Selasa, 28 Agustus 2018

Politik Demokrasi Bermuka Dua, Umat Jangan Tertipu!


Tanggung jawab pertama seorang pemimpin adalah mendefinisikan realitas. Yang terakhir adalah mengucapkan terima kasih. Dan di antara kedua hal itu, pemimpin adalah seorang pelayan dan seorang yang berhutang. –Max De Pree-

Pemimpin yang melayani hari ini mungkin hanya menjadi slogan. Karena kesederhanaan seorang pemimpin hari ini terkadang tak lebih dari pencitraan. Kedermawanan pemimpin masa kini pun tak jauh dari dongkrak popularitas. Begitu pula halnya dengan kealiman dan ketaatan mereka, semua demi elektabilitas politik, menarik simpati.

Pun dengan lawan politik. Jika hari ini saling menghujat, saling merendahkan dan menyalahkan, esok bergandeng tangan dan tersenyum simpul saling memuji. Persis kelakar anak kecil yang berebut mainan. Mudah untuk berbaikan kembali demi mainan yang disenangi.

Begitulah ketika demokrasi menjadi rujukan dalam berpolitik. Segala cara ditempuh demi mendapatkan apa yang diinginkan. Tak peduli melanggar hukum Illahi, tak risau dengan stigma dan dampak dari perbuatannya. Demokrasi mewadahi setiap syahwat jabatan.

Demikian terlihat jelas hipokrisi demokrasi itu sendiri. Kemarin saling menantang, hari ini berangkulan. Semua untuk kepentingan pribadi dan golongan. Belakangan umat islam sering distigmatisasi teroris. Ketika berdakwah mengopinikan islam kaffah dicap anti NKRI. Saat menyuarakan haram pemimpin kafir pun disebut intoleransi. bahkan beberapa ulama dipersekusi dan ajarannya dikriminalisasi. Tapi tatkala memasuki tahun politik, ummat islam didekati dan dirangkul. Hal itu tersebab umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. Jumlahnya yang banyak menjadi pangsa pasar yang empuk untuk mendapatkan kemenangan pada pesta demokrasi nanti.

Untuk itulah masyarakat seharusnya semakin cerdas melihat realita muka ganda demokrasi. Sebaik dan sebagus apapun ulama yang digandeng tak akan pernah mewujudkan perubahan hakiki. Bak punuk merindukan bulan. Perubahan hakiki tak akan terwujud jika hanya mengganti supir dari kendaraan rongsok. Kendaraannya jugalah yang harus diganti. Bukan sekadar pengendalinya.

Artinya masyarakat harus menyadari bahwa yang perlu dilakukan adalah perubahan asasi yang mendasar. Yakni menjadikan islam sebagai aturan kehidupan. Karena islam bukan ancaman, ia adalah rahmat bagi seluruh alam. Sekaligus solusi atas segala problematika kehidupan.

Jika menilik fakta sejarah, saat islam dijadikan sistem kehidupan, maka kita akan terkesima melihat figur-figur pemimpin pada masa itu. Menjadi pelayan umat yang disinggung Max De Pree diawal bukanlah angan-angan tapi keniscayaan. Hal tersebut telah dicontohkan langsung oleh suri teladan umat islam yakni Rasulullah dan para pemimpin ummat sepeninggalnya.

Yahya bin Aktsam berkata, “Pada suatu malam aku menginap di rumah Amirulmukminin al-Makmun. Aku terbangun di tengah malam karena rasa haus yang sangat, maka aku pun bangkit (mencari air). Tiba-tiba Amirulmukminin berkata, “Wahai Yahya, apa gerangan yang terjadi?” Aku menjawab, “Demi Allah, aku sangat haus wahai Amirul mukminin.”

Lalu, Khalifah Makmun bangun seraya membawa seteko air untukku. Aku berkata, “Wahai Amirulmukminin, mengapa tidak kau suruh pembantu atau budak saja?” Beliau menjawab, “Tidak.” Karena bapakku meriwayatkan hadis dari bapaknya dan dari kakeknya dari Uqbah bin ‘Amir ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”(HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim)

Di lain kisah Umar bin Khattab ra sering berkeliling malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya. Saat mengetahui ada satu ibu yang memasak batu untuk menenangkan anaknya yang menangis karena lapar, ia menolongnya dan memanggul karung gandum sendiri.

Umar pun pernah berkata, sebagai bentuk kerisauannya akan kondisi umat. “Seandainya seekor keledai terperosok di Baghdad, niscaya Umar akan ditanya, mengapa tidak kau ratakan jalannya?” Dan masih banyak kisah teladan lainnya dari para pemimpin muslim.

Demikianlah dengan aturan yang sempurna, yang berasal dari sang pencipta dan pengatur alam semesta beserta isinya, ditambah pengelolaan dari pemimpin yang taat dan tunduk pada-Nya sajalah negeri ini akan pulih dan bangkit terbebas dari segala keterpurukan. Wallahu’alam bisshawab. []


Anisa Rahmi
Aktivis Muslimah Jakarta Utara
Dipublikasikan oleh suara-islam.com



Artikel Terkait

loading...