Selasa, 10 Juli 2018

Bahayanya Islam Moderat Melalui Pemberdayaan Perempuan


Islam moderat adalah salah satu paham direkomendasikan oleh Rand Corporation sebagai hasil dari laporan riset proyek Angkatan Udara AS, berjudul The Muslim World After 9/11 yang disusun oleh Angel M. Rabasa dan kawan-kawan pada tahun 2004. Rand Corporation membuat rekomendasi strategis yang harus ditempuh oleh AS guna menghadapi tantangan dan peluang dunia Muslim. Mereka yakin kaum ekstremis tidak bisa diperangi secara fisik. Karena itu, mereka perlu bertempur secara kultural dan sosial. Salah satu solusi yang ditawarkan dalam laporan The Muslim World After 9/11 adalah promosi jaringan moderat.

Dalam laporan Rand Corporation yang berjudul Building Moderate Muslim Network yang diterbitkan tahun 2007. Karakter Muslim moderat, adalah Muslim yang mendukung demokrasi dan pengakuan internasional atas hak asasi manusia, kesetaraan gender, kebebasan beribadah, menghargai keberagaman, menerima sumber hukum nonsektarian (non agama), menentang terorisme dan semua bentuk kekerasan.

Ternyata, Islam moderat ditujukan untuk menyesatkan pemikiran kaum Muslimin, mereka termakan oleh ide yang jauh dari aturan Islam. Di saat mereka mengambil gagasan Islam moderat, mereka justru menjadi pihak yang membenci ajaran Islam sendiri dan mendudukkan saudara seimannya sebagai ancaman.

Salah satunya, yaitu para perempuan/Muslimah, mereka dicekoki dengan paham Islam moderat ini dengan alasan pemberdayaan perempuan. Maka, Islam moderat merupakan sebuah ancaman, jika dibiarkan akan berakibat patal. Ancaman ini diperkuat dengan diadakannya forum diskusi Konsultasi Tingkat Tinggi Ulama dan Cendekiawan Muslim tentang Wasathiyat Islam pada 1 Mei 2018.

Dalam forum tersebut hadir Wakil Presiden Iran Masoumeh Abtekar yang mengingatkan peran perempuan dalam menyebarluaskan konsep Islam “wasathiyah” (moderat). Masoumeh mengatakan bahwa perempuan memiliki kemampuan monitoring yang dapat mempromosikan dialog yang konstruktif, dan dapat memberikan pemahaman di antara masyarakat. Ia menambahkan mempromosikan Islam “wasathiyah” bukan hanya dalam geografis sejarah, tetapi kemampuan kehidupan, kemampuan menggunakan teknologi digital, meningkatkan kemampuan membaca, dan logika. Bahkan dikatakannya, “Contoh Islam moderat ini perlu kita kembangkan kepada anak-anak muda kita, dengan dialog dan interaksi, membawa generasi muda memahami Islam `wasathiyah`, dan perempuan bisa memainkan perannya di sini.”

Lantas, mengapa perempuan harus dilibatkan dalam mempromosikan Islam moderat? Karena salah satu ciri Muslim moderat adalah menghormati hak-hak perempuan. Menghormati hak perempuan dalam bahasa Barat adalah mewujudkan kesetaraan gender. Karena itu salah satu Mitra yang sangat potensial dalam upaya memerangi radikalisme Islam kelompok perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender.

Dijelaskan dalam hasil riset tersebut bahwa perempuan adalah pihak yang paling dikalahkan oleh fundamentalis Islam dan paling tidak diuntungkan dalam penerapan syariah Islam yang kaku di berbagai tempat di dunia Islam. Di beberapa negara, para perempuan mulai berorganisasi untuk melindungi hak mereka dari gelombang pasang fundamentalisme dan menjadi sebuah konstituensi gerakan reformis yang semakin penting di negeri Muslim. Banyak kelompok yang muncul untuk memajukan hak perempuan di bidang hukum, kesehatan, pendidikan dan pekerjaan. Keberadaan kelompok perempuan ini memberikan kesempatan untuk membangun jaringan moderat.

Dalam laporan tersebut bahkan dikatakan isu hak perempuan merupakan medan pertempuran terbesar dalam perang gagasan yang terjadi di dunia Islam. Promosi kesetaraan gender adalah komponen penting setiap proyek untuk memberdayakan Muslim moderat. Anat Lapidot-Firilla, Direktur akademik proyek “Demokratisasi dan Kesetaraan Perempuan” di University Hebrew of Jerusalem, menyatakan bahwa ada korelasi yang jelas antara status dan partisipasi perempuan dengan tingkat demokrasi dan stabilitas politik dalam suatu masyarakat.

Para Muslimah harus waspada dan memperkuat kesadaran politiknya agar tidak terjebak pada racun yang dibalut madu Islam moderat dan kesetaraan gender.

Iran dan Indonesia adalah dua negara dengan penduduk Muslim yang besar. Karena itu kedua negara tersebut memegang posisi penting untuk mewujudkan Islam moderat bagi negeri Muslim lainnya. Oleh karena itu bagi Barat, akan sangat strategis jika program kesetaraan gender disinergikan dengan promosi Islam wasathiyah demi mendapatkan pengaruh yang jauh lebih besar. Apalagi sampai saat ini, program kesetaraan gender di Indonesia belum berhasil dengan baik. Hasil penghitungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan BPS pada tahun 2017 menunjukkan capaian Indeks Pembangunan Gender (IPG) Indonesia tahun 2016 sebesar 90,82 atau mengalami penurunan sebesar 0,21 poin atau 0,23% dari tahun sebelumnya sebesar 91,03.

Mungkin karena alasan itulah Menteri PPPA mengatakan bahwa Indonesia perlu belajar dari Iran dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Menteri PPPA sangat tertarik tentang isu ketahanan sosial dan keluarga di Iran karena Iran sudah memiliki pusat pelayanan masyarakat terkait dengan isu yang berhubungan dengan keluarga hingga ke desa-desa untuk pembangunan ekonomi perempuan. Indonesia juga perlu belajar bagaimana menurunkan angka perkawinan anak karena itu akan sangat membantu indeks pembangunan manusia dan indeks pembangunan gender.

Di sisi lain, Indonesia dan Iran sudah sepakat bahwa ketahanan keluarga adalah kunci utama pencegahan masalah perempuan dan anak. Wapres Iran menyatakan bahwa membangun ketahanan keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan mendorong para perempuan untuk duduk sebagai pengambil keputusan dan mengutamakan pendidikan bagi perempuan. Harapan adanya kerja sama dua negara tampaknya akan segera diwujudkan karena pemerintah Iran sebelumnya sudah mengirimkan naskah nota kesepahaman untuk menjalin hubungan kerja sama dengan Indonesia. Bahkan Menko PMK mengatakan Pemerintah melalui Kemenko PMK sangat menyambut baik dan terus mendorong upaya kerja sama yang dijajaki Pemerintah Iran, khususnya di bidang pemberdayaan perempuan.

Dengan demikian, jelaslah bahwa dua negara memiliki komitmen yang kuat dalam mewujudkan Islam wasathiyah dalam pemberdayaan perempuan. Komitmen Indonesia untuk mendorong Islam Wasathiyah bahkan sudah ditegaskan oleh Presiden Jokowi saat membuka Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendikiawan Muslim Dunia tentang Wasatiyyat Islam tanggal 1 Mei 2018 yang lalu. Presiden optimis poros wasatiyah Islam dunia akan menjadi arus utama, akan memberikan harapan bagi lahirnya dunia yang damai, aman, sejahtera, berkeadilan dan menjadi gerakan Islam untuk mewujudkan keadilan sosial.

Sepintas tampak bila Islam moderat dan kesetaraan gender menjanjikan kemajuan dan kebebasan bagi perempuan dan penghargaan terhadap perempuan. Namun sesungguhnya semua itu hanya semu dan menipu. Padahal dibalik itu ada bencana mengancam kehidupan keluarga dan generasi ketika para perempuan mengikuti seruan Barat dan meninggalkan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

Oleh karena itu, para Muslimah harus waspada dan memperkuat kesadaran politiknya agar tidak terjebak pada racun yang dibalut madu Islam moderat dan kesetaraan gender. Karena Muslimah memiliki peran besar dalam membangun peradaban Islam dan Islam sudah menetapkan jalan shahih untuk berkiprah dalam kehidupan dunia. Keridhaan Allah menantinya selama dirinya istiqamah di jalan Allah, meski dianggap radikal. []

Lily Ummu Ayesha
Ibu Rumah Tangga, tinggal di Depok
Dipublikasikan oleh suara-islam.com



Artikel Terkait

loading...