah konsep tanpa dasar yang digaungkan untuk menambah pengelompokan dan membuat sebuah faksi-faksi dalam Islam.

Islam itu hanya satu, yaitu Islam, arti katanya salam yang bermakna selamat. Jadi nanti orang Islam Nusantara saja yang selamat? Atau mereka yang kalian gelar dengan sebutan Islam Garis Keras saja yang selamat? Tidak saudara. Yang selamat adalah mereka yang selalu mengikuti tuntunan dari jalan keselamatan. Apa itu jalan keselamatan? Yaitu Al-Qur’an, Hadist. Dari dua sumber yang sudah terbukti otentisitasnya, sudah terbukti keaslian skripnya, sudah terbukti kebenaran fakta ilmiahnya ini hanya ada satu agama Islam, bahkan Allah pun tidak mengatakan Islam itu sebagai Islam Arab. Jika Tuhan atau Rasulullah SAW egois bisa saja ia mengatakan pada zamannya itu yang ada Islam Arab, sehingga ketika penyebaran nanti akan banyak Islam, ada Islam Turki, Islam India, Islam Afrika Selatan, termasuk Islam Nusantara ini, tapi buktinya? Tidak!

Islam hanya diturunkan satu yaitu Islam saja tanpa embel-embel apa pun. Islam punya dasar hukum dan landasan yang kuat yaitu firman Allah Al-Qur’an dan Hadist. Islam merupakan agama yang telah disempurnakan. Bahkan Yesus AS sendiri tidak pernah mengatakan bahwa ajaran yang dibawanya adalah Kristen. Yesus Kristus AS merupakan salah satu nabi dan rasul besar Allah yang turut bersunat, tidak makan babi, melaran minuman memabukkan dan tentu saja bersujud seperti yang umat Muslim lakukan saat ini. Di bawah inilah yang mendasari hanya ada satu yaitu Islam, tanpa embel-embel.

Baca juga: Islam Nusantara Tak Lain Adalah Proyek Kaum Liberal
Baca juga: Ini 5 Kejanggalan Dari Gagasan 'Islam Nusantara'
Baca juga: Jualan Baru, Waspadai Istilah Islam Moderat

Dasar Patahnya konsep Islam Nusantara

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa’ : 59)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(Ali Imran:19)

“dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran:85)

dan terakhir, tentu saja toleransi paling nyata dalam berkeyakinan yang termaktub secara jelas bagai hitam dan putih dalam kitab suci, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (Al Baqarah: 256)

Bagi yang setuju konsep Islam Nusantara, Saya terbuka untuk berdiskusi dan berdebat, tapi sebelumnya tunjukkan dulu dasar konsep Islam Nusantara itu. Jika sudah ketemu, baru kita lanjut ke tahap berikutnya.

Kesimpulan terakhir Saya yang bisa dijadikan bahan renungan adalah, tanpa adanya konsep Islam Nusantara ini sejak awal masuknya Islam ke negeri subur ini lewat jalur perdagangan dan asimilasi, Islam berkembang sangat cepat dan begitu pesat. Pertumbuhan pengikut Islam sangat tinggi dan mengesankan hingga Indonesia menjadi negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia.

Pertanyaannya, apakah para pendakwah yang menjadikan negara ini sebagai negara muslim terbesar membawa menawarkan konsep Islam Nusantara? Islam Liberal? Islam Garis Keras? Islam Moderat? Islam Fanatik? Tidak teman, mereka hanya membawa satu ajaran yang disebarluaskan, yaitu Islam (tanpa embel-embel).

Justru hadirnya embel-embel ini yang membuat umat Islam terpecah belah, saling memerangi, saling membenci, saling mencaci dan tidak bersatu padu. Kondisi ini yang diibaratkan nabi sebagai buih dilautan, banyak tapi gampang pecah, atau seperti debu dipadang pasir, hanya bisa tertiup angin dan terbakar panas (Kuldesak).

Persatuan Islam akan melahirkan peradaban yang akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan. []

Baca juga: Berbincang Tentang Islam Nusantara
Baca juga: Ini Penjelasan & Keterkaitan Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme
Baca juga: Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Baca juga: Bahayanya Islam Moderat Melalui Pemberdayaan Perempuan


Video ceramah oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil, MA.
Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)
Pirektur-pendiri INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization)
Wakil rektor Universitas Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur.
Putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, salah seorang pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Pranala luar:
1. https://suaranasional.com/2018/07/06/pimpinan-ponpes-gontor-bongkar-kesalahan-islam-nusantara
2. https://www.kompasiana.com/anandapujawandra/55bef9db3297738d10cca191/konsep-islam-nusantara-kesesatan-yang-menyesatkan-analisa-frasa-makna



Artikel Terkait

loading...