Senin, 16 Juli 2018

Islamophobia di Balik Stigma Radikal


Belangan ini kata radikal seolah sengaja dibuat viral. Episodenya berlanjut dibuat panas, digoreng terus sampai beritanya nyaris gosong.

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) melakukan telah melakukan survei terhadap 100 masjid pemerintahan di Jakarta. 100 masjid tersebut terdiri atas 35 masjid di Kementerian, 28 masjid di Lembaga Negara dan 37 masjid di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ketua Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Agus Muhammad mengatakan, survei itu dilakukan setiap shalat Jumat dari 29 September hingga 21 Oktober 2017. Kemudian, tim survei menganalisis materi khutbah Jumat yang disampaikan. Hasilnya, ada 41 masjid yang terindikasi radikal.

“Dari 41 masjid itu kita menemukan khutbahnya sebagian besar isinya ujaran kebencian yang mencapai 60 persen. Kemudian, sikap negatif terhadap agama lain itu mencapai 17 persen. Berikutnya sikap positif terhadap khilafah 15 persen,” jelasnya. (republika.co.id/29/7/2018)

Mengenal Makna Radikal

Tak kenal maka tak sayang, semestinya kita harus membuka kamus untuk mendapati arti dari istilah radikal itu sendiri. Yang demikian agar tidak mudah tergiring arus opini yang memiliki tujuan tersendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikal dimaknai (1) secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip), misalnya dalam frasa ‘perubahan yang radikal’; (2) amat keras menuntut perubahan (undang-undang pemerintahan); (3) maju dalam berpikir atau bertindak.

Setelah mendapati arti kata radikal, barulah bisa didapati pula konotasi atau kecenderungan citranya. Bisa menjadi positif juga negatif bergantung sudut pandang yang digunakan juga keberpihakan dari media yang mengopinikan.

Sebut saja pandangan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno dalam buku bertajuk “Mentjapai Indonesia Merdeka” (Maret 1933), beliau menulis bahwa untuk menuju Indonesia merdeka harus dipimpin oleh sebuah partai pelopor. Adapun unsur-unsur penopangnya, “Di antara obor-obornja pelbagai partai jang masing-masing mengaku mau menjuluhi perdjalanan rakjat, massa lantas melihat hanja satu obor jang terbesar njalanja dan terterang sinarnja, satu obor jang terkemuka jlananja, ja’ni obornja kita punja partai, obornja kita punya radikalisme!” tulisnya.

Jenis makna atau arti radikal di sana positif. Perubahan yang sifatnya mendasar menuju ke arah kebangkitan.

Namun belakangan ini, makna radikal dikonotasikan negatif. Yang lebih mirisnya kata radikal dilekatkan pada Islam dan gerakan Islam yang berupaya untuk menyelamatkan Indonesia dari penjajahan gaya baru (neoimperialisme) dengan Syariat Islam yang bersumber dari Kitabullah dan Sunah Rasulullah. Perjuangan menegakkan khilafah sebagai ajaran Islam dilabeli radikal. Miris!

Sebenarnya pemberian label negatif bukan hal baru. The New York Times, edisi 20 November 1945 menampilkan headline ‘Moslem Fanatics Fight in Surabaya’.

Para pejuang yang mengusir penjajah yang dipimpin Bung Tomo itu dicap sebagai ‘Moslem Fanatics’. Padahal, perjuangan mulia yang mereka lakukan didasari jihad fisabililah, yaitu berjuang di jalan Allah subhanahu wata’ala.

Sejatinya konotasi negatif terhadap radikal, berlebih lagi pelekatannya kepada Islam dan gerakan Islam yang menyuarakan Islam secara kaffah adalah bentuk penyebaran Islamopobia. Paham yang menggiring masyarakat, bahkan Muslim sendiri untuk merasa horor dan ketakutan atas agama dan ajaran Islam yang mulia.

Umat Islam, marilah maksimalkan proses berpikir! Jangan mudah tergiring opini media yang memiliki kepentingan yang mampu mengelabui umat dari perjuangan dan berpegang kepada tali agama Allah. Semoga pertolongan Allah segera datang bagi hamba-hamba-Nya yang berupaya istiqomah menyuarakan syariah Islam dan Khilafah walau tengah hidup di zaman fitnah.

”Jika Allah menolong kamu maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) makasiapakah yang dapat menolong kamu(selain dari Allah) setelah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang mukmin bertawakkal.” (Ali Imran:160).” Wallahu’alam bishowab.

Ammylia Rostikasari, S.S.
Akademi Menulis Kreatif
Dipublikasikan oleh suara-islam.com



Artikel Terkait