Rabu, 29 Agustus 2018

Ternyata Azan Sudah Dipermasalahkan Sejak Zaman Belanda

Penangkapan para petani Banten oleh Kompeni Belanda karena melakukan pemberontakan (nusantara.news)

Reaksi umat Muslim atas larangan dengan pengeras suara seperti Adzan, pembacaan shalawat, yang terjadi belakangan ini ternyata pernah terjadi di tahun 1888. Dua kasus terakhir masalah pengeras suara yang terjadi di Bumi Indonesia yang memicu kemarahan umat Muslim terjadi di Tolikara, Irian Jaya, dan kedua di Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Di Tolikara terjadi pembakaran dan pelemparan batu kepada Jamaah Muslim yang bersiap-siap akan menunaikan sholat ied di lapangan Masjid. Warga beragama Nasrani yang juga ada kegiatan ibadah di gereja merasa terganggu atas pengeras suara tersebut. Apakah karena memang betul karena pengeras suara atau ada permasalahan lainnya. Namun yang pasti akibat insiden warga tersebut menimbulkan korban jiwa dan korban luka-luka di hari yang suci bagi umat Muslim, bertepatan pada tanggal 17 Juli 2015.

Dan berikutnya yang terjadi, seorang ibu beretnis Tionghoa merasa terusik karena pengeras suara dari masjid yang ada di depan rumahnya. Lantas ibu tadi pun menjumpai imam dan pengurus Masjid atas keberatannya, semula ini dibicarakan baik-baik. Namun entah kenapa (besar kemungkinan karena provokasi) beberapa saat kemudian terjadi pembakaran vihara-vihara di Tanjungbalai oleh pemuda-pemuda di sana.

Dan sekarang mari kita kembali ke masa penjajahan Belanda di tahun 1888.

Geger Cilegon atau dikenal dengan Pemberontakan Petani Banten. Pemberontakan yang dipicu karena kemelaratan, kesenjangan sosial, dan kenistaan terhadap agama Islam itu meletus pada malam hari tanggal 9 Juni 1888.

Menurut daftar rapat pemerintahan Belanda pada masa itu, mereka yang memberontak adalah hampir semua para kiai dan mereka yang pernah pergi haji di Mekkah. Seperti H Marjuki (pemimpin pemberontakan terhadap Belanda), H Iskak, H Mohammad Arsyad, H Abu Bakar,H Wasit, H Muhidin, H Asnawi, H Mohammad Asik, H Mufrad, H Ismail, dan lainnya

Dikutip dari Republika.co.id, Dalam buku berjudul 'Perbendaharaan Lama' yang diterbitkan Pustaka Panjimas tahun 1982 bila salah satu pemicu kerusuhan itu adalah akibat adanya pelarangan pembacaan shalawat, tahrim, dan azan dengan suara keras.

Hamka menulis begini:"..Tetapi menurut catatan dari Pangeran Ahmad Jayadiningrat, bekas regen Serang dan salah satu pegawai tinggi pemerintah Belanda yang amat terkenal, sebab pemberontakan ialah karena di belakang rumah resident Goebels di Jombang Tengah ada sebuah langggar. Langgar itu bermenara.

Seketika waktu Maghrib orang selalu membaca shalawat atau tahrim atau azan dengan suara keras, sehingga selalu menggangu beliau (Goebles:red) yang nyenyak tidur.

Maka oleh karena kesenangan beliau terganggu beliau perintahkan kepada Patih, supaya dibuat surat edaran, melarang shalawat, tahrim, dan azan itu tidak dilakukan keras-keras, karena "Tuhan tidak pekak!" Dan menurut penyelidikan Tuan Patih, menara langgar di belakang rumah tuan asisten residen itu telah tua, lebih baik diruntuhkan saja. Lalu diperintahkan opas-opas untuk meruntuhan!.."

Tentu saja tokoh ulama setempat, H Wasit (yang kemudian menjadi salah satu pemimpin pemberontakan) merasa berang. Apalagi sebelumnya dia sempat terkena hukuman denda sebesar F.7,50 Gulden karena menebang 'pohon kayu keramat' yang selama ini dipakai sebagai ajang praktik kemusyrikan oleh sebagian masyarakat. Akibat adanya dua tindakan itu maka para haji, ulama. dan tokoh masyarakat di Cilegon merasa bahwa perasaan ke-Islaman mereka telah sangat direndahkan oleh  pihak pemerintah kolonial Belanda.

Nah, adanya tingkat kemiskinan dan kesenjangan sosial yang akut, ditambah adanya kebijakan yang 'menyingkirkan praktik keagamaan kaum Muslim' di Cilegon, maka jiwa berontak dikalangan rakyat membesar dengan hebat. Apalagi kemudian aturan mengenai pelarangan pembacaan shalawat, tahrim, dan azan dari Goebles tersiar di seluruh kalangan kaum santri di banten.

''Kalau telah begini yang terjadi sekarang, betapa lagi selanjutnya? Apalah artinya menjadi orang Islam, di tanah air sendiri pula, kalau perbuatan musyrik (pembiaran Pohon Keramat:red) mendapat perlindungan dari pemerintah, dan pegawai pemerintah sendiri telah berani berlancang meruntuhkan menara sebuah langgar? Niscaya akan datang lagi larangan lain, sehingga hapuslah Islam dari negri kita ini,'' begitu tulis Hamka ketika menggambarkan perasaan H Wasit dan kawan-kawan seperjuangannya.

Maka, ulas Hamka, Haji Wasit menemui temannya Tubagus Ismail, dengan tujuan memperbincangkan bahaya yang menimpa agama Islam ini. Dan sama dengan Haji Wasit, Haji Ismail pun telah merasakan hal yang sama. Kawan yang lain, ulama yang lain pun juga merasa sama!

''Apa akal? Berontak!,'' tulis Hamka.

Nah, sekarang kita bisa menilai bahwa orang-orang yang tidak suka mendengar azan, shalawat dari Masjid perlu dipertanyakan statusnya? Apakah masih menyimpan sifat-sifat Belanda di zaman yang sudah merdeka ini? Dan lucunya lagi latahnya rakyat Indonesia yang intoleransi ikut-ikutan bilang begini: “Tuhan tidak pekak!” betapa bebal sekali manusia yang berkata demikian.

Ibadah itu untuk umat manusia, nah azan sendiri merupakan panggilan untuk sholat bagi yang beragama Islam. Mau tidak sholat pun seluruh umat Muslim di dunia Allah Subḥānahu wa ta'alā tidak rugi, jadi aneh sekali yang berpikiran bahwa dengan kumandangnya azan untuk kepentingan Allah Subḥānahu wa ta'alā. Kalaulah kita memang muslim yang taat pada Allah, dan menunaikan sholat dengan baik, tentu kita tidak berisik menyalahkan speaker masjid. Sebab sholat itu untuk umat Muslim sendiri, untuk diri sendiri.

Nah, bagi yang nonmuslim merasa terganggu pula karena suara azan, meskinya belajar dulu tolerasi kerukuan antar umat beragama, dan fokus pada ibadahnya masing-masing, jangan mengurusi cara beribadah agama lain. Karena agama Islam memang seperti itu cara beribadahnya, sebelum melaksanakan sholat wajib dikumandakann azan agar umat muslim di sekitar bersiap-siap untuk sholat di masjid. []


Pranala luar:
1. https://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/haji-barkah/16/08/07/obc0mq385-pelarangan-azan-hamka-perlawanan-para-haji-di-banten-juli-tahun-1888
3. https://nusantara.news/haji-masa-kolonial-pemantik-revolusi-indonesia
2. http://asmarainjogja.id/ternyata_azan_sudah_dipermasalahkan_sejak_zaman_belanda_berita475.html



Artikel Terkait