Selasa, 10 Juli 2018

Tahukah Kamu, Seperti 'Islam Nusantara', di Prancis Saat Ini Gencar Proyek 'Islam Prancis'


Proyek domestikasi Islam kini sedang digencarkan di seluruh dunia. Jika di Indonesia heboh dengan sinkretisasi Islam menjadi 'Islam Nusantara', maka baru-baru ini, di Prancis pun hal yang sama sedang digerakkan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dalam sebuah interview bulan Februari, Macron berkata, "Set down markers on the entire way in which Islam is organized in France". Ia berjanji untuk mensukseskan proyek yang telah gagal dilakukan presiden terdahulu.

Dirilis oleh The Atlantic (29/3), sejak tahun 1980an, pemerintah Prancis sebenarnya telah berupaya membuat branding Islam yang 'particular' bagi Prancis. Tujuan dari proyek ini adalah merekayasa Islam yang sesuai dengan nilai nasional Prancis, terutama sekulerisme, dan menahan pertumbuhan Islam radikal. Proyek ini bukan lagi berjudul 'Islam di Prancis', namun 'Islam Prancis' (Islam of France)

Salah satu rencana Macron adalah memutus pendanaan asing untuk memisahkan organisasi Muslim di Perancis dari negara lain. Rencana lainnya adalah pelatihan para imam yang diorganisir pemerintah, agar mereka sejalan dengan sekularisme dan pemahaman 'Islam Moderat'. Pelatihan akan berada dalam nilai-nilai budaya, bukan teks-teks agama, untuk mendorong generasi imam yang “Made in Prancis” .

Baca juga: Ini Penjelasan & Keterkaitan Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme
Baca juga: Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Baca juga: Bahayanya Islam Moderat Melalui Pemberdayaan Perempuan

Darimana sebenarnya istilah Islam Moderat vs Radikal bermula? Jika kita jeli memperhatikan, diskursus ini sarat kepentingan Barat. Islam moderat digambarkan sebagai Good Muslim, Islam radikal digambarkan sebagai Bad Muslim.

Barat menggambarkan 'Good Muslim' adalah muslim yang mempraktikkan Islam tapi mampu berasimilasi dengan kekufuran. Sebaliknya Bad Muslim adalah muslim yang kaku dalam memegang syariat, dan jadi bibit teroris.

Definisi ini tidak didasarkan pada prinsip Islam itu sendiri, tapi diukur dari kepentingan Barat. Umat Islam dipaksa memilih dari dua dikotomi tersebut, menerima Islam yang sesuai dengan hegemoni budaya mereka atau melawan, dengan risiko persekusi, pengasingan, kehilangan pekerjaan, atau dipenjara.

Dikotomi ini mendefinisikan umat Islam bukan dari kerangka agama mereka, bagaimana Islam yang dibawa Rasulullah, tapi dari sejauh mana umat Islam tunduk pada tuntutan Barat. []

Baca juga: LGBT Tak Laku Paham 'Feminisme' Dijual Kembali, Muslimah Waspada
Baca juga: Jualan Baru, Waspadai Istilah Islam Moderat
Baca juga: Topeng Tebal Islam Nusantara


Pranala luar:
1. https://www.theatlantic.com/international/archive/2018/03/islam-france-macron/556604
2. https://www.theatlantic.com/international/archive/2018/05/france-delete-verses-quran/559550
3. https://www.theatlantic.com/international/archive/2017/04/muslims-france-election/524178



Artikel Terkait

loading...