Kamis, 13 September 2018

Hidup Mulia Dengan Islam


Sesungguhnya kita, umat Islam adalah orang-orang yang Allah ﷻ muliakan dengan Islam. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan Islam ini. Siapa yang mencari kemuliaan, kebahagiaan, dan kesuksesan selain dengan agama ini, maka mereka tidak akan pernah mendapatkannya. Yang mereka dapatkan hanyalah kerugian dan penyesalan.

Al-khalifah ar-rasyid, Amirul Mukminin, Umar bin al-Khattab pernah mengatakan,

إنا قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العزة بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله

“Sesungguhnya kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Ketika kita mencari kemuliaan bukan dengan yang Allah telah muliakan kita (Islam), maka Dia akan membuat kita hina.” (Riwayat al-Hakim).

Allah ﷻ telah mencukupkan kemuliaan umat ini dengan agama Islam yang agung. Dengan syariat yang sempurna. Dengan akhlaknya yang utama. Yang telah mencukupi kebutuhan dunia dan kebaikan akhirat. Tidak ada petunjuk dan kebahagiaan kecuali dengannya. Allah ﷻ berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

“barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS:Thaahaa | Ayat: 123).

Firman-Nya juga,

فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 38).

Bagaimana bisa seorang muslim, yang tumbuh dalam naungan Islam, dididik dengan adabnya yang tinggi dan akhlaknya yang mulia, kemudian mereka meniru-niru orang-orang yang memusuhi agamanya? Mereka malah meniru perbuatan dan tingkah polah mereka. Yang hal itu merupakan ciri-ciri mereka.

Orang-orang non Islam, hidup mereka penuh dengan kesia-siaan. Amal perbuatan mereka keliru dan melenceng. Apa yang mereka usahakan adalah kebatilan. Dan akhir dari semua itu adalah kebinasaan. Allah ﷻ berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS:An-Nuur | Ayat: 39).

Firman-Nya juga,

مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS:Ibrahim | Ayat: 18).

Dan firman-Nya,

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS:Al-Furqaan | Ayat: 23).

Banyak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa umat Islam dilarang meniru tingkah polah dan kebiasaan orang-orang non muslim. Meniru hal-hal yang zahir, maka akan berpengaruh ke perkara batin. Nabi ﷺ bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim).

Diriwayatkan Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhari).

Hadits ini adalah sebagai peringatan yang menjelaskan akibat menyedihkan dari orang-orang yang meniru-niru kaum non Islam. Beliau memperingatkan bahwasanya hal ini akan terjadi pada sebagian orang dalam umat ini. Bukan semua umat ini yang akan melakukannya. Karena dalam hadits lainnya, Nabi ﷺ mengabarkan ada segolongan dari umatnya yang akan tetap berjalan meniti kebenaran. Nabi ﷺ bersabda,

لَا يَزَالُ اللَّهُ يَغْرِسُ فِي هَذَا الدِّينِ غَرْسًا يَسْتَعْمِلُهُمْ فِي طَاعَتِهِ

“Senantiasa Allah memunculkan di dalam agama ini orang-orang yang mereka itu Allah jadikan beramal dengan ketaatan pada-Nya.”

Dan masih banyak hadits-hadits serupa.

Orang-orang yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan kesuksesan di akhirat hendaknya mendidik dirinya untuk tidak melakukan perbuatan yang rendah dengan menyerupai orang-orang yang membenci agama mereka. Karena yang demikian adalah tingkat kerendahan yang terbawah. Apabila seseorang memiliki prilaku dan sifat demikian, jiwanya dipenuhi keinginan untuk meniru kebiasaan-kebiasaan orang-orang non Islam, maka yang demikian adalah bahaya besar pada dirinya. Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma mengatakan,

مَنْ بَنَى بِأَرضِ المُشْرِكِين وَصَنَعَ نَيْرُوزَهُمْ وَمِهْرَجَانَهُمْ وَتَشَبَّهَ بِهِمْ حَتَّى يَمُوتَ وَهُوَ كَذَلِكَ حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.” (Riwayat al-Baihaqi).

Siapa yang ridha pada hari kiamat kelak akan dikumpulkan bersama orang-orang Yahudi dan Nasrani? Allah ﷻ berfirman,

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ

“(kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah.” (QS:Ash-Shaaffat | Ayat: 22).

Di zaman kita sekarang adalah era keterbukaan. Fasilitas dan sarana untuk mengetahui budaya non Islam sangatlah terbuka. Godaan untuk meniru kebiasaan orang-orang non Islam pun semakin besar. Oleh karena itu, perlu kita jaga keluarga kita. Allah ﷻ berfirman,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“peliharalah dirimu dan keluargamu dari api.” (QS:At-Tahriim | Ayat: 6).

Ya Allah, wahai Rabb kami, pencipta dan pelindung kami, hati kami berada di tangan-Mu. Kami mohon kepada-Mu dengan nama-nama dan sifat-sifat sempurna agar melindungi kami semua serta keturunan kami dari perbuatan-perbuatan yang buruk. Melindungi kami dari akhlak dan adab yang buruk dan sifat-sifat para pembenci agama. Kami memohon kepada-Mu untuk mengokohkan kami dalam meniti jalan yang lurus.

Sesungguhnya doa yang terbaik yang dibaca seorang muslim untuk teguh dalam mengarungi kehidupan dunia ini adalah sebuah doa yang selalu mereka baca di dalam shalat. Namun sayangnya kaum mukminin lalai hatinya bahkan tidak menganggapnya sebagai sebuah doa. Doa tersebut adalah ucapan Anda ketika membaca ayat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS:Al-Fatihah | Ayat: 6-7).

Kaum muslimin, Anda membaca doa ini kepada Rabb Anda berulang-ulang. Setiap hari wajib And abaca sebanyak 17 kali. Namun terkadang hati kita lalai, dan lisan kita begitu saja spontan mengucapnya. Sehingga doa yang dibaca berulang-ulang ini tidak memiliki pengaruh dalam kehidupan kita.

Kemudian, hendaknya kita berdoa dengan tulus dan jujur kepada Allah ﷻ. Benar-benar serius memohon hidayah kepada-Nya. Hidayah menuju jalan yang lurus. Bukan jalan orang-orang yang Dia murkai dari kalangan Yahudi dan bukan pula orang-orang yang sesat dari kalangan Nasrani. Ketikan Anda tulus dan jujur kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ tidak akan mengecewakan Anda. Dia akan menunjuki Anda jalan yang lurus dan melindungi Anda dari kelompok yang Dia murkai dan yang tersesat.

Orang yang cerdas adalah mereka yang menundukkan hawa nafsunya agar beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah mereka yang tertipu dengan angan-angan. [khotbahjumat]





Artikel Terkait

loading...