Kamis, 02 Agustus 2018

Analisis Propaganda Terhadap Islam Sebagai Pelaku Utama Terorisme Dunia


Kajian mengenai terorisme dunia semakin mengemuka pasca tragedi peristiwa 11 September 2001. Berbagai pertemuan internasional pada saat ini selalu dikaitkan dengan isu terorisme. Tak pelak hal ini pun menimbulkan anggapan bahwa isu terorisme ini merupakan agenda kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Hal tersebut didasarkan atas perilaku atau berbagai peran yang diambil oleh Amerika dalam menghadapi isu teroris.

Amerika Sebagai Propagandis

Amerika serikat merupakan salah satu propagandis dalam isu Islam sebagai pelaku terorisme internasional. Amerika dapat dikatakan menjadi propagandis yang berperan secara massif terhadap isu-isu tersebut karena Amerika pun memasukan terorisme tersebut menjadi salah satu kebijakan luar negerinya. Hal tersebut didasarkan pada dokumen penting yang dikeluarkan oleh Gedung Putih, The National Security Strategic of the United States of America yang isinya Amerika serikat ingin menjadi polisi dunia dan akan bertindak unilateral dalam menghadapi ancaman teroris serta senjata pemusnah missal, bila negara-negara lain tidak bersedia diajak serta. Amerika serikat juga akan menggunakan kekuatan militernya untuk mengatur tatanan global.

Keruntuhan WTC di Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001 bisa dikatakan sebagai makna peristiwa serangan terorisme yang mengatasnamakan agama dan defining moment bagi perang melawan “teroris” oleh Amerika..[1] Amerika menggunakan peristiwa tersebut untuk mempropagandakan bahwa Islam sebagai agama teroris.  Hal tersebut dikarenakan  George W. Bush kala itu yang menjabat presiden menuduh Osama Bin Laden (Pimpinan Al-Qaeda)[2], sebagai dalang atas serangan tersebut serta mengobarkan perang terhadap Afghanistan (Rezim Taliban) pada 7 Oktober 2001 yang dituduh melindungi Osama Bin Laden. Tidak hanya itu, Serangan WTC tersebut juga mengubah peta politik Amerika Serikat, baik dari sisi ekonomi, politik, ataupun militer. Tindakan AS yang melakukan invasi ke negera timur tengah (Irak) yang oleh banyak pihak menyangsikan invasi tersebut semata untuk memerangi Teroris atau penguasaan nuklir rezim sadaam husein atau bahkan penguasaan akan kilang-kilang minyak di Irak (Ekonomi). Menurut salah satu Kritikus Kebijakan AS terkemuka, Naom Chomsky, invasi AS ke Irak justru memperluas jaringan terorisme global dan menjadikan Irak sebagai basis untuk latihan teroris. Terorisme lantas menjadi isu global yang mengancam dunia dan membentuk pola pikir bahwa apapun bentuk terror dunia pasti dilakukan oleh kelompok Islam.

Tujuan Propaganda Amerika Serikat

Sub-bab diatas telah menjelaskan pada kita bahwa Amerika lah sebagai propagandis utama terhadap pandangan Islam sebagai terorisme dunia. Amerika melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Banyak alasan yang melatarbelakngi AS membuat propaganda itu.

Pertama, bila dipandang dari sisi kelompok Islam seperti Hizbhut Tahrir, Amerika melakukan hal tersebut karena ingin memberangus Islam sebagai kekuatan politik dan ideologis serta menghalangi tegakknya Daulah Islamiyah (Negara Islam).[3] Dimana Daulah Islmiyah sangat bertentangan dengan sistem demokrasi, politik, ekonomi (kapitalisme) yang dianut oleh Amerika. Jika negara Islam berdiri maka akan sulit untuk AS menyebarkan paham liberal-nya yang sangat kental dengan kapitalisme, sekulerisme, dan pasar bebas. Selain alasan ideologis, penguasaan ekonomi pun akan sulit. Sehingga, dengan alasan-alasan tersebut maka Amerika mempropagandakan bahwa kelompok-kelompok yang mempunyai visi pendirian negara Islam adalah kelompok teroris/fundamentalis ekstrim.

Kedua, membuat negara boneka di Afghanistan. Peristiwa WTC dikatakan sebagai awal mula penyerangan Amerika terhadap Afghanistan. Afghanistan dituduh telah bersekongkol dengan jaringan teroris Osama bin Laden dalam penghancuran gedung WTC dan pentagon. Setelah, berhasil mengalahkan milisi Taliban (kelompok yang menentang keras invasi Amerikat di Afghanistan), Amerika pun berhasil mendirikan pemerintahn boneka dinegara  tersebut dan menguasai kilang minyaknya [4]. Sehingga, dapat dikatkan bahwa Amerika menggunakan peritiwa WTC sebagai legalisasi invasinya terhadap Afghanistan , yang tidak lain tujuannya yakni penguasaan perekonomian dan menghancurkan basis Al-Qaeda yang dianggapnya sebagai penghalang tercapainya tujuan.

Ketiga, politik minyak AS di Timur Tengah. Mungkin alasan yang kedua ini cukup kuat dalam upaya propaganda Amerika terhadap Islam. Semisal, Invasi Amerika ke irak dengan alasan ingin “membebaskan” rakyat irak dari dikatator Saddam Hussin, tuduhan irak yang mempunyai nuklir, serta Irak yang mendanai jaringan teroris. Padahal alasan-alasan tersebut tidak terbukti sama sekali. Dengan tumbangnya rezim Saddam Husein, Amerika berhasil menguasai kilang minyak irak, Sebuah media website yang mencatat cadangan-cadangan minyak di dunia menulis bahwa jumlah lading-ladang minyak di Irak menggiurkan.  Di Qurna Barat, Irak, misalya tercatat cadangan minyaknya 21 milyar barrel.  Bulan Januari 2010, perusahaan patungan antara ExxonMobil dan Royal Shell Belanda mendapatkan kontrak (dari pemerintah AS) untuk mengembangkan 9 milyar barel dari ladang minyak Qurna Barat. Mereka akan meningkatkan produksi minyak dari 300.000 barel per hari menjadi 2,3 juta barel per hari. Dengan hasil ekonomi yang fantastis tersebut, tak slah jika propaganda yang dilancarkan Amerika dengan dalih  memberangus dikator dan terorisme di Irak dilakukan dengan sistematis.

Keempat, mempertahankan predikat “Negara Adidaya”. Setelah berakhirnya perang dunia II. Motif terbesar dari politik luar ngeri AS yakni menyebarkan paham liberal ala amerika serta penguasaan ekonomi strategis hulu ke hilir. Hal pertama yang dilakukanya AS adalah perang ideologis melawan komunisme di Uni Soviet serta penguasaan sumber daya alam yang ada (imperialism ekonomi). Namun, setelah Uni Soviet kalah AS memfokuskan pada  imperialism ekonomi terutama di Timur tengah dan ‘membuat permusuhan’ dengan kelompok Islam.

Dari beberapa alasan yang dikemukan diatas, ditarik kesimpulan pokok bahwa Amerika membuat gambaran ekstrim tersebut bertujuan untuk kepentingan ekonomi dan mempertahankan predikat negara adidaya serta keinginan mebuat tatanan dunia baru (dengan AS sebagai pemimpinnya)

Teknik-Teknik Propaganda

Name Calling (Penjulukan)
Propagandis memberikan label yang dibebani emosi pada seseorang atau sebuah negara yang menjadi sasarannya. Seperti, Saddam Husein diberi julukan “Pembantai dari Baghdad” . AS memberikan dua julukan pada muslim, yakni muslim moderat dan muslim garis keras. Muslim moderat adalah muslim yang tidak menentang AS, lalu ‘muslim garis keras/teroris/ fundamentalis’ adalah muslim yang menentang kebijakan dan kepentingan AS. Padahal, label untuk kelompok-kelompok non-muslim yang melakukan terror atau tindakan kekerasan disebut sebagai ‘kelompok pemberontak’. Penyebutan/penjulukan yang berbeda inilah sebagai salah teknik propaganda AS.

Transfer (Pengalihan Isu)
Amerika kerap memainkan isu-isu tentang terorisme, dimana seringkali amerika membuat isu-isu lain yang bertujuan agar kepentingannya tercapai. Semisal, ketika Amerika hendak melakukan invasi ke irak, Bush memunculkan isu bahwa irak mempunyai senjata nuklir (tidak terbukti setelah badan inspeksi senjata PBB melakukan penyelidikan).  Lalu, invasi Amerika ke Afghanistan, Amerika memunculkan tuduhan dan isu bahwa afganistan bersekongkol dengan jarinagn teroris untuk menyerang WTC. Isu-isu yang dilanjarkan oleh Amerika pun berhasil, dan membuat opini publik seolah-olah invasi Amerika itu legal.

Testimony (Kesaksian)
Amerika menggunakan orang-orang yang kredibel, bergelar, terpandang, ilmuwan atau sebagainya untuk melakukan kesaksian bahwa islam itu agresif, teroris, dan kejam. Misal, pada elit pemeritahan AS ada kubu yang bernama konfrontaris. Kubu ini menyatkan bahwa islam tidak bisa sejalan dengan barat. Tokoh-tokohnya Bernawis Lewis, Samuel Huntington, Amos parlmutter. Dimana kita tahu bahwa orang-orang tersebut adalah ilmuwan yang terkenal. Amos parlmutter bahkan mengemukan bahwa islam merupakan sebuah gerakan revolusioner yang agresif, militant dan sama kejamnya dengan gerkan NAZI, FASIS, pada masa lalu. Islam tidak dapat didamaikan dengan barat yang kristen & sekuler. Karena itu, AS harus melumpuhkan gerakan ini.[5] Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilitation and the Remaking of World Order. “musuh terbesar peradaban Barat-Kristen pasca perang dingin adalah Islam”.

Card-Stacking (Tebang Pilih)
Teknik propaganda ini sering kali digunakan AS ketika ia melakukan sebuah ‘kejahatan’ dalam usaha mencapai tujuannya. Amerika hanya memilih fakta yang pasti mengguntungkan. Pilihan fakta ini biasannya digunkan untuk melakukan generalisasi. Semisal, Pemerintah AS mengeluarkan propaganda khusus untuk membantah diskriminasi Muslim di AS pasca Serangan 11 Septermber. Dalam iklan propaganda yang disiarkan di hampir seluruh Dunia Islam, dipilih fakta-fakta tertentu untuk mendukung tujuan tersebut. Empat orang warga AS yang berasal dari Arab bicara tentang kebebasan dan kesempatan hidup di Negeri Paman Sam itu. Padahal, banyak fakta lain di AS yang bertolak belakang dengan iklan tersebut diabaikan; seperti kewajiban cap jari bagi orang-orang dari Arab, Pakistan, dan negeri-negeri Islam lainnya; perusakan masjid dan Islamic Centre; gangguan terhadap wanita Muslimah di Amerika.

Frustation-Scapegot (menciptakan kambing hitam)
Teknik propaganda ini merupakan salah satu cara untuk menciptakan kebencian dan melepaskan frustasi pada Islam dan pemeluknya. Amerika mengkambing hitamkan islam sebagai pemecah belah, agama intoleran, teroris, perusak dan sebagainya. Padahal pada faktanya, demokrasi dan kebebasan Amerika lah biang keladi kerusakan dan perpecahan. Contoh : akibat “pen-demokrasi-an” irak oleh Amerika (, Irak makin terjerumus pada perang saudara antara Syiah, Sunni, dan kurdi.

Bandwagon (Seruan Mengikuti Mayoritas)
Teknik propaganda ini bertujuan untuk memanfaatkan keinginan pendengar untuk menjadi bagian atau satu sikap dengan banyak orang. Semisal, mengutip Gorge W. Bush , “either you are with us or you are with terrorist” , seruan dari bush itu menunjukan bahwa masyarakat harus mengikuti mayoritas (Amerika), jika mentenag seruan tersebut disebut minoritas (Terorist), dimana kita tahu bahwa yang menentang berbagai kepentingan AS saat ini adalah kelompok islam.

Fear Arousing (Membangkitkan Ketakutan)
Teknik ini berupya untuk menimbulkan rasa takut. Tujuanya untuk membangun dukungan dengan menanamkan ketakutan di dalam populasi yang umum, targetnya yakni masyarkat dunia secara kesuluhan. Seperti, fenomena Islamhobia, dimana masyarakat akan takut jika ada orang yang memakai jilbab panjang, cadar, berjenggot,  menyangka bahw mereka itu teroris. Implementasi ketakutan itu dapat dilihat di peraturan di prancis tentang larangan pemakain Jilbab. Selain itu, propaganda AS tentang serangan ISIS di Amerika juga termasuk fear appeal, Wartawan investigasi Wayne Madsen mengatakan ancaman akan terjadinya lebih banyak serangan oleh isis  di daratan amerika hanyalah “propaganda intelijen AS” yang bertujuan untuk menimbulkan ketakutan di kalangan rakyat amerika.

Relevansi  Propaganda dengan Fakta

Banyak propaganda yang diangkat Amerika tentang Islam sebagai pelaku terorisme, kebanyakan tidak releven dengan fakta. Namun, dengan propaganda yang sangat sistematis tersebut Amerika berhasil membuat masyarakat mengabaikan fakta-fakta yang sebenarnya. Hal-hal yang tidak relevan tersebut yaitu

Pertama, propaganda Amerika yang menyebut bahwa Afghanistan membantu teroris Osama bin Laden serta berupaya melindunginya dalam tragedi 11 September 2001. Atas propaganda hal tersebut, Amerika berhasil memborbardir Afghanistan dan menggulingkan rezim Taliban yang berkuasa saat itu serta membentuk pemerintahan boneka di negara tersebut. Hingga kini, Amerika masih bercokol di Afghanistan dan menguasai kilang-kilang minyak disana. Sedangkan, Amerika tidak dapat membuktikan keterkaitan Osama dengan Afghanistan.

Kedua, Amerika menuduh Irak memiliki nuklir. Propaganda untuk memperburuk citra islam yang dilancarkan oleh AS semakin genjar. Tidak hanya berhenti pada isu terorisme saja, namun pada isu tentang senjata pemusnah missal (nuklir), yang selama ini dianggap berbahya. Propaganda itu dengan cara menuduh Irak memiliki nuklir, tuduhan itu terkesan ingin menggiring opini publik bahwa negara yang mayoritas islam itu ingin menghancurkan sebuah negara. Namun, setelah badan nuklir bentukan PBB (Badan Atom Internasional) melakakan penyelidikan, tidak terbukti Irak memilkik nuklir. Sehingga, hal tentang nuklir pun tidak relevan dengan fakta. Hanya dijadikan alat legitimasi agresi militer Amerika untuk menguasai sumber daya Irak.

Ketiga, Islam disebut sebagai agama teroris, intoleran, kekerasan. Sebutan itu disematkan AS pada kelompok-kelompok Islam yang menenantang kepentingannya. Seperti contoh, Al-Qaeda. padahal tujuan Al-Qaeda yakni ingin mengurangi campur tangan asing di semenanjung Arab. Yang mana campur tangan Asing( Amerika) lebih banyak buruknya daripada baiknya. Kita liha kasus perpecahan irak yang semakin parah, akibat pemaksaan “demokrasi” oleh Amerika. Sehingga, dapat dikatakan bahwa propaganda yang diangkat Amerika tentang islam symbol dari kekerasan atau sebagainya tidak relevan. Amerika hanya mengenaralisasikan sebuah opini, padahal tidak semua muslim itu teroris, keras, radikal. Justru, lebih dipertanyakan lagi tentang siapa yang sebenarnya teroris Amerika & Israel atau Islam itu sendiri ? padahal yang lebih banyak melakukan kerusakan adalah Amerika. Amerika selalu bicara HAM dan demokrasi, tapi itu semua hanya omong kosong, terbukti ketika invasinya ke irak banyak sekali pelanggaran kemanusian. [6]

Keempat, ISIS disebut sebagai representasi Islam. Dunia internasional telah menggangap bahwa ISIS merupakan reprentasi Islam. Padahal, faktanya tidaklah demikian, ISIS sngat jauh menyimpang dengan Aqidah Islam, dimana Islam tidak boleh membunuh, tapi ISIS menghalalkan pembunuhan. Sehingga, tidak relevan jika Amerika dan sekutunya menyebut ISIS adalah bagian islam yang radikal. Kemudian, anehnya lagi Obama dan Hilary Clinton meyebut bahwa ISIS merupakan bentuka mereka serta AS melatih ISIS.[7] Sehingga, jika kita melihat hal tersebut tak heran mungkin ISIS digunakan AS untuk mempropagandakan bahwa Islam ajaran teroris.

Keberhasilan Propaganda Amerika

Propaganda Amerika dengan menyudutkan Islam sebagai pelaku utama terorisme internasional sungguh sangat berhasil. Tidak hanya dikalangan non-muslim dan dunia saja, bahkan pada umat muslim sendiri propaganda Amerika sangat berhasil. Dikatakan berhasil, karena propaganda itu dapat terimplementasikan pada sebuah aturan, perilaku dan cara pandang orang terhadap islam.

Keberhasilan propaganda Amerika itu tidak lain karena pertama, Peran media massa yang cukup masif dan erat dengan propagandis. Bukan rahasia umum lagi, jika media massa memiliki hubungan serta ditunggangi oleh elit-elit yang berkeptingan. Sebab, dengan media massa upaya untuk mengubah pemikiran dan sikap objek sasarannya sangat mudah dan efektif. Dari sebuah riset yang dilakukan oleh Edward Herman dan Gerry O’Sulivan, terbukti bahwa sumber-sumber media massa yang digunakan sebagian besar adalah pejabat pemerintah (42,3%). Tentu saja, informasi itu akan sangat bias, karena dipengaruhi oleh kepentingan pemerintah, dan biasanya, tanpa pengujian. Dalam kasus terorisme Amerika menggunakan media massa sebagai sumber utama mereka.

Media massa disini dapat berupa media massa elektronik dan media massa cetak. Media massa elektronik yang di gunakan oleh Amerika dalam upaya propagandanya yakni Voice of America dan Radio Free Europe. Bisa dikatakan demikian karena media itu merupakan  bentukan Presiden Eisenhower yang pernah membentuk badan informasi Amerika Serikat (U.S.I.A) untuk menjalankan fungsi propaganda, namun badan tersebut kemudian berganti nama menjalankan program radio multi bahasa pada  VOA, Radio Free Europe, telivisi, film, dan media berita serta program khusu seperti pertukaran mahasiswa sarjana, pidato keliling, konferensi, keilmuan, dan ilmiah, (Pengantar Hubungan Internasional, hlm. 186).

Salah satu bagian dari media massa adalah film. Film melalui karakteristik yang dimiliknya memiliki keunggulan sebagai sebuah media penyampain pesan dan penanaman nilai, baik yang bersifat persuasive maupun  propaganda. Dengan keunggulan tersebut, pemerintah Amerika menggunakan film untuk memberantas terorisme serta mengajak masyarkat untuk mendukung kebijakan/kepentingan Amerika. Buktinya, beberapa tahun ini banyak sekali film yang muncul dengan bernada sentiment terhadap Islam. Seperti contoh film FITNA yang disutradari oleh Geerts Wilders dimana film tersebut secara umum menggambarkan tentang penyerangan teroris yang terjadi di NY dan Madrid yang kemudian dihubungkan dengan Islam dan Ayat-ayat Alquran . Lalu, Film Black Hawk Down pada masa pemerintahan G.W. Bush, yang dibentuk sedemikian rupa untuk menyampaikan pesan dan menanamkan nilai dan ide-ide yang mengarahkan perilaku akhir audiens agar mereka mendukung pemerintah dan angkatan bersenjata Amerika dalam kampanye mereka memberantas terorisme global yang dikaitkan dengan dunia Islam.

Kedua, propaganda Amerika juga telah masuk pada kerja internasional dan Global. ASEAN merupakan salah satu contoh sebagai alat propaganda Amerika. Dimana, dalam agendanya ASEAN mengeluarkan deklarasi terorisme. Memang  tidak salah  isi dekrit tersebut, tapi penggiringan opini untuk pengeluaran deklarasi tersebut, yang menurut saya kurang tepat. Dimana, opini yang dikembangkan Amerika adalah kelompok teroris itu pasti berasal dari kelompok ekstrismis islam, orang islam, atau yang berhubungan dengan Islam. Dikatakn demikian, karena setelah peristiwa WTC umat  Islam diseluruh dunia selalu dicurigai saat ada dibandara, diintrogasi cukup lama, serta untuk mendapatkan visa luar negeri pada saat itu hal yang sangat sulit. Indonesia yang notabennya  berpendudk muslim terbesar harus menerima nasib selama sepuluh tahun sebagai warga kelas dua atau bahkan tiga saat berkunjung ke negara-negara barat hanya karena Indonesia dianggap sebagai warga asal teroris.[8]

Oleh Aprilliya Susanti
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya
Dipublikasikan pertama kali oleh Rayonpancasila.or.id

Video tidak dapat kami embed karena di block dimana-mana, baik youtube maupun facebook. Untuk alternatif sementara video dapat disaksikan disini.
Abaikan bila anda zero knowledge tentang teori FE pada video dibawah ini, fokus pada pembahasan secret societies. 


Daftar Pustaka:
1. Firmansyah, Adhe. Sisi Gelap Amerika Serikat. 2009.Yogyakarta : GARASI
2. Jackson, Robert dan George Sorensen. Pengantar Hubungan Internasional. (Dadam Suryadipura, Penerjemah). Yogyakarta : Pustaka Pelajar
3. Mustopa, Habib. Sejarah, 2006. Jakarta : Yudhistira
4. Winarno, Budi. Isu-Isu Global Kontemporer. 2011. Yogyakarta : CAPS
5. Harian Kompas 26 Juni 2015, hal – 75
6. Anggid Awiyat. 2009. Propaganda Barat Terhadap Islam Dalam Film (Studi tentang makna symbol dan pesan fil “Fitna” menggunakan  analisis semiologi komunikasi). Skripsi. Surakarta : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
7. http://www.suara-islam.com/read/index/12040/-Hai-Amerika–Tinggalkan-Ladang-Ladang-Minyak-di-Irak–   diakses tanggal 7/10/2015
8. http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/12/propaganda-anti-islam-dibalik-perang-melawan- teroris/
diakses tanggal 7/10/2015
9. https://www.youtube.com/watch?v=p2NkjNvwuaU  diakses tanggal 12 /10/2015
Catatan Kaki:
[1] “Ketika Dunia Berubah Sekali Lagi”, Kompas, 26 Juni 2015
[2] Al-Qaeda adalah organisasi Islam Sunni yang kekuatannya terdapat di Afganisthan, Irak, Suriah, dan Yaman. Tujuan utamanya adalah mengurangi pengaruh luar terhadap kepentingan Islam di Semenanjung Arab.
[3] Farid Wajdji, 2009, “Propaganda Anti Islam oleh Amerika” http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/12/propaganda-anti-islam-dibalik-perang-melawan-terorisme/
[4] Prof.Dr. M.Habib Mustopa dkk. 2006. Sejarah.. Jakarta : Yudhistira, hal 256
[5] Prof.Drs. Budi Winarno. MA, Phd, 2011. Isu-isu global kontemporer, Yogyakarta :CAPS, hal 182
[6] Ibid., hal. 180
[7] Rob Trent, 2015. “ Obama Slips Up : We are Training ISIS”. https://www.youtube.com/watch?v=p2NkjNvwuaU
[8] “Ketika Dunia Berubah Sekali Lagi”, Kompas, 26 Juni 2015



Artikel Terkait

loading...