Selasa, 10 Juli 2018

Sekilas tentang Pengikut Syiah Alawiyyin


Di tengah berkecamuknya perang saudara di Suriah, Presiden Bashar Assad berani muncul ke khalayak umum. Diberitakan laman Gulf-times.com, bersama grand Mufti Ahmad bader dan Menteri agama Mohammad Abdul Sattar, ia menunaikan shalat Idul fitri di masjid Sayyidah Khadijah, kota Tartus. Seperti provinsi Latakia dimana klan Assad berasal, Tartus ini didominasi pengikut Syiah Alawiyyin.

Perlu pembaca ingat, Assad termasuk Syiah Alawiyyin. Walau Alawiyyin, kata Prof Elizabeth Shakman Hurd dari Northwestern University, “Tidak semua Syiah Alawiyyin mendukung rezim Assad. Banyak keluarga Alawi di desa-desa yang sengsara di bawah kepemimpinan Assad, dan tak terhitung lagi Alawi yang miskin dan tersingkir. Bahkan sebelum konflik dimulai pada tahun 2011” (bostonreview.net, 11 Juni 2013). Saat ini, populasi pengikut Syiah Alawiyyin sekitar 12% dari populasi penduduk Suriah. Sementara penduduk Suriah sendiri kebanyakan adalah Sunni.

Sebutan lain dari kaum Alawiyyin adalah Nushairiyyah. Istilah Alawiyyin baru muncul belakangan. Berawal dari penjajah Prancis menamakan orang-orang Nushairiyyah di Suriah dengan sebutan “Alawiyyin” untuk mengelabuhi dan menutupi hakikat mereka yang sebenarnya. Di beberapa kawasan Turki dan Albania, mereka dikenal dengan sebutan “Baktasyiah”. Sementara di Turkistan, dikenal dengan nama “Ula Ilahiyah” (Lembaga Pengakajian dan Penelitian Wamy, hal 402-408).

Nushairiyyah diambil dari nama Muhammad bin Nashir al-Bashari. Ia adalah tangan kanan Hasan al-Askari, imam Syiah yang ke-11. Pasca wafatnya hasan, Nashir menyerahkan jabatan Imam ke anak Hasan, tetapi kemudian ia tidak mau mengakui Hasan dan anaknya sebagai imam. Ia malah mendakwahkan bahwa dirinyalah imam, kemudian ia mengaku sebagai Nabi bahkan sebagai Tuhan (Abdul Mun’im al-Hafni, Ensiklopedia Golongan, Aliran, Mazhab, Partai dan Gerakan Islam, hal 658).

Alawiyyin ternyata tidak senang dengan julukan Nushairiyyah, karena mereka beranggapan bahwa nama tersebut didasari rasa ketidaksenangan dan permusuhan terhadap keyakinan mereka. Sebagaimana sebutan Rafidhah bagi Syiah Imamiyyah dan Nawashib bagi Ahli Sunnah (Asy-syakkah, hal 265). Saya belum tahu apakah seorang Bashar al-Assad memiliki paham mengkultuskan Ali ataukah tidak.

Dari aspek aqidah, Alawiyyin merupakan cerminan dari aqidah Imamiyyah. Meskipun demikian, masih menurut Muhammad Asy-Syakkah di bukunya ‘Islam Tidak Bermazhab’, sebagian di antara mereka ada yang condong ke sikap ghuluw dan menyimpang, misal menjadikan taqiyyah sebagai bagian dari aqidah mereka. Selain itu ada dari mereka yang menyimpang punya anggapan ibadah shalat, puasa, zakat, dan haji punya makna lahir dan makna batin. Padahal Islam bukanlah agama yang rumit dan mengandung sisi batiniyyah.

Terakhir sebelum menyudahi tulisan ini, Syiah Alawiyyin punya pendapat fikih (fatwa) yang sebagian besar berbeda jauh dengan Ahlu Sunnah, diantaranya: Anak perempuan tidak akan mendapat bagian warisan jika ia memiliki saudara laki-laki. Mengharamkan makan daging kelinci, unta dan semua hewan betina yang mengeluarkan darah haid. Yang paling aneh adalah anak-anak tidak diperkenankan belajar agama sebelum mencapai umur 15 tahun. Entah apa maksud dibalik larangan tersebut.

Tentang ruh, pada mulanya ruh berada di sisi Allah Subḥānahu wa ta'alā, kemudian turun ke bumi. Ketika di bumi, masing masing ruh menggunakan pakaian (taqamush) yaitu tubuh kasar, dan apabila tubuh yang kasar itu hancur maka ruh tersebut berpindah ke tubuh yang lain. Ulama dan syeikh mereka punya peran dalam menentukan hari yang tepat bagi pelaksanaan pernikahan di kalangan Alawiyyin. Mereka menerima poligami dan tidak setuju dengan kawin Mut’ah (Abdul Mun’im al-Hafni, hal 658-659, Asy-syakkah, hal 292-294).

Demikian sekilas tentang aqidah dan fikih Syiah Alawiyyin. Literatur yang mengulas aqidah dan pandangan fikih mereka sangat terbatas. Ditambah lagi sebutan Alawiyyin bisa mengecoh orang awam khususnya di Indonesia. Sebutan ‘Alawiyyin’ juga dipakai keturunan Arab dari Yaman. Warga Arab yang turut andil dalam penyebaran Islam di Nusantara, baik aqidah dan amaliah fiqihnya tidak sama dengan Syiah Alawiyyin di Suriah.

Para Alawiyyin yang nenek moyangnya bernama Ahmad bin Isa al-Muhajir, sedari awal konsisten menganut mazhab Syafi’i. Dalam buku Mazhab para Habaib dan Akar Tradisinya (2013), Ahmad Haydar Baharun menulis, “Pengajian-pengajian yang digelar oleh para Alawiyyin secara jelas hanya menyajikan materi-materi yang bernuansa mazhab Syafii dan diperkaya dengan tradisi para ulama Alawiyyin di Hadramaut”. Wallahu a’lam.

Fadh Ahmad Arifan
Alumnus Studi Ilmu Agama Islam di Pascasarjana UIN Maliki Malang.
Dipublikasikan oleh suara-islam.com



Artikel Terkait

loading...